Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 47. When Everything Goes Wrong, You Make It Right


When Everything Goes Wrong, You Make It Right


(Saat semua berjalan buruk, Kau memperbaikinya)


***


Jakarta


Pocut


Ia memperhatikan gerak-gerik Tama dengan kening mengerut. Tepat saat Tama menengok ke arahnya.


"Sebentar," Tama meminta waktu pada petugas polantas yang mengangguk patuh. Lalu berjalan mendekat.


"Kamu bisa tunggu di sana." Tama menunjuk ke atas trotoar. "Ini nggak akan lama."


"Mari ...." Seorang petugas berseragam Dishub datang menghampiri. "Ibu bisa menunggu di sana." Sambil memberikan jalan padanya.


Ia sempat menatap Tama yang tersenyum mengangguk. Sebelum mengikuti arah yang ditunjukkan oleh petugas Dishub.


***


Tama


Setelah memastikan Pocut menunggu di tempat yang aman, ia segera berjalan menuju mobil. Melewati petugas polantas yang masih berdiri menunggu.


"STNKnya saya cari dulu," ujarnya sambil membuka pintu sebelah kanan depan.


Matanya nyalang menelusuri isi kabin. Mengecek dashboard. Membuka dan memeriksa laci dashboard. Kantong penyimpanan di panel pintu. Seatback pocket. Konsol tengah. Membuka sunvisor di atas kursi pengemudi lalu memeriksa ticket holder. Tapi tak membuahkan hasil. STNK tetap tak diketemukan.


"STNK di mana, Van?" Ia terpaksa menelepon. Dan langsung mendecak begitu mendengar jawaban dari Devano.


"Nggak usah!" Jawabnya gusar ketika Devano bertanya, apakah harus mengantarkan STNK padanya.


"Saya tidak keberatan jika Bapak ada kepentingan mendesak dan harus segera pergi." Ujar anggota polantas dengan wajah tak nyaman.


Ia langsung mematikan panggilan dan berbalik. "Tilang sesuai kesalahan saya."


Petugas di hadapannya mengangguk patuh.


***


Pocut


Dari tempatnya berdiri, terlihat jelas Tama sedang berusaha mencari sesuatu di dalam mobil. Tapi sepertinya barang yang dicari tak ditemukan. Karena kini, Tama sudah berbincang dengan petugas polantas dan Dishub.


Ia masih mencuri pandang ke arah Tama. Ketika sebuah keributan yang cukup menarik perhatian membuatnya berpaling.


Berjarak tak terlalu jauh, seorang wanita muda (dan cantik), yang duduk di belakang kemudi terlihat sedang marah-marah pada seorang petugas. ©


"Apa kesalahan saya?"


"Mba, telah melewati jalur yang menerapkan sistem ganjil genap. Sekarang tanggal genap. Sedangkan angka terakhir nomor polisi kendaraan Mba adalah ganjil," terang petugas polantas.


"Saya sudah bilang, kalau saya tidak tahu jalur ini menerapkan sistem ganjil genap! Saya baru sekali ini lewat di sini!"


"Nah, sekarang ... saya beritahu," jawab petugas tersebut.


"Baik, sekarang saya sudah tahu. Terimakasih! Mana SIM dan STNKnya! Saya sedang buru-buru. Sudah ditunggu sama orang!"


Petugas polantas yang memegang SIM dan STNK wanita itu tersenyum, "Mba kan sudah melanggar. Jadi, SIM dan STNKnya saya tahan dulu. Sebagai gantinya, saya beri surat tilang. Dan Mba bisa langsung melanjutkan perjalanan."


"Tidak bisa!" Suara wanita itu tiba-tiba meninggi. "Saya tidak terima kalau ditilang! Dari awal sudah saya jelaskan, kalau saya tidak tahu aturan ganjil genap di jalur ini!"


"Jadi ini adalah kesalahan pertama saya! Bukan termasuk pelanggaran karena saya tidak tahu! Baru masuk peringatan dan himbauan!"


