
Jakarta
Pocut
Ia mengira, mereka akan bicara bertiga dengan bu Niar. Meski tak tahu apa yang dibicarakan. Semua terasa begitu cepat. Pun kesediaan untuk menerima, bukan hal yang sudah direncanakan. Bahkan sesaat sebelum bertemu Tama, hatinya masih dikuasai rasa bimbang dan ragu.
Namun tawa riang Sasa ketika berbicara dengan Tama, keceriaan Sasa saat menarik tangan Tama, menyadarkannya tentang satu makna. Lebih dari yang selalu dipinta. Bahwa hidup adalah untuk berbahagia.
Dan Sasa nampak bahagia tiap kali bersama Tama.
Tapi satu kekeliruan terbesarnya, belum membicarakan semua ini dengan Icad. Sebab selalu merasa khawatir, putranya itu akan merasa sedih dan kecewa.
"Aku tinggal ke depan." Tama menatapnya. "Ada tamu yang harus kutemui."
Ia mengangguk. Sempat terpana dengan sebutan aku. Sebelum akhirnya memperhatikan bagaimana Tama merangkul bu Niar dan membisikkan sesuatu. Semoga bukan rencana yang bisa membuatnya mati kutu.
"Pocut udah lama nunggu?" Bu Niar tersenyum. "Mama habis ngobrol sama adik mas Setyo. Baru pulang tugas dari Norwegia. Bertahun-tahun nggak ketemu. Termasuk ... waktu mas Setyo meninggal, adik ini satu-satunya yang nggak bisa pulang."
Ia tersenyum dan menggeleng.
"Udah ngobrol apa aja sama Tama?" Bu Niar mengambil duduk tepat di hadapannya.
Ia tersipu. "Sedikit ...."
"Jadinya ... kapan Mama bisa menemui Bu Cut?"
Ia ternganga. "Belum ... sejauh itu."
Bu Niar mengernyit. "Tama bilang mau menikah sebelum masuk diklat."
Ia makin ternganga.
"Tama belum cerita?" Bu Niar terheran-heran.
Ia menggeleng.
Bu Niar mengangguk-angguk. "Semoga semua proses bisa selesai sebelum waktu diklat ya, Pocut ... biar nggak terlalu lama. Niat baik harus disegerakan."
Ia merasa malu. Karena tak begitu mengenal sosok Tama. Selama ini, ia hanya memikirkan diri sendiri. Tentang keraguannya, kekhawatirannya, ketakutannya. Tak pernah tahu Tama akan mengikuti diklat.
"Kapan pertama kali ketemu Tama?" Tanya Bu Niar sambil beranjak menuju lemari kaca setinggi langit-langit. Mengambil sejumlah kotak yang begitu diletakkan ke atas meja ternyata berupa album foto.
"Waktu ... pernikahan Anjani ...."
"Yang di rumah sakit atau di rumah?" Bu Niar mulai membuka album foto paling atas. Lalu mendorong ke arahnya. "Ini Tama waktu bayi ...."
Ia tersenyum begitu melihat foto bayi merah dalam buaian almarhum pak Setyo. Lalu menjawab, "Pernikahan Anjani yang di rumah."
Bu Niar mengangguk. "Apa kesannya waktu pertama kali ketemu sama Tama?"
Ia kembali tersenyum. Merasa sungkan untuk menjawab.
"Galak? Kaku?" Bu Niar membuka lembaran foto berikutnya. "Ini waktu kami masih tinggal di Aspol Dewantara ...." Sambil menunjukkan foto Tama yang sudah bisa tengkurap.
"Awalnya begitu ...." Mau tak mau mengakui kesan pertama. Ketika Tama terang-terangan memperlihatkan kekesalan saat ia memanggil dengan sebutan bapak.
"Tapi ternyata ... tidak seseram yang dibayangkan." Ia masih ingat bagaimana mereka berdua akhirnya berbincang di meja makan. Lancar dan cukup menyenangkan.
"Ah, masa?" Seloroh Bu Niar. "Anja paling takut lho sama Tama. Lebih takut ke Tama daripada mas Setyo."
