Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 59. Dua Benteng Tangguh


Jakarta


Ustadz Arif


Ia baru menyelesaikan kajian mengupas kitab Minhatul 'allam syarah bulughul maram © di depan para jemaah. Ketika melihat seorang anak laki-laki sedang duduk terkantuk-kantuk di bawah beduk.


"Sudah ngaji?"


Anak laki-laki itu langsung menegakkan punggung sambil membetulkan kopiah. Lalu mengangguk.


Setiap malam Jum'at, ia memang libur mengajar tahsin. Sebagai gantinya, mengajar tahsin dipegang oleh Syafiq, adik iparnya yang baru menamatkan studi dari sebuah pesantren di Jawa Timur.


Ia memperhatikan anak laki-laki berwajah muram yang masih duduk di bawah beduk. Memilih menyendiri tak bergabung dengan keriuhan teman-temannya di halaman madrasah.


"Yahbit di rumah?" Ia yang awalnya hendak berlalu mengurungkan niat.


Memilih menanyai bocah laki-laki bernama Icad itu. Meski dalam keseharian termasuk pendiam jika dibandingkan dengan sang adik. Namun selalu terlihat ramah dan ceria, tak pernah memasang wajah semuram ini.


Icad menggeleng.


Ia berdiri memperhatikan keluar jendela. Di mana anak-anak sedang riuh bermain boy boyan. Lalu kembali memandang Icad yang duduk terpekur sambil mempermainkan ujung sarung.


Beberapa waktu lalu, seorang pria asing datang ke masjid. Baru kali itu mengikuti salat tarawih berjamaah. Ia tahu betul karena sebagian besar jemaah masjid adalah warga sekitar kampung Koneng. Jadi, jika muncul wajah baru bisa langsung diketahui.


Namun yang membuatnya heran adalah, pria itu pernah dilihatnya berbicara di atas podium. Saat agenda pertemuan rutin antara tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama jajaran kepolisian resor.


"Assalamualaikum, Pak Kapolres?" Ia memutuskan untuk menyapa. "Apakabarnya?"


"Mungkin Bapak lupa dengan saya." Ia mulai menjelaskan. "Beberapa waktu lalu, saya sempat menghadiri undangan dari Mapolres bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya."


"Oh, ya."


"Nama saya Arif, waktu itu mewakili dari FKUB."


"Ya, ya." Pria bersweater gelap itu mengangguk.


"Saya juga dulu pernah menghadiri akad nikah adik Bapak dengan Agam," sambungnya lagi. "Tapi itu sudah lama ...."


Pria di depannya masih mengangguk-angguk. Mungkin sedang berusaha mengingat.


"Selamat datang di masjid kami. Suatu kehormatan mendapat kunjungan dari Bapak."


Pria itu terlihat waspada. "Saya sedang bicara dengan Ustadz Arif ini?"


Ia tersenyum. "Arif saja, Pak."


Mereka mulai membicarakan banyak hal. Dari kondisi kampung koneng sampai merencanakan sejumlah kerjasama untuk mendukung situasi aman dan kondusif.


Di penghujung percakapan pak Tama berseloroh. "Apa rahasianya, Ustad? Menjadi favorit anak-anak? Mungkin ada ilmu yang bisa dibagi. Karena saya berniat meminang ibunya."


"Anak-anak?" Ia masih belum paham.


"Icad, Umay, Sasa," jawab pak Tama tanpa ragu.


Ia termangu.


Kabar tentang kecantikan dan kebaikan hati janda Iskandar sudah lama beredar di kalangan para pria. Banyak yang kemudian berlomba-lomba mendekat bahkan meminang. Meski belum ada satupun yang berhasil menaklukkan. Tak menyangka kabar tersebut bisa sampai di telinga orang seperti pak Tama.


"Saya tak terlalu mengenal." Ia menggeleng. Selama ini interaksi dengan Pocut hanya sekedar menyapa dan berbasa-basi. "Dulu saya bersahabat dengan almarhum Iskandar. Bukan istrinya."


