
There would be no love in my life
(Takkan ada cinta dalam hidupku)
-diambil dari lirik lagu berjudul "How do i live" yang dinyanyikan oleh Trisha Yearwood dan merupakan OST dari film "Con Air" yang dibintangi Nicholas Cage).
***
Hari-hari Tanpamu
Surabaya
Kinanti
Ia langsung limbung dan hampir terjatuh jika saja mas Pram tak langsung memeluknya. Penyebab Reka memulai perkelahian yang diungkap oleh sang wali kelas benar-benar membuat hatinya remuk redam.
Ia menangis tersedu-sedu di dada mas Pram yang terus berupaya menenangkan. Hatinya sakit bukan main tatkala mendapati wajah babak belur Reka. Bertambah sakit sebab Reka datang sendiri ke Surabaya tanpa didampingi siapapun. Semakin sakit ketika mas Tama mengabaikannya begitu saja. Lebih mementingkan menyelesaikan materi di kelas daripada menuntaskan masalah Reka. Dan teramat sakit berkali lipat begitu mendengar alasan Reka berkelahi.
Kalau sudah begini siapa yang salah?
Apakah dirinya? Mas Tama? Atau wanita yang dalam sekejap berhasil mengubah mas Tama menjadi orang asing? Orang yang sama sekali tak dikenalnya.
"Aku yang salah?" Isaknya dengan air mata berderai. "Selalu aku yang salah?"
"Nggak ada yang salah," jawab mas Pram seraya mengusap punggungnya lembut. Berusaha memberi ketenangan padanya. "Kamu bunda yang baik. Sekarang kamu hanya sedang merasa takut ada hal buruk akan menimpa Reka. Jangan biarkan rasa takut ini menguasaimu, sayang."
"Beri sedikit ruang. Jangan semuanya kamu tanggung sendiri," sambung mas Pram. "Lepaskan hal-hal negatif. Jangan sampai mereka mengambil alih di saat krusial seperti ini."
"Saat-saat terakhir bersama Reka." Mas Pram mencium rambutnya dalam-dalam. "Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. I know you can do this very well."
Ia harus mencuci muka terlebih dahulu agar bisa menghilangkan mata memerah usai menangis. Lalu mengoleskan concealer untuk menutupi lingkaran di bawah mata. Dan terakhir menyapukan lipstik agar tak terlihat pucat.
"Bunda habis nangis?" Tanya Reka setelah mereka duduk berdampingan. Selama hampir lima belas menit lamanya hanya saling berdiam diri di depan layar televisi yang sedang menayangkan film action terbaru.
Ia menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan perlahan. "Tadi Bunda nelepon ayah."
Reka terbelalak.
"Ternyata ayah nggak tahu kalau Reka berkelahi di sekolah." Ia menatap Reka yang masih terbelalak.
"Kenapa Bunda nelepon ayah?" Wajah Reka berubah murung.
"Bunda khawatir Reka kenapa-napa," potongnya cepat.
"Aku nggak kenapa-napa!" Jawab Reka ketus.
"Tapi ayah tetap harus tahu, Reka. Bunda minta ayah untuk menyelesaikan masalah di sekolah. Ini sudah keterlaluan."
"Bun?" Air muka Reka semakin keruh. "Aku nggak apa-apa! Beneran."
Reka, oh Reka ... hal seserius ini dianggap nggak apa-apa? Entah ide dari mana anak usia belasan tahun tega memperolok orang tua dengan bahasa yang paling buruk. Ini jelas bukan hal kecil yang bisa dibiarkan. Apalagi ia tahu betul jika keluarga mantan mertuanya masih menjadi donatur tetap di Pusaka Bangsa. Benar-benar tak masuk akal jika penyandang dana justru mendapat perlakuan tak mengenakkan.
"Iya." Ia mengangguk. "Reka mungkin nggak apa-apa. Tapi Bunda apa-apa. Nanti biar ayah yang bertindak."
Reka memandangnya dengan ekspresi kecewa. Namun tak mengucapkan sepatah katapun. Kembali berkonsentrasi menonton film laga penuh aksi.
Dan entah dorongan dari mana tiba-tiba saja ia ingin memeluk Reka. Mendekap satu-satunya harta paling berharga yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.
"Maafin, Bunda," bisiknya di balik punggung Reka yang kini telah berubah menjadi sosok atletis. Bukan lagi putra kecilnya yang bertubuh gempal dan empuk ketika dipeluk.
"Maafin, Bunda," bisiknya lagi meski tak tahu meminta maaf untuk bagian mana saking banyaknya kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan.
