
Bagai Getah Dibawa ke Semak
(Masalah yang semakin rumit -peribahasa-)
***
Jakarta
Pocut
Mereka berempat tidur berhimpitan di atas kasur yang sempit, tapi terasa hangat dan menentramkan. Umay yang awalnya ditawari tidur di kamar nenek menolak. Memilih tidur di belakang punggungnya sambil berbisik-bisik dengan Sasa sepanjang malam.
"Ternyata Abang nggak curang." Itu suara Sasa.
"Iya," Umay setuju. "Abang nggak jalan-jalan sama om, Sa. Tapi kena masalah."
"Mmm ... masalah itu apa, Bang?"
Umay diam sejenak. "Masalah itu sesuatu yang nggak kita sukai."
"Oh ... seperti ... ulet bulu?"
"Apa hubungannya sama ulet bulu?" Umay terheran-heran.
"Ulet bulu itu sesuatu yang nggak Sasa sukai. Habis kalau kena ... ih, gateeeel sebadan-badan."
Umay tertawa. "Bisa ... bisa .... Sasa kok pinter, sih?"
"Hihihi ...." Sasa terkikik sendiri.
"Sssttt." Ia menengok ke belakang. "Tidur. Sudah malam ...."
Umay dan Sasa bergegas pura-pura tidur. Namun baru juga ia berbalik menghadap Icad, suara bisik-bisik kembali terdengar.
"Bang Umay ... Bang Umay ... mas Reka itu kan anaknya om. Berarti ... om ayahnya mas Reka?"
"Iya."
"Ibunya siapa? Kan kalau punya anak harus ada ayah sama ibu. Nggak mungkin cuma ada ayahnya aja."
"Kita bertiga juga cuma ada mama."
"Tapi kan dulu ada ayah ...."
"Oiya ya."
"Umay ... Sasa ... tidur ...."
Kasak kusuk di belakang punggungnya langsung terhenti. Tapi seperti sebelumnya, keheningan hanya bertahan selama beberapa menit. Karena Umay dan Sasa kembali saling berbisik.
"Abang ... aku tadi malu tahu nggak, sih?"
"Kenapa?"
"Malu sama mas Reka. Hihihi ...."
"Bukannya malu sama om?"
Sepertinya Sasa menggeleng. Ditandai dengan gerakan berulang yang menyentuh punggungnya.
"Kalau sama om sih udah sering ketemu. Jadi Sasa nggak malu."
"Sasa malu karena mas Reka ganteng, ya?" Tebak Umay sambil tertawa. "Kayak temen-temen Abang di sekolah. Yang cewek-cewek pasti kalau ketemu orang ganteng suka pada malu. Trus ngomongnya berubah jadi bisik-bisik gitu, deh."
"Hihihi ...." Sasa tertawa cekikikan.
"Kalau menurut Sasa ... di antara semua laki-laki yang Sasa kenal ... siapa yang paling ganteng?" Umay melempar pertanyaan paling menggelikan.
"Anak-anak aja atau sama orang gede?" Sasa mencoba memperjelas maksud dari pertanyaan Umay.
"Ya ... semuanya."
"Mmm ...." Sasa berpikir sejenak. "Kalau anak-anak ... nomer satu abang."
"Abang Umay?"
"Abang Icad."
"Yah." Umay menggerutu.
"Terus mas Reka. Baru deh bang Umay."
"Kok aku paling buncit sih, Sa?" Protes Umay. "Kamu salah lihat kali? Orang aku ganteng begini ...."
"Ih!" Sasa ikut protes. "Ini kan kata Sasa. Suka-suka Sasa lah ...."
"Yada yada." Umay mengalah. "Kalau orang gede?"
"Mmm ...." Sasa kembali berpikir. "Ayah paling ganteng sih kalau dilihat fotonya. Tapi ... ayah kan udah meninggal. Apa orang meninggal masih bisa ganteng, Bang?"
Tiba-tiba Umay menggeram. "Makmuuum ...."
"Ih!" Sasa menjerit.
