Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Extra 2 : Dibuang Sayang


(8)


Sinopsis :


Tama, perwira menengah berpangkat Kombespol yang sedang dalam proses perceraian, jatuh cinta pada Pocut, kakak ipar adik kandungnya sendiri.


Sedangkan Pocut, berasal dari keluarga tertuduh anggota GNM janda ditinggal mati dengan tiga anak yang masih kecil tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Karena ingin berkumpul kembali dengan almarhum sang suami kelak di surga.


Ini membuat Tama harus jatuh bangun meyakinkan Pocut, putra kandungnya dengan Kinan, ketiga anak Pocut, serta orang-orang terdekat mereka bahwa niatnya benar-benar tulus dan luar biasa.


Ketika akhirnya Tama dan Pocut menikah, ujian bertubi-tubi datang menghampiri. Mulai dari kehamilan kosong, kecelakaan, penculikan, fitnah suap, hingga puncaknya mereka kehilangan bayi pertama.


Namun ujian justru semakin menguatkan cinta. Tama, Pocut, dan keempat anak mereka sama-sama berjuang melalui masa sulit. Hingga ketika satu persatu masalah berhasil terselesaikan, Tama dan Pocut saling melempar senyum sembari berbisik, "Indahnya cinta di ujung masa penantian."


Author :


Sinopsis pertama RSK sebelum di tengah jalan menemukan ide Varsagod Du Kan Grata (VDKG), Blue Rhapsody (BR), dan BSK (masih rahasia ☺️🙏).


Alur awal RSK lempeng seperti jalan tol. Endingnya Reka tetap tinggal bersama Pocutama, fokus cerita lebih ke perjalanan Pocutama menuju dan setelah pernikahan. Tapi life is never flat, kan? Kisah BR nggak akan ada kalau Reka tetap stay bersama Pocutama.


Skip, next!


(9)


Pocut


Semalam, ketika Tama memberitahukan tawaran Armand tentang siaran langsung breaking news, ia hanya menggeleng. Pikirannya terlampau lelah dengan raga penat tak berkesudahan memikirkan keberadaan Reka juga Sasa. Tiga hari tanpa kabar berita kecuali satu-satunya telepon di sore hari waktu penculikan, telah mengandaskan setiap pengharapan.


Namun pagi ini, ia seolah memperoleh kekuatan baru. Tama dengan segala tekad berusaha menemukan dua buah hati mereka. Ia pun tak boleh ketinggalan berupaya. Bukankah kita tak pernah tahu usaha mana yang membuahkan hasil?


“Mama yakin?” Sepasang mata cekung kelelahan itu menatapnya ragu. “Semalam, aku terlalu antusias dengan tawaran Armand, jadi a__”


Ia menggenggam telapak tangan sang suami sebagai bentuk keyakinan. Lalu mengangguk tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.


Tama langsung merengkuhnya erat seakan mereka tengah berbagi rasa takut yang sama, sebelum akhirnya meraih ponsel dan berkata, “Mand, kami siap.”


Satu jam kemudian, orang-orang dari stasiun televisi mulai mengatur ruang tengah menjadi tempat untuk diadakan siaran langsung. Seorang pria yang datang bersama Armand menghampirinya seraya menyerahkan selembar kertas.


“Kami telah membuat script untuk Ibu.”


Tama yang menerima dan langsung membacanya. Namun ia diam-diam meremas genggaman sang suami bermaksud memberitahu takkan sanggup jika harus mengikuti keinginan pihak stasiun televisi. Di siaran langsung nanti ia takkan banyak bicara, ia hanya ingin memberitahu pada penculik agar mengembalikan Reka dan Sasa. Dan memberikan apapun yang diinginkan sebagai gantinya.


“Script terlalu panjang,” ujar Tama seraya mengeratkan genggaman mereka. “Istri saya hanya bicara sebentar selanjutnya saya yang menyelesaikan.”


Tanpa bertanya ataupun memberi penawaran, pria pemberi script langsung menyetujui permintaan Tama. Semua seakan berjalan begitu cepat sampai ia, dengan perut membesar dan mata sembab sebab berhari-hari menangis, telah duduk di bawah sorot kamera dengan lampu yang menyilaukan. Namun masih bisa merasakan bagaimana lengan Tama melingkari bahunya seolah berusaha memberi kekuatan, sebelum akhirnya ia mulai berucap dengan terbata-bata.


