Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 98. Tanpamu Apa Artinya, Tanpamu Serasa Hampa


Tanpamu Apa Artinya, Tanpamu Serasa Hampa


-diambil dari lirik lagu berjudul "Tanpamu" yang dipopulerkan oleh Tetty Kadi-


***


Hari-hari Tanpamu


Jakarta


Pocut


Pertemuan dengan wali kelas Reka dan pihak yayasan menghasilkan dua keputusan penting. Reka tetap bersekolah di Pusaka Bangsa dan Tama mengundurkan diri dari daftar penyumbang tetap yayasan Pusaka Bangsa.


"Setelah saya diskusikan dengan istri dan keluarga besar," ucap Tama lugas. "Ini keputusan terbaik."


Ia terkejut. Sebab Tama tak pernah membicarakan perihal tersebut. Semalam, Tama menghabiskan waktu untuk melambungkannya hingga terlena dan enggan untuk kembali. Itu saja. Tak ada hal lain yang mereka lakukan atau bicarakan.


"Keluarga besar Pringgodigdo (nama kakek buyut Tama) masih menjadi donatur tetap. Hanya saya sendiri yang keluar."


Tama beralasan jika visi dan misi tak lagi sejalan.


"Ini sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap kinerja SDM Pusaka Bangsa yang tidak mencerminkan integritas. Jauh dari kredibilitas yang seharusnya." Tama menggeleng.


"Fair saja kalau memang anak saya bersalah," sambung Tama. "Silakan dihukum sesuai aturan yang berlaku. Saya support penuh. Sama sekali tak keberatan."


"Saya bukan tipe orang tua yang melindungi anak apapun kesalahannya. Anak harus dibiasakan untuk bertanggung jawab sedini mungkin." Tama mengembuskan napas berat.


Namun sejurus kemudian kembali berucap dengan nada sinis. "Yang saya sesalkan di sini adalah kelalaian pihak sekolah hingga tindak perundungan sudah seperti agenda tahunan."


"Kasus Anja dan Cakra, saya pikir menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Meski terjadi di jenjang berbeda namun berada dalam naungan institusi yang sama." Tama kembali menggeleng. "Tapi ternyata ..." Tama mengangkat bahu. "Kembali terulang. Sekarang malah kena ke anak saya sendiri."


Sekarang ia tahu jika Tama telah mengetahui masalah yang sebenarnya. Tentang alasan Reka memulai perkelahian. Juga tentang sikap guru BK yang menurutnya kurang berimbang.


"Nggak juga," kekeh Tama begitu para tamu meninggalkan rumah dan ia menuntaskan kecurigaan dengan bertanya langsung.


"Cuma nebak," sambung Tama seraya masih terkekeh. "Kalian bertiga main lempar-lemparan nggak ada yang mau ngaku."


Ia memandang Tama meminta penjelasan.


"Kinan jelas sakit hati, aku tahu." Tama balas menatapnya. "Reka punya ego setinggi gunung just like me. Mau dikorek sampai tahun depan juga nggak bakalan ngaku. Dan istriku ini ...." Tama meraih dagunya. "Pasti karena kebanyakan mikir. Nggak enak sama orang lain. Right?"


Ia terus menerus memandang Tama tanpa kedip. Rasanya seperti sedang dilucuti oleh detektif handal. Semua terpampang nyata tanpa penghalang.


"Ya ampun, Pocut." Tama menggelengkan kepala. "Nggak enak sama siapa? Aku? Kinan? Hati siapa yang sedang kamu jaga?"


Tama mengusap dagunya lembut. "Tolong jangan sembunyikan apapun. Reaksi pertama mungkin sangat buruk. Tapi aku punya penawar ajaib. It's you."


Sekarang wajahnya pasti sudah merah padam, karena dalam waktu singkat hawa panas sudah menyebar ke seluruh permukaan kulit. Terasa hangat.


"Sudah." Tama kembali mengusap dagunya. "Daripada bikin pusing diputuskan begini saja. Lumayan mengurangi konflik kepentingan. Kehilangan satu donatur nggak akan berpengaruh signifikan. Pusaka Bangsa sudah gemah ripah loh jinawi punya kucuran dana dari tujuh penjuru mata angin."


