
Never Leave You, Really Love You
(Tak pernah meninggalkanmu, sangat mencintaimu)
***
Jakarta
Tama
"Pocut menyebutkan sejumlah syarat tertentu yang harus dipenuhi."
"Secara hitungan sangat mudah bagi Raka."
"Tapi seseorang mengatakan ... itu sebuah isyarat penolakan."
"Bu Cut Rosyida juga memberitahu ... kalau ada orang yang lebih dulu menyampaikan niat baik."
"Pocut tak pernah menyebutkan nama."
"Kapan kalian terakhir berkomunikasi?"
"Jangan mengulangi kesalahan yang sama, Tama. Mama sangat berharap ... kamu benar-benar belajar dari kegagalan."
"Pocut berada dalam dilema."
"Kalau Raka menyanggupi ...." Mama menatapnya dengan penuh penyesalan. "Semua berakhir."
Matanya menerawang memandangi hamparan tanaman bunga milik mama di halaman samping. Udara dini hari yang cukup menggigit sama sekali tak mengusik keinginannya untuk bergulung dalam selimut. Lebih memilih duduk di teras sambil mengisap rokok entah untuk yang ke berapa. Lalu mengembuskannya dengan kepala berdenyut.
"Waktu lebaran ... mba Harti kena serangan (stroke)." Mama menatapnya. "Sama kayak papa dulu, penyumbatan pembuluh darah."
"Tapi nggak ada riwayat komplikasi. Bisa pulih lebih cepat."
"Mba Harti berwasiat ingin melihat anak lelaki satu-satunya menikah."
"Dengan wanita manapun yang menjadi pilihan Raka sendiri."
Ia kembali mengembuskan asap putih. Hingga kepulannya memekatkan udara di sekitar. Membuatnya terbatuk-batuk sebab tenggorokan mulai terasa kering.
"Pocut tak menyebut nama ...." Mama menatapnya dalam-dalam. "Pilihan bijak menghindari kerumitan."
"Tapi Mama harap kamu bisa memahami artinya."
"Ini menunjukkan harapan."
"Pocut mengharapkan kehadiran seseorang."
"Bukan Raka."
Ia menggerus rokok yang belum memendek ke dalam asbak. Hanya untuk menarik yang baru kemudian menyulutnya. Benar-benar perbuatan sia-sia.
Kepalanya semakin berdenyut. Masalah Reka belum tuntas, tugas dan pekerjaannya sedang berada dalam tekanan dan intensitas tinggi, lalu sekarang ....
"Mama tadi sempat bertanya pada bu Ageng. Ingat sama beliau?"
Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk. Kenalan mama yang juga seorang budayawan dan guru besar ilmu sejarah. Memiliki satu acara televisi khusus yang mengupas tuntas tentang sejarah dan budaya masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Ia bahkan pernah menonton siaran langsungnya di studio stasiun televisi milik Armand.
"Pinangan bisa gugur meski Raka menyanggupi syarat yang diajukan."
"Sekarang semua ada di tangan kamu ...."
"Pocut sudah berusaha (dengan tak menyebutkan nama Tama di depan Raka). Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik. Tinggal bagaimana kamu memutuskan ...."
Dengan kepala pening diraihnya ponsel dari atas meja. Lalu menekan angka 1 hingga muncul satu nama,
Future wife.
Nada sambung langsung terdengar begitu ia melakukan panggilan.
Calling Future wife ....
Namun langsung dimatikan sebelum dering ketiga terdengar.
03.54 AM.
Dipandanginya layar yang masih menampilkan nama Future wife. Seminggu lebih telah berlalu sejak kebersamaan mereka di perpusnas. Selama itu pula ia tak pernah berusaha untuk menghubungi Pocut sekedar berkirim kabar. Bukti nyata jika sifat buruknya belum juga hilang. Melupakan semua hal saat pikiran sedang terfokus pada tugas dan pekerjaan.
Jarinya berusaha menahan layar agar tak redup. Matanya terus memandangi sebaris tulisan yang melambungkan asa. Namun bisa lenyap dalam sekejap jika tak bersegera. Sementara itu, dari kejauhan terdengar suara speaker masjid yang mulai mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pertanda jika waktu Subuh hampir tiba.
Ia kembali menggerus rokok ke dalam asbak. Lalu menguap sambil meregangkan badan. Berharap bisa mengurai kepenatan dan kepeningan yang dalam dua jam terakhir meningkat tajam. Kemudian beranjak masuk ke dalam rumah. Melintasi ruang tengah yang temaram.
