Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 53. Adalah Engkau


Adalah Engkau


-diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Seismic, sebuah grup nasyid-


***


Jakarta


Pocut


Ia menghapus sisa air mata menggunakan punggung tangan. Lalu melihat jam dinding yang menggantung di atas pintu kamar.


00.30 WIB.


Ia kembali mencium kening Sasa sebelum beranjak. Berniat untuk mengambil air wudu. Tapi matanya lebih dulu tertumbuk pada tumpukan kotak cantik nan elegan yang tersimpan di atas meja. Kembali mengingatkannya pada percakapan dengan mamak.


"Ini apa, Mak?" Tanyanya keheranan ketika pulang dari madrasah menjelang Isya. Saat menemukan tumpukan kotak mengilap berwarna marun tersimpan di dalam kamar.


"Tadi ada tamu yang datang kemari," jawab mamak singkat. "Membawa bingkisan itu."


Ia semakin mengernyit heran. Mengapa mamak menyimpan bingkisan di dalam kamarnya. Padahal semua bingkisan pemberian dari orang lain tersusun rapi di ruang tamu.


Di atas meja yang menempel di dinding, terdapat setumpuk parcel kiriman dari para pelanggan masakan mereka. Juga orang-orang yang dulu pernah melamarnya, termasuk pak camat. Bahkan hampers eksklusif dari pak Raka.


"Sengaja disimpan di dalam." Mamak seolah mengerti keheranannya. "Agar tak tercampur dengan yang lain."


Azan Isya yang berkumandang membuatnya urung memeriksa kotak marun untuk mengetahui nama pengirim. Ia buru-buru mengambil air wudu agar tak terlambat mengikuti salat Isya dan Tarawih berjamaah.


Dan ketika ia mengucap salam saat masuk ke dalam rumah usai mengikuti salat Tarawih di masjid. Sasa menghambur ke dalam pelukan sambil merengek.


"Mama."


"Eh, anak cantik udah di rumah ternyata?" Ia tersenyum sambil membelai rambut Sasa yang sedang menenggelamkan kepala ke ulu hatinya. "Salatnya sampai selesai nggak?"


Sasa mengangguk. "Sampai rakaat terakhir."


"Alhamdulillah." Ia semakin membelai rambut Sasa. Ia memang pulang agak terlambat. Karena mengobrol dengan ibu-ibu PKK terlebih dulu seusai salat Tarawih.


"Mama tadi ke mana?" Tanya Sasa yang menengadahkan wajah dengan mulut mengerucut.


"Ke mana?" Ia balik bertanya tak mengerti. "Mama nggak ke mana-mana. Seharian di madrasah bantuin ustadzah Mutia menj ...."


"Kok Mama nggak ada waktu buka puasa?" Sasa kembali bertanya dengan nada menyudutkan.


"Salam lekom." Seru Umay yang baru masuk ke dalam rumah. Langsung meraih remote televisi di atas meja dan menyalakannya.


"Ucapkan salam yang benar," tegur mamak sambil menggelengkan kepala.


Umay tersipu malu. "Assalamualaikum ...."


"Assalamualaikum ...."


Ucapan salam Umay ternyata bertepatan dengan seruan Icad.


"Waalaikumusalam ...." Jawabnya dan mamak bersamaan.


"Mama kemana waktu buka puasa?" Kejar Sasa dengan mata menyelidik.


"Oh." Ia tersenyum. Teringat saat membantu cing Weny yang jatuh pingsan.


Waktu itu ia mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis dan leher cing Weny. Sementara cing Ella berusaha meletakkan bantal pemberian dari ustadzah Mutia ke bawah kaki cing Weny. Memosisikan kaki menjadi lebih tinggi.


"Apa perlu dipanggilkan bu bidan?" Ustadzah Mutia ikut merasa cemas.


"Mpok Weny memang punya darah rendah, Ustadzah." Cing Ella mencoba menerangkan. "Kalau kecapean suka pengsan."


"Kemarenan waktu ikut lomba hadroh di Duri Kosambi juga pengsan gegara cape kepanasan," lanjut cing Ella sambil memijat-mijat kaki cing Weny.


Ustadzah Mutia mengangguk-angguk. "Tapi kalau sampai lima menit belum sadar juga ... saya panggilkan bu bidan."


