
“Saya tidak akan memecat kamu, Keira. Kalau bukan karena Celine dan alasanmu di balik sikap sembrono itu. Kalau saja kamu orang lain yang tidak berkaitan dengan Celine, saya sudah menyingkirkanmu dari perusahaan ini, bahkan jika perlu, semua perusahaan akan saya minta agar nama kamu di-blacklist dari calon karyawan mereka. Kamu terlalu sembrono, sok jadi pahlawan, wanita bodoh yang bisanya berspekulasi sendiri. Pengkhianat berkedok sahabat!”
“Padahal Celine begitu menyayangimu, tapi alih-alih memberinya dukungan, kamu justru membuat keadaan semakin runyam, Keira. Se-begitu bencinya-kah dirimu pada saya? Hingga begitu berani menganggap bahwa saya ini orang yang bisa membahayakan hidup Celine, sampai kalian—kamu dan si Tengik Danu itu—ingin menyelamatkan Celine dari saya? Saya tidak sekejam itu, Keira. Memang benar karakter saya begitu keras dan sombong. Tapi, kamu juga bukan siapa-siapa yang pantas menilai orang dari luarnya saja, sebab dirimu sendiri begitu licik dan kurang ajar! Lagi pula, kalau memang Celine ingin pisah, saya bisa memberikannya. Tapi, kami sudah tidak memikirkan tentang hal itu lagi!”
Dua kalimat super panjang yang Reksa katakan di detik terakhir pertemuan, masih saja terngiang jelas di telinga dan benak Keira. Rasa sakit tentu saja dirasakan oleh hatinya yang masih tidak karuan. Namun, ia harus menyadari bahwa dirinya memang sangat pantas untuk mendapatkan semua hujatan itu dari atasannya sekaligus suami dari sahabat yang ia khianati. Mau bagaimanapun, tindakannya yang tanpa izin dari sang pemilik hidup sudah salah kaprah dan tak bisa direvisi. Semua sudah terjadi, hanya kata ‘maaf’ dari Celine-lah yang bisa Keira jadikan sebagai remidi.
Tak terasa bulir air mata mengalir di pipi Keira yang selalu glowing. Bukan ingin playing victim, sebab ia pun sudah cukup tahu diri seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Hanya saja ... kerinduannya terhadap Celine yang biasanya menerornya dengan banyak pesan, kini kembali datang. Ia ingin berjumpa dengan sahabat tersayangnya itu, tetapi Celine belum menunjukkan tanda ampunan hingga saat ini, sementara sang mentari Jakarta sudah semakin kian berjalan ke bagian barat. Membuktikan bahwa Keira dan Celine tidak berhubungan sama sekali selama nyaris 24 jam.
“Ra!” Seseorang menyerukan nama Keira, seorang Katty yang mendadak muncul di hadapan Keira. “Ada apa denganmu? Apa ada masalah setelah bertemu Tuan Reksa?” selidiknya, kepo seperti biasanya.
Keira menghela napas, lalu memutar bola matanya. “Apa urusanmu memangnya?”
“Enggak kok. Wajah kamu sangat kusut, jadi aku khawatir. Apalagi kamu sudah membantuku untuk terlepas dari hukuman Tuan Reksa. Aku melihatmu berbincang dengan seorang wanita yang belakangan ini diketahui sebagai istri Tuan Reksa. Dan setelah dia datang, tiba-tiba saja Tuan Reksa enggak menyiksaku lagi, jadi kupikir kamu sudah membujuk Nona itu agar berbicara dengan Tuan Reksa.”
Bukan! Mungkin, ya ada kemungkinan Celine membujuk Reksa. Tapi, kalau enggak, mungkin Reksa sudah mendapatkan mangsa baru yaitu aku, jadi dia melepaskanmu, Katty! Sayangnya kalimat ini hanya sebatas di dalam batin Keira saja. Ia tidak bisa mengatakan apa pun pada Katty. Namun, ia bersyukur jika rekannya itu sudah terbebas dari hukuman yang luar biasa mengesalkan.
Ah, Keira lupa. Keira tidak boleh berpikiran macam-macam lagi tentang Reksa. Siapa tahu Reksa punya alasan lain tentang mengapa dirinya memberikan hukuman seperti itu pada Katty. Dan kalau dipikir-pikir, belakangan ini Katty cenderung menghindari Ailen yang masih kerap mampir untuk mengulik kehidupan Reksa.
