Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 55-Keluhan-keluhan Reksa, Obsessive Love Disorder


Layar laptop yang seharusnya menyajikan segala jenis materi pekerjaan, kini justru mendadak menampilkan berbagai macam perhiasan. Reksa yang biasanya menjunjung tinggi sebuah ke-profesianalan, hari ini malah begitu santai. Padahal tumpukan berkas di hadapannya sangat banyak, beberapa pekerjaan yang membuatnya harus lembur lagi malam ini. Namun, Reksa seolah tidak peduli.


“Pengin membelikan dia perhiasan lagi. Kalung? Kurasa sudah pernah? Cincin? Mm ... boleh juga, cincin baru sekalian melamarnya lagi,” gumam Reksa sembari mengingat akan rencana diam-diamnya. “Tapi, konsepnya saja belum aku dapat. Enggak mungkin tiba-tiba kasih cincin, tanpa alasan yang jelas. Si cewek aneh bin unik itu pasti akan menolak dengan alasan ingin mandiri. Halah ....”


“Kok begini ya?” Reksa mendadak bingung sendirian. “Dulu, sama si mantan, aku malah jengkel karena dia terlalu matre. Tapi, sekalinya dikasih cewek super mandiri, rasanya kayak enggak berguna banget.”


Terdengar seperti seseorang yang tidak merasa puas dengan pasangan baru pemberian kedua orang tuanya dan terutama dari Tuhan, yang mengirimkan Celine dengan cara luar biasa. Namun, begitulah isi hati seorang Reksa yang terkenal angkuh dan galak. Ia pernah trauma karena pengkhianatan sang mantan, sampai membuatnya begitu membenci wanita miskin. Awalnya, ia pikir semua wanita miskin sama saja, mereka akn mengincar harta si pria kaya.


Namun, lambat laun, tepatnya ketika mulai mengenal beberapa rekan bisnis ayahnya, Reksa juga melihat beberapa wanita yang masih termasuk anak orang kaya, tetap materialistis. Herannya saat bertemu dengan Celine yang terus berprinsip untuk hidup mandiri, Reksa justru merasa dirinya benar-benar tidak berguna. Terutama tadi pagi, saat Celine lebih memilih menaiki motor bebek bersama Kenny, alih-alih menerima tawarannya yang hendak mengantarkan dengan mobil super elite.


Reksa menghela napas. “Memang sih, kalau dilihat dari karakter kedua orang tuanya, dia enggak aneh kalau punya sifat kayak gitu. Bahkan, dari ayah, ibu, sampai adiknya sama-sama enggak mau kalau dikasih sesuatu yang besar. Tapi, tetap saja, aku merasa sangat enggak nyaman. Aku ibarat raja di antara para rakyat jelata, padahal kan aku sudah menjadi keluarga mereka. Tapi, kenapa aku yang seolah hidup jaya sendirian?”


“Ah!” Reksa mendengkus kesal setelah itu. “Sekali-kali kek memanfaatkan keberadaanku. Lagian, aku enggak bakalan jatuh miskin kok kalau dimintai sedikit uang. Kalau begini kan aku malah jatuhnya kayak orang jahat. Aku seorang CEO dari perusahaan besar, malah sudah menjadi penerus utama. Tapi, adik iparku bakalan sulit cari kerja, kedua mertuaku masih kerja keras di kedai kecil seperti itu. Terutama Celine yang merupakan istriku sendiri, kenapa masih sering gelisah sejak enggak punya kerjaan coba?”


Reksa yang sebelumnya berencana untuk membelikan hadiah perhiasan untuk istrinya, kini berubah jengkel sendirian. Apa yang menjadi rencana tersebut pun akhirnya menjadi terlupa dalam beberapa saat. Reksa—si Angkuh—memang benar-benar sudah tidak tahan dengan semua karakter super baik dari seluruh anggota keluarga istrinya.


“Mereka adalah keluarga yang sangat menyebalkan!” ucap Reksa, yang tak lama kemudian memilih untuk meluruhkan segala kejengkelannya. “Tapi, mereka baik. Tapi, bikin jengkel. Tapi, memang baik. Tapi, yah, jahat! Kenapa bikin aku macam orang penjahat, coba?”