"Tetap pelanggaran, Mba ...."


"BUKAN!" Wanita itu langsung histeris. "MANA SIM DAN STNK SAYA? KEMBALIKAN!" Teriak wanita itu sambil menarik-narik rompi hijau yang dikenakan petugas.


"Mba ... sabar, Mba." Petugas polantas mengangkat kedua tangan ke atas. Berusaha tak terpancing dengan tarikan yang semakin kuat. Hingga tubuh petugas tersebut hampir membentur pintu samping pengemudi.


"SAYA HITUNG SAMPAI TIGA. KEMBALIKAN SIM DAN STNK SAYA! SATU ...."


"Mba, tolong kerjasamanya." Petugas masih berusaha membujuk. "Di sini banyak juga yang terkena tilang. Bahkan pimpinan kami ...." Petugas tersebut menunjuk ke arah Tama.


Tanpa sadar, ia ikut mengalihkan pandangan. Melihat Tama yang masih berbincang dengan petugas polantas dan Dishub.


"Juga terkena tilang," sambung petugas berusaha menjelaskan. "Dan tetap taat pada aturan."


"SAYA NGGAK PEDULI!" Pekik wanita itu semakin tak sabar. "Palingan juga settingan! Dunia ini penuh sandiwara! Mana mungkin polisi ditilang polisi. NGIMPI!"


"Lho?" Petugas mau tak mau tertawa. "Itu buktinya. Beliau Kapolres lho, Mba. Orang nomor satu di wilayah resor ini. Tapi masih taat aturan dengan ...."


"SIM DAN STNK CEPAT!" Teriak wanita itu kembali menarik rompi petugas. Kali ini lebih keras hingga tubuh petugas membentur pintu pengemudi.


"Hei! Hei!" Tegur petugas polantas lain segera menghampiri. "Ini petugas, lho! Yang sopan sama petugas!"


"IYA! IYA! SAYA TAHU!" Jerit wanita itu kian tak terkendali. "Saya cuma mau minta hak saya! SIM dan STNK saya! MANA?"


"Sabar, Mba." Petugas lain turut mendekat. Sementara orang-orang yang memperhatikan keributan semakin banyak.


"Ini bulan puasa, Mba. Jangan marah-marah." Petugas keempat ikut mengerumuni mobil wanita itu.


"SAYA LAGI NGGAK PUASA! TERSERAH SAYA MAU MARAH ATAU ENGGAK!"


"INI APA-APAAN SAYA DIKEROYOK POLISI BEGINI? SAYA REKAM NIH BIAR VIRAL!"


"Silakan, Mba ... silakan direkam ...." Petugas yang memegang SIM dan STNK mulai mencatat surat tilang. Sementara tiga petugas lainnya membubarkan diri.


"Beraninya sama rakyat kecil! Sama wanita pula!" Sungut wanita itu sambil terus merekam. "Apa saya perlu nelepon Kapolri nih sekarang? Biar tahu kinerja anak buahnya yang sewenang-wenang!"


Petugas yang sedang mencatat surat tilang tersenyum, "Silakan, Mba ... silakan kalau mau menelepon."


"Kapolri lho ini! Lebih tinggi jabatannya dari Kapolres situ yang katanya taat aturan!"


"Cih! Nonsense taat aturan! Yang ada kalian orang-orang berseragam selalu minta diistimewakan!"


"Banyak buktinya! Ada di mana-mana!"


"Saya telepon Kapolri nih sekarang juga! Orangtua saya kenal baik dengan beliau!"


Petugas mengangguk, "Silakan ... silakan ...."


"Lihat apa?" Suara bass yang khas tiba-tiba terdengar menghampiri.


Ia hanya mengernyit sambil tetap memperhatikan keributan antara wanita yang ditilang dengan petugas polantas.


