
Jakarta
Pocut
Dari restoran, Tama mengajak mereka turun ke lantai dasar.
"Om sama mama mau foto dulu," terang Tama.
Sasa dan Umay berjalan paling depan. Memandangi setiap etalase yang mereka lewati dengan sorot takjub. Sesekali sambil berbisik lalu tertawa cekikikan. Icad dan Reka menyusul di belakang. Kompak berjalan beriringan dalam diam.
"Lurus, Sa," seru Tama ketika anak-anak terlihat kebingungan. "Studionya yang warna merah di depan."
Dari tempatnya berjalan bisa terlihat jelas sebuah gerai ekslusif dengan warna dominan marun. Berada di tengah di antara jaringan toko buku terkemuka dan toko ritel luar negeri.
Jejak Photo. Begitu tulisan dalam ukuran besar yang berhiaskan lampu neon berwarna senada.
Suasana di dalam gerai cukup ramai. Sejumlah orang terlihat mengantre di depan kasir. Sebagian lainnya duduk di kursi tunggu atau berkeliling melihat-lihat.
Tama langsung masuk ke dalam antrean. Sedangkan anak-anak asyik memperhatikan foto berukuran besar berdesain unik yang banyak dipajang hingga memenuhi dinding gerai bagian dalam.
"Ini." Tak harus menunggu lama, Tama sudah menyerahkan print out nomor antrean padanya. "Aku ambil baju dulu di mobil. Kamu ada yang perlu diambil nggak?"
Ia menggeleng. Sebab tak membawa bekal salin. Baju yang dikenakannya saat ini menjadi yang terbaik. Compact powder dan lipstik matte blossom pink yang dibelinya tadi pagi di toko bang Ahmad sebelum Tama datang menjemput, juga sudah tersimpan rapi di dalam tas.
Sambil menunggu Tama kembali dari basement, ia memilih duduk di kursi tunggu. Tepat di samping Reka yang sedang asyik bermain ponsel. Ia ingin menjalin pembicaraan, namun kesulitan memilih padanan kata untuk memulai.
"Reka?"
Bukan. Ini terlalu singkat. Sebaiknya sapaan yang bisa membuka obrolan panjang.
"Filio pergi ke mana sama keluarganya?"
Tidak. Ini juga terlalu detail. Reka bahkan belum memperkenalkan Filio padanya. Bisa-bisa, ia dianggap sebagai ibu yang sok tahu dan sok akrab.
Hingga sosok Tama muncul di depan pintu gerai, berjalan dengan langkah panjang sambil menenteng tas kertas berwarna hitam. Ia belum juga menyapa Reka.
"Aku ganti baju dulu." Tama menunjuk pintu warna putih yang terletak di sudut ruang tunggu bertuliskan fitting room di atasnya.
Ia mengangguk. Tanpa sadar menoleh ke samping, tepat di saat Reka juga sedang melihat ke arahnya.
Ia mencoba tersenyum.
Reka juga terlihat berusaha keras untuk tersenyum.
Mereka berdua akhirnya saling melempar senyum kikuk.
"Betah di Jakarta?" Menjadi kalimat tanya pertama paling tak terencana. Meluncur begitu saja keluar dari mulutnya tanpa dipikir panjang.
Reka yang tak lagi tersenyum hanya mengangkat bahu. "Lumayan."
"Tante ...."
"Reka ...."
Mereka mengucap kata dalam waktu yang sama. Ia kembali menoleh. Begitupun Reka.
"Kalau Reka ...."
"Kalau Tante ...."
Mereka kembali berucap secara bersamaan.
"Reka dulu ...."
"Tante dulu ...."
Kali ketiga berkata dalam satu waktu tak ayal membuat mereka sama-sama tersenyum. Ketidaksengajaan di luar kuasa sedikit demi sedikit mulai mencairkan bongkahan es yang menjadi penyekat dan membatasi mereka.
Namun sebelum ia berhasil meraih joran yang melambai-lambai di depan mata, seseorang keburu memanggil.
"Pocut." Tama yang baru keluar dari fitting room dan sudah memakai seragam lengkap berjalan mendekat.
"Ngelamun?" Tama menunjuk layar 32 inci penampil nomor antrean yang kini memperlihatkan angka 12F. "Giliran kita."
"Sebentar, ya." Ia sempat berpamitan pada Reka yang balas mengangguk. Bergegas mengekori Tama yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu kaca bertuliskan studio 1.