"Umay!" Ia mendecak mendengar Umay menakuti Sasa dengan menyebutkan judul sebuah film horor. Hobi Umay akhir-akhir ini memang menonton film horor. Ia baru mengetahuinya setelah memergoki Umay ikut mengerumuni ponsel milik anak tetangga di teras rumah cang Romli. Sekumpulan anak-anak itu rupanya tengah asyik menonton film horor.
"Sasa kan nggak nonton filmnya. Ngapain juga takut." Umay terkekeh.
"Tapi diceritain sama Abang bagian seremnya!" Protes Sasa yang masih merasa kesal. "Jadi takut ...."
"Ya udah. Urutan gantengnya berlaku buat yang masih ada aja." Umay kembali mengalah.
"Nomer satu om, terus yahbit, terus ... siapa lagi, ya? Mm ... Sasa cuma ingat dua itu. Hihihi ...."
"Kalau yang paling baik?"
"Dulu yahbit yang paliiiing baik. Tapi ... sekarang enggak lagi."
"Kenapa?"
"Ada yang lebih baik lagi," jawab Sasa yakin. "Lagian ... yahbit juga udah nggak tinggal di sini, kan?"
"Nggak ada hubungannya lagi, Sa." Umay tak setuju. "Antara tinggal di sini sama baik."
"Pokoknya yahbit udah ada yang ngalahin."
"Siapa?"
"Om," jawab Sasa cepat. "Baru yahbit, abang, mas Reka, bang Um ...."
"Kok aku paling buncit lagi sih, Sa?" Umay kembali memrotes urutan yang dibuat oleh Sasa. "Trus, kenapa orang gede dicampur sama anak-anak? Nggak adil, ah."
"Habis Abang suka jail sama Sasa," jawab Sasa tak mau kalah. "Makanya, jadi abang jangan jail."
"Sa ...." Ia membalikkan badan karena bisikan Umay dan Sasa sudah semakin melantur. Obrolan khas anak-anak tapi justru membuat kepalanya pusing.
Ia mencium pipi Sasa. "Sudah malam ... tidur, ya ...."
Sasa mengangguk. Tapi masih bertanya. "Ma ... jadi mas Reka seneng, ya?"
"Kenapa?" Ia meraih kepala Sasa agar tidur dalam pelukannya.
"Punya ayah om." Sasa menatapnya dengan mata berbinar.
Ia mengembuskan napas panjang. Jika tak segera di stop, bisa-bisa pertanyaan Sasa akan semakin memusingkan. "Udah, ya. Sekarang kita bobo. Ngobrolnya besok lagi."
Sasa mengangguk. Mengikutinya membaca doa sebelum tidur. Tapi ketika ia mendekap Sasa dan mulai terlelap, Umay kembali berbisik.
"Kalau Sasa mau kayak mas Reka ... tinggal berdoa aja. Nenek bilang ... kalau kita berd ...."
"Tidur, May." Ia buru-buru memotong ucapan Umay. "Besok Mama pergi pagi-pagi. Jangan sampai kalian bangun pas mama udah pergi."
Besok, ia akan pergi melayat ke rumah Kioda. Wajah pucat Icad dan cerita Tama tentang tragedi yang menimpa pak Markus sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan duka mendalam yang dialami oleh keluarga Kioda.
Kehilangan kepala keluarga dengan cara paling tak bisa dimengerti. Kesalahpahaman yang menimpa orang kecil seperti mereka memang sering berujung tragis. Tak tahu siapa yang harus bertanggung jawab. Dan tak pernah tahu apakah keadilan bisa menyapa.
"Mereka mengeroyok ... memukuli ... mungkin juga menginjak ...." Tangis bu Nurti langsung tumpah begitu melihatnya. "Aku bisa melihat bekas pukulan mereka di tubuh abang."
"Siapa yang melakukannya?" Bu Nurti memegang tangannya kuat-kuat. "Mengapa begitu tega menghabisi nyawa orang yang yang sangat berarti bagi kami?"
Ia menggenggam tangan bu Nurti dengan airmata berlinang. Kembali teringat ketika bang Is pergi untuk selamanya. Masa-masa sulit yang ia sendiri tak mampu berpikir apakah akan sanggup untuk melewatinya.
"Kalau sudah begini ... siapa yang bertanggungjawab?" Bu Nurti semakin terisak. "Orang-orang itu atau polisi?"