Dengan gerakan perlahan mulai membuka pintu kamar tamu. Suasana gelap langsung menyambutnya. Namun pantulan lampu dari luar masih bisa menyelinap masuk. Menampakkan wajah Reka yang tengah terlelap.
Ia memandangi wajah putra semata wayangnya. Terlihat damai dan tenang. Tak ada kemarahan, kekecewaan, sakit hati, ataupun kehampaan yang nampak. Keadaan yang jauh berbeda dibanding saat terjaga. Kemurungan dan nestapa tergambar jelas. Mengusik rasa bersalahnya yang berujung pada kesulitan berkomunikasi.
Ia berjalan mendekat agar bisa memandang Reka dengan lebih jelas. Seperti sedang melihat gambaran dirinya di masa lalu. Muda, penuh gejolak, memiliki keinginan kuat, dan tak takut apapun.
Ia merapikan selimut ketika tubuh Reka mulai bergerak. Lalu bergegas keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Da!" Ia memutuskan untuk menghubungi seseorang yang diharapkan bisa membantu.
"Astaghfirullah!" Suara di seberang sana terdengar kesal campur terkejut. "Maaf salah sambung!"
Ia mendecak mendengar reaksi spontan Sada. "Bisa bantu nggak?"
"Apa salah dan dosaku sampai lupa nonaktifin hape."
"Siapa, Mas?" Suara lain terdengar, Dara.
"OTK (orang tak dikenal)."
Ia mendesis sebal mendengar jawaban asal Sada. "Baru pulang?"
"Yap," sungut Sada. "Baru merangkak ke kasur."
"Sorry." Ia memijat pelipis yang denyutannya semakin menjadi. "Just asking (mau nanya). Better (lebih baik) lepas asset atau jual saham Selera Persada?"
"WHAT?" Suara di seberang sana kini benar-benar terkejut. Pasti Sada langsung terbangun dan melotot mendengar pertanyaannya.
"Saving (simpanan deposito) and withdraw (penarikan -invenstasi-)ku nggak bisa mengcover semua," gumamnya sambil mengembuskan napas panjang. "Perlu dana lumayan dalam waktu singkat. Kamu sanggup tackle (atasi) yang mana?"
"Nggak gini cara mainnya," keluh Sada.
"Untuk sementara. Ke depannya bakal ku handle lagi begitu mulai stabil."
"What are you talking about (kamu ngomong apa, sih)? Ada masalah?"
Ia menghela napas sebelum menjawab, "Butuh dana buat kawin."
Detik itu juga gelakan tawa terdengar membahana tiada henti. Sialan memang adik yang satu itu. Bukannya gerak cepat memberi solusi tapi malah menertawakan.
"Kapan?" Suara Sada kembali normal.
"Secepatnya."
Begitu titik terang berhasil diperoleh, ia segera mengambil air wudu. Masih ada kesempatan sebelum azan Subuh berkumandang. Waktunya meminta pertolongan dengan tawakkal. Menyerahkan semua pada Sang Maha Hidup. Berharap keadaan dan urusannya semakin membaik.
"Berangkat pagi?" Tanya mama saat melihatnya sudah berpakaian rapi. Tengah menyesap kopi buatan bi Enok sambil membaca koran pagi.
Ia mengangguk.
"Sarapan dulu." Mama beranjak ke dapur. "Roti atau nasi goreng?"
Ia menggeleng. "Makasih, Ma. Nggak biasa sarapan."
Mama menoleh dan mengernyit. "Sarapan itu penting. Kamu pola makan masih aja nggak bener kayak bujangan."
"Agak siangan nanti," elaknya sambil melipat koran. "Biasa sarapan di kantor." Lalu bangkit dan mencium meraih tangan mama. "Berangkat dulu."
Mama menggeleng tapi tetap mengusap punggungnya perlahan. "Hati-hati di jalan."
Ketika berjalan melewati halaman samping, dilihatnya Reka tengah melempar bola ke dalam ring.
"Butuh partner?" Candanya saat bola jatuh dan menggelinding mendekati kakinya.
Reka berdiri termangu tanpa reaksi.
Ia segera mengambil bola dan memainkannya dengan memutar menggunakan satu jari.
Reka yang masih termangu menatapnya tanpa kedip.
Ya, tentu, talenta masa muda yang dulu sering dipamerkan ternyata cukup mempan untuk menarik perhatian miniatur dirinya.
"Bisa gini, nggak?" Tantangnya.
