Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 83. Memang Kau Bukan Yang Pertama Bagiku


Memang Kau Bukan Yang Pertama Bagiku


-diambil dari lirik lagu "Jangan Ada Dusta di Antara Kita" ciptaan Harry Tasman-


***


Jakarta


Tama


Ia memperhatikan para pekerja yang sedang memasang kabinet dan cooker hood (alat penyerap asap dan aroma masakan) di salah satu sisi dapur. Sebagian lainnya sedang memasang kitchen island berdesain ganda. Selain menjadi tempat penyimpanan juga berfungsi sebagai meja makan. Sementara beberapa orang dari Big Electronic sedang mengatur posisi kulkas side by side dan memasang kompor tanam.


"Ri, tolong renovin dapur rumdin gua," pintanya pada Riyadh usai resmi meminang Pocut. "Desain spesial. Peralatan masak terbaik."


"Ok." Riyadh langsung menyanggupi. Bahkan keesokan harinya, Riyadh sengaja datang ke Jakarta hanya untuk melihat sekaligus mengukur kondisi dapurnya.


"Sama kamar yang itu." Ia menunjuk kamar utama. "Tolong di set untuk tiga anak cowok."


"Yang itu." Ia menunjuk kamar kedua. "Jadikan kamar utama. Sebelahnya kamar anak cewek."


Riyadh tertawa. "Jadi juga lu kawin sama si dia bernilai 90."


Ia tergelak.


"Rugi bandar, Tam." Tapi Riyadh menggeleng ketika ia memilih desain dengan material number one. "Bertahan berapa lama lu di sini? Jangan-jangan bulan depan udah pindah ke tempat lain."


"Ni dapur nggak mungkin diangkut kalau lu pindah, kan?" Riyadh menyeringai.


Ia tahu, rumah dinas hanyalah tempat persinggahan sementara. Bukan untuk menetap selamanya. Tapi ia harus tetap memberi kenyamanan pada ratu di kerajaan cintanya bukan?


"Demi si dia bernilai 90." Ia balas menyeringai.


Kali ini giliran Riyadh tergelak. "Semua akan bucin pada waktunya."


"Maaf, Pak, baru bisa dikerjakan malam hari." Seorang petugas dari Big Electronic membuyarkan lamunannya. "Seminggu ini antrean selalu full. Banyak demand (permintaan)."


Ia mengangguk.


"Silakan ditandatangani." Petugas kemudian memberinya sejumlah berkas.


Begitu urusan dengan petugas Big Electronic selesai, ia memilih duduk di ruang tengah yang berjarak tepat segaris dengan posisi dapur. Menyesap kopi buatan Yuni sambil menyulut sebatang rokok.


Petang tadi, begitu membimbing Pocut kembali ke meja. Mereka berdua saling terdiam lama. Ia memilih memberi ruang dengan menenggelamkan diri menyantap dessert. Sedangkan Pocut yang terlihat pucat, berkali-kali menyesap minuman dengan tangan gemetaran.


"M-maafkan saya." Pocut memberinya tatapan penuh penyesalan.


Ia mencoba tersenyum meski pahit. "Vokalis itu mirip dengan suami kamu?"


Pocut menggeleng. "S-saya salah lihat. S-salah sangka kalau .... S-saya ...." Pocut menundukkan pandangan dengan gerik gugup.


Ia menghela napas. Ucapan mama beberapa waktu lalu kembali terngiang.


"Ditinggal pergi suami selama-lamanya itu rasanya tak terbayangkan. Sampai kapanpun, kenangan indah akan tetap tersimpan di dasar hati. Tak ada yang bisa menggantikan sosok yang pernah menjadi separuh hidup kita."


"Kamu harus siap mencintai tanpa syarat. Harus siap berbagi tempat dengan sosok yang sudah tiada. Tidak bisa egois hanya memikirkan diri sendiri."


