
Jakarta
Cakra
Ia memandangi wajah Anja yang terlelap dengan mulut menganga. Namun menurutnya, Anja justru terlihat semakin cantik meski dalam posisi aneh seperti sekarang ini. Dan tanpa disadari, mulutnya sendiri juga sedang ternganga. Usai mendengar sederet kalimat panjang yang diucapkan mas Tama hanya dalam satu tarikan napas.
"Ada dua opsi waktu melamar. Pertama, jam satu siang. Kedua jam empat sore. Dan aku minta tolong kamu sama Anja beli semua perlengkapan untuk serah-serahan. Jenis, merk, harga, terserah kalian. Anja tahu barang bagus, dan kamu tahu ukuran barang-barang yang dipakai Pocut. Poin pertama deal?"
"Poin kedua ...." Mas Tama sama sekali tak memberinya kesempatan untuk menjawab. "Uang untuk membeli serah-serahan kutransfer ke rekening Anja. Kalau kurang langsung hubungi aku. Jangan menunggu. Harus proaktif. Aku nggak mau dengar alasan karena uangnya kurang dan sejenis itu. Ngerti?"
"Poin ketiga ...." Mas Tama terus saja bicara tanpa jeda. "Kamu handle urusan di rumah Pocut. Jangan sampai tuan rumah kerepotan. Aku nggak mau dengar Pocut kelelahan gara-gara nyiapin acara lamaran mendadak ini."
"Kamu panggil EO kek, WO kek, siapa kek yang bisa setting tempat dan ngatur acara injury time. Berapa duit nggak masalah asal semua beres."
"Cari yang bagus, jangan asal comot EO. Aku mau momen ini terkenang selamanya."
"Mas ka ...." Ucapannya menguap di udara karena mas Tama kembali nyerocos.
"Keempat, kamu juga handle mama. Tanya mama, mau ajak sesepuh atau kerabat siapa. Oya, hampir lupa. Untuk serah-serahan anak-anak juga dapat. Icad, Umay, Sasa, termasuk Reka. Barangnya terserah kamu. Tanya Anja. Dia pasti ngerti hal beginian."
"Kelima, meski besok hari sabtu, tapi aku harus ke kantor sampai sekitar ... jam 11 siang. Benar-benar ngandelin kamu untuk ngelakuin ini semua. Aku percaya kamu bisa. Tolong, jangan melakukan hal yang mengecewakan."
"Mas ka ...." Kalimatnya kembali tak bisa dituntaskan.
"Oke? Kalau ada yang nggak jelas, langsung hubungi aku."
Nut nut nut nut nuuuuuuut ....
Panggilan terputus sepihak dari seberang. Dan beberapa menit kemudian ia masih berdiri terbengong-bengong sambil memandangi wajah Anja.
"Neng Anja?" Ia mencium pipi lalu meniup mata Anja sebanyak dua kali. "Bangun, Neng ...."
Anja bergeming. Hanya mulutnya saja yang berubah. Awalnya menganga kini sudah mengatup rapat.
"Anja?" Ia kembali meniup mata Anja.
Tapi Anja hanya menggeliat malas.
"Bangun sebentar, Ja ...." Kali ini ia menyentuhkan diri dengan lembut.
"Mmhhh ...." Anja langsung gelagapan. Namun tak kunjung bangun. Anja hanya mengubah posisi tidur dari miring ke kanan menjadi telentang.
Ia menggeleng sambil tersenyum. Mengulurkan tangan untuk merapikan poni yang menutupi dahi seputih susu itu. "Neng Anja ...."
"Apa sih, Baaang?" Sungut Anja dengan mata tertutup rapat.
"Bangun dulu ... ada hot news."
Anja mendecak. Tetap tak membuka mata.
"Atau mau diginiin lagi?" Dalam satu terkaman ia berhasil menyatukan mereka berdua.
"Abang!" Gerutu Anja begitu berhasil melepaskan diri dari tautannya. "Jail banget sik?" Lalu beralih menghadap ke samping kiri. "Aku cape banget seharian ngejar-ngejar Aran. Besok, ya ...."
