Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Extra 3 : Välkommen till Halmstad


Reka


Malam-malam panjang penuh ketakutan melebihi mimpi buruk manapun telah berakhir. Namun bayangan tentang gudang pengap, bohlam temaram, gemericik air, tanah becek berkelok, kabin di dalam mobil box, gelombang pasang, perjalanan melelahkan, ladang sawit gelap dan sunyi, semua masih terekam dengan sempurna. Menetap lebih lama dibanding ingatan tentang apapun yang coba ia munculkan sebagai penawar.


Pertemuan dengan om Sada di pos polisi, pelukan erat ayah di rumah sakit, tangis penuh keharuan bunda, berita tentang tertangkapnya para penculik. Tak mampu mengalihkan ingatan buruk yang terlanjur menggores. Pun dengan cairan infus yang membuatnya selalu ingin tertidur, tak sedikitpun melegakan perasaan.


“Jangan dipaksakan, Reka.” Tante Dara yang datang menjenguknya di Sunbay Medical Center menjadi satu dari sedikit orang yang berbicara dengan nada cukup menyenangkan. Bersama uti, tante Dara menemaninya di sisi tempat tidur tanpa banyak bertanya kecuali saat menawari seabrek makanan. “Biarkan semua perasaan mengalir apa adanya.”


Ia tak berniat merespon ucapan tante Dara, namun hati langsung mengiyakan. Sebab sebanyak apapun bayangan menyenangkan yang coba diingat untuk menepikan rasa takut, sampai sejauh ini belum membuahkan hasil. Ia justru semakin merasa ketakutan, kebingungan, dan gundah luar biasa. Rasanya seperti ingin meluapkan amarah, namun tak tahu pada siapa. Rasanya ingin memprotes apa yang terjadi, meskipun saat ini ia telah berada dalam keadaan baik-baik saja. Entahlah, ia merasa kebingungan sendiri dengan sikap seperti apa yang sebaiknya ditampakkan.


“Apa yang saat ini Reka rasakan, semuanya benar.” Tante Dara berkata sembari merapikan selang infusnya yang melintir. “Semua nyata, dan perasaan itu ada bukan karena kesalahan Reka. Kami ….” Tante Dara mengambil duduk di sisi sebelah kiri tempat tidur, berseberangan dengan uti yang telah duduk di sisi lain sembari menyusun blueberry ke dalam mangkuk. “Tante, Uti, ayah bunda, mama Pocut dan ayah Pram, om Sada … semua sangat mengerti dengan apa yang Reka rasakan saat ini.”


Ia menurut untuk membuka mulut ketika uti menawarkan blueberry. Entahlah, tante Dara dan uti sepertinya cukup mengerti tentang apa yang sedang berkecamuk di pikirannya. Om Sada jelas menjadi orang pertama dalam keluarga yang menemuinya dan Sasa di pos polisi selepas mereka keluar dari ladang sawit. Mama Pocut, sampai hari ini belum menemuinya. Ia cukup maklum sang ibu tiri tak turut menyusul ke Kuala Lumpur sebab sedang hamil tua. Sedangkan ayah yang bermata cekung dengan penampilan kusut masai, hanya menepuk-nepuk bahu dan punggungnya tiap kali menjenguk ke ruang perawatan. Ia mulai merasa, perilaku ayah kembali seperti dahulu saat ia masih tinggal di Surabaya. Dingin, kaku, tak banyak bicara, juga tak acuh. Ayah seperti bukan ayah yang dikenalnya selama berada di Jakarta. Tapi bunda ….


“Reka bisa memberi ruang untuk semua perasaan yang ada,” ucapan tante Dara memutus bayangannya tentang sikap bunda. “Ruang untuk dimengerti dan diterima, meski rasanya mungkin nggak nyaman, bisa jadi menyakitkan.”


“Karena dengan begitu, Reka sedikit demi sedikit bisa menjadi lebih lega,” imbuh tante Dara ketika ia kembali membuka mulut untuk menerima suapan blueberry dari uti. “Bisa lebih menerima rasa ketidaknyamanan. Sampai nanti Reka berada di satu titik, bisa menerima bahwa apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Dan Reka bisa merasakan bahwa keadaan sudah baik-baik saja. Nggak ada yang perlu ditakutkan apalagi dikhawatirkan.”


