Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 61. Pretty Woman, The Kind I Like to Meet


Pretty Woman, The Kind I Like to Meet


(Wanita cantik, yang ingin kutemui)


-diambil dari lirik lagu berjudul 'Pretty Woman' yang pertama kali dirilis oleh Roy Orbinson tahun 1964-


***


Jakarta


Pocut


Tama mengajaknya pergi ke restoran eksklusif di sebuah hotel berbintang. Tapi ia menolak dan memberi pilihan lain. Karena pergi ke tempat mewah terkadang menghadirkan rasa ketidaknyamanan.


"Wah, pilihan sulit." Tama tertawa. "Coba kita lihat ... apa aku bisa menebak tempat yang kamu inginkan?"


Tama mulai menyebutkan satu persatu nama taman, museum, bahkan galeri seni. Menerangkan kelebihan, kekurangan, dan di sudut mana mereka bisa berbicara.


Tanpa disadari, perbincangan dua arah terus mengalir. Tama dengan pendapatnya, ia dengan pendiriannya. Hingga mereka berhasil menemukan satu kata sepakat.


"Sampai ketemu besok ... jam sepuluh?" Suara Tama terdengar lega.


Ia mengangguk. Meski tahu Tama tak mungkin melihatnya.


"Tama baru saja menelepon," ujarnya pada mamak, yang sedang menulis ulang resep masakan di dalam sebuah buku.


Mamak menoleh.


"Rencananya ... besok kami mau bicara," lanjutnya sambil mendudukkan diri di sebelah mamak.


Mamak sempat terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ajaklah seseorang untuk menemani. Demi kehormatanmu sendiri."


"Tak baik pergi berdua sebelum ada ikatan resmi," sambung mamak kembali melanjutkan menulis. "Bisa jadi celah masuknya godaan."


Ia menghela napas panjang. Seandainya mamak tahu, ia pernah pergi berdua bersama Tama ke sebuah restoran di Mall. Bahkan pernah pergi dengan pak Raka ke arena bermain anak-anak. Meski berdalih mendampingi Sasa dan Shaina. Kini ia merasa sangat malu karena telah mengabaikan kehormatan diri.


"Kau bisa mengajak satu di antara mereka." Mamak seolah mengerti kebimbangannya.


Ia mengernyit tak mengerti. "Anak-anak?"


Mamak mengangguk. "Siapapun yang dipilih untuk menemani, pasti akan merasa bangga, bisa menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupmu."


"Akan terkenang sampai kapanpun," imbuh mamak. "Meski kita semua tak ada yang tahu ... apakah hubunganmu dengan Tama akan menjadi ikatan untuk selamanya atau tidak."


Ia kembali menghela napas. Matanya menerawang memandang keluar jendela, di mana anak-anak sedang riuh bermain di halaman kosong depan rumah. Sasa asyik bermain petak umpet, Umay berseru riang usai menang bermain gundu, dan Icad sedang duduk-duduk di teras sambil membaca buku.


"Iya, Mak," jawabnya usai berdiam diri. Menimbang siapa kiranya yang akan diajak pergi esok pagi. Kemudian beranjak ke kamar untuk menghubungi Tama. "Assalamualaikum ...."


"Apa kita sama? Nggak sabar menunggu besok sampai menelepon lagi?" Suara Tama terdengar penuh sukacita.


Ia mendesah tak percaya. "Saya menelepon hanya ingin memberitahu ... besok ada anak yang ikut pergi bersama kita."


"Dengan senang hati," jawab Tama cepat dengan suara yang semakin berseri. "Ajak ketiga-tiganya."


Ia menggeleng. "Terimakasih. Cukup satu saja."


Malamnya begitu Sasa terlelap, ia memanggil Icad yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Abang ... besok ada rencana pergi nggak?"


Icad menggeleng. "Mau ngadem di rumah habis ujian semester."


Ia tersenyum. "Mau menemani Mama?"


Icad mengernyit. "Ke?"


"Bertemu om Tama."


Icad langsung menggeleng. "Nggak mau."


Ia mengembuskan napas panjang.


