
I Don't Like You : I Like You
(Aku tak menyukaimu : aku menyukaimu)
***
Jakarta
Sasa
Pagi ini ia sudah mandi, mengenakan baju lebaran hadiah dari bunda Lana, dan duduk di samping nenek yang sedang menulis.
Hidungnya sedari tadi kembang kempis menciumi ujung rambut yang menguarkan aroma harum bunga. Setelah tadi keramas memakai sampo mama. Hihihi ... jangan bilang-bilang, ya. Ini rahasia kita.
"Sasa ... tadi keramas pakai sampo siapa?" Mama yang sedang menyeterika tiba-tiba menoleh. "Wanginya Mama kenal."
Ow ow ... ternyata mama mengetahui perbuatannya. Hmm, kira-kira ... apa ya, yang tak bisa diketahui oleh mama? Karena selama ini, mama bisa mengetahui semua hal (tidak baik) yang mereka lakukan.
Termasuk saat bang Umay diam-diam menyembunyikan celana kotor penuh lumpur di belakang lemari. Atau saat bang Umay iseng membakar kumis Miie -kucingnya dulu-. Bahkan saat bang Umay menjatuhkan tirai pembatas jemaah di masjid karena salat sambil bercanda. Mama bisa mengetahuinya.
Hmm ... apakah mama memiliki kekuatan super? Seperti ... bisa membaca pikiran anak-anak misalnya. Atau mampu melihat menembus tembok?
"Sampo Sasa habis?" Mama memandanginya dengan penuh selidik.
Ia menggeleng. "Sasa pingin pakai sampo Mama," rengeknya. "Habis wangi ...."
Mama tersenyum. "Tapi bisa bikin rambut Sasa kusut. Mau ... rambut Sasa berubah jadi rambut ibu-ibu seperti Mama?"
Ia langsung mengangguk. "Mau mau! Biar rambut Sasa wangi, halus, lembuuut seperti rambut Mama ...."
Mama menggelengkan kepala. "Besok pakai sampo Sasa sendiri, ya. Jangan sampo orang dewasa."
Ia merengut. Melahap sereal dalam suapan besar. Menikmati lezatnya rasa cokelat dan susu yang menyatu di dalam mulut.
Kemarin sore, mama dan bang Icad pulang membawa oleh-oleh sekantong keresek penuh. Salah satunya adalah sereal yang sedang dimakan.
"Kalau pakai sampo dewasa ... nanti rambut Sasa bisa seperti rambut Nenek," gumam nenek sambil membetulkan kacamata yang melorot.
Ia langsung tergelak. "Ih! Enggak mau rambut putih!"
"Makanya pakai sampo Sasa sendiri," sambung mama. "Kalau Sasa udah gede ... baru boleh pakai sampo orang dewasa."
Ia kembali merengut mendengar nasehat mama.
"Bajuku mana?" Dengan hanya memakai handuk terlilit di pinggang dan rambut basah kuyup, bang Umay berjalan mendekat.
"Ini." Mama menyerahkan baju yang baru selesai disetrika.
"Makasih." Bang Umay langsung melesat ke dalam kamar.
"Kenapa, sih, orang-orang pada sibuk amat?" Komentarnya sambil meminum susu yang tersisa langsung dari dalam mangkuk.
"Enaaak ...." desahnya lega setelah susu di dalam mangkuk habis tak bersisa. "Mau pada kemana? Mau pergi ya pasti?"
Bang Icad yang sudah berpakaian rapi, muncul dari dapur sambil membawa semangkuk bubur. Dan langsung duduk di sebelahnya. "Acara anak gede."
"Sasa boleh ikut?"
Bang Icad menggeleng. "Bocil di rumah."
Ia kembali merengut. "Ikut, lah."
Bang Icad hanya mengacak rambutnya.
"Sasa di rumah temani Mama," jawab mama sambil mencabut kabel setrika. Kemudian melipat kain yang baru saja dipakai untuk alas.
"Bang Umay ikut?" Tuduhnya ketika bang Umay keluar dari kamar. Juga sudah berpakaian rapi seperti orang mau pergi.
"Ikut, dong," seloroh bang Umay yang menyambar mangkuk bekasnya. Lalu beranjak ke dapur. "Yah, serealnya habis. Siapa nih yang ngabisin?"
