
The Last Man Standing
(Pria terakhir yang bertahan/pria yang bertahan sampai akhir)
***
Jakarta
Tama
Ia memandangi punggung Reka yang berjalan keluar meninggalkan ruangan. Suara ceklekan pintu terbuka yang menutup kembali membuatnya memalingkan pandangan ke arah Kinan.
"Kapan berangkat?"
"Baru mau ngurus residence permit (izin tinggal)."
"After married (setelah menikah)?"
Kinan mengangguk.
"How long (berapa lama -mengurus izin tinggal-)?"
Kinan menggeleng. "Tergantung. Bisa seminggu, bisa berminggu-minggu."
Ia mengangguk mengerti. "Sampai kapan (di Stockholm)?"
"Sampai semuanya membaik."
Ia kembali mengangguk. "Hope so (sangat berharap -semuanya segera membaik-)."
"Aku masih ingin Reka ikut." Kinan menatapnya penuh harap. "Ada kolega mas Pram di sana yang concern menangani young athlete (atlet muda -renang-). Mereka mengikuti jadwal kompetisi resmi dari federasi renang Eropa. Mas tahu ... ini artinya masa depan?"
Ia mengerti. "Phelps soon to be (segera menjadi Phelps)?"
Kinan tersenyum. "Cita-cita Reka."
Ia sangat memahami. Tapi, "Bisa ... kalian berdua kasih ruang untuk Reka memutuskan sendiri?"
Kinan menghela napas. "Apa ini artinya ... tidak?"
"Untuk saat ini," jawabnya sambil mengembuskan napas panjang. "Dia terlalu shock mendengar semua masalah kita hanya dalam satu waktu. Apa kamu nggak kasihan sama dia?"
Kinan menunduk.
"Udah untung dia lari ke sini. Bukan ke tempat yang kita nggak tahu," imbuhnya. "Udah untung dia nggak melakukan hal yang membahayakan diri maupun orang lain. Sangat berharap ... di titik ini kamu bisa mengerti posisi dia."
"Aku nggak akan maksa. Apapun hasilnya nanti, itu keputusan Reka sendiri," sambungnya lagi. "Dia harus belajar untuk mengambil keputusan tanpa kita ikut campur."
"Kalau dia memilih untuk tetap di sini?" Suara Kinan melemah namun masih bisa terdengar.
"I'll do my best (kulakukan semampuku). Sekolah terbaik, klub renang terbaik, don't worry (jangan khawatir)," jawabnya diplomatis.
"Dengan anak sebanyak itu?"
"Apa?" Ia tak mengerti maksud dari pertanyaan Kinan.
"Mas pasti berencana akan menikah lagi. Nggak mungkin selamanya sendiri."
Ia hanya mengangkat alis.
"Dengan Pocut?"
"Hah!" Kali ini ia tertawa sumbang.
"Dengan anak sebanyak itu ... apa Mas masih bisa memberi perhatian dan kasih sayang maksimal untuk Reka?"
Ia mendesis tak percaya. "Jangan mengajariku tentang perhatian dan kasih sayang. Kamu harusnya malu menanyakan hal ini!"
"Kita bertengkar lagi?"
"Kamu yang mulai."
Mereka sama-sama terdiam. Pola komunikasinya dengan Kinan selalu seperti ini. Naik turun seperti pelana kuda. Ada kalanya mulai membaik. Berdiskusi dengan kepala dingin. Namun dalam satu kesempatan bisa langsung terjun bebas kembali ke titik 0. Tak ada yang mau mengalah. Sungguh melelahkan. Seperti lingkaran setan tanpa ujung pangkal.
"Come on (ayolah)." Ia memecah kesunyian. "Kalau kamu ingin bahagia, beri kesempatan Reka memilih dan mencari jalannya sendiri. Kita hanya melihat dari jauh dan sesekali mengingatkan. Bukan mengontrol."
"Kamu benar," lanjutnya tanpa berniat menunggu respon dari Kinan. "Aku akan menikah, dengan Pocut, dan dalam waktu dekat."
