
Ka Seb, Sampoe Hinoe
(Sudah cukup, sampai di sini -bahasa Aceh)
***
Jakarta
Pocut
Entahlah.
Mengetahui Tama memutuskan untuk duduk menunggu di ruang tamu, membuat suasana hatinya memburuk. Rasa jengah, malu, begitu kecil, tak berdaya, kosong, hampa, sepi. Dan sederet perasaan tak menyenangkan lain kian menguat memenuhi relung hati.
Bahkan jiwanya pun merasa letih, penat, lunglai. Usai melewati hari-hari melelahkan. Membayar mahal keputusannya memilih bekerja di luar rumah. Alih-alih bisa membawanya keluar dari masalah, yang ada justru semakin memperumit keadaan.
Dan saat ini, Tama pasti mengetahui keberadaannya di dapur. Namun Tama memilih untuk tetap menunggu di ruang tamu. Tak langsung datang menghampiri. Tama seolah memberi kesempatan padanya untuk menyendiri. Merenungkan keadaan membingungkan yang terjadi di antara mereka berdua.
Tapi hati tak bisa terus menghindar dan menyangkal. Terlebih saat mendengar obrolan riang antara Sasa dan Tama. Mengalir begitu saja dengan sangat menyenangkan. Disusul celetukan penuh semangat Umay. Juga suara mamak yang mengajak bersantap malam, namun ditolak dengan halus oleh Tama.
Ia masih termenung dengan perasaan lelah. Menyusut sudut mata yang tak kuasa menahan buliran bening. Ketika suara riang Sasa membuatnya terhenyak.
"Eh! Ternyata Mama ada di sini?"
Ia buru-buru menyusut sisa air mata. Namun terlambat karena mamak keburu memergokinya.
"Kenapa Mama malah duduk di sini? Nggak ketemu sama Om di depan?" Tanya Sasa sambil bergelayut manja di pangkuannya.
Ia hanya berdehem untuk menetralisir suasana.
"Itu ... mata Mama kenapa merah?" Tapi Sasa justru menunjuk wajahnya dengan heran.
"Mama habis nangis ya?" Tebak Sasa cepat dan tepat.
Ia pun harus menelan ludah dengan gugup, "Mama nggak nangis, Sa."
"Tapi ada air mata yang keluar?" Sasa menatapnya tak percaya. "Hidung Mama juga merah kayak Sasa kalau habis nangis."
"Mama cuma ... kena debu ...." Dalam waktu singkat, ia sudah berbohong pada dua anaknya sekaligus. Ini jelas bukan dirinya.
"Memang di dapur ada debu ya, Nek?" Sasa beralih melihat ke arah mamak. "Bisa masuk ke mata Mama?"
Mamak tersenyum seraya membelai rambut Sasa, "Sasa ikut sholat sama Nenek saja ya? Mama mau beberes dulu."
Sasa sempat menatapnya tajam sebab masih tak percaya. Namun akhirnya mengangguk dan mau mengikuti langkah mamak. Meninggalkan dirinya yang kembali menyusut sudut mata, agar tak terlalu kentara sehabis menangis.
"Mama nangis karena om itu?" Icad tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelahnya. Menyipitkan mata dengan penuh selidik.
Ia menggeleng, "Mama nggak nangis, Bang. Dan nggak ada hubungannya sama om itu."
Icad masih menatapnya dengan kening mengerut. Tapi tak mengatakan apapun. Begitu Icad berlalu, ia langsung mengembuskan napas lega.
Semua kekacauan ini membuatnya berjanji dalam hati. Jika apa yang terjadi sudah cukup. Sampai di sini saja. Ia akan kembali menjadi diri sendiri. Menjadi seorang istri yang memegang teguh cinta pada suami meski sosoknya telah tiada. Menjadi ibu dari ketiga anaknya. Juga menjadi menantu yang bisa membahagiakan mamak.
Tak akan ada orang lain kecuali Bang Is. Tak lagi peduli dengan hiruk pikuk dan semaraknya kehidupan di luar sana. Sekaligus tak ambil pusing dengan orang-orang yang datang dan pergi.