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Ia menatap Pocut yang masih menunduk. "Tak perlu merasa sungkan."


Pocut balas menatapnya.


Ia tersenyum memandang iris cokelat menawan itu. "Keberadaan kamu di sampingku sudah lebih dari cukup. Kita nggak bisa menghapus masa lalu bukan?"


Pocut, seperti biasa. Tiap kali mendengar kata-kata yang menyentuh, maka sepasang mata indah itu akan langsung berkaca-kaca.


"Seandainya kami bisa bertemu." Ia berusaha meyakinkan. "Aku akan menjabat tangannya terlebih dahulu dan berkata, 'istri dan ketiga anakmu sudah bersama orang yang tepat'."


Air mata Pocut mulai berjatuhan.


"Apa kamu pernah berpikir kalau vokalis tadi ...." Ia menunjuk ke arah panggung, di mana vokalis yang dipanggil Abang oleh Pocut kembali tampil.


"Kalau memang itu dia?" Ia sangat ingin meraih dan menggenggam tangan halus yang tersimpan di atas meja itu untuk memberi kehangatan. "Yang sengaja datang karena ingin memastikan kebahagiaan kamu?"


"Sekarang, dia tahu kamu bahagia. Dan dia bahagia melihat kamu bahagia." Sebagai ganti karena tak bisa menggenggam jemari halus itu, ia lantas mengulurkan selembar tissue.


Pocut menerima tissue dengan tangan gemetaran. Kemudian meski samar namun pasti. Seulas senyum hadir di tengah isakan. "S-saya minta maaf karena telah bersikap buruk."


Ia mengembuskan asap putih ke atas hingga udara di sekitar berubah pekat. Sementara beberapa meter di depan, orang-orang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Menjadikan dapur sebagai pusat kehidupan di rumah ini.


"The kitchen is the heart of your home." Riyadh jelas mencurahkan kemampuan terbaik untuk merealisasikan angannya menjadi nyata.


"Surprise." Riyadh mengukur dapur sambil terus berbicara. "Lama nggak ada kabar tiba-tiba ... boom ... kawin. Si playboy cap kadal kalah set lagi."


Ia menyeringai. Mengerti jika yang dimaksud adalah Wisak. Bujangan tajir yang satu itu memang belum pernah sekalipun menikah. Tapi kalau petualangan tak perlu ditanya. Sudah pasti berada di level expert excellent, womanizer sejati alias penakluk wanita.


"Tawaran asset kemarin ada hubungannya?" Selidik Riyadh.


Seringaiannya langsung berubah menjadi tawa sumbang. "Urusan proyek beres?" Tapi ia memilih untuk balas bertanya.


Riyadh menarik napas panjang. "Ini kali kedua gua kena force majeur. Fiuuh! Not good."


Beberapa tahun silam, Riyadh pernah down karena masalah yang hampir sama dengan yang sedang dihadapi saat ini. Kala itu Riyadh bisa bangkit berkat suntikan dana dari perusahaan Rajas.


"Pak, ini disimpan di mana?" Petugas dari Big Electronic kembali menghampirinya sambil menunjuk sejumlah orang yang membawa seperangkat alat masak berbahan baja tahan karat.


Ia mendesis merasakan pahitnya rokok di dalam mulut. "Tanya Yuni."


Kemudian beranjak meninggalkan ruang tengah. Membiarkan petugas dari Big Electronic terbengong-bengong karena Yuni tak kunjung muncul.


"Reka!" Ia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat.


Hampir dua menit tak terdengar jawaban. Namun ketika hendak kembali mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Disusul menyembulnya wajah datar Reka di balik pintu.


"Belum tidur?"


Reka menggeleng.


"Boleh masuk?"


Reka sempat mengernyitkan alis sebelum akhirnya secara perlahan membuka pintu meski hanya setengahnya.


