Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 90. Wanna Take Forever Tonight


Wanna Take Forever Tonight


-diambil dari lirik lagu berjudul '(I wanna take) forever tonight' yang dinyanyikan oleh Peter Cetera & Crystal Bernard-


***


Jakarta


Icad


Mereka berempat akhirnya pindah ke kamar mama di lantai 25. Kamar yang ruangannya lebih luas berkali lipat dan sangat mewah.


Tentu saja karena Sasa terus menangis memanggil nama mama. Adiknya itu memang tak pernah berpisah dengan mama. Selama ini selalu menempel ke manapun mama pergi. Tak heran jika Sasa cemberut sepanjang hari dan akhirnya menangis karena harus terpisah kamar hotel dengan mama.


Sudah tak terhitung bujukan dari nenek, yahbit, tante Anja, tante Dara, bahkan dirinya. Tak satupun mempan membujuk Sasa agar berhenti menangis dan tetap tinggal di lantai 24.


Tapi Sasa adalah Sasa. Meski sebelumnya menangis, tapi kalau sudah ada obatnya yaitu bertemu dengan mama. Rasa sedih langsung hilang. Dalam sekejap bisa kembali ceria.


Seperti saat ini, ketika ia tengah menikmati kelip lampu gedung-gedung bertingkat dari balik jendela kaca lantai 11. Tempat di mana acara resepsi akan berlangsung sebentar lagi.



credit picture : YouTube


Sambil sesekali berusaha mengendurkan dasi yang terasa mencekik leher. Sasa justru sedang terkikik-kikik bersama Umay di atas sofa.


"Mas Reka bawa apaan, tuh?"


"Kamera." Reka, yang juga telah mengenakan jas rapi seperti dirinya. Terlihat tenang dan santai sambil mengutak-atik kamera.


Beda dengannya yang merasa tak nyaman dan kegerahan memakai setelan kemeja, dasi, rompi, dan jas. Meski AC di ruangan ini terasa sejuk, namun karena tak terbiasa memakai pakaian resmi, membuatnya merasa cukup tersiksa.


"Kalau gitu fotoin Sasa dong, Mas Reka." Sasa bahkan sudah bergaya dengan centilnya seperti fotomodel sungguhan.


"Aku, Aku!" Umay mengangkat tangan kanan. "Aku juga mau difoto."


"Mas Reka kenapa bawa-bawa kamera, Mas?" Dan Sasa pun mulai berisik mencecar Reka dengan segudang pertanyaan tak penting.


"Buat motret pemandangan menarik."


"Aku! Aku!" Lagi-lagi Umay mengangkat tangan. "Aku menarik buat difoto." Kemudian Umay mempraktekkan gaya meleletkan lidah dengan mata melotot dan leher tercekik. "Gaya zombie. Gggrrrrhhhh ...."


"Ih, Abang!" Sasa tertawa-tawa sambil memukuli punggung Umay. "Serem, ih! Nggak mau!"


"Mas Reka suka motret, ya?" Sasa kembali bertanya ketika Reka mulai mengarahkan kamera ke sembarang arah.


"Iya."


"Suka motret apa aja Mas Reka?"


"Banyak."


"Sasa mau difoto lagi, dong."


Sementara di sudut ruangan, om Tama yang sudah berpakaian rapi mengenakan seragam lengkap dengan sederet lencana berwarna emas, perak, dan perunggu menggantung di dada sebelah kiri. Terlihat sedang mengobrol dengan om Sada, seorang pria berjas hitam dan dua pria berseragam polisi. Sedangkan di ruang rias, mama masih dikerubuti oleh tiga orang wanita yang tengah memakaikan kerudung.


Pukul tujuh kurang sepuluh menit, tante Anja dan dua orang pria berpakaian batik meminta mereka berempat untuk bersiap. Sasa dan Umay berjalan paling depan. Disusul dirinya dan Reka. Lalu mama dan om Tama.


"Sasa malu, Bang," bisikan Sasa terdengar cukup keras hingga terdengar ke belakang. "Banyak orang. Semua pada ngelihatin kita."


"Tenaaang, Sa, ada Abang." Umay menepuk dada dengan wajah sumringah. Lalu meraih tangan Sasa. "Pegangan sama Abang, sini."


