Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 69. Hape Laho Do Ho Among, Tumadingkon Hami On


Hape Laho Do Ho Among, Tumadingkon Hami On


(Ternyata ayah pergi, meninggalkan kami semua -bahasa Batak-)


-diambil dari lirik lagu berjudul "Iluni anak siakkangan" yang dinyanyikan oleh Style Voice)


***


Jakarta


Reka


Ia sudah mengelilingi kompleks perumahan uti dari gerbang utama sampai ke deretan rumah paling belakang yang lebar jalannya semakin menyempit. Ia bahkan telah memutari jalur utama kompleks sebanyak dua kali. Tapi rasanya tetap ada yang kurang. Energi yang tersisa bahkan masih berlebih. Pertanda harus secepatnya mencari tantangan baru.


Kini ia membelokkan setang ke halaman Indoapril yang terletak tak jauh dari gerbang utama. Berniat membeli sebotol minuman dingin untuk meredakan haus.


Tapi, sepotong es krim vanilla bertabur cokelat kacang sepertinya lumayan untuk cuaca seterik ini. Ia pun memutuskan untuk mengambil sepotong es krim dan sebotol air mineral dingin. Kemudian menikmatinya di salah satu kursi yang berada di teras Indoapril.


Sambil memperhatikan jalan raya yang ramai dipadati kendaraan bermotor, ia mulai membuka layar ponsel.


11 Unread Messages


Bunda


Rahangnya sontak mengeras. Buru-buru menggigit potongan es krim dalam ukuran besar hingga giginya terasa linu. Merasa enggan untuk membuka pesan meski terbersit rasa ingin tahu. Apakah bunda marah? Atau bunda mulai menyadari kesalahannya (karena akan menikah dengan pakde Pram)?


Tapi ia memutuskan untuk melewatkannya begitu saja. Nanti. Bukan sekarang.


37 Unread Messages


Arek (anak) 7F


Ia kembali melewatinya.


115 Unread Messages


Black Marlin Swimming Club


Ia hanya menggelengkan kepala melihat teman-teman klubnya antusias mengobrol di hari libur latihan.


21 Unread Messages


Crazy Rich Surabaya


Group chat teman-temannya di bimbel memang random, lain daripada yang lain.


5 Unread Messages


Binar 7A


Mungkin gadis (yang menurut hampir semua cowok normal) paling cantik di sekolah itu sudah mengetahui kepergiannya ke Jakarta. Whatever. Ia tak pernah merasa tersanjung atau berkeinginan membalas perhatian yang diberikan. I don't care.


1 Unread Messages


Filio


Kali ini ia tersenyum melihat nama si pengirim pesan. Dan langsung membukanya.


Filio : 'Yo opo, C uk (gimana, bro)?'


Senyumnya melebar. Buru-buru memotret motor trail hijau yang terparkir di halaman Indoapril. Lalu mengirimkannya sebagai balasan pesan kepada Filio.


Reka : -mengirim foto dengan caption : motoran-


Ngomong-ngomong tentang motoran ... ide menantang tiba-tiba melintas menggoda pikirannya.


Hm, ia melirik helm yang menggantung di spion. Pesan uti tadi sempat membuat kesal, karena memintanya memakai helm meski hanya naik motor keliling kompleks. Tapi sekarang, menjadi hal yang cukup menguntungkan baginya.


Ia buru-buru membuka maps. Kemudian mulai mengetikkan sebaris huruf yang pertama terlintas dalam benak.


∆ Your Location


✓ Polres Metro Jakarta ....


Here we go, the adventure of Gemintang Rekata in Jekardah.


***


Devano


Ia sedang mengambil berkas milik pak Tama yang tertinggal di ruang Satreskrim, ketika ponsel di dalam saku berdering.