Tubuh Reka yang semula keras dan kaku perlahan mulai luluh. Reka bahkan membalas pelukan hingga akhirnya mereka terisak bersama.
Ia pun berjanji pada diri sendiri akan menghabiskan saat-saat terakhir bersama Reka dengan hal yang menyenangkan. Yang bisa dikenang tiap kali rindu datang menyapa. Yang mampu menyemangatinya dalam menjalani pemulihan. Dan yang akan selalu mengingatkannya tentang masa depan indah sebagai satu keluarga. Ia, Reka, mas Pram, dan calon adik Reka kelak.
"Reka seneng nggak di Jakarta?" Tanyanya saat ia tengah berbaring bersama Reka di atas tempat tidur yang sama. Ya, selama tiga hari terakhir ini, ia ingin menghabiskan setiap malam bersama Reka.
Sekedar mengingat kembali masa lalu. Saat Reka masih harum minyak telon dan beraorma bedak bayi. Masih memeluknya erat-erat sepanjang malam. Masih merengek dan menangisinya tiap kali hendak berangkat ke rumah sakit.
"Seneng," jawab Reka singkat.
"Ayah masih sama atau udah berubah?"
"Maksudnya?" Reka menatapnya tak mengerti.
"Masih sayang ke Reka, nggak? Atau lebih sayang ke adik-adik baru Reka?"
Reka sempat terdiam sebentar. "Sayang, lah."
"Bunda baru Reka baik, nggak?"
"Baik," jawab Reka cepat. Namun kalimat selanjutnya benar-benar tak terduga. "Udah, ya, Bun. Aku ngantuk. Mau tidur."
Ia mengembuskan napas panjang dan berat. Reka memperlihatkan keengganan yang sangat nyata ketika ia mulai bertanya-tanya tentang keluarga baru mas Tama. Apakah memang sebahagia itu kalian, Mas? Sampai-sampai Reka tak mau menjawab. Pasti karena Reka merasa tak enak hati jika harus menceritakan kebahagiaan kalian.
"Reka udah mulai sayang sama bunda baru belum? Sama adik-adik yang banyak itu?" Tapi rasa keingintahuannya benar-benar tak bisa dibendung.
Tak ada jawaban.
"Ayah masih kayak dulu atau udah berubah?" Ia kembali bertanya. "Bunda lihat waktu resepsi, ayah senyum terus. Kayaknya bahagia banget, ya?"
Tetap tak ada jawaban.
"Ayah pilih kasih nggak, Reka? Bilang ke Bunda kalau ayah lebih sayang ke adik-adik tiri daripada ke Reka."
Hening.
"Reka sayangan mana, ke Bunda asli atau bunda yang baru?"
Namun yang terdengar justru suara dengkuran halus. Rupanya karena Reka telah terlelap. Reka, oh, Reka .... Semoga Reka bahagia tinggal bersama keluarga baru ayah. Dan semoga Reka tak melupakan bunda. Bunda loves you so much. Always.
"Reka mau apa?" Tawarnya keesokan hari saat mereka tengah berjalan mengelilingi Mall. "Bunda belikan."
Reka menggeleng.
Ia menawarkan gadget terbaru, komputer gaming paling mutakhir, dan produk elektronik terkini lainnya.
Namun Reka tetap menggeleng. "Nggak usah, Bun. Aku udah punya semua."
Ia menghela napas panjang sembari terus memutar otak. Mencari-cari sekiranya barang apa yang bisa membuat Reka terkesan.
Ia sempat berbisik di telinga mas Pram dan suaminya itu langsung mengangguk setuju. Sebelum akhirnya berucap dengan hidung terkembang. "Mobil?"
Reka mengernyit heran.
Tapi ia justru tersenyum senang. "Bunda sama ayah Pram kasih hadiah Reka mobil. Ya, Mas, ya?" Ia mengerling ke arah mas Pram yang balas tersenyum.
"Sebagai tanda cinta dan sayang bunda juga ayah Pram ke Reka." Ia memeluk Reka yang terbengong-bengong.
"Pilih saja Reka, mau mobil yang mana." Mas Pram turut memeluk Reka. "Yang paling keren pastinya."
Dan ucapan mas Pram semakin membuat Reka terbengong-bengong. "Mobil-mobilan?"
Ia dan mas Pram tertawa bersama. "Mobil beneran, Reka. Mobil asli."
Tapi Reka malah menggeleng. "Nggak, Bun. Makasih. Nanti aja pas 17 tahun."
***
Lembang
Tama
Usai menutup panggilan Kinan secara sepihak, ia melalui sisa hari dengan pikiran bercabang. Tak lagi bisa berkonsentrasi saat mengikuti materi di kelas maupun kegiatan di lapangan.