Tama yang menyadari keributan tersebut hanya menyeringai. Tak terlihat terkejut atau ingin ikut campur. Tama justru bertanya, "Kita pulang sekarang?"


Ia menoleh.


"Saya pesan Taxi dulu." Tama mengeluarkan ponsel dari dalam saku.


"Mobilnya ditilang?" Ia semakin mengernyit.


Tama mengangguk sambil terus menunduk. Berkonsentrasi pada layar ponsel.


Ia mendesah tak percaya. Mana mungkin polisi ditilang polisi. Hanya ada dalam dunia khayal.


"Karena di sini ada rambu larangan berhenti." Kini Tama menoleh ke arahnya. "Kita harus jalan sedikit ke depan kalau mau naik Taxi. Atau mundur ke belakang sebelum rambu peringatan."


Ia mengembuskan napas panjang.


"Kamu nggak keberatan kan kita jalan kaki?" Tama menatapnya.


Ia kembali mengembuskan napas panjang. "Kenapa mempermalukan diri seperti ini?"


Tama mengernyit. "Siapa malu? Kamu malu ... jalan kaki sama saya?"


Ia menggeleng. "Di atas jembatan tadi. Kenapa mengatakan hal yang bisa mempermalukan diri sendiri?"


Tama tertawa. "Oh, soal itu. Jangan dianggap serius."


Ia yang sedang menunduk langsung menoleh. Matanya sontak menyipit meminta penjelasan.


Tama terperanjat. Sadar jika telah salah bicara. Lalu bergumam pelan, "Bagian hati yang tercuri tadi serius."


Ia kembali menunduk. Hampir bersikap tak sopan dengan mencibir, namun masih bisa ditahan.


"Cara menyampaikannya yang sambil bercanda," sambung Tama. "Kamu nggak keberatan kan ... dengan ucapan saya tadi?"


Ia tetap menunduk.


"Tapi intinya serius," imbuh Tama lagi. "Saya selalu serius dengan apa yang diucapkan."


Entah sudah berapa kali ia mengembuskan napas panjang. "Sebaiknya berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu."


"Kamu malu ... saya berterus terang di jembatan tadi?"


Tama tertawa tanpa suara sambil menunjuk dadanya sendiri. "Saya yang malu?"


Ia menatap Tama tak percaya. "Bukan masalah malunya. Tapi tanggung jawab dengan apa yang disandang."


Tama balas menatapnya sambil mengangkat bahu.


Sementara teriakan penuh amarah wanita di belakang kemudi mobil semakin menarik perhatian banyak orang. Membuat arus lalu lintas kian tersendat. Sebab sejumlah pengemudi yang tak ditilang, justru sengaja melambatkan kendaraannya karena ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.


Ia ikut memandang ke arah keributan. Lalu menoleh ke samping. Apa Tama tak ingin melakukan apapun untuk melerai keributan?


Tama tersenyum. Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkannya. "Biar saja. Sudah ada bagian masing-masing. Sudah ada petugas yang menangani."


Tanpa sadar ia pun mengangguk. Awalnya sempat berpikir, Tama akan ikut turun tangan menenangkan wanita yang histeris itu. Tapi nyatanya tidak.


"Tadi ... tanggung jawab seperti apa maksudnya?" Suara Tama terdengar tersenyum. "Jadi kamu pikir ... saya kurang bertanggung jawab karena mengungkapkan isi hati pada orang yang ...."


Ia mendecak seraya menoleh. Membuat Tama langsung menghentikan ucapan namun sambil tersenyum.


"Tanggung jawab terhadap apa yang dipakai." Melalui isyarat mata ia menunjuk pada seragam yang dikenakan Tama.


"Tanggung jawab terhadap lembaga yang menaungi dengan tidak melakukan hal-hal memalukan di luar nalar." Ia terkejut sendiri. Karena bisa mengemukakan apa yang terpikir di dalam kepala dengan teramat lancar.