Keadaan keluarganya dan keluarga Kioda kurang lebih sama. Mereka tak memiliki banyak harta untuk dilimpahkan kepada anak-anak kecuali kasih sayang. Di titik ini ia sungguh berharap keadilan bisa ditegakkan.
"Tapi sekarang tak ada gunanya." Bu Nurti menggeleng lemah. "Abang sudah mati. Siapa peduli orang yang membunuhnya? Karena nyawa abang tak ada harganya di mata mereka."
Ia langsung memeluk bu Nurti. Membisikkan kata maaf karena tragedi yang menimpa pak Markus terjadi ketika hendak mengantar Icad pulang.
"Tidak." Bu Nurti menatapnya tak setuju. "Jangan berpikir begitu. Ini kesalahan orang-orang yang main hakim sendiri. Tak ada hubungannya dengan hal lain. Murni karena rasa kemanusiaan yang telah mati."
Persahabatan yang terjalin di antara anak-anak mereka membuatnya merasa dekat meski jarang bersua. Rasanya seperti menemukan keluarga yang telah lama tak berjumpa.
Bu Nurti masih mencurahkan kesedihan ketika ci Lili (mami Boni) muncul di depan pintu. Mereka sempat bicara bertiga. Sebelum akhirnya memilih untuk menepi karena pelayat lain semakin banyak berdatangan.
Ia berencana pulang setelah jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Dan saat ini masih menunggu upacara adat selesai. Ketika ponsel yang tersimpan di dalam tas tiba-tiba bergetar.
Awalnya enggan untuk mengecek karena sedang berada di rumah duka. Namun getaran yang tak kunjung berhenti membuatnya merogoh tas.
Kakak Anjani memanggil ....
Ia langsung menelan ludah begitu melihat nama yang muncul di dalam layar. Dan bernapas lega begitu panggilan berhenti.
Tapi kelegaan hanya bersifat sementara. Karena ponsel di tangan kembali bergetar.
1 pesan diterima
Ia menghela napas saat membuka layar.
Kakak Anjani : 'Jangan sedih. Para pelaku sudah diketahui identitasnya.'
Ia mengembuskan napas panjang. Tak berniat untuk membalas pesan.
Kakak Anjani : 'Kamu bisa membalas pesan. Mengapa memilih tidak?'
Ia mengernyit tak mengerti.
Kakak Anjani : 'Aku bisa melihatmu dari sini.'
Ia mengangkat wajah dengan bingung. Dan terkaget-kaget karena menemukan sosok Tama ternyata sedang berdiri di depan rumah Kioda bersama tiga orang petugas lainnya.
Ia mendesah tak percaya sambil menggelengkan kepala.
Kakak Anjani : 'Tak bisa menyapa. Hanya melihat dari jauh.'
Ia kembali mendesah karena memang sejumlah wartawan terlihat sedang mengerumuni Tama dan petugas dari kepolisian.
Kakak Anjani : 'Icad baik-baik saja?'
Ia melihat ke depan di mana peti jenazah tengah dipersiapkan untuk diberangkatkan ke pemakaman. Dan sebelum akhirnya membalas pesan, ia sempat memandang Tama yang juga sedang menatapnya.
Pocut : 'Masih sedih. Tapi bisa mengerti.'
Kakak Anjani : 'Ke sini sama siapa? Pulang naik apa?'
Ia mengernyit ke arah Tama yang masih memandanginya. Padahal sejumlah wartawan sedang menanyakan beberapa pertanyaan. Tapi dijawab oleh petugas yang berdiri di samping Tama.
Pocut : 'Sendiri. Angkot.'
Kakak Anjani : 'Pulang diantar Devano.'
Ia menggeleng tak setuju. Tapi Tama justru memicingkan mata.
Kakak Anjani : 'Aku pesankan taxi."
Ia mengerut semakin tak setuju.
Pocut : 'Tidak per ....'
Ia belum selesai mengetik jawaban ketika pesan baru kembali masuk.
Kakak Anjani : 'Sudah dipesan. Nanti drivernya jemput kamu.'
Ia mendesah tak percaya sambil melihat ke arah Tama yang sedang berbicara melalui ponsel, namun dengan mata tertuju padanya.