Reka mengambil bola lain yang tergeletak bebas di halaman. Mengarahkan ke udara lalu menangkapnya dengan jari. Dan bola mulai berputar dengan cepat meski hanya bertumpu pada satu jari.
Wow, good ones. Definisi dari like father like son.
Ia tertawa. "How bout this (bagaimana kalau yang ini)?" Ia membalikkan badan memunggungi ring dan mulai melempar tanpa melihat.
BRAK!
Terdengar suara pantulan bola yang menyentuh ring. Lalu,
DUG!
Bola mengarah tepat ke dalam ring. Masuk sempurna, three points.
Seulas senyum muncul di wajah Reka meski tak terlalu kentara. Mulai membalikkan badan lalu melempar seperti yang dilakukannya.
BRAK! DUG!
Another wow, 1-1.
Ia spontan bertepuk tangan. "Keren! Keren!"
Reka tak merespon. Kembali mengambil bola dan mulai mendribblenya. Kemudian melempar ke dalam ring.
"Baik-baik sama uti," ujarnya sambil melangkah pergi. "Ayah jalan dulu."
Reka tak menyahut. Karena telah sibuk melemparkan bola ke dalam ring berkali-kali hanya dalam waktu singkat. Hingga bunyi pantulan terdengar bertubi-tubi.
"Nuhun (makasih), Mang," ucapnya sebelum membuka pintu mobil. Karena telah dipanaskan mesinnya oleh mang Jaja.
"Mangga (silakan), Den." Mang Jaja yang sedang menyiram tanaman tersenyum lebar.
Begitu seat belt terpasang, ia segera melakukan panggilan.
"Halo, Mas?" Terdengar suara lemah dan serak dari seberang. Mungkinkah Kinan menangisi kepergian Reka sepanjang hari?
"Kapan kamu bisa datang ke sini?" Tanyanya tanpa basa-basi. "Kita harus bicara bertiga."
***
Pocut
Ia sempat terkejut ketika mengecek ponsel untuk melihat pesanan ayam tangkap hari ini.
1 panggilan tak terjawab
03.53 WIB
Kemudian beralih membuka kotak masuk. Namun tak menemukan satu pesan pun dari Kakak Anjani.
Ia terduduk di kursi seraya menarik napas panjang. Mungkinkah Tama sudah mengetahui berita tentang pinangan pak Raka? Jika iya mengapa tak mengatakan apapun. Apakah Tama marah? Atau hanya sedang sibuk? Atau justru tak peduli?
Ia terlalu malu untuk bertanya atau menghubungi terlebih dahulu. Sikap terbaik yang bisa dilakukan hanyalah menunggu. Meski entah sampai kapan. Karena petang kemarin pak Raka kembali datang ke rumah. Kali ini hanya seorang diri.
"Apa kamu sudah memiliki orang lain di hati?"
"Sengaja memberi syarat karena sedang menunggu orang pertama datang?"
"Apakah dia akan datang, Pocut?"
"Sampai kapan kamu akan menunggu?"
"Apakah tak ada kesempatan untuk saya?"
"Sebegitu istimewakah orang itu sampai kamu bersedia menunggu dan menepikan saya?"
"Saya sedang berpacu dengan waktu."
"Memenuhi satu harapan besar dari mama yang belum terwujud."
"Maukah kamu membantu saya, Pocut?"
"Saya bisa saja egois dengan memenuhi persyaratan yang kamu ajukan. Sekarang juga. Berkali lipat."
"Bukan hal sulit bagi saya."
"Tapi saya seorang pria. Ingin memenangkan pertarungan dengan cara gentle. Percuma saya bisa mendapatkan kamu tapi bukan hatimu."
"Ah ... kamu nggak akan membuat semuanya jadi mudah bukan?"
"Saya bisa mengerti. Untuk memperoleh sesuatu yang berharga memang harus melalui jalan terjal berliku."
"Meski penasaran ... tapi saya nggak ingin bertanya siapa orang yang membuatmu memperlakukan saya seperti ini."
"Kita ambil jalan tengah, bagaimana?"
"Saya beri kesempatan. Jika sampai waktu yang saya tetapkan habis dan pria itu tak kunjung datang. Saya akan terus maju."
"Saya akan datang kembali bersama mama dan keluarga besar untuk membuat semuanya menjadi jelas."
"Satu minggu cukup?"
"Saya bukan orang yang murah hati untuk urusan seperti ini."
Satu minggu? Dan ini hari pertama. Tersisa enam hari sebelum semuanya menjadi bubur.
