
Step by Step, Everything Will be Fine
(Selangkah demi selangkah, semuanya akan baik-baik saja)
***
Jakarta
Tama
Ia bernapas lega begitu menemukan sosok Reka ternyata sedang duduk termangu di salah satu sofa yang berada di lobby hotel. Dengan perlahan dan berhati-hati ia berjalan mendekat. Kemudian ikut mendudukkan diri di sebelah Reka.
1 menit, 5 menit ... tak seorangpun bersuara. Ia benar-benar merasa kesulitan untuk menemukan kalimat pembuka yang tepat.
"Sampai kapan kita di sini?" Gumam Reka dengan mata menerawang jauh ke depan. Memperhatikan orang-orang yang baru masuk ke dalam hotel.
Ia menelan saliva sambil menunjuk pintu restoran tempat mereka baru saja makan (mereka makan bersama di restoran hotel berbintang tempat Kinan menginap).
Reka tak bereaksi.
Ia mengangguk mengerti. "Pamit dulu sama bunda."
Reka tak menjawab. Langsung berdiri dan berjalan mendahuluinya menuju lift.
Ia mengembuskan napas panjang. Bergegas mengikuti langkah Reka. Otaknya benar-benar sedang mampet, tak mampu diajak untuk berpikir taktis. Jika sebelum berangkat ke restoran ia masih bisa tersenyum dan memiliki harapan. Sekarang rasanya sulit sekali. Namun dibalik kerumitan masalah, ia masih bersyukur karena Reka tak melakukan hal nekat yang sebelumnya sempat dikhawatirkan.
"Masih sore," gumamnya sambil mengarahkan kemudi keluar dari basement. "Kasih tahu ayah kalau mau mampir ke suatu tempat."
Reka bergeming. Memandang lurus ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Ia pun mencoba memecah suasana kaku dan sunyi dengan menyalakan sistem audio. Memilih chanel radio yang sekiranya bisa mengubah suasana hati menjadi lebih baik.
"Kembali bersama Elcinta news and talk edisi sore tanggal ...." Begitu suara news anchor radio yang terdengar.
"Tiga PR besar harus segera dituntaskan oleh Yanni Djambak, ketua KBK (Komisi Berantas Korupsi) terpilih yang baru." ©
"Salah satunya adalah kasus korupsi pembelian biji timah oleh PT Rejasa Tbk, yang menyeret sejumlah nama oknum pejabat perusahaan milik negara."
"Kasus korupsi dengan jumlah kerugian negara terbesar sepanjang kuartal pertama itu mengarah pada keterlibatan pengusaha Yuganta Garjita. Salah satu direktur korporasi jaringan konglomerasi milik Para Group."
Ia menggeleng saat mendengar nama lengkap Yugo, teman Rajas yang juga dikenalnya itu disebut secara terang-terangan dalam sebuah berita tentang korupsi. Hidup benar-benar tak ada yang bisa mengira.
"Pingin ke ...." Tiba-tiba Reka menyebut nama restoran cepat saji favorit saat kanak-kanak. Ketika ia masih fokus mendengarkan paparan tentang kasus korupsi yang menyeret nama Yugo.
Ia langsung mengangguk. "Oke."
Kemudian beralih memperhatikan jalanan dan GPS. Mengingat letak restoran cepat saji favorit yang terdekat. Untung tempatnya tak terlalu jauh. Dan tak sampai lima belas menit kemudian, mereka telah memasuki restoran yang ramai pengunjung.
"Aku yang pesan," gumam Reka tanpa diminta sambil memperlihatkan kartu berwarna hitam pemberiannya tempo hari.
Ia mengangguk. "Flat white," sahutnya menyebut nama minuman yang ingin dipesan. Perutnya baru saja dipenuhi braise wagyu yang lezat. Dan saat ini hanya menginginkan sesuatu yang manis, creamy, namun juga kuat untuk memulihkan akal sehat.
Ia memilih duduk di salah satu sudut untuk lebih menjaga privasi dan kenyamanan. Sebab apa yang akan mereka bicarakan pastilah menguji kesabaran.
"Flat white." Seorang pegawai restoran meletakkan secangkir minuman di hadapannya. Namun ia justru tertegun saat melihat banyaknya makanan yang dipesan Reka.
"Pingin dapat banyak hadiah," kilah Reka begitu menyadari keterkejutannya.
Ia menggeleng. "Perutmu bisa melar?" Lalu tertawa sumbang mengetahui jika Reka sebenarnya sedang marah. Hingga memesan begitu banyak makanan. Padahal sebelumnya baru saja menyantap hidangan lezat bersama Kinan.
