
Jakarta
Pocut
Tama benar-benar memanfaatkan tiga hari terakhir keberadaannya di Jakarta sebelum mengikuti pendidikan staf pimpinan tinggi Polri di Lembang, Bandung Barat, selama hampir 7 bulan.
"Semua kusimpan di sini." Tama berjongkok sambil memijit sejumlah angka yang merupakan perpaduan tanggal dan bulan pertemuan pertama mereka di pernikahan ulang Agam Anjani dan acara aqiqah dekgam Aran.
Kemudian membuka pintu sebuah kotak kokoh berwarna hitam setinggi kurang lebih setengah meter yang tersimpan di bagian bawah lemari pakaian mereka. Lalu mengeluarkan map tebal yang sepertinya berisi sejumlah dokumen penting.
"Dulu, tiap pergi pendidikan atau pelatihan berbulan-bulan." Tama memandangnya. "Papa selalu melakukan ini terhadap mama. Sekarang giliranku."
Tama memberitahu semuanya. Sebidang tanah di Pangalengan, peternakan sapi di Cibodas Lembang, villa di Istana Bunga, rumah yang dikontrakkan di Bandung. Termasuk tanda bukti kepemilikan saham dari sejumlah perusahaan. Dua buah kartu berwarna hitam dengan cetakan nama Tama di dalamnya. Dan satu kartu tanda anggota elektronik.
Ia tahu pasti Tama berasal dari kalangan berada. Namun tak pernah menyangka jika suaminya ini memiliki simpanan harta yang luar biasa. Mendengar penjelasan Tama tentang kepemilikan saham dari sejumlah perusahaan ternama yang dimiliki sejak Tama masih bujangan saja sudah membuat kepalanya pening. Sebab keuntungan yang diperoleh hari ini hampir 900% nya dari harga saham yang dibeli belasan tahun silam. ©
"Tanah di Pangalengan harusnya ada dua lokasi." Tama masih memandangnya yang sedang memijat pelipis usai mendengar penjelasan tentang saham. "Tapi baru dijual satu ke Rajas."
"Saham Selera Persada juga baru dijual ke Rendra, teman Sada," sambung Tama. "Untuk sementara. Suatu saat bakal kuambil lagi."
Ia mengernyit keheranan mendengar ucapan Tama. "Kenapa Mas lebih memilih menjual saham Selera Persada? Kenapa nggak menjual saham lain yang bukan perusahaan milik keluarga sendiri?"
Tama tersenyum. "Aku butuh dana yang besar dalam waktu singkat. Saham Selera Persada solusi paling tepat."
"Untuk biaya pernikahan kita?" Tebaknya merasa tak enak hati. Tama seharusnya tak perlu berfoya-foya untuk hal seperti ini. Ia tetap merasa bahagia meski tanpa pesta meriah ataupun umroh sekeluarga.
Dan Tama terang-terangan menghindar dengan tak mengucapkan sepatah kata pun.
Ia juga ikut terdiam. Entahlah, sebenarnya hampir tercetus pertanyaan lain. Namun khawatir apa yang nanti diucapkan justru keliru. Atau lebih parah lagi membuat mereka berdua salah paham. Ia memilih menunduk memperhatikan isi map satu per satu daripada menyudutkan Tama.
"Peternakan sapi milik keluarga. Tapi mama minta sertifikatnya disimpan di sini." Tama seolah mengerti apa yang sedang pikirkannya.
"Villa sama kontrakan rumah diurus Ujang. Aku terima beres," imbuh Tama sebelum ia sempat bertanya lagi.
"Simpan saja, Mas." Ia menggeleng ketika Tama mengulurkan selembar kartu berwarna hitam. "Aku punya kartu ATM sendiri."
Ia memang tak berpendidikan tinggi. Tapi bukan berarti bo doh. Simpang siur berita tentang profesi yang digeluti Tama sudah terlalu banyak beredar di masyarakat. Sebagian besar stigma negatif yang berhubungan dengan kepemilikan materi berlimpah.
Ia tentu tak ingin kesimpangsiuran berita tersebut menimpa keluarga barunya. Ia ingin memutus mata rantai tak mengenakkan ini demi Tama dan keempat anak-anaknya. Ia ingin mereka hidup tenang dari harta yang bersih. Harta yang memang menjadi hak milik Tama. Bukan yang lain.
