
Jakarta
Anja
Ia bergegas memasuki ruang tengah sebab keadaan di teras mulai memanas. Satu unit pasukan beratribut lengkap mengokang senjata mulai tak sabar ingin memaksa masuk. Padahal sespri dan dua petugas yang berjaga di pintu depan telah menjelaskan jika mas Tama akan segera keluar. Namun mereka tak bersedia menunggu meski mengetahui jika ruang tamu telah dipenuhi para tetangga dan kerabat yang hendak melakukan doa bersama.
“Tolong ajak Aran main di belakang, Teh,” pintanya tergesa pada teh Cucun yang tengah menyusun piring di atas nampan sebagai jamuan. “Jangan masuk sebelum saya panggil.”
Teh Cucun menatapnya keheranan. Namun sebelum baby sitter terbaiknya itu bertanya, ia lebih dulu menyerahkan Aran lalu menghalau mereka berdua agar lekas menuju ruang belakang. Di sana terdapat taman kecil dengan tanaman bunga dan rumput jepang yang rasanya lembut dan tebal jika diinjak. Aran bisa bermain mobil--mobilan sampai keadaan tak lagi memanas.
“Aran main sama teh Cucun dulu ya, sayang,” pesannya sambil mencium ubun-ubun bocah berambut lebat itu. “Bawa semua mobil-mobilan ke belakang, Teh.”
“Baik, Neng.” Teh Cucun terlihat menelan mentah-mentah rasa penasaran. “Ayo, kasep amis budi, kita main di belakang, ya.”
Aran sempat menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan sebelum dibawa pergi ke ruang belakang.
“Ada apa, Ja?” Om Laksmana yang baru selesai salat Maghrib berjalan menghampiri sambil mengenakan kacamata. “Ada ribut-ribut apa?”
Ia menggeleng tak tahu harus menjawab apa. “Nyari mas Tama, Om.”
Om Laksmana mengernyit seraya memanjangkan leher berusaha melihat ke arah ruang tamu. “Di depan ada Nurdian sama Heru, kan? Kok bisa ribut begitu?”
Ia buru-buru mengangguk. “Ada, Om. Tapi mereka maksa masuk. Aku panggil mas Tama dulu, Om,” ucapnya buru-buru sebab mulai terdengar teriakan saling bersahutan dari arah ruang tamu.
“Apa-apaan ini! Berani-beraninya buat ribut di rumah Kombes!” Ia masih mendengar kegusaran yang terpancar dalam suara om Laksmana ketika mencoba bertanya pada Umay yang duduk mematung di sudut ruangan.
“May, lihat papa Tama?”
Yang ditanya hanya menggeleng dengan tatapan kosong.
Ia mengembuskan napas panjang seraya mengacak rambut bocah itu. “Temani dekgam main mobil-mobilan tuh, di belakang. Jangan melamun terus, nanti kemasukan setan.”
Umay menatapnya nanar. “Sasa sama mas Reka pulang kapan?”
Ia langsung meraih kepala bocah itu ke dalam pelukan. Ia tak ingin menangis, rasanya sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata. Tapi pandangannya berkhianat dan mulai mengembun. “Ayo, main sama dekgam di belakang. Atau mau ngemil kue? Kue gulung buatan bi Enok nggak kalah enak sama buatan mama, kan?”
Umay menggeleng. “Aku boleh ke ruang tamu aja nggak? Mau ikut doain adik Asta.”
Ia kembali meraih kepala bocah laki-laki itu ke dalam pelukan. “Boleh sekali, Umay sayang. Boleh,” ucapnya dengan nada tercekat. “Tapi nanti ya, sekarang Tante Anja minta tolong Umay buat nemenin dekgam di belakang. Acaranya juga belum mulai kok. Please ...."
Umay sempat memandanginya sebelum mengangguk lalu melesat menuju ruang belakang.
Umay tak boleh melihat para petugas bersenjata lengkap itu memaksa masuk ke dalam rumah. Jangan sampai hati yang remuk redam kembali terluka.
