
“Aahhh ....” Lega rasanya, setelah satu minggu berada di pulau lain untuk mengurus pekerjaannya sebagai tim dari sebuah biro perjalanan bulan madu. Celine, ya wanita otak minus itu akhirnya sampai di apartemennya yang notabene adalah milik suaminya.
Kelegaan bukan hanya sebatas perasaan bebas setelah sekian hari menghabiskan waktu untuk mengikuti kegiatan biro demi mewujudkan perfect honeymoon yang diimpikan oleh klien terkait, melainkan karena hari ini Celine akan bertemu dengan Reksa. Bekerja yang sekaligus sekalian liburan tidak terlalu indah lagi baginya, setelah memiliki kecintaan terhadap Reksa. Bahkan, tidak pernah sedetik pun Celine melupakan sang suami, justru rindu yang kian membesar teruntuk suaminya tersebut saat dirinya berada di pulau tersebut.
Di beberapa tempat wisata, Celine kerap berandai-andai; andai saja Reksa bersamanya sekarang, lalu berlibur dengan momen yang lebih indah, melebihi kebersamaan di Bali. Namun, tampaknya pengandaian itu akan sulit terjadi. Reksa terlalu sibuk, bahkan ketika berada di Bali saja, Reksa masih harus kerap bekerja dan menemui para relasinya. Di tambah saat ini, Celine sudah memiliki pekerjaan.
Benar, pada akhirnya penawaran dari Sanny tentang pekerjaan di biro perjalanan bulan madu itu, Celine terima. Ia teringat akan uang milik Reksa yang ia keluarkan demi membeli barang-barang branded. Dengan kenyataan itu, tentu saja, Celine tidak enak hati jika hanya leha-leha di apartemen sementara suaminya berjibaku dengan segala macam pekerjaan di kantor. Belum lagi, soal hutang atas ganti rugi yang Reksa keluarkan untuknya, ketika dirinya memecahkan sebuah ornamen di hotel ketika masih berada di Moskow, Rusia. Ada juga barang milik Reksa yang ia rusak, ketika baru saja pindah.
Dan bom! Banyak sekali kerugian yang Reksa alami karena kecerobohan Celine, bukan? Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk menolak pekerjaan yang Sanny tawarkan. Setidaknya sampai Celine benar-benar sudah hamil nantinya.
Celine pun beranjak menuju dapur, untuk memastikan apakah ada sisa makanan yang tersimpan. Pasalnya, perutnya sudah sangat keroncongan, sementara Reksa belum juga pulang. Waktu memang belum terlalu sore, dan sepertinya Reksa masih ada lemburan. Celine tidak tahu pasti, maklum, sepulangnya dari pulau tersebut ia tidak memberikan kabar sama sekali, demi membuat kejutan untuk sang suami.
“Astaga ... kosong?! Kulkasnya orang kaya kok bisa kosong sih?!” ucap Celine sembari menggeleng-geleng heran. “Terus selama aku pergi, dia makan apa dong? Di luar? Apa Mbak Pelayan juga enggak datang ya?”
“Hmm ... kasihan sekali suamiku.” Celine berkata lagi, setelah akhirnya memutuskan untuk pergi dari apartemen itu.
Celine berencana untuk berbelanja di supermarket yang tidak jauh dari gedung apartemennya. Tidak peduli rasa lelah setelah menempuh perjalanan udara, ia terus berjalan untuk menuju lantai bawah melalui sebuah elevator. Sekalian memasakkan makan malam untuk si kesayangan, begitu pikirnya.
Beberapa detik setelah masuk ke dalam elevator, ponsel Celine terdengar berdering. Lantas, wanita dengan tipikal ceroboh dan tidak pintar tersebut lantas merogoh kantong celana hikingnya.
“Mm? Keira?” gumam Celine membaca nama yang tertera di layar ponselnya tersebut. Sesaat setelah itu, ia mengangkat telepon dari Keira serta menempelkan ponsel di daun telinga kanannya. “Ya, Ra, halo. Ada apa nih?”
“Eh kamu sudah balik dari NTT, Cel?” sahut Keira dari kejauhan.
“Sudah barusan. Perjalanan aman, aku sudah di apart nih. Tapi, mau belanja keluar, lapaaar!” Celine keluar dari elevator yang pintunya sudah terbuka.
“Eh! Belanja di mana? Aku susul nih, Reksa lagi ada meeting tuh sama para dewan.”
“Iyakah?” Dahi Celine mengernyit. “Lama enggak?”
