
Taman Zaryadye menjadi tempat yang Reksa pilih untuk menikmati malam hangat di kota Moskow. Atas nama rasa bersalah, ia memutuskan untuk menghibur Celine, dengan membawa istrinya itu ke salah satu taman fantastis yang berada tepat di bawah bayang-bayang Kremlin tersebut. Sebenarnya, tempat itu tergolong sebagai destinasi malam yang romantis.
Latar gedung pencakar langit di Tanggul Kotelnicheskaya, serta pemandangan jembatan apung dan amfiteater yang dapat mereka nikmati dalam jarak ratusan meter, telah membuktikan bahwa Taman Zaryadye nyaris sama romantisnya seperti menara Eiffel di kota Paris. Belum lagi, elegannya pendar dari lampu-lampu unik semakin menambah kesan manis tempat itu.
“Kamu habis makan apa, tiba-tiba ngajak aku jalan-jalan ke tempat ini?” tanya Celine sembari menghentikan langkah. “Kamu enggak sedang ngigau, ‘kan, Sa?”
Reksa menunjuk gagahnya gedung Kremlin. “Kita kemarin ke sana, tapi belum sempat mampir ke sini. Lagi pula, kita harus ada stok foto untuk diperlihatkan pada orang tua kita,” jawabnya. “Kalau kamu keberatan, kamu boleh kembali ke hotel. Tapi, seenggaknya foto dulu buat bukti.”
Celine menghela napas. “Aku pikir kamu khawatir sama kondisiku, atau sedikit merasa bersalah padaku. Ternyata, masih saja memikirkan diri kamu sendiri.”
“Jangan berharap lebih, Cel,” ucap Reksa dengan intonasi suara yang cukup datar, tidak berapi-api layaknya biasanya. “Lagi pula, yang salah bukan aku saja, ‘kan?”
“Tetap saja, kamu yang memulai terlebih dahulu, Reksa!”
Reksa terdiam. Ada rona merah muda di kedua pipinya. Celine benar, ia yang memulai. Dan kenyataan itulah yang membuatnya terus merasa bersalah. Kebenciannya terhadap Celine ia urungkan terlebih dahulu, demi membuat wanita muda itu lantas lupa pada kejadian manis di malam itu.
Suasana taman yang begitu menawan pun tampaknya tak cukup untuk menggugah selera Celine perihal petualangan. Sejak menghabiskan santap siangnya beberapa saat lalu, ia kembali murung dan terus membahas perihal kejadian malam itu. Jujur saja, Reksa sudah kepalang bingung. Celine tidak hanya unik, tetapi juga cukup rumit. Perubahan mood wanita itu kerap membuatnya mati langkah.
“Jadi, aku harus bagaimana, Cel? Kalau untuk belajar mencintai kamu, tentu saja aku enggak akan bisa. Selain aku sangat membenci pernikahan kita, aku juga cukup terganggu atas kehadiranmu,” ucap Reksa yang sudah tidak dapat membendung keinginan hatinya untuk mengungkapkan segalanya. “Aku ... ingin pernikahan semacam ini segera berakhir.”
Celine menelan saliva, ketika lagi-lagi Reksa mengatakan tentang tanda-tanda perpisahan. Suasana taman yang manis justru berubah ironis di mata Celine. Bagaimana tidak, di tempat yang seharusnya sangat romantis, ia justru ditodong dengan kenyataan bahwa suaminya menginginkan sebuah akhir dari pernikahan yang baru seumur jagung. Kekhawatiran Celine mengenai masa depannya juga kembali datang.
Enggak! Enggak boleh! Begitu kata batin wanita petualang yang selalu membawa tawa untuk orang lain tersebut. Perceraian adalah aib, menurutnya, dan meskipun tidak mencintai Reksa, ia tidak ingin rumah tangganya berantakan.
“Aku enggak akan pernah mau bercerai dari kamu, Reksa,” ucap Celine mantap dengan mata bulat yang kembali berbinar. “Seenggaknya demi nama baik orang tua kita.”
Reksa menghela napas. “Lalu, sampai kapan kita berdua akan melewati pernikahan sesuram ini, Cel? Sejak hari pertama menikah dan sampai sekarang, hidup kita terus diisi dengan yang namanya pertengkaran.”
“Itu karena kamu terlalu sombong, Reksa. Apa pernah aku memancing pertengkaran?”
“Tentu saja pernah!” sahut Reksa cepat. “Kamu begitu ceroboh dan terus-terusan membuatku kerepotan!”