Harta yang berasal dari keluarga Tama. Atau keuntungan saham yang dimiliki Tama sejak masih lajang. Biarlah dipegang oleh Tama sendiri. Ia tak ingin mengusiknya sebab khawatir tak bisa membedakan mana yang hak dan yang bathil. Ia benar-benar berharap mereka berenam bisa hidup tenteram dari uang hasil keringat Tama sendiri. Menjemput keberkahan.
Ia telah mengetahui jumlah gaji bulanan Tama saat mengikuti sidang nikah beberapa waktu lalu. Gaji pokok Tama hampir sama dengan gaji pegawai negeri sipil lainnya dalam satu jenjang golongan. Tapi penambahan sejumlah tunjangan membuat total gaji yang diterima Tama menjadi sangat besar. Sepuluh kali lipat lebih banyak dari jumlah uang yang biasa dipegangnya selama sebulan penuh sebelum dinikahi Tama. Luar biasa.
Tama hanya melongo memandangnya. "Biaya sekolah Reka, klub renang, klub panahan, bimbel? Apa cukup cuma pakai gaji?"
Ia tahu biaya sekolah Reka jauh di atas ketiga anaknya. Termasuk klub renang dan panahan, dua aktivitas luar sekolah yang diikuti Reka. Tapi ia sudah berhitung sebelumnya. Gaji Tama lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan mereka berenam selama sebulan. Termasuk untuk gaji Yuni dan Agus.
"Begini saja, Mas." Ia menemukan jalan keluar. "Aku buat catatan pengeluaran rutin dalam sebulan. Nanti Mas bisa periksa tiap akhir bulan. Apa uang sebesar ...." Ia menyebutkan jumlah gaji Tama setiap bulannya. "Cukup atau tidak."
Tama tertawa sambil menggelengkan kepala. "Nggak perlu buat catatan. I believe in you (aku percaya padamu)."
Ini menjadi musyawarah alot pertama mereka. Tama bersikeras memberi kehidupan terbaik untuk mereka berenam. Tapi ia ingin mereka bisa hidup lebih sederhana.
"Uangnya udah ada." Tama menatapnya tak percaya. "Bukan di ada-adain. Bukan uang siluman yang nggak jelas asal usulnya."
Ia tahu Tama berkata jujur. Tama jelas kaya dari lahir. Ibaratnya sudah puas menjadi orang berada. Tak perlu menambah pundi-pundi harta dari sumber yang diragukan. Tapi mereka harus tetap menjaga diri. Ia tak ingin terlena dalam kemudahan dan gelimang materi. Sudah menjadi kewajibannya untuk mengingatkan sang suami. Menurutnya, meminimalisir sekecil apapun resiko jauh lebih utama.
"Gini aja." Tama terlihat tak habis pikir dengan kekukuhan pendiriannya. "Gaji tiap bulan autodebet ke rekening kamu. Tapi kartu ini ...." Tama mengangkat selembar kartu berwarna hitam.
"Ada di sini." Tama menunjuk kotak kokoh berwarna hitam. "Kamu bebas memakainya kapanpun untuk keperluan apapun. Nggak perlu minta izin lagi. Yes and yes?"
Ini merupakan keputusan terbaik yang pernah Tama buat. Ia setuju. Sekaligus berdoa dalam hati semoga tak sampai memanfaatkan kartu berwarna hitam itu.
"Minggu depan siap?" Tama mengecup keningnya lembut usai menutup kembali kotak berwarna hitam. Setelah ia ikut menyimpan emas mayam dan perhiasan pemberian Tama di dalamnya.
Ia tersenyum mengangguk.
Tama telah mendaftarkannya mengikuti sekolah kepribadian milik keluarga Rajas dengan biaya yang cukup fantastis. Ia tentu harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
"Semangat belajarnya." Tama beralih menyentuhkan mereka berdua. Padahal ia sedang mencatat bingkisan yang diberikan oleh para kolega Tama untuk pernikahan mereka. Hingga buku catatan dalam genggaman jatuh ke lantai sebab Tama semakin merengkuhnya. Tapi ...
DAG! DAG! DAG!
Pintu kamar tiba-tiba digedor dari arah luar.
"MAMA!" Teriak Sasa sambil terus menggedor pintu. "Sasa boleh makan sereal lagi nggak sebelum tidur?"
Ia hampir tertawa karena kepala Tama langsung terkulai di bahunya begitu mendengar Sasa berteriak.
