
Welcome to My Life
(Selamat datang di hidupku)
-diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh simple plan, band asal Kanada-
***
Surabaya
Reka
Jika ada yang bertanya, siapakah orang yang paling dibenci?
Ia akan menjawab dengan lantang ... ayah.
Sebab sejak mengenal dunia, pria bernama ayah seolah tiada. Sosok yang seharusnya menjadi idola pertama itu lenyap, hilang tak pernah di sisi.
Hidupnya mungkin sudah berbeda sejak awal. Tapi jujur, harapan tentang kehadiran sosok ayah tetap tersimpan di hati.
Namun sayang, kenyataan lebih dulu menghempasnya ke dalam jurang kekecewaan. Bermula saat ia memergoki bunda sering menangis seorang diri. Dan memuncak ketika ia menemukan obat anti depresan di laci bunda.
Bibit benci terhadap sosok ayah yang memang sudah tertanam semakin menguat. Kemudian mengakar dan tumbuh subur. Bertambah rimbun sebab dipupuk rasa kecewa. Karena hal-hal sederhana yang idealnya menjadi sumber kebahagiaan, namun baginya justru menjadi pangkal kesedihan dan patah hati.
"GOOOL!"
Saat ia berhasil mencetak gol dan memberi kemenangan pada tim, tak ada pria dewasa bernama ayah yang memberi acungan jempol penuh kebanggaan. Seperti yang diterima oleh teman-teman lainnya. Kursi penonton miliknya bahkan lebih sering kosong.
Pun ketika ia pulang ke rumah dengan wajah babak belur usai berkelahi. Hanya menjumpai wajah cemas almarhumah mbah uti dengan segudang nasehat. Bukan pujian tentang keberaniannya menyelesaikan masalah dari sosok seorang ayah.
Hidupnya dipenuhi kesendirian dan berkalang kehampaan. Tak tahu harus melakukan apa selain melampiaskan kemarahan pada sekitar.
Sering ia bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah ketiadaan ayah disebabkan olehnya? Karena kesalahannya?
Lalu, apakah ia bisa membantu memperbaikinya?
Namun asa yang tersisa justru hancur terserak. Ketika suatu petang di sebuah restoran Jepang ayah berkata, "Ayah dan bunda akan berpisah."
Amarah yang terpendam menemukan pelampiasan, "Apa bedanya? Selama ini bukannya udah begitu?"
"Reka!" Bunda memberi peringatan. Tapi ia tak peduli.
"Bagaimana cara ayah menebus kesalahan?" Dan sorot mata penuh penyesalan dari seorang pria tanpa daya membuat lukanya kian menganga.
"Ayah sama bunda bercerai aja. Itu cara menebus kesalahan!" Teriaknya tanpa berpikir. Lalu berlari ke toilet dan menangis sebagai pecundang.
Ia memang membenci ayah, namun tetap menginginkan mereka bersama sebagai satu keluarga. Menyimpan asa kelak suatu saat meski entah kapan. Mereka benar-benar menjadi satu keluarga utuh yang sesungguhnya.
Tapi kenyataan telah merenggut impian. Ayah bunda benar-benar berpisah. Ayah bahkan semakin jauh karena dipindah tugaskan ke Jakarta.
Namun saat ia mulai bisa berteman dengan kekecewaan, bunda datang membawa luka baru.
"Bunda mau menikah dengan pakde Pram. Kakak setuju, kan?"
Pakde Pram, pria bertutur halus itu selalu bersikap baik terhadapnya. Sudah tak terhitung kebersamaan mereka dalam momen spesial yang menyenangkan.
Tapi hanya sebatas itu.
Pakde Pram tetaplah orang asing baginya. Bukan pengganti sosok ayah. Apalagi menjadi suami baru untuk bunda.
Tidak boleh terjadi.