Namun celotehan Sasa menjelang tidur kembali mengingatkannya pada situasi yang rumit.
"Ma ... kapan om datang ke sini lagi?"
Ia mengembuskan napas panjang, "Om yang mana?"
"Om ganteng yang tadi ke sini ...." Sasa menatapnya dengan penuh harap.
Ia kembali mengembuskan napas panjang, "Sasa mau ketemu sama om lagi?"
Sasa mengangguk sebanyak dua kali, "Kapan, Ma? Besok? Atau besoknya lagi?"
Ia mengusap pipi Sasa lembut, "Mama nggak tahu."
"Coba kalau Mama punya nomor telepon om," Sasa menatapnya dengan mata membulat. "Mama bisa nanya kapan om ke sini lagi."
Ia menatap Sasa dengan perasaan lelah, "Sasa sekarang tidur ya sayang?"
Sasa mengangguk, "Coba besok Mama cari nomor telepon om ya, Ma. Biar Mama bisa nelepon ... trus nanyain kapan om datang."
Ia diam tak menjawab. Mencoba tersenyum membalas tatapan memohon Sasa. Lalu membelai rambut Sasa agar segera terlelap.
Tapi Sasa justru bangkit hanya untuk mencium pipinya, "Sasa sayang sama Mama."
Ia tersenyum dengan mata berkaca, "Mama juga sayaaang sama Sasa."
Tanpa harus menunggu, Sasa telah tertidur nyenyak. Ia sempatkan untuk mencium pipi Sasa sebelum menyelimuti putri bungsunya itu. Lalu beranjak mendekati meja untuk mengambil teman tidurnya sejak dua minggu terakhir, yaitu buku catatan milik Bang Is.
Namun sebelum berhasil meraih buku, ponsel yang juga tersimpan di atas meja lebih dulu bergetar tanda ada panggilan masuk.
+62811211311 memanggil
Ia mengernyit melihat nomor tanpa nama yang muncul di layar. Susunan angka yang begitu asing dan tak dikenal. Kira-kira siapa orang yang menelponnya di jam sembilan malam?
+62811211311 memanggil
Ini adalah panggilan kedua. Setelah panggilan pertama terputus karena tak kunjung diangkat.
+62811211311 memanggil
Panggilan ketiga baru berhasil menggerakkan tangannya untuk meraih ponsel. Mungkinkah ada hal penting yang harus diketahuinya?
"Halo?"
Suara helaan napas lega terdengar jelas dari seberang, "Ini saya ...."
Ia langsung memijit kening dengan rasa lelah luar biasa, "Maaf, saya nggak bi ...."
"Tolong dengarkan saya," sergah suara di seberang memotong ucapannya.
Ia menggeleng.
"Saya minta maaf karena ...."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," kini gantian ia yang memotong ucapan. Lalu buru-buru mematikan ponsel dan melepas baterenya.
Namun begitu berbalik hendak naik ke atas tempat tidur, ia terkejut karena ternyata mamak sudah berdiri di depan pintu. Menyibak kain korden seraya menatapnya tajam.
Ia mendesah gugup. Buru-buru naik ke atas tempat tidur. Berusaha menyembunyikan kecemasan. Apakah mamak sempat mendengar pembicaraannya di telepon?
"Mamak boleh masuk?"
Ia mengangguk.
Mamak langsung mendudukkan diri di atas tempat tidur. Lalu menatapnya lembut, "Ada masalah apa?"
Ia menelan ludah sembari menundukkan pandangan. Berusaha menghindar dari tatapan menyelidik mamak.
"Tadi Tama datang mengembalikan tas."
Ia masih menunduk.
"Apa ada masalah di rumah Anjani? Sampai batal membuat pulut?"
Ia hanya bisa menelan ludah berkali-kali.
"Mungkin Mamak tak bisa membantu. Tapi dengan bercerita ... bisa sedikit melegakan perasaan."
Ia mengangkat pandangan. Menjumpai sepasang mata teduh milik mamak yang menatapnya dengan penuh kasih.
"Kalau merasa lelah ... menepilah sebentar," bisik mamak seraya meraih tangannya.