Tapi begitu mereka keluar dari ruang keluarga. Berjalan melintasi lantai yang licin saat diinjak. Melewati sekumpulan orang-orang berwajah asing yang memandang takjub dengan senyum terkembang. Menuju pintu gerbang indah yang terbuat dari begitu banyak bunga segar. Umay mendadak menciut.


"Sa." Suara Umay terdengar gemetaran. "Ternyata orangnya makin banyak, Sa."


"Dibilangin sama Sasa juga." Sasa tiba-tiba menoleh ke belakang. "Abang, aku mau di situ. Takuuut ...."


Tapi keburu pria berkemeja batik lengan panjang yang mendampingi mereka berseru. "Jalannya lihat ke depan adik-adik. Jangan lupa ...." Sambil mempraktekkan senyum lebar. "Smileeee ... cheeeeeeesseee ...."


Sasa masih menoleh ke belakang. Merengut memandanginya. Umay menarik-narik tangan Sasa agar melihat ke depan. Dan ia menautkan alis meminta Sasa berhenti menoleh.


Sementara dari ruangan bertuliskan Lentera Ballroom, sayup-sayup mulai terdengar suara alunan musik orkestra. Yang seolah sengaja dimainkan untuk menyambut kehadiran mereka.


Ia menebak, nada pertama yang terdengar berasal dari alat musik tiup, tapi bukan terompet. Terdengar begitu mendayu. Disusul dentingan piano, lalu biola. Semuanya menyatu menghasilkan musik yang sangat indah. Baru kali ini ia mendengar musik sebegitu spektakuler secara langsung. Sampai sampai membuat telinganya bergetar, bulu kuduknya meremang, dan dadanya dipenuhi luapan rasa sukacita yang entah datang dari mana.


(musik yang dimainkan oleh orkestra adalah "Know you by heart", Dave Koz).


"Reka maju." Tiba-tiba terdengar suara om Tama. "Di depan sama Sasa."


Reka langsung maju menggandeng tangan Sasa. Sementara Umay yang ternyata berwajah pucat pasi mundur ke belakang. Berjalan di sampingnya menggantikan Reka.


"Aman ... aman ...." Umay mengelus dada dengan penuh kelegaan. Ternyata bocah berisik itu bisa pucat juga.


Sasa masih menoleh ke belakang dengan wajah ragu. Namun segera berbalik ketika Reka mengusap puncak kepala Sasa sambil berbisik, "Sama Mas, Sa."


Sebelum melangkah melewati pintu gerbang dengan sejuta bunga indah, ia sempatkan untuk menoleh ke belakang. Memandang mama yang melangkah pelan sambil menggamit lengan om Tama. Mama tersenyum ke arahnya. Begitupun om Tama.


Namun ia tak sanggup untuk membalas. Sudah keburu berbalik ke depan karena tiba-tiba matanya memanas.


Mamanya yang cantik. Yang membuat banyak pria berdatangan ke rumah namun tak menjadikan mama lupa diri. Mamanya yang sabar. Meski hidup yang mereka jalani sebelum semua ini terjadi tak bisa dibilang mudah.


Tanpa sadar ia kembali menoleh ke belakang.


Melihat mama yang sesekali tersipu. Sebab sebagian besar tamu undangan mengarahkan ponsel masing-masing untuk memotret mereka. Kilatan lampu blitz mengiringi perjalanan mereka melintasi karpet merah tebal menuju kursi pelaminan.


Ia tersenyum dengan wajah kaku. Malam ini mama terlihat semakin cantik berkali lipat. Pintanya hanya satu, semoga mama bahagia.


"Gileee beneeeer. Bokap baru lo tajir melintirrrrr." Boni duduk di sebelahnya dengan mulut penuh makanan. Sementara Kioda yang sejak tragedi meninggalnya pak Markus menjadi lebih pendiam. Tengah khusyu menikmati makanannya sendiri.


"Kalau anak-anak di sekolah tahu siapa bokap baru lo." Boni menggelengkan kepala. "Dijamin bakalan tunduk semua. Nggak ada tuh namanya jadi bulan-bulanan. Dipalak, digen cet, dikerjain."


"Jangan ada yang tahu," jawabnya singkat. Tak pernah terlintas sedikitpun keinginan untuk mendompleng nama om Tama. Statusnya hanyalah anak tiri. Bukan sesuatu yang harus dibanggakan.