Ia tersenyum. Sudah bisa ditebak.
"Waktu kecil anaknya rame, lucu." Bu Niar kembali berkisah. "Tapi begitu dewasa malah jadi orang kaku."
Dan ia tak kuasa untuk tak tersenyum tiap kali bu Niar membuka lembar foto selanjutnya. Sungguh gambaran masa kecil yang membahagiakan dengan begitu banyak kesenangan. Jauh berbeda dengan dirinya yang ....
Ia menghela napas demi mengingat masa lalunya yang dipenuh air mata.
"Tapi namanya anak laki-laki, sulung, banyak harapan dan tanggungjawab yang kami bebankan." Bu Niar menerawang. "Waktu kecil ... Tama paling sering kena hukuman dari mas Setyo dibanding Sada."
"Mas Setyo lebih keras dalam mendidik Tama."
"Menurut mas Setyo ... anak pertama harus kuat, bertanggungjawab, berhasil menjadi contoh untuk adik-adiknya."
"Cukup mempengaruhi sikap dan sifatnya setelah dewasa." Bu Niar memandangnya. "Tumbuh jadi orang yang keras dan kaku. Beda dengan Sada yang lebih tenang dan santai."
"Mungkin itu penyebab utama kegagalan rumah tangganya." Bu Niar menghela napas. "Sudah pernah bertemu Kinanti?"
Ia mengangguk. "Sudah."
"Apa Pocut tidak merasa takut atau terganggu dengan kegagalan Tama sebelumnya?" Bu Niar menatapnya. "Itu bukti kalau Tama tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik."
Ia menunduk. "Saya ... selama ini ... lebih mengkhawatirkan tentang diri saya sendiri ...."
"Mama nggak bisa menjamin Tama sudah berubah menjadi orang yang lebih baik," sambung bu Niar. "Bisa belajar dari kegagalan dan tak mengulanginya lagi."
"Saya lebih ... perbedaan kami ...." Ia balas menatap bu Niar dengan ragu. "Kehidupan kami ... maksud saya ... kehidupan saya yang jauh berbeda dengan kehidupan mas Tama."
"Itu yang lebih dikhawatirkan?" Bu Niar masih menatapnya. "Lebih dari kegagalan Tama berumahtangga?"
Ia mengangguk. Meski belum mengetahui penyebab utama perceraian Tama, tapi kedekatan pria itu dengan Sasa telah meruntuhkan dinding tebal dan meluluhkan hatinya.
"Saya hanya orang biasa. Tidak pernah sekolah tinggi. Tidak memiliki banyak pengalaman. Tidak pernah me ...." Ia menelan ludah dengan gugup. Tak mampu melanjutkan kalimat.
Tiba-tiba Bu Niar tersenyum. "Ini waktu Tama di Akpol." Sambil menunjuk sesosok pemuda di dalam foto.
"Sebenarnya cita-cita Tama ingin kuliah." Bu Niar mengusap foto. "Tapi karena tahu ... papanya ingin anak-anak mengikuti jejak. Jadinya masuk Akpol."
"Jangan berlebihan dalam mengkhawatirkan perbedaan status dan latar belakang." Bu Niar menggeleng. "Jangan menjadikannya masalah apalagi alasan. Tapi jadi penyemangat untuk maju dan lebih baik lagi."
"Mama senang waktu melihat ... bagaimana Pocut menjalani hidup." Bu Niar tersenyum. "Tenang, tegar, sabar ...."
"Itu modal paling utama yang tak dimiliki oleh setiap perempuan."
"Karena jika ini adalah yang terbaik ... nanti ... Pocut akan mendampingi orang yang selalu menghadapi banyak tantangan."
"Mama sudah menjalaninya selama berpuluh tahun." Mata Bu Niar mulai berkaca-kaca. "Tak selalu mudah."
"Kuncinya sabar, tegar, kuat, tak gentar menghadapi apapun ...." Bu Niar menyusut sudut mata. "Apa Pocut siap?"