Dan sebelum cing Ella ataupun dirinya menjawab, sudah terdengar suara desisan halus.


"Aduh ...."


"Alhamdulillah ...." Gumam mereka bertiga serempak saat melihat cing Weny mulai siuman.


"Mama di kelas belakang nemenin cing Weny." Sambungnya sambil tersenyum.


"Kenapa Sasa nyari Mama? Apa Sasa nggak kebagian snack jadi ngambek?" Tebaknya setengah bercanda.


Sasa menggeleng. Lalu berucap dengan mulut tetap mengerucut. "Mama sih nggak ada. Padahal om mau ikut Sasa ke rumah. Tapi kata om .. harus minta izin dulu sama Mama. Boleh nggak kalau om ikut ke rumah sama Sasa ...."


Ia langsung menelan ludah dengan gugup.


"Eh, Mama nggak kelihatan di mana-mana." Sasa mulai merajuk. "Om nggak jadi ke rumah deh."


"Padahal Sasa mau ngasih lihat anak kucing baru ke om." Sasa menunjuk kardus mie instant berisi tiga kucing belang yang tersimpan di samping buffet.


"Gagal deh." Sasa memberengut.


"Memang kenapa sih Ma, kalau om mau ke rumah kita ... harus minta izin dulu sama Mama?"


Pertanyaan menohok Sasa membuatnya kembali menelan ludah dengan gugup.


"Om kan udah gede ... udah tua ... hihihi ...." Sasa sedang merajuk pun masih bisa tertawa. "Bukan anak kecil kayak Sasa ... Abang Umay ...."


"Yee!" Umay langsung protes. "Abang udah gede kali. Bukan anak kecil lagi."


Tapi Sasa tak menghiraukan keberatan Umay. "Kenapa harus minta izin?"


Ia masih kebingungan memilih jawaban yang tepat, ketika Umay menyahut dengan mata tetap tertuju pada layar televisi.


"Om nggak jadi ke sini juga nggak papa, Sa. Kan udah ada gantinya."


"Oh iya!" Mata Sasa mendadak membulat ceria. "Om titip salam buat Mama."


"Salam spesial ... hihihi ...." Sasa menutup mulut seolah itu adalah hal sangat rahasia yang tak boleh diketahui siapapun. Padahal Sasa baru saja mengucapkannya dengan lantang.


Ia mendesah tak percaya saat menyadari kenekatan Tama dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya terutama Sasa. Ia sempat melirik ke arah mamak yang tetap khusyu merajut sweater untuk Aran. Seolah tak pernah mendengar ucapan Sasa.


Ia juga menoleh ke arah Icad yang baru datang dari dapur. Membawa semangkuk kolak campur dan mulai melahapnya. Terlihat acuh sama sekali tak memedulikan celotehan Sasa.


"Mama balas salam spesialnya om nggak?" Bisik Sasa di telinganya, usai meraih bahunya agar sedikit merunduk. "Balas ya? Ya? Ya? Hihihi ...."


Ia mengembuskan napas panjang dan berpura-pura melipat mukena. Tak berminat menjawab pertanyaan Sasa.


"Ma?" Sasa kembali merengek.


Tapi ia memiliki senjata pamungkas. "Sudah malam, sayang. Sekarang waktunya gosok gigi dan ambil air wudu ya. Siap-siap untuk tidur. Biar besok nggak kesiangan bangun sahurnya."


"Abang! Umay!" Ia memanggil kedua anak lelakinya. "Kasih contoh yang baik untuk adik."


Umay bergeming di depan televisi. Sementara Icad masih asyik melahap kolak. Tinggal Sasa yang memberinya tatapan merajuk.


Tapi ia tak menghiraukan trik Sasa. Tetap berjalan ke kamar bermaksud menyimpan mukena.


"WAH?" Gumam Sasa dengan mata mengerjap. Rupanya Sasa mengekorinya masuk ke dalam kamar.


"Kado dari siapa, Ma? Banyak banget?" Sasa langsung meraih kotak paling atas dan mulai membacanya.


"Gosok gigi dulu." Ia berusaha mengingatkan.


"Juset ...." Tapi Sasa sudah keburu mengeja tulisan di dalam kartu. "For ... yo u ...."