Pak Tama tertawa.


"Tapi saya tahu orang yang tepat." Ia tersenyum.


"Siapa?"


Istrinya terbilang cukup akrab dengan Pocut. Bahkan pernah belajar memasak selama beberapa waktu di rumah bu Cut. Mungkin bisa membantu pak Tama mengambil sikap yang tepat untuk meraih hati Pocut.


"Mari ... kita lanjutkan di rumah. Kebetulan buka puasa tadi ... istri saya memasak menu spesial."


"MENANGNG!" Teriak anak-anak di halaman riuh bersorak-sorai.


Ia memandang jam dinding. Beberapa menit lagi masuk waktu Isya. "Azan, Cad."


Icad mengangguk. "Wudu dulu, Stad." Kemudian beranjak.


Seusai salat Isya, saat sebagian besar jemaah telah pergi meninggalkan masjid. Ia mendapati Icad duduk di teras bersama Agam.


"Kapan datang?"


Agam bangkit untuk menyalaminya. "Barusan."


"Mampir ke rumah."


Agam tersenyum. "Makasih, Ustad. Lain waktu."


Ia menepuk bahu Agam. "Duluan." Namun sebelum pergi, sempat melirik Icad yang masih bermuram durja.


***


Cakra


Masjid telah sepi. Ustadz Arif juga sudah pulang ke rumah. Mungkin sebentar lagi, lampu di dalam masjid akan dimatikan oleh marbot dan pintu dikunci. Tapi ia masih duduk di teras bersama Icad.


"Lagi kesel sama siapa?" Ia kembali membuka obrolan. Sejak awal bertemu sebelum salat Isya tadi, jawaban Icad selalu pendek dan singkat tiap kali ditanya.


Icad menggeleng.


"Umay bikin masalah?"


Lagi-lagi Icad menggeleng. Bertepatan dengan lampu masjid yang dimatikan. Membuat suasana gelap gulita. Hanya tersisa penerangan dari lampu jalan.


"Belom pulang, Gam?" Sapa cing Ipul yang sedang mengunci pintu masjid.


"Bentar lagi, Cing."


"Buru pulang. Ntar bisa ketempelan jin," ujar cing Ipul. Berjalan menjauh menuju rumahnya yang berada di samping madrasah.


"Jangan-jangan yang sebelah udah ketempelan. Manyun begitu?" Selorohnya mencoba mencairkan suasana. Karena Icad hanya diam membisu.


"Yahbit pulang disuruh sama mama?"


Ia tertawa. "Wah, fitnah."


Icad semakin mengerut.


"Pulang karena kangen sama ibunda tercinta, dong," selorohnya.


Icad menoleh. "Bohong!"


Ia mengernyit. "Serius. Nanti baru ngerasain kalau hidup jauh dari orangtua. Kalau sekarang nggak akan paham."


Icad kembali menunduk.


Sore tadi, mamak menelepon. "Gam, kemarilah. Tolong bicara dengan Icad. Dia marah begitu tahu Pocut menerima Tama."


"Mau denger cerita bagus, nggak?" Ia memancing.


Tapi Icad tak bereaksi.


"Dulu ...." Ia mulai bercerita tanpa menunggu persetujuan Icad. "Ada seorang anak yang kecewa pada keadaan. Lalu melampiaskannya ke semua orang."


"Dia marah ke ibu, kakak, keluarga, teman-teman, lingkungan. Bahkan masa lalu."


"Dia selalu bertanya ... mengapa aku? Kenapa? Apa salahku? Aku nggak mau seperti ini. Aku nggak terima."


"Semakin hari, dia semakin jauh dari keluarga, kebaikan, harapan."


"Dia melakukan hampir semua hal buruk. Dia ingin menghukum seisi dunia yang sudah mengecewakannya."


"Sampai akhirnya ... dia melakukan hal buruk dari yang paling buruk. Satu dosa besar."


Icad menoleh.


"Dia takut, menyesal, kecewa ...."


"Tahu nggak siapa orang pertama yang meraih anak itu?"


Icad menatapnya.