Entahlah, apa yang sebenarnya sedang ia takutkan dan khawatirkan? Apakah kenangan buruk tentang gudang pengap dan ladang sawit yang gelap? Atau ingatan tentang rasa lapar juga lelah yang mendera selama dipekerjakan di ladang sawit? Atau percakapan ayah bunda yang tak sengaja didengarnya beberapa malam lalu?  


“Reka harus ikut denganku, Mas. Aku nggak mau nyawa anakku terancam selama dia tinggal sama kamu, Mas.” 


“Kita tanya pendapat Reka. Dia punya hak unt__” 


“Aku lebih punya hak untuk menentukan masa depan terbaik untuk Reka! Dia harus ikut denganku, hidup denganku, dan tak lepas dari pandanganku!”


Selama itu, ia hanya bisa mematung di balik ruang tunggu dengan hati berdebar dipenuhi kekalutan.


“Aku nggak rela Reka harus tinggal bersama kalian di daerah konflik!”


“Kami akan pindah ke kota Poso, buka__” 


“Aku tetap nggak rela, Mas! Bagaimana dengan sekolah Reka, karier berenangnya, masa depannya? Ini semua demi kebaikan dan kebahagiaan Reka. Kamu jangan egois, Mas!”


“My God, Kinan!”


Kakinya mundur selangkah mendengar ayah berteriak. Sudah cukup lama ia tak mendapati ayah sedemikian emosional.


“Berani-beraninya kamu bicara tentang egois di depanku! Selama ini, kamu pikir siapa yang egois?”


“Aku nggak mau kita bertengkar, Mas. Ini rumah sakit.”


“Tenang, Tam. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”


“Ini urusan pribadi antara aku dan mantan istriku! Orang luar dilarang ikut campur!”


“Aku cukup memaklumi masa sulit kamu sekarang ini. Tapi aku suami Kinanti! Kamu nggak berhak berlaku kasar terhadap istriku! Jangan jual kearogananmu di depan kami! Kamu boleh jadi pimpinan hebat beranak buah banyak di luar sana, tapi di sini … kamu nggak lebih dari suami dan ayah yang gagal!”


“Sekarang berubah jadi ajang penghakiman? Kinan, kamu yakin mau melibatkan suamimu dalam masalah kita berdua?”


Tubuhnya meremang mendengar geraman ayah yang seperti banteng terluka.


“Cukup, Mas!”


Ia langsung berbalik pergi demi mendengar isakan bunda. Dengan langkah tergesa berjalan menuju tempat tidur. Hati yang masih terluka menjadi semakin remuk redam mendengar perdebatan dua orang yang paling disayanginya.


Mengapa ayah dan bunda tak pernah bisa bicara baik-baik dan selalu bertengkar?


“Reka?” 


Ia tergeragap menyadari panggilan tante Dara. “I-iya, Tan.”


“Tante bawakan ini.” Tante Dara memperlihatkan tas kain bercorak burung bangau warna-warni, lalu mengeluarkan setumpuk manga, buku mewarnai, pensil warna, dan barang lainnya. “Kalau-kalau Reka tertarik.”


Uti meletakkan mangkuk berisi blueberry yang tinggal beberapa butir ke atas nakas. Lalu menghampiri tante Dara dan mengambil buku mewarnai di tumpukan teratas. Mengamati sebentar dengan cara menjauhkan buku dari jarak pandang sebab sedang tak memakai kacamata. Kemudian berseloroh, “Wah, seri terbaru?” Uti lantas memandanginya dan tante Dara secara bergantian. “Uti belum punya yang ini.”


Tante Dara tersenyum seraya memeluk uti. “Spesial untuk Mama sudah Dara siapkan.”


Uti terkekeh sembari membalas pelukan tante Dara. “Kemarin ceu Rita bawa seri ke ….”


Tanpa sadar, ia hampir terbawa suasana menghangatkan di hadapan. Sepertinya seumur-umur, ia belum pernah mendapati bunda berlaku begitu akrab dengan uti seperti yang diperlihatkan tante Dara.


Kini, ia mulai merasa iri bercampur tak enak hati. 