"Nggak dandan dulu?" Tanya Tama sambil membukakan pintu kaca untuknya.
"Memangnya harus?" Ia balik bertanya. Semalam, Tama hanya mengajak membuat pasfoto bersama. Tak sekalipun menyinggung tentang make up.
Tama memperhatikan wajahnya lekat-lekat. "Nggak perlu. Udah cantik ... banget."
Ia berjalan melewati Tama yang masih menahan pintu kaca untuknya sambil mendesis tak percaya.
"Paling itu." Tama menunjuk bibirnya. "Biar nggak kelihatan pucat di foto."
Ia menurut. Berjalan menuju cermin yang berada di sudut ruangan studio untuk menyapukan lipstik. Sementara Tama bercakap-cakap dengan fotografer yang akan memotret mereka.
"Kenalin, calon istriku." Tama menyambut kedatangannya dengan senyum terkembang. "Pocut, ini Saki, adiknya Aswin. Owner Jejak Studio."
Ia tersenyum mengangguk. "Pocut."
"Alsaki," balas pemuda yang terlihat seusia dengan Agam itu ramah.
"Keren dia," seloroh Tama. "Masih kuliah jam terbang fotografinya udah tinggi."
"Ah, Ndan satu ini." Saki tertawa menggelengkan kepala. "Modal numpang nama akang. Belum keren."
Sesi pengambilan pasfoto berjalan singkat. Awalnya mereka difoto sendiri. Baru setelah itu foto dalam posisi berdampingan.
"Sekalian foto bareng anak-anak?" Tama menoleh ke arahnya. "Bisa, Ki? Tapi belum reservasi di kasir."
"Siap, Mas." Alsaki mengangguk. "Yang mana anaknya? Biar saya panggilin."
"Ingat Reka nggak?" Seloroh Tama. "Lupa pasti. Terakhir ketemu waktu Reka masih bayi, kan?" Tama tertawa. "Biar kupanggil sendiri."
Sasa menjadi yang paling antusias. Berlari paling depan hanya untuk menubruk dan memeluknya.
"Mama .... cantik banget ... bibirnya merah ... Hihihi ...."
Umay menyusul sambil cengengesan. Diikuti Tama yang berjalan paling belakang. Merangkul bahu Reka dan Icad secara bersamaan.
"Wah, keluarga besar, Mas?" Alsaki terkejut melihat kemunculan anak-anak.
Tapi Tama malah tertawa. "Kita mainkan, Ki."
Dengan dibantu seorang pegawai, Alsaki mulai menyetting tempat dan background. Ia membantu menyisir rambut Sasa. Tama mengobrol dengan Umay. Sementara Reka dan Icad lagi-lagi kompak merapikan rambut di depan cermin. Namun tetap dalam diam. Tak sekalipun terdengar obrolan di antara dua ABG itu.
"Adik paling cantik bisa lebih dekat ke mama. Ya, bagus." Alsaki mulai mengatur posisi mereka.
"Abang Reka dekat ke ayah, bahu nempel dikit. Kanan lagi. Tipis. Oke."
"Abang kemeja kotak juga mepet dikit ke ayah. Agak miring ke kiri. Dikit aja jangan kebanyakan. Yak, sip!"
"Abang kemeja biru posisi udah bagus. Tapi bahu boleh dibuka, jangan bungkuk. Nah, begitu!"
"Semua lihat ke depan. Matanya diisi. Siap dalam hitungan ketiga. Beri senyum terbaik. Oke. Satu, dua, cheers ...."
"Kirim ke rumah, Ki," ujar Tama seusai pemotretan.
"Siap." Alsaki menyanggupi. "Paling saya minta alamatnya, Mas."
Kemudian Tama mengajak mereka kembali ke lantai utama. Memasuki sebuah gerai dengan pengaturan cahaya yang unik bertuliskan Sports and Beyond.
"Kita beli baju renang dulu," ujar Tama yang langsung ditolaknya meski sambil berbisik.
"Tidak perlu, Mas. Terimakasih. Anak-anak sudah punya."
"Tapi ada di rumah?" Tama tersenyum. "Habis ini kita langsung ke waterpark. Perlu baju renang dan teman-temannya."
"Sasa ...." Tanpa menghiraukan protesnya, Tama sudah beranjak mengejar Sasa.
Dan kepalanya mendadak berdenyut ketika Tama memperlihatkan dua set baju renang berdesain tertutup padanya dengan label harga fantastis.
"Polos? Motif?" Tama mengangkat keduanya.
