Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 41. Neubrie Loen Wate


Neubrie Loen Wate


(Beri aku waktu -bahasa Aceh-)


***


Jakarta


Pocut


"Sasa!" Tama memberi sambutan hangat dengan mengangkat tubuh Sasa tinggi-tinggi. "Ketemu lagi."


Sasa mengangguk-angguk sambil tertawa cekikikan. Sementara Agam kembali berdiri seraya mengusap tengkuk dengan wajah bingung. Begitu juga bu Niar dan Anjani, ibu dan anak itu terlihat menyimpan tanda tanya. Hanya Dara yang tersenyum penuh arti. Namun bukannya tenang melihat senyuman Dara, ia justru merasa semakin gelisah.


"Doa Sasa sama Bang Umay terkabul, Om," ucap Sasa dengan suara yang cukup keras. Sembari masih tertawa cekikikan. Sebab Tama mengangkat tubuh Sasa semakin tinggi lagi.


"Doa apa?" Tanya Tama dan Anjani bersamaan. Diiringi kernyitan heran bu Niar. Juga kerlingan Agam ke arahnya.


Membuatnya bertambah gugup bukan kepalang. Sampai-sampai mengabaikan Aran yang sedari tadi asyik berceloteh sambil menunjuk-nunjuk Anjani, "Uma ... uma ...."


"Doa kalau ...."


"Pakde! Pakde! Lana mau juga diangkat ke atas kayak Sasa!"


Ia akhirnya bisa sedikit bernapas lega saat Lana memotong ucapan Sasa di waktu yang tepat. Lana bahkan menarik-narik celana Tama agar bisa segera mendapat perhatian.


"Lana mau juga?" Tama tertawa. Langsung menurunkan Sasa, kemudian berganti mengangkat tubuh Lana tinggi-tinggi.


Kini gantian Lana yang tertawa cekikikan. Lana bahkan berteriak-teriak kegirangan karena Tama melempar tubuh Lana ke atas, lalu menangkapnya kembali.


Tapi ia harus segera berpaling dari pemandangan yang memiliki segudang rampai rasa. Perpaduan antara cemas, khawatir, gugup, namun juga menyentuh hati tatkala menyaksikan keriaan Lana dan Sasa. Dua gadis kecil itu bahkan terus menerus tertawa kegirangan.


"Sasa bisa akrab sama Mas Tama?" Gumam Agam keheranan. Entah sedang bertanya atau memberi pernyataan. Sembari meraih Aran dari tangannya. Sebab Aran mulai merengek sambil menunjuk-nunjuk ke arah Agam, "Ayah! Ayah!"


Namun ia tak menjawab, karena keburu bersalaman dengan bu Niar.


"Saya tunggu kok nggak datang lagi, Cut," bisik bu Niar saat mereka berpelukan.


Ia hanya tersipu.


"Kalau ada waktu ... main ke sini. Ajak anak-anak biar bisa main sama Aran," sambung bu Niar seraya mengusap bahunya. "Biar Aran nggak kesepian ditinggal bundanya terus."


Ia mengangguk sambil tetap tersipu.


Dan ketika mereka semua berjalan beriringan menuju karpet yang telah digelar memenuhi ruang tengah, sudut matanya menangkap Tama masih tertawa-tawa sambil menggendong Lana dan Sasa secara bersamaan.


"Mas Tama beneran harus punya anak cewek deh," gumam Anjani yang berjalan tepat di belakangnya. "Bisa bikin cair suasana."


"He eh," jawab Agam singkat.


"Aneh nggak sih? Anak kecil malah pada nempel ke Mas Tama," sambung Anjani keheranan. "Pada nggak serem apa sama Mas Tama?"


"He eh," Agam kembali menjawab singkat.


Mereka duduk melingkar di atas karpet yang membentang. Bu Niar sedari tadi berbincang serius dengan mamak. Sementara Anjani dan Agam asyik menyemangati Aran yang sedang belajar melangkah.


"Aran ... ayo peluk bunda!" Perintah Agam, yang dengan sengaja memberdirikan Aran berjarak tiga meter di depan Anjani.


Lalu sembari terkekeh-kekeh, Aran mulai melangkahkan kaki gempalnya mendekati Anjani. Lengkap dengan kedua tangan yang terangkat ke atas. Dan ... bruk! Aran sukses memeluk bundanya. Membuat Agam dan Anjani sontak bertepuk tangan, kemudian sama-sama memeluk Aran yang bersorak kegirangan.