Sebagai satu-satunya orang yang menghabiskan sereal, ia terkikik di ruang tamu. Habis, serealnya enak, sih. Rasa cokelat dan susunya lebih enak dibanding sereal yang pernah dibelinya di jualan abang-abang depan sekolah.
"Sarapan bubur saja, May," seru nenek. "Ambil di atas kompor. Tadi Nenek masak bubur kanji rumbi."
"Kita berdua kan sama-sama bocil?" Protesnya tak terima. "Kok bang Umay boleh ikut pergi ... tapi Sasa enggak?"
"Enak aja!" Teriak bang Umay dari dapur. "Di rumah ini yang bocil cuma kamu doang, Sa. Lainnya anak gede termasuk aku."
Ia merajuk. "Sasa mau ikut."
Saat itulah seseorang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Silakan masuk, Pak Agus." Mama mempersilakan tamunya masuk. "Tunggu sebentar. Anak-anak masih sarapan."
Orang yang dipanggil pak Agus mengangguk. "Baik, Bu."
Namun sebelum duduk di kursi, pak Agus lebih dulu menyerahkan sebuah tas berwarna cokelat padanya. "Ini ... ada titipan buat Neng Sasa ...."
Ia yang sedang cemberut karena ingin ikut, langsung berbinar demi melihat tas warna cokelat yang diangsurkan oleh pak Agus.
Tapi ia tetap diam mematung, tak langsung menerima tas tersebut. Karena belum mendapat ijin dari mama ataupun nenek.
"Boleh," anggukan nenek membuatnya bangkit dengan sigap. Lalu mengambil tas warna cokelat dari tangan pak Agus.
"Terimakasih." Ia tersipu malu. Merasa senang tiap kali memperoleh hadiah.
"Sama-sama." Pak Agus tersenyum lebar. "Oya, ada pesan ... tasnya baru boleh dibuka sama Neng Sasa ... kalau pak Agus sudah pergi."
Ia yang ketahuan sedang mengintip isi tas semakin tersipu malu. Lalu kembali duduk di sebelah bang Icad. Sementara mama yang tadi beranjak ke dapur, kini telah muncul sambil membawa nampan berisi secangkir teh manis hangat dan setoples kue nastar.
"Silakan diminum dulu."
"Terimakasih, Bu."
Ia duduk sambil memeluk tas berwarna cokelat erat-erat. Mendengarkan mama dan nenek berbincang dengan pak Agus. Memperhatikan bang Umay yang melahap bubur kanji rumbi dengan suapan besar-besar sampai tersedak. Lalu terkikik-kikik karena bang Icad menggelitiki pinggangnya.
Begitu bang Icad, bang Umay, dan pak Agus pergi, ia langsung membuka tas berwarna cokelat. Dan terbelalak takjub begitu melihat isinya.
"Apa isinya?" Nenek juga ingin tahu.
Ia menunjukkan setumpuk buku cerita dengan wajah berseri. "Buku, Nek."
"I lo ve yo u, Dad ...." Ia mulai membaca judulnya satu persatu. "I lo ve yo u, Mom .... Sahabat kecil .... Kue-kue yang sempurna .... WAH? Banyak, Nek ...."
Nenek tersenyum. "Alhamdulillah."
"Kita hitung ya, Nek." Ia mulai menghitung jumlah buku yang ada di dalam tas cokelat. "Satu ... dua ... ti ... aduh ...." Selembar kartu yang terselip di antara tumpukan buku tiba-tiba terjatuh.
"Apa itu?" Nenek mengambil kartu dari atas lantai. Lalu menyerahkan padanya.
"Untuk ... Sasa ... yang ... cantik ...." Ia tersenyum senang saat membaca baris pertama. "Selamat ... membaca ... dari om Ta ...."
"YEAYYY!" Ia langsung bersorak kegirangan begitu mengetahui siapa yang mengirim buku-buku tersebut. "Sasa dapat hadiah dari om Tama!"
"MAMA!" Kemudian berlari menyusul mama yang berada di dapur. Ingin memperlihatkan harta karun yang baru diperolehnya pada mama.
***
Umay
"Kita mau pergi ke mana, Bang?" Ia menanyakan hal yang sama sampai merasa bosan sendiri. Dan jawaban bang Icad hanya mengangkat bahu.
"Tahu."
Ia melemparkan pandangan ke jendela samping. Memperhatikan kemacetan lalu lintas yang mereka lalui. Dengan hati masih bertanya-tanya, ke mana kira-kira mereka akan pergi.