"Kita bicarakan semua." Petang hari barulah ia bisa menghubungi Kinan.
"Ya. Mas harus membuat perhitungan dengan pihak sekolah," jawab Kinan dengan suara bergetar. "Kalau perlu pindah sekolah."
"Aku sakit hati Reka diperlakukan seperti ini." Kinan terus saja mencerocos tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
"Ini sudah termasuk perundungan kelas berat. Bagaimana mungkin anak dari donatur tetap mendapat perundungan? Apa namanya kalau bukan ironi?"
"Tunggu!" Ia berusaha menghentikan Kinan. "Reka diapakan di sekolah?"
Terdengar suara helaan napas panjang. "Mas bisa tanya sendiri ke istri baru Mas. Aku nggak sanggup menceritakannya."
"Jangan bawa-bawa Pocut untuk urusan ini." Ia menggeram marah. "Sekarang kamu tinggal cerita. Nggak perlu melibatkan Pocut."
"Sesayang itu kamu sama dia, Mas? Jelas-jelas Reka tinggal sama istri baru Mas itu. Dia juga harus ikut bertanggungjawab!"
Ia memijat pelipis yang mulai berdenyut. "Mau kamu apa, Kinan?"
"Pertama, pindahkan Reka dari Pusaka Bangsa! Kedua, jangan sampai istri baru Mas pilih kasih! Dan ketiga ... aku harap ini kejadian terakhir Reka babak belur!" Suara Kinan terdengar begitu emosional.
"Aku nggak akan maafin kamu, Mas. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi!"
***
Jakarta
Pocut
Begitu Reka berangkat ke Surabaya, malam harinya Tama menelepon dengan suara kaku.
"I-iya, Mas." Tama bahkan tak mengucapkan kalimat pembuka sesederhana halo. Langsung menuju intinya.
"Kamu nggak cerita."
Ia tak bisa menjawab.
"Malam itu kita ngobrol di telepon. Tapi kamu nggak cerita apa-apa tentang Reka."
"Maaf ...." Ia benar-benar meminta maaf. "Aku nggak mau mengganggu konsentrasi Mas di sana."
"Untuk hal sepenting ini harusnya kamu cerita." Suara Tama terdengar menyesalkan keputusannya. "Jangan ditunda-tunda apalagi disembunyikan."
"A-aku nggak menyembunyikan, Mas." Ia menolak ucapan terakhir Tama yang baginya terdengar seperti tuduhan. "Aku hanya ingin menceritakan di waktu yang tepat."
"Malam itu Mas bilang sedang lelah." Ini mungkin akan menjadi pertentangannya yang pertama. "Aku pikir bisa menceritakannya esok hari."
"Ya, keburu Kinan nelepon duluan." Suara Tama terdengar mengeluh. "Ke depannya kamu langsung kabari aku kalau ada yang menimpa anak-anak. Jangan ditunda-tunda."
Ia terdiam dan tak bersuara. Namun mengiyakan di dalam hati.
Begitupun Tama. Tak lagi berkata meski ponsel mereka masih tetap tersambung.
Selama beberapa saat, tak seorangpun bersuara.
Ia masih meraba-raba keadaan. Apakah Tama marah padanya? Apakah Tama menganggapnya tak becus mengurus Reka? Apakah Tama kecewa dengan pilihan sikapnya?
"Sebenarnya apa yang membuat Reka sampai berkelahi?"
Ia menghela napas sebelum balik bertanya. "Mba Kinanti belum cerita?"
Tama tertawa namun kedengarannya sumbang. "Kalian berdua janjian atau gimana? Aku nanya Kinan, disuruh nanya ke kamu. Sekarang udah ngomong sama kamu, malah balik ke Kinan lagi."
Ia kembali terdiam.
"Alasan yang serius?" Tebak Tama. "Seserius apa?"
Ia masih terdiam sampai akhirnya Tama membuat keputusan. "Kita bicarakan di rumah. Weekend ini aku pulang."
Akhir pekan Tama benar-benar muncul di depan pintu. Sasa langsung menghambur ke dalam pelukan. Sementara Umay menyusul di belakang. Menyerocos tanpa henti menceritakan semua kejadian menarik selama Tama tak berada di rumah.
"Sasa curang, Pa." Lapor Umay. "Begitu nenek datang ke sini, Sasa langsung pindah tidur ke kamar Papa sama mama. Curang, kan? Janjinya aja mau tidur sendiri. Tapi?" Umay mengangkat bahu dengan wajah sok serius.
