Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 88. Memilikimu Selamanya


Jakarta


Pocut


Ia terperangah karena Tama bangkit secepat kilat hanya dalam satu kedipan mata.


"Kutunggu di kamar sebelah," gumam Tama sambil berkaca di depan cermin. Merapikan rambut yang acak-acakan menggunakan jemari.


"Jangan lupa bawa selimut." Tama sempat mengerling sebelum membuka pintu kamar dan keluar.


Namun ia tak menjawab. Sebab tengah terkesima sendiri dengan hawa panas yang membakar keseluruhan wajahnya hingga terasa merah merona. Jejak penjelajahan Tama terasa begitu lekat memenuhi rongga mulut bahkan nyaris hingga ke kerongkongan.


Ah, tiba-tiba saja hatinya diselimuti rasa malu.


Ia bahkan harus bersusah payah menelan ludah guna mengembalikan kesadaran diri. Namun aroma asing yang menempel erat telah lebih dulu menyebar hingga mendenyutkan seluruh titik nadi. Memicu gelenyar aneh nan mendebarkan yang membuat tubuhnya diliputi perasaan resah dan gelisah.


Oh, apakah yang sedang terjadi?


Dengan penuh kehati-hatian ia mulai beringsut dari tempat tidur. Berharap tak membangunkan Sasa yang tengah terlelap dalam pelukan boneka beruang raksasa. Berjingkat-jingkat ke depan kaca dan mulai bercermin.


Semuanya masih terlihat sama, ia membatin seraya mengusap bibir yang terasa panas membara bagaikan baru disengat lebah. Tak membengkak atau berdarah seperti yang sempat dikhawatirkannya tadi. Kala ia terseok-seok kewalahan tak mampu mengimbangi aura menuntut Tama.


Aduh, memalukan sekali. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari depan cermin dengan jengah. Lalu meraih sisir yang tersimpan di atas meja dan mulai merapikan sulur-sulur rambut yang menjuntai tak beraturan.


Ia kembali memandangi pantulan diri di dalam cermin. Namun dengan pikiran yang melanglang buana entah ke mana. Tiba-tiba saja kepalanya menggeleng. Lalu keningnya mendadak berkerut-kerut. Ini jelas bukan yang pertama. Ia sudah pernah melakukannya. Bahkan sering. Meski terlanjur melupakan bagaimana rasa yang tercipta. Semua tersimpan rapi dan terpendam di relung hati terdalam. Tanpa ada keinginan untuk membangkitkannya kembali. Namun sentuhan lembut Tama tadi berhasil memporak-porandakan seluruh pertahanan diri. Membuat sekujur tubuhnya meremang sempurna bahkan hingga detik ini.


Tidak, tolong. Rasanya semakin memalukan.


Ia pun berupaya mengalihkan keresahan dengan menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan bagian dalam juga sekitar leher. Parfum pemberian Tama yang keharumannya begitu lembut memesona. Ia bahkan sengaja menciumi tangan sendiri karena menyukai aromanya yang ringan, tak terlalu menyengat, namun lambat laun berangsur menggoda. Kemudian berbalik hendak keluar kamar. Tapi malah menabrak dada Tama yang tiba-tiba masuk dengan tergesa.


"Kenapa?" Tanyanya heran karena Tama langsung melompat ke atas tempat tidur.


"Nggak jadi," jawab Tama singkat sambil memunggunginya.


Namun ketika ia berjalan mendekat untuk kembali bertanya, Tama tiba-tiba membalikkan badan dengan satu gerakan cepat yang hanya bisa dilakukan oleh orang terlatih. Kemudian menatapnya sembari memicingkan sebelah mata. "Di depan masih rame. Ada yahbit Hamdan, cing Anwar, cang Romli, sama siapa lagi tadi."


"Lagi ngobrol sambil ngerokok," sambung Tama datar.