"Po cut ... Ha li ma tus sa di ah .... Wah, nama Mama!" Sasa langsung melonjak kegirangan.


"Ini kado buat Mama yaaa?" Seloroh Sasa dengan nada menggoda.


Ia yang sedang menyimpan mukena hanya menggelengkan kepala. Sama sekali tak menyangka ucapan Sasa selanjutnya.


"Fe rom ... Wi ra ta ma ... yu ...."


"Sasa, boleh gosok gigi sekarang?" Ia segera memberi perintah. Pencegahan secara halus agar Sasa tak melanjutkan kalimat. Sebab kepalanya mendadak pening begitu mendengar nama sang pengirim kotak marun.


Orang itu. Keluhnya sambil memijit pelipis yang terasa berdenyut.


Sasa terlihat ingin protes. Tapi perlahan, tangan kecil itu mulai mengembalikan kotak marun ke tumpukan paling atas. Kemudian berbalik pergi sambil berteriak, "Abang! Gosok gigi kata Mama!"


Begitu terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Ia segera meraih kotak paling atas. Sekedar memastikan jika tulisan yang Sasa baca tadi adalah benar.


Kartu berwarna soft dengan aksen kelopak bunga mawar yang terselip di kotak paling atas memang bertuliskan,


Just for you : Pocut Halimatussadiah


From. : Wiratama Yuda


Ia kembali memijit pelipis. Kali ini lebih keras menekan. Agar pening di kepala tak semakin menjadi.


"Aku harus mengembalikannya," bisiknya pada mamak yang sedang mengaji di dalam bilik. Ketika ketiga anaknya telah terlelap.


"Shadaqallahuladzim (kita bersaksi atas kebenaran Al-Qur'an) ...." Mamak langsung menyudahi bacaan Qur'an dan menatapnya.


Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Sama sekali tak berani membalas tatapan mamak.


Mamak juga tak mengucapkan apapun. Mamak hanya meraih tangannya lalu menggenggam erat. "Sudah salat Istikharah?"


Ia sempat menatap mata mamak sebelum mengangguk malu.


"Sudah dapat jawaban yang tersirat?"


Ia menggeleng.


Mamak mengusap tangannya perlahan. "Lakukan lagi sampai dadamu lapang. Siap menerima petunjuk."


Ia mengembuskan napas panjang sebelum berucap lirih. "Aku ... takut ...."


Mamak semakin mengeratkan genggaman tangan mereka berdua.


"Aku ...." Ia menatap mata mamak dengan penuh kesedihan. "Ingin bertemu lagi dengan bang Is ...."


"Kalau seperti ini ...." Ia tak kuasa melanjutkan kalimat. "Aku takkan bisa bertemu dengan Abang lagi ...."


Ia tergugu.


Dan Mamak langsung meraih bahunya ke dalam pelukan.


Sambil mengembuskan napas panjang, ia kini memberanikan diri meraih kotak yang berada di tumpukan paling atas.


Kotak beraura mahal itu berisi sebuah baju gamis berbahan lembut dengan corak yang teramat cantik. Jujur saja, baru kali ini ia melihat ada baju sedemikian indahnya.


Hampir bisa dipastikan, ia akan terkejut bahkan jatuh pingsan seperti cing Weny saat mengetahui berapa harga baju tersebut. Sebab ungkapan ada harga ada rupa terasa begitu kental melingkupi seluruh barang yang tersimpan di dalam kotak warna marun ini.


Ia buru-buru menutup kotak berisi baju gamis. Lalu kembali meraih kotak yang lain.


Kali ini tulisan di dalam kartu sedikit berbeda.


Special for : A brave boy, Icad.


Sepasang baju muslim bercorak sama dengan gamis indahnya tadi.


Lagi-lagi ia melakukan hal yang sama. Menutup kotak, mengembalikannya ke dalam tumpukan, kemudian meraih kotak lainnya.


Kali ini kartu bertuliskan,


Special for : A bright boy, Umay.


Dan terakhir,


Special for : Little princess, Sasa.


Tadi, usai memeluk mamak dan menumpahkan air mata yang seolah keluar dengan sendirinya tanpa bisa dicegah. Ia langsung beranjak ke dalam kamar untuk menulis pesan yang dikirim kepada Tama.


Pocut : 'Bukankah saya tak perlu mengkhawatirkan apapun?'