Sedangkan ia masih berusaha mengurangi kadar kegugupan dengan mendengarkan cerita Dara.


"Tadinya Lana keukeuh (ngotot) pingin bawa satu anak empusnya ke sini. Cenah (katanya) mau buat Sasa."


"Aduh, Neng," kilah Dara dengan logat yang khas. "Jangan sekarang yah. Tanya dulu ke Sasa ... suka kucing enggak. Terus minta ijin dulu sama mama Sasa."


Ia tersenyum mengangguk, "Sasa suka kucing. Tapi belum jadi peliharaan. Sebatas suka memberi makan kucing yang lewat saja."


"Jadi kucingnya datang dan pergi silih berganti ya?" Gumam Dara. Lalu mereka berdua sama-sama tertawa.


Dan berjarak beberapa meter di hadapannya, para anak lelaki terlihat sedang saling bercanda dan tertawa. Terkecuali Lana dan Sasa, yang masih mengerubuti Tama sambil sesekali cekikikan dengan kenesnya. Entah sedang mengobrolkan apa.


"Lihat deh," bisikan Dara membuatnya terlonjak kaget. "Nggak yang gede ... nggak yang kecil ... semua lengket sama Pakde Tama."


"Maksudnya?" Ia mengernyit curiga. Apa Dara sedang membicarakannya atau orang lain?


Dara hanya tersenyum seraya memandang lurus ke depan. Membuatnya turut mengikuti arah pandangan mata Dara. Di mana Lana dan Sasa tak lagi mengganggu Tama. Dua gadis kecil itu sudah asyik berbisik-bisik sendiri sembari tertawa cekikikan.


Ia masih memperhatikan keriaan Lana dan Sasa. Namun dalam sekejap, momen berhasil menautkan dirinya dan Tama.


Ia langsung menelan ludah dengan gugup. Tapi Tama justru tersenyum dan mengangguk. Membuatnya buru-buru menundukkan pandangan sembari mengembuskan napas panjang. Berharap tak seorangpun melihat apa yang baru saja terjadi.


***


Bu Niar


Mata rabunnya tak bisa mengabaikan begitu saja, saat tak sengaja mendapati anggukan dan senyum Tama terhadap Pocut. Pun saat melihat reaksi Pocut, yang terlalu gugup untuk sekedar menanggapi senyuman dari sesama saudara ipar.


Mengingatkannya akan ucapan mas Setyo di waktu tersisa, "Kalau Tama minta izin menikah lagi ... restui saja."


"Memang Tama sudah mikir mau rumah tangga lagi?" Tanyanya heran. Sebab kali terakhir berbincang cukup mendalam dengan Tama, putra sulungnya itu masih ingin menikmati kesendirian.


Tapi mas Setyo tak menjawab pertanyaannya. Mas Setyo justru mengatakan hal lain yang cukup membingungkan.


"Papa masih belum yakin ... Tama mau terus maju atau malah berhenti. Satu pesan Papa ... tolong restui saja siapapun orangnya ... asal bisa membawa Tama ke arah yang lebih baik."


"Kita lagi ngomongin siapa, Mas?" Ia semakin bingung tak mengerti.


"Mama pasti tahu ... sisi spiritual Tama masih jauh dari harapan." Kali ini Mas Setyo bicara sembari mengembuskan napas panjang yang terdengar berat saat singgah di telinganya.


"Padahal Papa berharap banyak pada Tama," Mas Setyo kembali mengembuskan napas panjang. "Tapi kalau hidup Tama begini-begini saja ... Papa khawatir dia terbawa arus. Bahaya sekali."


"Papa mau menjodohkan Tama lagi?" Tanyanya setengah menuduh. "Apa belum kapok setelah hancurnya rumah tangga Tama sama Kinan?"


Mas Setyo menggeleng, "Bukan menjodohkan. Biar Tama cari sendiri. Yang penting ... Mama ingat pesan Papa tadi."


"Tolong restui ... siapapun orang yang diperkenalkan Tama ke Mama." Kali ini mas Setyo tersenyum menatapnya.


"Mungkin ini jalan terbaik ... yang bisa menuntaskan janji Papa di masa lalu."


"Pa?" Ia selalu merasa tak nyaman tiap kali mas Setyo membahas tentang janji masa lalu. Akan langsung mengingatkannya pada kisah memilukan Hamzah Ishak.