Hampir sepuluh menit yang lalu, pak Tama bersama pak Fardhan dan tim dari reskrim sudah bertolak menuju Mapolda. Tapi rupanya, ada berkas penting yang terlupa. Dan ia bertugas untuk mengantarkan berkas tersebut ke Mapolda.


"Van! Tolong kasih berkasnya ke Alfian."


"Ya, Pak?" Ia tak mengerti mengapa harus menyerahkan berkas ke Alfian.


"Kasih berkas ke Alfian!" Pak Tama mengulang kalimat yang sama dengan nada tinggi. "Biar dia yang ngantar. Kamu turun!"


"Siap, Pak," jawabnya semakin tak mengerti.


"Anak saya Reka ...." Pak Tama mulai menyebutkan ciri fisik seorang ABG dengan kalimat cepat. "Sekarang nunggu di lantai satu."


"Ajak ke ruangan. Kasih semua yang dia mau." Pak Tama berbicara tanpa titik dan koma. "Jangan sampai anak itu pergi sebelum saya datang. Ngerti?"


"Siap, Pak," jawabnya tak kalah cepat.


"Ini selevel tugas negara," gumam pak Tama dengan nada suara yang lebih rendah namun menghujam. "Jangan kecewakan saya!"


Pak Tama langsung memutus pembicaraan. Tapi telepon masih tersambung. Membuatnya bisa mendengar gerutuan pak Tama di seberang sana.


"Gila! Anak gua bawa motor trail sendiri ke kantor! Ampun deh itu anak!"


Kalau sudah menyangkut tugas negara, bisa dipastikan akan sangat merepotkan dan membuatnya mati kutu. Menghadapi bu Pocut yang kalem dan lemah lembut saja bisa menyebabkan migrain dan pusing tujuh keliling. Apalagi menghadapi ABG yang kabur ke kantor bapaknya memakai motor trail.


Apa yang akan terjadi, terjadilah, batinnya pasrah.


"Reka?" Sapanya pada seorang bocah lelaki yang sedang duduk di depan meja SPKT (sentra pelayanan kepolisian terpadu).


"Iya."


"Saya Devano, sespri bapak." Ia mengulurkan tangan. "Mari ... kita ke atas."


Bocah lelaki itu berdiri dengan gaya malas. "Ayah kapan balik ke kantor, Om? Kalau lama mending aku pulang aja."


Ia menghentikan langkah hanya untuk memandangi bocah ABG yang wajahnya merupakan duplikasi sempurna dari sang komandan. Detik itu juga ia tersadar, jika sisa waktu di hari ini tak akan berjalan dengan mudah.


Help, me.


***


Icad


Begitu melihat mama muncul di halaman sekolah, ia langsung meminta izin untuk bermain ke rumah Kioda.


"Pulang sebelum Ashar," ujar mama.


Ia mengangguk mantap. "Makasih, Ma."


Dari sekolah, ia, Kioda, dan Boni naik angkot lalu turun di perempatan lampu merah. Dari sana mereka lanjutkan dengan berjalan kaki. Melewati ruko, toko, taman kanak-kanak, deretan rumah. Dan berhenti di depan bengkel las yang ramai dipenuhi orang.


"Imbaru mulak (baru pulang)?" Teriak seorang pria yang memakai helm las ketika melihat mereka bertiga.


"Ya, Bapa tua!" Jawab Kioda sambil melambaikan tangan. ®


Dari bengkel las, mereka masih berjalan kaki sampai ke depan sebuah toko kelontong. Lalu masuk ke pintu bagian belakang toko yang merupakan counter pulsa.


Kioda dan Boni sama-sama membeli kuota. Sementara ia menjadi satu-satunya orang yang tak memiliki ponsel hanya berdiri menunggu.


Sesampainya di rumah Kioda, mereka hanya mendapati Kiana (adik semata wayang Kioda), sedang bermain masak-masakan dengan beberapa anak kecil lainnya.


"Ini nih, project gue." Kioda memamerkan kerangka bambu berukuran 2x1 meter yang tersimpan di belakang rumah.