Membuat langkahnya langsung terhenti saat itu juga. Hanya bisa berdiri mematung di tempat. Tak tahu bagaimana seharusnya merespon sungutan Tama. Sebab sebelah tangannya telah lebih dulu membungkam mulut sambil tertawa sampai perutnya terasa sakit.


***


Tama


Ia menatap Pocut yang sedang menutup mulut menahan suara tawa agar tak terdengar keluar hingga wajah menawan itu merah merona.


"Berani ngetawain?" Desisnya sambil merebahkan diri ke atas tempat tidur dengan berbantalkan kedua lengan. Merasa gemas sebab hasrat menggebu harus tertunda sementara waktu karena situasi tak memungkinkan.


Pocut menggeleng namun masih tetap menutup mulut menahan tawa.


"Terus aja ketawa." Ia kembali mendesis namun sambil mengulum senyum. Memperhatikan lekat-lekat perwujudan nyata dari kesempurnaan raga yang tersaji tepat di hadapan.


Jujur saja, ia sudah pernah melihat berbagai tipe wanita. Mulai dari paket lengkap cantik, menarik, cerdas. Sampai yang menggairahkan menguji iman dan akal. Tapi kesemuanya itu tak bisa dibandingkan dengan magnet ajaib yang dirasakannya melekat kuat dalam diri Pocut. Meski terlihat apa adanya, namun Pocut sejatinya menyimpan kemilau keindahan. Satu hal paling berharga yang banyak diburu pria mapan seperti dirinya. Cinta yang penuh dengan ketenangan dan ketenteraman.


Ia mungkin akan selalu mengingat momen ketika Pocut melangkah membelah teras masjid didampingi mama dan bu Cut usai akad nikah. Termasuk detik-detik saat ia memandangi punggung Pocut yang setengah membungkuk karena sedang mencium tangannya untuk kali pertama. Dua hal sederhana namun bermuara pada ketenteraman jiwa dan raga. Luapannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti ... berhasil menemukan sesuatu yang selama ini dicari.


"Malam ini gagal total." Ia pura-pura menggerutu. "Kita tidur saja."


Pocut yang baru menuntaskan tawa kini telah mengambil duduk di kursi. Lalu mengangguk.


Tapi ia malah kembali terpancing. "Kenapa duduk di situ? Di sini masih lega." Sambil menunjuk ruang sempit di antara dirinya dan Sasa yang tertidur pulas.


Pocut tersipu sambil bergumam. "Nanti menyusul." Kemudian berbalik menghadap kaca dan mulai menyisir rambut dengan gerik gugup.


Ah, sudahlah! Makinya dalam hati. Hajar saja!


Ia bergegas melompat turun menuju pintu lalu menguncinya rapat-rapat. Dan dalam hitungan pertama telah meraih tangan Pocut agar berdiri. Lalu beralih menduduki kursi dan menarik Pocut ke dalam rengkuhan.


"Mas?" Sepasang mata menawan itu terbelalak kaget.


Tapi ia tak peduli. Justru kian mendekap sosok memikat di dalam pangkuan. Sembari membenamkan wajah ke sepanjang leher indah selembut sutera. Sementara jemarinya saling bertaut sempurna. Memastikan Pocut tak bisa bergerak barang seinci pun.


"Wangi," gumamnya seraya menelusuri leher jenjang itu. "Udah siap-siap pakai parfum ternyata," selorohnya tanpa bisa menyembunyikan rasa sukacita. "Sayang kalau nggak dituntaskan."


Pocut berusaha melepaskan diri namun ia justru semakin mengeratkan sentuhan.


"Kita bisa melakukannya di sini," bisiknya tepat di telinga Pocut hingga sekujur tubuh memikat itu meremang.


"A-ada Sasa," jawab Pocut dengan suara terbata karena ia tengah menjelajah hingga ke tulang selangka.


