Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 42. Unconditional Love


Unconditional Love


(Cinta tanpa syarat)


***


Jakarta


Tama


"Mama ngomong apa?" Elaknya sambil menepuk-nepuk bantal yang akan dipakai mama. Memastikan kenyamanannya saat digunakan.


Membahas semua hal yang berhubungan dengan Pocut di depan mama jelas bukan pilihan bijak. Sebab ia masih berada dalam posisi meneguhkan diri. Apakah gejolak hati yang dirasa memang harus dituntaskan. Atau dibiarkan begitu saja hingga memudar dengan sendirinya lalu menghilang ditelan waktu.


Terlebih sampai beberapa jam yang lalu, Pocut masih meminta waktu. Kata lain dari meragukannya. Ia tentu tak ingin membebani mama dengan membicarakan ketidakpastian. Belum saatnya.


"Pocut ...." Gumam mama seraya menggeser duduk agar bisa menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur.


Ia hanya menyeringai sembari menyelipkan bantal untuk menahan pinggang mama.


"Waktu pertama kali datang ke rumah ... Mama kira masih lajang." Kali ini mama menatapnya lekat-lekat.


Ia harus berdehem untuk menetralisir kecanggungan.


"Ternyata malah anaknya sudah tiga." Mama tersenyum. "Paling besar seusia Reka ya?"


Ia mengangguk.


"Waktu Pocut datang ke rumah dan sudah ada ... siapa nama kenalan kamu itu? Sara?" Tapi mama buru-buru menggeleng. "Bukan Sara. Tapi Sa...."


Kening mama mengernyit tanda sedang berusaha keras mengingat sesuatu.


"Samara," ia memberi tahu.


"Iya ... Samara." Mama mengangguk. "Mama lihat dan dengar sendiri ... bagaimana Pocut menghadapi sikap Samara yang dominan."


Ia menatap mama tak mengerti. Topik tentang Samara kembali mengingatkannya akan kesalahpahaman dengan Pocut.


"Reaksi Pocut halus sekali." Mama tersenyum. "Mama suka."


"Sikap seperti itulah yang dibutuhkan untuk mendampingi orang seperti kamu," sambung mama di luar dugaan.


"Tetap tenang dalam situasi apapun. Bijak dan tidak mudah terpancing. Tapi tetap mawas diri dengan menghargai orang lain." Mama masih tersenyum menatapnya.


"Mama ngomong apa, Ma?" Ia kembali mengelak dengan menanyakan hal serupa. Sama sekali tak memiliki stok kalimat yang kreatif.


Tapi mama tak lagi bisa dicegah. Mama kembali berucap, "Ketiga anak-anaknya meskipun masih kecil ... tapi bisa bersikap sopan. Kelihatan dididik dengan baik."


Ia mengembuskan napas panjang.


"Tadi ... yang baca hafalan surat itu anak keduanya Pocut?"


Ia mengangguk. Seketika teringat akan Umay yang tersenyum lebar sambil berkata, "Ustadz Arif. Ustadz favorit kita semua." Namun ia buru-buru menepis tebakan tentang siapa sebenarnya ustadz Arif. Dan mengapa bisa menjadi favorit semua orang. Apakah termasuk favorit Pocut juga? Satu hal yang cukup mengusik keingintahuannya.


"Anak yang paling kecil ... yang perempuan juga sudah akrab sama kamu?"


Ia kembali berdehem.


Tanpa sadar membayangkan wajah ceria Sasa ketika berlari menghambur ke arahnya. Momen paling tak terduga yang berhasil menaikkan tingkat kepercayaan dirinya hingga ke level tertinggi. Sebab, belum pernah sekalipun ia mendapat perlakuan istimewa seperti yang Sasa lakukan terhadapnya. Satu hal yang sebenarnya sederhana namun sarat makna. Sebuah pengakuan.


"Wanita yang cantik dengan anak-anak yang manis," gumam mama.


Ia langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyuman. Tak ingin mama menangkap pendaran rasa yang kemungkinan besar jelas terpancar di wajahnya.


"Mama sudah tua, Tam ...."


Here we go again (kita mulai lagi). Setelah sebelumnya papa sering mengucapkan hal yang sama. Kini mama mulai melakukannya. Apakah semua orangtua akan mengatakan hal serupa pada anak-anaknya?


"Mungkin hidup mama nggak akan lama lagi ...."


Ia menggeleng. Lalu memijat kaki mama yang terulur di hadapannya. "Tama doakan Mama panjang umur. Mama kan mau lihat Reka ikut Olimpiade."


"Reka sudah mau jadi atlet," lanjutnya setengah berharap. "Nanti kita sama-sama nonton Reka berjuang membawa nama Indonesia di ajang olahraga tingkat dunia."


Mama menghela napas panjang sambil bergumam, "Aamiin ...."


"Semoga Mama juga masih sempat melihat kamu bahagia," imbuh mama seraya mengusap bahunya. "Membangun keluarga dengan orang yang tepat. Memiliki pendamping terbaik dunia akhirat."


"Aamiin," ia berusaha tersenyum menatap mama. Namun tak berhasil. Rupanya karena kegelisahan yang lebih mendominasi.


