
Walau Di Mana Berada, Ingatku Dalam Doamu
-diambil dari lirik lagu berjudul "Betapa Kucinta Padamu" yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza-
***
Hari-hari Tanpamu
Jakarta
Pocut
"Oke." Tama terus memandanginya melalui layar ponsel sambil berjalan membelah aula melewati rekan-rekan sesama peserta didik lainnya. Berusaha menuju pintu keluar.
"Roso, Tam!" Seorang pria berseragam cokelat yang berdiri di belakang Tama terlihat mengepalkan tangan kanan ke atas.
"Siap!" Jawab Tama seraya tergelak. "Ke lima, Rul. Lima!" Tama mengacungkan tangan kanan memperlihatkan lima jari dengan wajah sumringah.
Sementara orang yang dipanggil Rul terbahak. "Seng ada lawan komandan kita yang satu ini."
Tama masih saja tergelak meski sudah keluar dari aula. Sepertinya mencari tempat sepi yang nyaman untuk menelepon.
"Kalau gitu, besok aku pulang." Kini Tama telah kembali menatapnya dengan wajah berbinar. "Kita periksa ke dokter."
"Mas libur?" Tanyanya ragu.
"Izin."
"Jangan." Ia menggeleng tak setuju. "Jangan sampai mengganggu jadwal Mas."
"Weekend ini ada kegiatan di luar. Satu-satunya cara ya harus izin. Cuma ada waktu luang besok."
Ia tetap menggeleng. "Jangan izin. Aku tunggu sampai Mas ada waktu luang."
Tama menatapnya. "Akhir bulan ada jadwal kunjungan ke Papua selama dua minggu."
Ia tersenyum mengerti. "Kalau begitu, kita ke dokternya setelah Mas pulang dari Papua."
"Kelamaan." Tama terlihat keberatan. "Kamu harus secepatnya ketemu dokter."
"Mas ...." Ia masih tersenyum. "Aku sehat dan baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Bidan Karunia sudah memberi vitamin untuk sebulan ke depan."
"Tetap harus ke dokter." Tama menatapnya tajam dengan raut tak ingin dibantah. "Kalau kamu nggak mau besok, aku izin pulang sebelum berangkat ke Papua."
Tama jelas berlebihan dalam menyikapi kehamilannya. Padahal ia sudah pernah melewati masa kehamilan sebanyak 3 kali. Dan ketiganya berjalan dengan lancar, sehat, selamat, juga baik-baik saja. Apakah pengalamannya masih dinilai kurang di mata Tama? Ataukah, kini Tama sedang meragukan kemampuannya sebagai seorang ibu? Tak memercayainya?
"Ternyata, aku nggak dapat izin," keluh Tama keesokan hari. "Jadwal padat merayap. Nyaris nggak ada waktu kosong."
Ia tersenyum penuh kemenangan sembari tanpa sadar mengusap perut yang permukaannya masih sama seperti saat sebelum diketahui hamil. Rata. "Calon bayinya saja sabar kok, nungguin papanya pulang. Papanya juga harus sabar nunggu waktu yang tepat untuk pulang."
Tapi Tama tak membalas senyumannya. "Kalau kemungkinan terburuk ... aku baru bisa pulang setelah dari Papua, gimana? Kamu nggak keberatan? Bisa ... nunggu selama itu? Nggak akan berpengaruh ke kandungan?"
Ia mengangguk mengerti. "Kami berdua baik-baik saja. Mas konsentrasi ke pendidikan saja di sana. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami."
Embusan napas Tama terdengar berat. Namun sejurus kemudian mulai muncul seulas senyum meski tipis. "Tolong bilang ke dia, baik-baik di perut mama sampai papa pulang."
Ia tersenyum. Begitupun Tama. Pandangan mereka saling bertaut seraya sama-sama mengu lum senyum. Ketika ia tengah menatap dalam-dalam wajah yang membuat pipinya selalu memanas itu, satu isyarat melalui gerak bibir tertangkap dengan begitu jelas.
"Love you ...."
Ia tertidur nyenyak dengan bayangan sosok Tama tengah menggendong seorang bayi di dalamnya. Sungguh pemandangan indah yang menyenangkan.