Ia terkekeh karena Anja mengira jika dirinya sedang berusaha menggoda. "Mas Tama besok mau melamar kak Pocut."
"Iyaaah ...." Gumam Anja dengan suara parau. Namun sedetik kemudian langsung berbalik menghadapnya. "Apa? Mas Tama mau melamar kak Pocut?"
Sepasang mata indah itu tak henti-hentinya terbelalak. Mengenyahkan wajah kantuk yang sebelumnya erat menggelayut.
"Kita buat listnya sekarang." Anja bahkan langsung bangkit dan mengambil selembar kertas HVS beserta bolpen. "Kita petakan rencana."
Ia terkekeh. "Katanya cape ngejar-ngejar Aran seharian?"
Anja mendecak. "Waktunya mepet tahu. Gila aja mau melamar jam satu siang tapi baru punya cincin. Nekat banget."
Ia mengangkat bahu. "Dulu ... aku ngelamar kamu malah nggak bawa apa-apa."
Anja mengerut. "Pokoknya, sekarang kita mesti buat list dan peta. Mall baru buka jam 10. Sementara kita mesti pergi ke beberapa tempat sekaligus, keliling kota Jakarta yang serba macet. Ya ampun mas Tamaaaa. Ngerjain orang ini namanya."
Meski mengomel namun Anja mulai menulis dengan mimik serius. Membuatnya memanjangkan leher berusaha mencari tahu.
1. Perhiasan
"Kan udah ada cincin?" Tanyanya heran.
"Sssst!" Anja meletakkan telunjuk di depan bibir.
2. Perawatan head to toe
3. Skincare
4. Perlengkapan head to toe
"Banyak amat, Neng?" Ia kembali protes.
"Sssttt!" Anja mengerut sambil terus menulis.
5. Perlengkapan ibadah
6. Perlengkapan mandi
7. Makanan
"Apa lagi, ya?" Anja mengerling ke arahnya.
"Untuk anak-anak juga," jawabnya seketika teringat pada pesan mas Tama.
Anja mengangguk. "Oke."
Dan ia hanya bisa garuk-garuk kepala melihat daftar panjang yang ditulis Anja.
"Sekarang aku minta size baju, sepatu, dan sandal kak Pocut," ujar Anja begitu selesai membuat list. "Termasuk warna favorit, skincare yang dipakai ...."
Ia mengangkat bahu sambil menggeleng. "Nggak tahu, sumpah."
"Abaaaang?" Anja menghentakkan kaki.
"Besok subuh nanya ke mamak," jawabnya cepat sebelum Anja kembali merajuk.
Dan menjelang pergantian hari, barulah Anja selesai menyusun rencana terbaik dalam waktu terbatas. Benar-benar tipikal well prepared well organized.
"Huaaah!" Anja merentangkan tangan tinggi-tinggi ke atas dengan wajah lega. "Semangat!" Sambung Anja sembari mengepalkan tangan kanan untuk menyemangati diri sendiri.
Ia pun terkekeh. "Memang keren Neng yang satu ini."
"Bundanya siapa dulu, dong ...." Raut halus itu langsung bersemburat merah.
Membuatnya ingin menggoda. "Udah fresh nih kayaknya. Nggak cape lagi. Daripada waktu terbuang percuma. Mending kitaaaa ...."
"Abaaaang!" Anja berusaha mengelak. Namun ia yang memegang kendali bukan? Well done, Cakra. Do what you want.
Tapi keesokan hari, ketika mereka sudah bersiap untuk menjalankan rencana. Transfer dari mas Tama tak kunjung masuk ke rekening Anja.
"Gimana, dong?" Anja memandangnya dengan wajah bingung.
Ia juga tak bisa menjawab. Dibutuhkan dana lumayan besar untuk membeli barang serah-serahan seperti yang diinginkan mas Tama. Tak mungkin tercover oleh uang yang mereka berdua miliki.
"Mana hapenya nggak aktif lagi." Anja mulai menggerutu. "Mas Tamaaaa ... ngerjain orang nggak tanggung-tanggung, ih."