"Hih." Boni mencibir. "Kalau gue jadi lo, bakalan ganti PP (profile picture) berdua ama bokap baru."


Ia memandang mama di kejauhan. Tengah tersenyum menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang antreannya mengular. Namun antrean tersebut harus terpotong oleh kehadiran sejumlah pria dewasa berbadan tegap berpakaian serba hitam dengan alat komunikasi menempel di telinga.


"Gila! Gila!" Boni yang masih mengunyah makanan langsung bangkit begitu mendengar penjelasan MC jika sebentar lagi tamu kehormatan akan segera hadir di tengah-tengah mereka.


Sementara Kioda yang awalnya acuh malahan sudah bangkit lebih dulu. Merogoh ponsel di saku. Lalu tergopoh-gopoh menghampiri kerumunan orang-orang di sepanjang lintasan karpet merah menuju kursi pelaminan.


***


Reka


Ia sempat menemani bunda dan pakde Pram duduk di kursi menyantap hidangan.


"Kami berangkat bulan depan." Bunda yang malam ini terlihat lebih segar dibanding terakhir kali mereka bertemu menepuk bahunya. "Reka jadi ke Surabaya, kan?"


"Jadi." Ia mengangguk. Diam-diam merasa senang melihat bunda banyak tersenyum malam ini. Semoga semakin bahagia, bunda.


Namun bunda dan pakde Pram tak bisa tinggal lebih lama.


"Ada resepsi lain yang harus kami hadiri," bisik bunda saat memeluknya. "Bunda sayang sama Reka. Bunda cinta sama Reka. Baik-baik di sini sama ayah."


Ia mengantar bunda juga pakde Pram menemui meja om Sada dan keluarga lainnya. Para orang dewasa itu sempat berbincang sambil saling tertawa. Seolah malam ini menjadi malam kebahagiaan semua orang. Lalu bersama om Cakra menemani bunda dan pakde Pram berjalan hingga ke depan lift.


"Baik-baik, ya," bisik bunda sekali lagi sebelum melangkah memasuki lift.


Ia balas memeluk bunda dengan sepenuh hati. Rasanya semua kesedihan, kekecewaan, kesakitan, dan ketakutan yang selama ini mengungkung perlahan mulai luruh. Meski belum sepenuhnya menghilang. Namun sedikit demi sedikit membuka pikirannya bahwa bahagia itu ada.


Saking lamanya bunda memeluk seolah enggan melepaskan, membuat om Cakra harus menahan tombol lift agar tak menutup.


Sepeninggal bunda dan pakde Pram, om Cakra langsung kembali ke dalam ballroom. Sementara ia memilih untuk mengabadikan suasana sekitar.


Memotret pintu masuk yang terbuat dari bunga berwarna-warni. Membidik backdrop tempat para tamu undangan berfoto yang juga dipenuhi bunga segar. Merekam tamu yang mengantre menuju kursi pelaminan untuk memberi ucapan selamat. Mengambil gambar lampu kristal besar yang menggantung, bunga-bunga yang terhampar hampir di di setiap sudut ruangan.



credit picture : whitepearl decoration.


"OM!" Panggilnya pada om Devano yang sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik.


Om Devano sempat terkejut sebelum melingkarkan lengan ke bahu wanita di sebelahnya sambil tersenyum lebar.


Ia mengarahkan kamera ke semua pemandangan yang menarik. Seperti tiga pria berjas hitam namun ketiga-tiganya terlihat kebesaran di badan. Sedang berdiri tak jauh dari tempat para chef memasak, sedikit terpisah dengan tamu-tamu yang lain. Tapi ketika ia mulai mencari angle yang pas, om Cakra datang menghampiri tiga pria tersebut.


Lalu memotret Icad yang berkali-kali berusaha melonggarkan dasi. Sedang mengobrol dengan dua orang temannya di meja paling sudut.


Sasa, Lana, dan seorang anak perempuan yang tak dikenalnya. Tiga serangkai itu bolak-balik ke sana kemari sambil bergandengan tangan dan tertawa cekikikan.