"Setelah diklat selesai ... Tama bisa dipindah tugaskan ke tempat yang jauh. Atau mendapat tanggungjawab lebih besar. Dan tanggung jawab baru berarti ujian baru juga."
Ia tak pernah menyangka, keputusan bersedia menerima begitu pelik. Ternyata selama ini, pikiran dan hati hanya dipenuhi kekhawatiran yang teramat dangkal.
"Dunia ini akan menjadi dunia baru untuk Pocut. Harus siap dari sekarang ...."
"Mama percaya ... tantangan seberat apapun, kalau kita lewati dengan sabar, tegar, ikhlas ... In syaAllah akan bisa dilalui dengan selamat."
"Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Jangan tegang." Bu Niar kembali berseloroh. "Ini ... waktu Tama pertama kali dilantik." Sambil menunjuk foto berlatar istana negara yang pernah Anjani perlihatkan padanya.
"Membahagiakan kami sebagai orangtuanya." Bu Niar tersenyum. "Menyemangati adiknya untuk mengikuti jejak."
Tiba-tiba keharuan menyeruak. Wajahnya bahkan mulai memanas. Saat menyadari perlakuan baik yang diterimanya dari Tama dan bu Niar. "Terimakasih .... Untuk semua nasehat dan kepercayaannya ...."
Bu Niar mengangguk. "Nanti Pocut akan ditanya-tanya lagi seperti ini. Jauh lebih rinci."
Ia mengernyit dengan airmata yang hampir jatuh.
"Anggap sekarang sedang latihan kisi-kisi." Bu Niar tersenyum.
"Ditanya ... oleh siapa?"
Apakah seluruh keluarga besar Tama yang berada di ruang tengah akan menginterogasinya?
"Oleh pimpinan Tama," jawab bu Niar lugas. "Nanti ada pembekalan yang harus diikuti."
"Pertanyaannya hampir sama seperti yang tadi kita bicarakan."
"Oya, ada satu yang lupa," sergah bu Niar cepat. "Apa alasan Pocut mau menerima Tama?"
-----------
"Apa kata mama?" Tanya Tama setelah bu Niar meninggalkan mereka berdua.
Ia langsung mengernyit. "Mas mau diklat?"
Tama tertawa. "Jadi aku yang diinterogasi?"
"Tadi mama yang bilang ...." Ia menunduk karena malu.
"Baru pengajuan," jawab Tama. "Belum pasti. Ya ... lima puluh lima puluh."
"Maksud saya ... saya belum banyak tahu tentang Mas. Selama ini kita nggak pernah membicarakan tentang ...."
Tama mengangguk. "Aku cuma sehari di Surabaya. Jadi sabtu sore kita bisa ketemu untuk bicara."
"Karena hari minggu rencana mau ngajak Icad sama Umay jalan. Boleh?"
"Tanpa Sasa." Tama menggeleng. "Ini khusus cowok."
Ia mengangguk.
"Untuk Sasa ... nanti ada waktu spesial. Bertiga sama mamanya ...."
Ia memberi pandangan penuh peringatan.
Tama hanya mengu lum senyum. "Kenapa? Keberatan?"
Malam harinya, ketika Umay dan Sasa sedang ribut menggosok gigi di kamar mandi, ia mendekati Icad.
Icad mengangguk.
Setelah memastikan Sasa terlelap. Ia segera memanggil Icad. "Umay sudah tidur?"
Icad menggeleng. "Masih ngintip."
Ia mengangguk. "Nggak apa-apa. Kalau nunggu Umay tidur, nanti kita keburu ngantuk."
Icad mendudukkan diri di kursi. "Serius amat, Ma? Abang ada salah?"
Ia tersenyum. "Bukan tentang Abang. Tapi tentang Mama."
"Tentang om itu?"
Ia mengernyit. "Om itu siapa?"
"Abang lihat mama bicara sama om itu di rumah Dekgam."
"Om Tama?" Ia menatap Icad yang berubah masam.
"Terserahlah."
"Jadi, Abang sudah tahu apa yang mau Mama bilang?"
Icad menggeleng.
