
Jakarta
Tama
Sudut bibirnya secara impulsif membentuk lengkungan manakala matanya tertumbuk pada sekelebatan bayangan sosok ramping di ruang tamu. Figur bergaun biru muda, senada dengan kemeja yang dikenakannya itu tengah berbincang dengan para tamu wanita sambil sesekali tertawa kecil. Desain pintu serta jendela ruang tamu yang dapat dibuka selebar mungkin, memastikannya bisa mengamati gerak sekecil apapun dengan leluasa.
"Can't get enough?" Satu suara dibarengi embusan asap tipis meruar memenuhi udara sekeliling. "After all night long?"
Ia menyeringai sembari mengubah posisi duduk, tapi fokus tetap tertuju ke satu arah. "Is she?" gumamnya antara ada dan tiada. Mempertanyakan status wanita yang tadi datang bersama sang sahabat, dan kini tengah duduk di sebelah sosok kesayangan bergaun biru muda.
Kepulan asap putih membubung memekatkan udara menjadi isyarat respon tak acuh Armand atas pertanyaannya. Di antara kelima karib, hanya pria berjuluk raja media yang turut menghadiri acara kenal pamit malam ini. Empat lainnya sibuk dengan urusan masing-masing, meski tak seorangpun alpa mengirim karangan bunga beserta bingkisan terbaik.
Welcome to the jungle, brotha, begitu pesan unik di atas selembar kertas ucapan yang sempat dibacanya sebelum membuka acara, terselip di antara rangkaian bunga mawar segar berwarna kuning. Wisaksana Soeriaatmaja, menjadi nama pengirim yang dapat dengan mudah ditebak.
“Lahir batin lu bener-bener terpuaskan sekarang.” Armand menyeringai. “All is good?”
“I feel great.” Ia mengangguk mengiyakan sembari mengalihkan pandangan ke arah panggung. Seorang anak buahnya sedang memainkan gitar listrik dengan apik. Beberapa penampilan hiburan masih disajikan meski malam kenal pamit telah berakhir sejak setengah jam lalu. Para tamu penting juga sudah meninggalkan kediamannya. Hanya tersisa kerabat dan teman dekat. “Never get enough.”
Armand mendesis-desis tak jelas. “Apa kita sedang menyaksikan film roman tak masuk akal season tiga? Hidup bersama dalam ikatan atas nama Tuhan dengan seseorang dari kelas sosial berbeda dan … boom! Nothing happened. Just happily ever after. Mimpi siang bolong yang seribu satu.”
“Sebenernya lu punya masalah apa, Mand?” Ia tertawa tanpa suara. “Out of the line tiap kali bahas hubungan cinta gua, Rajas, Riyadh. Gua mau bilang, get your butt out. Tapi gua rela nanya buat muasin ego lu, bagian mana yang nggak masuk akal?”
“Setiap bagian tanpa kecuali.” Armand tangkas menjawab. “Gua udah muak bahas Rajas and Riyadh, duo bebal yang jadi go blok gara-gara cinta.” Pria berkemeja putih itu menggeleng satir. “Gua lebih tertarik bahas case lu. Di bulan ke sekian perkawinan, yakin nggak nemu kendala? Selintas penyesalan? Gimana kalian berdua menyatukan dua dunia? Nggak usah bicara tentang cinta, itu jelas bullshit pembodohan massal bagi pria seperti kita.”
Ia terbahak meski tak ada kalimat lucu dalam ucapan sang sahabat. “Tunggu, tunggu! Pria seperti kita apa maksudnya?” Ia masih tertawa. “Sekumpulan ba ji ngan yang bersembunyi di balik jas, seragam, dan pandangan terhormat, begitu?”
“Ba ji ngan jelas kalian, gua pengecualian.” Armand berdehem kalem. “Gua pria terhormat berkepribadian tak tergoyahkan.” Lantas mengetuk kening sendiri. “Logika masih jalan.”
Ia kembali tertawa. “Come on, Mand. Izinkan gua ngebuka pikiran burem lu. Lu penasaran dengan kendala pernikahan gua selama beberapa bulan ini dengan orang yang … katakanlah … nggak setara.” Ia tiba-tiba menggeleng bermaksud meralat ucapan sendiri. “Oh, ****, gua ba ji ngan asli karena mendeskripsikan my loved ones dengan bahasa rendahan.”
Armand hanya menyeringai. “Fase fallin detected. Ibarat diskusi sama tembok. Officially masuk klub pria go blok karena cinta.”