"Ih, enggak curang, Abang!" Protes Sasa. "Sasa cuma kasihan sama mama tidurnya sendirian. Jadi ditemenin, deh. Kalau nenek kan ... bisa tidur sama Sparkle di kamar Sasa. Hihihi ...."
"Sekarang Papa pulang, Sasa tidur di mana?" Tama mengerling ke arahnya.
"Ngng ... di kamar Sasa sendiri," jawab Sasa cepat. "Semalam kata nenek, Sasa harus tidur sendiri biar Papa sama Mama bisa berduaan. Hihihi ...."
Tama tak sempat mengatakan apapun padanya. Karena Sasa dan Umay langsung memonopoli suaminya itu. Saling berebut menceritakan hal-hal lucu hingga mereka bertiga tertawa tergelak-gelak.
Sementara Icad dan Reka hanya terdiam memperhatikan tingkah polah kedua adiknya yang terlalu bersemangat bahkan berlebihan dalam menyambut kepulangan Tama.
Ia hanya mendapat jatah pelukan singkat dari belakang ditambah ciuman sekilas di puncak kepala saat tengah memasak untuk makan malam di dapur. Benar-benar singkat dan sekilas tak bisa berlama-lama. Sebab Yuni dan mamak tengah hilir mudik dari dapur ke ruang makan mempersiapkan hidangan.
"Kangen sama istriku," bisik Tama sebelum kembali ke ruang tengah karena Sasa telah memanggil-manggil.
Usai makan malam, Tama masih menyempatkan diri bermain catur dengan Reka dan Icad. 1 lawan 2. Sementara ia mengantarkan Sasa tidur bersama mamak.
"Nanti kupindah," ujar Tama ketika ia mendapati Umay sudah mendengkur di karpet ruang tengah. Tepat di samping Reka dan Icad yang masih asyik bermain catur melawan Tama.
Ia bahkan bisa menyelesaikan membaca handout level 1 selama menunggu Tama. Sampai terkantuk-kantuk lalu akhirnya tertidur. Dan terkejut ketika seseorang tiba-tiba membalikkan tubuhnya.
Ia yang masih setengah tertidur tak bisa mengelak ketika Tama melampiaskan gelora tanpa ditahan-tahan. Berpisah selama dua minggu lebih membuatnya kelabakan karena Tama tak berubah sedikitpun. Justru semakin buas dan ganas.
Ketika semua usai, Tama langsung meraih kepalanya untuk berbaring di lengan meski ia masih berusaha menormalkan napas.
"Reka kenapa?" Bisik Tama seraya mengecup keningnya lembut.
"Ada kata-kata temannya yang menyinggung." Ia mencoba menjawab secara diplomatis.
"Dibully?" Tebak Tama.
"Seperti itu," jawabnya singkat.
"Parah. Masih ada hal begini di sana?" Tama menggeleng.
"Sejak kasus Anja, kinerja SDM Pusaka Bangsa udah kutandai. Ternyata belum berubah juga." Suara Tama terdengar menggeram.
"Seberapa parah?" Tama meraih dagunya hingga mereka saling beradu pandang. "Menyangkut harga diri atau sekedar candaan ABG? Perlu ditindaklanjuti atau cukup diberi peringatan?"
Pipinya merona sebab tatapan tajam Tama terasa begitu menusuk. Namun ia masih bisa memberi jawaban terbaik. "Reka anak baik, Mas. Perkelahian itu respon dari aksi. Reka hanya bereaksi dengan membela diri. Aku bisa memahami."
Tama masih menatapnya. "Siapa yang jadi bahan olok-olok? Reka sendiri? Keluarganya?"
Ia mengulurkan tangan untuk mengusap garis cambang Tama yang terasa bersih dan halus. Sepertinya karena rajin bercukur setiap hari. "Kami berdua."
Tama menangkap tangannya dengan mata berkilat.
Ia berusaha tersenyum. "Aku dan mba Kinan yang jadi bahan olok-olok teman-teman Reka."
"Mereka ngomong apa tentang kalian?" Mata Tama semakin berkilat. Dan ini membuatnya khawatir.
Namun ia masih berusaha untuk tersenyum meski rasanya sulit. "Aku lupa, Mas. Intinya Reka membela diri. Bukan sengaja memulai apalagi berniat melukai. Reka anak baik. Dia hanya butuh perhatian dan dukungan kita."
Ia tak mungkin mengatakan alasan sesungguhnya Reka mengamuk di sekolah. Kilatan yang muncul di kedua mata Tama sudah menjelaskan semuanya. Jika Tama sanggup melakukan apapun untuk menuntaskan permasalahan ini.