"Boleh," jawabnya tanpa membuka pintu. "Jangan lupa gosok gigi."
Sasa tak lagi menggedor pintu. Sepertinya sudah merasa puas dengan jawaban yang diperoleh. Tapi tidak dengan Tama. Kepala suaminya itu masih tetap terkulai di bahunya.
"Mas?" Ia kembali tertawa karena Tama berakting seolah-olah tanpa daya. "Aku mau nyelesaiin ini dulu." Sambil berusaha mengambil buku catatan yang tadi terjatuh ke lantai.
Namun usahanya harus ekstra karena tumpuan berat tubuh Tama cukup menghalangi pergerakannya untuk meraih buku.
"Nulis apa?" Tama mengintip dari balik lehernya begitu ia berhasil mendapatkan buku kembali. Hingga embusan napas hangat terasa membelai ceruk lehernya.
"Daftar orang yang ngasih hadiah," gumamnya sambil berusaha keras menghalau gelenyar aneh, namun rasanya sangat menyenangkan yang kini mulai menyambangi perutnya.
"Pinter memang istriku ini." Tama mulai menulusuri lehernya. "Inisiatifnya paling aku suka."
Ia tertawa hingga parutan kasar dagu Tama membuat gelenyar di perut semakin menjadi.
"Bukan pintar." Ia geli sendiri dengan kegombalan Tama. "Semua orang melakukannya di hari pernikahan. Agar kita bisa membalas kebaikan pemberi hadiah di lain waktu."
"Ya ya." Tama menyahut dengan suara parau. "Terserah istriku aja, lah." Tama terus menjelajahi lehernya hingga tak tersisa seinci pun.
"Nama-namanya banyak yang nggak kukenal, Mas." Daftar pemberi bingkisan yang dibuatnya hampir mencapai dua lembar. Tak sedikit yang hanya mencantumkan nama, tanpa jabatan. Ini membuatnya kesulitan untuk mengelompokkan.
"Mana?" Tama dengan gaya malas akhirnya beralih dari lehernya. Mulai memperhatikan catatan yang sedang dibuatnya.
Ia menunjuk sederet nama di lembar kedua. "Prasbuana Tresnoadjie?"
"Temenku yang tinggal di Aussie," jawab Tama enteng.
"Caraka Benua?" Ia kembali menunjuk nama kedua. ®
"Kemarin sempat aku kenalin, kan?" Tama balik bertanya. "Yang datang sama istrinya. Mereka buru-buru karena baru punya baby."
Ia manggut-manggut meski belum berhasil mengingat sosok sang tamu. Sebab saking banyaknya undangan VVIP yang Tama kenalkan padanya.
"Kalau ini?" Ia kembali menunjuk nama di buku catatan.
"Cucu mantan Kapolri era presiden ...." Tama menjelaskan satu per satu nama pemberi bingkisan. Sampai Sasa kembali menggedor pintu kamar mereka.
"Temenin Sasa tidur, Ma."
Tama mengekorinya menuju kamar Sasa. Kamar berukuran 3x3 M yang didesain cantik dengan warna dominan pink itu terasa begitu hangat dan menenteramkan. Kasur empuk dengan sprei dan selimut warna permen. Meja belajar dan kursi yang cantik. Rak berisi puluhan boneka hadiah dari Tama. Sasa benar-benar memiliki kamar sendiri yang sangat nyaman.
"Giliran Papa yang baca dongeng?" Tama mendudukkan diri di sebelah kanan Sasa yang telah menyembunyikan wajah ke dalam ketiaknya.
"Nggak usah," jawab Sasa sambil menoleh. "Papa nakal dongengnya yang serem serem."
"Lho, serem gimana?" Tama tergelak. "Itu cerita tentang keberanian. Biar Sasa jadi anak pemberani."
"Nggak mau!" Sasa pura-pura cemberut. "Biar mama aja yang baca dongeng."
"Trus Papa tugasnya apa, dong? Masa nganggur?" Seloroh Tama. "Enak banget jadi Papa. Asyik, nih."
Sasa menggeleng dengan alis saling bertaut. Pertanda jika sedang berpikir keras. "Papa tugasnya satu aja."
"Apa?"
"Kasih hadiah buat Sasa."
"Buahahahaha!" Tama langsung tergelak.