Pocut : 'Tapi mengapa mengirim begitu banyak barang?'


Ia terlonjak kaget karena Tama membalas pesan yang dikirimkannya dengan menelepon.


Awalnya hendak tak diangkat. Selain karena sudah cukup larut, hampir jam sepuluh malam. Ia juga khawatir telah melakukan hal tak pantas yang sangat tidak dibenarkan, yaitu menerima telepon dari pria asing di waktu tak lazim.


Tapi Tama terus saja menghubungi nomor ponselnya.


Baru pada panggilan ketiga ia akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat panggilan.


"Sudah diterima?"


Ia mendesah sambil menggelengkan kepala tak percaya. Demi mendapati tabiat Tama yang tak pernah mengucapkan salam ataupun berbasa-basi terlebih dahulu saat menelepon.


"Semoga ukurannya pas."


Ia kembali mendesah karena Tama justru membicarakan ukuran baju. Bukannya membahas tentang maksud dari pesan yang dikirimkan olehnya.


"Mengapa mengirim begitu banyak barang?"


Suara Tama terdengar tersenyum. "Ini momen hari raya. Saya sudah biasa mengirim bingkisan untuk orang-orang terdekat."


Ia memejamkan mata saat berucap, "Seharusnya tidak perlu repot-repot."


"Tidak repot sama sekali," jawab Tama cepat.


Ia hanya bisa menghela napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Tak tahu lagi harus berkata apa.


Pun demikian dengan Tama. Tak mengucapkan sepatah katapun meski ponsel mereka masih tersambung.


Selama beberapa menit, di antara mereka berdua tak ada seorangpun yang bersuara. Ia sampai harus memindahkan letak ponsel yang mulai memanas dari telinga kanan ke telinga kiri. Ketika seruan seorang pria asing terdengar mampir di sambungan telepon mereka.


Ia tak tahu Tama sedang membicarakan apa dengan orang yang memanggil. Karena sepertinya, Tama menjauhkan posisi ponsel saat berbicara dengan orang tersebut.


Apakah di malam yang selarut ini pria itu masih berada di kantor? Pikirnya sedikit heran.


"Kamu masih di sana?"


Namun pertanyaan tiba-tiba Tama membuatnya terlonjak.


"Tolong diterima bingkisan dari saya." Tapi Tama tak berniat menunggu jawaban darinya.


"Jangan merasa sungkan apalagi tertekan."


"Karena kamu pantas menerima semuanya."


"Sangat pantas. Lebih dari pantas. Pantas sekali." Kali ini suara Tama mulai terdengar rileks. Tak seserius sebelumnya.


Ia harus menelan ludah berkali-kali sebelum mengucapkan, "Terimakasih. Selamat malam." Sambil memutus sambungan telepon secara sepihak.


Ia akhirnya tertidur sembari memeluk erat buku catatan milik bang Is. Membawanya pada mimpi indah tentang awal perjalanan cinta bersama bang Is. Namun harus berakhir buruk saat hempasan gelombang air laut dalam pekatnya kegelapan malam mulai menerjang.


Melemparkan kesadarannya pada air mata berlinang dengan dada yang penuh sesak. Saat menyadari orang yang terus menerus mengulurkan tangan berusaha menyelamatkannya adalah Tama.


Ia sempatkan mengusap bagian kartu yang bertuliskan,


Special for : Little princess, Sasa.


Sebelum menyimpannya kembali ke dalam tumpukan kotak di atas meja.


Setelah menarik dan mengembuskan napas panjang sebanyak beberapa kali, ia pun segera beranjak keluar kamar. Hendak mengambil air wudu.


Malam ini adalah malam ganjil. Kemungkinan akan datangnya malam lailatul qadar. Yaitu malam ketika para malaikat turun ke bumi membawa keberkahan. Juga malam saat ditetapkannya takdir tahunan. ©


Ia tentu harus memanfaatkanya sebaik mungkin. Memohon dengan penuh pengharapan. Agar bisa menjalani kehidupan yang tersisa dalam keberkahan.


***


Mamak


Ia baru saja memungkasi doa kebaikan untuk Agam dan keluarga kecilnya. Ketika mendengar suara langkah kaki Pocut menuju ke kamar mandi.


