
Surabaya
Tama
Ia masih beradu sengit dengan pemuda parlente berambut klimis yang memaksakan diri tampil elegan. Erik sama sekali tak membantu. Pria yang kini bertugas di Medan ini terlalu gelisah. Setiap hitungan kelima selalu mengganti posisi duduk. Sedangkan pemuda parlente di hadapan tak lebih dari bocah pemilik mesin pencetak uang yang hobi menggertak.
Aston Mulya, putra bungsu Johan Mulya, orang nomor tiga klan Parawihardja. Pemegang urutan kelima calon penguasa PARA Group. Dua tingkat di bawah om Jusuf yang terbunuh dan pria arogan yang dilaporkan menghilang.
“Sebagai pemegang kendali penuh PARA dalam kasus kematian JP, saya harus memberi tahu bahwa anda bisa habis kapan saja jika ikut campur.”
***
Jakarta
Pocut
Ia berkali-kali meminta maaf karena telah merepotkan. Tak mampu menjaga kondisi tubuh lalu muntah tanpa henti di toilet Mall, hingga Reka harus menghubungi bu Niar sebab kebingungan. Namun sang mertua justru mengingatkannya agar tak banyak pikiran dan beristirahat saja.
“Sekarang sudah ada yang harus dijaga.” Bu Niar merapikan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. “Lebih penting daripada memikirkan perasaan orang lain.”
Awalnya, sang ibu mertua berniat menginap di rumah sakit. Tapi ia tak sampai hati membiarkan pintu surga milik suami tercinta turut kelelahan menungguinya semalaman. Ia lantas meminta Reka menelepon Yuni agar datang ke rumah sakit.
Reka yang semenjak ia dipindah ke kamar perawatan berdiri mematung di kejauhan. Hanya memandanginya tanpa ekspresi.
“Makasih ya, Mas, udah bantuin Mama,” ucapnya sembari mengulurkan tangan berusaha meraih Reka agar mendekat. “Mama nggak apa-apa, kok. Jangan khawatir.”
Anak jelang remaja itu perlahan mulai mendekat, namun tak tersenyum ataupun mengangguk. Hanya terus memandanginya dengan raut mengeruh.
“Ibu?” Yuni langsung menghampirinya begitu bu Niar dan Reka pulang. “Apa ibu begini gara-gara saya panggilkan tukang pijit?”
Ia menggeleng. “Waktu itu kan yang dipijit kepala sama bahu aja, Teh. Sesuai keluhan pusing saya.”
“Alhamdulillah.” Yuni memasang wajah penuh kelegaan.
“Salah saya juga bulan kemarin nggak mencatat kalender. Jadi lupa haid terakhir kapan,” lanjutnya mengingat kealpaan yang dilakukan.
Rangkaian kepindahan mereka sekeluarga ke rumah Tomang, mendampingi anak-anak menyesuaikan diri di tempat baru, keriuhan Lombok Abang, dan kegiatan lain membuat konsentrasinya terpecah. Hingga melupakan kebiasaan mencatat waktu datang bulan.
“Besok Subuh Teh Yuni pulang saja, anak-anak harus ke sekolah. Banyak yang perlu disiapkan,” pintanya kurang enak karena harus merepotkan Yuni, bolak balik dari rumah sakit ke rumah.
Yuni memandangnya. “Di rumah sudah ada nenek Aden, Bu.”
Ia mengernyit.
“Datang pas Maghrib, diantar pak Cipto,” sambung Yuni. “Apa saya tetap harus pulang Subuh, Bu?”
Ia menghela napas seraya mengangguk. Merasa semakin tak enak karena harus mengikut sertakan mamak dalam episode kerepotan ini. “Iya, Teh, pulang saja. Tolong temani mamak ngurus anak-anak, ya.”
Pagi hari, Yuni pulang selepas Subuh dan kamar perawatan menjadi sepi. Ia berusaha tetap terjaga meski mata terasa berat. Ia lantas membaca-baca majalah yang disediakan sambil sesekali menguap. Namun ingatannya justru melayang pada kejadian semalam meski majalah gaya hidup berkelas kalangan atas terbuka lebar di hadapan.
“Janinnya sehat, kuat, tidak ada pendarahan di rahim. Tapi karena ini kehamilan kelima dengan riwayat blight ovum dan usia ibu yang memasuki fase resiko tinggi. Maka Ibu harus bed rest dan meminum penguat kandungan, jika ibu menginginkan bayi ini tumbuh sehat.”
