Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 39. Right Here Waiting


Right Here Waiting


(Di sini Menunggu)


-merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh Richard Marx-


***


Jakarta


Devano


Ia merasa heran karena mendapati Pak Tama masih duduk di belakang meja menghadapi setumpuk laporan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Momen yang paling ditunggu oleh Pak Tama sejak tadi pagi.


"Pak?"


"Hmm ...."


"Masih di sini?"


Namun Pak Tama sama sekali tak menghiraukannya. Tetap berkutat di depan setumpuk laporan.


"Pak?" Ia mulai gelisah. Merasa cemas jika Pak Tama melewatkan sesuatu. Sekaligus bingung dengan pilihan kata yang harus diucapkan. Karena khawatir dianggap lancang dan tidak sopan.


Kini Pak Tama menatapnya tajam, "Apa?"


"Bapak nggak ke ruang rapat?" Tanyanya ragu.


Pak Tama tak menjawab. Kembali menunduk memeriksa sejumlah laporan.


"Alfian sudah datang, Pak," ucapnya semakin ragu. Demi melihat ketidakpedulian Pak Tama.


"Bukan urusan saya!" Jawab Pak Tama singkat.


"Alfian datang bersama Bu Pocut, Pak. Mengambil pesanan takjil yang ...."


Kalimatnya langsung terhenti karena Pak Tama memberinya tatapan tajam.


"Sebentar lagi saya mau ketemu Bu Pocut untuk tanda tangan perj ...."


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" Gerutu Pak Tama yang langsung bangkit dari duduk. Meninggalkan begitu saja setumpuk laporan, yang sebagian terbuka lebar tersimpan tak beraturan di atas meja.


Ia hanya meringis bingung, "Saya sudah coba mengingatk ...."


Kalimatnya menguap di udara, karena Pak Tama keburu berjalan melewatinya kemudian pergi meninggalkan ruangan.


"Mengingatkan kalau sekarang jadwalnya Bu Pocut datang ke sini ...." Sambungnya bicara seorang diri. Lalu buru-buru mengejar langkah Pak Tama.


Tapi ia kembali merasa heran saat melihat perilaku Pak Tama. Bukannya langsung masuk ke ruang rapat, tapi malah berdiri di depan pintu sambil mengawasi keadaan di dalam. Di mana Bu Pocut dengan dibantu oleh Alfian sedang menyusun makanan di atas meja.


"Kenapa nggak masuk, Pak?" Tanyanya benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh pimpinannya itu.


Tapi Pak Tama justru menyuruhnya diam dengan meletakkan telunjuk di depan mulut.


Ia pun mengangguk patuh. Tetap berdiri di belakang Pak Tama. Ikut mengawasi setiap gerik Bu Pocut dengan hati bertanya-tanya. Kenapa hanya berdiri di depan pintu begini? Padahal dirinya sudah berjibaku menjalankan tugas negara. Tapi Pak Tama malah menyia-nyiakan kinerjanya dengan hanya mengintip di balik pintu.


Selang beberapa menit kemudian, ia masih berdiri di belakang. Ketika Pak Tama menoleh ke arahnya dengan kening mengerut, "Kenapa masih di sini?"


Ia langsung gelagapan, "Menunggu Bapak ...."


"Ngapain nunggu saya?" Kening Pak Tama tambah mengerut. "Segera minta tanda tangan sebelum masuk waktu buka. Kamu mau tanggung jawab kalau Bu Pocut terlambat sampai di rumah dan harus buka di jalan?"


Ia semakin gelagapan, "B-baik, Pak. Saya pikir Bapak akan ...."


Melalui isyarat mata, Pak Tama menyuruhnya segera masuk.


Ia pun langsung terdiam. Buru-buru melangkah ke dalam ruang rapat. Meninggalkan Pak Tama dengan perilaku anehnya.


Tak jauh berbeda dengan Pak Tama. Sikap Bu Pocut juga terlihat aneh. Nampak gugup dan gelisah selama berada di ruang rapat. Membuatnya semakin bertanya-tanya dengan perilaku yang sepertinya saling berhubungan ini. Namun tak sampai terucap karena merasa sungkan untuk menanyakannya.


"Saya datang ke mari hanya sekali ini saja kan, Pak?" Tanya Bu Pocut dengan raut gugup.


"Betul, Bu." jawabnya proaktif. "Untuk selanjutnya Ibu tidak perlu datang ke sini. Yang penting makanannya sampai."


Bu Pocut terlihat bernapas lega.


Tapi jawaban yang diberikan ternyata justru menjadi blunder untuk yang ke sekian kalinya.


