
Rho Le Ie Mata Meunyo Tingat Masa Nyan
(Jatuh air mata jika mengingat masa itu -bahasa Aceh-)
***
Jakarta
Pocut
Selama ini, ia selalu berusaha mengabaikan pesan yang Tama coba sampaikan tiap kali mereka bertemu pandang. Pesan yang ia tahu teramat berarti bagi mereka berdua, namun sengaja ia tepis sejauh mungkin. Semata-mata karena tak ingin memberi celah yang bisa membuat pria itu memasuki kehidupannya.
Ia juga berusaha keras mengingkari gelenyar asing yang telah lama hilang tiap kali mereka saling berbicara. Menampik kenyataan bahwa kegugupannya bertambah berkali lipat saat Tama mendekat.
Termasuk mengesampingkan perasaan menyenangkan yang begitu mirip seperti dulu tatkala ia bersama Bang Is. Perasaan mendalam yang hampir terlupakan sebab tertutup gelayut mendung duka.
Tidak, ia menggeleng. Ini tak boleh terjadi. Ia harus segera menghentikan sebelum semuanya terlambat.
Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang seraya memandangi wajah lelap Sasa. Tangannya perlahan mulai terulur mengusap lembut pipi putri bungsunya itu. Membelai sulur halus yang terurai memanjang hingga menutupi bantal.
Ia kembali mengembuskan napas panjang. Saat ini, Sasa jelas menjadi titik kelemahannya dalam menghadapi Tama. Sasa yang jelas-jelas sudah terpaut hatinya pada pria itu. Sasa yang selalu antusias tiap kali bertemu Tama. Dan Sasa yang sudah menggantungkan harapan terlampau tinggi pada pria yang seharusnya mereka jauhi.
"Kemarin Nara bilang ... Sasa nggak punya ayah." Ingatannya kembali melayang pada obrolannya dengan Sasa beberapa waktu lalu.
"Sasa punya ayah kan, Ma?"
Ia mengangguk, "Punya, Sayang. Kan foto ayah ada di kamar nemenin Sasa tidur tiap hari."
Sasa menggeleng, "Bukan foto, Ma. Tapi ayah yang asli. Kayak ayahnya Nara, ayahnya Chika, ayahnya Zhie ...."
Ia mengusap kepala Sasa. Ketiadaan makam bang Is membuatnya sedikit mengalami kesulitan saat harus menerangkan keberadaan sosok seorang ayah pada Sasa. Sudah berbagai cara ia tempuh untuk menjelaskan tentang bang Is pada Sasa. Namun esoknya Sasa kembali menanyakannya lagi dan lagi.
"Ayah beneran yang suka anterin sama jemput ke sekolah. Yang suka beliin mainan baru. Yang suka ngajak jalan-jalan." Dua bola mata cerah milik Sasa menatapnya penuh harap.
Sementara ia hanya bisa membalas tatapan Sasa dengan hati trenyuh. Bingung dalam memilih kata yang tepat agar Sasa bisa mengerti dengan keadaan mereka.
"Kalau Sasa ingin sesuatu ... boleh nggak, Ma?" Sasa masih menatapnya dengan penuh harap.
Ia tersenyum lebar, "Boleh, dong. Sasa mau apa? Mau beli mainan? Atau ... mau jalan-jalan sama Mama ... sama Bang Icad, sama Bang Umay ...."
Sasa membalas senyumnya dengan mata membola, "Sasa pengin ... punya ayah."
Ia sontak tertawa.
"Yang kayak om ganteng itu, Ma. Om yang kasih Sasa boneka beruang sama baju princess." Bola mata Sasa mengerjap dengan polosnya. Dan ini membuat hatinya mencelos.
"Om yang pernah keluar di TV." Sasa tersenyum lebar lalu terkikik sendiri. "Bisa nggak Ma, om jadi ayahnya Sasa?"