Tanpa sadar ia mengelus perut yang belum menunjukkan perubahan berarti. Sembari mengucap syukur menggumamkan doa-doa kebaikan. Berharap kehamilan kali ini berjalan lancar, janin yang dikandungnya sehat tak kurang suatu apa hingga waktunya melahirkan kelak.
***
Tama
Ia terkejut begitu membuka pintu kamar perawatan Pocut mendapati mama berada di sana. Tengah menata makanan dan buah-buahan di atas meja.
“Alhamdulillah, janinnya sehat, detak jantung normal,” bisik mama ketika ia mencium dan memeluk. “Yang paling penting nggak ada pendarahan di rahim,” sambung mama sembari mengusap punggungnya.
Ia tersenyum mengangguk. Kemudian berjalan menghampiri tempat tidur di mana seraut pucat (namun baginya tetap memikat) tengah terlelap.
“Baru bisa tidur,” ujar mama sambil menyodorkan sebotol minuman bervitamin yang langsung disambar dan diteguknya.
Setelah puas memandangi Pocut dan memastikan sang istri baik-baik saja, ia bergegas membersihkan diri. Air hangat yang mengguyur perlahan mulai melemaskan ketegangan otot-otot. Menyegarkan tubuh serta menjernihkan pikiran yang semula ruwet.
“Aku istirahat sebentar, Ma,” gumamnya sambil menaiki tempat tidur dengan gerakan perlahan dan sehati-hati mungkin. Posisi tubuh Pocut yang terlalu ke pinggir memungkinkannya bisa merebahkan punggung di sana.
Sesaat sebelum benar-benar rebah, ekor matanya sempat menangkap reaksi mama yang menggeleng melihatnya bersiap memeluk Pocut.
“Sebentar lagi mama pulang, Tam,” ucap mama ketika ia tengah menikmati keharuman sulur-sulur halus yang berjuntaian milik sang istri. “Kamu di sini sampai kapan? Biar gantian sama Yuni yang nunggu.”
Ia mengangguk seraya terus menghidu aroma keharuman dan kelembutan yang meruar. Lalu berbisik agar jangan sampai membangunkan Pocut. “Sampai istriku boleh pulang, Ma.”
***
Pocut
Ia terbangun karena sesuatu yang hangat dan berat terasa merengkuh tubuhnya. Ketika membuka mata, dijumpainya wajah Tama tengah tertidur pulas. Jarak yang begitu dekat, hanya beberapa inci. Memungkinkan hidung mereka beradu jika ia menoleh.
Kapan Tama datang ke sini? Apakah sudah lama?
Tadi ia tertidur seusai Dhuhur. Seingatnya masih ada bu Niar yang sedang membongkar barang bawaan berupa makanan dan buah-buahan ke atas meja. Tapi sekarang tak seorangpun berada di sana, kecuali mereka berdua.
Apakah bu Niar sudah pulang?
Ia mecoba bangkit bermaksud melihat ke arah meja yang terletak di tengah ruangan. Namun sebuah kecupan hangat tiba-tiba mendarat di keningnya.
“Mas?” Ia menoleh hingga wajah mereka hampir bersentuhan. “Mas kapan datang?”
Bukannya menjawab, Tama malah menyembunyikan wajah dalam-dalam di sepanjang lehernya. Dalam posisi seperti ini, ia tak bisa melihat ekspresi wajah sang suami. Apakah benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura. Ia lantas mengulurkan tangan mengusap wajah Tama bermaksud membangunkan. Menyentuh dan mengusap rahang yang terasa kasar seperti parutan.
“Mas belum bercukur?” bisiknya kali ini sambil menelusupkan jemari membelai rambut sang suami.
Namun Tama tak kunjung menjawab. Justru semakin menenggelamkan wajah di ceruk lehernya, dengan lengan yang kian erat merengkuh.
“Alhamdulillah, aku hamil lagi, Mas,” bisiknya lagi sembari terus membelai rambut sang suami. “Tapi maaf, karena aku nggak menyadari kalau sudah hamil. Aku ….”
Embusan napas hangat yang membelai ceruk lehernya terasa lebih teratur.
“Tapi alhamdulillah, kata dokter bayinya sehat, kuat,” lanjutnya tanpa menghentikan belaian. “Tapi ….” Kalimatnya terhenti sebab merasa ada yang janggal karena terlalu sering menggunakan kata tapi. Seperti sedang mengemukakan banyak alasan atas keteledorannya tak mengetahui kehamilan lebih awal.
Ia buru-buru menelan ludah dan tak lagi berucap. Matanya lantas terpejam menikmati kehangatan rengkuhan yang menangkan. Ia sepertinya kembali ketiduran, namun urung tatkala mendengar suara pintu ruangan yang terbuka lebar diiringi gumaman anak-anak.