"Mama nggak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan menjodohkan kamu, Tam." Mama kembali menatapnya lekat-lekat.


"Mama juga nggak akan meragukan siapapun calon yang kamu bawa."


"Mama sepenuhnya percaya sama kamu."


Ia semakin getol memijat kaki mama. Berusaha mengalihkan perhatian mama agar tak lagi membahas tentang jodoh untuknya.


"Satu pesan mama ... jangan lupa berdoa sebelum memutuskan hal penting dalam hidup. Terutama soal pernikahan. Mama nggak ingin kamu gagal lagi. Mama ingin kamu menemukan orang yang tepat."


Ia segera mengangguk, "Iya, Ma. Iya."


"Sekarang Mama istirahat ... udah malam ... besok harus bangun sahur ...." Ia menyelimuti kaki mama dan berniat untuk bangkit. Namun mama lebih dulu menahan lengannya.


"Mama dengar dari Bu Rosyida ... kalau suami Pocut meninggal di luar negeri? Dan jenazahnya tak pernah kembali?"


Ia mengurungkan niat untuk beranjak. Kembali duduk di sebelah kaki mama yang telah berbalut selimut.


Mama menatapnya dalam-dalam sebelum bergumam pelan, "Kamu harus sabar ...."


Ia menatap mama tak mengerti.


"Ditinggal pergi suami selama-lamanya itu ... rasanya tak bisa dibayangkan." Mama masih menatapnya tajam.


Tapi lambat laun, sepasang mata berselaput itu mulai dipenuhi kaca. "Ibarat ... tiba-tiba kehilangan sandaran hidup."


"Sampai kapanpun kenangan itu akan tetap tersimpan di hati." Mama berusaha tersenyum namun gagal. "Tak ada yang bisa menggantikan ... sosok yang pernah menjadi separuh hidup kita."


"Mama yang sudah sama-sama tua. Sudah hidup bersama puluhan tahun dan melihat sendiri bagaimana cara papa pergi ...." Suara mama mendadak tercekat. "Sampai hari ini masih merasa sangat kehilangan."


"Apalagi Pocut ...."


"Ma?" Ia mencoba menyela. Anggapan mama tentang hubungan antara dirinya dan Pocut sudah terlampau jauh. Padahal ia sendiri belum beranjak sedikitpun dari garis start.


Mama menggeleng. Jelas tak senang ia terus menyela.


"Usia Pocut masih muda ... punya banyak anak yang masih kecil-kecil ... masih butuh perhatian ... butuh dukungan dari suami ... anak-anaknya butuh figur seorang ayah ... butuh pegangan ... tapi takdir menggariskan harus ditinggal suami dengan cara yang tragis."


Mama mengurut dadanya sendiri, "Pasti sangat membekas di hati. Tak mudah untuk dilupakan."


"Kamu harus memahami ini." Mama mengusap lengannya perlahan. "Pasti akan sangat sulit untuk meyakinkan Pocut tentang kembali membangun masa depan."


"Ma?" Ia mengernyit. "Mama salah mengert ...."


"Hati hanya bisa diraih dengan hati." Tapi Mama langsung memotong ucapannya.


"Sekiranya kamu sudah siap dengan semua hal yang mungkin terjadi. Segeralah minta pertolongan ... pada yang menggenggam dan menguasai hati setiap manusia."


Ia mengembuskan napas panjang setengah mengeluh, "Mama mikirnya terlalu jauh."


Mama menggeleng. Lalu meraih dan menggenggam tangannya erat-erat, "Mama selalu mendoakan yang terbaik. Mama ingin lihat kamu bahagia. Hidup bersama pendamping yang tepat."


Sekilas, ia balas menggenggam tangan mama lebih erat. Sekedar mengiyakan keinginan mama tentang kelak hidup berbahagia dengan pendamping yang tepat. Meski sampai detik ini, ia belum mampu menemukan titik terang ataupun jaminan kepastian.


Karena tak ingin mama terlalu larut dalam syak wasangka tentang dirinya dan Pocut, ia pun buru-buru merapikan selimut yang dikenakan mama.


"Sudah sejauh mana?" Tanya mama ketika ia telah memastikan selimut terpasang rapi. "Sudah minta restu sama Bu Rosyida?"


Ia menunduk, "Belum."


Namun sedetik kemudian ia justru tertawa kecil. Selalu seperti ini. Ia yang notabene pernah diganjar pin emas atas keberhasilan mengungkap satu kasus berskala nasional, tiba-tiba berubah menjadi anak kecil yang sedang belajar berbohong di hadapan orangtua. Tak lagi bisa berkutik.


"Minta restu dulu." Tapi mama tak menghiraukan rasa malunya akan hasrat hati yang terungkap nyata ke permukaan.


Ia menggeleng, "Kita bicarakan lain waktu, Ma."


"Bicarakan juga dengan Cakra dan Sada. Mereka berhak tahu." Mama tetap pada pendiriannya.