Begitu peti jenazah diusung ke pemakaman, ia segera pamit pulang. Ketika berjalan keluar rumah menuju gang, mau tak mau harus melewati Tama dan sejumlah petugas yang sedang dikerubuti wartawan.
"Sudah ditangani oleh satreskrim Polsek setempat."
Ia menunduk dan mempercepat langkah saat mendengar suara Tama sedang menjawab pertanyaan dari wartawan. Sampai sejauh ini, mereka tak saling menyapa bahkan berlaku seperti orang asing. Hanya anggukan dan senyum Devano di depan gang yang mengingatkannya jika tak sedang bermimpi.
"Pagi, Bu?"
Ia balas mengangguk dan segera berlalu. Berjalan cepat menyusuri gang menuju jalan besar.
"Bu Pocut?" Sapa seseorang ketika ia sampai di ujung gang.
"Iya." Ia mengangguk tak mengerti.
Ia kembali mengangguk. "Nggak apa-apa, Pak."
Begitu masuk ke dalam taxi, ponselnya kembali bergetar.
Kakak Anjani memanggil ....
Ia berniat menunggu hingga dering kelima. Tapi jarinya secara tak sengaja menyentuh layar saat dering kedua.
"Sudah naik taxi?"
Ia menggeleng mendengar suara tanpa basa-basi Tama.
"Pocut? Halo?"
"Sudah," jawabnya singkat. "Terimakasih."
"Om Raka ada datang lagi?"
Ia mengembuskan napas panjang karena Tama mengalihkan topik dengan sangat cepat.
"Ada."
"Kapan?"
"Beberapa hari lalu."
"Apa katanya?"
Ia menelan ludah sebelum menjawab. "Pak Raka akan menunggu."
"Nunggu siapa? Kamu?" Suara Tama terdengar meninggi. "Dia sanggupin syarat dari kamu?"
Ia kembali menelan ludah. "Menunggu sampai batas waktu ...."
"Batas waktu siapa? Kamu atau dia?" Ini menjadi suara Tama dengan nada paling tinggi yang pernah didengarnya.
"Dia."
"Berapa lama?"
Ia memandang keluar jendela. Memperhatikan kendaraan lain yang tengah merayap menembus kemacetan. Lalu bergumam pelan, "Seminggu."
Tak begitu jelas memang. Mungkin karena Tama menjauhkan ponsel. Tapi sayup-sayup telinganya masih bisa mendengar suara umpatan, "Damned!"
"Sampai kapan batas waktu seminggu?" Nada suara Tama tak setinggi tadi. Namun masih terdengar kaku dan kurang menyenangkan.
"Sekitar ... empat hari atau ...."
"Oke, empat hari." Tama memotong kalimatnya.
"Pocut ...."
Ia tahu jika Tama berusaha merendahkan suara.
"Aku minta maaf karena semua berjalan lebih rumit dari yang kurencanakan."
"Sampai hari ini, aku masih berusaha menyelesaikan masalah dengan Reka dan Kinan. Kuharap kamu mau mengerti."
"Jangan terbebani den ...."
"Dengar dulu ...." Lagi-lagi Tama memotong ucapannya. "Kamu harus tahu ini ... aku akan datang secepatnya."
Ia memejamkan mata dengan hati mencelos.
"Tolong pegang kata-kataku. Jangan pernah lepaskan."
Ia menelan ludah yang terasa pahit. Tak mampu menjawab meski dengan sepatah kata. Rasanya seperti ... sedang berada di tepi jurang, namun tak bisa mundur ke belakang kemudian berbalik pergi. Tak ada jalan lagi.
Ia masih terdiam sampai akhirnya Tama menutup pembicaraan. Kedua matanya memang menatap ke arah jalanan. Tapi pikirannya berkelana entah ke mana.
Ia bahkan tersentak ketika taxi tiba-tiba berhenti.
"Sudah sampai, Bu. Ini alamatnya?"
Dengan linglung ia melongok keluar jendela dan mendapati taxi berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya.
"Betul, Pak." Ia buru-buru membuka dompet untuk mengambil uang.
"Nggak usah, Bu." Tolak sopir taxi. "Tadi sudah dibayar."