"Pak Ustadz sudah datang, Ma," bisikan Cakra berhasil membuyarkan lamunannya. "Apa mau dimulai sekarang?"


Ia mengangguk, "Tolong minta Tama untuk bicara sebagai perwakilan keluarga."


***


Tama


Ia meletakkan telunjuk di depan mulut. Meminta anak-anak supaya ikut mendengarkan Umay yang sedang melafalkan surat 'Abasa secara hafalan.


"Abasa wa tawallaa."


"An jaa-ahul 'a-maa."


"Wa maa yudriika la'allahu yaz zakkaa."


Tadi sebelum pak Ustadz yang hendak memberi kultum datang, Cakra menawarkan pada anak-anak, "Siapa yang mau baca Al Qur'an?"


"Aku! Aku!"


Yasa, Umay, Lana, dan Sasa mengangkat tangan secara bersamaan. Sementara Arka dan Icad yang sudah ABG hanya melihat saja.


"Suit dulu kalau begitu," Cakra memberi jalan keluar terbaik.


Dan pemenangnya adalah Umay. Kini, bocah berusia sembilan tahun itu tengah membacakan surat 'Abasa tanpa melihat Al Qur'an. Keren sekali bukan? Untaian ayat yang diucapkan bahkan terdengar begitu fasih di telinganya.


"Siapa yang ngajarin Umay ngaji?" Bisiknya usai Umay menyelesaikan bacaan surat 'Abasa dengan sempurna.


"Kalau di rumah sama mama," jawab Umay dengan hidung terkembang.


Tanpa sadar ia ikut tersenyum.


"Kalau di masjid sama ustadz Arif."


"Siapa?" Telinganya langsung awas.


Ia ikut bergumam, "Ustadz favorit?"


Namun keingintahuannya tentang sosok ustadz favorit tak bisa langsung dituntaskan. Karena ustadz Dzul telah memulai kultum jelang waktu berbuka.


"Kita telah melewati 10 hari pertama yang penuh rahmat di bulan Ramadan." ©


"Saat ini ... kita sedang menjalani 10 hari kedua yang penuh ampunan ...."


Ia berusaha berkonsentrasi mendengarkan apa yang sedang disampaikan oleh ustadz Dzul. Namun matanya justru berkeliling mengedarkan pandangan. Seperti yang sudah bisa ditebak langsung tertuju pada seseorang.


"Waktu yang kita miliki di bulan Ramadan ini sama sebanyak 24 jam. Namun waktu berharga kita berbeda."


Ia segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sejak awal selalu menundukkan kepala. Kembali memusatkan perhatian pada ustadz Dzul.


"Semoga semua waktu yang kita miliki berharga. Tidak lalai karena di sia-siakan."


"Dan semoga semua waktu yang kita miliki ... bisa membawa kebermanfaatan baik di dunia maupun di akhirat."


Namun waktu berharga baginya baru bisa diperoleh saat orang ramai bersantap hidangan berbuka usai menunaikan salat Maghrib.


Ia langsung berjalan menghampiri setelah tak sengaja melihat bayangan Pocut menuju ke dapur. Dikerubuti oleh Lana dan Sasa yang ingin mengisi mangkuk mereka lagi dengan mie baso.


"Memangnya ... Lana sama Sasa puasa?" Ia coba berseloroh sambil menarik sebuah kursi di meja dapur. Lalu mendudukinya. Berusaha mengabaikan Pocut yang nampak terkejut melihat kehadirannya.


"Puasa dong, Pakde."


"Puasa, Om."


Jawab Lana dan Sasa serempak.


"Setengah hari pasti," ia memasang wajah pura-pura tak percaya.


Lana tersipu malu. Begitupula dengan Sasa.


"Kok senyum senyum? Puasa sampai beduk Dhuhur doang nih pasti?" Tebaknya mencoba meledek.


Tapi Lana dan Sasa mengacuhkannya. Karena sedang ribut sendiri dengan porsi mie baso yang diinginkan.


"Aku mie kuning aja, Ma. Sama baso yang kecil."


"Aku mie putih aja, Tante. Sama baso yang ada isinya."


"Aku nggak pakai bawang goreng, Ma."


"Aku nggak pakai seledri, Tante."


"Aku pakai kecap dikit ya, Ma."