Tak lama berselang, Sasa sudah terlelap meski belum sepenuhnya nyenyak. Ia masih memeluk Sasa untuk memastikan putrinya itu benar-benar pulas agar tak menangis saat ditinggalkan. Sementara Tama telah beranjak ke kamar sebelah, kamar anak-anak lelaki.
"Masih nyari olahraga yang bisa menguatkan napas?" Tanya Tama begitu ia menutup pintu kamar. Sasa sudah terbuai ke alam mimpi. Sementara ketiga anak lelakinya meski belum tertidur namun sudah berada di tempatnya masing-masing.
Reka yang berada di kasur paling bawah sedang membaca buku. Icad di tengah sudah berkalang selimut sambil mengobrol dengan Umay yang masih asyik memainkan Lego.
Ia menjawab pertanyaan Tama dengan anggukan dan senyum tertahan. Tak sedang bercanda untuk hal yang satu ini meski terdengar cukup memalukan. Hal yang semula sempat membuatnya terheran-heran. Usianya jauh lebih muda dibandingkan Tama. Tapi soal stamina kalah telak. Ia khawatir kelak ke depannya tak mampu mengimbangi gelora Tama jika tak mempersiapkan diri dari sekarang.
Aduh, wajahnya tiba-tiba memanas memikirkan semua hal sensitif ini.
"Sepedaan mau?" Tama langsung meraihnya ke dalam rengkuhan meski ia baru saja mendudukkan diri ke atas tempat tidur. "Besok anak-anak mau beli sepeda. Sekalian mamanya?"
"Mas?" Ia mendesah tak percaya. Bukankah Tama telah setuju menyerahkan pengelolaan uang selama sebulan padanya? Kenapa tiba-tiba membuat keputusan membeli sepeda tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya? Gaya boss Tama benar-benar sulit untuk dihilangkan.
"Umay dan Sasa sudah punya sepeda." Kali ini ia menggeleng. "Icad tak perlu sepeda. Kalau mau beli untuk Reka saja."
"Sepeda butut begitu." Suara Tama terdengar menggerutu.
"Nggak." Tama tak setuju. "Besok beli sepeda semua. Termasuk kamu." Lalu mencium keningnya dalam-dalam. "Sekarang sepeda udah jadi kebutuhan. Bukan barang tersier lagi."
***
Tama
H-3 ia masih ke kantor guna membereskan sejumlah pekerjaan yang belum terselesaikan. Termasuk melakukan koordinasi terakhir dengan Franky sebagai pelaksana tugas Kapolres selama ia menempuh pendidikan, serta jajaran Kabagops dan Kasat.
Kemudian mengurus autodebet uang gajinya ke nomor rekening Pocut. Ah ya, untuk yang satu ini ia benar-benar tak habis pikir. Ia tahu meski Pocut tak mengucapkannya secara terang-terangan. Paham betul jika istrinya itu mengkhawatirkan asal muasal uang yang diperolehnya setiap bulan.
Yang benar saja. Hal seperti ini memang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun selama berkarier ia tak pernah berlaku curang ataupun tergiur untuk melakukan kecurangan meski kesempatan terbuka lebar. Walau beberapa hal terkadang tak bisa dihindari. Terjadi begitu saja tanpa disadarinya.
Dan kehati-hatian Pocut saat berurusan dengan uang membuat kekagumannya semakin bertambah berkali lipat. Menumbuhkan rasa aman dan nyaman yang berujung pada ketenangan.
"Semangat sepedaannya biar napas kuat," bisiknya setengah menggoda saat mereka tengah saling berpandangan di atas tempat tidur. Sembari jarinya melakukan kegiatan paling favorit. Menelusuri garis pipi Pocut yang kulitnya terasa halus dan lembut seperti bayi.
Pocut balas menatapnya dengan wajah bersemburat merah.
Pocut ... Pocut .... Mereka sudah melakukan banyak hal. Bahkan semuanya tanpa kecuali. Tak ada rahasia lagi di antara mereka berdua. Ia bahkan telah berhasil mengetahui titik-titik kelemahan istrinya ini. Namun tiap kali digoda masih saja muncul semburat merah di pipi. Menyenangkan sekali.
"Minta dikawal Agus atau Devano," sambungnya sambil terus menelusuri garis pipi berkulit halus itu. "Jangan sendirian."