Kinan tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Ini menjadi pemberitahuan resmi sekaligus pengumuman. Aku nggak mau kamu mendengar hal sepenting ini dari orang lain. Clear?"
Kinan yang masih terpana bergumam pelan. "Tega kamu, Mas."
"Bukannya ini yang kamu inginkan?" Bibirnya melengkung membentuk seulas senyum. "Pengakuan."
"Reka udah tahu?" Alis Kinan saling bertaut.
Ia menggeleng. "Belum."
Terdengar tawa kecil nan sumbang dari bibir Kinan. "Mas selalu bilang untuk melibatkan Reka. Tapi kenyataannya? Sama-sama egois."
"Aku harus menyelesaikan masalah di antara kita bertiga dulu sebelum memulai yang baru," jawabnya tenang.
"Dan karena sekarang masalah kita selesai ...." Ia mengangkat bahu. "Sepulang dari sini, aku akan berterus terang ke Reka."
"Selamat." Kinan memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Merasa sedih? Tapi mengapa? Bukankah minggu depan Kinan akan menikah lebih dulu? Atau turut bersuka cita karena ia telah menemukan tambatan hati yang baru? Namun sorot mata Kinan bukanlah pancaran kegembiraan.
Ia tersenyum miring. "Belum saatnya untuk memberi selamat. Reka belum tentu setuju. Dan aku ...." Ia sengaja menjeda kalimat. "Tentu menjadikan pendapat Reka sebagai poin utama untuk melangkah."
"Belum ancaman dari rival yang bisa jadi bergerak lebih dulu. Dan ...." Ia mengangkat bahu. "Pocut sendiri belum tahu kapan aku akan datang melamar."
"Complicated." Kinan tersenyum sinis.
"Yeah." Ia balas tersenyum.
"Kesan pertama setelah kami sempat mengobrol ... dia wanita yang terlalu sederhana untuk orang seperti Mas."
Ia tertawa. "Sekarang kamu bertindak sebagai juri?"
"Aku merasa lebih tenang jika Mas memilih satu di antara puluhan wanita masa kini dengan capaian maksimal. Alpha female yang pantas mendampingi seorang calon pejabat tinggi negara."
Ia semakin tertawa. Namun dengan nada yang lebih sumbang.
"Tapi pilihan Mas ternyata jauh di luar ekspektasi." Kinan menatapnya. "Wanita penurut. Itu yang Mas inginkan, bukan? Yang tak bisa kuberikan selama ini."
Ia menggeleng tak setuju. Seandainya Kinan tahu, betapa sulitnya menaklukkan Pocut. Meyakinkan masa depan yang bisa mereka lalui bersama. Meraih hati tiga orang anak. Empat dengan Reka. Termasuk panggilan yang sering diacuhkan dan pesan tak terbalas. Baru kali ini ia mengalami kesulitan dalam menghadapi seorang wanita. Catat!
"Pembicaraan kita selesai?" Ia segera mengalihkan topik. Membahas segala sesuatu tentang Pocut selalu memicu kadar adrenalin dalam tubuhnya. Not good.
"Reka punya hak untuk memilih. Ikut ke Stockholm atau tidak. Dan minggu depan ... sudah kukosongkan jadwal. Kami, aku dan Reka, akan hadir di pernikahan kalian."
Kinan mengembuskan napas panjang kemudian mengangguk. "Aku ingin Mas tahu ... aku selalu berharap bisa bersama dengan Reka walau di ujung dunia sekalipun."
"Dia pasti akan memilih yang terbaik." Ia mengerti. "Untuk saat ini ... tetap tinggal di Jakarta adalah pilihan tepat."
"Kamu dan om Pram bisa lebih beradaptasi dengan lingkungan baru," imbuhnya. "Kamu bisa melakukan terapi dengan tenang. Dan saat keadaan mulai membaik ... Reka pasti akan datang mencarimu."