***
Tama
Ia tersenyum memandang Reka yang memeluk Kinan erat-erat. Bukti nyata jika Reka sebenarnya berhati lembut. Namun rasa kecewa telah mengubah Reka menjadi anak banteng yang emosional.
"Bunda nangis?"
Wajah Kinan memang sembab seperti habis menangis berhari-hari. Tapi Kinan menggeleng seraya tersenyum. "Skincare bunda habis. Jadi bengkak begini."
Reka tertawa. Begitupun dirinya. Tak seorangpun menyadari, ini akan menjadi tawa pertama dan terakhir mereka di sore hari yang cerah. Ia bahkan menyantap braise wagyu dengan lahap. Dan menghabiskan bread butter puding hingga tak bersisa.
"Kita harus menyelesaikan ini bertiga." Ia mulai membuka pembicaraan.
Kinan mengangguk. Namun Reka tak bereaksi. Karena masih menikmati dessert pilihannya.
"Semalam aku sama Reka udah ngobrol berdua."
Kinan menatapnya.
"Reka kecewa dan marah."
"Sama ayah," tukas Reka cepat.
Ia memandang Kinan yang sedang tersenyum kecut.
"Reka menganggap ... apa yang terjadi karena kesalahanku."
"Memang," sahut Reka lagi.
"Reka sering melihat kamu menangis malam-malam." Ia menatap Kinan yang tiba-tiba menunduk. "Menurut Reka ... penyebabnya adalah aku."
"Ayah masih menyangkal?" Reka mendorong piring yang telah kosong menjauh. Lalu menatapnya dengan pandangan menuduh.
Ia menelan saliva. "Aku minta maaf."
Kinan mengangkat wajah dan memandangnya.
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya." Ia balas menatap Kinan.
"Aku juga minta maaf." Kinan kembali menunduk.
"Bunda nggak perlu minta maaf," sergah Reka cepat. "Bunda nggak salah."
"Reka ...." Kinan beralih menatap Reka.
"Reka juga tahu kamu mengonsumsi anti depresan." Ia mengembuskan napas panjang.
"Bunda sampai harus minum obat seperti itu karena ayah, kan?" Otot rahang Reka menegang. "Karena ayah nggak pernah pulang, karena ayah nggak pernah menganggap kita ada, karena ayah me ...."
"Bukan karena ayah." Kinan memotong kalimat Reka.
Reka mengernyit.
"Anti depresan bukan karena ayah," ulang Kinan dengan mata berkaca.
"Bunda jangan ngelindungin ay ...."
"Karena bunda sendiri," sahut Kinan cepat dengan suara bergetar.
Otot rahang Reka kembali menegang. Kali ini semakin bertambah.
"Bunda punya perasaan yang ....." Kinan menatapnya dan Reka bergantian. "Bunda bisa nangis kalau ceritakan ini di tempat umum."
Ia mengangguk. "Simpan ceritamu."
"Aku mau dengar."
Kalimatnya dan Reka terucap secara bersamaan.
Kinan menggeleng dengan tatapan memelas. "Bunda pasti cerita. Tapi bukan di sini ... nggak sekarang."
"Kaburnya kamu ke Jakarta saja sudah membuat Bunda ...." Kinan menghentikan kalimat karena setetes airmata keburu jatuh.
Ia mengangguk. "Nanti bunda cerita ke Reka. Sekarang kita bahas yang lain dulu."
Reka tak menjawab. Karena tengah menunduk sambil mengaduk-aduk creme brulee dengan gerakan kasar.
"Masalah anti depresan sudah clear ya, Reka?" Ia memandang Reka yang tetap menunduk.
"Sekarang tentang ...." Ia menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan cepat. "Reka ingin kita berdua ... sama-sama lagi."
Kinan sontak tertawa. Reka membanting sendok creme brulee. Dan ia mendesis kesal.
"Minggu depan Bunda mau nikah sama pakde Pram, Reka. Mana mungkin sama ayah lagi?" Kinan tersenyum kecut.
"Bunda tetep nikah sama pakde Pram?" Suara Reka meninggi. "Setelah aku kabur ke Jakarta ... tapi Bunda masih tetep nikah?"