"Merepotkan orang lain saja." Alis Pocut mengerut menampakkan ketidaksetujuan. "Naik sepeda harus dikawal orang lain."
"Ini perintah." Ia menggeleng. Pocut dan anak-anak adalah harta paling berharganya saat ini. Ia tak ingin hal buruk menimpa mereka hanya karena keteledorannya dalam melindungi. "Bukan penawaran."
"Kita terlalu sering merepotkan Devano." Pocut masih mengerut.
"Sudah jadi tugasnya dia!" Gerutunya sedikit kesal karena Pocut mengasihani Devano. Bahkan saat mereka sedang berada di atas tempat tidur.
"Kalau ini tugasku," sambungnya cepat tanpa memberi kesempatan Pocut untuk menghindar. Melakukan hal yang bisa membuatnya meledak berkali-kali sekaligus jatuh cinta berulangkali pada sosok yang sama. Si pemilik wajah bersemburat merah di pipi, istri tercintanya.
"Belum olahraga aja begini," godanya usai mereka meledak bersama-sama. "Gimana kalau udah olahraga?"
Dan semburat merah di pipi kembali muncul. Kali ini lengkap dengan titik-titik keringat di kening. Beautiful.
H-2 ia masih harus pergi ke Mapolda. Sore hari baru kembali ke rumah diantar oleh Devano.
"Titip ibu dan anak-anak selama saya pergi, Van," ujarnya ketika Pocut menghidangkan secangkir teh dan sepiring kudapan untuk mereka.
"Siap, Pak. Baik."
"Kamu anggap ibu sebagai saya," lanjutnya seraya mengerling ke arah Pocut yang mengambil duduk di sebelahnya. "Jangan lambat kalau ada perintah. Kebiasaan kamu suka lambat."
"Siap, Pak. Laksanakan."
"Jangan ragu kalau mau ngasih perintah ke Devano, Ma." Ia menyeringai sebab Pocut memberi tatapan penuh peringatan. Pasti karena membela bocah ini, Devano.
"Siap 25 jam dia," imbuhnya dengan seringaian yang semakin lebar. "Iya, Van. Siap 25 jam sehari?"
"Siap, Pak. 25 jam."
H-1 dihabiskannya di rumah. Pergi mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Lalu pulangnya mengajak mereka mampir ke Mall. Meski minus Reka karena sepulang sekolah putranya itu langsung berlatih di klub renang asuhan mantan atlet Olimpiade.
"Umay jadi ikut memanah nggak sama mas Reka?" Tawarnya pada Umay. Anak aktif itu terlihat antusias saat menemani Reka latihan memanah dua hari lalu.
"Mau bilang dulu sama mama," jawab Umay dengan wajah berbinar yang tak bisa ditutupi.
Nggak ibu, nggak anak. Semua bersikap penuh kehati-hatian untuk segala fasilitas dan kemudahan. Luar biasa.
"Kepala keluarganya kan Papa. Bukan mama." Ia menggeleng tak setuju dengan mimik di serius seriuskan. "Keputusan akhir ada di tangan Papa. Bukan mama."
"Semangat ikut klub memanah?" Todongnya cepat.
Seharian penuh ia bercengkerama dengan anak-anak dan Pocut. Menikmati saat-saat terakhir kebersamaan yang rasanya sulit untuk ditinggalkan meski hanya ke Lembang.
"Bulan pertama jadwal lumayan padat," gumamnya sambil memperhatikan Pocut yang baru selesai membaca Al-Qur'an. Tengah melipat mukena kemudian menyimpannya ke dalam rak.
Istrinya ini benar-benar ... beuh, luar biasa. Baru sekarang ia menemui seseorang yang selalu menyempatkan diri membaca Al-Qur'an selepas salat Isya atau sebelum tidur.
"Membaca Al-Qur'an mendatangkan pahala kebaikan," terang Pocut ketika ia bertanya mengapa mesti repot-repot membaca lagi padahal selepas salat subuh dan maghrib istrinya itu juga sudah membaca Al-Qur'an.
"Bisa menjadi obat hati," sambung Pocut. "Membuat rumah terasa tenteram dan menenangkan."
Namun kalimat selanjutnya tak pernah terduga. "Mas bawa Al-Qur'an, ya."
Pocut bahkan langsung memasukkan Al-Qur'an yang baru selesai dibaca ke dalam tas kanvas yang akan dibawanya esok pagi ke Lembang.
