Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 77-Gundah Gulana


Malam hari, di ranjang milik kamar hotel, Reksa dan Celine tengah bersama. Keduanya sepakat untuk tetap tinggal di penginapan. Sebenarnya, Reksa sudah menawarkan jalan-jalan, tetapi Celine justru menolak dengan alasan sedang malas. Padahal, alasan itu hanyalah sekadar manipulasi belaka.


Celine tahu bahwasanya Reksa sangat lelah. Lagi pula, siapa sih yang tidak kecapekan setelah menjalani hari-hari penuh pekerjaan? Bali sebagai tempat wisata luar biasa pun tampaknya tidak bisa membuat Reksa lantas menghela napas lega. Mungkin karena peluncuran produk baru, sehingga pekerjaan jauh lebih banyak dua kali lipat daripada sebelumnya. Bahkan, bisa saja ia tetap sibuk di mana pun berada. Saat ini saja, ada laptop di hadapan Reksa sejak tadi.


Celine menghela napas, sesaat setelah menyesap membuka matanya yang sempat terpejam, lalu berangsur melirik wajah serius sang suami. Miris dan prihatin, itulah yang ia rasakan saat ini. Bagaimana tidak, jika suami tercintanya masih saja bekerja keras, dan dalam keadaan seperti itupun, Reksa tetap menanggapi semua celotehannya.


“Kenapa? Aku tampan ya?” celetuk Reksa tiba-tiba sampai sukses membuat sang istri tersentak.


“Ciiih ... iya, memang ganteng! Tapi, angkuh. Tapi, kamu memang enggak boleh enggak angkuh sih. Harus tetap angkuh!” sahut Celine cepat.


Dahi Reksa mengernyit, sementara matanya berangsur menatap istrinya tersebut. “Kok kayak gitu? Biasanya kamu kasih ceramah, kalau aku enggak boleh sombong, karena semua harta yang aku sombongkan adalah milik Sang Maha Kuasa. Kenapa tiba-tiba berubah?”


“Cuma ....” Celine memejamkan mata. Kedua telapak tangannya saling mengusap satu sama lain, memberikan isyarat bahwa dirinya sedang gelisah. “Kejadian kemarin, bikin aku gelisah, Reksa. Memang benar, kalau kamu sudah jadi suamiku. Bahkan belum lama ini, kamu menyatakan cinta padaku. Tapi, tetap saja hati aku enggak tenang. Bukan berarti aku enggak mau percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Aku takut.”


”Apa yang kamu takutkan sih, Cel? Belum lama lho, kita berdua mendapatkan hubungan sebaik ini. Kok hati kamu goyah lagi?”


Celine menggeleng-gelengkan kepala dengan gerakan sangat cepat, sementara matanya sudah kembali menatap Reksa. “Bukan goyah! Bukan kayak gitu. Aku tuh sangat takut kehilangan kamu. Tapi, Ailen, sosok Ailen.”


“Hmm ... Ailen lagi? Dan tumben kamu sebut nama dia dengan benar?”


Celine mendengkus, setelah itu berkata, “Kamu dan Keira menanyakan hal yang sama ketika aku menyebut nama Ailen dengan benar. Memangnya selama ini, aku selalu salah ya?"


“Iya, se-la-lu salah, haha. Tapi, aku pengin ketawa kalau kamu sebut dia sebagai alien, Cel.”


“Kamu sudah ketawa kali, Sa! Bukan cuma pengin lagi! Haaah ... ya! Beginilah aku. Bodoh, ceroboh, dan enggak tahu malu, mungkin juga cenderung seenaknya saja.”


“Mm.” Reksa mengangguk setuju. “Kamu benar. Dan aku pengin kamu tetap seperti itu.”


“Hah?” Sembari mengernyitkan dahi, Celine bertanya lagi, “Kok? Semua sifat itu buruk banget lho, Suamiku sayang!”


Reksa tersenyum dengan manis. Sesaat, ia memilih mengabaikan laptopnya, termasuk juga pekerjaan yang masih belum terselesaikan. Ia mengubah posisinya dengan setengah rebahan, setelah sebelumnya duduk sambil memangku laptop di atas ranjang itu. Kali ini, ia benar-benar hanya menetapkan fokus matanya pada Celine. Mengamati netra indah milik Celine, mengamati setiap ekspresi Celine, dan tak ketinggalan menbenarkan rambut Celine yang berantakan.