Ia menghela napas panjang. "Tapi nggak pakai bohong sudah diskusi dengan istri segala, Mas."


Tama hanya terbahak.


Dan waktu terus berjalan. Tak pernah menunggu apalagi berhenti. Tama sudah kembali ke Lembang. Reka tetap bersekolah di Pusaka Bangsa. Ketiga anaknya menjalani rutinitas seperti biasa. Sementara ia hampir menyelesaikan seluruh pertemuan di level 1. Termasuk mengikuti serangkaian tes untuk mengetahui karakter kepribadian.


"Melankolis plegmatis?" Tanyanya bingung ketika membaca hasil tes yang disodorkan oleh Amira, psikolog di sesi konseling. "Apakah buruk?"


Amira pun mulai menjelaskan empat tipe karakter kepribadian manusia secara keseluruhan. Kemudian beralih menerangkan tipe melankolis plegmatis beserta kekurangan, kelebihan, dan bagaimana mengembangkan keduanya agar tak saling bertentangan.


Selama itu pula, hati dan pikirannya terus menerus membenarkan setiap rangkaian kata yang diucapkan oleh sang psikolog.


"Melankolis cenderung terlalu banyak berpikir. Terkadang tidak percaya diri untuk memulai sesuatu yang baru. Takut salah, takut tidak diterima, banyak kekhawatiran di awal. Ujung-ujungnya malah nggak melakukan apa-apa." ©


"Sementara plegmatis sering kesulitan saat membuat keputusan, mengambil pilihan, atau mengutarakan penolakan." ©


"Padahal tipe melankolis paling banyak memiliki skill dibanding tiga kepribadian lainnya. Cerdas, tekun, pandai menganalisis, mempunyai bakat dan tingkat kreativitas yang tinggi. Memiliki kesadaran diri yang penuh tentang dampak sikap dan perilakunya terhadap orang lain." ©


"Bisa dibilang ... sebagai sosok yang sangat menghargai orang lain?"


Ia menelan ludah berkali-kali.


"Kelebihan ini disempurnakan dari sisi seorang plegmatis yang tenang, cinta damai, tak suka berkonflik." ©


"Sekarang kita fokus pada kelebihan. Bisa mulai dari memanage pola pikir. Stop sekarang juga dari kebiasaan memikirkan pendapat orang lain."


"Karena orang akan terus berbicara, mau kita melakukan semua hal baik bahkan hal buruk sekalipun. Orang nggak akan pernah diam selama keberadaan kita di dunia."


"Berhenti mengkhawatirkan pendapat orang lain. Karena yang bertanggung jawab terhadap diri adalah kita sendiri. Bukan orang lain."


"Kuncinya melakukan yang terbaik. Biarkan hasil yang berbicara."


Perlahan, ia mulai bisa mengenali dan membangun citra diri yang positif. Selangkah demi selangkah merasa semakin menerima, mencintai, memahami, sekaligus merasa nyaman dengan diri sendiri.


"Tidak ada yang berubah. Kita tetaplah orang yang sama," terang Ingrid. "Kita mempelajari ini semua bukan untuk menciptakan fake person, tapi memaksimalkan potensi diri demi kebaikan."


Ia juga belajar bagaimana mengelola kekurangan. Terutama ketidakpercayaan diri dan rasa gugup jika bertemu banyak orang. Semua dimulai dari hal terkecil, roleplay berbicara di depan kelas sesering mungkin.


"Kita coba bicara dengan tempo yang lebih pelan." Ingrid memberi solusi ketika ia kesulitan mengucapkan sebuah kata di pertengahan kalimat. Padahal apa yang ingin diucapkan sudah terbayang. Namun isi kepala dan mulut tak bisa diselaraskan.


"Berbicara dengan tempo pelan, suara yang keras, dan pelafalan jelas agar orang cukup sekali mendengar tanpa harus bertanya-tanya," sambung Ingrid lagi.


"Se la mat si ang, per ke nal kan na ma sa ya ...."


