Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 36. Sorry, I Let You Down


Sorry, I Let You Down


(Maaf, aku mengecewakanmu)


***


Jakarta


Tama


Long weekend yang dinanti oleh hampir semua orang tak berlaku baginya. Sebab tugas harus tetap ditunaikan. Tak mengenal tanggal merah ataupun hari libur nasional.


Sejak pagi hingga jelang siang, ia berada di kantor Mapolda. Mengikuti rapat terbatas dengan jajaran pimpinan resor di wilayah hukum Metropolitan.


Dari Kebayoran baru ia beranjak ke Tamansari. Meninjau langsung TKP perampokan toko emas. Yang menewaskan seorang tukang parkir dan satu penjaga toko.


"Pelaku datang seorang diri dari arah barat dengan mengendarai motor," terang Fardan. "Langsung masuk dan menodongkan senpi."


"Seorang penjaga toko yang berteriak ketakutan langsung ditembak," lanjut Fardan. "Termasuk tukang parkir yang berusaha melawan."


Ini adalah perampokan bersenjata api ketiga yang terjadi di wilayahnya hanya dalam kurun waktu satu bulan. Motif ekonomi dan himpitan kebutuhan hidup menjadi alasan klasik yang melatar belakangi.


Setelah berkoordinasi dengan Fardan dan tim Reskrim, ia beralih ke apartemen di daerah Kebon Jeruk. Turut menyaksikan sejumlah adegan reka ulang pembunuhan dengan mutilasi, yang menimpa seorang pekerja se ks komersil.


Sore ini ia sudah kembali ke kantor. Memeriksa dan menandatangani sejumlah laporan. Sekaligus menunggu kabar dari Aga Mahfin, yang tengah memimpin tim gabungan memburu tersangka jaringan narkotika jenis ganja lintas Sumatera-Jakarta hingga ke Kotanopan. Sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.


Usai memastikan Aga bersama tim berhasil mengamankan tersangka dan barang bukti. Ia segera berkemas untuk pulang.


"Pulang, Van," selorohnya pada Devano. "Masih muda harus menikmati hidup."


"Siap, Pak," Devano tersenyum lebar.


Sambil bersenandung dan memukuli kemudi seolah sedang menggebuk drum, ia meluncur ke rumah mama. Sepanjang perjalanan dilaluinya sambil tersenyum-senyum sendiri. Sama sekali tak terpengaruh oleh arus lalu lintas yang tersendat di mana-mana.


"Mas, besok aku ke Bandung," begitu Anja meneleponnya semalam. "Tapi mama nggak mau ikut. Gimana dong? Masa ditinggal sendirian?"


"Minta kakak ipar kamu ke rumah buat nemenin mama," jawabnya cerdas dan tangkas. "Sorenya aku pulang ke rumah mama."


"Siap, Bos, laksanakan."


Suara Anja terdengar lega dan ceria. Sama sekali tak bertanya kenapa harus meminta Pocut menemani mama ataupun menaruh curiga dengan permintaannya. Aman.


Ia bahkan masih tersenyum-senyum sendiri ketika membelokkan kemudi memasuki pintu gerbang. Membuka kaca lebar-lebar untuk menyapa Pak Wardi yang sedang berdiri di depan pos.


"Sore, Mas!" Jawab Pak Wardi dengan wajah sumringah.


Di halaman depan kendaraannya berpapasan dengan Taxi berwarna biru. Tengah melaju perlahan keluar dari pintu gerbang.


Ia sempat menoleh ke arah Taxi. Namun jenis kaca mobil yang cukup gelap tak mampu menampakkan sosok penumpang di dalamnya.


Ia tetap melajukan kemudi sambil mengangkat bahu tak peduli, mungkin tamu mama.


Sembari bersiul riang, dengan penuh semangat ia melangkah panjang-panjang memasuki teras. Bersiap menemui wajah yang selalu berhasil memancingnya untuk bertingkah seperti orang bo doh.


"Namanya cantik ya?"


Itu suara Tante Rita.


Ia kembali tersenyum. Perbincangan yang akrab dengan mama dan tante Rita bisa menjadi winning point (angka kemenangan) untuk menyusun langkah selanjutnya.


"Waktu itu papa lagi tugas belajar ke Rusia, Tan," jawab satu suara lain. Terdengar familiar namun bukan yang diharapkannya.


"Jatuh cinta sama kota Samara dengan sungai Volga yang mengalir indah di dalamnya."


Ia langsung tertegun begitu sampai di depan pintu.


"Samara Volga Dewayani ...." Ujar tante Rita lagi. "Nama yang cantik banget. Secantik orangnya."