“Di mana sih, Abang?” sungutnya sembari mengedarkan pandangan mengelilingi ruang tengah. “Kalau lagi keadaan genting gini suka ngilang deh, tuh orang. Suruh manggil mas Tama aja lama banget.”
Ia hampir mengomeli Cakra yang ternyata sedang berdiri mematung di depan pintu kamar utama, namun saat langkahnya mendekat, ia turut terpana di depan pintu tanpa tahu harus bersikap bagaimana.
Di sana, di kamar gelap gulita yang hanya berhiaskan seberkas cahaya lampu dari ruang tengah, dua sosok mengharukan tengah saling menguatkan, menangis tanpa suara.
Mas Tama dan Icad.
***
Tama
Seiring waktu, ia semakin menyadari bahwa sebertalenta dan sepotensial apapun kemampuan diri, akan selalu ada pihak yang merasa terancam. Sekuat apapun tekad untuk menjaga integritas, akan selalu ada waktu di mana berhadapan dengan situasi pelik. Masa di mana tak seorangpun bisa melindungi dan memberi jalan keluar kecuali Sang Maha Hidup.
GB belum terlacak keberadannya. Erik menyerah dan dipindah tugaskan. Seluruh tim tercerai berai. Tak lama lagi ia segera menyusul. Hanya sedang menunggu giliran.
“Kami bisa bantu.” Armand menemuinya di hari kedua Reka dan Sasa diculik. Beberapa jam sebelum sang sahabat dan putra semata wayangnya terbang menuju tempat di mana hukum tak bisa menyentuh.
“Nggak ada yang butuh bantuan di sini.” Komplotan sindikat penculikan anak yang membawa Sasa dan Reka dari sekolah telah diringkus. Dalam hitungan jam, mereka akan menemukan titik terang. Posisinya dengan Reka dan Sasa sudah semakin dekat.
Itu yang diharapkannya.
Sangat diharapkannya.
“Apa lu mengira ini perbuatan kami bertiga?” Armand menengadah memandangi langit kelam.
“Tak pernah terlintas.” Ia memang tengah menangani kasus yang secara tidak langsung bisa menyeret nama ketiga sahabat. Namun ia tahu pasti jika para sahabat itu telah mempersiapkan segalanya. Permainan tingkat tinggi tak jauh beda seperti penetapan tersangka KH sebagai eksekutor om Jusuf. Ada banyak KH KH lain di dunia ini yang rela menggadai kejujuran, kebebasan, dan harga diri hanya demi uang.
Apa yang tidak bisa dibeli di dunia ini? Coba sebutkan.
“Kami memang bukan orang baik.” Armand menghirup udara dalam-dalam seolah menegaskan bahwa setiap bait yang terucap berupa kejujuran. “Tapi kami pantang mengkhianati teman.”
“Gua percaya,” sahutnya cepat. Sebab kehormatan bagi seorang pria adalah kata-kata yang dapat dipercaya. Ia yakin, sekeji apapun sepak terjang ketiga sahabat dalam mempertahankan dinasti sendok emas, persahabatan mereka berenam memiliki tempat tersendiri.
Meski ia tak bisa memastikan apakah Armand, Rajas, Wisak berpikiran yang sama sepertinya.
“Kami bisa bantu.” Armand mengulang pernyataan yang sama. “Orang-orang Rajas sud__”
“Gua bisa menemukan anak-anak gua sendiri, Mand!” sergahnya cepat.
“Apa lu masih belum paham sedang berhadapan dengan siapa?” Armand terdengar berputus asa.
Ia turut menengadah memandangi langit kelam tanpa kelipan bintang. “Everyone has problems. Jangan melanggar batas.”
“Setiap penjudi harus punya strategi.” Armand mengembuskan napas panjang hingga suaranya terdengar seperti gerutuan tak setuju. “Sesuatu yang nggak gua lihat di sini. Lu bakal binasa kalau mempertaruhkan semua. Masih ada pilihan.”
Ia tersenyum hampa. “Ini pilihan gua. Nama baik hancur bisa diperbaiki. Tapi keluarga hancur ….” Ia menggeleng. “Lu kehilangan semua, bahkan diri lu sendiri.”