"Terlalu lambat. Orang akan bosan dan mengalihkan perhatian ke tempat lain." Ingrid menggeleng. "Lakukan seperti biasa kita sedang mengobrol."


"Selamat siang. Kita buka rapat hari ini dengan ... dengan ... mmm ...." Ia meringis karena tak tahu harus mengucapkan apa.


"Salah satu cara untuk meminimalisir rasa gugup adalah menguasai materi yang akan disampaikan dan memahami karakteristik pendengar," terang Ingrid. "Dengan semakin sering berbicara di depan umum, lambat laun kepercayaan diri akan mulai terbentuk. Practice makes perfect."


"Selamat siang. Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah mempertemukan kita kembali dalam acara rutin yayasan Kemala." Ia mencoba berlatih di rumah sebelum kegiatan perdana minggu depan. Seusai anak-anak membaca Al-Qur'an dan menyetorkan hafalan masing-masing.


"Hihihi ...." Sasa terkikik sambil menutup mulut selama ia berbicara.


Icad tetap asyik menggambar.


Sementara Umay tiba-tiba mengangkat tangan tinggi-tinggi ke atas. "Makan malam kapan, Ma?"


"Ish." Ia mendesah campur tertawa. Terpaksa menghentikan pidato yang sedang diucapkan. "Mama sedang latihan bicara, May. Tanya seperti yang ada di kertas. Bukan makan malam."


Ia sengaja mengetik sejumlah pertanyaan di atas selembar kertas dan membagikannya kepada anak-anak. Menurut penuturan Ingrid, semakin sering berbicara di depan umum semakin baik. Itulah mengapa ia coba memberdayakan anak-anak. Menganggap mereka sebagai pendengar.


"Makan malam nanti tunggu mas Reka pulang," sambungnya sembari kembali bersiap untuk melanjutkan pidato.


Tapi Umay memasang aksi mengusap perut dengan wajah memelas. "Lapar, Ma."


"Bang Umay pindah rumah malah doyan makan." Sasa yang masih terkikik ikut berkomentar. "Makan melulu kerjaannya."


"Kan sekolahnya jadi jauh, Sa. Tiap hari jalan kaki ke keude. Bikin lapar terus." Umay beralasan.


Tak dinyana bertepatan dengan suara mesin mobil yang terdengar memasuki halaman. Disusul kemunculan Reka sambil menyerukan salam. "Salamlikum."


"Eh!" Sasa menggeleng sembari menggoyangkan telunjuk. "Ucapkan salam yang benar." Kali ini Sasa menirukan gaya bicara mamak saat menegur Umay.


Reka hanya tertawa seraya mengacak rambut Sasa. Lalu berjalan menghampirinya untuk mencium tangan. Kebiasaan yang Tama tanamkan pada anak-anak tiap kali hendak bepergian atau baru pulang ke rumah.


"Langsung makan, Mas?" Ia tersenyum.


Reka mengangguk. Dan Umay langsung berteriak YES sambil berlari ke dapur. "Aku bantuin bawa piringnya!"


Malam hari ketika ia tengah menunggu telepon dari Tama. Masih berdiri di depan cermin sambil berbicara seorang diri. Seseorang mengetuk pintu kamar.


Ternyata Icad. "Masih latihan, Ma?"


Ia mengangguk. "Padahal cuma bicara. Tapi susah ya, Bang?"


"Mungkin karena Mama belum kenal sama orang-orangnya."


Ia menoleh dengan kening mengerut.


"Coba kalau Mama bicara sama ibu-ibu tetangga rumah kita dulu. Pasti lancar karena udah kenal."


"Abang?" Ia menghampiri Icad dengan wajah gembira. Merasa senang dengan celetukan Icad yang dianggapnya sebagai masukan berharga. "Iya, benar. Mungkin karena Mama belum kenal sama ibu-ibu di kantor papa jadi groginya berkali lipat."


"Mama kan udah kenal sama tante-tante baju pink yang pernah datang ke rumah?"


Ia mengangguk. "Iya, tante Sarah sama teman-temannya."