"Bareng ... bokap," imbuh Kioda mengecilkan suara ketika mengucap kata bokap.


"Tinggal finishing, beres, kirim, sim salabim jadi duid. Hahaha!" Kali ini Kioda tertawa penuh kepuasan.


Sementara Boni memutari rangka kayu sambil mengernyit. "Apaan, nih? Project ngaku-ngaku pasti? Palingan yang bikin bokap lo."


Kioda menggerutu. Tapi tetap menjawab dengan hidung kembang kempis. "Kandang ayam. Pesanan dari pak RT."


"Jelek banget." Boni menunjuk rangka kayu sambil menyeringai. "Nggak ada stylenya."


Kioda mencibir. "Yakalee mo bikin miniatur rumah adat. Orang kandang ayam juga."


Ia mengikuti langkah Boni memutari kandang ayam design by Kioda. "Bokap lo mau nutup dinding apa lantai dulu?"


"Gue," jawab Kioda setengah menggerutu. "Bokap cuma mandor. Gue yang ngerjain. Jadi tanya ke gue."


Ia kembali mengulang pertanyaan. "Lo mau nutup dinding apa lantai dulu?"


"Lantai, lah. Pakai bambu yang udah gue amplas." Kioda menunjukkan sebaris bambu yang sudah dipotong sama panjang sama rata di sisi lain.


Ia mengangguk setuju. "Atap pakai seng?"


"Asbes keknya. Lebih murah." Kioda memegangi kerangka.


"Dinding?" Ia memperhatikan kerangka yang sedang dipegangi oleh Kioda dengan seksama. Sementara Boni sudah mengambil duduk di pintu dapur.


"Bambu sama kawat. Biar sirkulasi udara lancar," jawab Kioda mantap.


"Keren." Ia berkata jujur sambil mengacungkan jempol.


"Dapat berapa duid?" Boni yang matanya sudah berkonsentrasi ke layar ponsel mulai kepo.


"Hasyeek." Boni kegirangan. "Ini nih yang ditunggu."


Ia kembali membahas tentang spesifikasi kandang ayam bersama Kioda. Sementara Boni sudah sepenuhnya tenggelam di depan layar ponsel. Apalagi kalau bukan menonton pertandingan si tangan petir. Meski bermain di tunggal putra, tapi panutan Boni adalah Kevin Sanjaya.


"Oi!" Sebuah suara berhasil mengagetkan mereka bertiga. Ketika menoleh, di belakang Boni telah berdiri seorang pria dengan wajah baru bangun tidur dan rambut awut-awutan.


"Boni ... Icad ...." Pria itu adalah pak Markus, ayah Kioda. Beliau bekerja sebagai sekuriti di sebuah gudang perusahaan kayu. Sepertinya baru bangun tidur usai mendapat giliran jaga semalam.


"Nunga mangan (udah makan)?" Pak Markus mengarahkan dagunya ke arah Kioda.


"Male au (aku lapar)." Kioda mengusap perut dengan wajah cemberut.


Enaknya kalau bermain di rumah Kioda adalah, ayahnya sering memasak untuk mereka. Jika kebagian jaga malam dan baru pulang pagi seperti hari ini. Tugas memasak di rumah Kioda beralih ke tangan pak Markus. Karena omak (ibu Kioda) masih berjualan bumbu jadi di pasar. Kecuali hari ini, omak masih berada di sekolah bersama mama dan orangtua murid yang lain untuk menerima raport.


Jenis manusia langka, ucap Kioda seringkali memuji perilaku pak Markus. Karena tak pernah melihat saudara laki-laki bapak (panggilan Kioda untuk ayahnya) maupun omak yang terjun memasak di dapur. Sebab dapur adalah wilayah para wanita. Bukan tempatnya pria. Tapi pak Markus adalah perkecualian.