"Apa Mas tidak berpikir akibatnya?" Ia mendesah tak percaya. "Bagaimana kalau banyak orang yang merekam kejadian ta ...."


"Coba ulang sekali lagi." Sekonyong-konyong Tama memotong ucapannya.


Ia mengernyit tak mengerti.


Tama tersenyum. "Tolong ulangi dari awal ... mulai dari apa ...."


"Apa Mas tid ...."


"Cukup." Senyum Tama semakin lebar. "Cara kamu menyebut nama saya terdengar menyenangkan."


Ia sontak tertawa sambil menggelengkan kepala. Yang benar saja. Namun sedetik kemudian menatap Tama dengan sedikit kesal. Tapi Tama malah tersenyum lebar tanpa merasa jengah.


"Tadi mau nanya apa?" Tama masih tersenyum.


Ia mengeluh dalam hati sebelum berucap, "Kita nggak mungkin jalan kaki ke depan menunggu Taxi datang."


"Kenapa nggak mungkin?" Tama mengernyit.


"Dengan seragam lengkap seperti itu?" Ia hampir menggerutu.


Tama menatapnya tak mengerti. "Ada masalah dengan seragam saya?"


Ia balas menatap Tama. "Apakah etis? Setelah kejadian di jembatan tadi? Lalu ditilang? Sekarang berjalan kaki dengan wanita asing yang bukan siapa-siapa."


Tama menggeleng. "Bukan bukan. Tapi belum."


"Dan saya pastikan itu akan terjadi secepatnya. Kamu segera menjadi siapa-siapa saya," lanjut Tama. Kali ini sambil mengu lum senyum.


Tolong. Cukup. Jangan menjadi.


Ia benar-benar menggerutu sekarang. "Paling tidak memikirkan marwah tempat Mas berdinas."


Matanya beralih memandang tiga deret bordiran berbentuk bunga. Yang tersemat di kerah seragam Tama.


"Memperoleh tanda seperti itu pasti tak mudah." Ia masih menatap bordiran bunga di kerah Tama. "Seharusnya Mas bisa menghargai apa yang dic ...."


"Saya mengerti." Tama mengangguk. "Tunggu di sini." Lalu beranjak pergi meninggalkannya.


"Nggak akan lama." Tama kembali menoleh ke arahnya sambil terus berjalan.


Ia pun hanya bisa mengembuskan napas panjang.


***


Tama


Ia pasti sudah gila. Mungkin akal sehatnya tertinggal di kantor. Di antara tumpukan laporan yang tersimpan di atas meja. Hingga tanpa ragu sedikitpun bersikap impulsif.


Tapi pada akhirnya ia tersenyum lega.


Karena jika memakai logika. Saat ini ia pasti masih berdiam diri di kantor. Melewatkan momen berharga bersama Pocut. Dan tak bisa merasakan sensasi adrenalin yang terpicu. Naluri lelaki.


Sungguh sangat disayangkan bukan, jika ia sampai melewatkan kesempatan?


Apalagi, kekhawatiran akan mendapat penolakan dari Pocut tak pernah terbukti. Kesenangannya pun kian bertambah, karena Pocut mulai percaya diri mengungkapkan pendapat. Tak lagi ragu mengutarakan isi hati. Bahkan mengingatkannya tentang tanggung jawab dan etika.


Menyenangkan bukan? Ia semakin yakin, telah menemukan yang selama ini dicari. Seseorang yang mau mengarungi arus bersama. Seseorang yang ketika he goes wrong, she make it right. Begitupun sebaliknya. Saling. Bersama-sama.


Dengan hati penuh keriaan, ia berjalan cepat menuju mobil yang ditahan karena tak dilengkapi STNK.


"Saya cari barang sebentar di dalam," ujarnya ke arah anggota yang tadi memberi surat tilang.


"Siap, Pak. Silakan," jawab anggota tersebut seraya menghormat.


Berharap siapapun pemilik mobil ini, entah Devano entah Alfian atau siapapun, memiliki benda yang dicarinya.


