
Arti Kehadiranmu, Kasih
-diambil dari lirik lagu berjudul "Kehadiran" yang dinyanyikan oleh Yana Julio-
***
Hari-hari Tanpamu
Jakarta
Pocut
Ia tak kuasa untuk tak tersenyum demi melihat Tama belum juga mampu mengatur napas usai menyelesaikan jamuan buffet. Padahal biasanya, ia yang terseok-seok mengikuti ritme. Tapi sekarang, keadaan berbalik. Saat ia berdiam diri tak melakukan apapun, justru Tama yang kewalahan.
"Kacau." Tama tertawa sendiri dengan napas tersengal. "Gara-gara kebanyakan duduk di belakang meja, nih, pasti. Kelamaan nggak gerak. Sekalinya ngeluarin tenaga ekstra, langsung ngos-ngosan."
"Buffet setara tiga ronde. Hah!" Tama masih saja menertawakan diri sendiri.
Sementara ia hanya tersenyum, berpura-pura tak mengetahui maksud Tama. Tak ingin suaminya merasa berkecil hati sebab tak lagi sebugar biasanya. Lebih memilih untuk menyentuh otot perut Tama yang keras dan liat. "Perutnya masih rata, Mas. Aman."
Tama menangkap tangannya dengan gerakan cepat lalu menciuminya. "Nggak guna perut rata kalau stamina loyo. Mesti digeber Muay Thai lagi, nih, biar gesit."
Kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Besok kita kemana?" Gumam Tama seraya meraihnya ke dalam rengkuhan. "Udah lama nggak ngajak jalan anak-anak. Makan? Nonton? Mall?"
Ia membetulkan posisi kepala di lengan Tama, hingga keningnya bisa menyentuh dada bidang itu. "Kalau ke rumah mama gimana? Kemarin sore Anjani pergi ke Bandung. Mama sendirian di rumah."
Tama diam saja tak menjawab. Tapi mencium keningnya dalam-dalam dan berdiam di sana. Bahkan sampai rasa kantuk mulai datang menyergap. Perlahan, ia pun mulai terlelap dengan sentuhan hangat yang tak kunjung beranjak dari kening. Rasanya sungguh menentramkan.
Paginya, sepulang dari salat subuh berjamaah di masjid, tiba-tiba Tama berseru di ruang tengah. "Para pria, tunjukkan kejantanan kalian! Siapa mau ikut Papa naik sepeda ke rumah uti?"
Ia yang sedang menyimpan sepiring buah pepaya potong ke atas meja makan menoleh ke arah Tama. Reka dan Icad yang baru merebahkan diri ke atas sofa ruang tengah terlihat acuh. Hanya Umay dan Sasa yang langsung menjawab dengan antusias sambil mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi ke atas.
"Aku! Aku! Aku ikut!"
"Ih, kamu kan cewek, Sa. Bukan pria." Umay mencibir. "Ini khusus pria jantan. Ya Pa, ya?"
"Pelit!" Sasa menyalak galak ke arah Umay lalu berjalan mendekati Tama. "Sasa boleh ikut naik sepeda ya, Pa?"
Tama tergelak. "Jauh, Sa. Kuat nggak? Mending Sasa naik mobil sama mama."
"Tuh! Apa kubilang." Umay tersenyum penuh kemenangan. "Sasa kan cewek. Nggak boleh ikut."
Tapi Sasa kembali menyalak dan kali ini lebih galak. "Kuat, Papa! Sasa kuat naik sepeda ke rumah uti!"
"Boleh. Boleh." Tama mengusap puncak kepala Sasa sembari terkekeh.
"Naik sepeda?" Tanyanya dengan kening mengernyit.
Tama yang sudah mengambil duduk di meja makan dan mulai melahap sepotong buah pepaya mengangguk. "Biar sehat. Hitung-hitung latihan fisik biar nggak eungap (sesak napas). Kebanyakan belajar di kelas jarang gerak."
"Tapi anak-anak?" Ia masih mengernyit. Jarak dari rumah dinas ke tempat tinggal bu Niar hampir 10 km jauhnya. Jika ditempuh dengan sepeda jelas bukan hal biasa apalagi bagi anak-anak. Mereka bisa kelelahan.
"May!" Tapi Tama tak menjawab keheranannya. Justru memanggil Umay. "Tolong ambilin HP Papa di kamar."
Ia mendesah dan memilih pergi ke dapur. Mengambil piring berisi singkong rebus yang baru matang dengan taburan parutan kelapa dan gula aren sisir di atasnya.
Ketika ia kembali ke ruang makan, Tama sedang menggerutu dengan ponsel menempel di telinga kiri. "Ke mana nih anak! Jam segini belum bangun. Mau jadi apa dunia kalau anak mudanya pemalas."
Ia meletakkan piring berisi singkong rebus yang masih menguapkan asap ke atas meja. Kemudian mengambil duduk di samping Tama.
"Van!" Ujar Tama begitu panggilan tersambung. "Jam enam ke rumah."
Ia mengambil sebuah piring kecil dan garpu, lalu menyimpannya di depan Tama. Siapa tahu suaminya itu ingin menyantap singkong rebus panas-panas.
"Ambil motor dulu di kantor. Bilang ke yang piket!" Tama kembali menggerutu. "Saya yang nyuruh! Ngerti mereka!"
"Iya!" Kali ini Tama mendecak. "Jam enam! Jangan sampai telat!"
"Menelepon Devano?" Tanyanya ingin tahu begitu Tama menyimpan ponsel ke atas meja.