Dalam sekejap terbersit ide. Besok ia akan berkunjung ke rumah Sarah dan pengurus inti yayasan Kemala lainnya secara pribadi. Untuk menyambung tali silaturahmi dan persahabatan. Mungkin dengan mengenal lebih dekat, ia tak lagi merasa asing atau gugup.


"Udahlah Mama orangnya nggak pede, belum banyak yang kenal, baru pertama kali ikut acara begini." Ia mengembuskan napas panjang melepaskan keluhan.


"Susah ya Ma, jadi istri om?"


Tapi ia menggeleng. "Memang Mama harus banyak belajar, Bang. Kalau nggak berusaha, pengalaman Mama nggak akan bertambah. Masih begini begini saja."


"Belajar Mama sukses berat." Icad tersenyum. "Sekarang Mama jadi keren banget."


Icad justru tertawa.


Ia pun ikut tertawa.


Namun Icad yang masih tertawa justru bangkit. "Ya udah."


Ia terperanjat. "Lho, mau ke mana?"


"Tidur," jawab Icad singkat.


Ia mengernyit. "Abang ke sini pasti mau ngobrol sama Mama?"


"Cuma mau ngomong gitu doang." Icad tetap beranjak menuju pintu.


Ia semakin mengernyit tak mengerti.


"Abang senang lihat Mama bahagia setelah nikah sama om," gumam Icad cepat sambil buru-buru keluar kamar.


"Bahagia terus ya, Ma," ucap Icad sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.


Ia masih terpana menatap pintu yang baru saja tertutup, ketika ponsel di atas nakas menyuarakan getaran tanda panggilan masuk.


Papa Tama memanggil ....


Ia pun meraih ponsel sambil tersenyum. Semoga Abang, semoga kita semua senantiasa berbahagia.


Tapi terkadang, ujian datang lebih cepat dengan cara yang tak terduga.


Petang ini, ketika ia tengah menyimak hafalan Umay, Yuni memberi tahu jika ada tamu yang datang.


"Katanya saudara jauh dari kampung Koneng, Bu," ujar Yuni sebelum berlalu.


Dan ia terkejut saat mendapati cing Minah, yang rumahnya berada tak jauh dari madrasah ustadz Arif, sudah duduk di ruang tamu dengan wajah pias.


"Cut?" Cing Minah yang datang bersama seorang pria dan wanita paruh baya menatapnya nanar. "Lu inget Iyan, keponakan gue?"


Ia masih berusaha mengingat kemenakan cing Minah yang bernama Iyan ketika wanita paruh baya yang duduk di hadapannya mulai terisak.


"Iyan anak mpok gue satu-satunya. Kawin belom ada setahun. Sekarang bininya lagi hamil muda tapi malah kena musibah."


Menurut penuturan cing Minah, malam itu Iyan baru pulang dari bekerja. "Pas nyampe Kapuk Raya si Iyan mao ambil kanan. Udah riting, ngelihatin spion, nengok kanan kiri. Tapi masih ditabrak dari belakang."


Ia terkesiap.


"Nyang nabrak Iyan masih bocah, kagak pake helm." Cing Minah mulai berkaca-kaca. Sementara wanita paruh baya di sebelahnya semakin terisak.


"Si Iyan mental jauh ama motornya. Bocah nyang nabrak ...." Bulir bening mulai berjatuhan menghiasi wajah letih cing Minah. "Ditabrak lagi dari belakang."


Ia meraih tangan cing Minah dan menggenggamnya.


"Si Iyan kakinya patah sampai sekarang belom bisa jalan." Cing Minah menerima selembar tissue yang diulurkannya. "Bocah nyang nabrak si Iyan ... masih SMP ... kagak ketolong waktu dibawa ke rumah sakit."


Ia mengeratkan genggaman pada tangan cing Minah yang terasa sedingin es.


"Orang nyang nabrak bocah SMP masih di ICU belom sadar." Cing Minah menatapnya dengan air mata berlinang. "Tapi polisi malah minta duit ke mpok gue."


Ia menelan ludah.


"Bocah SMP nyang ngebut, kagak pake helm ama kagak punya SIM. Orang nyang nabrak tuh bocah juga ngebut kagak pake helm. Tapi Nyang disalahin malah si Iyan." Cing Minah menyeka air mata dengan gerakan cepat.