"Sasa kelihatan nyenyak," kilahnya tak mau kalah. Meraih Pocut dengan satu sentuhan yang berhasil menghanyutkan mereka berdua ke dalam pusaran arus paling memabukkan. Menggapai gelora menggebu. Dalam, hangat, dengan teknik tingkat tinggi yang hampir dilupakannya. Sehingga ketika ia melepaskan diri perlahan. Pocut hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia harus menahan pinggang ramping itu agar tak terkulai.


"Aku bisa saja melakukannya sekarang." Ia menyentuhkan cuping hidung mereka berdua. Satu hal yang tiba-tiba menjadi favoritnya. "Tapi nggak adil buat istriku tercinta."


Pemilik iris cokelat memesona yang menatapnya sayu dengan napas terpatah-patah itu terkesiap ketika ia memutuskan untuk membawanya ke tempat tidur.


It's okay. Ia sudah pernah mengalami masa kelam bahkan lebih parah dan menyedihkan dibandingkan malam ini. Menunggu sehari jelas bukan masalah besar untuk merayakan cinta mereka. Meski itu berarti, semalaman takkan bisa tertidur. Lengkap dengan kepala pening berdenyut.


***


Pocut


Ia hampir tak bisa bernapas ketika dengan penuh kelembutan Tama menidurkannya di samping Sasa. Jantungnya bahkan masih berdentam-dentam meski Tama tak lagi melakukan hal yang membuat perutnya bergelenyar tak karuan. Kini pria itu telah bersikap tenang. Berbaring miring menghadapnya usai melepas kaos karena kegerahan.


1 menit. 2 menit. Mereka saling beradu pandang dalam diam. Ia tentu saja masih berusaha keras menetralkan dentuman di dada yang tak kunjung mereda. Sementara Tama entah apa yang sedang dipikirkan. Pria itu terus menerus menatapnya tanpa jeda.


"Pusing." Tama menelusuri garis pipinya menggunakan ujung jari. "Nggak bisa tidur."


Ia menelan ludah dengan gugup. Hampir saja kehilangan akal menawarkan sesuatu yang bisa melegakan Tama. Meski itu artinya ia telah mengesampingkan rasa malu di hari pertama pernikahan mereka.


Mungkin nanti. Setelah semua menjadi terbiasa. Ia takkan malu lagi untuk menawarkan diri. Sebagaimana sebaik-baiknya sikap seorang istri.


"Di sini banyak nyamuk." Namun ia berhasil menemukan cara lain agar mereka tak melulu membicarakan hal yang satu itu.


"Daripada kepanasan." Ujung jari Tama masih menelusuri wajahnya. "Makin nggak bisa tidur."


Dan ia tak tahu harus membahas apalagi selain mata yang terus terpaku menatap manik hitam milik Tama.


Kini Tama telah menelusupkan jemari di sela-sela rambutnya. Menyisir perlahan lalu diakhiri dengan remasan lembut di bagian ujung. Membuat kepalanya terasa nyaman seperti sedang dipijat.


"Aku bukan orang yang romantis."


Ia merespon melalui tatapan. Sikap Tama selalu tegas dan menunjukkan wibawa sejak awal. Tak ada yang mengherankan. Namun ucapan dan perlakuan Tama selama ini terhadapnya jelas mematahkan teori bukan orang romantis. Dianggap apa bros kemilau, buket bunga, hadiah ulangtahun, pot kecil berisi anggrek ungu dan sederet ucapan manis menggetarkan sukma. Sebuah kekhilafan? Yang benar saja. Bisa-bisa Agam tertawa terpingkal-pingkal kalau mengetahuinya.


"Nggak banyak omong."


Kali ini ia tak bisa untuk tak tersenyum.


"Kenapa senyum senyum?"


"Nggak banyak omong?" Ia mengulangi pernyataan Tama dengan nada tak percaya. "Ini apa? Tadi di depan banyak orang? Kemarin. Dulu sebelum-sebelumnya. Di depan wartawan? Ahli bicara begitu ngaku nggak banyak omong."


Dan ia terkejut sendiri karena bisa mengungkapkan isi hati tanpa merasa sungkan. Apakah ini artinya ... ia sudah merasa nyaman?