Ia pun kembali teringat. Semalam sebelum tidur, mama memanggilnya ke kamar.
"Besok pagi ... om Tama mau mengajak pergi Umay dan bang Icad."
Ia tersenyum lebar. Merasa senang saat mendengar nama yang disebut. "Sama Mama?"
Mama menggeleng. "Umay berdua saja dengan bang Icad."
"Sasa?" Ia melirik Sasa yang sudah terlelap.
Lagi-lagi mama menggeleng. "Sasa di rumah."
"Padahal Sasa paling suka sama om." Ia menyayangkan. "Pasti Sasa marah kalau tahu Umay sama bang Icad mau ketemu om, tapi nggak diajak."
Mama hanya tersenyum. "Sasa nggak akan marah. Nanti Mama yang bilang alasannya."
Ia masih memperhatikan jalanan melalui jendela samping. Tapi rasa penasaran kembali mengusik. "Kenapa om mau ketemu sama kita, Bang?"
"Tahu."
"Kenapa bukan om sendiri yang jemput ke rumah kita, Bang?"
"Tahu."
"Kenapa hanya kita berdua, Bang? Mama sama Sasa nggak ikut?"
"Nggak tahu, Umay." Bang Icad terlihat kesal mendengar kecerewetannya.
Tapi ia masih memiliki satu pertanyaan lagi. Dan ini yang paling penting. "Om naksir mama ya, Bang?"
***
Icad
Pria itu jelas memiliki kemampuan setingkat dewa. Selain bisa memergoki perbuatannya saat menguping dan merekam pembicaraan, pria itu juga berhasil membuat mama tertawa bahagia di depan sejumlah kain yang sedang dipamerkan di lantai 24. Benar-benar lawan yang sulit, licin seperti belut, tak mudah dipukul mundur.
Jadi ketika Umay bertanya, "Om naksir mama ya, Bang?"
Ia langsung tersadar. Bahwa mereka harus memiliki strategi dalam menghadapi pria itu. Jangan sampai Umay memuluskan jalan pria itu dengan mudahnya.
"Menurut kamu?" Ia balik bertanya.
Umay tersenyum-senyum sendiri. "Aku bisa lihat ada kilat di mata om ... trus kilatnya berubah jadi panah ... yang nembus ke mata mama."
Ia langsung menggerutu. "Ngaco!"
Umay masih tersenyum-senyum sendiri. "Kalau om naksir mama ... bisa jadi ayah kita, dong?"
Ia melotot kesal. "Ayah kita cuma satu. Dan bukan om itu!"
"Nanti di sana nggak usah banyak omong." Ia mulai memberitahu apa yang harus dilakukan. "Kalau nggak ditanya nggak usah ngomong. Diem aja."
"Kenapa nggak boleh banyak omong?" Umay memandangnya tak mengerti.
"Yaa ... pokoknya nggak usah banyak omong." Ia kembali menggerutu. "Ngomong yang penting-penting. Jawab seperlunya."
Sekarang tinggal berharap, Umay tak mengacaukan semuanya.
***
Tama
Ia tersenyum saat melihat mobil yang dikemudikan Agus muncul di parkiran basement sebuah Mall.
"Apakabar, jagoan?" Sapanya sambil mengajak berhigh five. Umay menyambut gembira bahkan sampai melompat. Sementara Icad bergaya malas-malasan.
"Makan, main, nonton?" Tanyanya saat mereka memasuki lift.
"Main!" Umay mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi.
Sementara Icad tetap dengan wajah datarnya.
Sambil sesekali bercanda (yang hanya ditanggapi oleh Umay), ia mengajak mereka menuju arena bermain. Membeli tiga buah kartu sekaligus. Lalu memberikannya masing-masing satu pada Icad dan Umay.
Mereka berjalan mengelilingi arena bermain yang dipadati pengunjung. Beberapa kali Umay berdecak kagum, saat melihat orang mengambil tiket hadiah yang berhamburan keluar dari dalam mesin.
"Mau main apa, nih?" Ia mengikuti langkah kaki Umay yang berkeliling ke sana kemari. Sementara Icad mengekor di belakang dengan gaya ogah-ogahan.
"Itu!" Umay menunjuk game air hockey.
Ia mengangguk. Mereka harus antre terlebih dahulu sebelum mulai bermain. Selama itu pula, Umay memperhatikan orang yang sedang bermain dengan seksama.