"Kenapa Mama mau ketemu sama om itu?" Icad menatapnya curiga.


"Ada yang harus kami bicarakan."


"Tentang?" Icad semakin menatapnya curiga.


"Belum tahu. Karena ada banyak hal yang harus kami bicarakan." Ia menghela napas.


Icad memandangnya dengan alis saling bertaut. "Abang nggak suka Mama bicara lama-lama sama om itu."


Ia meraih tangan Icad agar duduk di atas tempat tidur. "Makanya Mama ajak Abang. Mama ingin melibatkan Abang dalam setiap keputusan Mama."


Icad menunduk. "Tetep aja nggak suka."


Ia mulai kehabisan akal. "Ya udah, nggak apa-apa. Biar besok Mama ajak Umay atau Sasa."


Tapi paginya, ketika ia sedang memasak di dapur, Icad yang baru bangun tidur mendekat.


"Aku ikut."


"Apa?" Ia harus menjamkan pendengaran karena suara spatula yang beradu dengan wajan besi lebih terdengar dibanding gumaman tak jelas Icad.


"Aku ikut Mama ketemu sama om itu," ulang Icad dengan wajah mengkerut.


Ia tersenyum lega. "Terimakasih, Bang."


"Mama sama abang mau pergi ke mana, sih?" Tanya Sasa untuk yang ke sekian kali ketika ia sedang menyapukan lip balm ke seluruh permukaan bibir.


"Kok Sasa nggak diajak?" Protes Sasa dengan wajah cemberut. "Sasa kan mau ikut juga."


"Ini acara anak gede," jawab Icad yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan sudah berpenampilan rapi.


"Iih!" Sasa semakin merajuk sambil menggelayuti lengannya. "Sasa ikut ya, Ma?"


Ia menuntaskan sapuan terakhir sebelum menyimpan lip balm ke dalam tas. Lalu berjongkok sembari memegang bahu Sasa.


"Sasa di rumah dulu sama bang Umay dan nenek, ya. Nanti pulangnya Mama bawakan oleh-oleh. Sasa mau titip apa? Susu? Cokelat? Es krim?"


"Semuanya, Sa. Semuanya," seloroh Icad yang sedang menyisir rambut di depan cermin.


Sasa semakin cemberut. "Nggak mau oleh-oleh. Maunya ikut."


"Sa!" Tiba-tiba Umay menyeruak ke dalam kamar. "Mau ikut lihat mainan baru Iksi, nggak? Skuter listrik bisa jalan sendiri. Keren banget!"


Mata Sasa langsung membola. "Skuter yang kayak punya Queensha, Bang? Yang ada boncengannya? Gambar bunga-bunga?"


Umay mengangguk. "Iya. Ayo!"


Sasa langsung memeluknya. "Mama boleh pergi sama Abang. Tapi Sasa titip oleh-oleh yang banyak. Semuaaaa makanan yang Sasa suka. Ya ya ya?"


Lalu berlari meninggalkan kamar begitu saja. Menyusul Umay yang sudah pergi ke rumah Iksi.


Icad yang masih menyisir tertawa. "Gampang banget ngalihin perhatian bocil."


Sambil menunggu pak Agus yang kabarnya akan datang menjemput, ia mulai memasukkan potongan ayam tangkap ke dalam wadah. Buah tangan dari mamak untuk Tama. Meski ia sedikit keberatan dan sempat mencegah, "Tak perlu bawa oleh-oleh, Mak."


Tapi mamak bersikeras. "Tak elok menjumpai orang dengan tangan kosong."


Ketika ia sedang memasukkan potongan ayam tangkap yang terakhir, dari arah ruang tamu terdengar suara orang mengucapkan salam.


"Saya Agus, Bu," angguk pria yang sudah duduk di ruang tamu bersama mamak. "Disuruh pak Tama menjemput Ibu."


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pertemuan, ia selalu menggenggam tangan Icad. Bahkan hingga mereka turun dari mobil. Menjumpai Tama yang telah menunggu di depan teras sebuah bangunan bergaya tempo dulu.