Ia menggeleng. “Kalau sekarang lu bilang gua go blok, sebelumnya apa dong ... kegagalan gua sama Kinan? Go blok akut?”
“As tag pi ru loh, Pa pa?”
Ia tersentak mendengar desisan halus di belakang punggung.
“Bicaranya Papa amat sangat tidak pantas sekali. Aku bilangin ma__”
“Eisss, ada jagoan Umay rupanya!” Ia tergelak dan berusaha meraih bahu bocah itu agar mendekat. “Malam ini udah ketemu sama om Armand belum?”
Armand tertawa geli melihat reaksinya dan Umay secara bergantian. Lalu turut menepuk bahu putra ketiganya, lantas mengajak beradu kepalan tangan.
“Umay?” tanya Armand.
“Iya, Om.”
“Ada misi khusus apa menghampiri papa Tama di sini?”
Ia mencibir ke arah Armand, sementara pria itu justru tersenyum mengejek.
“Papa dipanggil sama mama, katanya sudah malam kapan selesai acaranya? Nanti ganggu tetangga kalau rumah kita berisik terus,” ucap Umay dengan wajah ragu namun artikulasi lancar.
Ia melihat arloji di pergelangan tangan kanan. Kemudian melirik ke arah ruang tamu di mana the loved ones sedang tersenyum-senyum menanggapi gurauan para tamu wanita.
“Sebentar lagi,” ujarnya kembali menepuk bahu berbalut kemeja berwarna senada dengan yang dikenakannya. “Papa selesaikan urusan sama om Armand dulu.”
Umay kembali menatapnya ragu. “Urusan tentang hal go blo__” Bocah itu segera menutup mulut dengan kedua telapak tangan, tak jadi melanjutkan kalimat.
Tawa Armand berderai. Sedangkan ia tersenyum kecut sambil meletakkan telunjuk di depan bibir. “Sstt. Ini rahasia kita berdua. Apa Papa bisa mengandalkan seorang Umay?”
Sepasang mata cerdas di hadapan memancarkan cahaya berkilat seperti ingin memprotes. Namun perlahan mulai meredup. Sejurus kemudian empunya mata mengangguk lemah.
Ia mengacungkan jempol. “Sekarang misi lanjutan Umay adalah ngajak Sasa, mas Reka, dan bang Icad tidur. Besok kalian sekolah pagi, kan?”
Lagi-lagi Umay mengangguk. Kemudian berlari menuju ruang tamu. Namun di tengah jalan dijegal Devano yang mengajak bercanda.
“Anak yang manis,” gumam Armand ikut memperhatikan Umay yang tertawa lepas akibat godaan Devano. “Lebih manis dari darah daging lu sendiri.”
“Shut the hell up!” Ia mengernyit tak setuju. “Reka udah jinak sekarang, udah ketemu pawangnya.”
Armand mencibir. “All in one, mawangin bokap plus anak.”
“Dan pawang itu yang lu bilang nggak setara sama gua,” sambungnya cepat.
“Common case.” Armand tak mau kalah. “Anak gua lebih akrab sama baby sitter dan PAnya ketimbang gua dan orang-orang di sekeliling gua. Nothing spesial.”
Ia hanya menggeleng. “Dan lu bangga anak lu lebih dekat sama baby sitter?”
“Bangga bisa memahami duplikat gua dengan menyediakan kenyamanan seperti yang dia inginkan.”
Ia masih menggeleng. “Lu harus kena batunya. Merasakan kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan dari makhluk di luar planet yang lu ciptakan sendiri.”
“Kenyamanan perbuatan saling. Ketenangan dari dalam diri, bukan bersumber dari orang lain. Kebahagiaan ada masa kadaluwarsanya.” Armand bersikukuh. “Gua nggak yakin, apa lu masih bisa ngomong begini di masa depan? Dan gua nggak bakal kena batunya. Logika gua masih prima, nggak akan seerror lu bertiga.”
Ia mengembuskan napas panjang lantas tersenyum sinis. “Kalau teori lu tentang tiga hal tadi benar seratus persen, lantas apa arti rumah tangga gua sebelumnya? Kami jelas setara, tapi berujung kehancuran.”
“Hubungan yang gua jalani ini.” Ia makin bersemangat. “Tidak diperuntukkan bagi unskilled guy yang cintanya berorientasi bisnis, kelanggengan ditentukan profit, lalu satu sama lain saling tutup mata, hidup di dunia masing-masing.”