Di mata Reksa, Celine kini bukan lagi wanita miskin yang biasa saja, melainkan sudah menjadi wanita idaman sekaligus wanita kesayangannya. Lebih dari itu, Celine adalah masa depannya yang akan terus ia pertahankan sampai masa tua.


“Aih!” Celine mencubit-cubit lengan Reksa sembari tersenyum malu-malu. Astaga! Baru kali ini, ia puji dengan pujian se-demikian rupa, oleh seorang pria yang sudah menjadi suaminya.


Padahal, banyak orang yang berkata bahwa pria bisa lebih dingin dan cuek ketika sudah berhasil menikahi seorang wanita, tetapi Celine justru mendapatkan pria yang berbanding terbalik dengan kata-kata itu. Ataukah mungkin Celine dan Reksa baru merasakan jatuh cinta? Ah, tidak-tidak! Pikir Celine menyangkal tebakannya sendiri. Ia tetap lebih meyakini bahwa pacaran setelah menikah memang jauh lebih indah!


“Umm ... kamu benar, kayaknya pikiran kita memang sama. Kasus Ailen pun bikin aku gelisah enggak karuan, bahkan sampai menjadi gila secara dadakan. Mm, kamu juga ganteng, kamu tampan, dan meskipun lubang hidung kamu gede—”


“Astaga ... masih saja!” potong Reksa.


Celine tertawa kecil. “Maaf, maaf, becanda, biar enggak terlalu malu akunya. Dan ... serius kok, kamu tampan, kaya raya lagi! Perusahaan Om Wirya juga sudah sepenuhnya jatuh ke tanganmu, bukan? Kalau kamu mendadak jadi orang ramah, dengan fisik yang begitu menarik, dan harta yang berlimpah, aku jamin bakalan ada Ailen-ailen yang lain. Dan itu yang bikin aku enggak bisa tenang, Sa.”


“Jangan khawatir, Cel.”


“Aku tetap bakalan khawatir, aku takut, apalagi ... aku baru dapat kabar kalau adikku menyukai seseorang. Kupikir gadis biasa lainnya, ternyata bukan. Kasus Kenny membuktikan bahwa cinta itu enggak pandang bulu. Sama halnya dengan Ailen dan Danu, mereka menyukai kita tanpa peduli status pernikahan kita, Reksa. Bagaimana kalau ada orang yang seperti mereka lagi? Enggak peduli kalau kamu sudah jadi suamiku, terus menggoda kamu?”


“Halah! Dramatis banget pikirannya!. Mm, ngomong-ngomong, memangnya, siapa yang Kenny suka sampai bikin kamu ikutan khawatir, Cel?”


Celine menghela napas, lalu menggeleng pelan. “Nggak bisa, aku nggak bisa kasih tahu kamu tanpa izin darinya, Sa. Meskipun kamu suami aku, tetap saja setiap cerita orang lain yang masuk ke aku, tetap harus aku simpan rapat-rapat. Apalagi ini soal adikku, aku kasihan sama dia kalau ceritanya sampai ke telingamu, terus dia tahu kalau aku ember. Pengalaman soal sikap Keira kemarin, cukup bikin aku lebih berhati-hati.”


“Hmm.” Reksa tersenyum tipis. Soal sikap Keira yang Celine maksud pun ia tahu. “Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau butuh bantuan kamu tinggal bilang saja.”


Celine mengangguk. Lega memang setelah mengeluarkan segala unek-uneknya. Meskipun, ketakutan itu masih tetap ada, tetapi setidaknya jika sudah mengungkapkannya, Reksa akan selalu mawas diri. Memiliki suami tampan, kaya, karismatik, serta pintar merupakan kebahagiaan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan suami sempurna bisa menjadi momok tersendiri.


Lalu, Reksa menghela napas. Menyadari sebesar apa kegundahan Celine, akhirnya ia memutuskan untuk memberikan sebuah pelukan. Lantas, ia mengusap kepala Celine dengan lembut. Ia juga mengucap janji dalam hati, ia tidak akan pernah selingkuh!


Sampai pesan itupun masuk ke dalam ponsel Reksa.


Nomor Tak Dikenal: Tuan Reksa, saya benar-benar mencintai Anda. Sungguh, saya ikhlas jika dijadikan sebagai istri kedua.


***