"Aku nggak pakai, Tante. Udah gitu aja."


"Makasih, Ma."


"Makasih, Tante."


Begitu berhasil memperoleh mie baso yang diinginkan, Lana dan Sasa langsung pergi ke ruang tengah.


"Makan sini saja sama Om!" Tawarnya.


Tapi Lana dan Sasa kompak menggelengkan kepala sambil tersipu malu.


"Mau makan sama mas sama kakak."


"Biar sekalian main sama Dekgam."


Lana dan Sasa kompak berjalan beriringan menuju ke rumah tengah. Sementara ia beralih menatap punggung Pocut yang sedang berdiri di depan kompor.


***


Pocut


Ia mendesah tak percaya saat mendapati keberadaan Tama di dapur. Kesempatan untuk menghindar jelas semakin menipis. Bahkan sudah tertutup rapat. Namun ia berpura-pura untuk tak terpengaruh dengan berusaha menyibukkan diri di depan kompor.


Tapi keputusannya ternyata keliru. Tama bukannya pergi malah semakin mendekat.


"Wah, mienya habis?" Gumaman Tama membuatnya terkejut.


Ketika menoleh, Tama sudah berdiri di belakang punggungnya sambil membawa mangkuk kosong.


"Nggak apa-apa nggak usah pakai mie," sambung Tama cepat. Seraya mengulurkan tangan meraih sendok sayur untuk mengisi mangkuk dengan baso dan kuah.


Ia mengangguk dengan canggung. Bermaksud untuk segera pergi. Tapi Tama keburu berucap,


"Saya mau bicara."


"Jangan di sini," jawabnya gugup. Merasa gelisah dengan keberanian Tama mengajaknya bicara di acara keluarga. Di depan orangtua dan saudara. Menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan baginya.


"Kamu mau kita pergi ke suatu tempat?" Kali ini terdengar nada senyum di suara Tama.


Ia mendesah tak percaya.


Tapi Tama justru kembali tersenyum.


Membuatnya segera menarik kursi. Duduk mungkin lebih baik daripada berdiri. Bisa sedikit meredam rasa gugup dan gelisah yang begitu mengganggu.


Tama masih mengisi mangkuk dengan baso. Sebelum akhirnya mendudukkan diri tepat di hadapannya.


Namun Tama tak mengatakan apapun. Tama justru memakan baso dengan lahap. Sementara ia memilih untuk diam seribu bahasa. Di antara suara orang saling berbicara, gelak tawa lucu Aran dan anak-anak, juga denting sendok yang beradu dengan piring.


"Maaf, saya harus kembali ke ruang tengah." Ia memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu. Sebab Tama tak kunjung bersuara. Padahal sudut matanya menangkap jika mangkuk di hadapan Tama telah kosong melompong.


***


Tama


"Kita selesaikan dua minggu lagi?"


Pocut mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Beri saya waktu."


Ia mengangguk, "Saya tunggu."


Pocut terlihat gelisah, "Jangan menunggu."


Ia menggeleng, "Saya tidak akan menunggu seperti yang kamu mau. Tapi tolong bantu saya ... jangan pernah menghindar. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan."


Pocut menatapnya. Namun tak berapa lama kemudian kembali menundukkan pandangan.


Ia sudah hampir berucap, tapi keburu seseorang menepuk bahunya dengan cukup keras.


"Serius banget nih kayaknya?"


Ia hanya menyeringai begitu menyadari kehadiran Sada.


Sementara Pocut memanfaatkannya untuk beranjak pergi. Setelah mengangguk sopan ke arahnya juga Sada.


"Sukses?" Sada mengedipkan sebelah mata begitu Pocut berjalan menjauh. Namun ia hanya menjawab dengan tawa sumbang.


Tapi tawa sumbangnya langsung sirna. Ketika malam hari mama berkata, "Tolong temani Mama, Tam."


Ia mengangguk setuju. Akan tetapi ucapan mama selanjutnya terdengar cukup mengejutkan.


"Apa ada yang mau diceritakan?"


"Mama lihat ... kamu bicara berdua dengan Pocut di dapur."


Ia menghela napas.


"Apa ada yang harus Mama ketahui?"


***


Keterangan :


©. : seluruh kultum yang disampaikan oleh tokoh bernama ustadz Dzul, dikutip dari tausiyah (nasehat) seorang ustadzah di sebuah kajian ilmu.