"Dua lawan satu?" Ia mulai memosisikan diri di seberang Icad dan Umay.
Umay tersenyum lebar. Bersiap-siap sambil memegang mallet (pegangan). Sementara Icad hanya berdiri di belakang Umay.
Round 1.
Ia dan Umay mulai berlomba memasukkan pin hoki berwarna kuning ke gawang lawan.
"YAAAH! ADUH!" Umay berteriak tiap kali serangannya tertahan dan gagal memasukkan pin.
Ronde 1 : Umay kalah telak.
"Lagi?" Ia segera menarik tiket hadiah yang berhamburan keluar. Lalu mengangkat kartu miliknya sebelum kembali menggesek ke mesin air hockey.
Umay mengangguk. "Lagi."
"Icad mau main?" Ia menawarkan pada Icad yang hanya berdiri menonton. Tapi Icad menggeleng.
Round 2.
Kali ini Umay sudah lebih berpengalaman. Dengan gesit menghalangi setiap lemparannya. Untuk kemudian menyerang balik.
"YEEE!" Umay melompat kegirangan sesaat setelah berhasil mengalahkannya.
Mereka kembali berkeliling. Umay berlarian ke sana kemari memeriksa satu persatu game yang sekiranya seru.
"Balap motor." Umay menunjuk game MotoGP.
Namun kali ini ia meminta Icad untuk menjadi lawan main. "Om terima telepon dulu." Dalihnya sambil menunjukkan ponsel yang bergetar tanda panggilan masuk.
Dari kejauhan, dilihatnya Umay dan Icad terbahak bersama saat bermain di game balap mobil Formula 1, water war, shooting arcade, dan capit boneka.
"Dapat bonekanya?" Ia yang telah menyelesaikan urusan di telepon berjalan mendekat.
"Susah, Om!" Umay menggeleng. "Gagal terus. Padahal aku mau ambil boneka little pony buat Sasa."
Ia melongok ke dalam kotak permainan capit boneka. "Yang warna ungu?"
Umay mengangguk. "Iya, little pony yang warna ungu."
"Nanti kita beli," jawabnya yakin. Lalu menunjuk arcade street basketball. "Mau coba yang itu?"
Umay mengangguk dengan penuh semangat. Sedangkan Icad masih sama, memasang wajah datar tak berminat. Padahal tadi bisa tergelak saat bermain berdua Umay. Tapi begitu ia mendekat, Icad kembali memasang setelan wajah kaku.
Oke, take it easy, buddy.
Umay mulai melempar bola basket ke dalam ring dengan membabi buta. Sampai waktu habis berbunyi, hampir semua lemparan meleset.
"Gini caranya." Ia mempraktekkan cara memasukkan bola basket yang benar ke dalam ring. "Fokus ke arah pantulan."
Dan ... brakk! Lemparannya dalam satu ronde sempurna, tak ada yang meleset. Dan bunyi tiket hadiah yang berhamburan keluar membuat Umay menatapnya kagum.
"Bertiga, yok!" Ia mengajak Icad dan Umay bermain bersama. Karena arcade street basketball di sebelah mereka kebetulan kosong. Pas untuk tiga orang.
BRAK! BUG! BRAK! BUG!
Bunyi bola basket yang beradu dengan ring dan memantul mengenai dinding terdengar bersahutan. Diiringi teriakan kesal Umay tiap kali lemparannya meleset.
1, 2, 3, 4 ... Ia sengaja mengendurkan permainan. Melempar tanpa melihat ring. Dan ketika waktu habis ....
"WAH? Abang kereeen ...." Umay menoleh kagum melihat perfect score yang dicetak oleh Icad. "Om kalah! Abang yang menang!"
Ia mengacungkan jempol. "Siapa dulu, dong ... Abang Icad!"
Mereka kembali menyusuri arena permainan. Membiarkan Icad dan Umay memilih game arcade yang diinginkan.
"Masih mau main?" Tanyanya begitu Icad dan Umay menyelesaikan game terakhir.
Umay mengangguk. Icad menggeleng.
Ia melihat pergelangan tangan kanan. "Oke, terakhir sebelum kita makan ... mau main itu?"
Umay melompat kegirangan saat melihat arena Bumper Car yang ditunjuknya. "IYES!"
