
Suci Sekeping Hati
-diambil dari judul lagu yang dipopulerkan oleh Saujana, grup nasyid asal Malaysia-
***
Jakarta
Pocut
Pagi jelang siang ini cuaca cukup cerah. Angin semilir berhembus sepoi-sepoi. Udara yang terasa kering di masa peralihan musim penghujan ke musim kemarau menjadi sedikit lembab. Situasi yang pas untuk menjalankan ibadah puasa bagi anak-anak. Karena hawa yang tak terlalu terik membuat rasa haus bisa tertahankan.
Terhitung hari ini, sekolah sudah meliburkan seluruh siswanya hingga sekitar tiga minggu ke depan. Menjadi momen liburan yang cukup panjang karena menyatu dengan libur tahun ajaran baru.
Ia sedang duduk di ruang tamu. Mengaduk adonan ubi yang telah dihaluskan bersama gula pasir. Dibantu Sasa yang menuang tepung sagu dan tepung ketan ke dalam adonan sedikit demi sedikit.
"Udah, Sa." Ia menghentikan Sasa dari menuangkan tepung. "Cukup."
"Tinggal dikasih garam sedikit." Ia menunjuk wadah garam yang tersimpan di dekat kaki Sasa.
Suasana di rumah lumayan sepi. Mamak masih berada di masjid. Sedang belajar tahsin bersama ustadzah Mutia di program Ramadan 'Nenek mengaji'. Biasanya sampai menjelang azan dhuhur.
Icad sejak jam sembilan pagi tadi sudah pamit pergi bersama Kioda. Katanya mau menonton latih tanding Boni yang setelah lebaran akan mengikuti seleksi calon atlet pelajar.
Sementara Umay seperti biasa, sedang duduk di depan layar televisi. Khusyu memelototi kotak berbentuk tabung sampai tak menghiraukan sekitar.
"Habis ini diapain, Ma?" Sasa memperhatikannya yang sudah selesai mengaduk adonan sampai kalis.
"Dibulatin," jawabnya sambil memberi contoh cara membentuk adonan menjadi bulat-bulat seperti bola.
"Aku mau! Aku mau!" Sasa berseru antusias. "Aku bisa kan, Ma?"
"Bisa." Ia mengangguk. "Gampang kok."
Mereka berdua masih membulatkan adonan ubi yang tersisa. Ketika Umay tiba-tiba menambah volume suara televisi menjadi lebih keras.
"May!" Ia mengingatkan. "Kecilkan sedikit suaranya."
Tapi Umay bergeming. Tetap memelototi layar televisi. Sama sekali tak terganggu dengan volume suara yang sangat keras.
"Polisi menggerebek kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat. Usai mendapat informasi terkait penyalahgunaan narkotika di wilayah tersebut." ©
"Penggrebekan dilakukan oleh anggota Ditnarkoba Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat."
"Dalam penggrebekan, puluhan orang berhasil ditangkap. Dan sejumlah barang bukti berupa sabu, ganja, senjata tajam dan senjata api turut disita dari lokasi."
"Ada lima puluh orang yang diamankan petugas dari lokasi. Puluhan orang tersebut kini sedang menjalani pemeriksaan."
"Wuih, keren!" Seru Umay. Ketika layar menayangkan detik-detik terjadinya penggrebekan. Di mana sejumlah petugas berpakaian preman terlihat mengejar para tersangka. Bahkan ada satu tersangka yang bersembunyi di dalam got, tak mau keluar.
"Hahahaha!" Umay tertawa. "Kocak sembunyi di got bau."
"Apaan, Bang?" Sasa mulai tertarik dengan tawa Umay dan siaran televisi.
"Sini, Sa!" Umay menepuk lantai di sebelahnya. "Kocak banget ada yang nyebur got. Hahahaha!"
"Film baru ya, Bang? Judulnya apa?" Sasa yang masih memegang adonan ubi mulai beringsut mendekati Umay.
"Ish!" Umay menggeleng tak setuju. "Bukan film! Sasa sih tiap yang ada di TV dikira film semua."
