
Satu Nama Tetap di Hati
-diambil dari judul lagu yang dipopulerkan oleh Eye, grup band asal Malaysia-
***
Jakarta
Pocut
Ia sedang membawa tumpukan mangkuk kotor bekas menikmati bulukat kuah tuhe (kolak pisang khas Aceh) ke dapur, ketika Umay masuk ke dalam rumah sambil meneriakkan salam dengan tergesa.
"Salamlikum!"
"Ucapkan salam yang benar," tegur mamak yang sedang duduk di ruang tamu.
Umay tertawa malu. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab mamak dan Icad bersamaan.
"Sa! Barusan abang ketemu sama om dong di masjid!" Seru Umay ceria hingga suaranya bisa terdengar sampai ke dapur.
"Om siapa?" Tanya Sasa tak mengerti. "Nih, susu rasa moka pesenan Abang!"
"Om kesukaan Sasa," jawab Umay semakin riang. "Om polisinya dekgam."
"Bohong!" Sasa tak percaya.
"Ih! Beneran!" Suara Umay meninggi. "Ya, Bang, ya?"
Ia yang sedang menyusun piring dan mangkuk kotor di bak cuci tak bisa mendengar jawaban Icad. Atau mungkin malah Icad tak menjawab.
"Abang Icad saksinya." Umay berusaha meyakinkan Sasa.
"Kalau om ada di masjid ... kenapa nggak nemuin Sasa?" Sasa jelas mulai terpengaruh oleh berita bombastis yang dibawa Umay tentang om.
"Omnya sibuk," jawab Umay dengan gaya sok tau yang kental. "Mau langsung pulang."
"Eh, tapi Sasa jangan sedih ... om titip salam kok buat Sasa ...." Lanjut Umay cepat sebelum Sasa kembali protes.
"Buat nenek juga," imbuh Umay. "Sama mama."
"MA!" Teriakan keras Umay membuat piring yang sedang disabuni hampir merosot saking terkejutnya.
"Ada salam dari om!" Teriak Umay lagi. "Salam spesial!"
Ia mendesah tak percaya. Lalu buru-buru menyelesaikan acara mencuci piring sambil mendecak karena teringat seseorang.
"Ih, nggak adil!" Protes Sasa cepat. "Kok yang dapat salam spesial mama aja sih? Sasa nggak dapat?"
"Salam doang juga!" Gerutu Icad menyambar obrolan dua adiknya. "Nggak ngaruh."
"Tapi nggak adil!" Sasa bersikukuh. "Masa buat Sasa salam aja, buat mama salam spesial?"
"Sasa kan anak kecil," jawab Umay. "Cukup salam aja."
"Nah, kalau mama anak gede ... jadi salamnya spesial." Sambung Umay semakin sok tahu.
"Nenek anak gede juga!" Sergah Sasa cepat. "Anak tua malah, hihihi ...."
"Sasa!" Tegur Icad. "Ngomongnya yang sopan ih sama nenek."
"Salam nenek sama ama salam Sasa." Tapi Sasa tak memedulikan teguran Icad. "Salam doang nggak pakai spesial."
"Iya, ya?" Umay mulai goyah pendirian. "Kok bisa beda salamnya ya, Sa?"
Umay dan Sasa masih memperdebatkan tentang lebih baik mana antara salam dan salam spesial. Bahkan sampai ia selesai mencuci piring dan bergabung ke ruang tamu.
"Berisik banget sih!" Sungut Icad yang terlihat sangat terganggu dengan perdebatan kedua adiknya. "Salam doang nggak ada wujudnya pada diributin!"
"Sasa mau dapat salam spesial juga, Abang!" Sasa mulai cemberut. "Yang sama ama mama. Nggak mau salam doang."
"Ih!" Icad mengendikkan bahu kesal. Kembali tenggelam di depan buku yang sedang dibaca. Tak lagi menghiraukan perdebatan kedua adiknya.
"Tadi itu ... ada urusan dengan Tama?" Bisik mamak pelan, namun berhasil membuatnya gugup.
Dan ia hanya bisa mengangguk.
"Tak mampir ke rumah?"
Ia menggeleng. "Sudah terlalu malam. Tak baik bertamu."
Mamak mengangguk-angguk. "Jadi, orang yang dikerumuni pak ustadz dan pak RT di masjid tadi ... Tama?"