Umay dengan gayanya, melajukan bumper car seruduk sana seruduk sini. Menabrak semua orang di dalam arena permainan. Bahkan macet di pojokan menabrak tiang.
Sementara Icad lebih luwes. Melajukan bumper car mengelilingi arena permainan tanpa pernah menabrak.
Dari arena bumper car, mereka bergegas menuju meja penukaran souvernir. Saking banyaknya tiket hadiah yang diperoleh, Icad dan Umay bisa memilih masing-masing satu souvernir yang diinginkan.
Icad mengambil tumbler, Umay menunjuk lego, dan mereka berdua sepakat memilih jepit rambut untuk Sasa.
Kakak yang manis.
"Mau makan apa?" Ia mulai menyebutkan nama sejumlah restoran yang mungkin disukai oleh anak-anak.
Umay menyerukan nama restoran waralaba dari Jepang dengan tangkas. Sementara Icad hanya diam membisu.
"Itu aja, Om. Aku belum pernah," imbuh Umay dengan wajah berbinar. "Kalau yang ayam-ayam an udah pernah meski kw, hehehehe ...."
Kini mereka telah berada di meja yang cukup nyaman. Sedikit memiliki privasi karena tak terlalu dekat dengan lalu lalang orang.
Ia duduk menghadap Umay yang sedang asyik menyusun lego. Dan Icad yang membaca-baca buku menu meski mereka sudah memesan.
"Makasih ya, udah mau nemuin Om di sini." Ia mulai membuka pembicaraan.
"Sama-sama, Om," jawab Umay riang. Sementara Icad tetap menekuri buku menu.
"Makan dulu," ujarnya karena pesanan mereka keburu diantar.
Icad makan dalam diam. Sedangkan Umay makan dengan lahap sambil sesekali menjawab pertanyaan recehnya.
"Om punya anak di Surabaya." Ia kembali berbicara serius setelah semua hidangan licin tandas. "Seumur kamu, Cad."
Umay menatapnya heran. "Kalau Om punya anak ... berarti punya istri, dong?"
Ia tertawa melihat Icad menyikut Umay.
"Iya." Ia mengangguk. "Dulu Om pernah punya istri."
"Dulu? Kalau sekarang?" Umay kembali bertanya. Dan Icad lagi-lagi menyikut lengan Umay.
"Sekarang nggak lagi." Ia tersenyum. "Om udah pisah sama istri Om."
Umay menatapnya tak mengerti.
"Istri dan anak Om tinggal di Surabaya." Ia kembali melanjutkan. "Nanti kapan-kapan ... semoga kalian bisa ketemu sama Reka ...."
"Reka itu ... anak Om?"
Icad kembali menyikut Umay yang selalu ingin tahu.
"Iya, Reka anak Om." Ia tersenyum.
"Om kenapa bisa pisah, Om? Aduh! Abang kok nginjek kaki, sih?" Umay menoleh ke arah Icad yang melotot.
Ia tertawa. "Karena Om pernah berbuat keliru. Makanya Om gagal."
Mata Umay membola. "Keliru? Gagal? Maksudnya? Aduh! Abang jangan nyubit!"
Ia kembali tertawa. "Panjang ceritanya. Kalian mau dengar?"
Umay mengangguk. Dan Icad untuk pertama kalinya bersuara, "Nggak."
Ia tersenyum. "Begini saja ... Om sedang belajar dari kesalahan. Om berusaha memperbaiki dengan menjadi orang yang lebih baik."
Umay melongo menatapnya. Sementara Icad tetap menunduk.
"Om ingin kembali melanjutkan hidup yang sempat gagal kemarin."
"Bersama keluarga baru. Yang mau menerima Om apa adanya."
Ia menghela napas. "Om mencintai mama kalian ...."
Umay semakin melongo. Dan Icad kian menunduk.
"Om ingin menikahi mama kalian."
Senyum Umay langsung merekah seperti cerahnya matahari terbit. "Tuh, kan ...." Lalu menoleh ke arah Icad yang menautkan alis.
"Aku udah tahu kalau Om naksir mama."
Icad mengangkat wajah hanya untuk memelototi Umay.
Ia tersenyum. "Sekarang ... Om minta ijin sama kalian ... boleh nggak Om melamar mama untuk dijadikan istri Om?"
"Boleh." Umay mengangguk mantap.
"Nggak boleh." Icad memandangnya dengan tatapan tak suka.
Well, definisi nyata dari i don't like you : i like you.
***