Ia pun menjalani keseharian seperti sebelumnya. Menjadi tak biasa sebab mual yang muncul setiap pagi kian rutin menjadi. Terkadang diakhiri dengan muntah-muntah hebat, tapi lebih sering hanya berhoek-hoek di kamar mandi sampai seluruh tubuhnya terasa lemas tanpa ada yang berhasil dimuntahkan.
Ia tak pernah mengeluh. Berusaha menikmati semua rasa tak nyaman yang tiba-tiba hadir melingkupi tubuh. Sebab perjalanannya memiliki buah cinta bersama Tama dimulai dari sini. Ia berjanji akan menjalani indahnya masa mengandung dengan hati senang yang diliputi kebahagiaan.
Jadi, meski tubuh terasa lemas dan lutut seolah tak bertulang, ia tetap pergi ke dapur menggeprek jahe sendiri. Atau membuat perasan air jeruk lemon untuk mengurangi rasa mual yang semakin siang justru kian menjadi. Bahkan terkadang sampai membuat kepalanya berdenyut tak karuan. Seluruh rasa tak nyaman baru benar-benar menghilang ketika ia memasuki sesi kelas di menara Astana. Seperti ... memberi kesempatan padanya untuk mengikuti materi dan belajar bersungguh-sungguh. Teurimong geunaseh.
Anak-anak sempat keheranan mendapatinya sering bolak-balik ke kamar mandi setiap pagi. Icad yang pertama kali bertanya. Diikuti tatapan heran Reka dan Umay.
"Mama sakit perut," kilahnya dalam sekejap berubah menjadi ahli berkelit.
Dan ketiga anak lelakinya mengangguk mafhum meski tersirat pancaran ketidakpuasan atas jawaban yang diberikan. Hanya Sasa yang hampir setiap menit sebelum berangkat sekolah selalu bertanya.
"Mama sakit?"
"Mama kok pucat, sih?"
"Mama kebanyakan makan cabe yaa sampai sakit perut?"
"Mama udah minum obat belum?"
"Aku kasih tahu papa ya, kalau mama sakit."
Juga Yuni, yang entah hanya perasaannya saja atau memang kenyataan, selalu menatapnya curiga sambil buru-buru mengambil alih membuat air jahe atau perasan air jeruk lemon.
"Sama saya aja, Bu. Ibu duduk aja."
Ia berusaha selalu tersenyum seolah tak pernah terjadi apapun. Tapi hati dan perasaan tajam mamak jelas tak bisa dikelabui.
"Aku tak pernah lihat kau berhalangan." Mamak menyodorkan segelas perasan air jeruk lemon ketika ia keluar dari kamar mandi dengan wajah sembab dan mata berair usai memuntahkan seluruh isi perut.
"Apa kita perlu periksa ke bidan? Mungkin muntah-muntah kali ini ada hubungannya dengan__" Mamak tak melanjutkan kalimat.
Perlahan ia mengambil duduk dan menatap mamak. Tapi mamak justru memintanya untuk segera minum.
Usai menyesap perasan air jeruk lemon hingga tersisa setengah, ia kembali menatap mamak. Tak pandai menyembunyikan rahasia, terlebih di hadapan mamak. "Sudah kemarin."
Mamak balas menatapnya sambil tersenyum. Lalu mengusap lengannya perlahan. "Mulai hari ini tak perlu memasak. Biar Mamak dan Yuni saja yang mengurus semua. Kau istirahatlah. Masih hamil muda harus benar-benar dijaga. Apalagi suami tak berada di rumah, harus bisa menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Kapan jadwal ke bu bidan lagi? Biar Mamak yang temani."
Ia tersenyum haru memandang mamak. Bagaimana ia tak menghormati mamak seperti ibu kandung sendiri jika seperti ini. Namun ia lantas tersipu malu. "Mas Tama ingin aku periksa ke dokter."
Mamak mengangguk. "Kalau begitu, kita pergi ke dokter. Ikuti apa kata suami. Tama ingin kita pergi ke dokter mana?"
Ia masih tersipu, kali ini bertambah malu. "Aku ... ingin pergi ke dokter diantar mas Tama."
Mamak sempat tertegun sebentar sebelum akhirnya tersenyum penuh arti. Lalu kembali mengusap lengannya perlahan. "Nikmati semuanya. Kau berhak mendapat apa yang diinginkan."