"Berita, Sa. Berita!" Umay menunjuk layar televisi dengan ekspresi berapi-api. "Asli bukan bohongan. Kalau film kan bohongan."
"Beneran itu, Bang?" Sasa bahkan sudah mengambil duduk di sebelah Umay. Ikut memelototi layar televisi dengan mata takjub.
"Ditembaknya juga asli?" Sasa semakin memelototi layar televisi, yang kini sedang menayangkan suara tembakan cukup keras.
"May!" Ia kembali mengingatkan. "Tonton acara anak-anak."
"Lagi seru, Ma." Umay menggeleng. Pastinya tak mau mematuhi perintah.
"Teuku Umair Ishak!" Jika ia memanggil nama Umay dengan sebutan lengkap, itu berarti ia sedang dalam keadaan marah. Dan ketiga anaknya sudah paham betul dengan aturan tak tertulis yang satu ini.
"Ganti film anak-anak dan kecilkan suar ...."
"Itu! Itu!" Teriak Umay kegirangan memotong ucapannya. "Ada om di TV! Sa! Itu! Lihat!"
"Teuku Umair Ish ...." Kalimatnya kembali terpotong di udara. Ketika suara volume televisi yang lumayan keras, berhasil mengalihkan kekesalannya karena melihat gambar yang sedang ditayangkan.
"Kita melakukan operasi gabungan bersama Polda Metro Jaya. Di mana tim terdiri dari ...." ®
"WAH!" Sasa langsung berdiri dan mendekat ke depan layar televisi.
"Awas, Sa! Abang nggak bisa lihat!" Seru Umay menyuruh Sasa minggir dari depan TV.
Sasa langsung menuruti perintah Umay dengan jongkok di depan televisi. Memandangi layar dengan mata melotot dan mulut ternganga.
Sementara ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengembuskan napas panjang, begitu melihat orang yang sedang berbicara. Dengan tulisan sangat jelas di bawahnya,
Kombes Pol Wiratama Yuda
Kapolres Metro Jakarta
"Dalam operasi ini, kami berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata tajam, senjata api rakitan, drone, ganja dan sabu."
Kini layar kembali menayangkan adegan, saat polisi melepaskan tembakan peringatan kepada orang yang melarikan diri dari penggrebekan.
"Jadi istri saya memang harus tahan banting."
"Karena tugas dan pekerjaan saya cukup beresiko."
Kalimat itu kembali terngiang di telinga. Lalu berputar mengelilingi kepalanya dengan tanpa permisi.
"Saya sering pulang malam bahkan pagi."
"Bisa jadi nggak pulang berhari-hari. Atau pulang ... tapi tinggal nama."
"MA?" Sasa menengok ke arahnya. "MAMA!"
Ia tergeragap dan langsung membuyarkan lamunan. "Apa, Sa?"
"Mama dipanggil-panggil nggak jawab." Sasa memberengut sambil berjalan mendekat.
"Apa?" Ia mengulangi. "Mana ... sudah selesai bulatinnya belum?"
"Tadi ada om di TV." Sasa menyerahkan bulatan ubi terakhir sambil memandanginya dengan tatapan yang cukup aneh. "Mama lihat nggak?"
Ia tak menjawab. Pura-pura sibuk menyimpan bulatan ubi yang tercecer ke dalam wadah. Lalu bangkit dan berjalan menuju ke dapur sambil berseru,
"Kecilkan suara TVnya, May!"
Umay diam saja. Tapi mau mengarahkan remote ke layar televisi hingga volume suara menjadi lebih rendah.
"Mama lihat nggak tadi?" Ternyata Sasa mengekorinya sampai ke dapur.
"Lihat apa?" Ia membuka tutup panci yang berisi air mendidih. Kemudian memasukkan daun pandan, garam, gula merah yang telah disisir, lalu bulatan ubi.
"Ada om di TV." Sasa memandanginya lekat-lekat.
"Hmm ...." Ia hanya bergumam tak jelas. Berpura-pura sedang kerepotan melarutkan tepung sagu.
"Om nggak akan kenapa-kenapa kan, Ma?" Suara Sasa tiba-tiba berubah lirih.