"Mau masak apa, Om?" Ia berjalan mendekati pak Markus yang sedang berkutat di dapur. Sementara Kioda dan Boni asyik di depan layar ponsel masing-masing.


"Tak ada lauk, Cad." Pak Markus tertawa. "Kita masak yang ada sajalah." Sambil menunjuk mie dan telur di atas meja.


Ia membantu mengupas bawang merah dan bawang putih. Seperti yang sering dilakukannya di rumah. Selebihnya, hanya memperhatikan pak Markus memasak.


"Kita buat ... mie gomak terlezat sedunia." Pak Markus tertawa riang.


Tak harus menunggu lama, aroma harum mulai menguar tajam. Mie gomak kuah telah siap untuk dihidangkan.



Credit photo : Cookpad


"Eta mangan (ayo makan)!" Pak Markus memanggil Kiana agar ikut bergabung bersama mereka.


"Asyiiik!" Boni yang baru beralih dari layar ponsel langsung kegirangan melihat makanan sudah tersaji di depan mata. "Makasih, Om."


"Huhah!" Kiana berkali-kali meneguk air putih karena kepedasan. Tapi tetap melanjutkan makan sampai habis.


Begitu mie lezat di dalam piring licin tandas, azan Dzuhur terdengar berkumandang di kejauhan.


"Salat di kamar depan, Cad." Pak Markus menunjuk kamar di sebelah ruang tamu.


Sementara Kioda mengangsurkan kain ulos berwarna dominan merah, kuning, hijau, dan biru padanya. "Nih, pakai."


Ia mengangguk sambil menerima kain ulos. Letak rumah Kioda jauh dari musala ataupun masjid. Setiap sedang bermain dan masuk waktu salat, ia akan menumpang mengerjakan salat di kamar depan.


Ketika selesai mengambil air wudu, dilihatnya Kioda sedang mencuci piring di dapur, dan pak Markus bercanda dengan Kiana. Sementara Boni kembali tenggelam di depan layar ponsel memelototi aksi Kevin/Marcus.


Meski di antara mereka hanya dirinya yang menunaikan salat, tapi sejak awal Kioda sudah berinisiatif untuk menempelkan kertas di dinding kamar sebagai penunjuk arah kiblat.


"Biar lo nggak bolak balik nanya," seloroh Kioda ketika ia menunjuk kertas warna orange yang menempel dinding bertuliskan kiblat.


Usai salat, ia dan Kioda sempat membantu pak Markus menyelesaikan kandang ayam. Boni? Jangan ditanya, fokusnya adalah menjadi juara dunia di usia muda. Hidup Boni benar-benar terarah. Bahkan di waktu senggang, kegiatan Boni hanyalah menonton cuplikan pertandingan bulutangkis. Tak lain dan tak bukan.


Sekitar jam tiga sore, omak pulang ke rumah sambil membawa keresek besar berisi cucian kotor. Iya, selain berjualan bumbu jadi di pasar, omak juga membuka jasa laundry. Meski tak menggunakan tenaga mesin cuci seperti laundry modern pada umumnya.


"Biar Om antar," ujar pak Markus ketika ia dan Boni pamit pulang. Kiana tak ketinggalan ikut serta.


"Mau jajan di Indoapril, Bapak," rengek Kiana di sepanjang perjalanan.


Motor melaju ke rumah Boni terlebih dahulu. Kemudian barulah menuju rumahnya yang berjarak paling jauh.


"Mau jajan, Bapak." Kiana yang usianya lebih kecil dari Sasa kembali merengek dan hampir menangis. Membuat pak Markus membelokkan motor ke halaman minimarket yang pertama dijumpai.


"Mampir sini dulu, Cad." Pak Markus menuntun Kiana menuju rak makanan. Sementara ia pamit pergi ke toilet. Sebab di sepanjang perjalanan tadi, perutnya mendadak terasa mulas.


