Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 49-Provokasi Ailen


Celine memandangi gagahnya perusahaan milik Reksa yang sudah pernah ia kunjungi. Ia ingin masuk ke dalam dan membawakan makan siang untuk suaminya tersebut, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Namun, rasa rendah diri kini justru kembali datang. Bukan hanya karena menganggap dirinya tidak pantas, tetapi kemungkinan keberadaan Ailen membuatnya lantas serba salah.


Kalau yang dikatakan oleh Keira benar bahwasanya Ailen sedang menginginkan Reksa, tentu saja Celine harus mulai siap siaga. Ia tidak takut, sungguh! Namun, kejadian beberapa hari silam masih saja membuatnya kerap merasa minder. Kalau Safrudin yang hanya memiliki perusahaan kecil saja berani menghinanya, apalagi Ailen yang jelas-jelas seorang selebgram papan atas.


“Bagaimana nih? Batalkan atau lanjutkan? Apa Keira sibuk, ya? Hmm ... meskipun dia enggak sibuk, aku tetap enggak boleh menyusahkannya. Lagian, aku belum baikan sama dia,” gumam Celine kebingungan.


Inilah resikonya jika Celine tidak segera memperbaiki hubungannya dengan Keira. Pasalnya, hanya pada Keira, Celine menceritakan segala hal termasuk meminta pertolongan. Celine memang memiliki banyak teman, tetapi bukan berarti ia dapat memercayai mereka sebanyak rasa percayanya pada Keira. Sayang, hanya karena satu hal, ia merasa kecewa dan lantas membuat Keira menjauh darinya.


“Duh! Mampus aku! Kenapa aku mendadak penakut begini sih?” Celine bergumam lagi, sementara kepalanya menunduk, dan wajahnya benar-benar kusut.


Perlahan, Celine juga merasa bodoh dan kekanak-kanakan. Hanya karena satu pesan dari Ailen, ia memutuskan untuk menyelidiki dengan dalih mengantarkan makan siang untuk Reksa. Padahal, ia sangat tahu betapa Reksa sangat sombong dan ketus. Seharusnya, ia percaya bahwa dengan karakter sedemikian buruk, Reksa tidak akan menyeleweng dari janji pernikahan dan lantas menerima kehadiran Ailen.


“Ya sudahlah, pulang saja. Biar aku makan sendiri, atau buat Kenny. Kalau siang ini Ayah dan Ibu sudah sibuk di kedai, anak itu pasti cuma makan mie instan. Lagian, aku enggak boleh curigaan sampai berlebihan begini,” ucap Celine yang akhirnya membuat keputusan.


Detik berikutnya, wanita dengan segala karakter super unik tersebut lantas berbalik badan. Demi menjaga martabat Reksa sebagai konglomerat papan atas, Celine menggunakan taksi, alih-alih jasa kendaraan yang lain. Maklum, sekalipun Reksa membelikannya mobil, ia tidak akan bisa menyetir.


Begitulah sosok Celine, yang justru pandai mengendari motor gede, daripada kendaraan beroda empat. Tentu saja karena dirinya tidak pernah memiliki transportasi semacam itu. Kedua orang tuanya saja, ketika sedang membeli bahan-bahan untuk kedai kecil mereka, sekadar memanfaatkan motor bebek keluaran lama.


“Celine!” seru seseorang diiringi tendangan maut untuk menutup pintu taksi yang baru Celine buka.


“Eh, Monyet!” Celine yang terkesiap, lantas mengucapkan perkataan yang tidak seharusnya.


“Apa katamu?!”


“Enggak.” Celine berkilah. “Lagian kenapa kamu bikin kaget orang sih?! Nanti kalau pintu taksi bapaknya rusak bagaimana?”


“Aku bisa menggantinya dengan mudah,” jawab Reksa begitu enteng, kemudian menatap sang sopir taksi untuk membatalkan pemesanan yang Celine ambil. Ia menatap Celine lagi, kemudian berkata, “Ayo, ikut aku.”


“Ke mana?” Kendati masih bertanya, Celine tetap mengikuti langkah kaki suaminya.


Kebersamaan sepasang suami dan istri itupun langsung menjadi sorotan para karyawan Golden Rose, tak terkecuali seorang Keira yang menatap dengan sendu wajah sahabatnya itu. Ia ingin sekali datang dan menyapa, tetapi ia ingat tentang keinginan Celine yang tidak menginginkan pertemuan sementara dengannya. Akhirnya, yang bisa Keira lakukan hanyalah sebatas menghela napas, kemudian berlalu untuk menuju kantin perusahaan.


Sementara itu, Reksa serta istrinya sudah berada di dalam elevator dengan rencana yaitu hendak ke ruang kerja pribadi. Sebelumnya, Reksa memang sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Celine dari salah satu penjaga keamanan gerbang perusahaannya. Petugas itu merasa tidak asing pada wajah Celine, yang kemudian tersadar bahwa Celine adalah istri dari tuannya. Detik itu juga, sang petugas lantas mengejar Reksa yang kebetulan sedang berada di lobi, alih-alih mendatangi Celine lebih dulu, sebab ia takut kehilangan Reksa yang bisa saja segera pergi dari lobi tersebut.