Ia paham betul akan hal ini. Semarah-marahnya Reka dan seburuk-buruk keadaan yang harus mereka lalui, posisi Kinan di hati Reka takkan pernah terganti. Seorang ibu tetaplah ibu bagi anaknya. Reka hanya memerlukan waktu untuk memahami semua kerumitan yang terjadi.
"Makasih." Kinan terlihat berusaha keras untuk tersenyum. "Mas nggak pernah berubah."
"Kita bukan orang lain, Kinan." Ia balas tersenyum.
Kinan akhirnya tertawa. "Kamu memang selalu memesona, Mas."
"Ah." Ia ikut tertawa. "Om Pram dan Pocut pasti nggak suka mendengar kalimat sesingkat itu. Tolong ... jangan buat masalah baru." Ia mencoba berkelakar.
Kinan tersenyum malu. "Apa setelah kita keluar dari ruangan ini ... Mas akan memberi pengumuman? Acara keluarga selalu menjadi setting sempurna untuk berita bahagia."
"Tentang?" Ia meraih botol air mineral dari atas meja kemudian meminumnya. Obrolan mereka membuat tenggorokan terasa kering kerontang.
"Pernikahan dengan Pocut." Kinan menunduk. "Bisa tunggu aku pulang sebelum Mas memberi pengumuman? Aku nggak mau terlihat memalukan di depan banyak orang."
Ia menghabiskan air mineral dalam sekali tegukan. Lalu tersenyum singkat. "Nggak. Not my type (bukan tipeku). Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Termasuk meminta izin Reka."
"Aku cerita ke kamu karena kamu bundanya Reka." Ia kembali tersenyum. "Kamu berhak mengetahui informasi sepenting ini sebelum berita menyebar ke mana-mana."
Kinan memberinya tatapan penuh arti. "Sampaikan salamku. She's very lucky (wanita yang sangat beruntung)."
Ia menggeleng. "Lucky for me to have her (aku yang beruntung bisa memilikinya)."
Ia mengajak Kinan menemui mama di ruang tengah. Mereka sempat mengobrol sebentar tentang rencana pernikahan Kinan minggu depan.
"Semoga lancar sampai hari H." Mama memeluk Kinan. "Semoga berbahagia."
Adegan sederhana yang berhasil membuatnya salah tingkah. Apalagi ketika mama mengusap punggung Kinan. Ia hanya bisa memijat tengkuk dengan canggung. Seraya mengedarkan pandangan menyapu ruangan mencari-cari seseorang.
"Mana yang ulang tahun?" Tanya Kinan usai berpamitan dengan mama.
Mereka menemui Aran yang sedang mengusap-usap kelinci dalam gendongan Cakra.
"Selamat ulang tahun, anak ganteng." Kinan mengulurkan tangan bermaksud menawarkan gendongan untuk Aran. Tapi Aran justru tertawa tergelak-gelak karena kelinci yang digendong Cakra memberontak dan hampir terlepas.
Kinan tersenyum seraya mengusap rambut lebat Aran. "Nanti kadonya nyusul, ya. Bude nggak tahu kalau hari ini Aran ulang tahun."
"Makasih, Mba." Cakra tersenyum mengangguk. "Nggak usah repot-repot. Ayo, Aran, salam sama Bude."
Aran yang masih tergelak-gelak sambil bertepuk tangan kini beralih menunjuk ke arah Kinan. "De ... de ...."
"Buu dee ...." Ralat Cakra dengan mulut mengerucut mengeja kata bude.
Setelah mencandai Aran, Kinan langsung menemui Anja yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
"Di sini sampai makan malam kan, Mba?" Tawar Anja.
Tapi Kinan menggeleng. "Makasih, Ja. Mba harus ke hotel sekarang."
Ketika hendak mengantar Kinan ke depan, sudut matanya sempat menangkap sekelebatan bayangan Pocut yang sedang berjalan menuju mushola.
"Reka mana, Mas?"