Tama mempersembahkan senyum terbaik saat mereka saling menatap. "Kita masuk lewat sini."


Icad, meski memasang wajah tak ramah, namun tanpa diminta tetap meraih tangan Tama untuk memberi salam.


"Wah, ada penjaga rupanya." Tama menepuk bahu Icad. "Apakabar, jagoan?"


"Baik," jawab Icad singkat dan kaku.


Tama langsung mengajak mereka memasuki ruangan bernuansa klasik sekaligus modern itu. "Sudah pernah datang ke sini?"


Ia menggeleng. Tapi Icad mengangguk.


"Sering ke sini?" Kali ini Tama langsung bertanya ke arah Icad.


"Sekali," jawaban Icad lagi-lagi sangat singkat. "Kegiatan sekolah."


Mereka berjalan melintasi galeri dan ruang pameran. Melihat semua hal yang berhubungan dengan sastra, buku, membaca, dan aksara dari seluruh nusantara.


Setelah puas menikmati galeri seni, Tama mengajak mereka keluar melalui pintu belakang. Dan langsung disambut oleh gedung tinggi bertuliskan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.


Ya, mereka akan berbicara di perpustakaan.


"Ada lounge dan ruang diskusi kedap suara," terang Tama di telepon. "Kita bisa bicara di sana tanpa mengganggu orang lain."


"Keren, ya?" Tama mengerling ke arahnya yang sedang mengagumi kemegahan di depan mata.


Tanpa sadar ia pun menoleh, membuat mereka kembali saling bersitatap.


"Kita ke loker dulu." Sembari terus tersenyum, Tama mengajak mereka menuju ke tempat penitipan.


Di sana, ia mendapatkan kunci dan sebuah tas untuk menampung barang-barang penting yang hendak dibawa. Ketika sedang memasukkan dompet dan ponsel, Icad menitipkan earphone padanya.


"Titip, Ma."


Ia mengangguk. Tak sempat terpikir berbekal earphone agar Icad tak merasa bosan ketika menunggu.


"Kita ke lantai dua dulu." Tama mempersilakannya untuk menaiki eskalator terlebih dahulu.


Ketika menoleh ke belakang, ia melihat Tama sedang mengajak Icad mengobrol. Meski hanya dijawab singkat sepatah dua patah kata.


Begitu sampai di lantai dua, Tama mengajaknya ke depan sebuah layar komputer. "Kita daftar jadi anggota dulu. Biar bisa mengakses seluruh fasilitas."


"Icad bawa kartu anggotanya?" Tama melihat ke arah Icad yang mengangguk.


"Bawa."


"Bagus." Kini Tama menoleh padanya. "Tinggal Mama yang belum buat."


Ia langsung mundur ke belakang. Meminta Icad untuk mengisikan data dirinya ke dalam layar komputer.


Tapi Tama melarang. "Biar Mama isi sendiri, Cad."


Ia mengerut. "Ketikan saya lambat."


Tama tersenyum. "Nggak apa-apa."


Ia akhirnya kembali mendekati layar komputer. Dengan gerakan kaku dan gugup mulai mengetikkan data mengisi seluruh kolom yang tersedia. Sementara Tama berdiri di sampingnya. Memberi tahu jawaban apa yang harus diketikkan ketika ia sedikit kebingungan.


***


Tama


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat berdiri di teras rumah batavia, menunggu Pocut yang sedang berjalan mendekat dalam gerakan lambat.


'Pretty woman, walking down the street


(wanita cantik, berjalan menyusuri jalan)


Pretty woman, the kind i like to meet'


(wanita cantik, yang ingin kutemui)


(Roy Orbinson, Pretty Woman)


Ia tersenyum menatap wajah Pocut yang seolah memancarkan sinar. Tiba-tiba merasa sangat konyol dan malu pada diri sendiri. Begini rasanya jatuh cinta. Aneh dan cukup menggelikan.


Bukan tanpa sebab ia memilih perpusnas. Ide bahkan baru tercetus setelah mereka membahas sejumlah taman di tengah kota, museum, galeri seni. Dan tempat favorit salah satu sahabatnya, Rajas, akhirnya menjadi pilihan tepat. Memenuhi semua kriteria yang diinginkan Pocut.


