Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 69-Ngambek


Hari berikutnya, di Bali. Pagi ini Reksa memutuskan untuk mengosongkan jadwalnya. Ada istri ngambek yang mood-nya masih belum kembali ceria dan itu sungguh membuat Reksa sangat merasa bersalah. Benar, tentu saja Celine yang dibuat kecewa setelah diberikan penolakan terkait permintaannya. Mengenai Ailen yang seharusnya Reksa depak saja, daripada semakin tidak terkendali dalam memberikan godaan. Namun, Reksa tetap saja bersikeras atas nama keprofesionalan.


Sejujurnya, kali ini Celine tidak merajuk karena penolakan dari sang suami, tetapi pada dirinya sendiri. Cinta yang baru ia sadari nyaris membuatnya kehilangan jati diri. Ia begitu berani membuat keributan, lalu menuntut untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Seharusnya, ia memercayai Reksa, dan lebih dari itu, Reksa memiliki tipikal sulit didekati. Namun, entah mengapa, Celine mendadak gelap mata dan mungkin bisa dianggap kurang waras serta serakah.


Hari pertama setelah sekian hari tak berjumpa, Reksa pikir akan menjadi hari terindah. Ia tadinya berencana untuk berbuat iseng, tetapi pada akhirnya ia justru dibuat kebingungan. Selama tiga bulanan hidup bersama Celine, ini untuk kedua kalinya ia melihat istrinya itu merajuk. Pertama, ketika ia tidak sengaja berbuat hal tak senonoh, lalu sekarang, ia menentang keras soal permintaan pemecatan atas nama Ailen Deolinda Davira.


Reksa berdeham ketika jengah mulai melanda. Terlebih, mentari di Bali sudah mulai beranjak ke atas. Tak semestinya ia dan istrinya terlibat keadaan tak menyenangkan. Bagaimanapun caranya, ia harus mencari jalan keluar untuk membuat kebersamaan jauh lebih nyaman.


“Kamu masih marah, Cel? Mau sampai kapan?” tanya Reksa sembari mendudukkan dirinya tepat di samping Celine, sementara istrinya itu tengah duduk di balkon hotel yang menyajikan pemandangan pantai.


Celine menghela napas, lalu meletakkan cangkir kopinya yang baru ia sesap. Lantas, ia menatap Reksa lalu menggeleng pelan. “Enggak kok,” jawabnya singkat dan tak lebih dari itu, ia menatap hamparan laut lepas.


“Enggak? Tapi, kenapa masih murung begitu? Aku ... maafkan aku.”


“Enggak, Sa. Aku nggak marah sama kamu kok. Well, permintaan maaf kamu aku terima. Aku juga minta maaf karena sudah bikin ribut.”


Kali ini, Reksa yang menghela napas. “Nggak, nggak ribut. Kemarin aku bohong, soal video. Dengan kata lain enggak ada rekaman apa pun soal kejadian itu. Tadinya aku mau iseng, tapi pada dasarnya aku memang enggak jago soal itu dan malah bikin kamu marah. Maaf, Cel, maafkan aku.”


“Astaga ... kubilang aku enggak marah, lhooo! Soal video aku sudah tahu kok dari Kenny sebelum pindah ke hotel ini, kalau kamu bohong. Tapi, yah, aku sudah enggak ada tenaga buat melabrak kamu.”


“Kamu bilang enggak marah, tapi muka kamu kusam banget, Cel! Kalau enggak marah, kasih senyum dong! Kalau enggak ya, bersikap kayak biasanya. Jangan kayak begitu, aku-nya jadi bingung.”


Celine menatap Reksa, lalu menjawab, “Kenapa harus bingung? Kan tinggal diam saja, sudah beres! Lagian, aku cuma nggak mood doang. Enggak tahu kenapa! Pokoknya BT. Mau datang bulan kali! Emosian juga, 'kan? Entahlah!”


“Ini hari pertama kita bertemu setelah sekian hari, terus kamu minta aku buat diam saja? Dan datang bulan? Seingatku hari ini bukan tanggal merahmu. Masih dua mingguan lagi, kan belum lama kamu sudah dapat tanggal merah, Cel!”


”Ih?”


Celine tercenung sembari menatap suaminya dengan aneh. Bagaimana bisa Reksa begitu hapal dengan jadwal bulanannya, padahal ia sendiri sering lupa. Pintar sih pintar, tetapi kalau sudah sampai sejauh itu ya namanya agak tidak wajar. Seperti pria kurang kerjaan saja, dasar si Reksa!