Ia memilih duduk di atas tempat tidur sembari mengedarkan pandangan. Suasana kamar terlihat cukup rapi dan nyaman. Tak ada barang berserakan atau baju kotor yang bertebaran. Sejumlah barang yang diketahuinya baru Reka bawa dari Surabaya tertumpuk rapi di salah satu sudut kamar.


"Belum tidur?" Ia mengulangi pertanyaan yang sama.


Reka menggeleng. "Nggak bisa tidur."


"Sama." Ia mendesis.


"Bunda kapan berangkat?"


Ia menggeleng. "Belum ada kabar."


Terakhir kali Kinan memberi kabar melalui pesan singkat, masih menunggu RP (residence permit)nya di approved oleh pihak imigrasi Swedia.


"Aku boleh lihat bunda pergi?"


Ia mengangguk. "Begitu bunda berkabar, kamu bisa langsung ke Surabaya. Seminggu di sana?" Ia memberi penawaran terbaik.


Tapi Reka menggeleng. "Dua hari cukup. Seminggu kelamaan."


Ia mengerti. Namun suasana mendadak sunyi. Reka asyik sendiri di depan laptop yang menyala. Sementara ia kesulitan dalam merangkai kata. Bahkan harus berdehem sebelum berucap. "Nanti mereka tinggal di sini."


Reka menoleh.


"Tante Pocut dan anak-anaknya."


Reka memberi anggukan singkat.


"Kamar di rumah ini hanya ada empat dengan yang dipakai pak Agus. Jadi ... mau nggak mau kalian bertiga harus berbagi kamar."


Lagi-lagi Reka mengangguk.


"Nggak keberatan kamar jadi sempit?"


"Nggak ada tempat lain, kan?" Reka balas bertanya.


Ia menghela napas. "Makasih, Reka, sudah mengerti sampai sejauh ini."


Reka menatapnya datar. "Nggak ada pilihan lain."


Ia tersenyum kecut. Dalam hati membenarkan ucapan Reka. Tapi ia memiliki hal lain yang mungkin bisa meraih hati Reka.


"Nggak lama setelah menikah, ayah harus ke Bandung untuk sekolah lagi."


Reka bergeming.


"Bisa ... ayah minta tolong? Selama ayah nggak di rumah, Reka yang jagain tante Pocut dan adik-adik?"


Reka memandangnya tepat di kedua mata. "Ayah nggak pulang?"


Ia menggeleng. "Pulangnya sesekali. Atau ... kalian yang nyusul ke Bandung."


"Berapa lama?"


"Sekitar enam sampai tujuh bulan."


Reka terdiam.


"Ya," jawab Reka pada akhirnya.


Ia tersenyum dan bangkit. "Makasih, Nak."


Dan sebelum menutup pintu kamar ia kembali berkata. "Besok sore temani ayah nengok akung."


***


Reka


Ia sebenarnya merasa senang tiap kali mendengar ayah mengajaknya berbicara. Namun karena belum terbiasa, ia hanya bisa menjawab dengan sepatah dua patah kata. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin dibagi dan diceritakannya kepada ayah. Mungkin lain waktu di saat keadaan sudah semakin membaik. Meski ia tak yakin apakah masa itu akan datang.


"Nanti malam ayah pergi dan nggak tahu pulang kapan." Ayah merangkul bahunya saat mereka berjalan menyusuri rerumputan hijau menuju makam akung.


"Ke?"


Ayah bergumam pelan. "Kerja."


Ia mengerti. Selama hampir dua bulan tinggal di Jakarta, entah sudah berapa kali ia mendapati ayah tak pulang ke rumah. Tapi untuk kali ini, pergi bekerja sebelum tanggal pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi? Tiba-tiba saja hatinya dilanda rasa cemas.


"Sore, Pa."


Seperti biasa, tiap kali ayah berkunjung ke makam akung, pasti mengajak bicara seolah-olah akung sedang menunggu dan bisa mendengar.


"Apakabar?"