Reka melahap semua makanan yang dipesan dengan gerakan cepat, dalam suapan besar, mengunyah secara kilat dan serampangan, bahkan sampai tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Easy (tenang) ... easy ...." Ia mengernyit melihat kegelisahan Reka.
Ketika ia mulai menyesap flat white secara perlahan, Reka yang hampir menghabiskan semua makanan tiba-tiba berdiri dan berlari menuju ke toilet.
Sempat merasa khawatir karena Reka tak kunjung kembali ke kursi mereka. Namun ia berusaha meyakinkan diri bahwa untuk saat krusial seperti ini, Reka harus diberi ruang dan kepercayaan. Seperti yang sering didengungkan oleh Dara.
Beri anak-anak kepercayaan, dan kita akan mendapatkannya.
Ia pun bisa tersenyum lega saat melihat kemunculan Reka meski dengan wajah pucat.
"Akhirnya ayah tahu kesamanan kita." Ia masih tersenyum.
Reka yang baru menarik kursi untuk duduk hanya memasang wajah datar.
"Sudah habis seisi perut?" Selorohnya tanpa bermaksud untuk mengejek. "Sampai keluar cairan kuning kental yang bikin tenggorokan sakit seperti terluka?"
Reka mengerut menatapnya.
"Ayah juga begitu."
Reka menunduk.
"Setiap kali merasa ...." Ia memegang dada sambil menghela napas. Namun urung melanjutkan kalimat karena Reka tetap diam membisu.
Ia mengetuk-ngetuk buku jari ke atas meja. "Ayah minta maaf. Nggak tahu kalau bunda akan menga ...."
"Apa bunda ... gila?"
Ia tertawa sumbang. "Bunda adalah dokter mata paling cerdas yang ayah tahu. Oh, come on (ayolah) ... melakukan terapi bukan berarti ...." Ia tak sanggup untuk menyebut kata gila. Bagaimanapun, Kinan pernah menjadi bagian dari hidupnya. Dan ia percaya, Kinan hanya masih terjebak oleh rasa sakit di masa lampau.
"Terus ...." Reka mendongak dengan wajah murung. "Tadi apa?"
Ia mendesis untuk mengulur waktu. Berbicara dengan Reka harus sangat berhati-hati. Seperti sedang berhadapan dengan porselen mahal yang mudah pecah. Jika sudah jatuh dan pecah, apa daya, tak bisa diperbaiki lagi.
"Bunda sakit?"
Ia menggeleng. "Bukan sakit seperti sakit ...." Ia memilih untuk memakai tanda kutip. "Bunda hanya perlu waktu untuk ... memaafkan dan menemukan kedamaian."
"Kalau sakit bunda bukan karena ayah ...." Reka memandangnya. "Ya, meski aku masih percaya pasti ada pengaruh besar dari sikap ayah," sambung Reka cepat. "Tapi ...."
Ia mengangguk setuju. "Apa yang dialami bunda mungkin bukan disebabkan oleh ayah. Tapi sikap ayah selama ini ... jelas semakin memperburuk keadaan."
"Ayah bukan orang yang tepat untuk bunda. Begitu juga sebaliknya." Di titik ini ia benar-benar mengakui kesilapan yang pernah dilakukan.
"Seharusnya, bunda bisa bahagia dari dulu." Ia berhenti sejenak untuk menyesap flat white. "Tapi karena keegoisanan ayah ... semua jadi berantakan dan semakin buruk ...."
Wajah Reka bertambah murung. "Karena aku?"
"Apa?" Ia harus bertanya karena memang tak mengerti maksud dari pertanyaan Reka.
"Bunda sedih karena aku?" Ulang Reka dengan kepala tertunduk.
"Bukan," jawabnya yakin. "Justru kamu adalah kekuatan bunda untuk bahagia."
"Tapi gagal ...." Reka masih tertunduk.
Ia menggeleng. "Hanya ... belum berhasil. Harus ada keinginan kuat dari bunda untuk memaafkan masa lalu ..."
"Aku boleh nanya?" Reka menatapnya ragu.
"Tentang?"
"Sebab bunda belum bisa memaafkan."
Ia menggeleng. "Ayah nggak bisa jawab apalagi cerita. Ini harus ... bunda sendiri yang cerita."
"Pasti bunda cerita," sambungnya cepat. "Mungkin bunda perlu waktu yang tepat."
Otot rahang Reka menegang. "Apa ini artinya ... aku harus rela bunda menikah sama pakde Pram?"