Ia kembali menggeleng karena memang tak tahu. Sebab begitu salat witir berakhir, ia langsung pulang ke rumah.
"Beberapa hari lalu ... Agam juga menelepon. Mamak lupa belum cerita."
Ia menoleh ke arah mamak. Dan menunggu ucapan mamak selanjutnya dengan hati gelisah.
"Agam cerita kalau Ta ...."
"MA!"
Ucapan mamak terpotong karena seruan Sasa.
"Mama juga beli cokelat untuk Sasa?" Tanya Sasa dengan wajah sumringah karena baru menemukan sejumlah cokelat dan permen di dalam kantong keresek bercap minimarket yang tadi dibawanya.
"Terimakasih, Ma." Dalam hitungan detik Sasa sudah menghambur memeluknya.
Ia mengusap rambut Sasa dengan penuh sayang. Sebenarnya ingin berterus terang tentang siapa orang yang membelikan susu dan cokelat. Namun diurungkan karena merasa tak enak dengan mamak.
"Bagi, dong, Sa, cokelatnya!" Umay ikut mengaduk-aduk isi keresek minimarket.
"Sasa yang bagi! Sasa yang bagi!" Seru Sasa dengan penuh semangat. Kembali menghampiri meja tempat keresek minimarket tersimpan. Lalu mulai membagi sejumlah cokelat dan permen untuk dirinya sendiri dan kedua kakaknya.
"Agam cerita apa, Mak?" Sebenarnya ia agak takut mendengar jawaban dari mamak. Tapi penasaran juga.
Mamak tersenyum. Dari tanda-tandanya seperti ingin mengatakan sesuatu yang cukup penting. Namun belum sempat terucap, seseorang telah menyerukan salam dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum! Mak Agam, maap nih malem-malem ngeganggu. Mau nanya ame Cut."
"Iya, Cing?" Ia langsung bangkit dari duduk menyambut kedatangan Cing Weny, salah satu pengurus PKK di RW mereka.
"Silakan duduk," ujarnya mempersilakan Cing Weny untuk menduduki kursi yang kosong.
"Kagak perlu. Aye cuman sebentar ini." Cing Weny menggeleng. "Cuman mau nanya ... udah dapat WA dari Bu RW soal baksos dari yayasan Kemala belom?"
"Sudah, Cing."
"Berarti pesanan untuk takjil beres?"
Ia mengangguk. "Beres."
"Sama yang tambahan?"
Ia mengernyit heran. "Untuk 20 orang tamu dan 10 orang pengurus?"
"Bukan." Cing Weny menggeleng. "Ada tambahan lagi."
"Coba cek WA. Barusan abis taraweh, Bu RW kirim di grup PKK. Ada perubahan jumlah konsumsi," ujar Cing Weny sambil mendudukkan diri di kursi. "Ikut duduk ye, Mak."
Mamak tersenyum. "PKK sibuk terus?"
"Begini lah, Mak." Cing Weny tertawa. "Daripada diem di rumah malah bikin sebel."
Mamak mengangguk-angguk setuju.
"Bang." Ia memanggil Umay. "Tolong ambilkan hp mama di kamar."
"Siap!" Umay memberi hormat dan langsung melesat ke dalam kamar.
Namun sampai beberapa menit lamanya, Umay tak kunjung kembali ke ruang tamu.
"Ada nggak, Bang?"
"Nggak ada, Ma!" Jawab Umay dari dalam kamar.
"Di tas, Bang."
"Nggak ada!" Jawab Umay lagi.
"Coba bawa tasnya ke sini."
Umay keluar sambil menenteng tas miliknya. "Nggak ada, Ma. Udah dicari-cari."
"Malah nemu ini," ujar Umay keheranan sambil menarik baju seragam warna cokelat dari dalam tasnya. "Baju siapa, Ma?"
"WAH?" Gumam Sasa takjub begitu melihat baju yang dipegang Umay.
Sasa bahkan langsung menghambur mendekati Umay. "Baju pak polisi!"
Sementara ia hanya bisa terpaku dengan lutut gemetaran. Berusaha mengabaikan tatapan keheranan mamak, Icad, bahkan Cing Weny.
"Bujug!" Cing Weny melotot kaget. "Seragam sape lu simpen di dalem tas, Cut?"
"Ada namanya!" Seru Umay seperti baru saja menemukan harta karun yang paling berharga. "T a m a!"
"Asyiiik!" Sasa melompat-lompat kegirangan. "Bajunya punya nama!"