Ia menoleh tak mengerti. "Kenapa-kenapa bagaimana?"
Mata Sasa yang awalnya ceria perlahan mulai meredup. "Tadi ada tembak-tembakan."
Ia tersenyum. "Bukan tembak-tembakan. Itu hanya peringa ...."
"Om nggak akan kena tembak kan, Ma?" Sepasang mata bola itu kini mulai berkaca-kaca.
"Sasa bakalan sedih kalau om ketembak ... terus nanti om berdarah banyak ... terus om meninggal ... terus Sasa nggak bisa ketemu lagi ...."
Ia langsung meraih Sasa ke dalam pelukan.
"Sasa ...." Gumamnya sembari membelai lembut rambut putrinya itu.
Membuat Sasa semakin bersembunyi di pelukannya. Menenggelamkan wajah dalam-dalam ke perutnya.
Ia tak mengatakan apapun. Hanya mengusap kepala dan punggung Sasa bermaksud menenangkan.
Namun ketika bola-bola ubi mulai mengambang, naik ke permukaan panci. Mau tak mau ia harus melepaskan pelukan Sasa.
"Sa ...." Ucapnya perlahan. "Mama masak dulu, ya. Udah matang nih biji salaknya ...."
Sasa berkali-kali menggesekkan wajah ke baju yang sedang dipakainya. Berusaha menyusut ingus dan air mata ke bajunya.
"Sasa boleh minta sesuatu nggak, Ma?" Sasa menatapnya penuh harap.
"Apa?" Ia tersenyum.
"Tolong bilangin ke om biar hati-hati. Biar nggak kena tembak. Biar nggak meninggal. Biar bisa ketemu sama Sasa lagi ...."
--------------------
Ia baru selesai menyusun mangkuk plastik berisi kolak campur ke atas meja panjang tempat takjil. Sementara Cing Weny dan Cing Ella masih menyusun box berisi snack di meja sebelah. Dan sejumlah anggota yayasan Kemala yang sudah hadir turut membantu menyiapkan ruangan.
"Kalau udah selesai, bantuin kite di sini, Cut!" Seru Bu Tri yang sedang menyusun buku tamu.
"Awalnya cuma pengurus yayasan yang datang." Begitu informasi dari Bu RW. "Seperti tahun kemaren."
"Tapi ustadz Arif bilang, ibu ketua mau hadir. Sama bapaknya sekalian. Jadi acara berubah total."
"Tapi kite sanggup ye emak-emak!" Seru Bu RW dengan penuh semangat.
Bakti sosial yang diselenggarakan oleh yayasan Kemala ini memang sudah rutin dilakukan setiap tahunnya di kampung mereka. Selain acara pembagian sembako dan bantuan untuk warga. Juga operasi pasar murah dan lomba bernuansa Ramadan untuk anak-anak.
"Si Icad suruh ikut lomba lagi, Cut." Seru Cing Lina. "Suaranya bagus kalau azan. Pasti menang lagi dah gua yakin."
Ia tersenyum. "Bagaimana anaknya saja, Cing."
Dan di pukul empat sore, rombongan inti yayasan Kemala sudah hadir di antara mereka. Salah satu dalam rombongan tersebut adalah seorang wanita cantik bersanggul, yang diperkenalkan sebagai ibu ketua.
"Beliau adalah plt ketua yayasan Kemala ...."
Wanita anggun tersebut memperkenalkan diri di hadapan warga dengan sangat luwes. Memberikan sambutan sepatah dua patah kata dengan sangat apik. Kemudian ikut memperhatikan jalannya lomba anak-anak dengan penuh perhatian.
Ia mengikuti seluruh rangkaian acara bersama warga lainnya. Sama sekali tak menyangka akan mendapati Devano di antara sekumpulan ibu-ibu yayasan Kemala. Petugas berusia muda itu terlihat menenteng kamera dan mengabadikan setiap momen menarik yang terjadi.
"Sore, Bu." Devano bahkan sengaja menghampiri hanya untuk menyapa. "Apakabar?"