Ia mengangkat bahu. "Kamu sendiri yang bisa lihat ... bunda bahagia atau enggak."
"Tapi aku nggak mau pindah ke Stockholm ...."
Ia mengangguk. "Kita bisa obrolin lagi tentang ini. Mungkin ... bunda juga masih berencana. Belum final."
"Misiku ke Jakarta gagal total," keluh Reka.
Ia tersenyum. "Kita bisa duduk berdua ngobrol seperti ini ... bisa jadi salah satu indikasi suksesnya misi."
Reka melawan tatapannya. "Misiku membuat ayah sama bunda bersama lagi. Bukan duduk di restoran yang ramai sama anak kecil lari-larian."
Ia masih tersenyum. "Terimakasih, Reka. Sudah menjadi teman bicara yang menyenangkan."
Reka mengendikkan bahu.
"Berapa umur kamu?" Ia kembali menyesap flat white dengan perasaan yang sedikit lega.
"Ayah yang baik. Lupa sama umur anak sendiri," gumam Reka sinis. Meski masih murung, namun dahi Reka tak lagi mengerut kaku. Terlihat lebih rileks.
Ia terkekeh. "My bad (salahku). 13 turning 14?"
Reka menyeruput minuman bersoda dengan suara keras sampai sedotannya beradu dengan es batu. "Kado ulangtahunku besok double."
Ia tertawa sambil mengacungkan jempol. "Setuju. Tapi dirayain di sini ... di Jakarta ... sama ayah ...."
Reka menggumam ketus. "Emangnya aku anak kecil. Pakai dirayain segala."
Sepanjang perjalanan pulang, mereka tak saling berbicara. Ia pun tak ingin bertanya. Obrolan mereka di restoran cepat saji sudah lebih dari cukup menjadi modal dasar baginya. Bahwa Reka mulai melembut. Tak lagi memberontak ataupun memaksa melawan arus meski mungkin masih merasa kecewa.
Step by step. Everything will be fine.
Namun sebuah mobil asing yang terparkir di halaman rumah dinas, dan kehadiran sesosok pria pengingat luka membuat kepalanya kembali berdenyut.
"Maaf, Pak, saya baru mau nelepon kalau ada tamu." Agus menyambutnya di depan pintu.
Ia tak menjawab.
"Pakde ke sini disuruh bunda?" Reka berdiri dengan wajah kaku.
Om Pram tertawa. "Oh, enggak. Ini inisiatif pakde sendiri. Bunda nggak tahu apa-apa."
"Reka, masuk!" Ia menyuruh Reka untuk masuk ke dalam.
Awalnya Reka terlihat menolak dan bersikeras ingin duduk di ruang tamu. Tapi ia menggeleng melalui isyarat mata.
BRAK!
"Dia marah?" Om Pram meletakkan sebuah amplop ke atas meja.
Ia tak berminat untuk menjawab pertanyaan tentang Reka. "Kita nggak punya urusan."
Om Pram mengangguk. "Aku cuma sebentar. Tolong buka ...." Sambil menunjuk amplop di atas meja.
Ia terpaksa mengambil dan membuka amplop dengan gerakan kasar.
Nama pasien : Kinanti Putri Sungkawa
Diagnosis. : Depresi, hipomania, gangguan panik ....
Ia membaca tulisan dalam kolom diagnosis sampai tuntas dengan kening mengkerut. Separah inikah Kinan?
"Kaget?" Suara om Pram terdengar seperti ejekan di telinganya. "Baru tahu? Selama ini kemana aja?"
Ia melipat kertas berisi laporan diagnosis dengan rahang mengeras. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam amplop. Dan meletakkannya di atas meja.
"Kami ingin memulai hidup baru dengan lebih baik," ujar om Pram tanpa ditanya. "Terapi yang selama ini dilakukan ... belum maksimal untuk mengembalikan Kinan menjadi pribadi yang seharusnya."
Ia menggeleng. "Saya nggak punya waktu untuk me ...."
"Aku harus menjelaskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi." Om Pram memotong kalimatnya.
"Semua sudah selesai." Ia bangkit. "Kita nggak ada urusan lagi. Silakan menikmati hidup baru da ...."
"Stockholm pilihan bagus." Om Pram kembali menyela. "Mereka memiliki fasilitas terbaik. Dan bukan tempat asing bagiku."
"Kinan ingin memiliki setidaknya satu anak lagi ...." Lanjut om Pram yang membuatnya tertawa sumbang dan sinis.