Kemudian keisengannya merambah ke meja VVIP yang sedikit terlindungi dari pandangan tamu lain. Dibatasi oleh rangkaian bunga segar dan kelip lampu. Di mana para pria dewasa berjas rapi tengah saling berbincang sambil sesekali tertawa.


Klik!


Ia memfoto seorang pria paruh baya yang sering dilihatnya muncul di layar televisi ketika bencana alam berskala nasional terjadi.


Klik!


Ia juga mendokumentasikan sejumlah pria tua berperut gendut yang duduk melingkar di satu meja. Satu di antaranya ia pastikan pejabat negara yang kerap muncul dalam berita politik terkini.


Klik!


Kemudian beralih membidik satu meja paling menarik perhatian para tamu lainnya. Meja berisi sejumlah pria seusia ayah yang memiliki wajah bak aktor.


"Reka." Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya. "Dipanggil uti," ucap om Cakra sambil menunjuk meja paling depan di mana uti sedang melambaikan tangan.


"Sini." Begitu kode mulut uti yang dipahaminya.


Bersama om Cakra, ia berjalan melewati sejumlah meja yang bertuliskan tamu VIP dan VVIP.


"Kami memproduksi 6.065 ton konsentrat per hari," ucap seorang pria ketika ia berjalan di antara meja-meja tersebut. ©


"Dalam setiap ton konsentrat mengandung 39,34 gram emas," sambung suara yang sama. "Kami harus mengeluarkan dana sekitar 600 juta US dollar untuk pembangunan fisik smelter."


"Kapan rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi VII?"


"Semua bisa diatur."


"Tak ada makan siang yang gratis."


"Saya memberi sebuah penawaran."


Ia mempercepat langkah meninggalkan deretan meja yang dipenuhi perbincangan serius. Mengekori om Cakra yang lebih dulu sampai di meja uti.


"Ini dia ... cucu pertama saya." Uti memintanya untuk menyalami seorang wanita bergaun biru tua. "Namanya Reka."


Ia tetap meraih tangan wanita itu untuk memberi salam. Namun sambil terbengong-bengong. Benar-benar tak bisa mengingat jika mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Lho, iya?" Uti terkejut. "Pernah ketemu di mana? Reka ini baru pindah ke Jakarta. Sebelumnya tinggal di Surabaya."


"Di ...." Wanita itu masih terpana melihatnya. Lalu berseru riang. "Di Gambir. Iya betul, di Gambir. Owalah, nak ... nak ... ternyata kamu cucu bu Niar, putranya dik Tama?"


Ia hanya meringis karena tak kunjung mengingat di mana pernah bertemu dengan wanita tersebut.


"Sekarang tinggal di Jakarta?" Wanita tersebut antusias bertanya.


"Iya." Uti yang menjawab. "Bundanya harus pergi sementara waktu ke Stockholm, jadi Reka tinggal di sini."


"Wah?" Wanita itu semakin membeliak gembira. "Sekolah di mana? Apa di PB juga? Semua keluarga besar pak Setyo pasti bersekolah di PB. Kenal dengan putri saya nggak? Dia sekolah di PB juga. Baru naik kelas delapan tahun ini."


Wanita itu menarik seseorang yang duduk di sebelah. "Jora. Pernah ketemu juga di Gambir. Itu, waktu subuh-subuh baru turun dari kereta ...." Wanita itu tertawa sumringah.


Tapi tidak dengan gadis bergaun warna silver yang tengah duduk menghadap piring berisi waffle saus strawberry. Gadis itu jelas-jelas memasang wajah cemberut dan enggan menatapnya.


***


Anggi


Ia dan Rendra saling memandang sambil melempar senyum. Sementara tangan mereka bertautan di bawah meja. Menikmati suasana pesta yang meriah.


Hatinya merasa tenang karena Arung ditemani mamah dan papah di lantai 21. Iya, Rendra melakukan semuanya. Memesan tiket kereta, memilih kamar yang bersebelahan, tanpa sepengetahuannya. As always.


"Harusnya Adit ikut." Rendra menyayangkan. "Kapan lagi bisa staycation sekeluarga."


Sayangnya Adit tengah sibuk mengurus pemilu raya mahasiswa. Tak bisa bergabung dengan mereka di Jakarta.


"Pestanya meriah banget," ujarnya sambil memperhatikan meja yang diduduki oleh dua orang menteri dan ketua lembaga tinggi negara.