Prinsip terbaik yang pernah diambilnya yang meneguhkan diri di kala waktu telah tiba.
“Cari yang kalian inginkan!” ujarnya datar saat menemui satu unit pemuda penuh atribut mengokang senjata di ruang tamu. Helaan napas tertahan terdengar bersahutan di balik punggungnya. Om Laksmana kembali menyerukan protes menyebutkan pangkat kedudukannya juga jabatan papa di masa lalu. Namun masa di mana tak seorangpun bisa memberi jalan keluar kecuali memasrahkannya pada Sang Maha Hidup, harus dihadapi dengan penuh kehormatan.
“Ini surat perintah penggeledahannya, Pak.”
“Simpan saja dan jangan mengacau.” Ia tak mengacuhkan. “Ibu komandan kalian paling tidak suka rumah berantakan.”
***
Reka
Ini akan menjadi malam terlama dan menakutkan yang pernah dialami.
“Sasa dengerin Mas.” Ia mencoba menenangkan Sasa agar berhenti menangis. “Sasa nggak boleh nangis.”
Bukannya mendengarkan, Sasa malah semakin menjerit.
“Kan ada Mas di sini.” Ia menepuk dada berusaha memasang senyum selebar mungkin, meski sebenarnya takut setengah mati. “Masa udah sama Mas masih cengeng juga?”
“Sasa … takut ….”
Ia meraih bahu Sasa memastikan sang adik mendengarkan perintahnya baik-baik. “Kalau Sasa nangis, nanti om galak marah. Nanti kita nggak bisa pulang ke rumah.”
Mereka disuruh berganti baju, tangan diikat ke depan, dan diancam tak boleh berteriak. Lalu pria ompong kiri dan seorang bertubuh pendek menggelandang mereka keluar gudang. Keadaan di luar sunyi senyap. Satu-satunya penerangan berasal dari bohlam temaram di bagian depan gudang yang ketika diperhatikan seperti tempat penimbunan barang bekas.
Ia mendengar suara air mengalir dan binatang malam bersahutan. Berjalan tersuruk-suruk melewati medan tanah becek, jalan menanjak, berkelok, rawa-rawa, dalam kondisi gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Setiap beberapa meter sekali Sasa tersandung atau terpeleset. Ia berusaha menggenggam tangan sang adik agar tak jatuh terpelanting.
Setelah melewati pinggiran sungai berbau busuk, mereka tiba di ujung gang yang tak kalah temaram. Tak jauh dari gang terdapat lahan kosong dengan sejumlah mobil terparkir. Mereka lalu didorong memasuki mobil box berisi empat anak lain yang sedang tertidur.
Tak berselang lama, seseorang yang membanting pintu bagian pengemudi melajukan kendaraan dalam kecepatan sedang.
---------------
Ia terbangun karena pancaran sinar matahari yang menyusup melalui lubang angin di bagian depan kabin menyilaukan mata. Mobil terasa diam tak bergerak. Namun suara bising mesin terdengar begitu keras.
Ia lantas memperhatikan lubang angin yang berjumlah tiga baris dan memastikan celah tersebut memungkinkan mereka bisa melihat keadaan di luar.
Ia membangunkan Sasa bermaksud mengintip. Melewati empat anak laki-laki seusia Umay yang masih masih tertidur bergelimpangan. Dengan berjingkat-jingkat, ia mencoba mengamati keadaan di luar dan langsung terkesiap melihat kenyataan yang terlihat di kejauhan adalah lautan.
“Sasa haus ….”
Ia yang tak percaya jika mobil yang ditumpangi tengah berada di dalam lambung sebuah kapal bergegas mendekati Sasa yang mulai merengek.
“Sasa lapar ….”
----------------------
Klakson kapal yang berbunyi memekakkan telinga berhasil menghentikan rengekan Sasa. Ketika sekeliling mulai dipenuhi suara mesin kendaraan, pintu belakang box dibuka dari luar.
Seorang wanita paruh baya berwajah muram menaiki kabin membawa sekantong keresek hitam.
“Makan!” perintah wanita yang mengenakan baju berbahan wol berwarna cokelat kusam itu usai membuka ikatan tangannya. “Nih, air!”