“Ah ... baik, aku memang seceroboh itu dan aku kerap bikin malu. Tapi, bukan berarti aku selalu menghindar dari yang namanya tanggung jawab, Sa. Soal pintu nggak terkunci juga, aku pasti bisa menjaga diri.”
“Sekuat-kuatnya dirimu, kamu tetap seorang wanita, Cel!”
“Aku jago bela—“
“Ilmu bela diri seorang laki-laki bisa jauh lebih tinggi, jadi jangan buat kemampuanmu sebagai alasan untuk bertindak ceroboh, Cel!”
Celine mengerjapkan matanya, lalu ia menghela napas. Disandarkannya kepala pada salah satu tiang lampu tempat itu. Matanya menatap angkasa yang kelam. Benaknya menerawang ke belakang. Reksa benar, ia memang kerap berbuat ceroboh dan beberapa kali merugikan.
Namun ... dari semua masalah yang Celine buat selama di sini, mengapa Reksa selalu bersedia mengatasinya, termasuk menjaga dirinya? Apa benar alasan Reksa melakukan semuanya untuk Celine dan terutama mencari Celine yang kabur ke Kremlin hanyalah karena tidak ingin kena marah Rodian dan Deswita? Atau, apakah pria itu sebenarnya memiliki alasan lain, seperti misalnya mengkhawatirkan Celine?
“Mm ... wanita macam apa yang kamu sukai, Reksa?” tanya Celine tiba-tiba dan berbelok dari apa yang ada di pikirannya.
Reksa mengernyitkan dahinya. “Kenapa bertanya seperti itu? Wanita yang aku suka, bukan urusanmu, Cel. Hidupku sudah terlanjur rumit pasca menikah denganmu,” tandasnya yang keberatan untuk menjawab pertanyaan dari sang istri.
“Aku hanya ingin tahu.” Celine menghela napas. “Walaupun aku biang onar yang kerap bikin masalah dan memiliki sifat-sifat enggak baik, rasa-rasanya wajahku masih tergolong cantik. Bahkan, selebgram Ailen Deodoran itupun sepertinya masih kalah dari aku.”
“Hahaha, ngaco! Lagian, namanya bukan Deodoran, Cel, tapi Ailen Deolinda Davira! Lagi pula, kalian berdua sama-sama enggak cantik!”
Celine berdecap. “Aku lebih cantik pokoknya! Lagian, kenapa hafal banget sih sama namanya, kalau kata kamu dia enggak cantik?!”
“Sudah bilang enggak cantik, tapi tetap saja dijadikan brand ambassador? Kamu masih waras, ‘kan, Sa?”
Reksa mengulurkan tangan dan mencubit hidung mbangir milik sang istri. “Tentu saja aku waras. Dia hanya sexy. Dari karakternya itu, dia bisa menarik banyak penggemar. Aku seorang pengusaha, Cel, sebisa mungkin cari seleb yang banyak pengikutnya demi kelancaran penjualan produkku.”
“Ais!” Celine mengusap hidungnya yang terasa nyeri berkat cubitan tangan suaminya.
Dia kenapa tiba-tiba cubit hidung sih? Batin Celine seiring dengan munculnya rona merah muda di kedua pipinya. Hawa panas pun tiba-tiba menghinggapi sekujur tubuhnya. Sikap Reksa yang terbilang asing membuatnya langsung didera perasaan canggung. Dan fatalnya, Reksa yang notabene adalah suami super angkuh justru bersikap biasa saja.
Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa malam ini Reksa cenderung lebih berbeda. Pria itu tidak lagi memakai urat ketika berbicara, meskipun ia sempat membahas perihal keinginannya untuk mengakhiri pernikahan.
“Cel?” ucap Reksa memanggil nama istrinya dengan intonasi yang cukup rendah.
Celine yang mulai tenang dari segala perasaan tak nyaman lantas menatap wajah suaminya. “Ya?”
“Kenapa kamu setuju menikah denganku? Aku yakin kamu juga enggak pernah menyukaiku. Kita memang pernah bertemu, itupun di saat kita berdua masih kecil. Kamu masih sangat kecil dan aku yang mulai beranjak remaja.”
“Aku ... ya, karena ayah. Kamu pasti tahu kebaikan apa yang Om Wirya berikan pada ayahku. Dan lagi, yang bikin masalah duluan itu kan, kamu, Sa!” Celine memukul bahu Reksa.
“Aduuuh! Sepertinya ilmu bela dirimu enggak main-main ya, Cel?” Sembari berkata, Reksa mengusap bahu di mana bekas pukulan Celine masih terasa. “Dan kenapa malah jadi aku?!”