Ia pikir hanya sebentar berada di toilet. Tapi ketika keluar, suasana sangat membingungkan. Suara teriakan orang di luar bahkan terdengar sampai ke dalam minimarket.


Seisi Indoapril heboh. Sejumlah pengunjung berdiri mengelilingi pintu kaca sambil saling bergumam satu sama lain. Sementara beberapa pegawai Indoapril berseru dengan wajah cemas entah meneriakkan apa.


Tapi yang paling mengagetkan adalah keberadaan Kiana. Sedang berdiri di depan meja kasir sambil menjerit histeris. "BAPAK! BAPAK! BAPAK! HUHUHUHU!"


"Mana, Bapak?" Ia meraih bahu Kiana yang terguncang-guncang. Sembari matanya berkeliling mencari sosok pak Markus di dalam minimarket. Tapi tak ditemukan.


"BAPAK! HUHUHU!" Kiana menunjuk ke arah pintu keluar.


Sementara pegawai di belakang meja kasir berucap sambil menangis. "Bapaknya mau ambil dompet, Dek. Tapi ... tapi ...."


Pegawai di belakang meja kasir tak melanjutkan kalimat karena keburu berlinang air mata.


Dengan was-was ia segera menyeruak kerumunan orang di belakang pintu kaca. Berusaha melihat apa yang sedang terjadi di halaman. Puluhan pria dewasa terlihat sedang mengeroyok seseorang. Mereka memukul, menendang, menghantam, membabi buta.


"BUNUH AJA MALING!"


"HANTAM!"


"ABISIN!"


Ia hampir berbalik pergi kembali menemani Kiana yang masih menangis histeris. Tapi selembar jaket warna merah yang terkoyak dan terinjak-injak di halaman mengurungkan niatnya.


Teramat mirip dengan jaket yang tadi dikenakan oleh pak Markus.


Dan ia hanya bisa mematung di balik pintu kaca ketika wajah penuh darah pak Markus terkulai di halaman. Di antara sepakan dan injakan kaki orang-orang.


***


Kasir Indoapril


"Selamat datang, selamat berbelanja di Indoapril ...." Sapanya pada pengunjung terbaru. Seorang pria menggandeng anak kecil dan di belakangnya menyusul ABG cowok.


Ia tak lagi memperhatikan mereka. Sebab tengah sibuk melayani antrean pembeli yang hendak membayar belanjaan.


"Semuanya dua puluh satu ribu tiga ratus rupiah," ujarnya pada antrean berikut. Yaitu seorang pria yang menggandeng anak kecil.


Pria itu merogoh saku celana dan jaket dengan wajah bingung. "Waduh, dompet ketinggalan di motor. Sebentar, Mba."


Ia mengangguk. Pria itu melangkah keluar meninggalkan anak perempuannya di depan meja kasir.


"Tunggu ya, Dek." Ia tersenyum ke arah anak perempuan di depannya.


Tunggu punya tunggu, pria itu tak juga kembali. Dari belakang meja kasir, dilihatnya pria itu sedang berusaha membuka jok motor. Tapi tak kunjung berhasil. Membuat sejumlah pria yang berdiri di parkiran menoleh. Lalu tanpa tahu siapa yang memulai, pria itu sudah dikepung oleh massa dan dipukuli. ©


"Bapak ...." Anak kecil di depannya mulai menangis.


Ia yang seperti terhipnotis langsung tersadar. "Ya ampun! NDRA! NDRA!" Teriaknya memanggil nama Indra yang sedang menyusun snack di dalam rak.


"Itu ... bapak itu kenapa dipukuli! Dia mau ambil dompet di motor!" Ia mulai ketakutan. Sementara tangisan anak kecil di depannya semakin keras.


"BAPAK! HUHUHU!"


"Beneran?" Indra langsung berlari meninggalkan rak menuju pintu keluar. Berusaha menghalau massa.