Ia yang sebenarnya sedang mengikuti gerak gerik Pocut langsung mengalihkan pandangan menyapu halaman samping. Dan mendapati Reka sedang mengobrol dengan ... ia langsung tersenyum begitu melihatnya.
"Reka!" Serunya sambil melambaikan tangan. "Sini!"
Reka berjalan mendekat. Di belakangnya menyusul seorang gadis cilik yang membuatnya tersenyum lebar.
Begitu Kinan memeluk Reka, ia mengedipkan sebelah mata pada gadis cilik yang langsung menutup mulut sambil cekikikan.
"Om! Om! Matanya kenapa, Om? Hihihi ...."
Ia tertawa mendengar kepolosan Sasa.
"Siapa ini?" Kinan beralih memperhatikan Sasa yang masih cekikikan sendiri.
"Sasa." Sasa mengulurkan tangan untuk memberi salam.
Dan Kinan menyambutnya seraya tersenyum.
"Kalau tante cantik ... siapa?" Tanya Sasa sambil memperhatikan wajah Kinan lekat-lekat.
Ia berdehem sebelum menjawab. Tapi keburu Reka berkata, "Bunda aku."
Mulut Sasa membulat membentuk huruf o. Namun sedetik kemudian sudah menarik-narik tangan Reka. "Mas Reka! Mas Reka! Kita cari hamster yang tadi kabur, yuk."
Ia tersenyum melihat tingkah Sasa. Dan dari sudut mata ia tahu jika Kinan sedang memperhatikan senyumannya.
"Nanti," jawab Reka singkat. "Mas mau antar bunda ke depan dulu."
"Ikut!" Sasa melompat kegirangan.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju halaman depan. Ia berdiri di sebelah Kinan yang merangkul bahu Reka. Sementara Sasa berjalan zigzag sambil setengah melompat di samping Reka.
Ia membuka dan menutup pintu taxi untuk Kinan. Lalu melambaikan tangan begitu taxi melaju.
"Bunda Mas Reka cantik banget, ya?" Celotehan riang Sasa membuatnya berpaling dari taxi yang menghilang di balik pintu gerbang.
"Aduh, Yah," keluh Reka dengan kening mengerut. "Anak ini berisik banget."
Ia tergelak.
Ia makin tergelak. Sementara Reka menggaruk kepala yang pastinya tak gatal.
Namun tawanya langsung terhenti begitu melihat mobil yang cukup familiar bergerak pelan memasuki halaman. Ia bahkan tak menghiraukan celotehan riang Sasa yang bersahutan dengan jawaban singkat Reka.
"Sore, Mas Tama?" Sapa orang yang pertama keluar dari mobil. "Mau ... ke Anja, Mas ...." Gadis itu, ia mengenalinya sebagai salah satu teman Anja. Tampak tersenyum canggung sambil menunjuk ke halaman samping.
Ia mengangguk. Membiarkan gadis itu berjalan melewatinya. Karena konsentrasi sedang terfokus pada orang kedua yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Pak?" Orang itu tersenyum kikuk sambil menundukkan bahu.
"Kamu?"
Senyum Devano bertambah kikuk. Lalu menunjuk punggung gadis yang tengah berjalan menuju halaman samping. "Izin ... antar pacar, Pak."
***
Reka
Ini menjadi hari penuh warna baginya. Setelah dari pagi hingga siang mengubek seisi Mall untuk mencari kado ulangtahun Aran. Siang hingga petang ia habiskan di rumah uti. Bertemu dengan banyak kerabat, saudara, para tamu. Termasuk anak-anak dari ibu itu.
Icad yang enggan diajak mengobrol namun tebakannya tentang ayah benar. Bahwa mereka (sedikit) tak menyukai orang yang sama.
Umay yang sok tahu tapi sedikit lucu.
Dan Sasa yang ceriwis minta ampun. Tak pernah berhenti bicara sambil sesekali tertawa cekikikan. Sepertinya, dunia teramat indah di mata Sasa. Hingga tak ada hal yang perlu ditakuti atau dikhawatirkan.