“Ih, lagi pada tidur.”
Itu suara Sasa.
“Iya. Jangan dibangunin.”
Itu sudah pasti Umay.
Ia segera mengusap wajah Tama berusaha membangunkan. “Mas, ada anak-anak.”
“Ssstttt!”
Itu desisan Reka.
“Mas?” Kali ini ia menepuk-nepuk pipi sang suami agar segera bangun. “Bangun, ada anak-anak datang.”
“Lho? Kok pada berdiri di pintu, nggak masuk?”
Suara riang yang terdengar menyenangkan pasti Anjani.
“Lagi pada tidur, Tante.” Sasa memberi informasi keadaan ruangan dengan cara berbisik. Namun ia masih bisa mendengarnya.
“Oh, iya, jangan berisik, ya.” Anjani mengiyakan.
Sementara ia masih berusaha menggoyangkan bahu Tama agar bangun. “Mas!” Ia mulai tak sabar. “Bangun! Ada anak-anak!”
“Hmm.” Sang suami memang langsung bangkit. Tapi dengan wajah mengantuk berat dan mata lengket.
“Halo, anak-anak.” Tama bergegas turun dari tempat tidur menuju sofa merah. “Papa masih ngantuk.” Lalu melanjutkan tidur di sana.
***
Pocut
“Mama dengar sendiri apa kata dokter?” Tama memberi tatapan menuntut. “Nggak boleh ada aktivitas berlebih, nggak ada turun ke dapur, nggak ada masak,. Dunia Mama sekarang ada di kamar ini.”
Ia mengangguk. “Iya, Pa. Tapi vleknya kadang berhen__”
“Mau ngevlek, mau enggak, Mama harus tetap bed rest.” Tama lantas merangkum bahunya lembut. “Istriku sayang, aku ingin anak kita lahir dengan sehat. Tolong kehamilan kali ini dijaga baik-baik.”
Ia patuh dan mengikuti seluruh nasehat dokter dan pesan sang suami. Tak pernah meninggalkan tempat tidur kecuali untuk hal penting seperti beribadah dan ke kamar mandi. Bosan? Sudah barang tentu. Ia yang terbiasa mengerjakan banyak hal, kini harus betah berdiam diri.
Seminggu pertama, ia mencoba mengisi waktu luang dengan menulis ulang resep masakan dalam buku agenda bersampul indah pemberian Icad.
“Mungkin Mama mau nulis,” ucap Icad ketika memberikan kotak berbalut kertas kado padanya. “Nanti bisa jadi kenang-kenangan seperti buku-buku tulisan ayah.”
Dua minggu usai dirawat, ia kembali mengunjungi dokter kandungan. Kali ini dokter rekomendasi Anjani.
“Janinnya sehat, ukuran bertambah sesuai umur. Tapi pendarahan yang berhenti tak berarti kandungan sudah kuat ya, Bu. Apalagi kehamilan Ibu termasuk resiko tinggi. Saya sarankan untuk melanjutkan bed rest.”
Tiga minggu setelah kunjungan ke dokter, vleknya benar-benar berhenti. Ia juga merasa lebih bugar, tak selemas minggu sebelumnya. Namun dokter tak menyarankan aktivitas berat, sebab ia terindikasi mengalami placenta previa.
“Apa membahayakan, Dok? Apa yang harus kami lakukan?”
Ia bisa merasakan aura ketegangan dalam pertanyaan Tama. Padahal sudah dijelaskan berulang kali pada sang suami, jika ia tak memiliki keluhan selama kehamilan. Bed rest selama berminggu-minggu benar-benar telah memanjakan dan menyiapkan tubuhnya menjadi lebih kuat menjalani kehamilan kelima ini.
“Kondisi placenta rendah.” Dokter Stella menunjuk layar USG. “Tapi tidak menutupi jalan lahir. Masih cukup aman. Saya sarankan jangan beraktivitas berat. Tetap jaga kehamilan sampai due date ya, Bu.”
Tama memintanya melanjutkan bed rest, tak memperbolehkan keluar rumah termasuk memintakan izin untuknya selama absen dari kegiatan para istri anggota. Tama juga meminta Anjani membelikan majalah dan buku-buku bertemakan kehamilan, anak-anak, serta keluarga untuknya.
“Biar istriku tersayang nggak bosan.” Begitu kata Tama.
Sampai suatu hari, sang suami pulang membawa kotak berpita yang diletakkan di atas tempat tidur.