"Mm ... kira-kira ... caranya gimana ya, Ma? Mama tahu nggak?" Mata Sasa kian mengerjap.
Tapi ia cepat-cepat menggeleng lalu berucap tegas, "Mama nggak tahu. Dan om itu nggak mungkin jadi ayah Sasa."
Sasa langsung cemberut, "Kenapa nggak boleh? Apa om nggak suka sama Sasa? Apa karena Sasa suka jahil sama Bang Umay? Apa karena Sasa ...."
"Sasa!" Ia coba memperingatkan. "Sasa punya ayah. Namanya Iskandar. Meski sudah meninggal, tapi ayah Is tetap ayah Sasa."
"Tapi Sasa nggak pernah ketemu sama ayah Is. Sasa lupa gimana ayah Is. Sasa nggak ingat ...." Sasa mulai merengek. Lalu sedetik kemudian berbalik memunggunginya sambil terisak-isak.
"Mama ... kenapa ... maksa ... Sasa ... buat ... ingat ... sama ... ayah ... Is ...."
"Sasa ... nggak ... bisa ... ingat ... tapi ... Mama ... maksa ...."
Dengan dada penuh sesak dipeluknya Sasa dari belakang. Awalnya Sasa berusaha menolak, tapi ia sedikit memaksa. Direngkuhnya tubuh mungil Sasa dalam dekapan.
"Mama minta maaf ...." Bisiknya sungguh-sungguh. Tak ada niatan untuk melukai hati putri kecilnya.
"Mama nggak akan maksa Sasa lagi. Nggak apa-apa kalau Sasa lupa sama wajah ayah Is. Tapi Sasa tetap rajin kirim doa ya buat ayah Is? Biar jalan ayah di sana terang ...." Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan dada sakit dan sesak bagai terhimpit batu berton-ton.
Namun ia bisa sedikit bernapas lega karena isakan Sasa mulai mereda. Sejurus kemudian Sasa telah kembali berbalik menatapnya, "Kalau Sasa rajin kirim doa buat ayah Is ... apa bisa bikin om ganteng jadi ayah Sasa?"
Ya ampun, Sasa. Ia hampir kehilangan akal menghadapi keinginan berlebih Sasa. Mungkin benar ucapan mamak tempo hari. Satu-satunya jalan adalah dengan menghadapinya. Bukan terus melarikan diri seperti yang dilakukannya selama ini.
Dilihatnya jam dinding yang terpasang di atas pintu kamar. Jarum panjang menunjuk angka 6. Sementara jarum pendek berada di antara angka 11 dan 12. Hampir tengah malam.
Tapi kakinya tak langsung melangkah keluar kamar untuk mengambil air wudu. Ia justru membuka pintu lemari, kemudian menarik laci yang berada di dalamnya. Meraih map berbentuk tas berwarna bening tempatnya menyimpan berbagai dokumen penting.
Usai menutup pintu lemari, ia mendudukkan diri di atas tempat tidur. Mulai membuka penutup map dengan gerakan terburu-buru.
Di dalamnya terdapat akta kelahiran ketiga anaknya, buku nikah, buku tabungan, ijazah sekolah miliknya, sertifikat rumah yang mereka tempati, dan beberapa lembar foto yang telah dilaminating.
Ia segera menarik lembaran foto yang berada di tumpukan paling bawah. Tanpa sadar senyumnya langsung lolos begitu memandang foto tersebut.
"Abang, lihat foto pernikahan ayah dan nyanyak (ibu, bahasa Aceh) han (tidak)? Kok tiba-tiba hilang dari laci lemari?"
Bang Is hanya mengulum senyum, "Coba ... cari dulu yang benar ...."
Ia langsung mengubek-ubek isi lemari dengan gerakan cepat. Foto pernikahan ayah dan nyanyak adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki. Jika sampai hilang, ia pasti akan sangat bersedih.
"Nggak ada!" Ia masih membongkar isi laci satu per satu. "Abang tolong bantu car ...."