Tidak. Ia mengembuskan napas panjang dengan penuh penyesalan. Rasa iri dan tak enak hati justru membawanya kembali pada malam pertengkaran ayah dan bunda. Bukannya menenangkan, malah semakin menggerogoti hati serta perasaannya hingga retak berkeping-keping tanpa tahu bagaimana cara untuk bertahan.


“Reka istirahat yang banyak, biar bisa cepat pulang ke Jakarta ya, sayang,” bisik uti ketika memeluknya untuk berpamitan hendak menjenguk Sasa di ruangan lain. Ia tak mengerti alasan mengapa mereka ditempatkan terpisah, padahal ruang perawatan yang ditempatinya teramat lega, cukup untuk dua tempat tidur pasien. Entahlah.


“Cepat pulih, Reka.” Tante Dara turut pamit begitu bunda dan pakde Pram memasuki ruangan. “Kalau ada abang dokter atau kakak dokter yang ngajak ngobrol, jangan ragu untuk cerita ya.” Tante Dara tersenyum. “Mereka ingin membantu Reka melalui semua, sama seperti kami.”


Ia mengangguk mengerti, merasa cukup senang bisa bertemu tante Dara. Meski belum mampu melegakan perasaannya. “Makasih, Tan.”


Setelah tante Dara menyusul uti keluar ruangan, ia lantas meraih remote untuk menyalakan televisi. Pakde Pram sempat menawarinya makanan, tapi ia menolak. Berusaha menenggelamkan diri di depan layar televisi yang tengah menayangkan serial drama fantasi di saluran Home Box Office.


“Wah, apa ini?” Bunda mendapati tas kain bergambar burung bangau pemberian tante Dara yang tersimpan di atas nakas. “Komik?” Bunda tersenyum seraya memperlihatkan manga judul favoritnya.


Ia hanya menghela napas dan kembali memusatkan perhatian pada layar televisi. Pun ketika bunda mendudukkan diri di sebelahnya, memeriksa tangannya dan memutuskan untuk membantu memotongi kukunya. 


“Aku bisa sendiri, Bun.” Ia berusaha menolak, tapi bunda bersikeras.


“Rasanya udah lama sekali … Bunda nggak motongin kuku Reka.” 


Ia hanya memandang bunda sekilas lantas kembali terpaku pada keseruan di layar televisi.


“Bunda ingin bisa motongin kuku Reka sampai kapanpun. Iya … Bunda tahu ….” Bunda tiba-tiba memotong ucapannya sendiri dan berusaha tersenyum. “Reka udah besar, bisa potong kuku sendiri, bahkan mungkin malu kalau harus dipotongin sama Bunda.”


“Tapi ... bisakah kita sama-sama terus, Reka?” Bunda menggenggam erat telapak tangan kanannya yang baru selesai dipotong kuku. “Bunda nggak tahu apa yang terjadi kalau kehilangan Reka. Kejadian ini membuat Bunda …." 


Ia balas menggenggam tangan bunda sepintas lalu. Sebagai pertanda bahwa ia tak ingin bunda sedih berlarut-larut.


“Bunda nggak bisa hidup tanpa Reka,” imbuh bunda dengan suara gemetaran. “Beda dengan ayah ….”


Ia mengalihkan pandangan dari layar televisi.


“Ayah masih punya anak-anak selain Reka … ayah dikelilingi banyak orang di sini. Tapi kalau Bunda … Bunda cuma punya Reka ….”


Ia tak mengucapkan sepatah katapun, termasuk ketika bunda mulai menangis sembari menciumi tangannya. Namun ia tak bisa untuk tak mengatakan apapun manakala ayah berkunjung di malam hari. Sebab ada begitu banyak hal yang ingin diluapkannya pada pria berwajah murung ini.


“Besok, Ayah dan Sasa pulang ke Jakarta. Mama udah kangen sekali sama kalian berdua. Mama nggak bisa nyusul ke sini karena ….” Selama berucap, ayah sama sekali tak menatapnya. Ayah terlihat menutupi sesuatu dan berusaha keras bersikap seolah semua baik-baik saja. “Reka banyak istirahat, lekas pulih biar cepat pulang ke Jakarta.”