Ia kembali dikuasai kemarahan. Kali ini lebih dahsyat. Menggulungnya ke dalam pusaran kekecewaan. Menghempaskannya ke jurang kesakitan mendalam. Namun ketika terbangun, seseorang yang tak terduga tengah tertidur di sampingnya.
Ayah.
Pria itu terlihat lebih segar dan selalu tersenyum. Penampilan yang jauh berbeda dibanding kali terakhir mereka berjumpa. Seperti ... seseorang yang baru?
Ia (berusaha) bersikap biasa. Diam dan kaku. Padahal ada begitu banyak kisah yang ingin diceritakan. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan. Dan ada begitu banyak harapan yang ingin dibagi.
Tapi lidahnya kelu. Tak mampu mengucap sepatah katapun. Meski pria itu menemaninya sepanjang malam. Membantunya memenuhi semua kebutuhan.
Bahkan setelah berhari-hari mereka berada di ruangan yang sama. Dengan sejumlah momen tercipta tanpa sengaja. Sampai pria itu pamit pulang ke Jakarta. Mulutnya tetap terkunci rapat, diam seribu bahasa.
"Sekarang Kakak udah sembuh ...." Bunda tersenyum senang. "Besok fitting jas, ya?"
Menurut pikiran pendeknya, hanya ada satu cara yang bisa menggagalkan rencana pernikahan bunda dan pakde Pram. Dan itu adalah ....
"Ayah ingin kita berteman." Kalimat aneh yang cukup menggelikan kembali terngiang.
"Oke, Reka ... Ayah tunggu di Jakarta." Namun ini yang paling penting.
"Wes mbok pikir tenan, ta (udah kamu pikir beneran)?" Filio, satu-satunya sahabat yang dimiliki, berkali-kali berusaha menggagalkan rencananya dengan sederet kebimbangan.
"Tenan (bener)." Ia benar-benar tak bisa dicegah lagi.
"Nek bundamu eroh yok opo (kalau ketahuan bundamu gimana)?"
"Tenang ae (tenang aja)."
"Nek bundamu ngamuk karo aku, yok opo (kalau bundamu marah ke aku, gimana)?"
"Gak lah (nggak). Wes talah (udahlah)."
Filio mendecak. "Dasar arek (anak) nekat. Kabarono lek wes teko rono (kabari kalau udah sampai sana)."
Sepulang latihan di klub, ia mengirim pesan pada bunda, belum bisa pulang karena harus kerja kelompok di rumah teman. Padahal, ia justru memesan taxi online untuk pergi ke stasiun.
...SURABAYA GUBENG....
Ia memandangi tulisan berukuran besar berwarna oranye sambil menghela napas. Berdiri canggung di antara lalu lalang orang dan kendaraan yang berhenti menurunkan penumpang ataupun mencari tempat parkir.
Perjalanan ini telah dipikirkan dan direncanakan matang-matang. Rasa gentar yang mencuat harus segera dimusnahkan. Agar tak membuatnya ragu atau bahkan memilih berbalik mundur.
Ia kembali menghela napas sebelum akhirnya memantapkan langkah berjalan menuju lobby. Mengantre di depan layar komputer untuk mencetak boarding pass.
Sambil menunggu antrean, matanya menyapu keseluruhan suasana stasiun yang sangat ramai. Terlihat sejumlah pria dewasa menyeret travel bag dengan wajah tergesa. Juga rombongan kakak-kakak bercarrier yang terlihat sangat keren. Ibu-ibu yang menuntun anaknya. Bayi yang menangis. Semua keriuhan tumpah menjadi satu. Namun sama-sama menjadikan stasiun sebagai tempat persinggahan. Baik bagi mereka yang hendak pergi maupun baru datang.
DUK!
Sebuah boneka jatuh tepat di kakinya. Disusul munculnya seorang anak kecil perempuan yang tersenyum lebar.
"Ituuuuh ...." Sambil menunjuk boneka di atas kakinya.
Ia segera meraih boneka tersebut dari atas lantai. Meniupnya agar terbebas dari debu dan kotoran. Kemudian menyerahkannya pada anak kecil tersebut.