Rendra mengangguk setuju. "Tempat bagus untuk kesepakatan bisnis."


Ia mencibir. "Di hajatan orang masih mikirin bisnis."


Rendra menoleh seraya tersenyum. "Kita lihat, apa yang bisa dibawa pulang ke Jogja setelah ini. Big fish (tangkapan besar, dalam hal bisnis)."


Ia memutar bola mata. Namun tak mengatakan apapun. Rendra selalu seperti ini. Di semua lini kehidupan tak pernah rela melewatkan kesempatan barang sekecilpun.


"Selamat malam hadirin para tamu undangan semuanya ...." Sebuah suara yang cukup dikenal membuat mereka berdua melihat ke arah panggung. "Malam ini kami akan mempersembahkan ...."


"Mas Sada." Ia tersenyum melihat mas Sada dan teh Dara sudah berdiri di atas panggung. Pasangan panutan itu terlihat tengah bersiap.


"Special perform." Rendra balas tersenyum seraya mengeratkan genggaman tangan mereka berdua.


Tak lama kemudian musik mulai mengalun. Dan sebagian besar tamu undangan bertepuk tangan mendengar suara yang lumayan merdu. Sekelompok pria di meja paling ujung bahkan berdiri sambil bertepuk tangan.


"I want to take forever tonight


(aku ingin membawa malam ini selamanya)


Wanna stay in this moment forever


(ingin berdiam dalam kondisi ini selamanya)


I'm gonna give you all the love that I've got."


(aku ingin memberimu semua kasih yang kudapat)


(Peter Cetera & Crystal Bernard, (I wanna) take forever tonight)


Ia tengah menikmati lagu yang dinyanyikan oleh mas Sada dan teh Dara, ketika seorang pria berkemeja batik lengan panjang berjalan menghampiri Rendra.


"Mas Syailendra?" Pria itu berkata dengan suara rendah sambil memperlihatkan layar ponsel.


Begitu pria berkemeja batik pergi, Rendra terkekeh sambil menegakkan bahu. "Kebetulan, udah lama nggak konser."


Ia hanya tertawa ketika Rendra pamit pergi ke atas panggung. "Kapan lagi bisa perform di depan pak presiden."


Padahal mereka berdua tahu, jika tamu kehormatan dan puluhan Paspampres sudah pergi meninggalkan ballroom beberapa saat lalu.


"Selamat malam."


Ia memandangi Rendra yang kini telah duduk di atas panggung dengan sebuah gitar akustik.


"Persembahan spesial untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia."


Ia tersenyum malu. Karena meski tengah berada di atas panggung, namun Rendra jelas-jelas memusatkan perhatian padanya.


"Shakespeare said." Rendra mengatakan semua dengan mata lurus menatapnya. "When i saw you, i fell in love (Saat aku melihatmu, aku jatuh cinta) ...."


Dan dari jarak puluhan meter ia bisa melihat Rendra mengedipkan sebelah mata. "And you smiled, because you knew (dan kamu tersenyum, karena kamu tahu)."


Pipinya langsung memanas sampai menjalar ke telinga. Teringat kembali akan momen yang sama namun dalam situasi berbeda. Something never change (sesuatu tak pernah berubah).


"Aku ingin dirimu


Tetap jadi milikku


Bersamaku mulai hari baru


Hilang ruang untuk cinta yang lain."


(Glenn Fredly, Tulus, Yovie W. Adu Rayu)


"Layak untuk cantikmu, itu aku ...."


***


Umay


Ia membolak-balikkan badan di atas tempat tidur dengan gelisah.


Pesta telah usai. Mereka juga sudah kembali ke kamar mewah di lantai 25. Mencuci tangan dan kaki, menggosok gigi, dan berganti baju meski sambil terkantuk-kantuk.


Namun begitu siap untuk tidur, matanya justru tak mau terpejam. Aneh. Padahal seluruh tubuhnya pegal-pegal setelah semalaman berjalan ke sana kemari mengambil makanan yang enak-enak.


Apa karena kasur ini terlalu empuk? Tiap ia bergerak meski sedikit, kasur langsung mengikuti setiap gerakannya. Empuk sekali sampai-sampai ia berpikir sedang berbaring di atas awan.