Ia langsung memeriksa kabin. Kemudian beralih ke bangku kedua. Lalu bagasi. Menyisir setiap sudut tanpa kecuali.


***


Pocut


Sore kian merambat. Suasana senja mulai temaram. Langit yang awalnya cerah, kini telah berubah warna menjadi oranye keemasan. Warna khas lembayung senja yang begitu indah.


Jalan raya di hadapannya makin padat dipenuhi kendaraan bermotor. Sementara keributan antara wanita di belakang kemudi dengan petugas polantas masih belum berakhir. Wanita itu tetap tak merasa bersalah. Bersikukuh meminta kembali SIM dan STNK dari tangan petugas.


Di kejauhan tampak Tama sedang membuka pintu mobil yang baru saja ditilang. Berusaha mencari-cari sesuatu. Persis seperti sebelumnya.


Ia kembali mengalihkan perhatian pada perdebatan antara wanita di belakang kemudi dengan tiga orang petugas sekaligus. Sambil sesekali menikmati indahnya lembayung senja yang menyemburat di ufuk barat.


Tanpa harus menunggu lama, kini Tama sudah berjalan mendekat dengan tampilan berbeda. Tak lagi memakai seragam. Tapi sweater berwarna gelap dengan tulisan tiga huruf berukuran besar di bagian dadanya.


"Boleh titip?" Tanpa ragu Tama mengangsurkan kemeja seragam yang telah dilepas.


"Muat di tas nggak?" Tama menunjuk ke arah tas yang dibawanya. "Nggak mungkin saya tenteng kan?"


Ia ingin melancarkan protes. Namun pada akhirnya, terpaksa menerima lalu menyimpan kemeja seragam milik Tama ke dalam tas. Tanpa sepatah katapun.


"Makasih."


Ia pura-pura sibuk menarik resleting tas. Berusaha tak memedulikan Tama.


"Sekarang ... udah nggak malu lagi jalan sama saya, kan?"


Ia menelan ludah dengan gugup. Lalu bergegas melangkah meninggalkan Tama. Berjalan cepat mendahului Tama. Sambil berusaha menata degup jantung yang sedari tadi melonjak-lonjak tak karuan.


"Pesan Taxi online jam segini agak susah," gumam Tama yang kini telah menyejajarkan langkah di sampingnya. Dengan kepala menunduk memandangi layar ponsel.


"Kalau belum ada yang ambil juga, keberatan nggak kalau kita mampir sebentar?"


Ia selalu berprasangka tiap kali Tama memiliki ide untuk singgah ke suatu tempat. Ia merasa, mereka tak sepantasnya pergi berdua tanpa tujuan yang jelas. Ia seperti sedang mengkhianati seseorang. Mencederai janji yang dibuatnya sendiri.


"Di depan ada Masjid lumayan besar. Kita bisa numpang buka puasa di sana." Tama menoleh.


Tapi Masjid adalah tujuan yang jelas.


"Daripada nunggu Taxi lama. Belum nanti harus buka di jalan," imbuh Tama seraya menatapnya.


"Kita juga belum punya makanan untuk buka." Tama terkekeh. "Padahal sebentar lagi azan Maghrib."


Ia menelan ludah. Lalu bergumam dengan keras kepala. "Kalau memang susah cari Taxi. Saya bisa pulang sendiri naik bus. Tak perlu diantar."


"Saya nggak boleh terlambat sampai di rumah," sambungnya cepat-cepat memutus kontak mata dengan Tama. "Mamak dan anak-anak sudah menunggu."


Bukan Tama yang menjawab. Tapi kumandang azan Maghrib yang bersahutan di kejauhan.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar)


Asyhadu allaa illaaha illallaah


(Aku menyaksikan, bahwa tiada Tuhan selain Allah)


***


Keterangan :


©. : terinspirasi dari tayangan The Police edisi 11 Februari 2019