Tapi seruan Sasa selanjutnya benar-benar membuatnya mati kutu. "Ini baju punya om ya, Ma? Namanya sama ama nama om?"
Dan semakin tak berkutik ketika Cing Weny memelototinya curiga. "Om sape? Lu udah punya calon laki, Cut?"
--------------
"Lepas bajunya, Sa," perintahnya entah untuk yang ke berapa kali. Tapi Sasa bergeming. Tetap memakai seragam warna cokelat yang pastinya terlalu besar untuk ukuran tubuh Sasa.
"Mama bohong!" Sasa malah merengut melancarkan protes. "Mama nggak adil!"
"Nggak adil kenapa?" Ia mengernyit heran. Membelai rambut Sasa yang sedang duduk dengan kaki menggantung di atas tempat tidur.
"Mama tadi ketemu sama om, kan?" Tuduh Sasa dengan muka cemberut. "Tapi nggak ngajak Sasa."
"Sasa ....." Kepalanya mendadak pening tak karuan.
"Terus ... Mama juga dapat salam spesial dari om!" Sasa semakin cemberut. Mulut Sasa bahkan bisa dikucir saking manyunnya.
"Tapi Sasa cuma dapat salam biasa nggak ada spesialnya." Sasa memberi tatapan penuh amarah.
Ia mengembuskan napas panjang dengan pusing yang semakin menjadi. Berusaha keras mengalihkan pembicaraan.
"Sasa kan mau bobo ... sekarang lepas dulu bajunya."
"Nggak mau!" Sasa menggeleng kuat-kuat. "Sasa mau pakai sampai bobo!"
"Sasa!" Ia langsung menahan lengan Sasa yang hendak beringsut. "Lepas kata mama."
Sasa kembali menggeleng. "Nggak mau!"
"Sasa!" Keluhnya mulai kesal. "Itu baju kotor. Bekas orang. Harus dicuci. Nggak boleh dipakai buat bobo! Nanti bisa gatal-gatal!"
Sasa tak lagi protes. Tapi bukannya lega. Tingkah Sasa justru semakin membuatnya kesal. Karena kini Sasa menundukkan kepala dalam-dalam sampai tengkuknya menekuk sempurna. Lalu mulai terisak-isak.
"Ya ampun, Sasa ...." Bisa dipastikan kepalanya hampir pecah sekarang.
Setelah tadi harus memutar otak mencari alasan paling masuk akal untuk menjawab sederet pertanyaan Cing Weny yang kepo berat.
Juga harus menghindar dari tatapan menyelidik mamak. Yang entah mengapa membuatnya merasa bersalah seperti orang sedang berkhianat.
Belum harus menyimpan satu masalah pelik dengan Icad yang belum sempat terselesaikan. Karena Icad keburu berpura-pura tidur sambil memasang wajah murung.
Dan sekarang, ia masih harus menghadapi Sasa yang merajuk ingin memakai seragam Tama untuk tidur. Aduh.
Sasa kembali memberinya tatapan penuh amarah.
Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Berusaha keras memikirkan cara terbaik untuk membujuk Sasa.
"Gimana kalau besok ...." Kepalanya masih memutar otak. "Kita buat kue berdua?"
Seberkas keingintahuan mulai tertangkap dalam tatapan setajam silet Sasa.
"Kita ... ehm ...." Ia harus berdehem terlebih dahulu guna mengatur degup jantung yang mulai tak beraturan. "Buat kue untuk dikirim ke om."
Ide buruk memang. Tapi ia tak memiliki cara lain lagi.
Bola mata Sasa membulat.
"Nanti Sasa tulis di atas toples ...." Idenya benar-benar buruk.
"Kalau kuenya buatan Sasa." Ia mencoba tersenyum.
"Mau! Mau!" Sasa mengangguk sambil menyusut sisa air mata.
"Setuju?" Ia mengacungkan jari kelingking sebagai tanda sepakat.
Sasa kembali mengangguk seraya menautkan jari kelingking mereka berdua.
"Nah ... sekarang ... Sasa lepas bajunya, ya. Kan mau bobo."
Tapi Sasa menatapnya dengan enggan.
"Biar malam ini bisa direndam sama Mama ... terus besok dikembalikan ... bareng sama kue buatan Sasa?"
Sasa awalnya masih tak mau melepaskan. Sasa bahkan berulangkali mengusap di bagian badge nama sambil terkekeh.