Sejujurnya, ia tak menginginkan apapun. Ia hanya semakin merindukan Tama setiap harinya. Rasanya selalu rindu, rindu, dan rindu. Bisa dibilang lucu jika mengingat kembali perjalanan panjang mereka berdua. Bagaimana ia mati-matian menghindari dan menjauhi Tama. Tapi sekarang malah terperangkap dalam pesona pria itu. Takdir memang tak pernah bisa diduga.
Seolah tak cukup hanya merindu. Ia bahkan mulai berani terang-terangan memakai baju Tama hampir sepanjang hari selama berada di rumah.
"Ih!" Sasa menunjuk sweater yang dikenakannya pagi ini. Terlalu gombrong sebab kebesaran. Ya tentu saja, postur tubuh Tama hampir dua kali lipat dibandingkan dirinya. "Mama pakai baju papa lagi. Hihihi ..."
Ia hanya melempar senyum ke arah Sasa yang mulai berbisik-bisik dengan Umay. Pasti membahas tentang perilaku anehnya memakai baju Tama. Icad sempat mendongak memperhatikan sweater yang dipakainya, namun tak berkomentar apapun. Hanya Reka yang terus saja menatapnya lekat-lekat seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.
"Bawa bekal dua lagi, Mas?" Tawarnya ketika menangkap basah Reka belum mengalihkan pandangan dari sweater Tama.
Reka menggeleng. "Satu aja. Pak Engkosnya lagi cuti pulang kampung."
"Buat teman yang lain mungkin?" Ia tersenyum.
Tapi Reka hanya menatapnya datar. "Dibilang nggak punya teman."
"Teman mas Reka kan cuma Sasa, Mama," sahut Sasa ketika ia tercekat mendengar jawaban dingin Reka. "Ya, Mas, ya?" Sasa terkikik sambil memandang Reka yang kembali asyik mengunyah sarapan seolah tak punya teman adalah hal biasa yang tak perlu dikhawatirkan.
"Aku tahu kenapa mas Reka nggak punya teman." Umay menyambar perkataan Sasa dengan mulut penuh mengunyah makanan.
"Kenapa?" Sasa memandang Umay. Begitupula Icad, Reka, dan dirinya.
"Karena ...." Umay yang heboh tahu sedang menjadi pusat perhatian. Makanya sengaja menjeda kalimat dengan meminum air putih. "Mas Reka takut dikejar-kejar. Hahaha. Kayak kemarin itu kan, Sa. Inget, nggak? Ada kakak-kakak cantik yang maksa minta nomer handphone mas Reka ke kita. Sampai beliin kita es krim segala. Ayo ngaku, Mas Reka. Takut yaaa sama cewek. Hahaha .... Takut kok sama cewek. Aneh."
Umay dan Sasa tertawa bersama sambil saling berbisik. Sementara Icad kembali menyantap sarapan. Dan Reka memutar bola mata dengan wajah acuh. Sama sekali tak membalas ledekan Umay.
Ia menggelengkan kepala melihat tingkah Umay dan Sasa. "Umay, Sasa. Cepat habiskan sarapannya. Kalau ada yang mau diobrolkan langsung saja biar semua bisa mendengar. Tak baik berbisik di depan orang lain apalagi di meja makan."
Ia memang harus meluangkan lebih banyak waktu untuk Reka. Tapi putra tirinya itu selalu menghindar tiap kali ia coba mendekat. Mungkin pilihan caranya kurang tepat. Ia pun berjanji segera menemukan cara pendekatan yang lebih menyenangkan dibanding sebelumnya. Mungkin bertanya pada Dara? Adik iparnya itu selalu memiliki jalan keluar yang jarang terpikirkan oleh orang awam.
Selain rindu menggebu dan selalu memakai baju Tama, nyaris tak ada yang berubah. Ia tetap memasak tiga kali sehari meski mamak terus menerus melarang. Menyiapkan makanan untuk bekal anak-anak berangkat ke sekolah. Pergi ke menara Astana mengikuti sesi terakhir di level 2. Menghadiri rapat pengurus dan jadwal giat yayasan Kemala. Terkadang juga ikut membantu mamak yang sesekali masih menerima pesanan ayam tangkap.