Ia sudah menyusun sederet kalimat, sejumlah pertanyaan, dan ungkapan kekecewaan. Namun tak sampai hati mengatakannya demi melihat sosok kuyu di hadapan. Baru kali ini ia mendapati ayah begitu lelah dan terluka. Entahlah, ia hanya memberanikan diri mengucap hal lain yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kegelisahan yang tengah menggempur hati.


Konselor yang mendampinginya mengatakan, cara terbaik untuk melalui hari setelah kejadian menakutkan adalah dengan menyibukkan diri. Tante Dara sudah membawakannya banyak manga, namun ia sedang tak ingin membaca. Setumpuk buku mewarnai juga membuatnya  jenuh. Sementara menggambar ataupun menulis tak cukup menarik baginya. Sedangkan hobi memainkan rubik belum kesampaian. Pilihan lantas jatuh pada membuat origami, sepertinya bisa menjadi pengalih kecemasan.


Ayah mengangguk. "Besok Ayah bawakan."


"Yah?" ucapnya lagi sebelum keberanian menghilang dan kesempatan sirna. "Apa Ayah bisa bantu?”


“Tentu, Reka, tentu. Ayah harus melakukan apa?”


Ia merasa cukup lega ayah mau mendengarkan sekelumit kisah selama diculik bersama anak berkaus merah yang memberinya bakpao. Dan ia merasa semakin lega manakala ayah memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya seraya berkata,


“Jangan pikirkan yang lain, Ayah tunggu di Jakarta.”


Seandainya ia bisa memilih untuk tetap tinggal bersama ayah.


Namun sepertinya, harapan hanyalah angan belaka. Selain bunda yang di setiap kesempatan senantiasa memohon agar mereka bisa tinggal bersama. Berita tentang terancamnya karier ayah yang tak sengaja diketahuinya. Juga kebenaran ucapan bunda bahwa ayah dikelilingi oleh banyak orang yang menyayangi.


Ia hanya bisa terpaku melihat bagaimana ayah membimbing tante Pocut berjalan perlahan dari ruang tengah menuju kamar. Ia tertegun mendapati Sasa baru bisa tidur hanya jika digendong ayah. Ia terkesima menyadari betapa Umay begitu menuruti setiap perkataan ayah. Dan ia terpana mendengar Icad telah memanggil ayah dengan sebutan papa.


Ia berusaha melawan setiap serangan kegelisahan dengan menenggelamkan diri di buku mewarnai pemberian tante Dara. Mencoba melupakan wajah murung ayah saat mengajaknya mengunjungi makam adik Asta. Menyibukkan diri membuat seribu bangau kertas untuk menghalau keresahan. Rutin menyambangi ruang konseling yang justru semakin mencuatkan kekhawatiran. Bersikap abai terhadap semua obrolan bunda bersama pakde Pram tentang rencana besar membawa dirinya dan paklek Miko serta. Tentang pengurusan dokumen, surat izin tinggal, perpindahan sekolah, dan kerumitan administrasi lainnya.


Ia tak bisa memikirkan apapun dan tak mampu memutuskan apapun. Jadi, ketika suatu hari ayah mengunjungi hotel tempatnya menginap untuk memastikan keputusannya apakah akan bersama bunda atau ikut pindah ke Poso, ia hanya mampu menjawab lirih ….


“Maafin, Reka, Yah ….”


Mungkin, ini pertama kalinya, ia menangis seperti anak kecil yang takut kehilangan. Mungkin, ini pertama kalinya, ia menyembunyikan diri di balik bahu pria yang diam-diam telah dihormatinya. Mungkin, ini keputusan besar pertamanya yang membuat hati remuk redam. Perpisahan sesungguhnya belumlah terjadi, tapi perasaan dan hatinya telah hancur lebur tak bersisa.


Namun di balik semua kesedihan, perlahan ia menyadari satu hal yang selama ini terlupakan, bahwa keputusan apapun yang diambil dan dengan siapapun ia memilih untuk tinggal, kesedihan itu akan tetap ada. Sebab ia menyayangi keduanya, tak ada yang lebih atau kurang. Dan yang paling penting, ia tak ingin kehilangan salah satu di antaranya. Ia ingin mereka bertiga sama-sama utuh, meski takkan pernah bisa bersatu lagi.