"Kalau ada gelisah ... kembalikan semua kepada Allah," sambung mamak seraya tersenyum. "Semoga segera dimudahkan."
"Kalau ini ada hubungannya dengan orang-orang yang datang ke rumah ...." Mamak menatapnya dalam-dalam. "Mamak setuju saja apapun yang menjadi pilihan."
"Kau ini masih muda. Anak-anak butuh sosok seorang ayah. Sudah waktunya kalian melanjutkan hidup."
Matanya mulai memanas. Saat dirinya menatap mamak tapi justru mendapati bayangan wajah Bang Is di sana.
"Kalau ini ada hubungannya dengan Tama ...."
Matanya semakin memanas.
Mamak tersenyum, "Mamak doakan yang terbaik ...."
Ia kembali menunduk.
Kemudian mamak meremas tangannya perlahan, "Kalian bukan mahram. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan ...."
Dan kalimat sederhana yang diucapkan oleh mamak berhasil menghancurkan benteng pertahanannya. Air mata langsung berlinang tanpa bisa dicegah lagi. Menganak sungai menghanyutkan kegelisahan perasaan dan pikirannya tentang seseorang.
***
Devano
Sejak apel pagi ia perhatikan, wajah Pak Tama terlihat berbeda tak secerah biasanya. Kusut berlipat-lipat. Sama sekali tak bersahabat.
Pak Tama bahkan memanggilnya secara khusus ke ruang kerja hanya untuk berkata,
"Bisa tolongin saya?"
"Siap, Pak."
"Kamu ambil cuti sana."
Ia langsung terbengong-bengong mendengar perintah yang diberikan oleh Pak Tama.
"Saya lagi malas lihat wajah kamu."
Ia ingin bertanya tentang kesalahan yang diperbuat tapi urung. Demi melihat wajah emosional pimpinannya itu.
Namun begitu keluar dari ruangan, Pak Tama justru kembali memanggilnya.
"Sini! Sini! Harus ditatar kamu ya!"
Rupanya yang menjadi pangkal masalah adalah keteledorannya saat menerima telepon dari seorang wanita bernama Samara.
"Jangan pernah memberikan informasi pribadi tentang saya pada orang lain! Apalagi jadwal saya!"
"Siap, Pak," ia mengangguk mengerti. Berjanji tak akan mengulangi kecerobohan yang sama.
Namun ia harus menerima resiko menghadapi kekesalan Pak Tama yang mengendap selama seharian penuh.
Dan penderitaannya baru berakhir keesokan hari. Setelah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Semua ini bukanlah tentang wanita cantik bernama Samara atau telepon mengganggu lainnya. Atau privacy Pak Tama yang terusik. Tapi tentang seorang wanita yang pernah ditemuinya di restoran Dapur Mitoha beberapa waktu lalu.
"Bapak bisa mengirimkan hadiah sebagai permohonan maaf," ujarnya memberanikan diri, berusaha menebus kesalahan.
Ia pun bisa sedikit bernapas lega, saat wajah kusut masai Pak Tama berubah menjadi lebih enak dilihat.
"Tuntaskan, Van! Jangan setengah-setengah!" Seru Pak Tama sembari mengepalkan tangan kanan dengan penuh semangat.
Jelas ciri-ciri orang yang sedang dilanda asmara.
***
Tama
Ia sempat kebingungan mencari tempat untuk memarkir kendaraannya. Baru berhasil menemukan setelah hampir setengah jam mengelilingi area pasar sebanyak tiga kali putaran.
"Bisa numpang parkir, Bang?" Tanyanya meminta ijin pada pemilik toko, yang memiliki halaman cukup untuk menampung kendaraannya.
Pemilik toko sempat tertegun melihatnya. Namun langsung mengangguk begitu melihat nomor kendaraan miliknya.
"Silakan, Ndan. Bebas parkir."
Ia mengucapkan terima kasih. Segera melangkah ke tempat tujuan. Yaitu sebuah bangunan semi permanen yang berjarak sekitar lima puluh meteran dari tempatnya menumpang parkir. Berada satu deret dengan warteg, warung nasi, juga toko kue.