Ia menggeleng. "Tidak. Terimakasih. Saya tidak bisa berenang."
Tama mengangkat alis. "Nanti kuajari."
"Bukan begitu ...." Ia mendesah tak percaya melihat Tama lagi-lagi tak mendengarkannya.
Dan Tama benar-benar tak menghiraukan keberatannya karena kini, Tama sudah berjalan mendekat sambil membawa sejumlah tas berwarna orange berisi barang-barang yang baru saja dibeli.
"Mama," bisik Sasa yang berjinjit ingin meraih lehernya. "Aku tadi dibeliin kacamata bagus sama om. Nih ...."
Ia memandang kacamata renang anak-anak warna pink yang dipegang Sasa sambil mengembuskan napas panjang.
"Bang Umay sama Abang Icad juga," sambung Sasa dengan wajah berbinar. "Kacamatanya baguuuus banget warna biru. Lebih bagus dari yang kita beli di pasar kaget, Ma."
Ia menatap Tama yang sedang bercanda dengan Umay. Mungkin mereka harus membicarakan ini. Ia tak pernah membelanjakan uang tanpa perencanaan matang. Karena memang tak ada yang bisa dihamburkan. Sementara Tama begitu luwes menghabiskan uang tanpa berpikir. Perbedaan yang teramat nyata di antara mereka berdua.
"Jalan ke mana kita?" Tanya Tama sesaat setelah melajukan kemudi keluar dari kawasan Mall.
"Snowdayyyyy!" Sasa dan Umay bersorak kegirangan. Sementara jok belakang tetap sunyi senyap.
Tama tertawa. "Sasa Umay udah berapa kali ke Snowday?"
"Belum pernah," jawab Sasa dan Umay kompak.
Detik itu juga Tama menoleh ke arahnya. Memberi tatapan aneh sambil bergumam pelan, "Kelak kita ajak anak-anak ke tempat terbaik yang harus mereka kunjungi."
Ia diam tak menjawab. Anak-anaknya memang jarang bepergian. Kecuali mengikuti program wajib dari sekolah. Atau piknik ke tempat sejuta umat yang harga tiket masuknya terjangkau.
Akhirnya.
"Lho, nggak ikut?" Tama yang sudah mengganti celana jeans dan polo shirt putih menjadi celana pendek hitam beraksen garis putih di bagian kanan depan dan dalaman kaos model slim fit warna putih, keheranan melihatnya belum memakai baju renang.
Ia menggeleng. "Di sini saja." Sambil menunjuk ruang rehat di dalam kabin VVIP yang disewa Tama.
"Om ... ayo Om! Abang sama Mas Reka udah duluan. Sasa ditinggalin." Tiba-tiba Sasa menarik-narik tangan Tama.
"Nanti nyusul, ya." Tama sempat tersenyum sebelum mengikuti langkah Sasa yang ingin segera masuk ke kolam.
"Hati-hati, Sa," serunya yang dibalas dengan senyum lebar dan lambaian tangan Sasa.
Dan dari tempat duduknya bisa terlihat, Reka memilih berenang di wahana kolam arus yang paling dalam. Icad masih betah di wahana ember tumpah. Umay asyik bermain perosotan memutar. Sementara Sasa di kolam anak dengan Tama berdiri mengawasi di pinggir.
Ia tersenyum-senyum sendiri melihat Sasa tertawa riang bermain perosotan. Umay yang mencoba berenang di kolam arus meski memilih tempat paling pinggir. Icad yang belum juga beranjak dari bawah ember tumpah. Reka yang berenang entah berapa kali balikan. Dan Tama yang berenang di kolam anak karena sambil mengawasi Sasa.
Ia juga memanfaatkan kamera ponsel untuk mengabadikan momen menarik anak-anak (dan Tama) di dalam wahana. Meski gambar yang dihasilkan kurang bagus karena jarak pengambilan foto yang terlalu jauh.
Tapi, sebentar ... kenapa jadi Tama yang mengasuh Sasa, bukan dirinya?
Ia mengembuskan napas panjang memandangi tas warna orange yang tersimpan di kabin. Di dalamnya terdapat baju renang hitam model tertutup dengan aksen garis berwarna putih persis seperti celana pendek yang dikenakan Tama.
Ia kembali melemparkan pandangan ke dalam wahana. Memperhatikan Reka, Icad, Umay dan Tama yang sedang berenang dalam satu garis lurus diiringi tepuk tangan dan teriakan Sasa di pinggir kolam.