Tama mengangguk sambil kembali melahap buah pepaya.
"Di hari libur?" Ia menghela napas membayangkan bujangan seperti Devano harus kehilangan hari liburnya gara-gara telepon mendadak sang komandan.
Tama terkekeh. "Main job ajudan itu harus ready 25 jam. Loyalitas dan totalitas tanpa batas."
Ia menatap Tama tak percaya. Suaminya ini masih saja bercanda menyangkut kelangsungan hidup orang lain. "Tapi bukan untuk kepentingan pribadi, Mas."
"Siapa bilang kepentingan pribadi?" Tama menghabiskan potongan terakhir buah pepaya di dalam piring. "Ngawal komandan gowes itu termasuk job desc utama."
Jam enam kurang sedikit, ketika ia sedang memperhatikan Tama menyiapkan sepeda milik Sasa. Memastikan ban tidak kempes dan rantai telah terpasang dengan sempurna. Devano muncul di halaman rumah dengan menaiki sepeda motor dinas yang biasa dipakai untuk pengawalan.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu." Devano berjalan menghampiri mereka dengan tergesa sambil setengah membungkuk.
Tapi Tama yang sedang menyetandarkan sepeda Sasa malah menggerutu. "Masih tidur kamu? Ditelepon nggak diangkat-angkat."
Devano yang wajahnya kusut masai seperti orang baru bangun tidur hanya mengangguk sopan. "Maaf, sudah membuat Bapak menunggu."
"Sarapan dulu, Om Devano." Ia mencoba menengahi dengan mengajak Devano duduk di kursi teras. "Ada singkong rebus masih hangat."
"Terima kasih, Ibu. Tidak perlu repot-repot." Devano tetap berdiri di tempat memperhatikan Tama yang kini tengah memeriksa sepeda milik Umay, menolak halus ajakannya.
"Memangnya kamu siapa?" Hardik Tama tanpa menoleh. "Berani-beraninya nolak ajakan sarapan dari ibu komandan!"
Detik itu juga Devano langsung berjalan ke kursi teras. "Siap, sarapan, Pak. Terima kasih banyak."
Ia melirik Tama dengan gemas. Tapi yang dilirik tetap asyik memeriksa sepeda Umay, memastikan apakah bisa berfungsi dengan baik atau tidak.
"Maaf, ya." Ia menyorongkan piring kecil dan garpu ke arah Devano. "Hari libur tapi masih ada tugas."
Devano tersenyum mengangguk. "Dengan senang hati, Ibu. Sudah menjadi kewajiban saya."
Ia kembali memperhatikan Tama yang kini sudah beralih memeriksa sepeda Icad. Sementara Devano mulai menyantap sepotong singkong bertabur kelapa parut dan gula aren sisir dengan gerik sungkan.
"Semalam habis dari mana?" Tama yang sudah selesai memeriksa semua sepeda ikut mengambil piring kecil kemudian mengisinya dengan sepotong singkong. "Jam lima belum bangun. Salat Subuh nggak, tuh?"
Devano sempat tersedak sebelum menjawab dengan gugup. "Biasa, Pak. Malam mingguan."
"Pacaran teros!" Tama menyeringai. "Baek-baek mainin anak orang."
Ia mendesah melihat bagaimana Tama memperlakukan Devano. Dan memutuskan untuk menengahi. "Tambah lagi, Om Devano."
Tapi justru Tama yang menjawab. "Sudah, cukup. Keburu kesiangan, matahari tambah tinggi."
Membuat Devano buru-buru meletakkan piring yang masih berisi sepotong kecil singkong ke atas meja. Namun ia menimpali. "Habiskan dulu, Om Devano."
Tama masih sempat menyesap teh manis hangat sebelum bangkit dan berujar. "Kita jalan sekarang. Mana nih, anak-anak?" Kemudian berseru ke dalam rumah. "Para pria keren dan jantan, lets go!"
Ia berdiri di teras memperhatikan Devano yang melaju paling depan. Menyusul di belakangnya Icad, Reka, Umay, Sasa, barulah Tama di baris paling belakang.
"See you there, Mama!" Tama masih sempat melambaikan tangan kiri sebelum punggung tegap itu menghilang di balik tembok pintu gerbang. "Jangan lupa bawain kita baju ganti."
Ia pun buru-buru berbenah karena Agus sedari tadi telah menunggu di belakang kemudi. Hendak mengantarnya pergi ke rumah bu Niar.
"Lho, anak-anak mana?" Menjadi sambutan pertama bu Niar yang sedang memotong batang anggrek di taman samping rumah.
"Naik sepeda, Ma."
"Oh." Bu Niar tertawa. "Kerjaan Tama pasti. Apa dia sudah menjelma menjadi bapak-bapak berperut gendut? Karena kebanyakan makan masakan enak buatan istri."
Ia tersipu malu.
Ia sempat membantu bu Niar memotong batang anggrek yang warnanya berubah cokelat, kuning, dan terlihat layu sambil bercengkerama. Membicarakan hasil kunjungan Tama ke Papua, menceritakan keikutsertaan Reka dalam Popprov, menjelaskan jadwal kegiatan pra OSN yang sedang diikuti Icad, dan menertawakan tingkah lucu Umay juga Sasa yang diceritakan kembali oleh bu Niar.
"Kita siapkan makanan untuk yang sepedaan, yuk." Ajakan bu Niar membuat mereka beranjak ke dapur.