Ia yang semula ingin bersembunyi tak bisa menghindar lagi.
"Siape, Cut?" Selidik ibu-ibu PKK yang duduk di sekitarnya.
"Kok polisi ganteng itu bisa kenal ame elu?"
Ia hanya tersenyum rikuh. Berusaha menghindar dengan memberi jawaban berbelit. Sementara Cing Weny yang duduk cukup jauh dari kursinya. Kini jelas-jelas sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh curiga.
***
Tama
Dalam waktu yang sangat sempit dan terbatas, ia akhirnya bisa mengatur rencana dengan cukup baik.
"Sebelumnya saya mohon maaf karena lancang."
"Saya ... dengan segenap kerendahan hati ... mohon izin kepada ibu ... untuk mendekati Pocut dan anak-anak," ucapnya dengan sedikit kikuk pada wanita di hadapan, ibu Cut Rosyida.
Sejak pengakuan tentang perasaan dan niatnya di depan Cakra beberapa waktu lalu, ia sebenarnya sudah menyusun rencana untuk meminta izin pada bu Rosyida. Seperti yang disyaratkan mama.
Namun keadaan belum memungkinkan. Keberadaan Pocut yang selalu di rumah bersama bu Rosyida, membuatnya cukup kesulitan untuk memilih waktu yang tepat. Sebab, ia ingin berbicara berdua saja dengan Bu Rosyida. Tanpa Pocut.
"Waktu pembagian bingkisan dari mama untuk para tetangga, Mas." Saran Cakra melalui sambungan telepon beberapa hari lalu.
"Saya sudah pulang ke Jakarta. Dan Kak Pocut bisa saya ajak keluar rumah."
Itu adalah H-3 lebaran. Terlalu lama. Belum kesibukan tugasnya yang pasti bertambah jelang lebaran.
Tapi, selalu ada jalan untuk niat baik bukan? Sekaranglah saatnya. Ketika Pocut dan anak-anak berkumpul di madrasah mengikuti acara bakti sosial. Ia bisa menemui bu Rosyida dengan leluasa.
"Sekaligus minta doa restu ... semoga niat baik ini bisa segera terlaksana."
Ia tak bisa berpanjang kata. Karena telah ditunggu di acara bakti sosial.
Dan ucapan teduh bu Rosyida, berhasil membuka satu pintu baru untuknya. Harapan.
"Jangan lupa salat istikharah." Bu Rosyida tersenyum. "Semoga Allah mudahkan jalannya."
***
Pocut
'Sekeping hati di bawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang'
(Saujana, Suci Sekeping Hati)
Alunan nada sayup-sayup terdengar mengiringi acara pemberian hadiah para pemenang lomba Ramadan.
"Dan juara pertama untuk kategori tahfidz Qur'an usia Sekolah Dasar adalah ...." Seru MC yang berasal dari Karang Taruna di atas panggung.
"Teuku ... Umair ... Ishak."
Ia semakin merundukkan diri dalam-dalam di kursi yang sedang diduduki. Ketika Umay dengan menebar senyum lebar ke kanan dan ke kiri naik ke atas panggung. Lalu menerima piala dan hadiah dari Tama.
"Selamat untuk seluruh ananda yang telah berhasil menjadi juara." Tama mulai memberikan sambutan.
"Satu pesan saya, teruslah belajar dan menuntut ilmu tanpa kenal lelah. Isilah masa muda dengan kegiatan positif yang bermanfaat. Jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa mengecewakan orangtua, agama, bangsa, dan negara ...."
Tepuk tangan riuh terdengar. Seluruh pemenang lomba lalu berfoto bersama dengan Tama dan ibu ketua yayasan Kemala.
Termasuk Sasa.
Ia semakin menyembunyikan diri di balik punggung orang yang duduk di depannya. Ketika Sasa ikut naik ke atas panggung padahal tidak menjadi juara. Hanya karena Tama mengajaknya untuk naik ke atas panggung.
Sasa bahkan tanpa sungkan berbisik-bisik di telinga Tama, yang sengaja duduk berjongkok agar bisa sejajar dengan Sasa. Semoga Sasa tidak membisikkan hal yang aneh-aneh, batinnya cemas.
"Semua anak-anak boleh naik ke atas panggung ... untuk foto bersama," seru Tama akhirnya setelah menyambar mic dari tangan MC.
Membuat seluruh anak yang berada di sana bersorak kegirangan.
"Tolong MC ... diatur ...." Tama kembali menyerahkan mic kepada MC.
"Fotonya giliran ya, Adik-adik ...." Dengan sigap MC mulai mengatur jalannya foto bersama di atas panggung. "Karena panggungnya kecil ...."
"Semua kebagian ... semua kebagian ... jangan takut ...." Seloroh MC karena anak-anak mulai ribut saling dorong ingin lebih dulu naik ke atas panggung.
Sedangkan ia langsung berusaha menghindar, ketika usai foto anak-anak, MC meminta panitia dari ibu-ibu PKK untuk berfoto bersama dengan bapak Kapolres dan ibu ketua yayasan.
"Cut! Mo kemane?" Seru Cing Ella yang langsung menyeret lengannya agar ikut berfoto bersama.
Dan ia bisa sedikit bernapas lega karena mendapat barisan di deret terluar. Berjarak cukup jauh dari Tama yang berdiri di tengah-tengah bersama ibu ketua yayasan.
"Bapak ... boleh foto bareng nggak .... Tapi berdua aja ...." Seloroh ibu-ibu PKK dan sejumlah warga lainnya. Terutama para gadis remaja.
"Bapak kok ganteng banget, sih?" Beberapa gadis remaja anggota Karang Taruna bahkan tanpa malu-malu cekikikan di samping Tama.
"Bapak polisi yang viral di TV itu bukan, Pak?"
"Bukan, Ibu ...." Justru Devano yang menjawab. Berusaha melindungi Tama dari serbuan ibu-ibu. "Beliau komandan saya."
"Pak ... kalau Bapak yang nilang ... saya mau lah ...."
"Pak .... Ya ampun, Pak ... baru kali ini saya lihat ada polisi seganteng Bapak. Boleh minta tanda tangan ya, Pak?"
"Ibu ... tolong beri jalan ...." Devano semakin kewalahan menghalau serbuan ibu-ibu dan para gadis remaja.
Sementara ia berusaha menjauh dari orang-orang yang mengerubuti Tama.
Namun sebelum berhasil keluar dari kerumunan, matanya sempat bertemu dengan tatapan Tama.
Seperti biasa, Tama tersenyum dan mengangguk.
Ia langsung menunduk. Berpura-pura jika mereka tak pernah saling bersitatap.
Tapi rupanya ini bukanlah akhir. Karena Cing Weny yang sebelumnya tak terlihat saat sesi foto bersama. Tiba-tiba muncul entah dari mana hanya untuk mendekatinya. Lalu menunjuk-nunjuk ke arah Tama dengan mata melotot.
"Cut! Nama ... nama ...." Cing Weny terus menunjuk-nunjuk Tama dengan wajah pucat. "Baju ... baju ...."
Lututnya langsung gemetaran karena khawatir Cing Weny akan membongkar cerita tentang seragam warna cokelat dengan badge nama huruf besar yang tersimpan di dalam tasnya.
Tapi syukurlah, ia masih terlindungi. Karena Cing Weny keburu jatuh lemas dan harus dipapah tanpa sempat membuka rahasianya.
"Ya, Allah!" Hampir semua orang di sekitar mereka menjerit panik.
"Weny! Lu kenapa, Wen!"
"Tolong! Tolong! Ini ada yang pingsan!"
Ia ikut memapah Cing Weny ke pinggir ruangan. Di bawah senyum simpul dan tatapan tajam Tama dari kejauhan. Sementara sayup-sayup alunan nada masih terdengar memenuhi ruangan.
'Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa'
(Saujana, Suci Sekeping Hati)
***
Keterangan :
©. : dikutip dari BeritaSatu edisi 9 Mei 2021
®. : dikutip dari KompasTV edisi 9 Mei 2021