
Istana Negara, Jakarta
Seorang gadis berlari terengah-engah sambil sesekali menyeka keringat yang membanjir hingga kemeja yang dikenakan terasa lengket. Pengalihan arus lalu lintas di sekitar Istana Negara membuatnya harus berjalan memutar cukup jauh untuk sampai di depan gerbang.
“Ini undangannya, Pak.” Ia bergegas menyerahkan lembaran sakti yang semalam baru dikirim oleh sang bos kepada petugas yang berjaga di depan gerbang.
“Saya keluarga, Pak. Keluarga,” jawabnya gugup dengan napas satu-satu. Merasa sangat bodoh dan payah bisa terlambat di acara sepenting ini. Kelangsungan hidup pekerjaannya sangat terancam jika ia tak berhasil masuk ke halaman Istana Negara. “Tadi harus muter-muter karena pengalihan arus, jadi terlamb__”
“Masuk! Masuk!” Petugas akhirnya mempersilakan masuk dengan sejumlah pesan sebab upacara pelantikan sedang berlangsung.
Ia mengucapkan banyak terima kasih lalu bergegas memasuki halaman Istana. Beberapa petugas lain menghadangnya dan bertanya. Hingga seorang petugas berbaik hati menunjukkan jalan menuju tenda para tamu undangan yang hendak dituju.
“Aku di rumah sakit, Ra. Ketuban pecah,” seru bosnya semalam dengan suara panik. “Unpredictable. Besok kamu yang ke Istana Negara, gantiin aku.”
Semalam, ia sedang berada di Tambun di rumah seorang teman. Sebelum esok pagi mereka berencana bertualang menjelajah curug Parigi. Tapi telepon dari yang terhormat Annais Laksmitowahni membuyarkan seluruh rencana yang telah disusun sejak jauh-jauh hari. Dalam semalam, ia harus menggantikan sang bos menghadiri upacara pelantikan di Istana Negara.
Annais, bosnya yang paling saklek, galak, sekaligus menyebalkan, di awal kemunculan lebih dikenal sebagai penulis novel romantis dan sejarah. Namun sejak beberapa tahun terakhir lebih banyak menelurkan karya biografi tentang tokoh ternama negeri dari dunia politik, bisnis, hingga hiburan. Dan proyek terbaru sang bos adalah menulis biografi seorang perwira tinggi kepolisian.
“Bahwa saya ….”
“BAHWA SAYA ….”
Ia bergegas menyelinap di antara baris terakhir tenda bertanda Orang Tua Taruna Taruni Akademi kepolisian, ketika presiden tengah memandu pengucapan sumpah.
“Akan memenuhi kewajiban perwira ….”
“AKAN MEMENUHI ….” Suara lantang ratusan taruna dan taruni TNI Polri dalam mengucap sumpah perwira di hadapan orang tua dan para pejabat tinggi TNI Polri menciptakan euforia tersendiri yang meruarkan rasa bangga bagi para hadirin.
“Dengan sebaik-baiknya terhadap bangsa Indonesia dan Negara Kesaturan Republik Indonesia ….”
Ia masih sibuk menyiapkan kamera ketika di tengah lapangan sedang diberikan penghargaan bagi lulusan terbaik dari tiga matra TNI dan Kepolisian. Ia baru benar-benar siap beraksi mengabadikan momen terbaik setelah lagu Bagimu Negeri berkumandang.
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami
(Bagimu Negeri, Cipt : Kusbini)
“Hadirin dan tamu undangan yang kami hormati, diharapkan kepada orang tua untuk dapat mendampingi putra dan putrinya.”
Ia menajamkan penglihatan mengawasi sekeliling. Orang-orang di dalam tenda telah menghambur keluar mencari putra-putri masing-masing. Ia lantas mengikuti dan berusaha mendekati barisan perwira kepolisian yang baru saja dilantik. Ia masih tertegun sebab belum menemukan sosok yang dicari. Namun kerumunan beberapa reporter berita yang menyorot langkah seseorang menarik perhatiannya.
Tak salah lagi, beliaulah sosok yang dicari.