“Laptop?” Ia terkejut sebab tak pernah menyangka.
Tama tersenyum mengangguk. “Mama bisa ngetik resep, bisa browsing biar nggak bosan,”
Namun yang menurutnya berlebihan adalah membelikan kursi roda.
“Mas?”
“Sebentar lagi Popprov.” Tama menatapnya. “Dan aku nggak bisa ngasih dukungan langsung. Jadi ….” Sang suami menggenggam tangannya. “Mama yang harus datang nyemangatin Reka. Biar nggak capek, pakai kursi roda.”
Akhir-akhir ini memang kesibukan Tama semakin berlipat. Ia sempat memergoki sang suami membentak lalu marah-marah di telepon. Ia ingin bertanya tentang apa yang sedang terjadi, mungkin ia tak membantu tapi minimal bisa menjadi teman bicara. Namun wajah lelah yang Tama tampakkan tiap pulang ke rumah mengurungkan niatnya. Ia memilih mengantarkan seluruh pertanyaan dan kegundahan dalam doa. Semoga Tama diberi jalan keluar dalam setiap masalah yang dihadapi, dihindarkan dari keburukan dan malapetaka, diselipkan kebahagiaan di hati, serta diberi keselamatan dan ditunjukkan jalan yang lurus.
Ia menyaksikan perjuangan Reka di Popprov bersama bu Niar dan mamak. Ketika akhirnya Reka menaiki podium juara usai berhasil meraih medali perak, ia tak kuasa menahan tangis haru. Seperti ini rasanya menjadi seorang ibu yang bangga akan prestasi sang buah hati. Kebahagiannya lantas bertambah manakala Icad mempersembahkan medali perunggu olimpiade matematika. Betapa nikmat kebaikan yang diterima begitu melimpah. Betapa kemudahan demi kemudahan mengikuti kehidupan keluarga mereka.
Seperti akhir pekan ini. Tak biasanya Tama berada di rumah. Umay dan Sasa langsung bersemangat menyusun rencana berhari Minggu bersama papa terfavorit. Sementara Reka dan Icad seolah tak mengacuhkan, tapi ia tahu dua bocah jelang remaja itu hanya malu untuk mengungkapkan perasaan. Terutama Icad. Sampai detik ini masih menjadi PR baginya karena memanggil dengan sebutan om Tama, bukan papa seperti yang lain.
Namun sore hari saat mereka bersiap pergi keluar, Agam dan seorang pemuda yang dikenalnya sebagai anak almarhum Haji Murod, datang ke rumah menemui Tama.
“Saya datang ke sini untuk menyampaikan amanat almarhum babe,” terang Ucup. “Babe pengin tanah kosong pinggir jalan dijual ke orang berpengaruh yang bisa memajukan kampung Koneng. Ada beberapa calon, tapi saya langsung kepikiran Bapak.”
“Dilepas berapa?”
Ia mengernyit mendengar harga fantastis yang ditawarkan. Menurutnya cukup mahal untuk daerah seperti kampung Koneng. Tapi sang suami lebih dulu memperlihatkan ketertarikan.
“Luasnya hampir seribu meter persegi, Ma.” Tama mengerjap seperti anak kecil menginginkan mainan impian. “Termasuk kebun kosong di belakang. Surat surat aman. Dekat ke rumah nenek. Anak-anak familiar dengan lingkungan di sana. Apa yang kurang?’
“Reka belum terbiasa.” Ia menggeleng.
“Reka anaknya adaptif, persis buapaknya.” Tama menepuk dada. “Kita ambil?”
“Harganya terlalu mahal, Mas.” Ia kembali menggeleng. “Mas juga belum membeli semua saham Selera Persada dari orang Jogja itu.”
“Cuma tinggal lima persen kurangnya.” Tama bersikeras. “Bisa lah dicicil. Tahun depan beres.”
“Lalu tanah seluas itu mau diapakan, Mas?” Ia mengernyit tak setuju.
“Ya buat rumah, lah.” Tama semakin bersemangat. “Rumah impian keluarga kita.”
“Apa Mas tak akan dipindah tugaskan lagi?” selidiknya ingin tahu.
Tama mendecak. “Pindah tugas itu pasti selama masih aktif. Tapi rumah ini … calon rumah kita yang baru akan dibangun ini … akan menjadi tempat kembali keluarga kita sejauh apapun pergi. Rumah impian, istriku tersayang.”
“Kita istikharah dulu, Mas.” Ia masih berusaha menahan keinginan sang suami. “Apa nggak mubazir nantinya kalau kita bangun rumah, lalu di tengah jalan Mas dipindah tugaskan ke luar daerah?”