"Ah, Tante ... bisa aja ...." Seloroh sosok yang duduk di antara mama dan tante Rita sambil tertawa renyah.


Jelas bukan seseorang yang dibayangkannya di sepanjang perjalanan menuju ke rumah mama.


"Eh, ada Tama ...." Ucapan tante Rita membuat mama dan Samara menoleh ke arah pintu.


"Kok malah bengong di situ, Tam?" Tante Rita keheranan melihatnya mematung di depan pintu.


"Terpesona ya ... pulang-pulang disambut sama gadis cantik?" Tante Rita mengerling seraya tersenyum.


Namun ia bergeming. Tetap berdiri di depan pintu. Berusaha menetralkan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul ke permukaan.


 --------


Ia mengenal Samara di satu pesta beberapa waktu silam. Saat itu, ia yang masih menetap di Surabaya tengah pulang ke Jakarta. Menjenguk papa dan mama. Niat awal adalah berdiam di rumah. Berbincang dengan papa, menemani mama memasak makanan kesukaannya, atau menonton film berdua dengan adik kecilnya, Anja.


Tapi kenyataan justru membawanya terdampar di pesta gila trio konglo besutan si womanizer sejati, Wisak.


"Samara ... fresh from the oven," Wisak dengan bangga memperkenalkan. "Seal (segel) masih utuh."


Armand tak tertarik, "Bukan tipe gua."


Rajas tak peduli. Bahkan di tengah pesta meriah masih memikirkan tentang penurunan harga saham Dikara. Definisi dari workaholic akut.


"Angkut, Man," Wisak mengedipkan sebelah mata ke arahnya.


Akhirnya Samara, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir sekaligus pemenang beauty pageant (kontes kecantikan). Menjadi teman bicaranya malam itu.


Ia langsung melupakan Samara. Kembali menapaki rutinitas menjemukan di Surabaya. Tapi siapa sangka, mereka dipertemukan untuk kali kedua di suatu acara resmi.


"Nice to meet you (senang berjumpa denganmu), Mas ...." Bisik Samara yang berbinar melihatnya.


Ia tak memiliki rencana apapun terhadap Samara. Hanya lintasan selewat tak bermakna. Mengalir tanpa tujuan berarti.


Namun sejak ia dipindah tugaskan ke Jakarta, Samara mulai sering mengunjungi rumah dinasnya. Samara bahkan berani menemuinya di kantor dengan berbagai alasan.


"Mas Tama ... tadi aku telepon kok nggak nyambung terus sih?" Samara memasang wajah merajuk begitu melihat kehadirannya di ruang tamu.


Tentu saja. Ia mematikan ponsel pribadi seharian penuh.


"Jadi nanya ke Devano deh ...." Sambung Samara dengan wajah tanpa dosa.


"Katanya Mas hari ini ada rencana ke rumah Mama ...." Samara tersenyum manis ke arahnya juga mama.


Ia menanggapi Samara secukupnya. Lebih memilih untuk meraih tangan mama lalu memeluknya. Berusaha mengalihkan kekesalan pada Devano dengan memandangi wajah teduh mama.


"Apakabar, Ma?" Sapanya sepenuh hati.


Mama yang sejak kepergian papa berubah menjadi lebih murung, hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kita habis baking lho, Tama," celoteh Tante Rita seraya menunjuk cake di atas meja dan mengangkat setoples kue kering kesukaannya.


"Cobain deh ... buatan duet wanita cantik. Samara sama Pocut," imbuh Tante Rita membuatnya kembali teringat tujuan utama buru-buru pulang ke rumah.


"Sekarang di mana?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Siapa?" Tante Rita mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan tanggungnya.


"Pocut?" Tante Rita kembali bertanya. "Baru aja pulang naik Taxi ...."


Ia mengembuskan napas kesal. Jadi, Pocut ada di dalam Taxi biru yang berpapasan dengannya di pintu gerbang? Damned!


"Kenapa?" Mama menyusulnya ke ruang tengah.


Sementara di ruang tamu, Samara dan tante Rita kembali asyik mengobrol sambil sesekali diselingi tawa.


Ia diam tak menjawab. Melangkah cepat ke ruang makan berniat mengambil minum. Mencoba menetralisir rasa kesal yang mendera.


"Ada kasus berat?" Mama kembali mengikutinya ke ruang makan.


Ia meneguk segelas air putih sebelum menjawab satir meski tak terucap, kasus paling berat.