Keude Mak Agam, begitu tulisan yang tertera di spanduk warna biru yang menutupi bagian depan bangunan.
"Makan di sini?" Sapa seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik rak kaca.
Ia mengangguk. Memilih lauk yang diinginkan. Lalu mengambil duduk di antara tiga pria lain yang telah lebih dulu datang.
"Minumnya apa?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Air putih," jawabnya seraya mengedarkan pandangan memperhatikan sekeliling ruangan.
Bangunan semi permanen berukuran kurang lebih 5x5 M ini tampak penuh sesak dengan rak berisi makanan yang dijual. Sebuah meja dan dua bangku panjang yang sedang didudukinya.
Kemudian di salah satu sudut terdapat sebuah lemari kayu kecil dan kulkas usang berwarna hijau. Tiga buah kursi lipat warna merah yang sudah sobek disana-sini. Dan satu meja kecil berisi peralatan makan.
Dengan suasana ruangan yang cukup pengap dan panas. Ketika menengadah, ia menemukan alasan tepat. Atap yang terbuat dari asbes pastinya menjadi media penghantar panas yang baik.
Ia baru mulai makan, ketika sepasang tangan berkulit kuning meletakkan gelas berisi kopi ke atas meja.
"Wah, ditungguin dari tadi, Cut," seloroh pria yang duduk tepat di sebelahnya.
Ia menoleh ke arah pemilik sepasang tangan berkulit kuning itu. Dan langsung bertemu pandang dengan Pocut, yang melotot melihat keberadaannya di dalam keude.
Ia mengu lum senyum. Sementara Pocut masih terlolong melihatnya.
"Gimana, Cut ... dengan tawaran saya?" Tanya pria di sebelahnya lagi.
Pocut yang masih saling menatap dengannya tak kunjung menjawab.
"Saya serius sama kamu lho ...."
Pocut langsung menundukkan pandangan dan berjalan menjauh. Sementara ia masih mengu lum senyum.
"Kalau kamu setuju, kita langsung ke KUA nggak perlu nunggu lama."
Senyumannya langsung sirna begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh pria di sebelahnya.
Dengan kening mengerut ia memandang ke arah Pocut yang sedang melayani pesanan dibungkus. Wajah Pocut terlihat datar sama sekali tak bereaksi.
"Jangan lama-lama mikirnya," lanjut pria di sebelahnya terdengar semakin menyebalkan.
Dengan kening yang semakin mengerut, ia mencoba mengidentifikasi penampilan pria bermulut kurang ajar di sebelahnya. Pria itu mengenakan pakaian dinas harian warna khaki, lencana korps pegawai di dada sebelah kiri, dan papan nama di dada sebelah kanan.
Baskoro, begitu nama yang tertulis.
"Apa kamu meragukan keseriusan saya, Cut?"
Ia tak kunjung melahap makan siangnya. Sebab terlalu fokus memperhatikan reaksi Pocut dan ekspresi menyebalkan Baskoro.
Sementara dua pria yang duduk di hadapannya juga ikut menimpali Baskoro. Mengerling ke arah Pocut seraya mengucapkan kalimat yang membuat kupingnya memanas. Dalam sekejap berhasil menguapkan nafsu makannya.
***
Pocut
Ia terkejut mendapati Tama sudah duduk di sebelah pak Camat. Membuatnya tak berkonsentrasi saat melayani pembeli lainnya.
Dan ia lebih terkejut lagi saat Tama berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Di belakang toko kue milik Mpok Leni yang berjarak satu warung dari keudenya.
"Kamu selalu sembunyi di sini?"
Suara Tama terdengar seperti sedang mengu lum senyum. Dan ini membuatnya mendesah tak percaya.
"Orang-orang itu nggak pernah nemuin kamu di sini?"
Ia menggeleng.
"Pekerjaan kamu di sini ternyata lebih beresiko tinggi dibanding waktu di Selera Persada," Tama jelas sedang mengeluh.
Namun ia hanya diam tak menjawab. Matanya jauh menerawang memandangi rawa-rawa dan area persawahan yang membentang di depannya. Dengan sejumlah burung kun tul kecil berwarna putih yang terbang di atasnya.