"Kami ingin memiliki seorang anak." Om Pram benar-benar tak bisa dihentikan. "Tapi Kinan harus sehat dan pulih terlebih dahulu."
"Kami ingin membesarkan anak yang bahagia dan ...."
"Keluar!" Ia tak bisa untuk bersikap sopan. Kesabarannya sudah hampir habis.
Membesarkan anak yang bahagia? Ia tertawa dalam hati. Lalu apa artinya Reka di antara mereka?
"Apa perlu kupanggil anak-anak di depan?" Ancamnya tanpa ragu.
Sekali memberi perintah, om Pram bisa langsung digelandang oleh anak buahnya. Meski takkan mungkin dilakukannya. Karena bagaimanapun juga, om Pram masih terhitung saudara dan berusia lebih tua. Ia tak serendah itu dalam memanfaatkan kekuasaan.
Om Pram mengangguk. "Keputusan kami pergi ke Stockholm bukan seperti acara mendadak kemarin sore. Sudah kami pikirkan matang-matang."
Sebenarnya ia tak peduli tentang apapun rencana Kinan dan om Pram. Bahkan mempersilakan jika pasangan itu hendak pindah ke antartika. Lebih mantap bukan? Tapi karena menyangkut masa depan Reka, ia tak bisa untuk terus bersikap tak peduli.
"Minimal bicarakan dengan Reka." Geramnya dengan rahang mengeras. "Kalian anggap apa anak di depan mata?"
"Kami akan membicarakannya ... kami pasti membicarakannya," jawab om Pram cepat.
"Setelah final?" Gerutunya tak percaya. "Itu bukan membicarakan, tapi memberi informasi!"
Om Pram mengangguk. "Ini hanya masalah miskomunikasi."
Mungkin, sebentar lagi ia akan meledak. Dan untuk meminimalisir, ia harus segera membuat keputusan. "Silakan keluar. Urusan kita sudah selesai." Lalu berbalik pergi.
Tapi om Pram justru kembali berkata. "Adikku terdiagnosis sama seperti Kinan."
Ia menghentikan langkah.
"Adikku semata wayang," lanjut om Pram. "Keluargaku satu-satunya."
Ia menunggu.
"Tapi aku terlambat. Dia ...."
Ia menelan saliva.
"Semoga ini bisa menjelaskan kesalahpahaman di antara kita. Alasan mengapa kami, aku dan Kinan akhirnya bersama."
Ia mengembuskan napas panjang.
"Aku ingin menebus kesalahan karena terlambat membantu adikku sendiri. Kinan wanita yang baik dan cantik. Harus bisa pulih. Harus kembali produktif. Harus ...."
Ia memutuskan untuk melangkah ke ruang dalam.
"Dia bahkan masih mencintaimu sampai hari ini."
Damned!
"Itu bukan masalah. Karena kamu nggak bisa berbuat apa-apa untuk menolong dia. Kamu nggak lebih dari loser (pecundang) yang terus menyakitinya."
Ia menarik kursi di meja makan lalu mendudukinya. Teringat akan petuah mama saat sedang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah.
"Minggu depan kami menikah. Kehadiran kalian berdua (Tama dan Reka) sangat berarti bagi Kinan."
Ia memijat pelipis yang sedari tadi berdenyut tak karuan.
"Dan jangan lupa ... kamu bujuk Reka tentang rencana ke Stockholm."
Ia meraih gelas berisi air putih yang tersimpan di atas meja. Lalu melemparnya sekuat tenaga hingga mengenai dinding.
PRANGNG!
Kemudian terdengar suara mesin mobil yang menyala dan meninggalkan halaman.
"Astaghfirullah, Bapak, kunaon ieu teh (kenapa ini)?" Yuni muncul tergopoh-gopoh dari arah dapur dengan wajah pias. Di belakangnya menyusul Agus yang tak kalah kagetnya.
Dan dari sudut mata ia bisa melihat bayangan pintu kamar yang terbuka. Meski hanya selebar beberapa senti, namun ia tahu pasti jika Reka sedang berdiri di sana. Melihat dan mendengar semuanya.
Well done, Reka. Ayahmu memang a loser.
Tapi ia tak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang bersifat kontraproduktif. Apalagi Sada hanya menyanggupi sebagian dari total dana yang (mungkin akan) dibutuhkannya.
"Dia temanku. Aman dan terpercaya," ujar Sada melalui sambungan telepon. Tentang rencananya melepas saham Selera Persada. Namun hanya untuk sementara waktu. Karena ia akan mengambilnya kembali setelah keadaan lebih stabil. Ia tentu membutuhkan orang lain yang tak akan berkhianat.