"Seragamnya bagus ya, Ma. Hangat dipakai. Nyaman ...."
Ia mengembuskan napas panjang dengan kepala hampir meledak.
"Sekarang lepas, ya." Ia berusaha membuka seragam kebesaran itu tanpa kompromi lagi.
"Kan Sasa mau bobo. Sudah malam. Besok bisa kesiangan bangun sahurnya."
Setelah bujukan yang ketiga, Sasa baru mau melepas seragam. "Besok janji bikin kue ya, Ma?"
Ia mengangguk. "Janji."
"Sekarang Sasa bobo." Ia meletakkan seragam yang baru dilepas ke atas tempat tidur. Lalu menyiapkan bantal untuk dipakai Sasa.
Tapi belum juga ia selesai membimbing Sasa melafalkan doa sebelum tidur, suara dengkuran halus sudah terdengar. Sasa tertidur.
Sepertinya karena terlalu lelah usai merajuk dan menangis. Jadi cepat tertidur.
Setelah mengolesi tangan dan kaki Sasa dengan lotion anti nyamuk, ia segera meraih ponsel yang tersimpan di atas meja.
Namun sebelum mengetik pesan, ia sempatkan untuk menyimpan satu nomor ke dalam daftar kontak.
Kakak Anjani.
Pocut : 'Maaf, seragam ada di saya.'
Ia sempat ragu sebelum mengirim pesan. Karena malam sudah terlalu larut. Rasanya jengah harus mengirim pesan pada seorang pria di waktu yang tak lazim.
Tapi karena khawatir seragam akan dipakai. Ia memberanikan diri untuk mengirim pesan.
Dan bukan pesan balasan yang diterima, tapi panggilan telepon.
Ia langsung mendecak begitu melihat nama pemanggil yang tertera di layar, Kakak Anjani ....
Baru pada getaran kelima ia mengangkat panggilan. Itupun tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Halo, Pocut?" Suara Tama terdengar khawatir.
"Ya," jawabnya singkat.
Kini suara Tama terdengar tersenyum. "Baju ketinggalan nggak masalah. Saya punya banyak."
Ia kembali mendecak.
"Halo?" Tama memanggil namanya. Mungkin karena ia tak kunjung menjawab.
"Ya." Ia akhirnya menjawab singkat.
"Nggak usah dikembalikan."
Ia mengernyit.
"Besok ada orang suruhan saya yang ambil ke rumah kamu."
Ia mengangguk.
"Oke, Pocut?"
Ia menghela napas. "Baik."
Kemudian buru-buru menutup panggilan meski suara Tama masih terdengar.
"Halo ... halo ... Pocut ... tunggu sebentar ... saya ma ...."
Ia langsung menonaktifkan ponsel dan meletakkannya ke atas meja. Lalu meraih buku catatan milik bang Is, yang sejak beberapa waktu terakhir sengaja disimpan di tempat terjangkau. Agar bisa diraih kapanpun saat ia menginginkannya.
Sebab mengingat kembali semua hal yang berhubungan dengan bang Is, bisa membuat hati merasa lebih tenang dan tenteram.
Ia merebahkan diri di samping Sasa. Sambil memeluk buku catatan milik bang Is. Berharap mereka bisa kembali bertemu dalam mimpi.
Namun sebelum terpejam, matanya tak sengaja melihat seragam warna cokelat yang tersimpan di salah satu sisi tempat tidur.
Tama.
Badge nama itu bahkan bisa terbaca dengan jelas.
Ia menarik napas panjang sambil menggumamkan doa sebelum tidur. Kemudian mengembuskannya perlahan sembari mendekap buku catatan milik bang Is erat-erat.
Ada satu nama yang tersimpan abadi di hati, Teuku Iskandar Muda.
---------------
"Kita mau buat kue apa, Ma?" Sasa menatapnya dengan penuh minat.
"Nastar," jawabnya cepat. "Tolong wadahnya, Sa."
Dengan sigap Sasa meraih wadah berisi buah nanas yang telah dikupas. "Ini."
"Kita buat isiannya dulu, ya. Sasa mau coba memarut nenas?"
Sasa mengangguk.
"Kenapa kita buat kue nastar, Ma?" Tanya Sasa sambil memarut nanas dengan gerakan kaku dan takut-takut.
"Begini, sayang." Ia mencontohkan cara memarut yang aman dan cepat selesai.