“K-kepada s-siapapun y-yang m-membawa b-buah hati k-kami … m-mohon d-dimaafkan s-seluruh k-kesalahan k-kami ...."


Ia semakin merasakan bagaimana Tama berusaha merengkuhnya.


“S-saya m-mohon … k-kembalikan m-mereka d-dengan s-selamat ….”


Ia berusaha menguatkan diri sendiri.


“M-mas R-Reka … S-sasa …." Bendungan air matanya tak lagi mampu menahan. "P-pulanglah, n-nak … a-adik m-menunggu ….” Ia mengusap perut membesarnya yang tiba-tiba terasa mengencang dengan denyutan di sana-sini. Tak lagi sanggup berkata, membuat Tama gegas mengambil alih keadaan.


“Kami, selaku orang tua Reka dan Sasa, sangat mengharapkan ….”


Author :


Alur awal di bab Into The Night, Grace mengajak Pocut tampil di acara TV punya Armand. Dari acara TV Grace, Pocut dan Lombok Abang semakin dikenal luas. Lalu Pocut membuka chanel YouTube sendiri dan boom, bu Oyes mendadak seleb 🤗.


Jadi ketika Reka-Sasa diculik, Armand menawarkan bantuan dengan menayangkan siaran langsung Pocut di 4 stasiun TV miliknya. Scene yang akhirnya diganti dengan curhatan Pocut menulis di buku.


(10)


“Saya mengimbau dan meminta dengan sangat pada siapapun yang membawa ananda Gemintang Rekata dan Cut Rumaisha … untuk mengembalikan mereka pada orang tuanya dengan selamat.”


“Masalah yang terjadi tolong diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan anak-anak yang tak berdosa dan tak bersalah.”


“Pemirsa, seminggu lebih setelah tragedi penculikan anak Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro, presiden akhirnya menyampaikan seruan moral pada para penculik agar ….”


“Presiden juga memerintahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk berkomunikasi dengan ….”


“Penculikan ini terjadi ketika Kombes Wiratama Yuda tengah menangani kasus ….”


Author :


Karena Tama sedang menangani kasus tingkat tinggi, penculikan Reka-Sasa terdengar oleh Presiden. Sampai akhirnya Bapak Presiden meminta penculik agar melepaskan Reka-Sasa. Scene ini diambil dari kisah nyata hampir 20 tahun silam. Ada yang ingat kasus apakah itu?


Ssttt, jawabannya disimpan dalam hati saja ya, readers tersayang.


Scene ini tak jadi tayang agar dalang yang sebenarnya tetap samar 🙈, dan BSK dengan segala teka-tekinya bisa release. Mianhae 🙏.


 


Tama


Sejak hari pertama Reka dan Sasa menghilang, pikirannya telah dipenuhi keyakinan tentang siapa dalang di balik semua. Namun pertemuannya dengan Wisak yang diatur sedemikian rupa oleh Armand perlahan mulai mengikis hal yang selama ini diyakini.


“Mereka akan baik-baik saja.” Wisak yang biasa bercanda kini berubah tegang dan penuh keseriusan. “Jangan pernah ragukan orang-orang Rajas. Lu hanya harus sedikit bersabar.”


“Kalian manfaatin gua dan keluarga gua sebagai pion?” Giginya gemeletuk menahan luapan amarah dan kesedihan yang beberapa hari terakhir mengombang-ambingkan keadaan. “Kalian men__”


“Who’s gonna tell him?” Armand lekas memotong ucapannya.


Namun Wisak menggeleng lemah tanpa ekspresi. “Kami memang bukan orang baik, tapi kami tak pernah mengkhianati teman.”


Author :


Awalnya, otak penculikan Reka-Sasa diceritakan terang benderang. Siapa hitam siapa putih dijelaskan dengan gamblang. Tapi nanti nggak seru lagi dong 😁, pembaca tersayang nggak bisa tebak-tebak buah manggis siapa penculik Reka-Sasa, nggak bisa mengira-ngira apakah ada sahabat Tama yang berkhianat atau justru menjadi penolong, dan yang terpenting tidak bisa menjadi cikal bakal BSK ☺️. Jadi scene ini, skip next!


 


(12)


Tama


Di belakang punggungnya masih terdengar letusan senjata api ketika pencarian akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil memotong jalan seorang berkemeja putih yang bereaksi atas kemunculannya dengan menodongkan senjata.


Dari jarak sekitar lima meter di antara suara desingan peluru, mereka sama-sama mengacungkan senjata yang tepat mengarah ke jantung.