"Sudah ya, Ma. Sekarang Mama istirahat dulu ...." Ia harus segera menyudahi obrolan melantur mama. Dengan beranjak ke sisi jendela kaca. Memeriksa apakah korden telah tertutup dengan sempurna tanpa ada celah. Sebab mama takkan bisa tertidur nyenyak jika ada sisi jendela yang tak tertutup korden.


"Kalau sudah minta restu dan bicara sama adik-adikmu ...." Namun mama bersikukuh membahas hal yang sama. "Mama ingin bicara berdua dengan Pocut."


Lagi-lagi ia harus menghela dan mengembuskan napas panjang. Lalu kembali mendekati tempat tidur mama dan mendudukkan diri di sana.


"Belum sejauh itu, Ma." Ia menggenggam tangan mama sekilas. "Sekarang Mama istirahat. Nggak usah mikir macam-macam."


"Sada sudah tenang dengan Dara." Namun Mama bersikeras untuk terus berkilah. "Memang sudah rezeki jodohnya Sada."


"Anja ... Mama yakin ... juga sudah bersama orang yang tepat."


"Tinggal kamu yang belum." Mama mendesah. "Gimana Mama bisa tenang?"


 ----------


"Biar, Mang." Ujarnya ketika Mang Jaja tergopoh-gopoh hendak menutup pintu yang mengarah ke teras samping. "Saya mau keluar."


Mang Jaja mengangguk kemudian berlalu.


Ia berniat melepas penat barang sejenak di teras samping. Selagi nantinya masih ada waktu yang cukup untuk tidur. Sebelum bangun dan siap bersantap sahur. Sebatang rokok mungkin bisa sedikit mengurai pikirannya yang mulai ruwet.


PR tentang Reka belum tuntas. Kini bertambah dengan kenyataan jika mama sudah mengetahui rencana setengah matangnya.


Yang benar saja, ia sendiri masih belum bisa memastikan. Apakah sudah siap untuk melewati garis start. Menuntaskan setiap rintangan yang menghadang. Fokus mencapai pita finish tanpa tapi.


Atau justru memenangkan ego dengan berbalik arah. Menyerah sebelum bertanding. Menafikkan seluruh asa yang kian hari kian membuncah. Melepaskan masa depan yang selalu diangankan.


"Mama setuju?"


Ia mendesis begitu mendapati Sada tiba-tiba sudah duduk di kursi teras. Tengah menarik sebatang rokok yang tersimpan di atas meja. Lalu menyulutnya. Dalam sekejap, udara di sekeliling mereka telah dipenuhi kepulan asap putih.


"Atau malah zonk?" Sada menyeringai. "Sampai muka kusut begitu."


Ia diam tak menjawab. Sebab pikirannya tengah dijejali kenyataan, bahwa jalan yang harus dilalui memiliki banyak rintangan.


"Mau mundur?" Sada terkekeh.


Ia pun tertawa sumbang.


"Payah!" Sada jelas mengejeknya. Tapi ia sedang tak mempunyai energi. Malas untuk menanggapi kilahan Sada.


"Belum apa-apa udah nyerah."


Ia mendecak sebal.


"First time (pertama kali) huh?" Sada kembali menyeringai.


Ia hanya mendesis. Menikmati keasaman mulutnya yang tiba-tiba menguar tajam.


"Baru ngerasain gimana susahnya menaklukkan seseorang?"


Kali ini ia tertawa. Sumbang pastinya.


"Yang mana dulu kita bahas?" Sada tertawa mengejek. "Restu? Mundur? Cara menaklukkan?"


Ia menggeleng.


"Itu artinya mama setuju?" Tebak Sada sok tahu. "Pasti. Nggak mungkin mama nggak setuju."


"And the problem is (dan masalahnya adalah)?" Sada kembali memberondongnya dengan pertanyaan.


"Yourself (dirimu sendiri)?" Sada bahkan menjawab sendiri. Tepat pula.


"Mulai ragu?" Sada kian mendesak.


Ia pun tertawa meski tanpa suara. Lalu bergumam malas, "Menurut kamu?"


"Bah!" Sada mengumpat. Tapi dalam waktu singkat kembali memasang ekspresi wajah yang cukup serius, "Dia minta waktu sampai kapan?"


Ia menatap Sada keheranan. Bagaimana bisa adiknya ini tepat sasaran. "Jahanam!"


Sada tergelak penuh kepuasan, "Pengalaman membuktikan."


Ia menggeleng tak percaya.


"Itu cuma trik untuk mengulur waktu," desis Sada dengan gaya meyakinkan. "Tapi intinya ... you got her (kamu mendapatkannya)."


Ia tertawa sumbang, "Valid apa menjerumuskan nih?"


"Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen." Sada mengacungkan jempol. "Teruji!"


Ia menyeringai setengah mencibir.


"Justru yang begini ...." Sada mengangguk-angguk. "Lebih mantap. Terasa perjuangannya. Good luck."


Ia hanya mendesis.


"Kalau butuh supporter ... aku sama Dara siap di garda terdepan," gumam Sada kali ini sambil menggerus batang rokok ke dalam asbak. Lalu bangkit dan pergi begitu saja. Seolah sengaja memberi kesempatan padanya untuk kembali merenung.


***