Dan ketika akhirnya Anja memutuskan untuk menghubungi telepon rumah dinas, jawaban yang mereka terima ternyata cukup mengejutkan.
"Bapak lagi nggak di rumah, Neng Anja," ujar Yuni. "Jam satu malam pergi nggak tahu ke mana. Sampai sekarang belum ada kabar."
"Tama lagi operasi di lapangan?" Tebak mama. "Pakai ini dulu." Sambung mama seraya menyerahkan selembar kartu berwarna hitam.
Tapi Anja justru menoleh ke arahnya.
Mama hanya tersenyum sembari menggenggamkan kartu ke tangan Anja. "Ayo, waktu terbatas. Masmu mau melamar jam satu siang. Jangan sampai terlambat."
***
Tama
Ia terpaksa membangunkan Reka yang sedang terlelap.
"Reka?" Panggilnya untuk kali ketiga. "Bangun, Nak ...."
"Titip." Ia langsung menggenggamkan kotak beludru berwarna hitam begitu Reka membuka mata.
"Apa?" Tanya Reka dengan suara serak sambil menguap.
"Titip ini. Tolong jaga baik-baik," jawabnya cepat. "Ayah harus pergi. Kita ketemu besok siang."
Reka hanya mengernyit kebingungan. "Apa ini?"
Ia tak bisa berlama-lama, sebab tugas sudah menunggu. Metro 1 memerintahkannya untuk memimpin operasi penggerebekan SJW, dalang pembunuhan hakim agung.
Sebanyak 7 tim diterjunkan di 7 lokasi berbeda, yang diduga menjadi tempat persembunyian SJW. 84 anggota diturunkan untuk melakukan penggerebakan secara serentak, termasuk di kediaman keluarga besar SJW di Jalan Senopati, Jakarta Selatan. Dan salah satu target adalah menemukan bunker yang diduga menjadi tempat persembunyian SJW. ©
Meski menurunkan kekuatan maksimal, namun perburuan SJW bisa dipastikan tak berlangsung mudah. Sebab obyek yang mereka kejar termasuk konglomerat untouchable. Tak tersentuh meski namanya pernah beberapa kali tersangkut kasus besar.
Apalagi, sudah menjadi rahasia umum jika tokoh kakap sekelas SJW selalu dikawal oleh anak buah terlatih yang dilengkapi senjata api dan siap sedia untuk mengorbankan nyawa.
Beberapa menit lalu, ia baru saja memungkasi strategi penyergapan di depan ke 11 anak buahnya. Dan saat ini tengah bertolak menuju titik penggerebekan di daerah Bintaro.
Ia sudah puluhan kali memimpin operasi. Dari membekuk pelaku curanmor sampai perampok berdarah dingin. Kasus terbesar yang pernah ditanganinya bahkan melibatkan anak mantan penguasa yang dibeking aparat. Dan semua berjalan sesuai rencana.
Namun kali ini terasa berbeda. Telapak tangannya mendadak dipenuhi keringat dingin, otot-otot di seluruh tubuhnya menegang, dengan hati yang dilanda gelisah.
Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah berdoa. Berharap operasi kali ini berjalan sesuai rencana. Dan ia bisa pulang dengan selamat.
***
Reka
Ia berjalan di sebelah uti yang menggandeng erat tangannya. Di depan ada aki nini Baldan dan eyang Laksamana. Sementara di belakang menyusul bu Yuni, pak Agus, bi Enok, mang Jaja, juga teh Cucun yang membawa sejumlah kotak hantaran cantik.
"Wah, was wes wos was wes wos ...." Sejumlah orang yang mereka lewati langsung saling berbisik satu sama lain. Beberapa ibu bahkan terang-terangan memelototi kedatangan mereka.
"Permisi ...." Uti mengangguk ramah pada beberapa orang.
Sementara orang yang disapa bukannya menjawab malah terkaget-kaget dengan mulut menganga dan mata melotot.
"Bu, mau ke mana, Bu?" Seru seorang ibu paruh baya yang sedang berdiri di depan sebuah rumah dengan wajah kepo akut.
"Mau ke rumah bu Cut," jawab uti seraya melempar senyum.