"Ibunya." Ia mengatakan ini sambil membuang jauh-jauh bayangan wajah renta mamak yang dipenuhi kekecewaan dalam bilik sempit dan temaram. Ketika ia berterus terang tentang keadaan Anja.


"Sang ibu tetap menerima anak itu seburuk apapun keadaan. Tetap mendoakan kebaikan. Tetap menyayangi ...."


"Tapi ibu anak itu nggak nikah lagi!" Gerutu Icad.


Ia merangkul bahu sang keponakan. "Apa salahnya kalau nikah lagi?"


Icad mengendikkan bahu, berusaha melepaskan diri. "Nggak salah. Asal bukan mama."


Ia berdehem. "Sekarang ... yahbit nggak tinggal di rumah nenek lagi. Yahbit udah nggak bisa jagain nenek, Icad, Umay, Sasa ... apalagi mama."


"Yahbit nggak bisa melindungi kalau ad ...."


"Ada aku!" Potong Icad dengan napas memburu. "Aku bisa jagain semua termasuk mama."


"Termasuk kalau ada orang marah-marah menghina mama?"


Icad terdiam.


"Berapa kali lihat mama dimarahi orang? Berapa kali berani melawan orang itu untuk membela mama?"


Icad menunduk.


Ia merangkul Icad. "Mama nggak memutuskan ini sendiri, Bang. Mama sudah melakukan semua yang bisa dilakukan sebelum sampai di titik ini. Bukan karena mama melupakan almarhum ayah atau nggak sayang lagi sama Abang."


Icad terdiam. Tak memberontak seperti sebelumnya.


"Justru karena mama sayang sama Abang, Umay, Sasa ... makanya mama membuat keputusan berat ini."


"Mama menginginkan yang terbaik untuk semuanya."


"Dan selama seumur hidup ... seluruh dunia tahu ... kalau Abang, Umay, Sasa ... adalah anak-anak dari pria baik dan hebat bernama Iskandar muda. Bukan yang lain."


"Abang nggak suka sama om Tama? Wajar. Manusiawi. Hal biasa itu. Kita nggak harus menyukai semua orang, kan?"


"Berlaku sebaliknya. Nggak mungkin semua orang suka sama kita. Sudah hukum alam. Nggak bisa dipaksa apalagi direkayasa."


"Tapi ... Abang harus tetap sayang sama mama ... menghargai mama ...."


"Karena ... siapa lagi orang yang akan menyayangi Abang seumur hidup selain mama? Mendoakan kebaikan untuk Abang. Melaku ...."


"Aku mau pulang!" Tukas Icad sambil menyusut mata.


"Ngomongnya yang bener. Jangan asal. Bukannya bikin Icad ngerti malah tambah ngambek. Bukannya beres malah nambah rumit."


"Siap, Nyonya ...." Ia terkekeh sambil mencium kening istrinya. "Baik-baik di rumah."


"Oke ...." Ia tersenyum. Menyusul Icad yang lebih dulu beranjak.


"Air matanya habisin sekarang," selorohnya, ketika mereka berjalan beriringan meninggalkan halaman masjid yang gelap gulita. "Kepergok Umay ntar ... tahu rasa!"


Icad tak menjawab. Karena sibuk menyusut sudut mata dengan punggung tangan.


***


Pocut


Ia sedang melipat mukena usai salat Isya, ketika Sasa berteriak dari ruang tamu. "Mama! Hapenya bunyi terus."


Ia buru-buru masuk ke kamar. Segera meraih ponsel dan memeriksanya.


2 panggilan tak terjawab


Kakak Anjani


2 pesan belum terbaca


Dari Kakak Anjani dan Agam.


Ia lebih memilih untuk membuka pesan dari Agam.


Agam : 'Ngobrol sama Icad dulu di masjid.'


Detik itu juga ia langsung mengetikkan balasan.


Pocut : 'Iya.'


Dengan hati gelisah, ditunggunya kepulangan Agam dan Icad dari masjid. Sama sekali tak menghiraukan pesan dari Tama.