"Ini pesanan dari bunda Salma dan pak lurah," ujar mamak ketika ia bertanya keheranan mengapa masih menerima pesanan. Padahal sebelumnya, mamak sudah mengumumkan pada semua pelanggan jika pesanan ayam tangkap dialihkan ke cing Ella.
"Besok juga ada pesanan dari haji Murod dan pak camat," sambung mamak lagi. "Tak enak kalau sampai menolak pesanan pelanggan setia."
Tapi mamak berhasil menemukan jalan tengah. Ialah Yuni yang kini menjadi motor utama pemenuhan pesanan ayam tangkap dari para pelanggan setia.
"Nuhun pisan, Mamak." Yuni tersenyum senang. "Lama-lama nanti saya bisa buka pesanan ayam tangkap sendiri."
"Memang seharusnya begitu." Mamak ikut tersenyum lebar. "Nanti kalau Mamak sudah pulang ke kampung Koneng, Yuni buka keude ayam tangkap sendiri."
Ia pun memberanikan diri membawa ayam tangkap yang sengaja dimasak lebih banyak oleh mamak beserta pulut durian hasil uji cobanya bersama Yuni ke menara Astana. Sebab hampir semua teman-temannya pernah membawa makanan untuk disantap bersama di sela-sela sesi break. Ini akan menjadi kali pertama baginya.
"Wah, enak nih ayam gorengnya," komentar semua orang saat melahap ayam tangkap buatan mamak. Setelah sebelumnya tak lupa menyimpan satu kotak spesial untuk Ingrid.
"Pocut, aku mau dong, pesan pulut duriannya. Enak banget tahu nggak, sih." Cesilia bahkan langsung menunjukkan ketertarikan dengan pulut durian edisi perdananya. "Gila, baru kali ini makan pulut durian yang nggak bikin enek."
"Kalau team gue oke, bisa dong request buat cemilan di salon gue," imbuh Cesilia. "Kita bisa buat brand sendiri. Kayaknya mesti ngobrol bertiga nih sama ahli gizi. Karena gue ingin cemilan yang lezat, menarik, tapi nggak berefek samping bagi yang menjalani treatment. Oke?"
Namun yang paling tak disangka adalah panggilan telepon dari Grace di malam hari. Ketika ia tengah terkantuk-kantuk menunggu telepon dari Tama.
"Halo, Pocut? Kamu tahu siapa saya?"
Ia hanya tahu jika Grace adalah peserta paling pendiam di kelas. Jarang mengobrol dengan yang lain. Bahkan tak pernah bergabung di meja yang sama saat sesi break. Grace seolah menarik garis batas yang sangat tinggi di antara mereka bertujuh.
"Kamu bisa buka instagram Grace Lander," ujar Grace ketika ia kebingungan menjawab. "DM me, ya. Aku punya penawaran spesial buat kamu. Can't hardly wait."
Saking penasarannya dengan yang disebutkan Grace, ia langsung mengetuk pintu kamar anak-anak. Ternyata hanya mendapati Reka seorang.
"Umay di kamar mandi," jawab Reka ketika ia bertanya ke mana yang lain. "Icad belajar di ruang tamu."
Ah ya, hampir lupa, putra sulungnya itu memang lebih senang mengerjakan pr di ruang tamu daripada di meja belajar dalam kamar. Kata Icad karena, "Lebih enak. Luas. Ada suara air dari aquarium."
"Mas?" Mau tak mau kembali bertanya pada Reka. "Bagaimana cara buka instagram?"
Ia tak pernah mengutak-atik ponsel selain untuk menelepon dan berkirim pesan. Sekaligus tak pernah memiliki akun sosial media atau apapun sebutannya.
Grace Lander.
Ia membaca tulisan yang tertera di layar ponsel milik Reka.
Cooking, baking, and beyond.
"Ini artinya apa, Mas?" Ia menunjuk simbol warna biru dengan tanda centang di tengah yang berada di samping nama Grace.
"Akun terverifikasi resmi instagram," jawab Reka sambil ikut memperhatikan layar ponsel. "Biasanya punya orang terkenal yang followersnya banyak."
Keesokan hari ketika ia baru memasuki ruangan kelas, Grace langsung menghampiri. "Ditungguin DMnya semalaman."