Ia hanya diam mendengarkan ayah bicara panjang lebar. Tentang pekerjaan yang akan dilakoni malam ini. Tentang tanggal pernikahan yang tinggal menghitung hari. Tentang dirinya yang sudah resmi menjadi siswa SMP Pusaka Bangsa. Tentang banyak hal yang membuatnya hanya bisa terpekur memandangi batu nisan warna hitam bertuliskan nama akung.


Ketika akhirnya ayah selesai dan mengajaknya pulang. Ia memberanikan diri untuk berkata meski dengan suara serak.


"Cepat pulang." Ia harus menelan ludah berkali-kali sebelum melanjutkan. "Jangan sampai tante Pocut menunggu seperti waktu lamaran kemarin. Jangan sampai aku yang makein cincin ke jar ...."


Ia tak bisa melanjutkan kalimat karena kehabisan suara dan ayah keburu memeluknya.


"Ayah pasti pulang." Ayah menepuk-nepuk punggungnya. "Pasti pulang."


***


Rajas


"Saya baru mendapat informasi kalau ...." Farhan menyebut nama seorang pejabat pemerintahan yang terkait dengan masalahnya saat ini. "Akan menghadiri satu acara di Avilas pekan depan."


"Kesempatan emas untuk membicarakan kesepakatan yang Bapak inginkan."


"Acara?"


"Resepsi pernikahan seorang perwira menengah." Kemudian Farhan memberinya selembar undangan berwarna cokelat. "Saya baru memperolehnya dari Ros. Ternyata Bapak juga diundang untuk acara yang sama."


Ia langsung mengerut begitu membaca nama yang tertera di dalam undangan. "Siapa orang kita di Avilas?"


Farhan menyebut sejumlah nama.


"Bebaskan semuanya. Kembalikan biaya yang sudah masuk."


Farhan terpana. Namun tanpa banyak cakap langsung mengangguk dan segera melakukan perintahnya.


Ia kembali membaca nama yang tertera di dalam undangan, Wiratama Yuda.


Tama pasti belum mendengar jika ia telah mengambil alih saham Avilas Hotel pada akad resmi akuisisi yang baru dilakukan enam bulan lalu. Dikara telah membayar akuisisi dengan menerbitkan 45,7 juta saham baru dan pembayaran tunai senilai 820 juta dollar kepada pemegang mayoritas saham Avilas Hotel yang dikuasai oleh kerabat pangeran Saudi melalui EHC (Empire hotel company). ©


Membebaskan biaya sewa ballroom bisa menjadi kado terindah untuk Tama yang sedang mengalami kesulitan keuangan.


That's what friends are for (itulah gunanya teman).


***


Wisak


Tanpa sepengetahuan calon pengantin, ia telah menyewa EO handal untuk menyiapkan konsep buck's party (pesta bujangan) malam ini. Hasilnya adalah empat kamar hotel bintang lima di kawasan Kuningan berisi sound lengkap, lighting dan sinar laser, DJ, bartender, penari striptease dan yuhuu tentu saja para lady escort favoritnya.


"Acara apaan?" Riyadh yang pertama kali datang langsung tertegun mendapati suasana kamar sudah berubah menjadi lantai dansa. Lengkap dengan lighting dan seorang DJ.


"Surprise by me!" Ia memamerkan senyum terbaik.


Armand hanya menggelengkan kepala. Sementara Rajas terlalu sibuk dengan kesepakatan bisnis melalui sambungan ponsel. As always.


"Pras jadi balik?" Riyadh yang paling lurus di antara mereka mulai terlihat tak nyaman dengan aksi sexy dancer di depan mata. Dan ini membuatnya tertarik untuk menggoda daripada menjawab pertanyaan.


"Enjoy your life, Man." Ia meraih seorang lady escort untuk duduk di pangkuan. Tapi Riyadh malah mencibir.