“Makasih,” ujarnya cepat meraih sebotol air mineral dan sebungkus roti.
Ia mulai membuka seal botol air mineral untuk diberikan pada Sasa ketika wanita berbaju wol cokelat kusam itu mencoba membangunkan empat anak laki-laki yang masih tertidur.
“Sialan!” Wanita itu memaki menyebut nama binatang. Lalu berteriak menggedor sisi kabin bagian depan yang berbatasan dengan pengemudi.
“Ada apa?” teriak pria bertubuh pendek yang membuka gerendel mobil box. Dari celah pintu yang terbuka ia bisa melihat sejumlah bus dan truk tengah mengantre hendak keluar dari kapal.
“Ada yang sakit! Badannya panas!”
“Biarkan saja!” seru pria bertubuh gempal penuh amarah. “Tak akan mati!” Lalu menutup pintu dengan kasar dan menggerendelnya dari luar.
Wanita paruh baya berwajah muram itu lantas memangku anak laki-laki berkaos merah yang terlihat lemas dan sedikit sakit. Kemudian mencoba meminumkan air hingga bocah itu tersedak-sedak.
“Makan!” bentak wanita paruh baya itu sambil menjejalkan sepotong kue. “Jangan sampai mati! Merepotkan saja!”
Dari pergerakan mobil, ia menebak jika mereka telah keluar kawasan Pelabuhan. Sayang, ia tak sempat mengintip nama Pelabuhannya. Ia hanya bisa berharap semoga ayah segera menemukan keberadaan mereka.
Namun sepanjang perjalanan yang didapati hanyalah kesunyian, selain deru mesin mobil. Susana kabin yang teramat murung, Sasa yang kembali tertidur, tangan yang kembali terikat, bocah seusia Umay berkaos merah yang wajahnya mulai berpeluh dan terlihat kian lemah, wanita paruh baya berbaju wol cokelat yang terus menerus mengomel, tak terasa membuat kedua matanya basah.
Ia, entah berada di mana, dan merasa begitu ketakutan.
--------------------
Mereka berenam diberi makan nasi pada siang hari dan mendapat bonus sepotong roti jika para penculik bermurah hati. Bocah berkaos merah tak lagi berpeluh, namun masih terlihat lemas dan sering terbatuk-batuk. Tiga bocah lainnya tak pernah bersuara. Hanya duduk diam dan melamun dengan pandangan kosong meski wanita berbaju wol kusam selalu membentak setiap saat.
Mereka semua baru bisa mandi ketika mobil berhenti untuk berganti mobil lain. Biasanya para penculik beristirahat barang semalam di rumah seseorang yang kemungkinan besar satu komplotan. Lantas esoknya, ada satu atau dua anak baru yang ikut bergabung bersama mereka.
Wanita berwajah muram tak lagi menemani di dalam kabin. Pengemudi juga telah berganti, bukan pria ompong kiri. Tapi baju mereka masih sama seperti hari pertama. Ia dan Sasa sampai gatal-gatal di sekujur tubuh terutama tangan dan kaki hingga setiap digaruk akan berdarah saking gatalnya.
Sebenarnya, ketika mobil beristirahat di kabupaten Ogan Komering Hulu, ia berencana melarikan diri. Ia sudah memperhitungkan masak-masak segala kemungkinan sejak keluar dari Pelabuhan melintasi jalur Sumatera. Namun pria asing yang baru bergabung mengawasi mereka sejak berhenti di Way Kanan berhasil meringkusnya juga Sasa.
Ia dipukuli sampai telinga berdenging dan muntah-muntah. Mereka mengancam akan melemparkannya ke jurang jika melarikan diri lagi. Sasa yang melihatnya dipukuli menjerit-jerit marah. Namun ia merasa lega, sebab membuktikan Sasa masih memiliki cadangan air mata meski setiap hari dihamburkan untuk menangis.
Kini, mereka ber dua belas tengah menaiki mobil travel tua berwarna abu-abu kusam yang mesinnya terlalu menderu. Ketika mencoba mengintip keluar jendela, pendaran lampu jalan membantunya bisa membaca nama Kecamatan Tanjung Balai.