"Itu! Itu hamsternya, Mas Reka!" Teriak Sasa sambil menunjuk ke arah tumbuhan perdu yang menjadi pembatas dengan tembok keliling. "Sembunyi di sana!"
Ketika akhirnya berhasil menangkap hamster yang berbulu warna cokelat lalu menyerahkannya pada Sasa, ia mendapati sesuatu yang aneh.
"Ih, lucuuuu. Makasih, Mas Reka." Sasa tertawa riang sambil membelai punggung hamster yang gelagatnya terlihat ingin melompat kabur.
"Jari kamu kenapa?" Ia menunjuk jari manis tangan kiri Sasa yang terlihat aneh karena hilang seruas.
"Potong, hihihi ...."
Ia mengerut. "Kenapa bisa potong?"
"Bisalah." Sasa masih membelai hamster dengan jarinya yang mungil. "Dulu kena mainan, terus kejepit nggak bisa keluar, terus ... harus dipotong, deh."
Ia semakin mengerut. "Diamputasi, gitu?"
Sasa menatapnya keheranan. "Amputasi itu apa, Mas Reka?"
Ia memutar bola mata. "Mana, sini lihat," ujarnya sambil menunjuk tangan kiri Sasa.
"Enggak, ah." Sasa langsung menyembunyikan tangan kiri di balik punggung. "Maluuu." Sasa tersipu.
Ia kembali memutar bola mata. "Sakit nggak?"
"Dulu sih sakit. Sampai Sasa nangis-nangis semalaman. Hua ... hua ... hua ...." Sasa mempraktekkan cara menangis dengan lebay.
"Kalau sekarang ... enggak," lanjut Sasa yang dalam sekejap sudah tersenyum lebar.
Apa gadis cilik ini selalu tertawa dan tersenyum lebar? Aneh banget, gerutunya dalam hati.
Kini, pesta telah usai. Dan mereka tengah berada di dalam mobil menuju ke rumah dinas.
"Bunda pulang ke Surabaya?" Ia kembali teringat akan bunda.
"Besok pagi. Kenapa? Berubah pikiran?"
Ia menunduk. "Belum."
Ayah mengangguk. "Ayah udah bilang kalau kamu mau tinggal di Jakarta dulu. Nggak ikut ke Stockholm."
"Apa kata bunda?" Ia mendongak.
"Bunda setuju. Masih banyak waktu. Karena bunda juga baru mau ngurus izin tinggal. Dan itu perlu waktu."
"Aku beneran nggak mau ke Stockholm," Ia memalingkan pandangan ke jendela samping.
"Ayah tahu. Sewaktu-waktu masih bisa berubah pikiran. Sekarang jalani dulu yang menurut kamu paling nyaman."
Ia tak menjawab.
Ayah sempat menoleh ke arahnya sekilas sebelum kembali berkonsentrasi ke jalan raya. "Minggu depan kita ke Surabaya. Ke nikahan bunda."
Ia masih terdiam.
"Sekalian urus pindahan sekolah kamu ke Jakarta," sambung ayah.
"Sebenarnya masih pingin di Surabaya," gumamnya dengan mata menerawang jauh ke depan. "Masih ada paklek Miko."
Ayah terdengar menghela napas berat. "Paklek Miko udah pindah ke panti."
Ia mengerti. Sejak mbah uti meninggal, paklek Miko mengurus dirinya sendiri. Ia sesekali membantu, tapi tentu tak bisa setelaten mbah uti.
"Tadi Ayah lihat, kamu main sama Sasa?" Tiba-tiba ayah mengalihkan topik.
Ia mengangguk.
"Ketemu Icad nggak?"
Lagi-lagi ia mengangguk.
"Umay?"
Ia kembali mengangguk.
Ayah tersenyum. "Gimana menurut kamu?"
"Apanya?" Ia tak mengerti.
"Mereka bertiga."