Ia juga sama sekali tak keberatan, ketika kemarin petang Pocut kembali menelepon. Ingin mengajak satu dari ketiga anaknya. Ia pikir, kalau bisa bahkan diajak semua. Supaya tugasnya menjadi lebih mudah.


Tapi Pocut hanya mengajak seorang, dialah penjaga paling tangguh, Icad. Menjadi hal yang cukup melegakan. Sebelum esok hari minggu, waktunya berbicara secara khusus dengan Icad dan Umay.


Dengan mereka berjumpa hari ini, akan menjadi awal yang baik. Karena Icad masih saja kaku dan menjaga jarak tiap kali ia berusaha mendekatkan diri.


Dan sekarang, mereka sudah duduk di dalam ruang diskusi kedap suara. Ia berada tepat di hadapan Pocut. Dengan Icad di sebelah, yang secara sengaja dan terang-terangan memperlihatkan earphone padanya.


"Aku pakai ini, Ma." Icad menyambungkan earphone ke ponsel milik Pocut. "Nggak akan menguping."


Ia hampir tertawa melihat Icad yang sedang sibuk memasang earphone ke telinga. Kemudian mulai membaca sebuah novel terjemah bertema detektif yang baru saja dipinjam.


Ia memandang Pocut yang terlihat gugup. "Kita mulai dari mana?"


Pocut menunduk. Terdiam sejenak sebelum bertanya, "Bagaimana keadaan Reka?"


Sebelum ia kembali ke Jakarta, Reka sudah diizinkan pulang ke rumah. Trombosit berada di angka 120, suhu turun, nafsu makan meningkat, meski masih diam dan enggan diajak bicara.


Selama empat hari di rumah sakit pula, ia dan Reka hampir tak pernah saling bicara kecuali untuk keperluan makan, minum, ke toilet.


Meski begitu, ia merasa lega. Karena Reka mau menerima keberadaannya di sekitar. Tak lagi menunjukkan penolakan terang-terangan ataupun menghindar.


"Besok Ayah sudah harus pulang ke Jakarta," ujarnya pada Reka. "Reka harus sehat. Kalau perlu apa-apa langsung hubungi Ayah."


Reka tak menjawab. Tapi sebelum ia bertolak ke bandara, Reka sempat memandangnya. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Meski tak pernah terucap sampai saat ini.


"Sudah sembuh. Sudah pulang ke rumah," jawabnya seraya terus menatap Pocut. "Tapi saya belum sempat cerita tentang rencana ke depan ...."


Pocut mengangguk. "Sebaiknya tunggu sampai benar-benar pulih."


Ia setuju. Komunikasi keseharian dengan Reka yang segar bugar saja menjadi pekerjaan sulit baginya. Apalagi menceritakan rencana menikah lagi dengan kondisi kesehatan Reka yang belum sepenuhnya pulih. Pasti akan lebih sulit berkali lipat.


Suasana ruangan mendadak hening selama beberapa saat. Ia menatap Pocut yang menunduk. Lalu beralih ke arah Icad yang tenggelam di depan buku.


"Keluarga seperti apa yang kamu inginkan?" Pertanyaan pertama meluncur dengan sendirinya tanpa sempat diproses terlebih dahulu.


Pocut terdiam beberapa saat. Sebelum balas menatapnya dan berucap. "Yang memiliki pondasi kuat. Memegang teguh prinsip."


Ia mengangguk. "Kepercayaan."


Ia tentu takkan pernah lupa, bagaimana kepercayaannya terhadap Kinan tak berjalan baik. Keputusannya memberi Kinan keleluasaan untuk membuat keputusan sendiri justru berubah menjadi boomerang.


"Aku memercayai kamu lebih dari siapapun." Ia menatap Pocut tanpa jeda. "Apapun yang kamu lakukan, bagaimanapun pendapat orang di luar sana, aku tetap memercayai kamu."