Begitu juga dengan bantalnya. Halus, lembut, lebih empuk berkali lipat. Tapi rasa yang terlalu enak dan menyenangkan malah membuatnya susah tertidur. Huh! Lebih enak tidur di atas kasur keras dan tipis miliknya.


Ia akhirnya membuka mata segaris berniat mengintip. Bang Icad sama sepertinya. Belum tertidur. Meski tak segelisah dirinya yang berkali-kali membalikkan badan dengan kesal. Sementara mas Reka masih asyik mengutak-atik kamera.


Klek!


Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Belum tidur?" Sapa papa Tama ke arah mas Reka. Sedangkan ia pura-pura memejamkan mata. Namun perlahan kembali mengintip.


"Belum ngantuk," jawab mas Reka yang tetap asyik berkutat di depan kamera.


"Sama." Papa Tama berjalan menuju televisi. Kemudian menyalakannya.


"Ayah nggak bisa tidur, nih. Main PS, yuk." Papa Tama menoleh ke arah mas Reka yang langsung menyimpan kamera ke atas meja kecil di samping tempat tidur.


"Ayah bawa PS?" Kini mas Reka sudah duduk di depan televisi di samping papa Tama.


"Barusan dianterin sama om Devano," jawab papa Tama singkat. "Mau main apa?"


Dan lima belas menit kemudian, mereka berempat sudah duduk di depan layar televisi dan memelototi game di dalamnya.


"YEAY!" Ia berseru riang karena berhasil mengalahkan mas Reka.


"Berani?" Mas Reka menyeringai dengan wajah sebal. "Kita main lagi. Bakal kuhabisin kamu."


Ia tertawa senang dan bersiap untuk kembali bermain. Tapi papa Tama melarang. "Eh, gantian ... gantian. Papa juga mau main. Ayo, Cad. Giliran kita."


Bang Icad yang biasanya tak pernah tertarik bermain game kini terlihat paling antusias. "Siap."


"Kalian berdua mainnya ntar kalau kami ada yang kalah." Papa Tama berkata cepat dengan mata lurus menatap layar televisi. Berkonsentrasi dengan game yang sedang dimainkan.


"Ampun, nggak?" Seru papa Tama karena bang Icad mulai terdesak. Pasti kalah.


"Enggak!" Bang Icad menggeleng sambil berusaha mempertahankan diri dari serangan papa Tama.


"Sana, Cad. Ke sana!" Mas Reka ternyata berpihak pada bang Icad. "Awas! Ada chance! Kabur! Kabur!"


Dan ia dengan senang hati menyemangati papa Tama. Papa paling keren di matanya. "Papa pasti menang. Abang bukan lawan seimbang."


Abang dan mas Reka spontan melihat ke arahnya dengan wajah sebal. Tapi ia tak peduli. Dukungannya kali ini pasti berhasil. Sebentar lagi papa Tama akan memenangkan permainan.


Tapi ....


Klek!


Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Kemudian terdengar suara yang tak diharapkannya. Suara paling mengerikan saat ia tertangkap basah bermain game tak mengenal waktu.


"MasyaAllah? Ternyata belum pada tidur?"


Mereka berempat menoleh ke arah pintu di mana mama berdiri sambil menggelengkan kepala.


Ia langsung melompat ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut. Bang Icad dan mas Reka tak bersuara. Hanya papa Tama yang terkekeh.


"Kita terjaring razia, anak-anak?"


"MasyaAllah, Mas?" Suara mama terdengar tak suka. "Ini sudah jam berapa?"


Ia mengintip jam dari balik selimut. Wah, pantas mama marah. Ia pun kembali bersembunyi namun sambil tetap mengintip.


"Bukannya capek setelah semalaman ada acara. Malah main game." Mama terdengar mengembuskan napas panjang. "Siapa yang punya ide main game sampai semalam ini?"


Ia yang bersembunyi di balik selimut harus menahan tawa karena melihat bang Icad dan mas Reka sama-sama menunjuk ke arah papa Tama.


***


Keterangan :


©. : dikutip dari CNBCIndonesia edisi Februari 2020


Konsentrat : adalah pasir olahan dari batuan tambang (ore), yang mengandung tembaga, emas, dan perak.


Smelter. : adalah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berguna untuk meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas dan perak hingga memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir.