Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 60. How Can I Not Love You


How Can I Not Love You


(Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu)


-diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Joey Enriquez-


***


Surabaya


Tama


"Ini hari keenam," terang dokter yang menangani Reka. "Demam sudah turun, tapi mulai memasuki fase kritis."


"Trombosit hanya 30.000 dan terus menurun. Ini yang mengakibatkan memar dan ruam berwarna ungu."


"Kita jaga jangan sampai trombosit menurun drastis. Agar bisa lolos dari pelana kuda dan masuk ke fase pemulihan."


Ia terus memandangi Reka yang sedang tertidur. Merasa sangat bersalah karena hampir terlambat.


"Aku tunggu di sini," ujarnya ketika Kinan mempersilakan untuk tidur di hotel.


Tadi, begitu hasil lab terakhir keluar dan memastikan Reka terkena DBD, ia langsung menghubungi Devano. Memberi arahan sejumlah tugas yang bisa diwakilkan. Termasuk berkoordinasi dengan Waka terkait pelaksanaan operasi ketupat jaya.


"Nggak jadi pulang besok?" Kinan jelas meragukan niatnya untuk menunggui Reka. Tahu pasti jika tiket pesawat keberangkatan besok pagi sudah berada di tangan.


"Nggak. Aku di sini sampai fase kritis berlalu," jawabnya yakin. "Kamu istirahat di rumah."


Kinan tak membantah. Mungkin sudah terlalu lelah. Ya, mereka berdua sama-sama lelah berada dalam situasi tak menyenangkan seperti ini.


Dan sepanjang malam ia terus terjaga. Memperhatikan Reka yang terlelap dengan penuh kekhawatiran. Sembari berharap, suatu saat bisa menebus kesalahannya selama ini.


"Udah bangun?" Sapanya saat memasuki tirai usai menunaikan salat subuh di mushola rumah sakit. Mendapati seorang perawat sedang melepas selang oksigen dan perawat lainnya mengganti cairan infus.


"Jagoan putranya, Pak. Sudah lepas oksigen," ujar perawat seraya tersenyum.


"Makasih, Sus." Ia balas tersenyum. Merasa senang melihat Reka telah membuka mata dan kini sedang memandanginya.


"Nanti jam sembilan sudah bisa pindah ke ruang rawat inap," ucap perawat sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Jagoan tumbang," selorohnya sambil mendudukkan diri di sisi tempat tidur.


Reka menatapnya sambil memegangi leher. "Ha us ...."


Ia mengangguk. Segera mengambil air putih dari atas meja.


"Pelan pelan ...." Ujarnya saat membantu Reka minum melalui sedotan.


Tapi Reka justru tersedak dan mau muntah.


"Muntahin." Matanya nyalang mengelilingi tirai mencari wadah untuk menampung muntahan. Tapi tak diketemukan. "Jangan ragu."


Reka menggeleng. "Mu al ...."


Ia mengangguk mengerti. "Minumnya pelan pelan ... sedikit sedikit biar nggak mual."


Reka kembali menggeleng. "U dah."


Ia mengernyit.


"Ka yak mi num be si ...."


Ia tertawa. "Mau minum apa? Nanti Ayah bawain."


Lagi-lagi Reka menggeleng.


Ia kembali duduk di sisi tempat tidur. Menatap Reka yang juga sedang memandanginya. Namun sejurus kemudian Reka terlihat berusaha keras untuk memejamkan mata.


Ia tersenyum. Get well very soon, buddy.


Tepat pukul delapan Kinan datang bersama om Pram. Ia yang sedang duduk di sisi tempat tidur langsung bangkit dan menyingkir. Membiarkan om Pram memeriksa keadaan Reka dan menanyainya.


Ia mematung di sudut tirai, memperhatikan Reka yang hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan.


Tak lama kemudian om Pram beranjak keluar tanpa menyapa. Lalu Kinan beralih menatapnya, "Sarapan?"


Ia berjalan mengekori Kinan menuju taman yang terletak di belakang IGD. Kebun bunga kecil yang berada di dalam lingkungan rumah sakit ini dilengkapi beberapa kursi dan meja. Sepertinya memang fasilitas yang sengaja disediakan bagi para penunggu pasien untuk melepas penat.


"Sego krawu?" Kinan meletakkan dua buah box dan dua botol air mineral ke atas meja. "Masih favorit atau sudah lupa?"


Ia meraih box tersebut dan membukanya, "Makasih."


Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar suara cicit burung yang berterbangan ke sana kemari. Dan langkah kaki satu dua orang perawat yang berjalan tergesa melintasi kebun.


"Aku mau dengar dari awal," ujarnya sambil menutup box yang telah kosong. Sebab isinya telah berpindah semua ke dalam perut.


"Reka bisa separah ini," sambungnya sambil meneguk air mineral.


Kinan menghentikan suapan. "Selama puasa ... jadwal latihan di klub sama seperti hari-hari biasa."


"Nggak ada penyesuaian?" Ia terheran-heran.


"Reka sendiri yang minta."


"Dan kamu setuju?"


"Reka minta ke coach tanpa sepengetahuanku, Mas."


Ia mendecak. "Jadi sakit karena kecapekan?"


Kinan menatapnya. "Sore itu ... aku masih jemput ke klub. Kami langsung jalan dan buka puasa di Mall."


"Pulang dari Mall ... sampai rumah ... Reka tiba-tiba demam."


"Reka bilang ... lemas, pusing, pegal-pegal dan linu."


"Karena eskalasi demamnya cepat ... dini hari kubawa ke UGD."


"Langsung cek lab dan diinfus pereda demam."


"Trombosit masih 250. Jadi boleh langsung pulang. Asal Paracetamol empat jam sekali dan minum air yang banyak."


"Tapi Reka mau tetep puasa ...."


Ia mengernyit.


"Aku udah larang. Mas tahu sendiri Reka. Kerasnya kayak apa."


Ia semakin mengernyit.


"Dua hari masih demam dan selalu puasa."


"Sorenya habis Mas nelepon ... buka puasa udah nggak bisa masuk apa-apa. Selalu dimuntahin."


"Itu hari ketiga. Aku bawa ke UGD lagi. Trombosit 120."


"Mas Pram bilang harus rawat inap. Tapi Reka nggak mau. Cabut infus. Keluar UGD sambil marah-marah ...."


"Kamu nggak cerita ke aku?" Ia menggelengkan kepala tak percaya.


Kinan menunduk. "Aku pikir bisa handle sendiri tanpa harus merepotkan Mas."


"Lain kali langsung hubungi aku," keluhnya. "Emosi Reka terlalu meledak-ledak."


"Apa Reka udah memerlukan pendampingan dari psikolog?" Tanyanya hati-hati. "Reka harus mulai belajar meregulasi emosi. Jangan sampai merugikan diri sendiri."


Kinan menghela napas. Tak menjawab pertanyaannya. Justru kembali melanjutkan cerita. "Di rumah dia udah nggak bisa masuk apa-apa. Semua yang dimakan langsung keluar bahkan air putih."


"Udah pakai infus tapi tetap nggak membantu. Karena Reka nggak bisa diam, udah drop masih banyak gerak."


"Ditambah susah masuk makanan dan minuman. Akhirnya dehidrasi. Lebaran hari pertama wajah dan tangan mulai bengkak. Lemes."


"Subuh dia muntah padahal perut nggak ada isinya. Langsung aku bawa ke IGD."


"Lalu Mas datang ...."


Ia menghela napas panjang usai mengetahui kebenaran tentang kronologi sakitnya Reka.


"Kalau begini ... siapa yang salah? Aku? Selalu aku? Ibu yang nggak becus ngurus anak?" Kinan menantang tatapannya.


"Kinan, please ...." Ia menggeleng. "Aku nggak nyalahin siapa-siapa termasuk kamu. Aku cuma kaget. Dan kecewa karena hampir terlambat."


"Tapi yang terlihat jauh berbeda."


"Oh, my ...." Ia menggerutu. "Are you sure (kamu yakin)? Kita mau bertengkar di sini?"


Kinan menutup box yang masih berisi setengah porsi nasi krawu dengan gerakan kasar. "Itu karena Mas yang memancing pertengkaran."


Lalu beranjak pergi meninggalkannya.


"Damned!" Ia memaki dengan mulut yang terasa pahit dan kaku. Entah sudah berapa lama ia tak memaki seperti ini. Ia bahkan hampir lupa bagaimana cara memaki yang bisa memuaskan hati.


Ia menggelengkan kepala. Melempar box bekas nasi krawu dan botol air mineral ke tempat sampah yang berjarak lima meteran. Lalu bernapas lega ketika box dan botol berhasil memasuki target tepat sasaran.


Ia baru hendak bangkit ketika ponsel di dalam saku bergetar tanda pesan masuk.


Future wife : 'Bagaimana keadaan Reka? Semoga Allah karuniakan kesembuhan dan kesehatan, aamiin.'


Future Wife : 'Dampingi Reka dulu sampai pulih. Rencana pergi dengan Icad dan Umay bisa kapan kapan.'


Ia tersenyum sendiri. Jika Sada tahu ia menuliskan nama Pocut dengan Future wife, pasti adik sableng itu sudah terpingkal-pingkal dan mengejeknya sehari semalam.


Yeah, terhitung sejak Pocut mengangguk di ruang perpustakaan, ia langsung mengubah nama kontak Pocut menjadi future wife. Karena tulisan bisa jadi doa, bukan? Dan saat ini ia sedang membutuhkan doa. Doa yang kuat. Kuat sekali.


"Halo?" Tanpa menunggu ia langsung menelepon.


"...."


"Kenapa diam?"


"Saya baru membalas pesan. Kenapa menelepon?"


Ia tersenyum. "Nggak boleh?"


"...."


Ia menengadahkan kepala. Menatap burung yang berkicauan dan berterbangan kian kemari. "Maaf ingkar janji. Kita nggak jadi bicara dan rencana jalan sama Icad Umay gagal."


"Tidak apa-apa. Kesehatan Reka lebih penting."


Ia ingin mengatakan how can i not love you tapi yang terucap adalah, "Terimakasih. Hari ini ... ada rencana ke mana?"


Wah? Ia terkejut dengan hasrat ingin tahu yang tiba-tiba muncul.


"Di rumah saja. Memasak untuk pesanan halal bi halal."


Ia tersenyum mengangguk. "Selamat ... memasak?"


"...."


"Doakan Reka lekas sembuh."


"In syaAllah."


Ia menutup panggilan sambil mengu lum senyum. Tak pernah menyangka saat membalikkan badan hampir menabrak Kinan.


"Akhirnya ... berhasil ngobrol dengan dia?" Kinan tersenyum. Tapi baginya lebih seperti ejekan. "Setelah menunggu semalaman baru bisa ngobrol sekarang?"


"Wanita yang luar biasa ... sampai membuat seorang Wiratama Yuda menunggu ...."


"Jangan mulai ...." Ia menggeleng tak setuju.


Kinan masih tersenyum. "Sampaikan salamku ... untuk ... selamat memasak." Lalu berbalik pergi.


"Sekarang Reka mau dipindah ke ruang rawat inap," sambung Kinan yang telah melangkah meninggalkannya dengan nada suara kaku. "Aku ke sini cuma mau ngasih tahu itu."


***


Jakarta


Pocut


Terakhir kali Tama menelepon adalah tiga hari lalu. Memberi kabar jika kondisi Reka semakin membaik dan berterimakasih karena telah mendoakan kesembuhan.


Selama itu pula, ia dilanda kekhawatiran pak Raka akan datang ke rumah padahal Tama masih berada di Surabaya. Namun semua kecemasan tak terbukti. Pak Raka bahkan sama sekali tak menghubunginya.


Ia pun bisa bernapas lega. Karena tak harus pusing memikirkan jawaban jika pak Raka datang mendahului Tama.


Selama itu pula, sikap Icad sudah kembali seperti biasa. Tak lagi abai apalagi berkata ketus. Icad bahkan telah menyelesaikan membaca lima dari dua belas buku catatan milik bang Is.


"Ayah hebat ya, Ma?" Icad menatapnya dengan mata berbinar. "Aku makin bangga jadi anak ayah."


Ia tersenyum mengangguk. "Jangan lupa doakan ayah agar tenang di sana ...."


Ia melakukan rutinitas keseharian seperti biasa. Meski hampir tiap hari ada saja tetangga yang bertandang ke rumah. Sekedar bertanya tentang, "Kapan tanggalnya, Cut? Biar gue bisa ikut bantu-bantu."


"Hoki bener, Cut? Mau dikawin ame pejabat."


"Ntar anak aye mau daftar jadi polisi ... bisa lewat laki lu kan, Cut? Kira-kira habis duit berape? Tolong tanyain, ye."


Ustadzah Mutia juga ikut datang ke rumah. Membawakannya sejumlah buku tebal yang tersimpan rapi di dalam kantong keresek.


"Bisa dibaca-baca untuk bekal ...." Ustadzah Mutia tersenyum.


"Bekal ke mana Ustadzah?" Tanyanya tak mengerti.


"Bekal menempuh hidup baru ...." Ustadzah Mutia masih tersenyum.


Sementara ia hanya bisa terlolong.


"Kapan saya harus mengembalikan bukunya?" Ia mencoba mengalihkan topik.


Tapi Ustadzah Mutia menggeleng. "Itu hadiah dari saya. Semoga bermanfaat."


"Ustadzah?" Ia menatap ragu. "Jangan jadi merepotkan ...."


Beberapa buku di dalam keresek terlihat bersampul tebal dan memiliki halaman yang banyak. Pasti harganya tak murah. Ia tak ingin berhutang budi terlalu banyak.


Ustadzah Mutia tersenyum. "Pocut masih saja merasa sungkan. Kita kan teman."


"Terimakasih ...." Ia balas tersenyum. "Terimakasih banyak."


Selama itu pula, ia hampir melupakan Tama karena tak pernah menghubungi meski hanya sekedar pesan. Ia juga telah melupakan sosok pak Raka dan tenggelam dalam keseharian. Memasak untuk sejumlah pesanan meski masih dalam suasana lebaran.


Sampai petang ini, ketika sedang mengambil mukena untuk Sasa dari lemari, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.


Kakak Anjani memanggil ....


Ia menunggu sampai dering ke lima dan baru mengangkat panggilan.


"Assalamualaikum?"


Tanpa menjawab salam, Tama langsung bertanya. "Kapan kita bisa bicara? Besok?"


***


Tama


Empat hari tinggal di Surabaya, mendampingi Reka sampai keluar dari rumah sakit. Lalu seminggu berada di Jakarta tanpa bersua dengan Pocut akan segera berakhir. Karena akhir pekan ini, ia memiliki waktu luang untuk mereka berdua.


"Kalau bisa ... jangan di Mall atau tempat makan yang mahal."


"Kenapa?" Ia terheran-heran. Biasanya kaum hawa sangat menyukai eksklusifitas.


"Saya ... merasa kurang nyaman ...."


Ia berpikir sejenak. Baginya, cukup sulit mencari tempat yang nyaman tapi bukan Mall atau tempat eksklusif lainnya seperti keinginan Pocut.


"Di Selera Persada?" Tawarnya merasa menemukan ide cemerlang. Selera Persada cukup membumi dan sepertinya nyaman untuk seorang Pocut.


"Jangan."


"Kenapa?"


"Kalau bisa ... selain Mall dan Selera Persada."


Ia berpikir keras. Sampai akhirnya berhasil menemukan satu tempat yang sekiranya nyaman untuk Pocut.


"Baik."


Persetujuan Pocut membuatnya tersenyum lega.


"Saya berangkat sendiri. Kita bertemu di sana."


"Jangan." Ia menggeleng tak setuju. Jika Pocut tak mau dijemput oleh dirinya, bukan berarti Pocut harus pergi sendiri ke tempat pertemuan mereka. "Nanti Devano yang jemput."


"Jangan."


"Kenapa?"


"Ini urusan pribadi ... jangan memakai fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi."


Ia tergelak. "Dia aspri saya. Disuruh nyelem ke Ancol juga mau."


"Pak Devano hanya untuk urusan kantor. Jangan dimanfaatkan untuk urusan pribadi."


Ia garuk-garuk kepala. Baru kali ini mendapati seorang wanita sangat berhati-hati dalam memanfaatkan kemudahan.


Oh, my ... how can i not love you? Ia tersenyum sendiri menyadari hal ini. Merasa telah menemukan mutiara terpendam di dasar lautan.


"Biar Agus yang jemput."


"Siapa pak Agus? Kalau sama seperti pak Devano ... lebih baik saya pergi sendiri."


"Dia orang saya. Aman. Bukan memanfaatkan fasilitas negara," jawabnya sambil terkekeh.


***