Ia lekas membidikkan kamera menangkap momen mengharukan antara seorang pria gagah berseragam dinas kepolisian lengkap yang melangkah panjang-panjang bermaksud meraih sang putra yang lebih dulu bersikap tegap untuk menghormat sebelum akhirnya menghambur dalam pelukan.
Ia sempat tertegun dan berhenti memotret menyaksikan keharuan di atas ambang batas yang diperlihatkan pasangan bapak anak itu. Namun ia buru-buru kembali beraksi menangkap momen mengharukan berhias air mata.
Jurnalis tak boleh cengeng apalagi emosional selama bertugas.
Di belakang pria gagah berpangkat dua bintang emas di bahu, menyusul seorang wanita ayu berbaju kurung merah marun yang langsung ditubruk oleh sang perwira muda.
Ia berusaha cekatan mengabadikan momen tatkala pemuda tersebut membungkuk dan berlutut bermaksud mencium kaki, namun sang wanita berbaju kurung mencegah lekas mengangkat kedua lengan anaknya agar bangkit lalu mereka berpelukan.
Suasana yang sudah haru semakin bertambah manakala seorang gadis semampai yang menggendong bocah laki-laki turut dalam kebahagiaan keluarga tersebut. Disusul pemuda menjulang berjas hitam yang tiba-tiba muncul bersama sepasang suami istri paling menarik perhatian.
Ia menelan ludah dengan gugup selama detik-detik terakhir membidikkan lensa mengabadikan momen membahagiakan keluarga tersebut. Dan semakin gugup manakala pemuda menjulang berjas hitam tiba-tiba menoleh ke arahnya hingga mereka beradu pandang selama beberapa detik.
Ia, yang entah sudah berapa kali terpana dalam kurun kurang dari satu jam, kini seolah terpaku di tempat ketika pemuda menjulang berjas hitam mulai melangkah ke arahnya.
Ia yang gugup setengah mati terus berpura-pura membidikkan lensa ke segala arah tanpa fokus berarti. Sembari komat kamit merapal mantra, jangan mendekat … jangan mendekat ….
Ia hampir melarikan diri saking takkan sanggup berhadapan dengan pemuda menjulang itu ketika sapaan renyah mengudara menjadi penyelamat.
“Selamat, Umair!” Seorang pria tak kalah gagah yang juga berseragam dinas lengkap dengan bintang satu di bahu bersama seorang wanita elok bersanggul turut bergabung dalam keriaan. “Selamat sudah menjadi lulusan terbaik!”
“Terima kasih, Om Sada.” Sang perwira muda bersikap tegak memberi hormat, lantas menyambut uluran tangan sembari berpelukan.
“Tahun depan Yasa nyusul!” sambung sang bintang satu. "Doakan!"
"Siap, Jenderal!" jawab sang perwira muda penuh kemantapan. "Semoga Yasa sukses!"
“Selamat ya, Umair,” ujar wanita elok bersanggul.
“Terima kasih, Tante Dara.”
“Kamu ….”
Saking terpesonanya mengabadikan setiap momen berharga keluarga sang bintang dua, ia sampai tak menyadari jika pemuda menjulang berjas hitam telah berdiri di sampingnya.
“Kamu ….” Pemuda terus menatapnya dengan mimik penuh tanya.
Namun sebuah ide brilian secara tiba-tiba melintas menjadi penyelamat. Sambil menegakkan punggung ia berjalan menuju orang-orang yang tengah mengerumuni sang perwira muda meninggalkan pemuda menjulang yang terlolong keheranan.
“Selamat pagi, Bapak Irjen Pol Wiratama.” Ia mengangguk penuh kesopanan. “Saya reporter yang menggantikan ibu Annais untuk meliput acara hari ini.”
Pria berbintang dua membalas sapaannya, termasuk wanita ayu berbaju kurung, gadis yang menggendong bocah laki-laki, sepasang suami istri paling menarik perhatian, pria bintang satu dan istrinya. Kecuali pemuda menjulang yang kembali mendekatinya sembari bertanya.
“Kamu?”
“Perkenalkan, nama saya Kejora ….”