"Aku bukan orang yang mudah terpengaruh oleh berita buruk dari orang lain," tambahnya. "Aku selalu memandang kamu seperti apa yang selama ini kukenal. Nggak akan berubah. Seburuk apapun keadaan dan sesulit apapun ujian yang harus kita hadapi."


"Itu berat." Pocut membalas tatapannya. "Apa saya mampu menjaga kepercayaan setinggi ini?"


"Kamu sendiri yang bisa menjawab." Ia tersenyum. "Karena aku nggak bisa memaksa kamu untuk melakukan hal yang sama."


"Semua akan berjalan dengan baik jika kita saling," imbuhnya. "Tapi sekali lagi ... aku sama sekali nggak punya kekuatan untuk mengatur sikap, perasaan, apalagi keputusan kamu."


Pocut menunduk. "Maaf sebelumnya, apakah ini yang menjadi alasan kegagalan? Karena memberi kepercayaan penuh tapi tak ada kata saling?"


"Ya." Ia mengangguk. Merasa senang karena Pocut tak lagi terbata ataupun gugup.


"Siapapun orangnya ... jika sudah diberi kepercayaan ... seharusnya bisa menjaga dengan baik." Pocut menatapnya.


Ia tersenyum. Merasa semakin senang karena ternyata Pocut bisa mengimbangi pemikirannya. "Aku yakin itu kamu."


Wajah Pocut mendadak bersemu merah. Sebelum kembali tertunduk dengan ekspresi gugup.


"Bagiku ... kepercayaan sudah lebih dari cukup." Ia menatap lekat-lekat paras menawan yang sedang tertunduk di hadapan. "Kalau kamu?"


Pocut terlihat menjalin jemari di atas meja dengan gelisah. "Kejujuran, kasih sayang, keteladanan ...."


"Kamu ingin aku memberi teladan yang seperti apa?" Ia semakin tertarik dan tenggelam dalam pesona.


Sejak awal berbincang di meja makan, ia yakin jika Pocut sebenarnya adalah seorang wanita yang cerdas. Terpancar jelas dari sikap dan pilihan tutur kata yang ditampakkan.


Hanya saja masih terlalu murni. Belum terkena sentuhan dunia. Mungkin inilah yang menggerus sisi kepercayaan diri seorang Pocut. Kurangnya pengalaman. Hingga selalu terlihat gugup dan gelisah tiap kali berbicara dengan orang yang dianggap lebih.


"Teladan yang membuat anak-anak merasa bahagia dan memegang teguh prinsip keluarga," jawaban Pocut terdengar begitu merdu.


Oh, sekarang ia benar-benar jatuh cinta. Anyone help me, please? Karena detik ini juga ia ingin menyeret Pocut mengikat janji suci di depan penghulu.


***


Icad


Tak seorangpun tahu, jika earphonenya mati dan tidak tersambung dengan musik apapun. Buku di tangan juga hanya sekedar pengalih perhatian. Supaya kegiatan mengupingnya tak terlalu kentara.


Ya. Ia mendengarkan obrolan mama sejak awal, semuanya tanpa kecuali.


Untung saja pria itu tak mengucapkan kalimat cinta menggelikan atau rayuan menjijikkan. Pria itu terlihat benar-benar serius dengan mama. Membicarakan semua hal tanpa kecuali. Sampai wajahnya memanas saking merasa terharu. Saat mendengar bagaimana mama menempatkan perasaan mereka bertiga di atas segalanya.


"Wah, sudah dzuhur," seloroh pria itu sambil melihat pergelangan tangan kanan. "Icad, kita enaknya salat dulu atau makan dulu?"


"Salat dulu," jawabnya dengan mata terpaku di depan buku meski tak sedang membaca.


Pria itu langsung tergelak. Termasuk mama yang menatapnya heran, "Abang bisa dengar?"


Wajahnya merah padam bak pencuri yang tertangkap basah. Dan semakin bertambah berkali lipat ketika beranjak keluar dari ruangan. Saat pria itu merangkulnya sambil tersenyum penuh arti.


"Jangan lupa kirim rekamannya ke Om."


Ia terlolong.


Aduh, ternyata pria ini mengetahui semua perbuatannya.


***