"Tadi ... ngobrol apa saja sama Bu Pocut?" Selidik Pak Tama, ketika ia sedang memastikan, hidangan untuk berbuka telah tersedia di ruang kerja pimpinan.


"Hanya tentang termin pembayaran, Pak," jawabnya jujur.


"Nggak ada yang lain? Nyari saya nggak?"


Ia mengernyit bingung. Mencoba memahami arah pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Tama.


"Tidak, Pak," jawabnya lagi. Karena memang Bu Pocut tidak menanyakan hal lain kecuali urusan jadwal takjil untuk berbuka puasa.


"Cuma itu?"


Ia mengingat sebentar, "Bu Pocut bertanya, cukup datang sekali ke sini?"


"Kamu jawab apa?"


"Iya, Pak. Bu Pocut tak perlu datang ke mari lag ...."


Pak Tama langsung mendecak kesal, "Kamu ini ...."


"Maghrib berapa menit lagi?" Sergah Pak Tama memotong kalimatnya sendiri.


Ia pun melihat jam di pergelangan tangan dengan bingung, "Sekitar enam sampai tujuh menit lagi."


"Keluar dulu. Nanti setelah buka puasa temui saya lagi."


Ia mengangguk mengerti. Segera beranjak keluar ruangan.


Ia pikir, Pak Tama akan membahas tentang kunjungan safari Ramadan yang akan mereka lakukan ke Sektor Tamansari usai berbuka. Tapi ternyata tentang,


"Minggu depan suruh Bu Pocut antar sendiri makanannya ke sini."


Ia hanya melongo, "Katering lain cukup makanannya saja yang datang, Pak. Tidak perlu dengan pemiliknya."


"Berani kamu melawan saya?"


Ia langsung menggeleng. Antara keder tapi juga ingin tertawa demi melihat reaksi tak biasa Pak Tama. Terlalu berapi-api hanya untuk urusan seremeh katering takjil.


"Suruh Bu Pocut datang sendiri antar makanannya. Alfian yang jemput."


"Baik, Pak."


"Lain kali koordinasi dulu sama saya. Jangan asal jawab."


Ia hampir mengiyakan. Tapi rasa ingin tahu yang sejak awal menggelitik tak lagi bisa dibendung.


"Ijin bertanya Pak ... kenapa tidak langsung menemui Bu Pocut dan membicarakannya secara langsung?" Tanyanya hanya ingin memastikan. Mengesampingkan kemungkinan akan memancing amarah.


Pak Tama mendecak, "Yang benar saja!"


Ia buru-buru menelan ludah. Sebab kesalahpahaman dengan Pak Tama kian nampak di pelupuk mata. Nasibnya berada di ujung tanduk.


"Saya sudah janji nggak akan ketemu," lanjut Pak Tama di luar dugaan. Yang ternyata tak marah. "Nggak mungkin saya melanggar janji sendiri."


Ia bernapas lega. Lalu berdehem sebanyak dua kali, "Melanggar janji tak bertemu bukan kesalahan, Pak. Justru kejutan menyenangkan."


"Apalagi wanita adalah makhluk penuh kontradiksi. Bilangnya tidak, padahal iya. Begitu juga sebaliknya," sambungnya dengan penuh percaya diri.


"Jadi ... janji Bapak untuk tidak bertemu bukan hal mutlak. Masih ada celah," pungkasnya dengan rasa bangga bisa memberi masukan pada pimpinan.


Pak Tama melihat ke arahnya. Ia pun sudah bersiap siaga menerima amarah. Tapi yang ada justru Pak Tama tertawa.


"Anak kemarin sore mau ngajarin saya," desis Pak Tama sambil tertawa sumbang.


Tapi ia sama sekali tak tersinggung disebut anak kemarin sore. Justru semakin membuat kepercayaan dirinya meningkat. Sebab jika berita yang didengarnya valid, Pak Tama bercerai karena sang istri mendua. Sedangkan ia adalah kebalikan dari Pak Tama. Tak pernah diduakan tapi hobi menduakan. Jelas kan perbedaannya? Itu berarti, posisinya berada di atas angin. Dan kehidupan asmara Pak Tama jauh lebih mengenaskan dibandingkan dirinya.


Ia kembali berdehem. Siap memberi ide cemerlang lainnya, "Mereka pastinya menyukai usaha dan perjuangan kita. Jadi ... kalau Bapak melanggar janji dengan menemui Bu Pocut, sepertinya bukan masalah besar."


Pak Tama terbahak. Namun sejurus kemudian terdiam, "Ini lain daripada yang lain. Complicated (rumit). Kamu nggak akan nyampai."


Ia meringis. Pak Tama benar-benar meremehkan kemampuannya dalam hal asmara.