"Hari ini ada berapa pesanan?" Mamak muncul dari balik tirai kamar.
Ia segera melihat ponsel dengan gugup. Membuka fitur pesan dengan tangan gemetaran. "E-empat."
"Nanti anak-anak terima raport?" Tanya mamak lagi.
Ia mengangguk. Tahun pelajaran ini penerimaan raport dilakukan dalam satu hari yang sama untuk semua jenjang pendidikan. Tiga anak, tiga tempat, dua sekolah yang berbeda. Harus bisa membagi waktu dengan baik.
"Hari ini biar aku yang menyelesaikan pesanan. Kau urus raport anak-anak saja," ucap mamak sebelum beranjak.
Ia memandang jam dinding. 05.50 WIB. Masih banyak waktu karena undangan dimulai jam delapan. Ia bisa menyelesaikan satu pesanan agar mamak tak terlalu kerepotan.
Volume suara televisi yang menyiarkan berita pagi terdengar sangat keras ketika ia keluar dari dalam kamar. Seperti biasa, Umay duduk manis di depan benda berbentuk tabung itu. Sementara Icad sedang membantu Sasa mengerjakan perkalian di buku mewarnai.
"Hitung pakai tangan gini, Sa." Icad mempraktekkan cara menghitung perkalian puluhan dengan menggunakan jari. "Lebih gampang, hasilnya akurat."
"Ah, pusing, ah! Nggak tahu!" Sasa mengendikkan bahu. "Jangan yang susah-susah, Abang ...."
"Gini ... gini ...." Icad dengan sabar memberitahu cara menghitung yang sederhana pada Sasa. "Kalau puluhan jari yang ini ditekuk ... terus ...."
"Kecilkan suara TVnya, May!" Tegurnya pada Umay yang terpana di depan layar. Mengikuti berita kriminal dalam sepekan.
Umay tak menjawab. Tapi volume suara televisi mulai mengecil meski sedikit.
"Lagi," ulangnya sambil membuka jendela dan pintu. Membiarkan udara segar pagi masuk ke dalam rumah. "Ini masih terlalu keras."
Umay diam saja dan volume suara televisi tak berkurang sedikitpun.
"May!" Ia melangkah keluar teras berniat untuk menyapu.
"Lagi seru, Ma," kilah Umay enggan memenuhi permintaannya.
"Tolong kecilk ...." Suaranya menggantung di udara ketika menangkap sesosok tegap sedang berjalan mendekat.
Ia hanya bisa tertegun, terdiam, dan terpaku.
Sosok yang kini sudah berdiri di depan teras itu tersenyum.
"Apakah ini ... rumah seseorang yang selama ini kucari?"
Ia menggigit bibir keras-keras. Menahan rasa haru yang dalam waktu singkat sangat mungkin bisa meloloskan air mata.
"Maaf ...." Sosok di hadapannya mengulurkan tangan yang sedari tadi tersembunyi di belakang punggung. Mengangsurkan pot berisi bunga anggrek berwarna ungu yang sangat cantik. "Membuat kamu menunggu."
Perlahan tangannya terulur untuk menerima.
Orang itu masih tersenyum. "Aku nggak bisa lama-lama."
Ia mengangguk. Terus menunduk memandangi anggrek ungu di telapak tangan yang gemetaran.
"Terimakasih sudah menunggu." Orang itu memasang tubuh tegap sambil memberi sikap hormat seperti dalam upacara resmi. "Aku pasti kembali. Semoga belum terlambat."
"Selamat pagi ...." Orang itu menurunkan tangan dari pelipis sambil setengah membungkuk. Lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
"Mama ... kok bengong?" Suara riang Sasa yang berjalan mendekat membuatnya tersentak. "Ada siapa sih di luar? Kok kayak ada suara orang?"
Ia buru-buru menyeka sudut mata yang telah basah.
"Kok mata mama merah?" Kini Sasa menatapnya lekat-lekat. Sasa bahkan menarik tangannya hingga punggungnya melengkung. Lalu memperhatikan wajahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Mama nangis, yaaaa? Tuh ... ada air yang netes di pipi ...." Sasa mengulurkan tangan menghapus air matanya.
"Mama kenapa, sih?" Sasa semakin tak terbendung. "Ada orang yang nakalin Mama?" Kini kepala Sasa berputar ke segala arah bermaksud mencari tahu.
Ia segera mengusap sisa air mata sebelum Sasa kembali ceriwis bertanya. Khawatir akan menarik perhatian dua kakaknya yang duduk di ruang tamu. Untung saja volume suara televisi cukup keras, hingga Icad dan Umay tak terlalu mendengar celotehan Sasa.