Ucapannya langsung terhenti ketika matanya berhasil menangkap bayangan foto yang dicari. Dengan cepat, diraihnya foto yang penampilannya jauh berbeda dibanding kali terakhir ia mengingatnya.
"Abang?" Ia menoleh ke arah Bang Is yang masih mengulum senyum tanpa merasa bersalah.
Lalu kembali memandangi selembar foto di tangannya. Foto yang semula sudah mulai pudar karena berjamur itu telah berubah seperti baru dengan warna yang lebih cerah. Lengkap dengan lapisan plastik laminasi yang membuat foto menjadi lebih terlindungi.
"Itu foto paling bersejarah milik Adek cantek. Jadi Abang bawa ke studio foto untuk di repro. Sekalian di lam ...."
Bang Is tak jadi melanjutkan kalimat karena ia keburu menjatuhkan diri ke dalam pelukan. Menenggelamkan wajah dalam-dalam di dada Bang Is.
"Teurimong geunaseh (terimakasih) ...." Bisiknya dengan mata berkaca.
Ia masih tersenyum sambil memandangi foto pernikahan kedua orangtuanya. Telunjuknya mulai bergerak menelusuri wajah ayah dan nyanyak. Sembari membisikkan doa yang semoga bisa tersampaikan hingga ke alam barzakh.
Kemudian ia membalik foto dan mengusap tulisan tangan salinannya yang tertera di sana.
Kuala Leungou, Peureulak.
Pernikahan Teungku Imum dan Cut Aminah
Sembari memejamkan mata, kilasan ingatannya mulai melayang pada hari paling mencekam yang menjadi noktah gelap dalam perjalanan hidupnya.
Pagi yang seharusnya indah karena menjadi hari pertamanya masuk sekolah dasar, tiba-tiba menjadi petaka ketika sebuah bom meledak tak jauh dari sekolah.
Tak lama kemudian sejumlah tentara langsung memasuki gampong (desa). Ada yang memakai kendaraan, ada yang berjalan kaki. Mereka mengejar gerilyawan GNM (Gerakan Nasional Merdeka) yang baru saja meledakkan bom. Baku tembak tak ayal terdengar bersahutan memekakkan telinga.
Bu guru Zamzami langsung mengumpulkan mereka, anak-anak kelas satu ke rumah dinas. Hampir semua anak menangis ketakutan. Termasuk dirinya yang selalu melihat ke arah jendela. Berharap Bang Risyad atau Bang Umair datang menjemput. Seperti yang dipesankan nyanyak sebelum mereka berangkat sekolah tadi pagi.
Bu guru Zamzami berusaha menenangkan mereka dengan segala cara. Meminta mereka duduk di lantai dan menutup kedua telinga erat-erat. Namun meski begitu, suara keras baku tembak masih bisa terdengar. Seolah mampu menembus telinga meski mereka telah menutupnya rapat-rapat.
"Ka leuh pajoh bu (sudah makan nasi)?" Bu guru Zamzami mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan mengeluarkan rantang berisi bekal makanan.
Sejumlah teman-temannya sambil terus menangis mengangkat tangan tinggi-tinggi. Tapi ia bergeming. Selain karena sudah sarapan di rumah sebelum berangkat sekolah tadi. Ia juga masih berkonsentrasi memerhatikan pintu rumah dinas. Berharap bang Risyad atau bang Umair tergopoh-gopoh datang menghampirinya.
Bu guru Zamzami lalu meminta mereka untuk duduk berkelompok. Anak laki-laki dengan anak laki-laki. Lalu anak perempuan dengan anak perempuan.
Kemudian mulai membagikan sarapan untuk mereka semua. Dengan memakai kertas buku yang kosong sebagai alas. Mereka dipersilakan makan dengan menggunakan tangan. Mengunyah dalam diam namun diiringi suara rentetan tembakan yang kian memekakkan telinga.