"Nope." Armand menggeleng. "Peak season, lagi sibuk banget dia."


Namun sampai jam 12 malam saat seharusnya pesta bujangan dimulai dengan menikmati suguhan dari penari striptease, Tama tak juga muncul batang hidungnya.


"Maaf, Pak." Billy yang bertugas menjemput Tama datang dengan tangan kosong. "Pak Tamanya nggak ada di mana-mana. Sudah saya cari tapi nggak ketemu."


Ia mendesis sebal. "Gini aja nggak becus."


Tapi Rajas yang duduk di pojok sambil menyesap tequila bergumam malas, "Nggak bakal ketemu. Lagi ngejar the untouchable ke lu bang semut."


"Heh!" Ia menggerutu semakin sebal. "Dari awal lu udah tahu kalau Tama lagi ngejar tuh orang?"


Rajas hanya mengangkat bahu. "Nebak aja. Orang gua di lapangan bilang malam ini malamnya the untouchable."


"Haish!" Ia mengumpat kesal. "Bakalan sampai kapan kalau gini caranya. Surprise gua apakabar?"


Riyadh terkekeh. "Enjoy your life, Man." Kemudian beranjak. "Gua balik. Besok pagi mesti jalan ke Bandung."


Rajas menyusul setelah menyimpan gelas bekas tequila yang telah kosong ke atas meja bar. "I'm out."


Armand mengangguk setuju. Bergegas menyusul Riyadh dan Rajas yang telah melangkah pergi lebih dulu. "Sorry, need some rest (butuh istirahat)."


"Teman jaha nam," gerutunya sambil menenggak segelas minuman. Namun sedetik kemudian mengedipkan mata pada dua lady escort yang menggelayut manja di sampingnya.


Life is so short (hidup terlalu singkat). Love the life you live (cintai hidup yang kamu jalani).


Lalu menyeringai, "Let's get started, girls (ayo kita mulai)."


***


Yogyakarta


Rendra


Ia baru selesai memeriksa RAB (rencana anggaran biaya) tiga proyek sekaligus ketika Anggi masuk ke ruang kerja sambil membawa secangkir perasan jeruk lemon hangat.


"Arung udah tidur?" Ia menerima cangkir lalu menyesapnya.


Anggi mengangguk. "Kerjaan Abang beres?"


Ia segera menghabiskan tetes terakhir lemon hangat lalu tersenyum menggoda. "Right here right now?"


Anggi tertawa namun sambil menyerahkan sebuah amplop berukuran besar berwarna cokelat.


"Apa?"


"Tadi sore ada orang suruhan teh Dara yang ngantar."


Ia menerima amplop dengan kening mengerut.



Original design by : IU_Yoonie


Lalu tersenyum tanpa harus membukanya.


"Kok nggak dibuka?" Anggi menatapnya curiga ketika ia meletakkan amplop cokelat ke atas meja.


"Undangan kawinan dari kolega." Ia berusaha meraih Anggi.


"Di Jakarta?"


"Iyap. Kosongkan jadwal kamu weekend ini. Kita staycation di Jekardah."


"Siapa?" Tapi Anggi menahan dadanya menggunakan tangan. "Kombes? Namanya asing. Not another problem kan, Bang?"


Namun ia tak peduli. Sebab masih ada 1001 jalan menuju Roma meski Anggi berusaha menghalangi.


"Just take it easy." Ia berhasil menemukan celah terbaik dan berkonsentrasi di sana. "Nanti kukenalin."


Karena Anggi tak pernah tahu jika ia telah membeli saham perusahaan milik keluarga mas Sada. Balas budi terbaik yang bisa dilakukannya.


***


Keterangan :


Force majeur : keadaan di luar kemampuan yang tak dapat dihindarkan dan mengakibatkan sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.


Misal : bencana alam.


©. : dikutip dari tribun jualbeli.com edisi Mei 2017 (dengan sedikit penyesuaian).


***