"Kenapa lama ya, Mak?" Gumamnya khawatir. Karena Agam dan Icad tak kunjung muncul.


"Sebentar lagi ...." Jawab mamak yang sedang merajut di atas kursi.


Ketika ia sedang mengoleskan lotion anti nyamuk ke tangan dan kaki Sasa yang telah terlelap, terdengar ucapan salam dari Agam dan Icad.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawabnya sambil menyelimuti tubuh Sasa. Dengan latar suara Icad yang sedang mengobrol bersama mamak dan Agam.


Sebelum bergabung ke ruang tamu, ia bermaksud merapikan buku catatan milik bang Is yang berserakan di atas meja terlebih dahulu. Namun Icad sudah keburu berdiri di depan pintu kamar.


Ia tersenyum, antara lega dan terharu. "Abang?"


Icad tak menjawab. Berjalan memasuki kamar dengan kepala tertunduk. Lalu memeluknya.


"Abang?" Ia mengusap punggung putra sulungnya dengan mata berkaca-kaca. Merasa semakin lega karena Icad tak lagi bersikap abai.


"Maafin Abang ...." Bisik Icad di belakang punggungnya.


Ia mengangguk. Tak kuasa menahan air mata. "Maafin Mama juga ya, Bang."


Icad mengangguk. Semakin mengeratkan pelukan mereka berdua.


"Abang sayang sama Mama." Icad menatapnya. "Tapi tetap nggak suka sama om itu."


Ia tertawa sambil mengusap air mata. "Nggak apa-apa, Abang. Nggak apa-apa ... Mama juga sayang sama Abang. Sayang sekali."


Icad mengangguk. Lalu menunjuk buku yang berserakan di atas meja.


"Oh ...." Ia mengambil sebuah buku dan menyerahkannya pada Icad. "Mau baca?"


Buku itu berisi catatan keseharian bang Is saat sedang berada di atas kapal tanker. Kebanyakan berisi tentang apa yang terjadi hari itu. Sebagian lagi ungkapan kerinduan terhadap dirinya dan anak-anak. Tak ada rahasia tersembunyi ataupun tulisan vulgar. Jadi, siapapun bisa membacanya. Bahkan anak-anak sekalipun.


Icad menerima buku dari tangannya dengan wajah penuh tanya.


Sekarang, ia memperhatikan Icad yang sedang mengernyit saat membuka lembar demi lembar.


"Buku punya ayah?" Icad memandangnya tak percaya.


Ia mengangguk. "Semua punya ayah." Sambil menunjukkan buku lain yang berserakan di atas meja.


Icad terpana. "Mama ... masih membacanya?"


"Setiap hari ... setiap malam ... setiap mama kangen sama ayah," jawabnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Ia mengambil sebuah buku lain dari atas meja. Lalu menumpuknya ke tangan Icad. "Kalau Abang mau baca."


Icad menatapnya tak percaya. "Boleh?"


Ia tertawa dengan setetes air mata di pipi. "Boleh sekali."


Icad tersenyum dan mengulurkan tangan. Mengusap air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya. "Mama jangan nangis."


Tapi air matanya justru semakin berlinangan.


"Dibilang jangan nangis." Icad semakin kerepotan menyusut air matanya yang terus berderai.


Ia tertawa. Sembari terus menangis.


"Baca semua ...." Bisiknya. "Biar Abang selalu merasa dekat dengan ayah ...."


Icad mengangguk. "Pinjam dua buku dulu."


Ia balas mengangguk. "Jangan lupa dikembalikan."


Icad tertawa. "Makasih, Ma. Sekali lagi maafin Abang."


Ia tersenyum. "Kalau mimpi ketemu sama ayah ... jangan lupa sampaikan salam kangen dari Mama ...."


Ah, tidak, mata yang belum juga kering, kini kembali berkaca-kaca.


"Iya," jawab Icad dengan kepala tertunduk. "Sekalian Abang mau cerita ke ayah ... kalau ada om ngeselin yang deketin Mama ...."