"Mama cerita sedikit. Kalau menurut Abang gimana ... misalnya nih ... Boni tadi siang nanya ke Abang, besok mau ngajak main di jam empat sore. Tapi Abang belum bisa jawab karena bingung."
Icad mengerut. "Mama ngomong apa, sih?"
"Nah, malam ini ... Kioda juga nanya ke Abang. Besok mau ngajak main di jam yang sama."
"Secara etika, Abang jawab Boni dulu atau Kioda dulu?"
Icad menggaruk kepala. "Maksudnya apa?"
"Jawab Boni atau Kioda dulu?" Ulangnya.
Ical terus saja menggaruk kepala. "Ya ... harusnya jawab Boni dulu. Kan Boni yang duluan nanya daripada Kioda."
Ia mengangguk. "Jadi menurut etika ... kita sepakat untuk menjawab yang lebih dulu bertanya?"
"Aduh, kenapa mesti musingin hal begini sih, Ma?" Icad menggerutu. "Kan bisa langsung main bertiga nggak harus ribet jawab pertanyaan siapa dulu. Langsung aja main."
"Perumpamaan, Bang" Ia mencoba memberi pengertian.
"Mama manggil Abang cuma mau ngobrolin ini?" Icad keheranan.
Ia menggeleng. "Tadi sekedar contoh. Nah, sekarang ... kita bandingkan dengan kejadian yang mirip."
Icad menatapnya tak mengerti.
"Om Tama ...." Ia menyebut nama Tama sambil setengah menggigil. "Mau melamar. Tapi Mama belum bisa menjawab."
Icad langsung mendecak.
"Kemarin ... om Raka datang ... mau melamar juga." Ia menghela napas. "Menurut Abang ... Mama harus jawab yang mana dulu?"
Icad mengangkat bahu.
"Kalau dibanding cerita Abang dan teman-teman tadi?" Kejarnya.
"Jawab yang pertama nanya." Icad melengos.
Ia mengangguk. "Tadi ... Mama ngobrol dengan om Tama karena menjawab pertanyaan."
Icad menekuri meja dengan wajah masam. "Aku nggak suka sama om itu."
Ia kembali mengangguk. "Kenapa?"
"Nggak suka aja!" Jawab Icad dengan nada yang cukup keras.
"Kalau om Raka?" Ia ingin tahu.
"Sama. Nggak suka juga." Wajah Icad bertambah masam. "Nggak suka semua orang kecuali ayah!"
"Bang ... ma ...."
"Kenapa Mama membedakan om itu?" Icad memotong ucapannya. "Kenapa Mama nggak nolak? Padahal Mama bisa langsung nolak seperti ke om lain yang datang ke rumah. Kenapa om itu nggak langsung Mama tolak?"
"Mama sudah nolak, Abang ... Mama su ...."
"Bohong! Mama pasti suka sama om itu. Mama udah lupain ayah."
"Abang ...." Ia menghela napas. "Mama nggak akan pernah melupakan ayah."
"Bohong!" Icad kembali menyergah.
Ia kembali menghela napas panjang. "Ya sudah ... kalau Abang berpikir begitu. Mama bisa apa?"
Icad semakin menekuk muka berkali lipat.
"Mama cuma mau bilang itu." Ia menatap Icad. "Mama sudah salat, berdoa, minta nasehat nenek ...."
"Mama sudah melakukan semuanya, Bang. Mama juga nggak menginginkan ini. Tapi Mama harus menjawab."
"Langsung tolak!" Mata Icad dipenuhi amarah. "Bukan dijawab. Tapi ditolak."
Ia mengembuskan napas panjang. "Coba nanti Abang langsung bicara dengan om Tama. Apa masih bis ...."
"Nggak mau!" Icad mengerut sambil beranjak. "Abang kecewa sama Mama." Lalu pergi meninggalkan kamar.
"Abang?" Ia segera menyusul ke ruang tamu. Tapi Icad sudah bersembunyi di balik bantal. Memunggunginya dan memasang sikap penuh amarah.