"Si Iyan dianggap salah. Dia ambil kanan mo belok. Yang lurus lebih diutamain," terang tamu pria sambil berusaha menenangkan isakan wanita paruh baya.


"Kita dimintain 8 juta buat nutup kasus kagak perlu sidang ama buat ngambil motor," sambung tamu pria dengan rahang mengeras. "Dapat duit dari mana? Udah kena musibah, masih dipalak ama nyang katanya pengayom masyarakat!"


"Cut ...." Mpok Minah menatapnya penuh harap. "Lu bisa bantu, kan? Laki lu bisa kasih keringanan? 8 juta kemahalan buat kita, Cut."


Lidahnya kelu tak tahu harus menjawab apa. Mamak yang mendengar semua penuturan cing Minah hanya menepuk lengannya perlahan.


"TKP di mana?" Suara Tama melalui sambungan telepon seluler terdengar meradang.


Dan ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Apa semua cerita yang pernah kudengar benar, Mas?"


Bahwa profesi Mas rentan menyalahgunakan jabatan dan wewenang? Sambungnya namun hanya dalam hati.


"Cerita yang mana?" Tanya Tama dengan nada lelah. "Kalau ngomong yang jelas."


Membuatnya memutuskan untuk tak memperpanjang. Ia memercayai Tama. Ia hanya harus terus berdoa semoga Tama tak mencederai kepercayaannya.


Dan kedatangan cing Minah ternyata merupakan awalan dari sebuah perjalanan panjang. Entah bagaimana orang-orang mulai berdatangan ke rumah. Bertamu sambil membawa 1001 masalah dengan harapan Tama bisa membantu.


Dari tetangga yang memang dikenal baik. "Si Anto ketangkep tawuran. Laki lu bisa lepasin Anto kan, Cut?"


Saudara dari tetangganya. "Mantu saya kena rajia narkoba. Kira-kira perlu berapa biar bisa bebas?"


Sampai orang yang baru pernah ditemuinya. Datang ke rumah bersama bu RW.


"Ini sepupu suami saya dari pihak ibu. Nenek mereka kakak beradik," terang bu RW seraya tersenyum manis. "Anak bungsunya pengen jadi polisi. 300 cukup, Cut?" Bu RW terkekeh. "Adik ipar saya tiga tahun lalu juga habis segituan. Sekarang pangkatnya sudah ...."


Ia tak tahu harus merasa sedih, kecewa, marah atau ketiganya sekaligus. Sedih karena ternyata sebagian orang masih menilai segala sesuatu dengan uang. Kecewa sebab keadilan benar-benar tak ada harganya. Dan marah mengapa orang lain menganggap Tama bisa dibeli.


Ia belum berani menceritakan kegundahan ini pada Tama. Tetap tersenyum dan tertawa seolah tak terjadi apapun tiap kali suaminya itu menelepon.


"Bulan depan kayaknya nggak bisa pulang. Kalian yang ke Bandung, ya."


"Iya, Mas."


Begitu Tama menyudahi panggilan, ia langsung memeluk diri sendiri. Merasakan aroma maskulin yang khas meruar memenuhi udara sekitar. Wewangian yang kini menjadi favoritnya.


"Eh?" Mata Sasa membola ketika melihatnya mengenakan kaos Tama. "Kenapa Mama pakai baju papa?"


Sejak beberapa hari lalu, setiap malam menjelang tidur ia sengaja memakai baju Tama. Terkadang kaos, kemeja, bahkan jaket. Keharuman khas Tama membuatnya bisa melupakan kegundahan tentang orang-orang yang datang berkunjung ke rumah berniat membeli marwah Tama. Tidurnya terasa lebih nyenyak seolah tengah terlelap di lengan kokoh suaminya itu. Semakin menguatkan kepercayaannya bahwa Tama memang memiliki harga diri yang takkan pernah terbeli. Sebesar apapun godaan yang datang.


Namun kunjungan seorang wanita berpenampilan elegan di suatu petang berhasil memporak-porandakan benteng kokoh yang dibangun dengan susah payah.