Ia tertawa. Kembali meraih Icad ke dalam pelukan.


***


Surabaya


Tama


Ia sudah menginformasikan tentang rencana kepergiannya menemui Reka di Surabaya sejak jauh-jauh hari. Jadi begitu turun dari pesawat di bandara, tanpa sempat beristirahat atau singgah ke tempat lain, ia langsung menuju ke rumah Kinan.


Tapi sesampainya di rumah Kinan, ia hanya mendapati Miko seorang.


"Mba Kinan lagi nang (sedang di) rumah sakit. Reka mlebu (masuk) IGD."


Dengan tergesa, ia kembali memesan Taxi untuk membawanya pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh Miko.


"Halo?"


"Mas?"


"Kamu nggak bilang Reka masuk rumah sakit?"


"Baru subuh tadi ...."


"Apa kata dokter?"


"Masih nunggu hasil lab kedua. Hasil lab pertama menjurus ke DBD (demam berdarah dengue)."


"Aku otw."


Begitu turun dari Taxi, ia langsung menuju IGD. Sempat terhenyak saat mendapati om Pram duduk di ruang tunggu. Tapi ia memilih untuk tak peduli.


"Di mana?" Tanyanya pada Kinan yang menyambut di depan pintu IGD.


"Barusan dipasang oksigen," ucap Kinan lirih saat mereka berjalan menuju tempat Reka dirawat.


Ia menatap Kinan. "Separah itu?"


Kinan menunduk. "Udah seminggu dia nggak mau makan, nggak mau minum. Kelenjar sama hatinya bengkak, susah napas, mau nggak mau dibantu oksigen ...."


"Seminggu?" Ia menatap Kinan tak percaya. "Terakhir waktu aku telepon ... kamu bilang cuma demam biasa."


"Iya." Kinan tetap menunduk. "Waktu awal demam dia masih puasa. Setelah Mas nelepon ... pas buka puasa nggak bisa masuk makanan sedikitpun. Selalu dimuntahin lagi. Termasuk minum juga nggak bisa."


"Kamu nggak langsung hubungin aku?" Keluhnya merasa sangat kesal. Karena terlambat mengetahui keadaan Reka.


"Aku pikir cuma demam sama muntah biasa ...."


Ia mendengus. "Bukannya kamu yang lebih aware tentang masalah kesehatan?"


"Aku pikir Mas pasti lagi sibuk operasi ke ...."


"Jangan jadiin kesibukanku sebagai alasan!" Gerutunya. "Kita berdua sepakat urusan Reka jadi prioritas utama!"


"Iya!" Kinan balas menatapnya tajam. "Tapi nggak usah bentak-bentak aku di depan umum begini!"


Ia terdiam sambil menggelengkan kepala. Menolak keras kesalahpahaman Kinan. Sekarang ia sedang sangat mengkhawatirkan kondisi Reka. Sampai tak mampu mengontrol nada suaranya sendiri.


Tapi Kinan sudah membalikkan badan. Berjalan mendahuluinya memasuki tirai warna hijau yang terletak di deretan paling ujung.


Ia mengembuskan napas panjang. Bergegas mengejar langkah Kinan.


"Wali dari pasien bernama Gemintang?" Sapa seorang petugas berseragam hijau yang masuk ke dalam tirai bersamaan dengannya.


"Saya," jawab Kinan.


"Silakan ... ada yang harus ditandatangani. Pernyataan tentang kesediaan untuk ...."


Ia melangkah melewati Kinan yang sedang berbicara dengan petugas berseragam hijau. Berdiri terpaku menatap Reka yang terbaring lemah dengan masker oksigen dan selang infus di tangan.


Meski terpejam, namun bengkak di wajah dan mata Reka terlihat begitu jelas. Bahkan sampai ke daerah tangan, dada, hingga perut.


Reka ... Reka .... Maafkan Ayah, Nak.


***


Keterangan :


©. : Minhatul 'allam merupakan salah satu kitab dari syarah bulughul maram yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan untuk memudahkan dalam memahami hadits-hadits hukum syar'i.