Armand menggerus rokok ke dalam asbak. “Paling nggak pondasiku dalam menjalin hubungan jelas dan terukur. Bukan angan-angan semu atas dasar sikap impulsif.”
“Apa dia setara?” Ia mengarahkan dagu ke ruang tamu di mana wanita yang tadi datang bersama Armand sedang berbisik di telinga Pocut.
“Of course.” Armand mengangguk. “Dia teman lama, teman masa kecil.”
“Lucky for you, hidup terarah dikelilingi orang-orang yang setara,” gumamnya malas.
“We’re just friends, that’s all.” Armand tersenyum penuh kemenangan. “See, dalam pertemanan gua seselektif ini, apalagi soal memilih pasangan hidup.”
“Can I say something?” Ia menjadi tak sabar.
Armand mempersilakan dengan gerakan tangan.
“Jan cok!” gerutunya sambil melambaikan tangan bermaksud memanggil Devano.
Armand masih tertawa ketika Devano datang tergopoh-gopoh. “Ya, Pak?”
“Lima menit lagi acara beres,” jawabnya seraya memberikan instruksi apa saja yang harus pemuda itu lakukan. Ia sudah berkenalan dengan sespri baru di Polda Metro, tapi khusus malam ini masih ingin memberi perintah pada Devano. Hitung-hitung salam perpisahan sebelum mereka tak lagi menjadi atasan dan bawahan.
Tak berselang lama Devano pergi, ponsel di sakunya bergetar panjang tanda panggilan masuk. Begitupula dengan Armand yang lebih dulu menerima telepon dengan dahi berkerut.
Armand mengembuskan napas panjang. “Deadly news.”
Ia hendak memperjelas apakah orang yang menghubungi mereka menginformasikan hal yang sama atau tidak. Namun Armand keburu menerima panggilan telepon kedua. Begitupun dirinya, ponsel di tangan kembali bergetar dan nama pemanggil yang tertera di layar membuatnya mengerut.
“Ya?” Ia menjawab telepon seraya menoleh ke arah Armand yang juga sedang memperhatikannya. Mereka sama-sama berbicara melalui ponsel dengan air muka yang lambat laun berangsur mengeruh.
Double deadly news.
***
Pocut
Ia melambaikan tangan pada Grace yang duduk di samping teman pengusaha Tama bernama Armand, sebelum mobil mewah yang dikemudikan pria berkemeja putih itu melaju meninggalkan jalan depan rumah.
Ia baru akan menceritakan obrolan cukup penting bersama Grace ketika Tama tiba-tiba meraih bahu seraya mengecup dahinya sekilas. Tindakan spontan yang cukup mengejutkan karena mereka tengah berjalan melintasi halaman depan di antara lalu lalang anak buah Tama yang sedang membereskan peralatan sisa acara.
“Malam ini tidur sendiri, ya.” Tama mengusap lengannya. “Titip anak-anak.”
“M-mas mau ke mana?” tanyanya heran. Terlebih begitu masuk ke dalam rumah, Tama langsung menariknya serta menuju kamar. Tak menghiraukan Bu Niar, mamak, dan Anja yang duduk menunggu di ruang tengah.
“Ada apa, Mas?” Ia kembali bertanya dengan nada sehati-hati mungkin, sembari membantu Tama memilihkan kaos polo berwarna gelap sebagai pengganti kemeja biru muda yang baru saja ditanggalkan.
Tama tak jua menjawab. Pria itu sigap berganti baju, menyambar jaket sekenanya dari dalam lemari, lantas membuka laci tempat penyimpanan senjata api.
“Mas?” Ia mengekori Tama dengan penuh rasa ingin tahu. Hatinya mulai berdebar tak karuan manakala menangkap raut tegas sang suami saat mengecek silinder berisi peluru.
Lima menit lalu ia masih saling bercanda dengan Grace dan Armand kala pasangan serasi itu berpamitan. Tak pernah terbayangkan keadaan berubah drastis tanpa satupun pertanda terbaca. Kondisi membingungkan yang kembali membuka kenangan buruk tentang sederet kehilangan.
Tidak.
Batinnya semakin dipenuhi berbagai tebakan buruk ketika satu sentuhan hangat kembali menghiasi dahinya. Kali ini lebih dalam dan lama disertai rengkuhan.
“Doain Papa, ya.”
Ia menatap nanar pria yang tengah mengusap pipinya itu. “Mas mau ke mana?”