“Ya, jelas kamu! Kenapa kamu enggak segera menikah, hah?! Rumor aneh mengenai dirimu juga sudah bukan rahasia pribadi lagi, Reksa! Nilai saham perusahaan kamu, kata Keira bisa turun kalau kamu enggak segera menikah! Mungkin Om Wirya enggak mau perusahaan yang beliau bangun, mendadak hancur karena anak laki-lakinya enggak laku-laku!”
Reksa menghela napas. “Kenapa sih, pencapaian tersukses di mata manusia adalah pernikahan?”
“Tahu! Lagian ya, Sa, aku ini juga masih muda. Aku punya mimpi, tapi di sisi lain aku harus tetap menjaga nama baik ayahku di hadapan ayahmu.”
Reksa menatap Celine dengan pandangan lain. “Tapi, kenapa kamu justru enggak mau bercerai, Cel? Dan justru memintaku belajar mencintai kamu? Perceraian kita nantinya akan memberikan keuntungan juga buat kamu, ‘kan?”
“Aku sudah susah payah menahan diri buat enggak melawan permintaan ayahku, Reksa. Mereka bahagia melihatku menikah sama kamu, termasuk kedua orang tuamu. Mana bisa aku merusak kebahagiaan itu, hanya demi egoku sendiri? Lagian ya, Sa, Ayah enggak pernah meminta apa pun dariku. Sama sekali enggak pernah. Justru, aku yang terus-terusan menumpang hidup demi bisa hemat agar ambisiku untuk keliling dunia bersama Keira bisa tercapai. Aku ... hanya akan menjadi anak durhaka jika pada akhirnya enggak bisa mempertahankan rumah tangga kita yang pernah membuat mereka semua bahagia. Lagian, aku juga enggak mau jadi janda, tahu! Mana sudah enggak gadis, lagi!”
Reksa tertegun, sampai terpana menatap Celine dalam beberapa detik. Demikianlah yang ada di benak Celine selama ini. Sebuah pemikiran dewasa yang jauh dari kata materialistis. Sementara, Reksa selalu menganggap wanita muda itu hanya mengincar hidup enak dan sebagian dari hartanya. Padahal, jelas-jelas ia sendiri menerima perjodohan juga demi menjaga perasaan ayahnya, sama seperti yang Celine lakukan. Betapa kejamnya Reksa selama ini.
Namun, meski menyadari atas kekejamannya sendiri, Reksa tetap merasa bahwa pernikahan tanpa cinta tidak akan pernah bahagia. Yang mana, kehidupan semacam itu tidak hanya menyiksa dirinya, tetapi juga pihak Celine.
“Cel, apa pun alasanmu, sesuatu yang dipaksakan tetap enggak akan berjalan dengan baik,” ucap Reksa pesimis.
Celine yang sempat menatap indahnya kilau lampu tempat itu, beralih menatap Reksa lagi. “Tapi, aku yakin, aku bisa membuat keadaan ini berubah,” jawabnya mantap.
“Bagaimana bisa? Enggak ada cinta di antara kita, Cel. Kamu juga masih terlalu muda, dan aku cukup tua untuk menjadi suami kamu. Pernikahan kita enggak akan bisa bertahan lebih dari dua ta—“
“Aku yang akan membuat kamu jatuh cinta padaku, Reksa!” sahut Celine cepat. “Jujur saja, inilah ambisi terbesarku setelah menikah sama kamu.”
Reksa tertawa meremehkan. “Dengan segala macam karakter unikmu itu?”
“Ya! Sudah aku bilang tadi, bahwa aku masih cukup cantik, sampai si Deodoran saja kalah. Aku juga tipikal orang yang bisa disukai banyak orang. Kata Keira, aku mampu membawa tawa untuk mereka. Dan ada satu cowok yang tergila-gila sama aku, Danurdara namanya. Sayangnya, dia lamban, meskipun sebenarnya dia menyimpan alasan kuat untuk enggak menyatakan perasaannya padaku. Kalau Danu yang ramah dan tampan saja bisa menyukaiku, berarti Reksa yang jelek dan punya lubang hidung segede gua kenapa enggak?”
Dia sudah enggak galau lagi sepertinya, pikir Reksa setelah mendengar Celine kembali mengatainya. Lalu, ia memilih diam karena tidak mau menghabiskan malam indah hanya untuk bertengkar dengan Celine.
Reksa menarik salah satu lengan Celine. Dari arah belakang, ia mendorong tubuh Celine untuk berjalan menuju tempat unik di bagian yang lain.
***