"Kemarin baru dapat kiriman dari Tasik," ucap bu Niar seraya menunjuk ke arah kotak berbahan styrofoam yang tersimpan di dapur belakang. Ketika didekati, di dalamnya terdapat plastik bening berisi air dan ikan mas berukuran besar yang semuanya masih hidup.
Mang Jaja dan bi Enok bertugas membersihkan ikan. Ia dibantu teh Cucun menyiapkan bumbu untuk memasak pesmol, meracik olesan untuk ikan bakar favorit Reka, serta memotong-motong sayuran untuk membuat sayur asem dan capcay. Sementara bu Niar menyiapkan hidangan penutup berupa es selendang mayang dan es gabus.
"Kesukaan Tama sama Sada." Bu Niar tersenyum dengan mata menerawang.
Ia langsung menghentikan kegiatan mengulek bumbu dan memandang punggung ibu mertuanya yang sedang sibuk di depan kompor. Di sana jelas terlihat seorang wanita yang sangat merindukan anak-anaknya. Ia pun berjanji dalam hati akan lebih sering mengajak Tama mengunjungi bu Niar.
Ketika ia sedang memasukkan cabe rawit dan tomat ke dalam wajan berisi kuah pesmol, dari arah teras samping terdengar suara orang-orang yang baru berdatangan.
Bu Niar yang telah menyelesaikan selendang mayang dan es gabus lebih dulu menghampiri teras samping. Sementara ia menuntaskan memasak pesmol sebelum akhirnya menyusul keluar. Di mana Icad dan Reka sedang tertidur telentang di atas lantai teras dengan wajah bersimbah keringat. Umay dan Sasa tertawa-tawa di ayunan sambil meminum susu UHT. Sedangkan Tama bediri berkacak pinggang mengawasi Devano yang sedang menurunkan sepeda Sasa dari bagian belakang motor dinas.
"Eh, Mama!" Sasa menjadi yang pertama menyapa.
"Cape, Sa?" Ia berjalan mendekati ayunan.
Sasa menggeleng dengan senyum lebar. "Enggak."
"Wah?" Ia membelalakkan mata sebagai tanda takjub. "Hebat, Sasa. Kuatan naik sepeda jauh."
"Iyalah." Umay yang menyahut. "Orang Sasa naik motor sama om Devano."
Ia tertawa sambil menggelengkan kepala. "Hmm ... makanya nggak cape ya, Sa?"
Sasa terkikik malu.
"Aku, dong," lanjut Umay sambil membusungkan dada. "Naik sepeda nggak pakai bonceng motor."
"Iya deh, yang naik sepeda. Tapi tiap ngelewatin Indoapril minta mampir beli minuman," timpal Icad seraya menyeringai.
"Bentar-bentar minta berhenti buat istirahat," sambung Reka yang kini sudah bangkit mengambil air minum di atas meja.
Namun Umay tak terpengaruh, hanya meringis mendengar timpalan kedua kakaknya. Sama sekali tak merasa malu dan tetap membusungkan dada.
Devano pamit pulang setelah sempat meladeni Tama bermain basket. Ia mencegah dan berusaha mengajak Devano untuk ikut makan siang. Namun Tama menukas. "Biarin. Mau pacaran lagi dia."
Ia pun membekali Devano dengan rantang susun berisi pesmol ikan mas dan es selendang mayang. "Kalau sudah serius, kapan-kapan ajak ke rumah. Kenalan dengan kami."
Tama kembali menimpali. "Palingan masih main-main. Melempar jaring tebar pesona. Udah ketebak polanya, Van, Van."
Ia memperingatkan Tama melalui pandangan mata agar tak terlalu menindas Devano. Tapi Tama tak peduli. Justru berkata dengan ekspresi wajah datar sambil menunjuk rantang susun di tangan Devano. "Wadahnya jangan lupa balikin."
Sepeninggal Devano, mereka menghabiskan hari dengan menyantap makan siang bersama. Kemudian anak-anak tidur-tiduran di ruang tengah di depan televisi yang menyala, sementara ia dan Tama berbincang bersama bu Niar. Dan jelang sore, anak-anak mulai tergoda untuk menceburkan diri ke kolam renang.
"Kita pecahkan rekor best time, Ka!" Seru Tama yang langsung mengajak para anak lelaki untuk berlomba. "Cad, hadiah spesial dari Papa kalau berhasil mengalahkan atlet kita."
Reka tersenyum miring di pinggir kolam. Icad hanya mengangkat bahu. Sementara Umay protes keras. "Aku nggak ditawarin hadiah, Pa?"
Tama tergelak. "Umay juga. Kemon!"
"Berapa balikan?" Icad rupanya tertarik dengan tantangan yang Tama berikan.
"Lima." Tama mengangkat lima jari ke atas. "Sesuai nomor Reka di Popprov. Siap, Ka?"
Reka masih tersenyum miring di pinggir kolam. Icad sudah bersiap di garis start. Umay sibuk sendiri melakukan gerakan pemanasan yang dilebih-lebihkan. Sedangkan Sasa melompat-lompat kegirangan di pinggir kolam. "Sasa jagoin mas Reka!"
"Semangatin aku dong, Sa." Umay menunjuk tangan sambil merengut. "Ntar hadiahnya kita bagi dua."
Sasa mengangguk setuju. Tapi yang namanya diteriakkan oleh Sasa tetaplah. "Mas Reka! Mas Reka! Mas Reka!"
"Ih, Sasa sih begitu!" Umay bersungut-sungut kesal mendapati kenyataan yang ada.
"Sasa yang jadi juri." Tama memotong perseteruan Umay dan Sasa. "Startnya hitung sampai tiga, Sa."