"Saya ibunda Zenata, pemilik akun nitnot dengan followers terbanyak. Hanya selisih sedikit dengan Nia Nabati yang kemarin dinobatkan sebagai Popular Nitnot of The Year."


Ia tahu aplikasi nitnot sedang ramai diperbincangkan banyak orang. Namun tak pernah tahu siapa Zenata maupun Nia Nabati.


"Zenata anak yang kreatif, idenya meluap-luap hingga disukai followers sampai jutaan, supel." Wanita di hadapannya mendadak berwajah sendu. "Tapi semalam, Zenata berada di tempat, waktu, dan bersama teman yang salah."


Zenata dan lima orang temannya ditangkap saat tengah mengadakan pesta di salah satu suite hotel berbintang. Bersama mereka ditemukan ganja, botol vape berisi cairan ganja sintetis, dan alat isap sabu.


"Bukan milik anak saya." Ibunda Zenata menggeleng. "Anak saya hanya korban salah tempat dan waktu. Anak saya tidak seperti itu."


"Mohon maaf, Ibu." Setelah berulang kali berhadapan dengan orang yang hampir sama. Mengharapkan bantuan dari jabatan Tama. Kini ia bisa menjawab dengan lugas. "Kami tidak bisa membantu."


"Saya mohon." Ibunda Zenata bersikeras. "Kasus ini terjadi di wilayah hukum yang dipimpin oleh pak Tama. Tolong dibantu."


Ia menelan ludah. "Suami saya sedang tugas pendidikan. Kami benar-benar tidak bisa membantu."


"Tapi ini tak boleh ditolak." Ibunda Zenata menunjuk hampers cantik yang tersimpan di atas meja. "Sebagai salam perkenalan dari Zenata. Saya sangat berharap kita bisa menjalin hubungan baik."


Dan sebelum beranjak, Ibunda Zenata sempat berkata. "Mungkin Ibu belum tahu, suami saya adalah cucu keponakan dari pejabat tinggi kepolisian." Sembari menyebutkan nama lengkap sang pejabat. "Hal yang mudah bagi kami."


Ia hanya bisa menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Bergegas pergi ke dapur karena harus memasak makan malam.


"Ma? Susu di kulkas habis?" Seru Sasa ketika ia tengah memasukkan paprika ke dalam wajan. Memasak menu spesial untuk Reka, cah brokoli tofu.


"Ada, Neng," jawab Yuni yang sedang menyusun ayam goreng mentega ke dalam piring saji. "Kemarin Teteh udah beli di Indoapril."


"Tapi kok ... nggak ada?" Sasa mengangkat bahu.


"Sebentar." Yuni mengangkat piring berisi ayam goreng mentega. "Teteh selesaikan ini dulu, ya."


"Tunggu, Sa," gumamnya sambil menaburkan merica bubuk dan saus tiram ke atas wajan kemudian mengaduknya.


Ketika ia memasukkan egg tofu yang telah digoreng dengan minyak wijen ke dalam wajan, terdengar Sasa berseru riang. "Udah ketemu, Teh Yuni. Susunya udah ketemu. Sasa ambil, ya?"


Yuni yang tengah berjalan ke ruang makan sambil membawa sepiring ayam goreng mentega mengangguk setuju. Namun tak lama berselang, Sasa kembali berteriak.


"MAMA?"


Ia segera mematikan kompor dan tergopoh-gopoh menemui Sasa. "Kenapa?"


Sasa menunjuk-nunjuk kardus susu UHT yang tersimpan di atas meja ruang tamu dengan mata membeliak. "Isinya bukan susu, Ma ...."


Ia langsung mengelus dada begitu melihat Umay memegang segepok uang berwarna merah sambil cengar-cengir. "Kotak ajaib. Isinya bukan susu kesukaan Sasa tapi duit! Kita kaya. Jadi kaya. Orang kaya. Yihaaa!"


Kardus susu yang penuh berisi lembaran uang berwarna merah itu tersimpan di bawah hampers pemberian ibunda Zenata. Uang upeti.


***


Keterangan :


©. : dari berbagai sumber


***