Mobil travel tua bergerak perlahan seperti keong menembus gelapnya malam menuju dermaga. Ia berharap mereka dicegat oleh polisi berpakaian preman seperti yang sering ditampilkan di acara favorit Umay. Namun sampai mereka menaiki kapal berisi sayur mayur, pisang, ubi, dan sejumlah pria dewasa berbekal tas ransel, harapannya tak pernah terkabul.
***
Pocut
Putra kelimanya lahir tanpa suara tangis. Meskipun Tama dan dokter bicara sangat perlahan, namun ia masih bisa mendengar perbincangan paling menyedihkan walau lamat-lamat.
“Sudah meninggal dalam kandungan ….”
“Keracunan mekonium ….”
“Kaki terlilit tali pusat ….”
Tak lama kemudian, Tama mendekatkan sesosok bayi mungil ke pipinya. Bayi yang benar-benar sudah seperti bayi. Kulitnya bersih dan berwarna kemerahan sama sekali tak berselaput, wajahnya tampan seperti sudah berusia sekian bulan di luar kandungan, dan senyumnya indah sekali seolah ingin memperlihatkan wajah penuh kebahagiaan pada kedua orang tuanya. Seolah ingin memberi kenangan terbaik bagi dirinya dan Tama.
Ia bahkan tak bisa menangis. Pun Tama, meski lengan pria itu terlihat gemetaran saat menggendong bayi mereka, namun tak ada air mata yang mengiringi. Tama bahkan meminta dokter memotret mereka bertiga sembari berbisik lembut di telinganya,
“Namanya Astakala Yuda ….”
Ia ingin ikut mengantarkan kepergian putra kelimanya ke tempat tidur keabadian. Namun kondisinya belum stabil. Tama berusaha meyakinkannya tetap tinggal di rumah sakit sekaligus berjanji mengantarkan Asta ke pangkuan Sang Pemilik Sesungguhnya dengan penuh kehati-hatian.
Hari ketiga pasca persalinan, Tama memindahkannya ke hotel. Ia meminta pulang ke rumah saja, tapi Tama bergeming. Ia sampai memohon-mohon agar bisa tidur di kamar Sasa, namun sang suami tak mengizinkan.
“Rumah masih belum kondusif, Ma. Nanti kalau keadaan mulai membaik, istriku tersayang pasti pulang ke rumah.”
Ia ditemani mamak dan bu Niar. Icad bersama Umay menyusul kemudian diantar Agam. Umay yang biasanya ceria, begitu memasuki ruangan langsung berlari menubruknya lalu menangis sejadi-jadinya. Icad masih seperti sebelumnya, tenang tak banyak bicara, namun memeluknya erat-erat seakan enggan terlepas.
Satu kejadian tak terduga menyelipkan sejumput kelegaan dalam sekian ketakutan, ketika ia tak sengaja mendengar Icad menerima telepon dari Tama dan menjawab dengan sebutan,
“Iya, Pa. Mama di sini sehat dan baik-baik aja. Papa nggak usah khawatir.”
Namun di malam hari, kelegaannya ternyata bersifat sementara. Sebab pengharapannya yang begitu besar akan pertolongan Allah untuk keselamatan Reka dan Sasa, kembali diterjang ketakutan yang menggoncangkan. Umay yang tengah asyik menonton televisi tak menyadari kehadirannya. Dan ia kembali terhempas ke dalam jurang penuh ketakutan.
“Kombes Wiratama Yuda terbukti menerima suap dalam kasus korupsi pembelian biji timah PT Rejasa Tbk ….”
“Aliran dana yang diterima Kombes Wiratama Yuda berasal dari konglomerat YG, salah satu direktur korporasi jaringan konglomerasi PARA Group ….”
“Mabes Polri telah memberikan pernyataan resmi tentang pencopotan Kombes Wiratama Yuda sebagai Dirreskrimum Polda Metro ….”
***
Keterangan :
Kasus YG ada di Bab 73. Step by Step, Everything Will be Fine