Sasa mengangguk-angguk dengan wajah berbinar. "Satu ... dua ... tiga! Yeeeee!"
BYUR!
Empat orang sekaligus melompat ke dalam kolam secara hampir bersamaaan. Membuat air menyiprat ke mana-mana, namun Sasa justru tertawa senang.
Dari tempat duduknya terlihat Tama, Reka, dan Icad berada dalam satu garis lurus. Sementara Umay tertinggal jauh di belakang.
Bu Niar yang semula tengah duduk di sampingnya beranjak mendekati kolam. Ikut bertepuk tangan menyemangati bersama Sasa. Dan ia memperhatikan dari kejauhan sembari menggumamkan pengharapan, semoga kebahagiaan ini berlangsung selamanya.
Hari yang menyenangkan ini mereka tutup dengan makan malam bersama. Tama mengajak mereka semua pergi ke restoran sebuah hotel berbintang yang berada di kawasan Senayan.
"Mumpung masih bisa reservasi," kilah Tama.
Ia sempat terkejut karena Tama tak pernah menceritakan rencana makan malam ini sebelumnya. Di hotel berbintang pula. Di mana identik dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
"Kamu nggak keberatan, kan?" Bisik Tama saat mereka sedang berjalan menuju ke mobil. "Nanti aku yang bayar."
Ia tersenyum mengangguk. Bukan tentang aku yang bayar. Tapi lebih ke merasa lega. Sebab bisikan Tama menandakan jika suaminya itu menyadari kekeliruan tentang memutuskan sesuatu secara sepihak. Tanpa mendiskusikan dengannya terlebih dahulu. Ini tentu bertentangan dengan kesepakatan mereka. Meski untuk hal sekecil makan malam di luar.
"Iya, Mas." Ia masih tersenyum. "Kapan lagi kita semua jalan keluar dengan mama."
"Oh." Tama langsung melingkarkan lengan di sepanjang bahunya. Jelas bermaksud mencium pipinya. Namun gagal. Karena Sasa yang sedang berkejaran dengan Umay untuk berebut sampai di mobil paling duluan, keburu menabrak mereka.
"Maaf, Pa, Ma!" Sasa tertawa-tawa. Di belakangnya menyusul Umay yang juga tertawa-tawa.
Restoran yang menjadi pilihan Tama amatlah luas dan ramai pengunjung. Sepertinya, hari minggu malam menjadi pilihan waktu terbaik bagi banyak keluarga untuk makan bersama di luar.
"Starternya cobain ini, Ma." Tama menyerahkan piring berisi hidangan persis seperti dalam serial komedi asal Inggris yang sering ditonton oleh anak-anak. "Fresh oyster lezat saus lemon. Pakai mayonaise nggak?"
Bu Niar memilih Salmon sashimi. Sementara anak-anak berkeliling sendiri mencari makanan yang diinginkan.
"Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday ...." Sejumlah pegawai restoran terlihat memberi kejutan dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun ke salah satu meja pengunjung yang berada tak jauh dari mereka.
Ini membuat bu Niar tersenyum. "Ada yang ulang tahun. Sebentar lagi kamu." Sambil menoleh ke arah Tama yang tengah asyik menyantap menu pilihan, Alaskan king crab.
Ia ikut menoleh dan memperhatikan Tama yang terlihat tak terusik. Tetap menyantap kepiting di dalam piring dengan lahap. Justru Sasa yang berseru. "Siapa ulang tahun, Uti?"
"Papa Tama." Bu Niar masih tersenyum. "Tujuh Desember. Ulang tahun yang ke berapa, Papatam?"
Tama hanya terkekeh. Tak melepaskan santapan di piring.
"Wah, Papa ulang tahun?" Bola mata Sasa langsung berbinar. "Asyiiik."
"Deketan sama ulang tahunku, dong," celetuk Umay dengan mulut penuh menyantap creamy cheese pasta.
Tama langsung menghentikan makannya. "Wah, kapan Umay ulang tahun? Kok Papa nggak tahu?"
"Ih!" Sasa terkikik. "Papa ketinggalan. Abang ulang tahunnya udah lewat jauh. Waktu papa nggak ada di rumah."
"Kamu bukannya tahu ... tanggal lahir anak-anak waktu menyusun mahar?" Bu Niar balik bertanya.
"Iya, Ma. Tahu dari paspor. Tapi nggak dicatat ke HP," kilah Tama seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku. "Jadi lupa, deh." Kemudian menyerahkan ponsel padanya. "Permaisuriku, tolong catat ulang tahun anak-anak kita."
"Hihihi ... permaisuri!" Sasa langsung terkikik. Begitupun bu Niar yang mengu lum senyum mendengar sebutan Tama untuknya. Sementara ketiga anak lelaki terlihat acuh dan tetap berkonsentrasi pada piring masing-masing.
Ia sempat melirik ke arah Tama yang kembali asyik menyantap makanan. Sebelum akhirnya membuka fitur reminder di ponsel Tama. Di sana ia menemukan dua baris tulisan yang sudah ada.
1. 15 Januari, My Reka.
2. 1 Juni, My pretty woman.
Ia kembali melirik Tama sambil menggelengkan kepala. Demi mendapati sebutan Tama untuknya di dalam ponsel. Gombal sekali, batinnya dengan pipi memanas. Keahlian menggombal Tama sepertinya naik berkali lipat sejak mereka resmi menikah. Hmmm.
"Risyad, 3 October." Tama mulai membaca tulisan di dalam ponsel, usai menuntaskan Alaskan king crab di dalam piring. "Wah, kelewat jauh."