"Pendiam?" Ulangnya dengan nada yang semakin tak percaya.


"Dulu ... aku jarang ngomong sama pasangan. Ngobrol yang penting-penting saja." Tama mengambil ujung rambutnya yang bergelombang lalu mulai menciuminya. "Harus dipancing dulu baru bisa ngobrol. Kalau nggak ya ... malas ngomong panjang lebar."


"My bad." Tama masih menciumi ujung rambutnya. "Komunikasi yang udah macet jadi tambah macet."


Ia menghela napas dan mengembuskannya perlahan. "Seperti itu kisah dari masa lalu?"


Tama mengangguk. "Sorry, bukan bermaksud menceritakan tentang orangnya. Tapi aku ingin kamu tahu. Khawatir suatu saat kambuh lagi."


"Kambuh?" Ia tak mengerti.


Kini Tama memilin-milin rambutnya. Kemudian melepaskan. Dipilin lagi. Lalu dilepas. Begitu seterusnya.


"Apa istriku ini mau bersabar dan mengingatkan kalau aku mulai bersikap buruk?"


Ia menelan ludah dan tak menjawab.


"Sifat dan sikap burukku banyak sekali. Mungkin nggak akan cukup ditulis di selembar kertas. Apa malah bisa dijadikan buku?"


"Kekurangan saya banyak sekali," sambungnya cepat. "Sampai sekarang masih khawatir tak bisa menjadi pendamping yang baik."


Tama mengusap pipinya. "Gampang itu. Kekurangan yang mana, sih? Perasaan yang kulihat kelebihan semua."


Ia menghela napas panjang. "Saya serius."


"Lho, aku dua rius malah." Tama mengacungkan dua jari dengan wajah jenaka.


"Mas?"


Tama terkekeh. "Tinggal up grade diri. Nanti banyak ngobrol sama Dara. Dara ya bukan Sada. Kalau Sada jangan, deh. Dia orangnya rada ngaco."


Ia tersenyum mendengar dalih Tama tentang sang adik ipar. Sada memang terkesan lebih santai dan menyenangkan dibanding Tama yang selalu terlihat kaku.


"Ikut kelas kepribadian biar nambah pede. Aku daftarin ke sekolah pribadi punya Rajas, ya? Itu sekolah kepribadian paling bagus di Jakarta. Atau mau kuliah? Aku dukung penuh." ©


Namun kali ini ia hanya menatap Tama dengan pandangan kosong. Kuliah? Bukan hal yang pernah dipikirkannya meski hanya berupa lintasan sekalipun.


"Nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal teknis seperti ini. Lama-lama juga terbiasa. Mungkin memulainya yang perlu ekstra. Jangan jadi beban," terang Tama panjang lebar sembari membelai rambutnya.


"Saya khawatir tidak bisa membawa diri." Ia menghela napas. "Mengobrol dengan istri-istri teman Mas saja mungkin susah untuk nyambung." Ia kembali teringat dengan pembicaraan kelurga besar Tama di ruang tengah rumah bu Niar beberapa waktu lalu. Skincare, botox, tanam benang, DNA Salmon. Istilah asing yang baru kali itu didengarnya.


"Semoga saya tak sampai mempermalukan Mas."


"Hey, you ...." Tama meraih dagunya lembut. "The one i love the most." Lalu menyentuhnya perlahan. "Jangan pernah merendahkan diri seperti ini lagi," bisik Tama hingga embusan napas hangat pria itu menerpa wajahnya. "Harus percaya pada diri sendiri."


"Lagian kami berenam jarang ngumpul." Tama mengusap bibirnya dengan sentuhan halus. "Yang punya pasangan tetap dan resmi cuma Riyadh dan aku. Lainnya?" Tama mengangkat bahu.


Ia tersenyum mendengar kata tetap dan resmi. Sudah bisa ditebak kehidupan seperti apa yang selama ini Tama dan lingkungan pertemanan terdekatnya jalani. Kehidupan kalangan atas yang berada jauh di luar jangkauan nalarnya.