"Itu bunga dari mana?" Sasa menunjuk pot kecil berisi bunga anggrek. "Mama baru beli?"
Ia menggeleng dan mengangguk dalam satu waktu. Lalu berucap gugup, "Mama mau nyapu. Sasa udah selesai belum mengerjakan perkaliannya?"
Sasa menggeleng. "Susah ah, males. Mau main aja ...." Kemudian berlari menghambur ke rumah tamu. "Abang, kita main sepeda, yuk."
Ia menelan ludah berkali-kali sambil memandangi bunga anggrek di tangan. Dengan selembar kartu berwarna putih tertancap di dalamnya.
I'll never leave you.
(aku tak pernah meninggalkanmu)
Really love you.
(Sangat mencintaimu)
WY.
"Tepat tujuh hari setelah tewasnya hakim agung akibat berondongan peluru tajam oleh orang tak dikenal saat melintas di Jalan Kemanggisan Utama, Palmerah, Jakarta Barat. Petugas akhirnya berhasil meringkus satu dari empat pelaku di Bidara Ci na, Jatinegara, Jakarta Timur." Suara keras penyiar televisi membuatnya menoleh.
"Pelaku yang memberi perlawanan saat akan diringkus terpaksa dilumpuhkan dengan dua tembakan. Sampai berita ini diturunkan, tiga pelaku lainnya masih diburu oleh petugas."
"Ya, benar. Tim kami dari Polres dan Polda Metro telah berhasil meringkus satu pelaku di daerah Bi ...."
"Widiiih, keren, Bang. Om keluar lagi di TV!" Seru Umay antusias. "Kemarin aku hitung sehari bisa lima kali. Hari ini berapa kali ya kira-kira?"
Icad tak peduli karena sedang membantu Sasa mengeluarkan sepeda. Sementara ia bergantian memandangi bunga anggrek di tangan dan layar televisi yang menampilkan wawancara dengan seorang pria bertuliskan,
Kombes Pol Wiratama Yuda
Kapolres Metro Jakarta ....
Orang yang beberapa menit lalu berdiri di teras.
Never leave me (tak pernah meninggalkanku)?
***
Reka
Hari ini cukup membosankan. Setelah puas bermain-main dengan Aran si bayi gembul. Praktis tak ada hal menarik lain yang bisa dilakukan.
Suasana rumah sepi. Tante Anja pergi ke kampus. Om Cakra masih di Bandung. Uti sejak pagi hingga siang ini menjamu tamu.
"Aduuuh, saha ieu kasep (siapa ini ganteng)?"
"Mirip Tama waktu SMP ya, Ceu? Jaman-jamannya jadi si bolang di Malang."
"Kelas berapa, nak? Uti udah kalah jauh tingginya."
"Udah setinggi ayahnya," seloroh uti seraya tersenyum bangga ke arahnya.
"Mau tinggal di sini sama Uti? Di Jakarta?" Seorang wanita seusia uti meraih bahunya sambil terkekeh. "Nanti kenalan sama cucu nenek."
"Sama cucu kita semua. Biar nenek sampai cucu sama-sama berteman." Seru wanita yang rambutnya disasak tinggi.
"Oh iya, bener ...." Timpal yang lain penuh semangat.
Sementara ia hanya meringis malu tak tahu harus menjawab apa.
Ketika para tamu uti tengah sibuk menyantap makan siang, ia mendekat bermaksud meminta izin. Tadi sewaktu mengambil bola basket di garasi, ia sempat melihat sejumlah motor terparkir. Satu yang sangat menarik perhatiannya adalah motor trail berwana hijau.
"Oh, itu motor ayah Reka." Uti terkekeh. "Udah lama nggak pernah dipakai."
"Aku coba, ya."
Uti menatapnya dengan kening mengernyit.
"Cuma dipanasin doang sama keliling kompleks," pintanya sambil tersenyum manis. Setelan terbaik agar keinginannya terkabul.
Tapi Uti masih ragu.
"Di Surabaya udah biasa naik motor kalau disuruh mbah ke Indoapril." Ia masih memamerkan senyum dari telinga ke telinga.
"Di dalam kompleks saja." Uti mewanti-wanti. "Ingat, belum punya SIM."
"Bereeees!" Ia mengacungkan jempol. Sambil setengah melompat karena kegirangan. Lalu berseru memanggil mang Jaja.
"Mang, boleh kata Uti!"
***