Ia mengangkat bahu.
"Seru? Asyik?"
Ia menggumam malas. "Icad cuek. Umay sok tahu."
Ayah tergelak. "Sasa?"
"Berisik," sungutnya seketika teringat akan keceriwisan Sasa.
Ayah semakin tergelak. "Kalau sama tante Pocut ... ketemu nggak?"
Ia menggeleng. Karena memang tak sempat memberi salam pada tante Pocut. Hanya melihat dari kejauhan.
"Ayah suka sama tante Pocut?" Ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa?" Suara ayah terdengar terkejut.
"Bunda mau nikah lagi. Apa ayah juga?" Ulangnya dengan pertanyaan yang lebih tajam.
"Reka ...."
"Aku nggak peduli kalau memang ayah mau nikah lagi," gumamnya datar. Ia benar-benar sudah merasa lelah untuk memaksakan kehendak. Terserah bunda mau menikah lagi. Terserah ayah mau menikah lagi. Ia sudah tak peduli.
"Nggak peduli itu berarti boleh?" Ayah menoleh ke arahnya.
Tapi ia pura-pura tak melihat. Hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Dengan tante Pocut?" Ayah kembali menoleh ke arahnya.
Lagi-lagi ia mengangkat bahu.
Ayah tak lagi bertanya. Justru memperlambat laju mobil kemudian menepikannya ke halaman sebuah minimarket.
"Kenapa berhenti?" Tanyanya heran.
Tapi ayah malah balik bertanya. "Reka setuju kalau ayah melamar tante Pocut?"
"Terserah."
Ayah menatapnya lekat-lekat. "Kalau begitu, ayah mau melamar tante Pocut."
"Kapan?"
"Besok."
***
Pocut
Ia baru menyelesaikan bacaan Qur'an surat As-Sajdah ketika ponsel di atas meja bergetar tanda panggilan masuk. Saat melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Siapa kiranya orang yang menelepon selarut ini?
Dan hatinya langsung tercekat begitu berhasil meraih ponsel.
Kakak Anjani memanggil ....
Keningnya langsung mengerut. Tadi di acara ulangtahun dekgam, mereka tak sempat saling bicara. Tama bahkan tak menyapanya meski sepanjang petang terus mengirim pesan.
Kakak Anjani memanggil ....
Ia mengangkat panggilan dengan hati penuh tanya.
"Assa ...."
"Besok aku datang."
***
Tama
Begitu sampai di rumah, ia langsung menghubungi semua orang. Pertama tentu saja mama.
"Besok, Ma."
"Alhamdulillah." Suara mama terdengar penuh kelegaan.
Lalu Cakra.
"Besok aku melamar Pocut. Bisa kamu handle semuanya?"
Tak ada jawaban dari seberang.
"Cakra?"
"S-siap, Mas."
Juga Sada.
"Tomorrow," ujarnya tanpa basa-basi.
Sada sempat terdiam sejenak sebelum berteriak lantang. "Sikaaaat!"
"Heh!" Ia harus menjauhkan ponsel dari telinga karena suara Sada terlalu bersemangat.
"Fiuh, finally," imbuh Sada sebelum ia menutup panggilan.
Dan yang terpenting adalah menghubungi Pocut. Sambil tersenyum-senyum sendiri memandangi sebuah benda berkilauan yang memiliki makna.
Cincin.
Ia sudah mempersiapkan sejak dating resmi di perpusnas. Mengandalkan Dara untuk memilih model dan ukuran. Lalu menyuruh Devano untuk membelinya di jewelry store.
Kini, ia bisa tidur nyenyak.
Tak pernah menyangka di tengah malam akan mendapat telepon penting. Panggilan tugas.
Wait for me, batinnya sambil membayangkan wajah Pocut. Kala mempersiapkan revolver yang hendak dibawa.
***
Keterangan :
Michael Phelps : adalah perenang berkebangsaan Amerika, yang tercatat sebagai peraih medali emas Olimpiade terbanyak.