“Ini bukan salah Reka.” Ayah menepuk-nepuk punggungnya. “Reka bisa temani bunda,” ujar ayah seraya terus menepuki punggungnya seolah mereka tengah saling berbagi ketegaran. “Reka bisa melanjutkan tugas Ayah yang gagal di tengah jalan. Reka bisa jagain bunda.”


Ia pernah merasa sangat marah pada ayah. Ia juga pernah begitu membenci sosok ayah. Ia berpikir takkan pernah bisa memaafkan ayah karena telah mengecewakannya dengan meninggalkan bunda. Tapi saat ini, ia menyesali semua tanpa kecuali. Ia tak pernah menyangka jika perpisahan ternyata lebih menyakitkan dibanding kemarahan dan kekecewaan manapun.


Ia, menyadari satu kenyataan pahit bahwa keberadaan orang tua, bagaimanapun keadaannya, apapun masalah yang menimpa keluarga, selalu memiliki tempat tersendiri yang tak tergantikan.


Dan salam perrpisahannya dengan ayah, seolah menjadi penanda jika perputaran waktu berjalan lebih cepat. Bunda dan pakde Pram yang bertolak ke Surabaya untuk mengurus perpindahan paklek Miko. Ia yang memilih tinggal di rumah uti agar jangan sampai melihat orang-orang berkemas. Dan hari perrpisahan yang semakin dekat.


“Mas Reka, kenapa nggak ikut kemas-kemas sama kita?” Pertanyaan Sasa menyambut kedatangannya dan uti di rumah Tomang.


“Enggak,” jawabnya singkat sambil menghampiri mama Pocut yang menunggu di depan pintu.


“Kenapa enggak?” kejar Sasa yang bersama Umay berjalan mengekorinya.


Ia tak menghiraukan keingintahuan Sasa, karena sedang mengobrol dengan mama Pocut. Ia lantas mengiyakan ketika ditawari makan. Sebab teringat pesan uti di mobil tadi, mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhirnya berada di rumah ayah. Apapun yang ditawarkan mama Pocut, tak akan ia tolak.


“Kata papa, Mas Reka mau pindah ke luar negeri, ya?” Umay turut bertanya ketika ia tengah mengamati keadaan ruang tamu yang tak berubah. Masih sama seperti yang melekat dalam ingatan.


“Kalau Mas Reka pindah ke luar negeri, nanti yang belain Sasa kalau Bang Umay jail, siapa?” Sasa melompat ke sebelahnya begitu ia mendudukkan diri di ruang tengah.


“Tenang, Sa.” Umay yang menjawab. “Abang nggak akan jail lagi ke kamu, kok. Abang udah insyaf.” Tiba-tiba Umay mendekat lalu memeluk Sasa. “Abang mau terus punya adik kayak Sasa. Meskipun Sasa kadang nyebelin dan tukang ngadu, tapi Abang tetep sayang.”


Sasa mengangguk-angguk patuh dalam kungkungan Umay. Namun sambil menarik-narik lengannya yang sedang mencari kertas origami di tas uti. Target membuat seribu bangau kertas belum terpenuhi, masih banyak kekurangan. Ia harus segera menyelesaikan sebelum waktu keberangkatan tiba.


“Kalau Mas Reka pindah ke luar negeri, terus Sasa juga pindah dari rumah ini, apa kita masih bisa ketemu?”


Ia menarik selembar kertas origami berwarna merah seraya mengangguk. “Masih.”


“Nanti kita ketemunya di mana? Kan udah sama-sama pindah, nggak di sini lagi?” Sasa kembali bertanya sambil menunjuk kertas origami yang tersimpan di atas meja. “Sasa juga mau lipat-lipat, boleh Mas?”


Ia lantas mengangguk memperbolehkan Sasa mengambil selembar kertas origami. Namun hanya bisa menjawab pertanyaan sang adik dengan gelengan. Sebab dari obrolan bunda dan pakde Pram yang tak sengaja ia dengar, kepindahan mereka ke Swedia bukanlah untuk setahun dua tahun. Ia memang belum benar-benar pergi, tapi ia tak tahu kapan bisa kembali.


“Mas Reka buat burung apa?” Umay ikut duduk di sebelahnya.