"Maaciiih ...." Anak kecil itu tersenyum kegirangan.
"Makasih, Kakak." Seorang wanita tiba-tiba mendekat dan meraih tangan anak kecil tersebut. "Tufa, sayang ... mainnya jangan jauh-jauh."
Ia memperhatikan wanita tersebut menggandeng tangan anaknya menuju seorang pria. Mungkin suaminya.
Dan pemandangan bagaimana tiga orang asing tersebut bercengkerama berhasil mengusik hatinya. Seandainya ... tiga orang tersebut adalah ayah, bunda, dan dirinya. Alangkah berbahagia dan indah dunia.
Tak lama kemudian, gerbang check-in telah dibuka. Ia pun mengantre bersama calon penumpang lainnya.
"Pergi sama siapa?" Petugas yang memeriksa tiketnya memberi tatapan tajam.
Sambil menyembunyikan rasa cemas, ia mengedarkan pandangan. Beruntung, matanya dengan cepat menangkap bayangan anak kecil perempuan yang sedang memeluk boneka dalam gendongan sang ibu. Mereka telah lolos dari pemeriksaan boarding pass.
Ia segera melambaikan tangan. Dan yang lebih menyenangkan adalah saat anak kecil tersebut membalas lambaiannya.
"Itu," tunjuknya jelas berbohong.
Petugas mengembalikan boarding pass dan KIA (kartu identitas anak) miliknya tanpa mengatakan apapun.
Kini kereta mulai berjalan perlahan. Meninggalkan stasiun yang masih saja dipadati lautan manusia.
Kursi di sebelahnya kosong. Ini jauh lebih baik. Ia pun memasang airpods. Lalu mengatur kursi agar bisa menyandarkan kepala dengan nyaman.
Namun sebelum memejamkan mata, ia merogoh saku terlebih dahulu. Lalu membaca tulisan yang tertera di dalam boarding pass.
Kereta Api : Bima
Berangkat : Surabaya Gubeng
Tiba. : Gambir
Dan sebelum sempat memasukkan ke dalam saku, setetes air mata telah jatuh membasahi permukaan boarding pass.
Ia seorang pria. Tentu tak boleh menangis. Berusaha keras agar bisa terpejam. Tapi air mata kesedihan tak lagi bisa dibendung.
Sialan.
Dengan gusar ditariknya hoodie jumper untuk menutupi kepala dan sebagian wajah. Berharap bisa menyembunyikan seluruh luka dan air mata. Namun yang ada justru semakin menjadi.
'Aku hanya memanggilmu ... ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ... ayah
Jika aku tlah jauh darimu'
(Seventeen, Ayah)
***
Jakarta
Tama
Ia kembali pada kebiasaan (buruk) lamanya seperti ketika masih tinggal di Surabaya. Berhari-hari tak pulang ke rumah saat menangani kasus penting. Dan mengacuhkan dunia luar karena tengah melakukan penyidikan. Termasuk menonaktifkan ponsel pribadinya.
Konsentrasi terfokus sepenuhnya pada penyelidikan.
Welcome to my life (selamat datang di hidupku).
Kasus perampokan berdarah di siang bolong yang menyita perhatian masyarakat membuatnya terjun langsung mengawasi jalannya penyidikan.
Termasuk lanjutan kasus mafia tanah yang sempat mangkrak karena menyeret nama sejumlah pejabat untouchable (tak tersentuh). Kini mengalami kemajuan dengan berhasil ditetapkannya para tersangka.
Dan pagi buta ini adalah hari pertamanya pulang ke rumah. Setelah melakukan serangkaian penyidikan terkait kasus pembunuhan hakim agung bersama tim kobra.
Ia langsung tertidur karena kelelahan. Tak kunjung terbangun meski alarm penanda salat subuh sedari tadi terus berbunyi.
Ia baru sepenuhnya terjaga saat lengkingan suara Mike Tramp mengusik pendengaran.