Tama tersenyum seraya menyentuhkan diri. “Panggilan tugas. Titip anak-anak. Mama masih di sini sampai besok. Nenek kalau bisa tinggal di sini selama aku pergi.”
Empat rangkaian kalimat yang bahkan belum sempat ditanggapinya menjadi ucapan terakhir Tama sebelum keluar kamar, menghampiri kamar anak-anak satu per satu, berpamitan pada para ibunda, lantas pergi meninggalkan rumah entah ke mana. Ia tak sempat menanyakan tujuan kepergian Tama atau memang pria itu sengaja tak memberitahunya.
“Apa ini pertama kali ditinggal tugas mendadak?Tengah malam tanpa tahu suami mendapat tugas apa atau pergi ke mana?”
Ia terkejut dan hampir menumpahkan cangkir berisi teh yang coba dibereskannya di ruang tamu. Yuni yang juga sedang merapikan ruang tamu langsung sigap mengambil alih cangkir dari tangannya, sementara bu Niar telah duduk di sampingnya.
“Biar sama saya saja, Bu,” bisik Yuni pengertian. Bergegas menumpuk cangkir dan piring kecil ke atas nampan.
Ia menggumamkan terima kasih. Dan kembali terkejut ketik bu Niar tiba-tiba meraih tangannya.
“Apa Pocut masih belum terbiasa dengan perubahan suasana yang mendadak?”
Ia menelan ludah seraya menatap bu Niar meski tak bisa fokus. Pikirannya lebih dikuasai kecamuk serta berjubel pertanyaan menggelisahkan.
“Dari acara keluarga meriah penuh suka ria menjadi kepergian tiba-tiba tanpa pesan.” Bu Niar memberi senyuman menenangkan. “Dulu almarhum mas Setyo juga begitu. Setiap ada tugas nggak pernah cerita sedang menangani kasus apa, pergi ke mana, berapa lama. Jadi Mama tebak, gaya Tama persis seperti papanya.”
Ia kembali menelan ludah dengan masygul. “Apa saya tidak boleh bertanya mas Tama akan pergi ke mana?”
“Tentu saja boleh.” Bu Niar mengangguk. “Tapi kita tidak bisa memaksa mereka untuk berterus terang hanya demi memenuhi rasa keingintahuan kita. Mama yakin, Pocut memiliki insting terbaik tentang mana hal yang harus kita kejar dan ketahui duduk permasalahannya. Dan mana yang kita cukupkan di titik berprasangka baik.”
“Lalu tugas kita beralih menjadi mendoakan keselamatan mereka selama bertugas,” sambung Bu Niar lembut. “Terus mendoakan tanpa merasa lelah. Sebab hanya itu perisai yang bisa kita berikan. Berperangnya kita dari dalam rumah.”
Ia menunduk teringat kembali kejadian Tama menghilang tanpa pernah menghubungi. Padahal kala itu ia tengah gundah sebab pak Raka terus mendesak perihal pinangan. “Secara tidak langsung, saya pernah mengalami hal mengejutkan seperti ini. Tapi waktu itu, kami belum menjadi suami istri. Jadi saya belum bisa ... saya masih ... maksud saya ....”
Bu Niar menggenggam tangannya. “Waktu mau lamaran?”
Ia mengangguk sembari lagi-lagi menelan ludah.
“Nggak apa-apa,” ucapan bu Niar terdengar cukup menenteramkan. “Wajar karena ini menjadi yang pertama. Nanti lama-lama juga terbiasa. Dan kalau Mama boleh bilang, diamnya Tama karena sedang melindungi keluarga. Nanti malah Pocut sendiri yang nggak bisa tidur berhari-hari kalau tahu kasus apa yang sedang ditangani Tama.”
Ia tak tahu harus tersenyum atau bersedih mendengar wejangan sang mama mertua. Namun memahami betul jika sekecil apapun perilaku yang ditampilkan Tama meskipun hanya diam, itu pasti sudah melalui pertimbangan matang dan bukan ego sesaat seorang suami yang tak menganggap keberadaan sang istri.
Tama bukan tipe suami seperti itu.
“Pocut ingat obrolan kita di perpustakaan rumah?” Bu Niar menatapnya tegas. “Sekarang saatnya mempraktekkan semua hal yang pernah kita bicarakan.”