Kemudian beralih menatap tas warna orange untuk kedua kalinya dengan masygul.
Menyusul atau tidak?
***
Tama
Ia merasa menjadi seorang pria. Dengan tiga anak lelaki yang sedang berenang di kolam arus dalam. Seorang anak perempuan ceria yang tak henti-hentinya tertawa riang. Dan seorang istri cantik yang setia menunggu mereka di kabin.
Damned!
Belum menjadi istri, Tama. Soon to be.
Impian mahal yang selama ini didamba. Kebersamaan dengan keluarga yang hangat dan menenteramkan. Saking merasa bahagianya, sampai-sampai tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikannya lekat-lekat.
"Mas Tama? Ya, ampun. Long time no see." Sebuah suara merdu tiba-tiba menyambutnya usai menyelesaikan adu cepat gaya dada dengan para anak lelaki.
"Yeeee! Mas Reka menang!" Tapi teriakan Sasa lebih menyita perhatiannya.
"Siapa menang, Sa?"
"Mas Reka juara satu." Sasa mulai berhitung menggunakan jari. "Terus Om, Abang, baru bang Umay!"
"Aku kok kebagian nomer buncit terus sih, Sa?" Sungutan Umay membuat mereka berempat tergelak.
Namun sebuah suara merdu kembali menyapanya. "Mas? Beneran ini Mas Tama, kan?"
Ia masih sempat melihat Sasa tertawa dan menjerit karena cipratan air yang dilakukan kakak-kakaknya. Sebelum menengok ke arah suara. Di mana seorang wanita dengan pakaian renang one piece sedang tersenyum ke arahnya.
"Samara?"
"Ya ampun, Mas. Kenapa menghilang ditelan bumi? Kemana aja? Aku sampai nanya ke anak-anak nggak ada yang tahu. Sibuk, ya?"
"Di sini?" Tanyanya seperti orang bo doh.
"Tuh." Samara menunjuk sekumpulan anak kecil seusia Sasa yang sedang bermain-main di kolam anak.
"Ngangon krucil ponakan." Samara terkikik. "Mas sendiri? Sama ponakan juga?"
Ia memandang Sasa yang tak lagi menjerit karena diciprati air. Sedang berbisik-bisik dengan Umay di pinggir kolam. Sementara Reka dan Icad tak terlihat batang hidungnya.
"Sama anak-anak," jawabnya sambil melempar senyum ke arah Sasa yang melambaikan tangan.
"Anak-anak?" Samara mengernyit heran dengan ekspresi menuntut penjelasan.
Tapi keburu Reka meneriakkan namanya. "YAH! Mau nyobain nggak?" Sambil menunjuk ban besar warna kuning yang sedang digotong bersama Icad.
Ia menoleh ke arah Sasa dan Umay yang bertepuk tangan. "Aku nonton dari balik pagar ya, Om!"
Ia menyeringai.
"Lho, Mas? Mau ke mana?" Samara keheranan melihatnya keluar kolam tanpa permisi.
"Meluncur," jawabnya singkat sambil menunjuk ban raksasa warna kuning yang sedang digotong Reka dan Icad menaiki tangga.
"Aku ikut."
Mereka bisa saja meluncur meski hanya bertiga. Karena bebannya sebanding dengan gabungan beban Reka dan Icad. Tetap bisa seimbang.
Tapi kapasitas ban raksasa adalah empat orang. Masih ada ruang tersisa dan Samara memaksa ikut. Tak ada yang bisa menolak.
"Anakmu, Mas?" Samara keheranan sambil menunjuk ke arah Reka. Ketika mereka sedang mengantre menaiki tangga menuju wahana. "Mirip banget."
Ia hanya tersenyum.
"Ya ampun, ganteng banget kamu, Dek." Samara berbinar-binar menatap Reka yang memasang wajah acuh. "Persis banget papa ya, Dek?"
Reka tak menjawab meski Samara memuji sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Keponakan ditinggal main sendiri? Aman nggak?" Tanyanya heran.
Samara tertawa renyah. "Kan ada encus (suster)."
Ia menggelengkan kepala. "Itu encus yang angon anak. Bukan kamu."
Samara kian tertawa sembari menepuk lengannya. "Mas bisa aja."
Mereka akhirnya meluncur berempat. Melewati lorong berliku dengan jalur turun dan menukik. Membuat ban terlempar ke lingkaran besar berbentuk corong minyak raksasa. Terombang-ambing naik turun serta memutar. Lalu terhempas ke dalam kolam besar.