"Biar nanti Agam yang bicara," ucap mamak ketika ia hendak salat tahajud di dalam bilik. "Kalau memang yang terbaik pasti dimudahkan."
Pagi harinya, Icad selalu bersikap ketus tiap kali ditanya.
"Yang sopan dengan mama," tegur mamak.
Icad hanya melengos dan langsung pergi. Yang biasanya betah berjam-jam menggambar, sekarang hampir seharian tak kelihatan batang hidungnya. Entah pergi ke mana dan berada di mana.
"Aku khawatir, Mak." Ia berkali-kali melihat jam dinding. Sudah hampir petang tapi Icad belum juga pulang ke rumah.
"Sebentar lagi juga pulang." Mamak menenangkan. "Icad anak baik. Tak akan berlaku ceroboh."
Tepat saat azan Maghrib berkumandang, tiba-tiba Icad muncul di depan pintu.
Alhamdulillah.
"Eh, Abang!" Sasa langsung menyambut kedatangan Icad dengan senyuman. "Abang dari mana? Sasa kangen seharian nggak ketemu sama Abang."
Tapi Icad hanya mengusap kepala Sasa. Sama sekali tak merespon kecentilan yang Sasa tunjukkan.
"Makan, Bang," tawarnya. "Sudah makan belum?"
Icad menunduk tak menjawab. Langsung mengambil sarung dan mengenakan kemeja. Kemudian pergi tanpa menoleh.
Ia menggigit bibir keras-keras, jangan sampai ada air mata terjatuh.
"Nanti malam Agam datang kemari." Mamak mengusap lengannya. "Sabar sebentar ...."
***
Icad
Ia tak tahu mengapa bisa semarah ini. Tapi sikap mama terhadap om itu benar-benar tak disukainya. Seharusnya mama langsung menolak, bisa menolak, tak perlu menjawab. Karena ia takkan pernah rela mama hidup bersama orang selain ayah.
"Tajir, nggak?" Tanya Kioda ketika mereka bertiga sedang tidur-tiduran di bawah pohon yang berada di pinggir lapangan, tak jauh dari rumah Kioda.
Sejak pagi tadi, ia yang biasanya seharian betah menggambar sengaja pergi. Bermain ke tempat Boni dan sekarang Kioda. Jika ada yang mengajak untuk menginap, ia pasti langsung setuju. Karena sedang kesal dan tak ingin pulang ke rumah.
"EGP (emangnya gue pikirin)," jawabnya ketus.
"Enak lagi punya bokap tajir." Boni ikut bergumam. "Semua yang kita mau bakal keturutan."
"Kalau bokap yang bener," tukas Kioda. "Kalau jelmaan setan? Abis lo disiksa! Kayak tetangga gue tuh si Rico. Tiap hari digebukin bokap tiri. Gitu-gitu nggak mau kabur. Aneh. Nggak habis pikir."
"Kalau gue digebukin, langsung kabur dah!" Sambung Kioda berapi-api. "Enak aja hidup di jaman merdeka tapi masih dijajah manusia lain. No way!"
Ia menggerutu. Om itu tak mungkin menyiksa dan memukuli. Meski begitu, ia tetap tak menyukainya.
Dan ketika sore hari pulang ke rumah untuk mengambil sarung juga kemeja untuk salat. Mama tetap menyambutnya dengan penuh kehangatan.
"Makan, Bang. Sudah makan belum?"
Ia yang masih merasa kesal tak menjawab. Langsung meraih sarung dan kemeja. Lalu melesat pergi ke masjid. Meninggalkan mama yang memanggil-manggi namanya.
Dan di sepanjang perjalanan menuju ke masjid, ia berkali-kali mengusap mata yang mulai berair. Dengan ucapan mama yang terus terngiang.
"Makan, Bang. Sudah makan belum?"
Sebenarnya ia tak marah pada mama. Ia sayang mama. Sayang sekali. Mama yang tak pernah mengatakan hal menyakitkan pada anak-anaknya. Mama yang selalu diam dan sabar meski dihina orang. Mama yang tak pernah mengeluh apapun yang terjadi.
Maafkan Abang, Ma.
***