“Bangau.”


“Kenapa milih bangau? Bukan macan atau gajah?” Umay menunjuk kertas origami di atas meja bermaksud meminta izin.


Ia mengangguk mengiyakan. “Biar keinginan kita terkabul.”


Bola mata Umay membesar. “Bangau kertas ini bisa mengabulkan doa gitu, Mas? Wih, enak betul ….”


“Bukan bangau kertas yang mengabulkan doa.” Uti turut bergabung dengan mereka di sofa ruang tengah. “Tapi ada kisah di baliknya, cerita legenda. Umay mau dengar?”


Umay mengangguk, begitupula Sasa. “Sasa juga Uti, mau dengar.”


Uti lantas menceritakan legenda seribu bangau kertas. Sampai ia menyelesaikan satu bangau berwarna merah yang diberikannya pada Sasa. Lalu mama Pocut memanggil mereka karena makanan sudah siap.


Ketika ia mulai mengambil lauk untuk bersantap, Icad muncul dari arah ruang tamu bersama pak Agus. Dan langsung mengambil kursi di sebelahnya.


“Ada yang nyariin kamu sampai nangis-nangis di depan pagar,” bisik Icad di antara celotehan Sasa dan Umay. “Namanya Kejora ….”


***


Di hari keberangkatan ke Poso, ia meminta izin tak ikut mengantar ke bandara. Ia memilih menunggu di rumah uti sambil bermain-main dengan Aran. Ia tak ingin terlihat cengeng karena menangisi perpisahan. Tapi begitu Aran tertidur usai kelelahan bermain bola, dan teh Cucun sibuk di belakang, ia hanya bisa terpekur memandangi lego bunga mawar pemberian Sasa.


“Mas Reka jangan lupa sama Sasa, ya.”


Juga rubik berbentuk piramida milik Umay.


“Ini baru dibeliin papa, Mas. Susah banget nggak jadi-jadi. Aku kasih ke Mas Reka aja lah buat kenang-kenangan.”


Dan selembar kertas lukisan dari Icad. Ia sempat menghitung ada sembilan orang di sana. Selain wajah mereka berenam, ada juga gambar bunda dan pakde Pram, serta seorang pria berperawakan gagah di atas awan.


“Itu ayahku,” ujar Icad sambil lalu. “Aku gambar semua karena nenek bilang ... kita satu keluarga.”


Ia tinggal lebih lama di Jakarta menunggu pengurusan persyaratan kepindahan selesai. Ia bahkan sempat berlibur ke Bandung bersama tante Anja, om Cakra dan Aran. Tapi yang paling melegakan adalah, ia berhasil menyelesaikan seribu bangau kertas.


“Titip buat dipasang di rumah baru ayah, Om,” pintanya saat menyerahkan kotak berisi seribu bangau kertas pada om Cakra. Meski ia tahu, proses pembanguan rumah terhenti sebab kasus korupsi yang menyeret nama ayah masih bergulir.


Ia berharap, keberadaan seribu bangau kertas bisa membawanya kembali sejauh apapun ia pergi meninggalkan rumah.


***


Penerbangan panjang Jakarta – Doha – Stockholm menjadi pengalaman baru baginya. Pakde Pram lantas mengajak mereka tinggal di sebuah apartemen yang berada di tengah kota.


“Untuk perkenalan, Reka, sebelum benar-benar tinggal di sini,” kata pakde Pram. “Cuaca sedang nggak bisa diprediksi. Pagi hujan, siang panas, suhu cukup dingin, rentan alergi.”


Seminggu kemudian, barulah mereka terbang ke Halmstad. Kesan pertama yang dirasakan, cukup menyenangkan. Jalan raya yang lebar dan tak terlampau padat, deretan bangunan khas eropa, orang-orang bersepeda, suasana kental negara maju. Namun yang paling menarik adalah lingkungan tempat tinggal pakde Pram. Rumah dua lantai dengan halaman depan dan belakang yang cukup luas itu menjadi pemandangan paling menyenangkan. Tempat di mana ia akan melanjutkan hidup menemani bunda. Tepat seperti pesan ayah.


"Välkommen till Halmstad, Reka," bisik bunda seraya memeluknya.