Ia yang tak mempunyai nafsu makan hanya termangu di depan nasi dan lauk miliknya. Ketika suara teriakan, cacian dan makian terdengar makin mendekati rumah dinas. Disusul seruan pak guru dari kelas lain, yang memberitahu jika rumah di dekat sekolah mereka telah dibakar habis.
Ia yang masih termangu menatap pintu rumah dinas tergeragap ketika bu guru Zamzami meminta mereka agar berbaris. Lalu bersama guru dan anak-anak kelas lain, mereka diarahkan untuk lari dan bersembunyi ke bukit di depan sekolah.
Selama berlari ia berusaha mencari sosok bang Umair yang satu sekolah dengannya. Tapi tak berhasil menemukan. Sampai ia dan teman-teman sekelas tiba di atas bukit. Bersembunyi dan tiarap di balik batu. Takut kalau-kalau ada yang menemukan mereka.
Bu guru Zamzami meminta mereka untuk berdoa, mengucap sholawat sambil menutup telinga dan mata erat-erat. Tapi ia yang masih berusaha mencari keberadaan bang Umair tak mengindahkan perintah bu guru Zamzami. Tetap membelalakkan mata melihat ke sana kemari. Membuatnya bisa melihat di kejauhan. Di mana suasana mencekam terurai di depan mata.
Kepala anak kecilnya merekam gambaran rumah-rumah yang dibakar. Rentetan suara tembakan dari laras senapan. Orang jatuh tertembak bersimbah darah. Juga jerit kesakitan dan ketakutan warga yang rumahnya dibakar.
Namun ia sama sekali tak menangis melihat semua kejadian mencekam itu. Kepalanya justru dipenuhi oleh ketakutan karena mencemaskan keberadaan ayah, nyanyak, bang Risyad, juga bang Umair.
Ia baru menangis ketika mengingat ayah. Yang kakinya pincang sebelah sebab katanya terkena serpihan bom saat ia masih bayi. Karena ia tahu saat berangkat ke sekolah tadi pagi, ayah juga pergi ke ladang untuk panen.
Kini ia mengangkat pandangan dari tulisan di balik foto. Lalu memandang pantulan wajah dari cermin buram di hadapannya. Namun meski buram, air mata jelas terlihat menetes membasahi pipinya.
Ia pun buru-buru menyusut buliran yang sempat terjatuh. Lalu kembali memandangi foto lembar kedua. Di mana ia yang masih balita tengah duduk bertiga diapit oleh bang Risyad juga bang Umair.
Sama seperti tadi, ia membalik lembaran foto tersebut. Hingga nampak tulisan tangan miliknya yang tertera di bagian belakang foto.
Abdullah Risyad, 28 Oktober 198x
Abdurrahman Umair, 17 Agustus 198x
Pocut Halimatussadiah, 1 Juni 198x
Ia mengembuskan napas panjang. Mengingat hari di mana ia bersama teman-teman dan bu guru Zamzami harus bersembunyi di atas bukit hingga tentara berhasil menemukan mereka. Lalu membawa mereka kembali ke sekolah yang telah menjadi puing hancur berantakan.
Sejumlah orangtua telah menunggu kedatangan mereka di halaman sekolah dengan wajah cemas. Dan ia langsung berlari menghambur ketika melihat bang Risyad tengah berdiri kebingungan seperti sedang mencari-cari seseorang di antara kerumunan.
"Abang!"
Bang Risyad langsung tersenyum lebar menyambutnya.
"Ayah?" Menjadi pertanyaan pertama yang tak sabar dilontarkannya.
Bang Risyad mengangguk, "Di rumoh (rumah)."
"Bang Umair?"
Lagi-lagi Bang Risyad mengangguk.
Petang itu, ia pulang ke rumah digendong oleh bang Risyad. Sepanjang perjalanan, ia menyandarkan kepala ke punggung abang sulungnya itu. Merasa teramat tenteram dan tenang setelah mengalami hal paling menakutkan di hari pertama masuk sekolah.