“Oh, sial!” Reksa menyandarkan punggungnya pada badan kursi yang ia duduki, kemudian menghela napas panjang. Matanya turut terpejam, mencoba mencari ketenangan. Namun, di dalam benaknya justru terlintas sejumlah rekaman kejadian yang melibatkan kebersamaannya dengan Celine selama nyaris tiga bulan sejak pernikahan. “Celine, aku awalnya ingin bercerai dengan kamu. Menganggap kalau kamu rendahan dan sama sekali enggak pantas. Tapi, kenapa tiba-tiba aku sangat menyukaimu? Ada banyak tingkah laku konyol dan unik, yang terkadang bikin aku ilfeel dan sebal. Tapi, semua itu sekarang sudah enggak berlaku. Yang ada justru sepi, jika aku di sini tanpa dirimu.”


“Ah, mana malam masih lama lagi! Sejak tadi pesan yang aku kirim enggak dibalas sama sekali! Menyebalkan! Lagian, berapa banyak sih pesanan katering yang Ibu Mertua dapatkan? Kenapa sampai panggil istriku, dan bikin istriku super sibuk begini, coba?” keluh Reksa.


Tepat ketika Reksa menyelesaikan kalimatnya, ponsel yang ia letakkan di sebelah kiri laptop terdengar berbunyi. Notifikasi pesan masuk rupanya. Cepat, Reksa bergerak. Ia menarik dirinya dan duduk agak melengkung ke depan demi memastikan layar ponselnya, siapa tahu Celine sudah membalas pesan-pesan yang ia kirimkan.


“Sial! Kenapa justru cewek itu sih? Siapa? Alien?” Reksa mengikuti penyebutan salah yang kerap Celine ucapkan ketika sedang mengatakan nama Ailen. “Kayak enggak ada cowok lain saja! Kenapa harus mengejar-ngejar suami orang, coba? Aku memang tampan, tapi aku sangat setia. Lagi pula, dia enggak lebih cantik dari Celine. Berani-beraninya menggodaku!”


Lalu, notifikasi pesan kedua kembali terdengar dan lagi-lagi Ailen pelakunya.


Nomor tak dikenal: Tuan jika Anda tetap enggak mau, saya bisa membuat penyataan mengejutkan untuk perusahaan Anda!


“Lakukan saja, dukunganku lebih banyak! Aku bahkan bisa memecatmu, setelah berakhirnya event di Bali nanti. Berani-beraninya cewek murah macam dirimu mengancam si CEO kaya sepertiku!” Setelah berucap, Reksa memutuskan untuk memblokir nomor ponsel Ailen yang memang tidak pernah ia simpan.


***


Di sebuah restoran, Ailen dibuat geram oleh sikap Reksa yang terus-terusan mengabaikan pesan serta permintaan makan siang darinya. Padahal, ia sudah berusaha sampai sejauh ini, bahkan rela bersujud di hadapan Ali hanya demi memiliki nomor ponsel pribadi dari CEO Golden Rose tersebut. Naas, usahanya harus berakhir sia-sia, sampai saat ini.


“Lihat saja kalau sudah di Bali nanti, aku akan benar-benar membuat kamu kehilangan nama baik, Reksa Wirya Pandega. Bahkan, saham perusahaan kamu bisa aku buat anjlok drastis!” gumam Ailen dengan wajah berekspresi mengerikan, bagai seorang psikopat yang sudah menemukan target pembunuhan.


Namun, demikianlah yang Ailen rasakan saat ini. Geram dan marah. Ia yang lebih dulu menyukai Reksa, bukan si Celine yang miskin. Lihat saja, ia lebih dari segala-galanya dibandingkan wanita itu. Ia memiliki tubuh bak gitar spanyol, wajah cantik, dan ia adalah seorang selebgram papan atas yang memiliki pengaruh besar. Satu saja jebakan yang akan ia buat untuk Reksa, pasti Reksa akan kehilangan nama dan lantas berlari padanya.


Obsessive Love Disorder alias kondisi di mana seseorang memiliki obsesi berlebihan terhadap orang yang dicintainya, sepertinya sudah merenggut sebagian besar akal sehat Ailen. Selama ini, Ailen memang sering bertemu pria genit, mata keranjang, dan kerap memanfaatkan ketenarannya demi uang dan popularitas. Dan ketika bertemu dengan Reksa Wirya Pandega saat pertama kali ditawari sebagai brand ambassador, Ailen melihat jika pria itu sangat berbeda dengan semua pria yang pernah ia kencani. Reksa yang angkuh, pandai membatasi diri, kaya, populer, dan tampan. Itulah tipikal pria idaman Ailen setelah dirinya banyak disakiti.


***