Ia tak ingin Tama terbakar emosi. Tak ingin Tama bertindak gegabah hanya karena olokan anak belasan tahun yang belum memahami arti hidup. Tak ingin Tama keliru dalam mengambil keputusan.
"Reka perlu pindah sekolah?"
Jarinya kembali menelusuri garis cambang Tama. "Itu keputusan mas dan mba Kinanti. Dengan persetujuan Reka. Aku ...."
"Kamu mamanya Reka sekarang." Tama menangkup dan mengusap pipinya lembut. "Kamu berhak memberi pendapat."
Ia memandang Tama. "Reka perlu pindah kalau memang dia mau pindah."
Dan jawaban Reka ketika mereka bertiga duduk bersama di ruang tengah sangat mengejutkan.
"Ngapain mesti pindah? Cape pindah-pindah terus."
Ia dan Tama saling berpandangan.
"Lagian anak-anak juga udah keok. Nggak bakalan berani macam-macam."
***
Kejora
Cowok jangkung yang pernah menjadi teman duduknya selama perjalanan kereta api dari Jogja ke Jakarta itu langsung sukses menjadi bintang baru Pusaka Bangsa.
Cool. Begitu teman-teman ceweknya bilang.
"Reka tuh cakep banget lagi, Jor. Cuek cuek gimana gitu." Hira terkikik sendiri tiap kali membicarakan tentang Reka.
"Mana jago renang lagi. Calon atlet masa depan." Mata Hira menerawang. "Kebayang nggak sih, kalau suatu saat kita keseret ombak atau kebawa arus. Trus Reka mati-matian nyelametin kita? Ugh, so sweet ... best romantic ever."
Hampir setiap hari cewek-cewek datang ke kelas mereka hanya untuk menjumpai Reka. Tak terkecuali Driti dan Tanvi, duo cewek paling nge-hits seantero Pusaka Bangsa.
Sudah tak terhitung berapa kali Driti menyimpan kotak berisi cokelat atau gift ke laci meja Reka. Namun tak pernah digubris.
"Ya, ampun. Cokelat gue dicuekin," keluh Driti saat mendapati semua kado pemberiannya menumpuk di sudut laci Reka.
Tanvi tak mau ketinggalan. Turut menyimpan gift ke dalam laci meja Reka. Namun nasibnya sama dengan Driti. Dicuekin.
"Uhg, semakin dia cuek ... semakin ngegemesin nggak, sih?" Ujar Tanvi berapi-api seperti orang sedang berkampanye. "Semakin bikin gue penasaran."
Dan ke cool an Reka kian menjadi di mata cewek-cewek se Pusaka Bangsa ketika dengan gagah berani menolong Gupta dari bulan-bulanan dedengkot sekolah, Agler dan Edgard.
"Ugh, ksatria banget nggak, sih?" Mata Hira semakin terlope-lope saat melihat aksi heroik Reka. Sebab selama ini, tak seorangpun berani melawan dominasi Agler dan Edgard.
Namun semua itu tak menjadikannya ikut larut dalam euforia Reka mania. Selain karena ia sudah memiliki first love nya sendiri. Juga karena Reka sebenarnya tak se perfect yang terlihat.
"Ibunya lagi sakit sampai harus dirawat di luar negeri," ujarnya ketika Hira terheran-heran karena ia sama sekali tak tertarik dengan Reka. "Sakit dalam tanda kutip, ya."
"Hah? Serius?" Mata Hira terbelalak. "Sakit tanda kutip gimana?"
"Trus kemarin, bokapnya juga baru married lagi," imbuhnya setengah mencibir. Teringat akan obrolan mami dan tamu undangan lainnya tentang gosip siapa sebenarnya pengantin wanita yang duduk di pelaminan.
Hanya saja, ia tak pernah menyangka jika cibiran isengnya menimbulkan masalah di kemudian hari.
Masalah pelik yang sangat disesalinya.
***
Bu Suci
Seharusnya, ia lebih bisa bersikap profesional saat menjalankan tugas sebagai guru bimbingan konseling di sekolah. Namun keramahan yang dimilikinya menguap tatkala menghadapi kasus siswa pindahan baru dari Surabaya.
Gemintang Rekata Yuda. Cucu mantan Wakapolri yang juga donatur tetap Pusaka Bangsa. Mengingatkannya akan kesedihan keponakan tercinta, Samara. Gadis cantik yang dibuat patah hati sampai harus dirawat di rumah sakit.
Oleh sebab itu, baginya profesional hanya tinggal nama.
***