Reksa tidak mungkin pernah mengalami jatah bulanan, bukan? Ah! Tampaknya Celine terlalu berlebihan dalam berpikir. Apalagi sudah jelas-jelas sosok suaminya adalah pria super macho yang memiliki tubuh kekar dan otot besar yang begitu jelas.


“Hapal banget sih, Sa? Sama tanggal merahku?” selidik Celine yang mulai tertarik pada pembahasan ini.


Reksa mengusap tengkuk, terlihat salah tingkah. ”Iyalah, Cel. Biar aku enggak salah hari pas minta jatah sama kamu,” jawabnya masih serba salah.


“Hah? Ya ampun, perhitungan banget ya. Lagian, aku juga bakalan bilang kali kalau semisal sudah ada tanda-tanda mau itu. Kan ada gejalanya. Perut kram, muncul jerawat, mood enggak jelas. Nah, satu hari kemudian, pasti bakalan tanggal merah! Jadi enggak perlu khawatir. Ngapain pakai dihapal?”


Celine mengusap kepalanya. “Duh sakit tahu! Lagian kan ada kamu, nanti kamu yang beliin alat itu, Sa!”


“Ih enggak mau!” Reksa menolak, tetapi tangannya sibuk mengusap kepala sang istri yang sempat ia jitak.


“Kok begitu? Biasanya kalau cowok-cowok di cerita itu bakalan mau kok! Kok kamu enggak?!” Lantang, Celine bertanya.


“Itu kan sudah urusan cewek, Celine! Aku bisa membelikan baju, tas, make-up, dan lain-lain. Tapi kalau pakaian-pakaian khusus itu sudah bukan ranahku lagi, termasuk alat buat tanggal merah. Aku bakalan siap kasih mengingatkan kamu soal tanggal merah yang sebentar lagi bakalan tiba, tapi enggak buat belanja keperluan itu. Ibarat kamu disuruh beli alat pengaman, memangnya mau?”


“Enggaklah!” sahut Celine. “Walaupun sudah menikah, ya tetap malu-lah, Reksa!”


“Makanya! Cewek sama cowok itu sudah punya kodratnya sendiri. Pakaian khusus itu mungkin sudah termasuk kodratmu, jadi kamu yang harus siapin. Oleh sebab itu, kamu harus selalu ingat sama jadwal bulanan kamu dan stok alat sebanyak-banyaknya. Masalah uang, gampan! Tinggal bilang!”


“Tapi, kan banyak suami yang enggak keberatan buat membeli barang itu buat istrinya. Hih, kamu saja yang enggak manis.”


“Enggak manis bagaimana? Aku tampan sih bukan manis! Dan kurasa, istri-istri dari suami yang kamu maksud itu hanya ingin menguji saja, kalau enggak ya si istri-istri itu orangnya super teledor dan enggak bisa siapin keperluannya sendiri. Bayangkan! Kalau buat dirinya sendiri saja enggak siap, bagaimana dia akan mengurus suaminya, coba? Ada banyak cara berbuat manis, Cel, bukan cuma cara itu saja.”


Oh, sungguh! Celine tidak menyukai jawaban dari Reksa. Namun, apa yang Reksa katakan juga ada benarnya. Tak sepantasnya seorang suami membelikan keperluan untuk mengatasi tanggal merah, sebab sudah masuk sebagai privasi seorang perempuan.


Hanya saja, hati Celine tetap agak dongkol. Entah. Mungkin karena kebanyakan menonton melodrama yang menyajikan tokoh pria super manis dan tidak malu melakukan apa pun demi wanitanya.


“By the way, kamu sudah enggak ngambek, 'kan?” tanya Reksa kembali ke topik awal.


“Sudah kubilang aku nggak ngambek!” Lantang, Celine menyahut.


Detik itu juga, Reksa sampai terkejut. “Astaga! Bisa lebih lembut enggak sih?”


“Lagian nanya mulu!”


“Aku kan khawatir, Cel?”


“Kenapa harus khawatir coba? Aku sudah bersedia ikut kamu ke sini, dan meninggalkan sahabat serta adikku sendiri.”


Reksa menggigit bibir bagian dalam, dan tak berselang lama ia berkata, “Maaf, karena belum bisa mengabulkan permintaanmu mengenai Ailen. Tapi, jujur Celine, mm ....” Lidah Reksa mendadak kelu. Ia ingin membuat pengakuan, tetapi tiba-tiba saja rasa malu menguasai nyaris seluruh dirinya. ”Aku ....”


***