"Sudah sholat Ashar belum?" Kini mama justru menanyakan topik berbeda. Seolah ia adalah bocah laki-laki tanggung yang mangkir dari kewajiban beribadah.


"Sholat dulu ...." Mama menepuk bahunya perlahan. Bisa menebak dengan benar jika ia belum menunaikan ibadah. "Nanti habis sholat ... kita ngobrol lagi di depan."


"Sebelum kamu anterin Samara pulang," lanjut mama sebelum beranjak. "Mobilnya lagi di bengkel. Dan Samara nggak biasa naik Taxi."


Ia kembali mengembuskan napas kesal. Tak percaya jika keriaannya beberapa menit lalu dalam sekejap menguap tanpa bekas. Berganti dengan rasa dongkol yang menjengkelkan.


"Tadi Pocut ke sini, Bi?" Tanyanya pada Bi Enok. Usai mengambil air wudhu di teras belakang.


Bi Enok mengangguk, "Muhun (iya), Den. Malah barang bawaannya ketinggalan. Lupa nggak dibawa pulang."


Ia mengernyit, "Barang apa?"


"Itu di atas meja," Bi Enok menunjuk sebuah tote bag warna hijau yang tersimpan di atas meja dapur.


Dengan langkah panjang ia buru-buru mendekati meja. Menyambar tote bag pada kesempatan pertama. Lalu segera melihat isinya.


"Bahan makanan?" Tanyanya heran begitu mendapati beras ketan, kelapa utuh, gula, dan bumbu dapur di dalam tote bag.


Bi Enok meringis, "Muhun, Den. Mungkin tadinya Neng Cut mau masak pulut kalau dilihat dari bahan-bahannya. Tapi ... nggak jadi."


"Kenapa?" Sergahnya cepat.


"Ini ...." Lanjut Bi Enok seraya mengangkat sebuah toples yang sedari tadi dipegang.


"Yang tutung (gosong) suruh dibuang sama Ibu. Tapi sayang, Den. Enak begini, wanginya beda, haruuum. Hehehe ... biar Bibi makan saja."


 --------


"Ke bengkel atau apartemen?" Tanyanya tanpa menoleh. Melajukan kemudi dengan tergesa-gesa.


"Jalan yuk, Mas. Temenin aku ke ...."


"Aduh, nggak bisa," sahutnya cepat. Seraya melirik rear vision mirror. Mendapati bayangan tote bag warna hijau yang tersimpan di bangku kedua.


"Malam begini juga masih kerja?" Samara mengerling tak percaya. "Long weekend lho ini."


Ia tak menanggapi. Lebih memilih untuk berkonsentrasi dengan arus lalu lintas yang cukup padat.


"Aku ada tempat bagus di ...."


"Langsung ke apartemen?" Sergahnya cepat dan datar.


"Beneran nih nggak ada waktu buat aku?" Suara Samara mendadak berubah manja.


Ia hanya menelan saliva. Berusaha tak hilang kesabaran menghadapi tingkah Samara.


Namun sikap berlebih Samara bisa jadi akibat dari ketidaktegasannya dalam memberi batasan. Episode gagal total hari ini memberinya pelajaran berarti. Bahwa ia harus mulai menjaga jarak dan menarik garis batas yang jelas dengan orang-orang seperti Samara.


***


Pocut


Ia langsung bersembunyi dengan melekatkan punggung ke sandaran kursi. Ketika Taxi yang ditumpanginya berpapasan dengan mobil Tama di pintu gerbang.


Ia bahkan harus menelan ludah berkali-kali. Merasa cemas jika Tama berhasil memergokinya. Tapi Tama yang membuka kaca lebar-lebar dan terlihat sumringah hanya melewati Taxinya begitu saja.


Syukurlah. Ia bisa bernapas lega.


Namun kelegaannya bersifat sementara. Sebab ketika ia sedang memasak untuk makan malam, terdengar suara orang datang berkunjung.


"Ma, ada tamu," Icad menemuinya di dapur dengan wajah masam.


"Tamu Nenek atau Mama?" Tanyanya sambil mengecek rasa dengan mencicipinya.


"Mama."


"Siapa?"


Wajah Icad bertambah masam, "Om yang dulu."


Ia mengernyit. Sebab ada banyak "Om" yang bertamu ke rumah. Yang semua berusaha dihindarinya dengan tidak mau menemui.


"Yang mana?" Sergahnya dengan hati berdebar. Sembari mematikan kompor setelah mendapatkan rasa masakan yang diinginkan.


Tapi Icad tak menjawab. Hanya mengangkat bahu dengan ekspresi malas.