Ia memejamkan kedua mata sembari menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan. Mengingat segala sesuatu tentang masa silam, selalu membuat hatinya dipenuhi oleh rasa sedih yang berkepanjangan.
Ia bahkan harus menelan ludah saat mengembalikan lembar foto kedua, lalu meraih lembar berikut. Tanpa melihat wajah-wajah yang tergambar di dalam foto terlebih dahulu, ia langsung membalik lembaran belakang yang menuliskan nama-nama di dalam foto.
Teungku Imum, Teuku Hamzah Ishak, Setyo Yuwono.
Ia kembali menelan ludah ketika akhirnya melihat foto tersebut. Yang memperlihatkan tiga orang pria tengah berdiri di depan sebuah surau. Masing-masing tersenyum lebar ke arah kamera. Seolah lepas tiada beban.
Ia harus menelan ludah entah untuk yang ke berapa kalinya. Ketika memperhatikan wajah pria yang berdiri tepat di sebelah kiri almarhum ayah mertuanya. Garis wajah pria muda yang mengenakan seragam berwarna cokelat itu terlihat begitu mirip dengan pria yang sudah membuat hatinya gelisah belakangan ini.
Telunjuknya terulur untuk mengusap wajah ayah yang sedang tersenyum lebar. Lalu beralih pada wajah ayah mertuanya. Terakhir wajah pria yang sontak membuat matanya terpejam.
Namun ingatannya justru melayang pada masa di mana ia sedang membantu nyanyak di ladang. Dua orang pria dewasa tiba-tiba menghampiri mereka. Menyapa nyanyak lalu mengabarkan sesuatu yang membuat nyanyak lunglai dan terjatuh. Hingga ia harus memapahnya pulang ke rumah.
Sesampai di halaman rumah mereka sudah banyak orang berkumpul. Termasuk bang Umair yang wajahnya memerah seperti habis menangis.
Ia lalu menyusul nyanyak terjatuh di lantai saat mendapati dua sosok tubuh sekaligus telah terbujur kaku di ruang tamu.
Ia bahkan tak menangis. Hanya bisa duduk termenung di bawah kaki ayah dan bang Risyad, yang tubuhnya hanya ditutupi kain batik warna kuning dan belum dikafankan. Bahkan darah dari luka tembak ayah dan bang Risyad masih merembes membasahi kain batik.
Saat itu, ia hanyalah anak perempuan berusia 12 tahun yang tak berdaya. Hanya bisa terdiam dengan air mata berlinang saat mendengar orang-orang menceritakan bagaimana ayah dan bang Risyad tertembak bersama tiga orang warga lainnya karena dianggap sebagai bagian dari GNM.
Ia ingin berteriak sekeras mungkin agar seluruh dunia tahu, "Ayah saya ... Teungku Imum ... hanyalah seorang guru ngaji dan pekerja di ladang."
"Dan abang saya ... Abdullah Risyad ... hanyalah pemuda biasa. Yang bercita-cita masuk kuliah namun terbentur biaya. Hingga harus puas hanya dengan membantu ayah mereka bekerja di ladang."
"Ayah dan abang bukan penjahat atau pemberontak."
"Mereka ayah dan abang terbaik."
Tapi tentu saja ia tak sanggup untuk berteriak seperti itu. Ia hanya bisa tergugu dengan mata menerawang. Berharap semua hanyalah mimpi buruk dan ia bisa segera terbangun dari tidur nyenyak yang paling menakutkan.
Namun keinginannya tak pernah terkabul. Sebab semua yang terjadi adalah kenyataan pahit yang harus ia terima.
***
Keterangan :
Kisah dirangkum dari berbagai sumber. Di antaranya dari artikel yang dimuat oleh tempo.co edisi 30 Juli 2003, jrs.co.id edisi 5 Februari 2010 dan berbagai cuplikan berita.