Suasana hening berlangsung cukup lama. Namun ia tahu jika Tama masih berdiri dibalik punggungnya.
"Saya minta maaf karena meminta kamu datang ke rumah tapi malah ...."
"Tak perlu meminta maaf," potongnya cepat.
"Samara itu ...."
"Saya tidak perlu mendengarnya," sergahnya tak kalah cepat. Sembari berkali-kali menelan ludah dengan gugup.
"Kamu ingat kata-kata saya tentang dua orang penakut yang bersama ... lalu mereka akan menjadi pemberani?"
Ia kembali menelan ludah.
"Begitu juga dengan dua orang rapuh yang pernah merasa kehilangan. Jika mereka bersama ... pasti bisa saling menguatkan."
Ia bergeming. Memandangi sekumpulan burung kun tul putih yang beterbangan di atas area persawahan dengan hati cemas. Sementara semilir angin mulai mempermainkan ujung jilbabnya.
"Pocut?"
Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Ini kesalahan."
Lalu berbalik hingga berhadapan dengan Tama, "Kita harus menghentikannya."
Tapi Tama menggeleng, "Bagian mana kesalahannya?"
"Semuanya," jawabnya sembari menundukkan pandangan.
"Saya sudah bilang kita harus banyak membicarakan tentang hal ini."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," ujarnya sambil menelan ludah dengan gugup. "Sudah cukup. Sampai di sini."
"Tolong tidak usah datang ke rumah lagi," sambungnya sebelum kehilangan keberanian. "Tolong jauhi anak-anak saya."
Embusan napas Tama terdengar begitu jelas, "Kamu sudah janji nggak akan menghindar."
"Kalau kamu merasa kecewa karena kejadian di rumah mama saya kemarin ... saya bisa jelaskan."
"Kalau kamu ingin tahu siapa Samara ... saya bisa jelaskan."
"Kalau kamu ingin tahu kenapa saya melakukan ini ... saya jelaskan."
"Saya bisa jelaskan semuanya. Tapi kamu jangan menghindar."
Ia menggeleng, "Saya minta maaf karena tidak sopan. Tapi tidak ada yang perlu dijelaskan. Permisi ...."
"Kamu perlu waktu untuk sendiri?"
Ucapan Tama berhasil menahan langkahnya yang sudah hampir berbalik pergi.
"Untuk memikirkan semua kerumitan ini?"
"Oke .... Saya janji nggak akan menghubungi atau menemui kamu selama sebulan ke depan."
"Tapi setelah itu saya minta kamu nggak menghindar."
Tapi ia tetap menggeleng, ka seb, sampoe hinoe (sudah cukup, sampai di sini). Kemudian berjalan cepat menuju ke keude. Meninggalkan Tama tanpa keinginan untuk menoleh lagi.
"Kenapa selalu lari tiap kali pak Camat datang ke sini, Cut?" Sambut Cing Ella begitu ia masuk ke dalam keude.
"Sudah terima saja ... masa depan jelas terjamin," sambung Cing Ella yang sedang membereskan setumpuk piring kotor.
Ia diam tak menjawab.
"Oya, ntu ada titipan," Cing Ella menunjuk paper bag yang tersimpan di atas rak makanan.
"Dari orang ganteng yang duduk di situ tuh," kali ini Cing Ella menunjuk bangku yang tadi diduduki oleh Tama.
"Siapa, Cut? Kayak pernah lihat orangnya," Cing Ella terlihat berpikir sambil mengangkat tumpukan piring kotor ke belakang.
"Bukan siapa-siapa, Cing," jawabnya sembari berusaha keras menyembunyikan rasa gugup.
Dengan hati berdebar diraihnya paper bag dari atas rak. Bersamaan dengan melintasnya sekelebatan bayangan pria berkemeja putih di depan keude, Tama. Berjalan menjauh dengan langkah panjang. Mungkin menuju tempat di mana kendaraannya terparkir.
***
Keterangan :
Bukan mahram. : orang yang boleh dinikahi