Menantu pertamanya itu selalu menangis ketika membicarakan tentang Tama. Ia sendiri tak sanggup melihat kecamuk perasaan yang mendera Pocut. Tentang keinginan kuat untuk selalu bersama dengan Is. Namun berbanding terbalik dengan kenyataan hidup yang harus dijalani.


"Saat pulang nanti, cobalah semangati kakakmu," ujarnya melalui sambungan telepon ketika beberapa hari lalu Agam menghubunginya.


Berkat keterusterangan Agam, ia akhirnya bisa memastikan niat baik Tama terhadap Pocut. Jauh sebelum Tama datang berkunjung ke rumah menyampaikan maksud.


"Pocut mungkin tak menyadari. Jika kehadiran dan sikap Tama telah menumbuhkan sesuatu yang dalam."


"Dan Pocut tak mungkin selalu menangis jika tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Tama."


"Ya, Mak." Agam menyanggupi permintaannya.


Ketika langkah kaki Pocut terdengar memasuki kamar, ia kembali mengangkat tangan untuk mendoakan kebaikan bagi anak menantunya itu. Semoga Allah mengizinkannya bisa melihat Pocut mendapatkan kebahagiaan.


***


Surabaya


Kinanti


Ia baru pulang dari makan malam bersama mas Pram dan kedua anaknya ketika mendapati kotak berukuran cukup besar yang mencolok tersimpan di meja ruang tengah.


"Apa ini, Kak?" Tanyanya ke arah Reka yang sedang asyik bermain game di depan layar komputer.


"Tahu." Reka hanya mengangkat bahu tak peduli.


"Teko (dari) kang paket." Miko yang sedang menonton televisi ikut menjawab.


Ia segera membaca detail pengirim. Dan menemukan nama,


Wiratama Yuda - Jakarta.


"Dari ayah ini, Kak." Ia tersenyum sambil merobek plastik yang melapisi kotak.


Langsung menyisihkan kotak pertama saat mendapati tulisan,


To : Kinanti Putri Sungkawa


Kemudian beralih membaca kotak kedua.


Special to : My dearest son, Reka.


"Ini, Kak." Ia meletakkan kotak kedua ke atas meja komputer Reka. Tepi Reka malah mengalihkannya dengan menyimpan di atas lantai.


"Aduh, Bunda, jangan ngalangin, dong. Aku lagi main, nih."


"Dari ayah itu." Ia mengingatkan. "Simpan baik-baik."


Kemudian beralih memeriksa kotak ketiga yang bertuliskan,


To : A cool boy, Miko.


"Miko ...." Ia mengangkat kotak seraya tersenyum. "Dari Mas Tama."


Miko balas tersenyum. "Alhamdulillah. Isih oleh jatah ta (masih dapat jatah kah), Mba?"


Ia tertawa. Sambil membawa kotak miliknya ia sempat berkata pada Reka. "Jangan malam-malam tidurnya. Itu kotak simpan di kamar. Jangan lupa dibuka."


"Kirim ucapan terimakasih kasih untuk ayah," tambahnya mengingatkan sebelum menutup pintu kamar.


Di dalam kamar, ia menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Merasa sedikit penat dengan rutinitas yang dilakukannya hari ini.


Setelah merasa cukup nyaman. Ia coba meraih kotak kiriman dari mas Tama.


Sudah lazim setiap hari raya ataupun perayaan ulang tahun, mas Tama pasti akan mengirimkan bingkisan untuknya. Meski hubungan di antara mereka berdua tak kunjung membaik. Bahkan sekarang sudah berpisah.


Ia membuka kotak dengan penasaran. Ingin tahu kira-kira barang apa yang dikirimkan untuknya saat ia dan mas Tama sudah resmi berpisah.


Dan ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Mas ... Mas ...." Gumamnya takjub. Merasa heran sekaligus tersanjung. Mengapa mas Tama mengirim gaun yang tepat sesuai dengan seleranya justru di saat mereka tak lagi bersama.


Ia tersenyum miris sambil menggelengkan kepala.


"Jika kamu melakukannya bertahun lalu ... mungkin aku masih bisa bertahan," bisiknya lebih kepada diri sendiri.


***


Keterangan :


©. : rincian dari lauh mahfudz urusan selama 1 tahun.


***