"Astaghfirullahal'adzim!" Seruan sejumlah ibu-ibu membuatnya terkejut. Kok astaghfirullah, sih?
"Mau melamar Pocut ya, Bu?"
Uti tersenyum mengangguk.
"Aaaaa! Ya ampuuuuun ... Pocut mo dilamar ... Pocut mo dilamar ...." Sejumlah ibu-ibu yang berdiri di pinggir gang langsung berseru kegirangan. Membuat suasana menjadi riuh rendah.
"Ame nyang mane?"
"Nyang polisi ntu kali. Tuh lihat ... yang datang wajah pejabat semua ...."
"Oh, he eh ... he eh ...."
Ia hanya bisa menggerutu dalam hati, aneh banget.
"Mari masuk ...." Om Cakra dan seorang pria menyambut kedatangan mereka di rumah nomor 173. Sementara tante Anja yang juga sudah berada di dalam terlihat sedang menggendong Aran yang merengek.
Begitu masuk, matanya langsung disuguhi oleh pemandangan sederet kursi berpita dan hiasan bunga segar di beberapa titik yang membuat suasana kian semarak. Rumah kecil dan sempit ini terlihat sangat berbeda dibanding kali pertama ia datang berkunjung.
Kini, ia sudah duduk di barisan depan bersama uti, aki nini Baldan, dan eyang Laksamana. Sementara bu Yuni dan yang lain masih sibuk menyimpan kotak hantaran di atas sebuah meja panjang.
Sementara di seberang mereka duduk dua orang kakek, tiga pria dewasa, nenek dekgam dan anak-anak. Icad seperti biasa lurus tanpa ekspresi. Sementara Umay dan Sasa sibuk berbisik-bisik sambil tertawa cekikikan. Sasa bahkan melambaikan tangan ke arahnya meski dengan wajah malu-malu.
Sasa ... Sasa ....
Namun ada satu hal yang dicemaskannya. Yaitu ketiadaan sosok ayah. Sejak tengah malam ketika ayah tiba-tiba membangunkannya dan memberi kotak hitam berisi cincin. Sampai hari sesore ini belum juga memberi kabar. Bahkan kepada uti.
"Bagaimana jadinya?" Aki Baldan sempat bertanya ketika mereka masih bersiap-siap di rumah uti.
"Nggak usah nunggu," jawab uti dengan wajah tegang. "Nanti biar Tama nyusul sendiri."
"Belum ada kabar juga?" Aki Baldan kembali bertanya.
Uti hanya menggeleng lemah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...." Terdengar suara om Cakra mulai membuka acara.
Entah dari mana datangnya, sejumput keberanian tiba-tiba datang menyelimuti diri. Meski jauh di dasar hati, ia masih menyesalkan perpisahan yang terjadi di antara ayah dan bunda. Merasa sangat tak rela bunda menikah lagi dan ayah melamar wanita lain.
"Uti ...." Bisiknya sambil menggenggam erat kotak hitam pemberian ayah.
"Ya?" Uti mendekatkan wajah padanya.
Dengan tangan gemetaran, ia berusaha mengeluarkan kotak hitam dari dalam saku. "Ini ... ada titipan dari ayah."
Sejak awal, tak seorangpun mengetahui jika ayah telah menitipkan barang penting padanya. Ia baru berani mengatakannya sekarang. Setelah ayah yang diharapkan datang ternyata tak kunjung muncul.
Uti tak mengatakan apapun. Hanya tersenyum menatapnya begitu ia memperlihatkan kotak berwarna hitam. Namun sepasang mata berselaput itu kini mulai berkaca-kaca.
"Biar aku yang ngasih cincinnya ke tante ...."
***
Pocut
"Besok aku datang."
Kalimat singkat yang tak berlanjut itu membuatnya terpaku. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Matanya bahkan terus saja nyalang memandangi langit-langit kamar yang telah usang. Tak mampu terpejam barang sedetikpun.
Apakah waktunya telah tiba?
"Besok," bisiknya dengan suara bergetar ketika dini hari menyusul mamak di dalam bilik salat.
Mamak tersenyum dengan wajah penuh rasa syukur. "Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan ...."