"Bisa bubrah saya kalau ngikutin ide kamu," kali ini Pak Tama jelas menggerutu.


Ia sudah hampir memberi ide brilian paling pamungkas. Namun urung, sebab keburu Pak Waka (Wakil kepala) masuk ke dalam ruangan.


"Kita jalan jam berapa, Pak Tama?"


Seminggu kemudian tebakannya terbukti secara nyata. Saat Bu Pocut yang merasa keheranan mengapa harus kembali datang ke kantor, ia dapati sedang mencari keberadaan seseorang.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?" Tanyanya yang ikut mengawasi ruang rapat. Sesuai dengan tugas khusus yang diberikan oleh Pak Tama.


Bu Pocut awalnya tersenyum malu. Namun sejurus kemudian terlihat memberanikan diri untuk bertanya, "Saya harus datang ke sini karena permintaan dari ...." Bu Pocut berdehem dengan gugup. "Pak Tama?"


Ia berusaha bersikap profesional layaknya tengah melindungi informasi rahasia dari klien nomor wahid, "Maksud Ibu?"


Bu Pocut langsung menggeleng gugup, "Maaf. Lupakan saja pertanyaan saya."


Tapi ia masih berbaik hati memberikan informasi lain secara cuma-cuma, "Pak Tama sedang sibuk sekali, Bu. Tadi sore terbang ke Surabaya karena ibu mertuanya meninggal dunia."


"Innalillahi ...."


"Maksud saya ...." Ralatnya cepat. "Mantan ibu mertua."


Bu Pocut mengangguk.


"Jadi ... ibu tidak bisa bertemu dengan beliau hari ini."


Wajah Bu Pocut yang semula trenyuh mendengar berita kematian, kini mendadak keruh. "Saya bukannya ingin bertemu ...."


"Iya, Bu," jawabnya cepat. Khawatir jika berita ini sampai ke telinga Pak Tama akan menjadi blunder berikutnya. "Ibu memang nggak ingin bertemu. Tapi pak Tama yang ingin bertemu dengan Ibu."


Praktis terhitung sejak detik ini, blunder resmi tersemat menjadi nama tengahnya.


***


Surabaya


Tama


Walaupun ia melanggar kesepakatan dengan memaksa Pocut menerima tawaran yang cukup aneh perihal penyediaan jasa katering. Namun ia tetap memenuhi janji dengan tidak bertemu muka secara langsung.


Ia hanya berdiri memperhatikan dari luar ruang rapat. Sekedar memastikan jika Pocut dalam keadaan baik-baik saja.


"Apakabar Pocut?" Tanya Kinan, usai tahlil hari pertama meninggalnya ibu.


Ia menggeleng, "Apa kamu selalu seperti ini?"


"Dalam suasana duka masih membahas hal lain," keluhnya tak percaya.


Kinan tersenyum pahit, "Maaf. Rasa ingin tahuku memang begitu besar."


"Jangan sekarang," gelengnya lagi. "Kamu sedang berduka."


"Aku sudah berduka sejak lama, Mas. Bukan kali ini saja," jawab Kinan tersenyum samar. "Terutama sejak Mas memutuskan untuk mengabaikanku."


Ia mengembuskan napas panjang, "Tidak, Kinan. Urusan kita sudah selesai."


Kinan mengangguk, "Urusan kita berdua memang sudah selesai, Mas. Aku hanya ingin menceritakan apa yang kurasakan."


Ia diam tak menjawab. Tak bisa mengelak jika sikap ketidakpekaannya dahulu menjadi satu dari sejumlah sumber masalah pelik dengan Kinan.


"Ibu memang punya riwayat diabetes," gumam Kinan akhirnya hampir tak terdengar. "Aku harus siap setiap saat jika ibu pergi ...."


"Maaf, pertanyaanku tadi bukan berarti tidak berduka. Tapi memang ini satu-satunya kesempatan kita bertemu."


Ia masih diam. Memilih untuk mengisap rokok dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Memperhatikan lalu lalang orang yang tengah melipat karpet di ruang tamu, membereskan tempat usai acara tahlil.


"Reka gimana?" Ia memecah kesunyian. "Masih lanjut renang? Kapan dia mau ke Jakarta?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas," Kinan menatapnya tak setuju.


"Aku bertanya tentang Pocut karena memang harus," sambung Kinan tak patah arang. "Kelak dia akan menjadi ibu sambungnya Reka."


Kali ini ia tak mampu menahan tawa. Bahkan sampai tersedak asap rokoknya sendiri hingga terbatuk-batuk.