"Besok dia ke Jakarta." Sambung Sada. "Bisa langsung proses."
Ia segera menghubungi om Raka. "Ini antara kita berdua."
Ia tak ingin mama mengetahui rencana pelepasan saham Selera Persada. Karena ini hanya bersifat sementara. Ia pasti akan mengambilnya kembali.
"Tama! Tama!" Om Raka tertawa. "Habis banyak nih sama Kinan ... sampai mau jual saham?"
"To win her back again (untuk memenangkannya lagi)?" Seloroh om Raka. "Wow, pricey move (langkah yang mahal)."
Ia hanya tersenyum kecut tak meladeni olokan om Raka. No, this is a cheap move (langkah yang murah) untuk mendapatkan seseorang yang sangat berarti seperti .... Ia bisa langsung tersenyum demi mengingat sebuah nama. Meski denyutan di kepala belum juga mereda.
Wait for me (tunggulah aku).
"Jas?" Ia, mau tak mau, akhirnya menelepon Rajas. Setelah beberapa hari lalu sempat menghubungi Riyadh, orang paling terpercaya di antara 5 sekawan.
Namun tak membuahkan hasil.
"Sori, Tam! Nggak bisa bantu. Proyek terbaru ancur kena tanah longsor. Gua harus tackle ganti rugi kalau nggak mau izin dicabut." Terang Riyadh dengan suara menyesal.
Ia mengerti. Sempat mendengar berita tentang musibah tanah longsor yang menimpa warga setempat akibat proyek pembangunan cluster rumah mewah di daerah Bandung Utara. Oleh media disinyalir melanggar AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan) dan sedang dalam proses penyelidikan. Hanya tak menyangka jika itu adalah proyek milik Riyadh.
"Oii, wazap, man?" Rajas tertawa. "Its been a while (sudah cukup lama)."
Ya, sejak dipetieskannya kasus pembunuhan om Jusuf, mereka hampir tak pernah hang out berlima seperti sebelumnya. Sibuk dengan urusan pekerjaan dan hidup masing-masing.
"Need your help (butuh bantuan)," jawabnya sambil menekan rasa malu ke titik nadir. Karena meminta bantuan finansial pada seorang sahabat. Hal paling tabu yang selama ini selalu dihindarinya.
"I'll always have your back (aku selalu ada di belakangmu)." Rajas langsung mengiyakan. Meski belum mengetahui tempat dan lokasi real lahan yang ditawarkan.
Ia tertawa sumbang. "Lu bisa bangkrut kalau caranya begini."
Rajas balas tertawa. "Sahabat nggak bisa dibeli, Tam. Bangkrut masih bisa bangkit. Tapi kalau sahabat?"
Ia tergelak. Sejenak lupa akan keruwetan yang harus diurai. "Ini yang ngomong born with silver spoon in the mouth (pewaris keluarga kaya). Can't relate."
Namun yang paling melegakan adalah, keesokan hari ketika ia sedang menyesap kopi pahit buatan Yuni sebelum berangkat ke kantor. Reka mendekat hanya untuk berkata dengan suara canggung dan tak jelas.
"Aku nggak mau pulang. Aku mau tinggal di sini."
Ia tersenyum. "Kamu boleh tinggal di sini selama kamu mau."
"Makasih."
Namun ia mendadak teringat sesuatu. Sejak beberapa hari lalu, Anja telah mengiriminya pesan tentang acara ulangtahun Aran. Tapi tak dihiraukan.
"Ayah lupa ...." Ia memeriksa ponsel bermaksud mencari pesan dari Anja. Namun sepertinya sudah terhapus akibat kebiasaan buruknya setiap sebelum tidur selalu clear chat (kecuali untuk pesan berbintang yang sengaja ditandainya. If you know what i mean).
"Aran mau ulangtahun. Tapi ayah lupa kapan," keluhnya karena lupa.
Reka hanya terdiam.
"Tolong kamu beli kado untuk Aran. Saldo aman?"
Reka mengangguk.
"Nanti biar diantar sama Agus."
"Aku bisa pergi sendiri," gumam Reka dengan alis saling bertaut.
Ia menggeleng. "Diantar Agus. Motor yang kemarin ditahan karena kamu masih di bawah umur. Dan ayah minta kamu langsung ke rumah uti. Karena ayah bakal sibuk banget beberapa hari ini."
***
Keterangan :
©. : dikutip dari lintasanberita.com edisi Juli 2020
***