"Pasti bisa." Tama kembali mengusap bibirnya. "Yakin bisa," imbuh Tama. "Bikin orang tanpa harapan seperti aku jatuh cinta aja bisa. Apalagi cuma masalah kecil begini. Tunjukkan pesonamu, nyonya Wiratama Yuda."


"Terimakasih sudah mempercayai saya." Ia harus menggigit bibir guna menahan rasa haru. Tama selalu berpikiran jauh ke depan. Tak pernah sekalipun meragukan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Sudah sepatutnya ia menjawab kepercayaan Tama dengan bukti nyata.


Yakin harus bisa.


"Besok sebelum ke hotel, kita ke tempat papa dulu." Tama meraih telapak tangannya lalu menautkan jemari mereka berdua.


Ia mengangguk. Tiba-tiba teringat tentang satu hal. "Saya punya foto almarhum pak Setyo waktu masih muda."


"Oya?"


"Bertiga bersama almarhum ayah dan ...." Ia menelan ludah dengan susah payah. "Almarhum ayah mertua."


Tama tersenyum. "Sudah ketebak."


Ia mengernyit namun sambil melepaskan diri dari genggaman Tama berusaha untuk bangkit.


"Mau ke mana?"


"Ambil foto."


"Besok aja."


Ia sontak menghentikan upaya untuk beranjak. Karena Tama telah menyilangkan kaki membelit tubuhnya hingga tak bisa berkutik lagi.


"Sebelum meninggal ..." Tama merebahkannya perlahan ke dalam pelukan. Merengkuhnya dalam-dalam memberikan kenyamanan yang menenteramkan. "Papa sempat membahas tentang kita."


Ia langsung mendongak hingga hampir mencium rahang Tama.


"Rupanya karena papa tahu siapa sebenarnya the one i love the most ini." Tama semakin mengeratkan rengkuhan. "Sayangnya papa nggak bisa lihat kita hari ini."


"Tapi aku lega akhirnya bisa memenuhi keinginan terakhir papa." Tama mencium keningnya dalam-dalam. "Sudah tidur. Jangan sampai besok lesu gara-gara kurang istirahat."


Ia memejamkan mata berusaha untuk tertidur. Namun rasanya sulit sekali. Mungkin karena kebahagiaan tengah meluap memenuhi relung hatinya. Mengalami kembali bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang. Menikmati melambatnya waktu tiap kali Tama menyentuhnya dengan penuh kelembutan.


"Tidur." Tama kembali mencium keningnya dalam-dalam. "Malah melamun."


"Mas juga nggak tidur."


Tama menggeram. "Aku nggak akan bisa tidur. Kepala rasanya pusing banget."


***


Sasa


Ia terbangun karena merasa kegerahan. Keringat mengalir deras membasahi baju tidur hingga menempel di kulit. Terasa sangat gatal dan tak nyaman.


"Ma?" Ia terpaksa memanggil karena tak bisa menjangkau lengan mama.


"Ma?" Ulangnya karena tak kunjung menemukan lengan mama.


Dan ia terkejut ketika membuka mata melihat mama tengah tertidur dalam pelukan seseorang.


"MAMA!" Protesnya kesal karena merasa diabaikan. Selama ini mama selalu tidur sambil memeluknya. Kenapa sekarang berganti memeluk orang lain?


"Mama, ih!" Ia berusaha membebaskan mama dari belitan lengan yang sangat berat. Lalu menarik tangan mama kuat-kuat dan melompat di tengah-tengahnya.


"Aduh, Sasa?" Mama akhirnya terbangun.


"Argh!" Dan om Tama mengaduh karena ia tak sengaja menginjak perut om ketika barusan berpindah tempat.


***


Keterangan :


©. : ini hanya sekedar cerita ya readers tersayang 🤗. Kita semua sudah tahu mana sekolah kepribadian paling bonafide sejak tahun 80an 😉.


***