Reka dan Icad berteriak sekuat tenaga sampai suara berubah serak. Sementara ia memilih memejamkan mata agar lebih menikmati sensasinya. Sama sekali tak menyadari jika Samara berpegangan erat pada lengannya sejak awal hingga akhir.
"Aku mau ke sana!"
"Sana!"
Reka dan Icad menunjuk wahana yang berbeda.
"Ayah di sini dulu," ujarnya sambil berenang ke tepi. Dengan Samara yang ternyata masih berpegangan erat.
"Serem, Mas."
Ia berusaha melepaskan cengkeraman Samara dengan naik ke pinggir kolam. Sementara Reka dan Icad terlibat perdebatan kecil tentang wahana mana yang akan dinaiki lebih dulu.
"Aku ikut!" Seru Umay yang menyusul mereka ke kolam. Di belakangnya mengikuti Sasa yang menggigil kedinginan.
"Pilih yang Umay bisa ikut, Ka, Cad." Serunya sambil menyelam kembali ke dalam kolam. Karena Samara masih menempel erat. Baru bisa duduk di pinggir kolam setelah Samara melepaskan cengkeramannya.
"Mas nggak pernah angkat teleponku." Samara mengikutinya duduk di pinggir kolam. Dengan kaki mempermainkan air hingga berbunyi kecipak-kecipak. "Pesanku juga nggak pernah dibalas. Sebel, deh."
Ia tak menjawab. Melambai ke arah Sasa yang sedang berdiri kedinginan agar mendekat. "Sini, Sa."
"Sibuk sih sibuk, Mas. Tapi masa nggak ada waktu buat aku?"
Ia menggaruk kepala yang tak gatal. Memilih untuk menoleh ke arah Sasa yang sudah berdiri di sampingnya. "Kedinginan? Mau udahan?"
Tak menghiraukan tatapan curiga Samara yang langsung mencecar dengan pertanyaan. "Siapa, Mas? Keponakan? Oh ... anaknya Sada, ya?"
"Bukan," jawabnya singkat bersamaan dengan anggukan Sasa.
"Yok." Ia bangkit dan keluar dari kolam. "Sori, duluan."
"Eh, Mas." Samara mengekorinya. "Susah susah ketemu ... masa cuma sebentar ngobrolnya?"
"Aku pergi bareng keluarga. Ngobrolnya lain waktu," tolaknya halus.
"Yah, Mas ...." Samara menghentakkan kaki sambil merengut. "Kita lanjut di cafe, ya. Atau ... kabin Mas di mana. Nanti kusamperin."
Ia melambaikan tangan tak menjawab. Menggandeng tangan Sasa berjalan menjauhi kolam menuju kabin.
"Mama nggak ada, Sa?" Ia keheranan melihat isi kabin mereka yang kosong. Pocut tak ada di dalamnya maupun di kursi depan.
"Mm ...." Sasa menjentikkan jari telunjuk di pipi dengan kening mengerut. Dan itu membuatnya tertawa. Tapi ucapan Sasa selanjutnya langsung memupus tawanya.
"Tadi sih ... Sasa kayaknya lihat mama ... waktu Om sama mas Reka sama abang mau meluncur."
"Di mana?"
"Di belakang Sasa. Lihatin Om sama mas Reka sama abang meluncur."
Ia mendesis sebal menebak apa yang mungkin dilihat oleh Pocut, hingga memutuskan untuk pergi diam-diam. "Terus?"
Sasa mengangkat bahu. "Tiba-tiba ... sim salabim ... mama menghilang, deh."
Ia kembali memeriksa kabin yang kosong. Kemudian mengedarkan pandangan menyapu keseluruhan area berharap bisa menemukan sosok Pocut. Tapi nihil.
Lalu menatap Sasa yang semakin menggigil kedinginan. "Sasa mau ganti baju atau nyari mama?"
"Nyari mama," jawab Sasa cepat. "Sasa nggak mau ganti baju sama Om. Ih, malu. Nggak boleh kata mama. Ganti baju harus sama mama."
Ia menggelengkan kepala melihat reaksi tangkas Sasa menolak tawaran berganti baju. Segera beralih ke dalam kabin untuk mengambil handuk.
"Pakai ini dulu," ujarnya sambil memakaikan handuk berbentuk kimono lalu mengikatkan talinya di pinggang Sasa. "Sekarang ... kita cari mama."
***