“Kamu kok tahu aku di depan, Sa?” tanya Celine penasaran. Seingatnya, ia tidak pernah memberi tahu kedatangannya siang ini pada suaminya itu.


“Selain punya banyak aset dan uang, aku juga punya banyak mata, Cel,” jawab Reksa, enteng.


Celine mendecap sembari memutar bola matanya. “Percaya deh percaya. Namanya juga monster!”


“Ngawur!”


“Enggak juga. Kalau dipikir-pikir aku terlalu tampan buat jadi monster.”


“Apaan! Lubang hidung kamu tuh gede, Reksa!”


“Kumat! Padahal sudah lama kamu enggak membahas persoalan hidung, Cel! Semua hidung mancung pasti ya punya lubang gede-lah, Cel. Beda sama cewek, enggak semua cewek kurus punya perut buncit!”


“Iiih!” Celine mencubit lengan Reksa. “Jangan bahas soal itu lagi, Reksa! Apaan sih, lagian kamu juga puas-puas saja setiap malam bersamaku.”


“Hahaha. Mau bagaimana lagi adanya cuma kamu, dan cuma sama kamu doang bolehnya.”


“Iyalah, orang aku istri kamu kok!”


Reksa masih tergelak tidak peduli dengan kekesalan yang melanda diri Celine saat ini. Namun, kalau masalah perut, Celine memang jauh lebih sensitif. Sebenarnya perut Celine tidak sampai mengembung bak balon, tetapi tetap terlihat agak menonjol apalagi saat dirinya sedang duduk. Namanya juga wanita doyan makan dan jarang berolahraga. Hobinya berjalan-jalan, tetapi hanya sekitar setahun sekali, sesuai budget yang ia miliki. Kalau tabungan tipis, biasanya Celine dan Keira hanya mendatangi Bogor yang dekat dengan kota tinggal mereka.


Tak lama kemudian, pintu elevator pun terbuka. Namun ... sesosok wanita sexy yang memiliki segudang penggemar muncul di depan mata Reksa dan istrinya. Melainkan Ailen Deolinda Davira yang berniat untuk turun, sebab ia tidak menemukan Reksa di dalam ruang kerja pria itu. Entah apa yang membuatnya datang di hari sabtu dan ketika pihak perusahaan tidak memiliki agenda pertemuan dengannya.


“Selamat siang, Tuan Reksa,” sapa Ailen sembari tersenyum semanis mungkin. “Saya menunggu Anda sejak tadi, tapi tidak menemukan Anda di ruang kerja Anda sendiri. Dan sepertinya kita tidak sempat bertemu sewaktu berada di bawah, karena saya mampi ke toi—“


“Memangnya kenapa?” potong Reksa. “Tidak ada agenda pertemuan sama sekali, bukan?” Sembari menggandeng jemari Celine, Reksa keluar dari elevator itu.


“Ah ... i-itu, saya ada hal yang ingin dibicarakan dengan Tuan Reksa.”


“Kalau memang ada, seharusnya kamu melalui prosedur yang sesuai, tidak nyelonong dan lancang begitu. Kamu cuma brand ambassador, bukan direktur, atau dewan penting di perusahaan ini.”


“Apa? Cuma brand ambassador?”


Ailen mengernyitkan kening dan hatinya merasa tidak senang. Lihatlah, saat ini Reksa begitu merendahkannya, menganggap posisinya sebagai brand ambassador benar-benar tidak penting. Reksa seolah tidak takut jika Ailen memutuskan untuk menyebar rumor baru dengan memanfaatkan jutaan pengikut di sosial media.


“Pergilah, aku sedang kedatangan tamu super penting. Kalau ada apa-apa hubungi sekretarisku dan berhentilah bersikap lancang, Ailen!” tegas Reksa tidak main-main.


“Wuu ...,” lirih Celine tertegun atas sikap suaminya.


Segera setelah itu, Reksa membawa Celine untuk segera menuju ruangannya, tanpa memedulikan Ailen. Dan sama seperti sebelumnya, Ailen benar-benar kesal. Lihat saja, sebentar lagi ia akan membuat rencana besar.


“Tuan Reksa!” seru Ailen sebelum Reksa dan sang istri benar-benar menghilang dari pandangan matanya. “Bagaimana dengan keberangkatan kita ke Bali nanti? Saya percayakan masalah hotel kepada Anda.”


Reksa menghentikan langkah, pun pada yang dilakukan oleh Celine saat ini. Ucapan Ailen sudah seperti anak panah yang melesat dan tepat mengenai jantung Celine. Bali? Hotel? Reksa dan Ailen? Bagaimana maksudnya? Sejumlah pertanyaan mulai bermunculan di benak Celine yang sudah dibuat gelisah sejak tadi pagi.


***