“Enggak tahu sih, Cel. Tapi biasanya sekitar satu sampai dua jam, makanya aku berani telepon kamu, mau ajak ketemu sebentar begitu. Aku sudah di tempat parkir nih, bagi lokasi ya, nanti aku samper!”
“Oke siap, Ra. Aku juga lagi kangen nih sama kamu, biasalah sekarang sudah jadi orang sibuk hahaha.”
“Sip deh! Sukses terus, biar sibuk terus! Hahaha.”
Setelah mematikan panggilan itu, Celine langsung mempercepat langkahnya untuk keluar dari gedung apartemen. Tadinya, ia hanya ingin berbelanja di supermarket yang masih satu gedung dengan apartemen itu, tetapi ia ingin menghabiskan waktu dengan Keira sampai Reksa pulang nantinya. Dan waktu yang pas untuk bertemu adalah kafe. Sekalian, mencari kopi untuk membuang jetlag yang masih terasa.
***
“Mm, Ra. Aku dengar kamu lagi dekat ya sama Kenny?” selidik Celine sembari mengambil beberapa bungkus chicken nugget.
“Hah?!” Keira menghentikan langkah, matanya terbuka lebar, dan bibirnya agak miring. “Dekat bagaimana maksud kamu?”
“Hahaha. Kenapa syok begitu responsnya? Aku kan cuma tanya.”
“Bukan begitu.” Keira menghela napas, dan berangsur membuang wajahnya dari Celine, karena jujur saja ia sangat malu. “Cuma ... kenapa kamu bisa tanya kayak begitu, Cel?”
“Ibuku yang bilang, Ra. Belakangan ini, katanya Kenny berisik sampai malam. Teleponan sama seseorang di teras rumah, dan belum lama ini, Ibu dengar kalau Kenny sebut-sebut nama kamu.”
“Astaga!”
Oh, harus di mana Keira menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas dan ia jamin sudah memerah. Mengapa Kenny ceroboh sekali, sampai ibunya memergoki seperti itu? Pikir Keira bertanya-tanya. Ia ingat saat sedang kalut karena kedatangan ayahnya yang secara kurang ajar meminta uang, durasi telepon yang berlangsung dengan Kenny, terbilang sangat lama. Bahkan panggilan itu beberapa kali tak sengaja mati, tetapi entah Keira atau Kenny memanggil lagi untuk melanjutkan panggilan via suara tersebut.
“Hei! Ada apa nih? Kami setuju lho kalau kamu ada apa-apa sama Kenny, aku, ibuku, ayahku bakalan senang banget. Dan aku mendadak menjadi kakak kamu, Ra, hahaha,” ucap Celine masih memberikan godaan.
“Ih!” Keira yang kesal karena ledekan Celine, dan bisa saja mengundang perhatian orang lain, memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah.
“Adik Keira! Tunggu dong!” goda Celine lagi.
“Diam sih, Cel, berisik! Lagian ada alasannya kok!”
“Iyalah pasti! Alasannya kalian ada apa-apa, ‘kan, Adik Keira! Hahaha.”
“Diam, Celine!” hardik Keira sembari menghentikan langkah secara mendadak tepat di hadapan sahabatnya tersebut. “Kamu tuh ya! Baru dengar sedikit saja sudah mikir macam-macam, malah sampai ke hal yang kayak begitu. Adik, adik, mbahmu itu! Kamu masih terhitung lebih muda dari aku kali, Cel!”
“Lah! Kalau dugaanku terbukti benar, mau enggak mau kamu harus mengakui kalau aku kakak iparmu kali, Ra!”
“Kakak ipar dari Hongkong? Ada-ada saja!” Keira mendengkus. “Cepetan belanjanya, terus mampir ke resto nanti buat ganjel perut kamu dulu. Nah, aku bakal cerita apa yang terjadi, sampai aku terlibat telepon sama Kenny begitu lama.”
“Okeee, Adik Keira!”
Celine menjadi begitu semangat. Awalnya memang sudah semangat karena sebentar lagi akan bertemu dengan suaminya. Namun, kabar yang ia dapatkan dari Deswita mengenai Kenny dan Keira belakangan ini memberikan energi tersendiri bagi hidupnya. Setidaknya, Keira juga tidak harus terbelenggu cinta pada Danu yang belum tentu memberikan balasan atas perasaan itu. Dan lagi, meskipun lebih muda, Kenny lebih kelihatan maskulin dan jantan. Kenny juga manis dan rupawan, bukan lagi seorang pengangguran. Jadi, tidak ada alasan bagi Keira untuk menolak keberadaan adik dari Celine tersebut, bukan?
***