"Nggak usah," tolaknya cepat. "Di masjid sana juga banyak. Tinggal ambil."
Pocut tersenyum. "Biar bisa dibaca di kamar. Sebelum tidur. Atau ...." Pocut menahan senyum. "Kalau rindu rumah."
Ia tentu tak bisa lagi menolak. Balas tersenyum menggoda sembari bergumam, "Kangen sama nyonya rumah maksudnya?"
"Bulan pertama jadwal padat?" Ulang Pocut yang kini telah merebahkan kepala di lengannya.
Ia mengangguk. "Masih bisa pulang. Mungkin sekali atau dua kali."
"Kalau kami yang menyusul?"
"Harus," sahutnya cepat. "Ditunggu di Bandung." Ia mengecup kening Pocut sekilas. "Ajak Anja sama Aran kalau mau bareng."
"Mama juga?" Gumam Pocut ketika ia tengah berusaha merengkuh istrinya itu semakin dalam.
"Mama juga. Mamak juga," jawabnya cepat seraya menenggelamkan diri ke tempat paling melenakan. Mengundang Pocut turut bergabung bersamanya menelusuri labirin penuh liku. Kemudian berbelok di tikungan tajam menjelajahi arus paling dahsyat yang begitu membuai sekaligus melengahkan.
***
Pocut
Tepat selepas salat Subuh Tama mulai berkemas. Memeluk keempat anak mereka satu per satu sambil berbisik.
"Titip adik-adik, Reka."
"Titip mama, Icad."
"Nurut sama mama, May."
"Sasaaaa!" Tama mengangkat tubuh Sasa tinggi-tinggi ke atas. "Kita bisa bekerja sama, Sasa?"
"Tulis di buku kalau mas atau abang nggak nurut sama mama. Laporin ke Papa."
Sasa terkikik-kikik senang. "Ada hadiahnya nggak, Pa?"
"Sasa?" Ia menggeleng tak setuju. Tama terlalu memanjakan Sasa dengan limpahan hadiah. Ini bisa menjadi hal yang kurang baik di masa mendatang. "Sasa kan sudah punya banyak hadiah dari papa?"
"Ada, dong." Tapi Tama jelas tak bisa diajak bekerjasama untuk hal yang satu ini. "Nanti Papa kasih hadiah kalau Sasa nyusul ke Bandung."
"Yeeeee!" Sasa bersorak kegirangan. "Siap, Papa. Nanti Sasa catat kalau mas sama abang nakal. Hihihi ...."
"Jaga diri baik-baik," bisik Tama saat memeluk dan mencium keningnya dalam-dalam. "Kalau ada masalah langsung hubungi aku."
Tama pergi ke Lembang diantarkan oleh Alfian. Meninggalkannya bersama anak-anak yang tengah riuh menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
"Kaos kakiku mana, Ma?" Umay masih saja kehilangan kaos kaki.
"Bekalku triple ya, Ma," pinta Icad setiap dua hari sekali. "Buat Boni sama Kioda. Mereka doyan banget masakan Mama."
"Bekal?" Tawarnya pada Reka yang selama ini tak pernah mau membawa bekal makanan ke sekolah.
Tama pernah bilang, di Surabaya Reka lebih sering jajan di luar. Tak terbiasa membawa bekal makanan ke mana-mana. Tapi setiap pagi ia selalu menawarkan kotak bekal meski Reka selalu menolak.
"Boleh." Anggukan kepala Reka membuatnya tersenyum senang.
"Mau ditambah nggak?" Tawarnya penuh semangat. "Untuk teman di sekolah mungkin?"
Reka menggeleng. "Satu aja. Nggak punya teman."
Ia sempat terlolong mendengar kalimat terakhir yang diucapkan. Namun keburu Reka menyambar kotak bekal dari tangannya kemudian berlari mengejar Sasa.
Ia hampir bertanya maksud dari ucapan Reka namun urung. Karena Icad dan Umay mulai saling berebut menyalami tangannya. Sebelum berlari memasuki mobil yang sedang dipanaskan oleh Agus.
***
Keterangan :
©. : dikutip dari berita yang dimuat CNBC Indonesia edisi Januari 2019.
®. : novel dengan tokoh "Caraka Benua" bisa dibaca di judul "I don't to be a Cinderella" karya author Alana Kanaya. Dipersilakan berkunjung jika berkenan 🤗.
***