"Abang?" Ia langsung memanggil Icad usai sulungnya itu menunaikan salat subuh berjamaah di masjid.
"Hari ini om Tama mau datang ke rumah," ucapnya dengan lidah kelu. Sebab khawatir dengan reaksi yang akan diterima.
Icad tak mengucapkan sepatah katapun. Hanya tersenyum mengangguk kemudian memeluknya erat-erat.
Dan sekarang, tepat pukul empat sore, ia tengah duduk di dalam kamar ditemani cing Ella dan Anjani yang menggenggam tangannya erat-erat. Mendengarkan suara orang-orang saling berbicara di ruang tamu. Namun tak sekalipun mendengar suara Tama.
"Kami, sebagai wakil dari pihak keluarga Wiratama Yuda, mengajukan pinangan pada putri ibu yang bernama Pocut Halimatussadiah dengan mahar sebesar ...."
Cing Ella langsung meremas tangannya. "MasyaAllah, Cut ...."
Sementara Anjani tersenyum lebar lalu memeluknya.
Dan ia hanya bisa diam membeku kala mendengar jumlah yang disebut sebesar tiga kali lipat dari yang disyaratkan. Syarat yang disengajakan. Bukan karena ingin tapi keadaan memaksa.
Ia bahkan merasa sedang melayang-layang di udara ketika berjalan keluar kamar bersama Anjani. Tak sanggup membalas tatapan semua orang yang tertuju padanya. Merasa semua ini hanyalah mimpi.
Pun ketika Reka melangkah maju membawa sebuah kotak berisi benda berkilauan. Kemudian bu Niar menyematkan di jarinya. Ritme degup jantungnya kian bertalu-talu tak beraturan.
Apalagi ketika bu Niar berbisik, "Maaf ya, Tama belum bisa datang. Masih ada tugas ...."
Ingatannya kembali melayang pada ucapan, "Kamu harus siap. Saya bisa berhari-hari nggak pulang. Atau pulang tinggal nama."
Saat hari kian beranjak malam. Tak ada lagi tamu yang tersisa. Tinggal mereka berlima seperti biasa. Mamak tengah memotong kue lapis legit untuk dibagikan pada para tetangga. Icad sedang membaca komik sambil tidur-tiduran. Umay memelototi layar televisi. Sasa sedari tadi terus memegangi kotak hantaran miliknya sendiri sambil tersenyum-senyum. Dan ia terpukau mengamati benda berkilauan yang tersemat di jari manis.
Rasanya ... seperti mimpi.
Terlebih ketika tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dan suara sapaan. Sasa yang sempat terpana langsung berlari menghambur ke teras.
Sementara ia hanya diam membeku. Tatkala terpaut pada sosok yang paling ditunggu.
***
Keterangan :
©. : dikutip dari artikel yang dimuat di kompas.com edisi Juni 2016.
Mayam merupakan satuan hitungan emas di masyarakat Aceh. Jika ditakar dalam gram, 1 mayam sekitar 3,33 gram. Atau jika dirupiahkan bisa sekitar kurang 3 juta per mayam.
Jumlah mayam yang dijadikan mahar tidak memiliki ketentuan khusus, bergantung dari pihak wanitanya sendiri atau kesepakatan keduanya. Sejumlah faktor yang menentukan besarnya mayam antara lain kecantikan, pendidikan, keturunan, dan kesepakatan dari pihak keluarga perempuan (sumber : MediaIndonesia.com)
Tama sengaja melamar dengan 300 mayam agar Pocut tak ada alasan untuk menolak, karena yang sebelumnya disyaratkan adalah 100 mayam. Dan ini membuat pak Raka mau tak mau harus mundur.
Memberi mahar 300 mayam adalah inisiatif Tama sendiri.
Tama tetap bisa melamar Pocut dan lamaran diterima, meski hanya membawa mahar 100 mayam.
Jika 1 mayam 3,33 gram. Maka 300 mayam adalah 999 gram.
Jika nilai 1 mayam sekitar 3 juta rupiah. Maka 300 mayam setara dengan 900 juta rupiah.
***