Membuatnya memberanikan diri untuk mengintip dari balik pintu.


"Bilang Mama nggak ada," gumamnya cepat. Begitu mendapati sosok Tama sedang duduk di ruang tamu.


Mata Icad membulat mendengar ucapannya, "Abang bohong, dong?"


Ia menelan ludah dengan gugup.


"Memang Mama nggak ada di ruang tamu. Tapi di dapur," bisiknya cemas. "Sudah sana cepat."


Icad sempat memandanginya keheranan. Sebelum berbalik pergi ke ruang tamu.


***


Tama


Aroma harum masakan baru matang menguar memenuhi udara di seluruh ruangan. Memancingnya untuk menyunggingkan seulas senyum. Sebab bisa dipastikan siapa yang sedang memasak.


"Mama nggak ada," ucap Icad yang baru muncul dari dapur.


Membuatnya mengernyit heran. Memperhatikan pintu dapur yang tertutup setengahnya dan wajah Icad secara bergantian.


***


Pocut


"Ke mana?"


Ia mendengar Tama bertanya dengan keheranan. Pasti karena Tama telah mengetahui keberadaannya di dapur.


"Pokoknya Mama nggak ada," jawab Icad ketus.


"Kalau Nenek?"


Ia mengembuskan napas panjang. Mengambil duduk dengan perasaan lelah. Lalu menyandarkan punggung ke dinding dapur.


"Nenek lagi ke rumah Pak Ustadz."


"Om tunggu sampai Nenek pulang."


***


Tama


Ia tahu Pocut ada di sana. Di dapur yang masih menguarkan aroma harum masakan.


Tapi ia hanya bisa duduk diam menunggu. Ditemani Icad yang sedang asyik menggambar. Tak dapat memikirkan apapun selain kesal dengan kesalahpahaman tak terhindarkan ini.


***


Pocut


Ia tak bisa pergi ke mana-mana. Hanya bisa menunggu hingga Tama pergi.


"Gambar kamu bagus."


Ia memejamkan mata mendengar Tama mengomentari gambar Icad.


"Makasih."


***


Tama


Icad terlihat serius menggambar. Sementara ia memandangi pintu dapur yang sedari tadi diam tak bergerak.


***


Mamak


Ia bersama Sasa dan Umay baru pulang dari madrasah. Setelah mengikuti prosesi aqiqah putra ketujuh Ustadz Arif. Dan langsung tertegun begitu mendapati Tama sudah duduk di ruang tamu.


"Ternyata ada tamu?" Ucapnya heran. Sebab Tama hanya duduk diam ditemani Icad yang sedang asyik menggambar. Sementara Pocut sama sekali tak terlihat batang hidungnya.


"Sore, Bu," Tama mengangguk begitu melihatnya masuk.


Sedangkan Sasa yang berjalan di belakangnya bersama Umay langsung berseru riang, "EH, ADA OM LAGI? Cari Sasa ya, Om?"


Tama tertawa, "Sasa dari mana, nih?"


Sasa tersipu malu. Lalu menjawab dengan antusias, "Dari aqiqah, Om. Adik bayinya cakeeep banget "


Tama tertawa. Lalu menunjukkan kantung kresek putih besar yang tersimpan di atas meja kepada Sasa juga Umay.


"Buat Sasa, Om?" Bola mata Sasa langsung mengerjap gembira mendapati kantung kresek yang berisi makanan dan mainan. "Terima kasih, Om."


"Sama-sama, Sasa," Tama mengusap kepala Sasa dua kali.


Membuatnya tak tahan untuk bertanya, "Ada yang bisa dibantu?"


"Saya mengantarkan ini," Tama menyerahkan tas berwarna hijau yang tadi dibawa Pocut ke rumah Anjani.


Ia segera memeriksa isinya. Lalu mengernyit heran melihat semua masih utuh belum tersentuh.


"Mama ke mana?" Tanyanya ke arah Icad. Karena menurut sepengetahuannya, Pocut sudah berada di rumah sejak sore.


Icad hanya menggeleng, "Nggak ada, Nek."


Ia meragukan jawaban Icad. Tapi Tama terlihat biasa saja. Justru asyik mengobrol dengan Umay dan Sasa sebelum akhirnya pamit pulang.


Begitu sosok Tama tak terlihat lagi. Menghilang di balik tikungan diiringi lambaian tangan Sasa dan Umay. Ia bergegas pergi ke dapur.


Dan kecurigaannya pun terbukti.


Pocut sebenarnya berada di dalam rumah. Tengah duduk menyandar ke dinding dapur sembari menyusut air mata.


***