"Umair, 10 November." Tama menoleh ke arah Umay. "Wah, keren, bos. Pas hari pahlawan."
Umay meringis dengan hidung terkembang.
"Rumaisha, 21 Juni." Tama tersenyum ke arah Sasa yang juga balas tersenyum lebar.
"Oke. Sebelum pulang kita mampir beli kado buat Icad sama Umay," ujar Tama yakin sambil menyimpan ponsel ke dalam saku.
"Mas ...." Ia langsung menyela namun bu Niar lebih dulu berkata.
"Ada kado dari Uti juga. Belinya masing-masing dua macam, ya."
Ia mengembuskan napas panjang karena Tama sama sekali tak memedulikan keberatannya. Keroyalan Tama terhadap anak-anak terasa semakin mengganggu. Namun berbeda dengan anak-anak. Umay dan Sasa langsung berseru kegirangan dan mulai membahas ingin memilih kado apa. Sementara Icad dan Reka lebih bisa bersikap tenang meski tak menolak juga.
"Jadi, ini early birthday dinnernya Papatam?" Seloroh bu Niar. "Ayo, Papa Tama, kita berdoa sama-sama. Semoga apa yang diinginkan terkabul."
Awalnya Tama hanya tertawa-tawa. Namun sejurus kemudian mulai menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangan. "Kita berdoa sama-sama, anak-anak."
Tama, saat kali pertama usai mereka menikah, lebih memilih membaca Al-Quran secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar daripada bergabung dengan anak-anak di ruang tengah. Alasannya tentu saja tak perlu ditanya. Cara membaca Tama yang terbata-bata dan sering terputus di tengah jalan jelas berbanding terbalik dengan ketiga anaknya yang bahkan sudah hafal juz amma.
"Ini bacanya gimana?" Tama bahkan sering bertanya padanya saat kesulitan membaca ayat dengan tanda waqaf yang jarang ditemukan. Ataupun ayat yang memiliki hukum bacaan tertentu. "Bacanya dengung atau jelas?"
"Boleh berhenti di sini nggak?" Tama kembali bertanya ketika mulai kehabisan napas sementara ayat yang harus dibaca masih panjang.
"Ini dibaca ha atau ta?" Tama menatapnya penuh tanya saat menemukan huruf ta marbutoh di akhir ayat.
Dan ia amat sangat bersyukur karena Tama tak malu ataupun gengsi untuk bertanya padanya.
"Mas bukannya nggak bisa baca." Ia menatap sang suami yang sedang menjauhkan lalu mendekatkan jarak Al-Quran dengan mata.
"Kayaknya mataku mulai rabun," gumam Tama sembari terus melakukan hal yang sama berulang kali. "Hurufnya kecil banget, nggak kebaca."
Ia tak ikut membahas tebakan Tama tentang mata yang mulai rabun. "Tapi karena selama ini, Mas jarang membaca Al-Quran. Jadi sekalinya baca, terbata-bata. Nanti, kalau sudah terbiasa membaca, rutin setiap hari, lama-lama pasti lancar dengan sendirinya."
Tama menatapnya dalam-dalam. Namun sejurus kemudian justru memijit cuping hidungnya dengan wajah menggoda. "Kok tahu, sih, selama ini aku nggak pernah baca Al-Quran? Pasti pernah stalking, ya?"
Ia hanya tertawa campur geli dan sebal. Namun sebelum ia sempat menjawab, Tama kembali berkata dengan mata menerawang.
"Aku belajar ngaji dari kecil. Tapi nggak pernah dipraktekkan, akhirnya jadi begini." Tama tersenyum kecut menatapnya. "Udah tua bacanya masih terbata-bata. Kalah sama anak SD bahkan TK."
Dan keputusannya untuk membekali Tama Al-Quran sebelum pergi ke Lembang rupanya pilihan tepat. Sebab tiap kali pulang ke rumah, bacaan Al-Quran Tama terdengar semakin meningkat. Meski masih terbata dan belum lancar, namun lebih enak didengar dibanding kali pertama ia mengetahui bagaimana Tama membaca.
Tama bahkan meminta dibelikan buku khusus doa.
"Lama-lama malu juga, tiap giliran doa selalu nyuruh orang lain," seloroh Tama tanpa rasa jengah.
Tapi ia tak mengabulkan permintaan Tama. Sebab buku kumpulan doa setebal 400 halaman bersampul biru tua yang ia berikan bukanlah buku baru. Melainkan buku doa miliknya hadiah dari bang Is bertahun silam. Yang tak ikut tersimpan di dalam kotak hijau karena masih sering dibacanya tiap kali membutuhkan.
Doa. Begitu yang tertulis di sampul depan dengan tinta warna emas. Di bawahnya tertera nama seorang ulama besar Indonesia.
"Rabbanaa, laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaitanaa ...."
Lamunannya seketika buyar tatkala mendengar doa yang diucapkan Tama. Dalam diam dan kepala tertunduk dalam-dalam hatinya mencelos mengetahui Tama memilih melantunkan doa untuk ketenangan jiwa.
Aamiin. Aamiin. Aamiin, gumamnya berulangkali. Kami mohonkan padaMu jiwa yang tenang dan tenteram. Serta rahmatillah kami.
"Mas mau hadiah apa untuk ulang tahun?" Tanyanya memberanikan diri sebelum terlelap. Kali ini tanpa menawarkan buffet ataupun jamuan lainnya. Ia khawatir Tama terlalu lelah usai bersepeda dan berenang di siang hari.
Tama menatapnya lekat-lekat. "Kadonya boleh disimpan dulu, nggak? Buat perayaan lulusan? Sesuai dengan saran dokter kurang ajar."
Ia membelalakkan mata tak mengerti.
"Kita honeymoon berdua. Bikin little Tama sama little Pocut." Tama tersenyum menggoda. "Istriku mau pergi ke mana?"
Ia mendesah tak setuju. "Honeymoon membutuhkan banyak biaya, Mas. Jangan terlalu mudah mengeluarkan uang."
"Uang yang harusnya buat bayar hotel sama ballroom masih utuh," bisik Tama seraya mengedipkan sebelah mata.
"Itu ditabung saja." Ia mengernyit. "Mas masih harus membeli saham Selera Persada lagi, bukan?"
Tama menggeleng. "Kita ambil kado dari Wisak, ke Lampung? Atau Bali? Lombok? Labuan Bajo?" Tama kembali menggeleng. "Aussie, gimana?"
Kemudian Tama seperti mengingat sesuatu. "Pas banget musim gugur. Banyak festival autumn yang menarik di sana." Kali ini Tama tersenyum lebar. "Good time. Sekalian meet up sama Prasbuana."
Ia balas menggeleng.
Tapi Tama berucap yakin. "Oke. Kalau gitu, kamu yang pilih destinasinya. Aku ngikut."
"Mas ...." Ia masih berkeberatan mengenai honeymoon. Tapi Tama justru membetulkan letak kepala di atas bantal dan mulai memejamkan mata.
"Aku ngantuk," gumam Tama dengan mata terpejam sempurna. "Double cheesenya besok pagi aja, ya." Lalu mengecup keningnya dalam-dalam.
Keesokan pagi, Tama berangkat ke Lembang selepas subuh dengan diantar oleh Alfian.
"Baik-baik di rumah sama anak-anak," bisik Tama saat memeluknya. "Semoga ujiannya udah dihabisin kemarin waktu pasang pen sama kuret. Nggak ada lagi berita nggak enak selama aku pergi."
Ia mengangguk dengan mata memanas. Tama hanya pergi ke Lembang. Dan selama dua minggu ke depan, mereka bahkan bisa bertemu kembali. Namun perpisahan, walaupun sesingkat apapun selalu mendatangkan kesedihan.
"Semangat Popprovnya, Reka!" Kini Tama beralih memeluk Reka.
Namun yang dipeluk hanya bergumam pelan. "Masih lama."
"Our scientist." Tama juga memeluk Icad meski gerik putra sulungnya itu masih sangat kaku, jauh dari kata luwes. "Sukses olimpiadenya."
"Makasih, Om," jawaban lirih Icad membuatnya refleks mengusap punggung Tama. Secara tidak langsung ia ingin meminta maaf sebab panggilan Icad kepada Tama belum juga berubah.
Kalau Umay tak usah ditanya. Sebelum Tama bergerak sudah lebih dulu menubruk dan memeluk papanya erat-erat. "Dua minggu lagi, papa pulang ke Jakarta atau kita ke Bandung?"
"Kalian yang ke Bandung," ucap Tama sambil mengacak puncak kepala Umay. Kemudian beralih mengangkat tubuh Sasa tinggi-tinggi ke atas. "Sasa! Bantuin Mama, ya. Biar lengan mama cepat sembuh."
Sasa mengangguk berkali-kali dengan mata berbinar. "Iya, Papa. Iya. Sasa bakal bantuin mama. Abang juga, bang Umay juga, mas Reka juga. Semuaaaa pada bantuin mama. Hihihi ...."
Anak-anak kembali disibukkan dengan sekolah, PR, tugas dan kegiatan ekstra lainnya. Ia juga telah menghadiri sesi awal level keempat lifetime program di menara Astana. Tertinggal dari teman sekelasnya karena absen hampir dua minggu lebih, usai operasi pemasangan pen dan kuretase. Hingga ia harus mengikuti sesi di kelas lain bersama teman-teman yang baru. Namun Grace tetap pada rencana awal yang telah lama digadang-gadang.
"Kamu jadi special guest di channelku, ya," pinta Grace penuh semangat. "Cukup sebulan sekali, gantian sama special guest yang lain. Khusus masakan daerah, terutama Sumatera."
Semua yang direncanakan bisa berjalan dengan lancar. Ia kembali tampil di channel YouTube milik Grace meskipun bukan siaran langsung.
"Wah, Bu Oyes makin laris, nih," seloroh Tama saat melakukan video call rutin menjelang tidur. "Udah, banting stir jadi blogger makanan aja. Pasti keren. Aku dukung."
Tapi ia hanya tertawa mendengar selorohan Tama. Tampil di channel YouTube Grace jelas melalui sedikit paksaan dan selebihnya karena tak enak untuk menolak. Jadi, ia tak mungkin memiliki program sendiri apalagi menjadi blogger makanan. Ia hanyalah seorang ibu-ibu biasa yang gemar memasak untuk keluarga. Tak sedikitpun terbersit keinginan dikenal oleh banyak orang seperti Grace.
Sampai dua minggu kemudian, mereka kembali mengunjungi Tama di Bandung. Hanya berlima saja diantar oleh Agus. Menginap di rumah milik almarhum pak Setyo. Menjadi saksi betapa sibuknya Agam menjalani perkuliahan. Bahkan di akhir pekan masih mengerjakan tugas hingga larut malam. Bukti nyata dari mengusahakan yang terbaik demi masa depan.
Selama 3 hari 2 malam berada di Bandung pula, Tama mengajak anak-anak berkeliling ke tempat-tempat wisata yang berada di sekitaran Lembang. Menyetir sendiri bermacet-macetan namun dengan hati yang riang gembira. Ia dan Tama seolah merasa, sama-sama tengah memenuhi hati dengan kebahagiaan selama berakhir pekan bersama anak-anak. Sebelum hari minggu malam kembali berpisah untuk menjalani tugas dan peran masing-masing. Ia di Jakarta dan Tama di Lembang menyelesaikan pendidikan. Jarak yang sebenarnya tak terlalu jauh, namun tetap mendatangkan rindu.
"Mas Reka ngapain?" Pekik Sasa di suatu petang, saat ia tengah mempersiapkan masakan untuk makan malam. Reka yang baru pulang dari latihan renang tiba-tiba sudah berada di dapur sambil membawa kamera.
"Wuih, Mas Reka mau ngevlog, ya?" Umay yang sedang mengaji di ruang tengah tertarik untuk menghampiri, begitu melihat kamera yang sedang dipegang oleh Reka. "Ini yang dibeliin papa, bukan? Aku boleh nyobain nggak, Mas?"
Tapi Reka menggeleng. "Ini dibeliin sama bundaku. Nggak boleh pinjem. Mau bikin tugas sekolah."
Meski ditolak mentah-mentah, Umay tetap memperhatikan gerik Reka menyiapkan kamera. Sementara Sasa, sedari tadi sudah bergaya dengan senyum yang dibuat-buat sambil melenggokkan pinggul.
"Centil, ih, Sasa!" Umay bersungut-sungut melihat tingkah polah Sasa. "Bukannya bantuin mama masak malah genit begitu."
"Biarin! Yee!" Sasa meleletkan lidah ke arah Umay dengan wajah sebal. Namun sedetik kemudian sudah kembali berpose menghadap ke arah Reka seolah tak ada Umay di sana.
"Aku rekam pas lagi masak ya, Ma." Rupanya Reka telah siap dengan kameranya. "Buat tugas sekolah. Mesti bikin video edukatif."
"Wah." Ia tersenyum malu. "Mama belum siap-siap, Mas," sambungnya seraya menunjuk daster bermotif batik yang sedang dipakai.
Tapi Reka malah tertawa. "Nggak bakal kelihatan semua. Aku rekam dari leher ke bawah. Cuma tangan Mama aja yang kelihatan. Fokus ke masakan, bukan orangnya."
Ia manggut-manggut tanda mengerti. Boleh juga pendirian Reka. Fokus pada masakannya saja, bukan orangnya. Seperti artikel yang pernah dibacanya di majalah bekas terbitan belasan tahun silam, fokus pada kebenaran yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Karena manusia bisa dan pasti berubah, namun kebenaran bersifat mutlak.
"Kalau Sasa, kelihatan nggak, Mas?" Celetuk Sasa dengan wajah berseri. "Sasa juga mau dong, masuk TV."
Lagi-lagi Reka tertawa. "Nggak masuk TV, Sa. Cuma diposting di sosmed. Banyak-banyakan yang ngelike."
Sasa langsung memberengut.
"Lagian bahaya kalau sampai wajah Sasa kelihatan," sambung Reka dengan wajah serius.
"Kenapa bahaya?" Sasa masih memberengut.
"Nanti seluruh dunia bisa tahu siapa Sasa," jawab Reka sambil kembali mengutak-atik kamera. "Yakin, deh, nggak bakalan asyik kalau semua orang tahu. Ke mana-mana bakal dilihatin. Nggak bebas."
"Aku seneng dilihatin orang kok, Mas." Umay yang sedari tadi terbengong-bengong memperhatikan Reka mengutak-atik kamera kembali menyahut. "Rekam wajah aku aja, Mas. Tapi tangannya tangan mama. Keren, kan?" Umay menaik turunkan alis dengan gerakan cepat.
Reka hanya mengangkat bahu. "Nyerah kalau ngomong sama kamu, May." Kemudian beralih ke arahnya. "Malam ini mau masak apa, Ma?"
Mungkin, jika malam ini diingat di masa depan akan menjadi sejarah. Menjadi pertama kalinya Reka merekam ia sedang memasak makan malam di rumah dinas. Sebab beberapa hari kemudian, Reka kembali merekamnya saat sedang memasak di dapur.
"Ada tugas lagi, Mas?" Tanyanya ingin tahu.
Reka menggeleng. "Iseng daripada gabut. Pusing lihatin tingkah Umay."
Ia hanya tertawa. Tapi keesokan hari, kemudian lusa, dan seterusnya, Reka terus saja merekam tiap kali ia sedang memasak di dapur. Tak peduli pagi sebelum berangkat sekolah. Ataupun malam saat anak-anak yang lain bersantai di ruang tengah melepas lelah usai seharian belajar dan berkegiatan di sekolah.
Sampai suatu malam, ketika ia tengah menunggu panggilan video call dari Tama, Reka menunjukkan sesuatu padanya.
"Rekaman Mama kuupload ke instagram." Reka memperlihatkan layar ponsel yang berisi halaman sebuah sosial media.
"Ternyata banyak yang ngelike sama follow," sambung Reka sambil mengangkat bahu. "Nggak nyangka bisa dapat ribuan followers."
Lombok Abang, begitu nama akun sosial media yang tertera di layar ponsel. Dengan foto profil sepiring cabe merah segar.
"Lombok abang artinya apa, Mas?" Ia mengernyit sambil memperhatikan foto-foto dan video yang terpampang di akun sosial media tersebut. Semuanya berupa foto hasil masakannya dan video ketika ia memasak.
"Cabe merah." Reka meringis. "Nggak ada ide selain itu."
"Nama yang bagus." Ia mengangguk seraya tersenyum. "Cabe merah termasuk bahan utama dari banyak menu masakan."
"Aku terusin boleh, Ma?" Reka memandangnya penuh harap. "Iseng iseng buat ngisi waktu."
Ia mengangguk. "Boleh."
Jadilah Reka yang meski sibuk mengikuti sesi latihan intensif jelang Popprov, namun masih sempat merekamnya tiap kali ia memasak makan malam.
"Aku mau jadi asisten, dong, Mas Reka. Boleh nggak?" Pinta Umay yang sejak awal sudah sangat tertarik melihat Reka merekamnya memasak di dapur. Namun tak memiliki kesempatan untuk ikut ambil bagian.
Dan anggukan Reka membuat Umay selalu heboh ingin membantu tiap kali hendak merekam.
"Aku seneng kamu bisa deket sama Reka," ucap Tama melalui sambungan video call. Tersenyum menatapnya dengan wajah dipenuhi kelegaan. "Dulu, ngebayangin aja nggak berani. Tapi sekarang ... luar biasa."
Tama semakin menatapnya dalam-dalam. Kemudian mengisyaratkan melalui gerakan bibir tanpa suara. "Love you ...."
Ia tersipu. Namun jauh di dasar hati, ia memiliki ganjalan. Sebab Icad masih saja memanggil Tama dengan sebutan om. Belum berubah.
Dan dari pengalamannya ditinggal Tama menjalani pendidikan, masa-masa sekarang menjadi yang paling menyenangkan. Ia semakin dekat dengan Reka.
"Besok jadwal market day," ujar Reka suatu malam. "Mama punya menu spesial apa?"
"Market day lagi?" Tanyanya keheranan. "Bukannya baru minggu lalu?"
Reka meringis sembari berucap gugup. "Sekarang ... market daynya seminggu sekali."
Ia tahu Reka berbohong. Sebab, ia juga memiliki jadwal kegiatan di sekolah Reka selama satu semester penuh. Market day jelas hanya dilaksanakan sebulan sekali. Bukan setiap minggu atau dua hari sekali seperti yang dipinta Reka.
Tapi, ia tak ingin mencari tahu alasan Reka berbohong. Naluri mengatakan, Reka melakukan ini untuk kebaikan. Toh uang hasil penjualan market day selalu disetor penuh oleh Reka. Dan tak ada keluhan dari sekolah tentang sikap Reka. Jadi, anggap saja Reka sedang belajar berbisnis kecil-kecilan dengan mengatasnamakan market day.
Selain hubungannya dengan Reka yang semakin menyenangkan, ia juga merasa bahagia sebab seluruh anggota keluarga dikaruniai keadaan yang baik dan juga kesehatan tak kurang suatu apapun. Mamak yang semakin bertambah usia namun jarang mengeluh sakit. Umay dan Sasa yang selalu ceria. Juga Icad yang berhasil meraih medali perak dalam gelaran Olimpiade Sains tingkat provinsi.
Namun di tengah kebahagiaan yang melingkupi keluarga kecilnya, ada satu berita duka.
"Mama lagi ke Malang," kata Anjani ketika ia mampir ke rumah bu Niar usai tampil di channel YouTube Grace untuk ketiga kalinya. "Melayat bude Harti yang meninggal tadi pagi di Penang."
Malamnya, ia langsung memberitahu Tama. "Mama sedang pergi ke Malang, Mas. Melayat almarhumah ibunya pak Raka."
Tama mengangguk. "Iya. Tadi pagi mama nelepon."
Tama sempat mengembuskan napas panjang sebelum kembali berkata. "Aku juga udah nelepon mas Raka."
Memang, seperti inilah kehidupan yang harus dijalani oleh setiap insan. Di dunia ini, tak ada yang sempurna apalagi abadi. Selalu ada penyeimbang dari semua kejadian. Kebahagiaan dan kesedihan. Tawa dan duka. Ujian dan pengharapan.
Ia hanya berharap, semoga bisa melalui seluruh skenario yang telah digariskan dengan sebaik-baiknya. Saat berada dalam kebahagiaan maupun kesedihan. Di tengah gelak tawa ataupun sedang berselimut duka. Di antara deraan ujian dan secercah pengharapan.
Ia kembali melalui hari bersama anak-anak di Jakarta. Sementara Tama disibukkan dengan masa-masa akhir pendidikan. Bolak-balik Jakarta-Bandung agar tak terlalu lama saling memendam rindu. Hingga suatu hari, ia mengulang mengucap syukur dengan sepenuh hati. Ketika Tama mengiriminya sebuah foto yang selama ini dinantikan.
...Ujian Akhir Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi....
...Kombes Pol Wiratama Yuda, S.I.K, M.Si....
Hatinya sontak meluap dipenuhi kebahagiaan tatkala memandangi sosok Tama di layar ponsel. Pria gagah itu tengah berdiri di depan layar berukuran besar dengan mengenakan setelan jas hitam dan dasi berwarna merah.
Alhamdulillahirabbil'alamiin.
"Kutunggu di Lembang," bisik Tama ketika malam hari mereka melakukan video call.
Namun ia hanya bisa tersenyum dengan mata dipenuhi kaca. Tak mampu menjawab apapun meski hanya sekedar anggukan.
***