"Kinan ... Kinan .... Kejauhan kamu mikirnya," ia menggerutu seraya meraih botol air mineral di atas meja. Lalu meneguknya cepat. Berusaha menghilangkan rasa pedih di tenggorokan.


"Tapi benar kan tebakanku, Mas?"


Ia masih berusaha menghabiskan air mineral di dalam botol. Tak langsung menjawab pertanyaan Kinan.


"Mas memang nggak bertanya. Tapi aku setuju," Kinan kembali tersenyum samar. "Pocut jauh berbeda dari wanita yang aku bayangkan akan Mas pilih untuk menggantikan posisiku."


"Oh, come on (ayolah) ...." Ia tak percaya Kinan selalu mengungkit hubungan mereka yang telah kandas.


"Mungkin itu yang membuat aku merasa aman," Kinan menatapnya lekat-lekat. "Aku nggak akan menghalangi hubungan kalian."


"Kinan, bisa kita hentikan omong kosong ini?" Ia benar-benar sudah tak sabar menghadapi perilaku Kinan.


"Aku merasa durhaka terhadap almarhum ibu kamu dengan membicarakan hal seperti ini di malam pertama beliau meninggal."


"Sudah cukup," ia telah memutuskan. "Kita bicarakan hal ini lain kali."


"Atau malah mungkin nggak akan kita bicarakan lagi," sambungnya cepat. "Kita berdua nggak punya kewajiban untuk menceritakan kisah masing-masing."


"Hubungan kita hanya sebatas Reka," imbuhnya lagi. "Dan hubungan kami berdua masih sangat buruk. Itu menjadi PR besar bagiku."


"Kalau kamu mau membantu, tolong bantu perbaiki hubunganku dengan Reka," ia menatap Kinan yang memasang wajah murung. Entah murung karena tersinggung mendengar perkataannya. Atau murung sebab masih dalam suasana duka.


"Tak perlu mencampuri urusanku yang lain," ujarnya berusaha menegaskan batas di antara mereka.


Kinan mengembuskan napas panjang sebelum menjawab dengan suara bergetar, "Aku bertanya bukan tanpa alasan."


"Aku bertanya karena ... aku dan Mas Pram ... kami ... akan menikah dalam waktu dekat," Kinan mengucapkan kalimat mengejutkan ini dengan kepala tertunduk.


"Good (bagus)," sahutnya tanpa menunggu. "Turut berbahagia ...."


Ia bersungguh-sungguh saat mengucapkan kata turut berbahagia. Sebab hatinya terhadap Kinan sudah jauh tertinggal di belakang. Tak ada lagi yang tersisa. Bahkan rasa cemburu. Dan hubungan Kinan dengan Mas Pram memang sudah sepantasnya diresmikan bukan? Menunggu apalagi?


"Mungkin waktunya akan sedikit mundur karena ibu meninggal," lagi-lagi Kinan mengembuskan napas.


Ia mengangguk mengerti, "Memang harus begitu. Tunggu masa berkabung selesai."


Kini Kinan menatapnya, "Itulah mengapa aku bertanya tentang Pocut. Hanya memastikan ... jika Mas juga sudah memiliki orang lain ... itu akan sedikit mengurangi rasa bersalahku karena ...."


Ia menggeleng, "Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jalani saja apa yang ada di depan kamu. Tak perlu hiraukan aku lagi."


"Prioritasku sekarang adalah Reka," sambungnya yakin. "Kalau untuk hubungan baru ... masih harus menunggu waktu."


"Tak semudah yang dibayangkan," ia mengembuskan napas panjang. "Masih banyak hal yang harus kulakukan dan kuselesaikan. Sebelum benar-benar memulai kehidupan baru dengan orang lain."


"Pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri ... berdua dengan Reka. Bertiga dengan orang lain ...." Gumamnya tanpa ragu.


"Aku masih harus menunggu ... sampai waktu berpihak."


Kinan tersenyum samar, "Semoga secepatnya ...."


Ia hanya tertawa sumbang. Membayangkan wajah Reka yang selalu masam tiap kali mereka bertemu. Mengingat benteng kokoh yang dipasang Pocut tinggi-tinggi terhadapnya. Memikirkan bagaimana cara tepat untuk membicarakan tentang Pocut dengan Mama. Juga Cakra. Ah, ya Cakra ibarat big trouble (masalah besar) berikutnya. Lalu ada Icad yang selalu memasang wajah tak kalah masam dengan Reka.


Ia mengembuskan napas panjang. Sambil menggerus batang rokok yang telah memendek ke dalam asbak. Tak memiliki pilihan lain kecuali menunggu. Sembari berharap ada jendela yang terbuka. Sebab semua pintu yang digadangkannya telah tertutup rapat.


Right here waiting (di sini menunggu).


***