***
Pocut
Tiada yang lebih membahagiakan hati seorang wanita selain berkumpul bersama keluarga tercinta dalam limpahan karunia. Terlebih hari ini, menjadi momen bersejarah saat seluruh anggota keluarga menyaksikan pelantikan Umair menjadi perwira muda di Istana Negara. Gelar sebagai lulusan terbaik dari Kepolisian menjadi pelengkap karunia tak terhingga ini.
Di sana di ruang tengah yang cukup nyaman, sang suami dengan wajah sumringah tengah berbincang bersama putra mereka yang baru saja kembali dari benua lain. Reka, menepati janji dengan pulang ke Jakarta dua hari lalu. Di tengah kesibukan menyelesaikan sekolah kedokteran di Stockholm, putra tercinta mereka itu bersedia meluangkan waktu berkunjung ke tanah air hanya demi menyaksikan upacara pelantikan Umair.
Lalu Anjani dan Agam yang selalu ada di antara keluarga mereka dalam keadaan suka maupun duka. Mamak yang tak pernah lepas menebar senyum kebahagiaan. Sada sekeluarga pendukung nomor satu. Sasa dan putra kecilnya yang tengah asyik bermain.
Oh, ya, kecuali Risyad. Putra sulungnya itu dengan berat hati tak bisa membersamai kebahagiaan kali ini sebab kepadatan jadwal studi di Amerika. Namun ia meyakini hati Risyad senantiasa tertuju pada keluarga. Terbukti dari video call yang sedang dilakukan Tama.
Terdengar tawa renyah putra sulungnya itu melalui ponsel. “Ntar, summer gue backpackingan keliling yurop. Lu tunggu di pengkolan!”
“Ibu, ini sudah bisa diantar ke tetangga?” ucapan Yuni mengalihkan perhatiannya dari keriaan di ruang tengah.
Ia lantas memeriksa isi keranjang rotan yang diperlihatkan Yuni. Lalu meraih selembar kertas yang menempel di pinggir kiri tas rotan. Kertas tebal berbau harum yang desainnya dibuat oleh Sasa itu menuliskan secara lengkap kebahagiaan keluarga mereka yang tercurah.
...Tasyakur bi ni’mah...
...Atas...
...pelantikan Teuku Umair Ishak...
...menjadi perwira muda...
...Dan...
...Khitanan ananda Rakeyan Raharjuna Yuda...
...Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua....
...Kami yang berbahagia,...
...Keluarga Irjen Pol Wiratama Yuda dan Pocut Halimatussadiah...
“Sudah, Teh, sudah bisa diantar.” Ia mengangguk. “Makasih banyak.”
Ia masih memperhatikan Yuni dan Agus yang tengah memastikan nama penerima satu per satu ketika terdengar pekikan Sasa di ruang tengah.
“Papa! Mas Reka, nih!”
“Lagian di rumah ngapain pakai taplak meja di kepala begitu, Sa … Sa?” Reka yang telah tumbuh menjadi pemuda tampan bertubuh menjulang itu mempermainkan kerudung Sasa. “Coba mana Mas Reka lihat rambut Sasa masih merah dan kusut enggak?”
“Ini namanya hijab, tahu!” Sasa mengomel-ngomel berusaha menghindar. “Di Stockholm nggak ada yang begini, ya?”
“Iya, tahu.” Reka terkekeh. “Tapi kalau Sasa yang make jadi kelihatan kayak taplak meja. Nggak cocok, cantikan dibuka aja, Sa.”
“Gorden lebih tepat, Mas.” Umay turut menyahut. “Sasa kan senengnya pakai kerudung bunga-bungaan kayak ibu-ibu. Hehehe ….”
“Papa! Ini nih, mereka berdua ledekin Sasa terus!”
Sementara yang dipanggil-panggil terlihat tengah asyik mengobrol bersama Sada dan Agam. Tak menghiraukan kekesalan Sasa yang menjadi bahan ledekan dua kakaknya.