Ia telah mengetahui berbagai teori tentang bagaimana mendampingi seorang perwira, tentang apa yang harus dilakukan sebagai dukungan terhadap tugas suami. Namun tak ada praktek yang berjalan mudah. Begitu bu Niar pulang ke kediamannya, kehidupan sehari-hari kembali mengalir, sedangkan Tama tak kunjung memberi kabar, ia menjadi lebih waspada tiap kali mengikuti jejak Umay menonton berita kriminal. Bertanya-tanya sampai kepala pening kira-kira kasus mana yang sedang ditangani oleh Tama. Apakah perampokan berdarah atau kaburnya tahanan gembong narkoba atau pembunuhan tokoh publik yang menjadi sorotan masyarakat atau ....
Berhari-hari ditinggal pergi tanpa kabar rasanya seperti siksaan seumur hidup. Pertahanan dirinya hampir koyak ingin menghubungi Tama lebih dulu. Namun akal sehat masih bisa diajak kerja sama. Kegamangannya tentang di mana Tama berada, bagaimana sang suami bisa berganti baju padahal dari rumah tak membawa bekal apapun, apakah kebutuhan makanan pria itu tercukupi dengan baik, sedikit teralihkan oleh kesibukannya mengelola media sosial Lombok Abang.
Agus dan Yuni menjadi yang paling membantu, terutama jika Reka sedang berada di sekolah atau kolam renang. Pasangan suami istri itu telah mendapat penjelasan khusus dari Reka tentang pengoperasian kamera, mengunggah video ke sosial media, menulis keterangan video, serta menjawab pesan-pesan yang masuk.
Ketika akhirnya Tama muncul meski melalui layar televisi, ia baru bisa bernapas lega seraya mengucap syukur tak terhingga sebab keadaan sang suami terlihat baik-baik saja.
“Ada papa di tv, Ma!” Lapor Umay antusias. “Oh, ternyata papa nggak pulang-pulang karena nangkap perampok, Ma. SA! SASA!” Umay lantas berteriak sekencang-kencangnya. “Sini! Ada papa di tv! Katanya kamu kangen sama papa!”
“Apa seorang atasan seperti Mas harus ikut ke lapangan mengejar penjahat?” bisiknya tanpa bisa dicegah di hari ketiga Tama berada di rumah. “Aku pikir itu tugas anggota Mas. Aku pikir orang seperti Mas cukup memberi perintah dari jauh.”
Pria berkemeja koko hijau lumut yang baru selesai mengimami salat Maghrib di ruang tengah itu mengu lum senyum seraya meraih tangannya. “Mama kebanyakan nonton film, nih.”
“Mas?” Ia mengernyit. Sementara suara mengaji Umay dan Sasa mulai berdengung. Icad belum pulang dari pengayaan jelang olimpiade sains. Reka juga masih latihan menuju Popprov.
“Papa memilih pulang setelah tugas benar-benar selesai.” Pria itu menatapnya. “Papa nggak ingin suasana dan emosi tak baik terbawa ke rumah. Pilihan sulit karena kita jadi nggak bisa ketemu.”
Ia membalas tatapan Tama seraya berucap ragu. “Tapi kalau memberi kabar masih bisa, kan?”
Tama mengangkat bahu dengan wajah menyesal. “Ini yang harus banyak dilatih. Kebiasaanku dari dulu nggak pernah kasih kabar. Lupa kalau di rumah ada si cantik yang nungguin.”
Ia mencubit paha berbalut sarung tenun itu dengan gemas. “Jadi aku boleh bertanya dan mengirim pesan ke hp Mas?”
“Boleh sekali, istriku sayang.”
“Kenapa nggak bilang dari awal?” Ia kembali mencubit paha Tama, kali ini lebih gemas. “Aku nggak perlu khawatir berhari-hari. Pening kepalaku Mas, mengenyahkan pikiran buruk yang berdatangan. Mas tahu sendiri aku punya pengalaman buruk tentang kepergian tiba-tiba tanpa kabar. Aku ....” Ia tak sanggup melanjutkan kalimat sebab telah berkaca-kaca.
Tama bergegas merengkuhnya seraya berbisik. “Maafin Papa ud__”
“IH! Mama sama papa kok malah bisik-bisik terus pelukan, sih! Bukannya baca Qur’an!” pekik Sasa yang langsung ditutup matanya oleh Umay.
“Diem, Sa. Kita ngaji aja. Pura-pura nggak lihat,” perintah Umay tegas dengan mata melotot jenaka ke arahnya juga Tama.