Ia berusaha lebih fokus memusatkan konsentrasi ketika sosok di seberang justru mengendurkan kokangan lantas menurunkan senjata.


“I believe in you.”


Ia masih mengarahkan bidikan meskipun pria di hadapan telah mengangkat kedua tangan sebagai pertanda menyerah.


"Aku menyesal kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini."


Ia bergeming. Tetap berusaha fokus.


"Tahu apa persamaan kita, Tam?"


Ia mendengus kian memusatkan konsentrasi. Mengabaikan keringat dingin yang kemungkinan besar mempengaruhi ketepatan bidikan.


"We're a proud father and we only live for our family."


Ia menggeletukkan geraham dengan tangan gemetaran. Fokusnya mulai limbung dan konsentrasi terpecah. Pria di hadapan jelas telah membantunya menemukan keberadaan Reka dan Sasa. Bahkan membantunya dalam banyak hal.


Namun kesalahpahaman di antara mereka masih terus bergulir menghantarkannya menuju jurang kehancuran. Meskipun Wisak berusaha meyakinkan jika masalah telah dibereskan dan nama baiknya kembali bersih, sebab tuduhan menerima suap tidak akan pernah terbukti.


Tapi kedatangan pasukan bersenjata lengkap yang memaksa menggeledah rumahnya kian membenamkan masa depannya ke dalam kehancuran. Ia yang tak pernah menerima suap, dari siapapun untuk masalah apapun. Tak bisa mengelak saat bukti memperlihatkan sebaliknya.


Apa yang tidak bisa diputarbalikkan oleh para pemegang kekuasaan di dunia ini, sebutkan satu.


Tidak ada.


Selama siapapun masih bisa dibeli, maka apapun bisa diputarbalikkan. Salah dianggap benar, benar diposisikan salah. Tanpa ada penyelesaian berarti apalagi jawaban tentang kebenaran.


Begitulah bagaimana hidup berjalan manakala angkara yang berkuasa.


Ia masih berusaha keras memusatkan fokus pada sasaran ketika teriakan para anggotanya mulai terdengar mendekat. Pilihan teramat sulit yang semakin memborbardir logika dan perasaan. Ia seolah kehilangan kemampuan. Hingga keberanian tiba-tiba muncul bersamaan dengan teriakan pahit yang keluar dari mulutnya.


“Target zero!” Ia masih mengacungkan senjata dan beradu pandang dengan pria berkemeja putih. “All team, back off!”


Sosok di hadapan menyunggingkan seulas senyum.


“All team back off!” ulangnya sembari bergegas menurunkan senjata dan berbalik pergi tanpa pernah menoleh lagi. “Plan B, action! Target diperkirakan ...."


Akan selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan yang dibuat. Akan selalu ada pihak yang dikorbankan dalam setiap pilihan yang diambil. Takkan pernah lekang meski penyesalan datang mendera. Sebab hidup adalah tentang perpindahan dari satu pilihan ke pilihan lain, tentang melangkah dari satu masalah ke masalah lain. Tanpa ada kesempatan untuk menghindar.


 


Author :


Scene ke sekian yang batal tayang. Menjadi berkesan karena menggambarkan sisi emosional Tama di antara dua pilihan, mengutamakan tugas negara atau mengedepankan persahabatan. Dan apapun pilihan Tama, tak sesederhana yang terlihat.


Ayo, siapa bisa menebak di scene ini Tama sedang berhadapan dengan siapa? ☺️


Kali ini jawaban bisa ditulis lengkap dengan alasan 🥰.


Scene ini diskip next dimaksudkan untuk mempertahankan wilayah abu-abu ☺️, sebagai modal dasar premis novel BSK 🙏.


Dan juga pertimbangan agak tydack mungkin sese 9 ular bisa diserbu petugas 🥶 sampai terpojok one by one dengan ketua tim penyerbu 😬. Too drama, kurang make sense 😶.


Baiklah, readers tersayang semua, sekian scene dibuang sayang. Meskipun batal tayang, scene-scene ini tetap diarsipkan dan ada kemungkinan bisa dimunculkan di novel Sephinasera lain dengan judul berbeda atau bahkan ... muncul di RSK versi cetak? Aamiin. Kita bermimpi dulu, ya ☺️ untuk semua hal baik tentang RSK. Hingga kelak tiba waktu terbaik ❤️.


Sampai jumpa minggu depan 🥰.