“Siap, laksanakan!” Tama mengepalkan tangan ke atas. “Mama yang istikharah, Papa tunggu hasilnya.”
Namun ia sendiri cukup kesulitan menghadapi Tama jika pria itu telah memiliki niatan dan keinginan.
“Aku jatuh cinta sama lokasinya, Ma.” Setiap waktu Tama berusaha terus meyakinkannya. “Ini tempat ideal untuk anak-anak kita tumbuh. Termasuk yang mau lahir.” Tama mengelus perutnya yang telah membesar lalu menempelkan pipi di sana seraya berbisik. “Hey, baby, ayo bantu Papa bujuk Mama biar tanah itu kebeli.”
Hingga suatu hari, ia akhirnya menyerah. “Gimana baiknya menurut Mas saja.”
“YES!” Tama sontak merengkuhnya. “Terima kasih, istriku tersayang. Ini penawaran terbaik untuk kita. Kesempatan terbaik.”
“Tapi Mas harus izin dulu sama Uti,” bisiknya di dada sang suami.
“Loh, ngapain minta izin segala? Dhuwit-dhuwitku dhewe!” Tama menatapnya sambil tertawa. “Iya, Ibu komandan. Siap, hamba minta izin ibu suri, laksanakan!”
Rupanya Tama benar-benar antusias dengan rencana membangun rumah di atas tanah pekarangan yang dulunya milik Haji Murod. Bahkan begitu proses jual beli selesai, sang suami langsung mengadakan jamuan makan malam untuk arsitektur calon rumah mereka.
“Ri, rumah ini kado ulang tahun buat istri tercinta gua,” ujar Tama usai mereka menyantap hidangan. “Jadi, gua minta tolong lu desain sesuai keinginan istri gua.”
“Siap.” Pria yang datang tanpa membawa pendamping itu mengiyakan.
Seminggu kemudian, Riyadh kembali menyambangi ketika Tama sedang dinas luar. Kali ini, pria itu datang bersama seorang berwajah muda yang memperkenalkan diri sebagai,
“Aulia Adam, arsitek yang bertanggung jawab selama pak Riyadh berhalangan.”
***
Tama
Selama berbulan-bulan, Prasbuana masih tertahan di Sydney. Kasus hukum yang tengah dihadapi sang sahabat cukup pelik. Rajas yang sejak awal digadang-gadang paling bisa membantu Prasbuana pulang ke Indonesia, justru tak diketahui keberadaannya dan sulit dihubungi.
“Stay di LA sekarang,” terang Wisak ketika ia dan Riyadh menyambangi penthouse bujangan tajir itu. “Keadaan lagi nggak baik-baik aja, Tam.”
Terseretnya para konglomerat dalam dua kasus besar yang tengah bergulir cukup merisaukan banyak pihak. Meskipun nama-nama sekelas Rajas, Fidelis, Aston, tak bakal diumbar media. Namun opsi menyelamatkan diri lebih awal menjadi pilihan utama. Siapa nekat berjudi dalam ketidakpastian. Hanya orang tanpa harapan yang berani melakukan.
“Kalau nama gua … Rajas … Armand, keluar di kasus yang lu tangani. Apa tindakan lu, Tam?” Tiba-tiba Wisak mengemukakan pertanyaan aneh.
Ia terdiam cukup lama, tak langsung menjawab.
“Nama kalian nggak mungkin muncul.” Ia menghela napas berat.
“Dunia terus berubah, Tam.” Wisak tertawa.
“Surename kalian jaminan keamanan seumur hidup,” sambungnya dengan hembusan napas yang semakin berat.
“Nothing lasts forever.” Wisak tak lagi tertawa. “Tiada yang abadi.”
Riyadh yang sedari tadi diam mendengarkan, kini mengambil gelas minuman Wisak. “Lu campur apa minumannya?”
Wisak kembali tertawa. “Rajas ada alasan kuat pindah ke LA. Dia punya anak istri yang harus dilindungi. Sementara gua?”
Riyadh memberi kode padanya agar tak menghiraukan ocehan Wisak.
“Gua ulangi sekali lagi, Tam.” Wisak menggebrak meja. “Kalau nama kami bertiga muncul, apa tindakan lu?”
Riyadh menggeleng. Sementara ia belum memiliki jawaban.
“TAMA! ARE YOU THERE!” teriak Wisak tak terkendali.
Ia menelan saliva dan mulai dilanda pening. “Nggak akan ada nama yang muncul. Kalian punya banyak pion untuk dimainkan."