“Kat, pergilah. Sudah mau pulang, aku harus mengerjakan sisa tugasku, daripada banyak bicara,” pinta Keira.
Katty mengangguk setuju. Segera setelah itu, ia memutar badan dan meninggalkan Keira yang masih muram untuk ke meja kerjanya sendiri.
***
Sementara itu, Reksa yang gagah berani sudah berdiri tegak sembari memandang ke depan. Latar keberadaannya saat ini adalah di depan gerbang sebuah perusahaan yang cukup kecil. Ia yang tidak bisa menahan amarah, akhirnya memutuskan untuk singgah dan hendak menemui orang-orang di kantor itu.
Celine memang tidak ada di dalam, karena sejak kejadian kemarin, Celine memutuskan untuk membolos. Mungkin beberapa hari ke depan, Celine akan benar-benar mundur dari perusahaan yang dipimpin oleh Safrudin. Lagi pula, Reksa juga tidak akan memberikan izin jika istrinya itu masih saja rela datang ke tempat yang tidak sepantasnya ada.
“Lihat saja, kekacauan apa yang akan aku buat di tempat ini, karena sudah berani menyentuh istriku!” ucap Reksa, geram.
Namun, sebelum benar-benar masuk ke dalam, Reksa berpikir untuk menghubungi Celine terlebih dahulu. Ia tidak ingin memiliki posisi seperti Keira dan Danu, yang berniat membantu, tetapi justru salah kaprah. Lantas, ia merogoh ponsel dari dalam saku blazernya. Ia mencari nomor kontak sang istri, kemudian melakukan panggilan keluar pada istrinya tersebut.
“Halo. Ada apa, Sa? Tumben telepon? Aku sudah baikan kok, enggak perlu khawatir,” sapa Celine dari kejauhan yang Reksa yakini masih berada di apartemen.
“Terus, maksud kamu bagaimana? Masalah kecil yang mana? Kok—“
“Aku sudah di depan kantormu, ingin menghukum orang-orang yang sudah menghinamu, Cel. Sekali lagi aku tekankan bahwa aku enggak kasihan sama kamu, tapi masalah ini kalau dibiarkan begitu saja akan melebar ke mana-mana. Bosmu yang julid itu bisa menyebarkan kabar bohong tentangmu dan bisa melibatkanku. Jadi, selagi masih kecil, aku harus menyingkirkannya.”
“Tunggu, tunggu, Reksa! Bosku menghinaku? Astaga ... kok kamu tahu sih?!”
“Kamu kan yang cerita kemarin, Celine,” jawab Reksa memanipulasi kebenaran. Ia tahu tentang kebodohan Celine, jadi sedikit dimanupulasi tidak akan membuat istrinya itu sadar. Lagi pula, ia tidak ingin jika Celine kembali bertengkar dengan Keira yang sudah memberikan informasi untuknya
“Hah, aku? Cerita? Perasaan enggak deh, aku nggak ada bahas bos!”
“Ada, Celine. Kamu mengatakannya secara singkat, tapi aku langsung paham.”
“Be-benarkah?” Mungkin, wajah Celine saat ini sangat linglung. “Masa sih?”
“Kalau bukan dari kamu, memangnya aku tahu dari siapa lagi? Kamu kan tahu aku enggak bisa dekat dengan orang lain. Sama keluargamu saja, masih canggung.”
“Umm ... benar juga sih.”
“Ya sudah diam saja, aku akan menghabisi mereka sekarang juga. Ingat! Aku enggak kasihan sama kamu!”
“Me-menghabisi? Re-reksa, itu enggak per—“
Sebelum Celine berhasil menyelesaikan kalimatnya, Reksa langsung mematikan panggilan tersebut. Ada senyum tipis yang terulas di bibir Reksa, saat mengingat betapa bodohnya Celine. Istrinya itu memang terlihat kuat, pandai bela diri, ceriwis, dan nyaris tidak pernah takut apa pun. Namun, secara nalar, Celine cukup lamban. Untung saja, masih cantik dan pantas untuk diajak ke kondangan.
Puas membayangkan wajah dan karakter sang istri, Reksa lantas mengambil sikap. Ia berjalan untuk memasuki gerbang kantor kecil itu dengan segala macam rencana yang sudah tersemat di dalam otaknya.
***
Tampilkan kutipan teks