"Kenapa nggak buat kue yang lain?" Sasa kembali bertanya sambil terus memarut dengan gerakan yang tetap kaku.
Ia berdehem. "Karena ... om suka kue nastar."
Mata Sasa membulat. "Aku juga suka nastar!"
Ia langsung tertawa sambil menggelengkan kepala. Sasa ... Sasa ....
"Diaduk, Sa." Ia mengingatkan Sasa agar tak berhenti mengaduk parutan nanas di dalam panci. "Sampai airnya habis."
"Airnya mau habis, Ma!" Teriak Sasa. "Jadi berat nanasnya!"
Ia mengangguk mengerti. "Sekarang baru kita tambahkan gula."
"Aduk terus sampai keluar air lagi." Ia mengambil alih tugas Sasa mengaduk selai di atas kompor.
"Belum matang, Ma?" Tanya Sasa ingin tahu.
Ia menggeleng. "Sampai airnya habis dan selai mengental. Baru matang."
"Asyik!" Sasa berseru riang ketika selai matang. "Udah matang!"
"Biar dingin dulu." Ia menyisihkan selai yang baru matang. "Nanti baru kita bulatin."
Sasa mengangguk-angguk senang. Sasa juga melakukan semua tugas dengan ceria. Sambil berceloteh dan tertawa-tawa.
"Nanti Sasa ikut antar kue ya, Ma?"
Ia menggeleng. "Kuenya nggak diantar ... tapi diambil."
"Sama om?" Bola mata Sasa mengerjap gembira.
Lagi-lagi ia menggeleng. "Sama teman om."
"Yah ...." Sasa langsung kecewa.
Tapi Sasa tetap memberikan senyum ramah paling lebar pada pria yang datang ke rumah.
"Permisi ... ini rumah Bu Pocut?"
"Saya Agus, Bu. Disuruh pak Tama untuk ambil barang."
***
Tama
Pagi hari, ia memimpin apel gelar pasukan operasi ketupat jaya di halaman museum kota tua. Bersama walikota dan Dandim, memastikan kesiapan seluruh personel gabungan yang akan bertugas.
"Apel Gelar Pasukan ini diselenggarakan untuk mengecek kesiapan personel, peralatan, dan seluruh aspek operasi. Termasuk sinergitas dan soliditas komponen penyelenggara," terangnya. ©
"Nanti, seluruh personel gabungan akan ditempatkan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kepadatan saat perayaan Lebaran,” lanjutnya.
"Fokus pengamanan dalam Operasi Ketupat Jaya tahun ini adalah keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas. Akan ada petugas yang berjaga selama 24 jam penuh," ujarnya memungkasi pernyataan di depan wartawan.
Untuk memastikan kesiapan personel gabungan di lapangan, ia bersama Dandim melakukan peninjuan langsung ke sejumlah titik pospam (pos pengamanan), yang berada di wilayah hukum tanggung jawabnya.
Ia baru pulang ke rumah dinas jelang tengah malam. Dan langsung mendapati sebuah tas kertas bercorak batik telah tersimpan di atas meja makan.
"Opo iki (apa ini), Gus?" Ia mengintip isi tas kertas sambil menguap. Tak biasanya Agus atau Yuni menyimpan barang di atas meja makan kecuali penting sekali.
"Barang yang tadi sore saya ambil di Basmol, Mas."
Tangannya langsung menyambar dan membuka isi tas begitu mendengar jawaban dari Agus.
"Suwon (makasih), Gus!"
"Nggeh (iya), Mas," jawab Agus sambil beranjak pergi ke belakang.
Dan rasa penat juga lelah, seakan langsung menguap sirna tanpa bekas. Begitu melihat isi tas kertas bercorak batik yang tengah dipegangnya.
Barang-barang itu adalah kemeja seragam miliknya yang telah terlipat rapi di dalam kantong plastik berbau harum. Dua buah toples transparan berisi kue favoritnya. Dan secarik kertas berisi tulisan tangan dari krayon warna warni yang sangat menyenangkan ketika dibaca.
Dari Sasa untuk Om.
Dengan beberapa coretan di bawahnya. Seperti sengaja ditimpa krayon warna lain karena salah menulis. Namun masih ada tulisan berukuran lebih kecil yang bisa terbaca.
Dan mama.
***
Keterangan :
©. : dikutip dari sidikpos.com edisi tahun 2019