"REY! REY!" Ia kembali meneriaki teman-temannya. "DIMAS! MAS! TOLONGIN ITU ORANG NGGAK SALAH!"


"Astaghfirullah! Kenapa jadi begini?" Air matanya berderai.


Seluruh pengunjung di dalam minimarket mulai gaduh. Reynald dan Dimas ikut berlari keluar halaman. Berusaha mencegah keberingasan massa. Tapi tak ada yang mau mendengar. Pukulan, injakan, tendangan, hantaman justru semakin bertubi-tubi. Tak seorangpun bisa mencegah.


Ia hanya bisa tergugu di balik meja kasir dengan perasaan berkecamuk.


Pria itu ingin mengambil dompet yang tertinggal di jok motor. Tapi salah mendekati motor. Hingga kesulitan membuka kunci bagasi. Membuat sejumlah orang yang berdiri di parkiran mulai curiga.


Selama dua minggu terakhir, telah terjadi lima kali pencurian motor di sepanjang ruas jalan ini. Jadi ketika pria itu kesulitan membuka bagasi, orang langsung meneriakinya maling. Massa yang cukup ramai kemudian menganiaya dengan cara memukul, menginjak, dan menendang.


Meninggalkan motor matic sejuta umat yang sangat mirip di sebelahnya. Dengan plat nomor berbeda. Milik pria itu.


***


Icad


Ia meraih bahu Kiana yang histeris dengan tangan gemetaran. Para pegawai minimarket dan pengunjung saling berbicara satu sama lain dengan mimik ngeri. Massa yang berkerumun di halaman dibubarkan oleh tiga orang petugas dari kepolisian. Sementara tubuh lemah pak Markus diangkat ke belakang mobil patroli.


"Kamu anaknya?" Tunjuk seorang petugas polisi ke arahnya.


Ia hanya tertegun tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu tak mampu mengucap.


"Iya, Pak, iya," jawab pegawai yang berdiri di belakang kasir dengan gugup. Raut ketakutan terpancar jelas. "Ini anak bapak itu. Tadi mereka datang bertiga."


Selanjutnya semua terasa seperti mimpi. Mimpi paling buruk yang sangat menakutkan.


Seorang petugas menanyainya dengan sejumlah pertanyaan. Sementara petugas lain menggendong Kiana berusaha menenangkan.


Kakinya seolah tak menjejak bumi ketika petugas mengantarkannya dan Kiana pulang ke rumah Kioda. Dan tubuhnya terhempas ke dalam kepekatan paling mengerikan ketika petugas mengatakan hal menakutkan kepada omak.


"Suami ibu terluka parah ...."


Omak menjerit histeris. Kioda terjatuh ke lantai dengan tatapan mata kosong. Kiana kembali menangis. Dan ia ... ia hanya bisa berdiri kaku menyaksikan semua kepahitan tanpa bisa melakukan apapun.


***


Keterangan :


®. : Bapa tua adalah panggilan untuk saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah (Batak Toba).


Mi gomak. : adalah mi khas Batak, yang sangat mudah ditemukan jika berkunjung ke Sumatera Utara, khususnya daerah Toba Samosir hingga Tapanuli. Keistimewaan dari mi gomak terdapat pada rasa pedas ketir dari percampuran cabai, bawang dan andaliman (orang mengenal sebagai merica Batak).


©. : terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di Jakarta, diceritakan oleh seorang sahabat.


Jika terdapat kesalahan penulisan bahasa Batak atau kekeliruan menerjemahkan ke dalam cerita, bisa langsung menghubungi author melalui akun NT (karena semua akun sosmed author sedang off 🤗) atau bagi yang belum di follback oleh author, bisa mengirim pesan lewat Mam DeeYee, Mam Galuh_Chan, atau Kak IU_Yooni.


Haturnuhun sateuacana 💕.


Kenapa memakai bahasa Batak? Karena keluarga Kioda berasal dari Batak.


***