“Mama ….” Ia masih menggeleng geli memperhatikan Sasa yang mengejar-ngejar Reka dan Umair lalu ketiga bersaudara itu tertawa bersama ketika suara bocah memanggilnya.
“Reyan, mau apa sayang?” Ia meraih bocah berusia kurang dari lima tahun itu. Putra bungsunya bersama Tama. Putra yang tak lagi mereka harapkan kehadirannya sebab usia semakin bertambah dan riwayat kehamilannya yang tak mudah. Namun rencana Allah selalu yang terbaik bukan? Di usia yang semakin beresiko tinggi, ia justru mendapat karunia tak terkira, janin yang sehat dan kuat dalam kandungan.
Kelahiran Rakeyan Raharjuna hanya berselang beberapa hari setelah sang ayah dinobatkan menjadi Inspektur Jenderal Polisi.
“Reyan, sama Papa sini, nak.” Sebuah suara bass yang pernah membuatnya berdebar di pantry kantor Selera Persada bertahun silam tiba-tiba terdengar mendekat. “Main sama Papa sini.”
“Sama Mas Reka aja sini.” Reka tiba-tiba nyelonong mendahului Tama menggendong Reyan yang langsung tertawa tergelak-gelak karena diayunkan sang kakak seperti pesawat terbang.
“Mama aja yang main sama Papa sini.” Serta merta Tama tersenyum menggoda seraya mengulurkan tangan berusaha meraihnya.
“Papa ini, malu sudah nenek-nenek sama kakek-kakek, masih saja ….” Ia tak melanjutkan kalimat sebab lengan kokoh sang suami telah lebih dulu melingkari bahunya.
“Lho, cantik jelita begini disebut nenek dari mana?” seloroh Tama seraya membimbingnya menuju ruang tengah. Di mana seluruh anggota keluarga tengah berkumpul. Termasuk mamak yang tersenyum bahagia, Reka dan Reyan yang terbahak-bahak, Sasa dan Umair yang saling melempar canda, Sada, Dara, Anjani, Agam. Sepertinya, embun mulai menyerang kedua matanya.
"Nenek-nenek sama kakek-kakek juga berhak bahagia," sambung Tama seraya mengecup puncak kepalanya yang tertutup kerudung sekilas. "Masa yang muda-muda saja yang bahagia. Aturan dari mana itu? Berani-beraninya sama Ibu komandan!”
***
---------------------T A M A T -------------------
Selamat malam, readers tersayang
Apa kabarnya hari ini? Semoga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Bagi yang sedang sakit, semoga dikaruniai kesembuhan. Bagi yang sedang bersedih, semoga diselipkan kebahagiaan di hati. Bagi yanag sedang berharap, semoga harapannya terkabul. Apapun semoga kebaikan senantiasa menyertai pembaca tersayang semuanya.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, akhirnya ….
Renjana Senja Kala :
Release pertama, Sabtu, 27 Februari 2021
Sampai Selasa, 31 Agustus 2021
Lalu mangkrak 🥺🙏
Up kembali, Senin, 30 Mei 2022
Dan tamat di hari Selasa, 7 Juni 2022
Total 15 bulan lebih sedikit untuk kita menuntaskan petualangan di dunia Pocutama dengan segala kekurangannya.
Terima kasih banyak untuk seluruh pembaca tersayang yang telah mengikuti kisah Pocutama dari awal sampai akhir, bersabar selama masa mangkrak tanpa kejelasan namun tetap berprasangka baik, dan bersedia kembali mengikuti kisah Pocutama sampai selesai.
Tiada balasan dari kebaikan selain kebaikan itu sendiri.
Mohon maaf sebesar-besarnya atas semua kesalahan, kekurangan, kemangkrakan selama 9 bulan, dan kekhilafan lainnya. Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya ya, readers tersayang.
Untuk banyak pertanyaan yang belum terjawab maupun karya Sephinasera selanjutnya setelah Renjana Senja Kala tamat, akan diinformasikan melalui Instagram Sephinasera dan Sahabat Sephinasera. Stay tune 😘😉
Sekali lagi terima kasih banyak.
Salam sayang,
Sephinasera.
❤️❤️❤️❤️❤️