Dengan mata berat seperti digelayuti pendulum, diraihnya ponsel dari atas nakas.
"Halo?"
Hening tak ada jawaban.
"Halo?" Ia menyipitkan mata.
"Jemput aku di stasiun!"
Dengan satu gerakan cepat dilihatnya layar ponsel.
My Son.
What the?
"Reka?" Ia hanya ingin memastikan tak sedang bermimpi.
"Ya! Jemput sekarang!"
***
Surabaya
Kinan
Sudah dua malam ia tidur di apartemen. Setelah menyelesaikan final meeting dengan team WO, fitting baju yang kedua, dan terapi di malam hari. Terlalu melelahkan jika harus pulang ke rumah. Apalagi esok paginya, ada jadwal praktek di rumah sakit.
Persiapan jelang pernikahan ini benar-benar menyita waktunya. Apalagi kemarin sempat pending ketika Reka masuk rumah sakit. Alhasil, beberapa kesepakatan yang belum final dengan beberapa vendor menjadi terbengkalai. Jadi begitu Reka pulih, ia langsung mengejar jadwal yang telah menumpuk.
Namun tak pernah mengira akan mendapat panggilan telepon mengejutkan di pagi hari.
Mas Tama Calling ...
"Halo?" Ia mengernyit heran. Bertanya-tanya tentang alasan apa yang membuat mas Tama menelepon sepagi ini.
"Aku lagi otw Gambir jemput Reka." Suara mas Tama terdengar emosional.
Reka? Ia tertegun.
"Halo? Kinan?"
"I-iya, Mas." Ia tergeragap. "Maksudnya gimana? Reka ada di rumah, kok."
"Coba kamu lihat ke kamarnya. Ada nggak?"
Ia mengembuskan napas panjang. "Aku ... lagi nggak di rumah."
Suasana mendadak sunyi.
"My God!" Suara mas Tama terdengar menggerutu. "Kamu nggak tahu Reka nggak ada di rumah, kan?"
"Damned, Kinan!" Mas Tama mulai memaki tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab. "How come (gimana bisa)?"
"Kemarin dia pamit kerja kelompok ke rumah temannya."
"Nggak cek ricek lagi?"
"Aku tipikal modern, Mas!" Ia mulai terpancing. "Memberi kepercayaan penuh pada anak. Jangan sampai anak merasa dimata-matai orangtua."
"Bullshit (omong kosong)!" Mas Tama kembali memaki. "Aku rasa kamu nggak menjalankan tugas sebagai ibu dengan baik."
"Jangan menghakimiku!"
"Enough (cukup)! Aku udah di Gambir. Kita bahas nanti."
"Yang pasti aku butuh penjelasan! Kenapa Reka bisa kabur ke Jakarta tapi kamu nggak tahu apa-apa!"
Ia mengembuskan napas panjang. Komunikasinya dengan mas Tama semakin kesini semakin bertambah buruk. Hal sederhana dan remeh selalu berakhir menjadi adu mulut. Sangat melelahkan.
Perpisahan yang awalnya berjalan cukup baik, kini memasuki fase asing yang membuat emosi di antara mereka berdua tak bisa terkendali.
"Halo, Mik, Reka ada?" Sambil harap-harap cemas ia menghubungi nomor Miko.
"Kemarin nelepon ... pamit mau nginep di rumah temen."
"Siapa nama temennya?"
"Kalau nggak salah ... Filio."
Ia mengembuskan napas lega. Filio adalah satu-satunya sahabat Reka. Ia juga telah mengenal kedua orangtuanya. Cukup mudah untuk mencari tahu alasan Reka kabur ke Jakarta dengan bertanya pada Filio.
Kini, ia mencoba menghubungi nomor Reka.
Terdengar nada sambung tapi tak kunjung diangkat.
Sampai panggilan kelima, tak ada satupun yang terangkat.
Reka ... Reka ... kamu kenapa, nak?
***