Kinan memandangnya dan Reka bergantian. "Ada yang salah? Kamu ngomong apa sama Reka, Mas?"
Ia mendecak sebal. "Justru aku yang nanya ... kamu kawin lagi udah ngobrol sama Reka belum?"
Kinan menatapnya heran. "Kupikir Reka juga bahagia kalau aku bahagia ...."
Ia mengangkat kedua tangan seperti sedang mempersembahkan sesuatu. "Lihat ... setelah kami berpisah, bunda lebih bahagia, Reka. Jadi ... nggak mungkin kami sama-sama lagi."
"Betul," sahut Kinan cepat. "Pernikahan ayah dan bunda sudah selesai. Kami nggak akan mengulang kesalahan yang sama."
"Kesalahan?" Reka berkata dengan kepala tetap tertunduk. "Jadi aku adalah bukti nyata kesalahan ayah sama bunda? Gitu?"
"Bukan begitu ...."
"Bukan begitu ...."
Ia dan Kinan mengucapkan kalimat yang sama sambil saling berpandangan.
Ia mengembuskan napas panjang. Merasa ini tak akan berhasil. Sementara bayangan deadline 4 hari kian melekat erat dan terus mengejarnya.
Shit!
"Reka ...." Kinan berucap lebih dulu. "Bunda minta maaf untuk kesalahpahaman ini."
"Kesalahpahaman?" Reka menggerutu. "Bunda anggap ini hanya kesalahpahaman?"
"Reka ...." Kinan meraih tangan Reka dan menggenggamnya. "Bunda tahu Reka marah dan kecewa. Tapi ayah dan bunda udah nggak bisa sama-sama lagi, sayang."
"Bukan berarti ayah dan bunda nggak sayang sama Reka." Kinan menggeleng. "Justru karena ayah dan bunda sayang banget sama Reka. Makanya kami berpisah. Daripada terus sama-sama tapi saling menyakiti?"
"Saling menyakiti?" Reka tersenyum sinis dan menarik tangan dari genggaman Kinan. "Di sini yang paling sakit itu aku ...."
Ia memijat pelipis yang mulai berdenyut. Benar-benar tak memiliki ide untuk menenangkan Reka.
"Reka ...." Kinan kembali meraih tangan Reka. "Bunda sebenarnya mau bilang ini di waktu yang tepat. Tapi sepertinya ... sekarang waktu yang tepat."
Reka tak bereaksi.
"Kita ... mau pindah ke Stockholm untuk sementara waktu."
WHAT?
Ia langsung berhenti memijat pelipis dan menatap Kinan tak percaya.
"Terapi Bunda nggak menunjukkan kemajuan yang berarti." Kinan memandang Reka dengan penuh penyesalan. "Bunda harus pergi ke tempat yang memiliki fasilitas bagus untuk menye ...."
"Bunda ngomong apa?" Reka mengkerut.
"Setelah Bunda menikah dengan pakde Pram ... kita pindah ke Stockholm," jawab Kinan dengan wajah penuh kelegaan. Seperti baru saja berhasil memindahkan gunung.
"Temporary," sambung Kinan. "Bukan untuk selamanya. Kita akan kembali ke Surabaya setel ...."
Reka menggebrak meja. "Aku nggak setuju!" Kemudian beranjak dengan setengah berlari menuju pintu keluar.
Ia memberi tatapan menuduh pada Kinan. "Seriously?"
Kinan mengangkat tangan dengan wajah bingung.
"Kesempatan emas kita dengan Reka kamu sia-siakan untuk kepentingan pribadi?"
"Untuk kebaikanku, Mas." Kinan menepuk dadanya sendiri sambil menggeleng. "Untuk kebaikan kita semua. Cepat atau lambat ... Reka harus tahu rencana ini."
Ia memijat pangkal hidung dengan kesal. "Tapi bukan sekarang. Bisa nggak kamu sabar sedikit?"
Ia bangkit sambil mengembuskan napas dengan kasar. "Kamu harus menyelesaikan ini. Aku nggak mau tahu."
Kemudian beranjak pergi meninggalkan Kinan. Berusaha mengejar Reka yang pergi entah ke mana. Semoga bukan ke tempat yang tak bisa ditemukannya.
***