Ia meminta maaf. "Saya nggak punya instagram. Tapi sudah tahu kalau ternyata Grace orang terkenal."
Grace tertawa. Sepertinya, baru kali ini ia melihat wanita cantik dan anggun berambut panjang ini tertawa lebar. Biasanya tersenyum pun jarang. "Hari gini masa nggak punya Ig, sih? Nanti langsung mampir ke rumahku, yuk."
Ia mengiyakan. Meskipun sedikit terlambat meminta Agus langsung menjemput anak-anak di keude. Padahal ia sudah tahu sejak awal akan menumpang di mobil Grace.
Dan ia ternganga begitu Grace mengarahkan kemudi memasuki tempat parkir sebuah Mall ternama. Naik ke atas entah ke lantai berapa. Kemudian menghentikan mobil tepat di depan sebuah halaman yang asri. Sepanjang perjalanan ia bahkan tak bisa berhenti berdecak kagum. Ya, ia tak pernah menyangka jika rumah Grace berada di atas gedung bertingkat. Gedung bertingkat! Ia terbelalak sendiri saat menyadarinya.
"B-bagaimana bisa ada jalan beraspal di atas gedung pencakar langit?" Ia bergumam-gumam sendiri sambil mengamati suasana kompleks perumahan Grace yang asri dihiasi sederet pepohonan rimbun namun sangat lengang itu. Hanya terdapat satu dua mobil yang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan terparkir di sisi sebelah kiri jalan.
"Mau bengong di luar seharian?" Grace tertawa melihatnya masih terpaku di halaman. Memperhatikan sekeliling dengan tatapan takjub. Ini gedung bertingkat. Dan di atasnya ada kompleks perumahan mewah. Tama pasti terkejut mendengar bagaimana wawasannya bertambah siang ini.
"Sore ini ada live channel YouTube punyaku," terang Grace ketika ia tengah menikmati segelas minuman dingin yang disajikan oleh wanita paruh baya berseragam. "Boleh dilihat-lihat untuk persiapan."
Ia tak mengerti. "Persiapan apa?"
"Aku pingin kita live bareng. Kebetulan, minggu depan temanya masakan daerah."
Ia hanya melongo mendengar jawaban Grace.
"Ayam yang kamu bawa kemarin enak banget. Beda dari ayam yang banyak beredar di pasaran." Grace tersenyum. "Kamu pasti pemain lama. Aku tahu pasti dari penampilan, rasa, dan aromanya. Sepakat, kita live bareng? Subscribersku pasti antusias dengan bintang tamu yang baru. Kalau biasanya artis atau influencer, sekarang teman sekelasku sendiri."
Ia masih melongo mendengar seluruh penuturan Grace.
"Lagian, penampilan kamu nggak kalah menarik dari para artis dan influencer itu. Besok kita kenalan sama MUA langgananku, ya. Kamu pasti jadi tambah bersinar." Grace tersenyum lebar. "Yakin setelah kita live, makin banyak yang nonton channelku."
Ia memperhatikan baik-baik bagaimana proses live YouTube berlangsung. Dengan bintang tamu hari ini adalah seorang pembawa berita cantik yang program debat politiknya pernah ditonton oleh Tama saat suaminya itu sedang berada di rumah. Benar-benar pergaulan kalangan atas.
Tapi sayang, ia tak bisa langsung pulang begitu acara live selesai. Agus menelepon jika terjebak macet yang entah akan terurai kapan.
"Repot nggak, sih, ngandelin driver?" Seloroh Grace saat kembali menemuinya di ruang tamu.
Ia hanya tersenyum. "Justru terbantu."
"Tapi repot kalau kita perlu berada di dua tempat dalam satu waktu," sergah Grace tak setuju. "Kamu atau anak-anak duluan yang dijemput? Bingung, kan? Kalau bisa bawa sendiri kan enak. Driver suruh jemput anak-anak, kita jalan sendiri."
"Kayak sekarang," imbuh Grace. "Kamu mesti nunggu lama buat dijemput. Apa mau naik taxi online?"
Ia menggeleng. Teringat pesan Tama jika ia dan anak-anak hanya boleh diantar oleh Agus, Devano, atau pak Cipto.
"Sekarang mama jarang pergi. Anja udah jago bawa mobil sendiri. Kalau kamu ada perlu tinggal panggil pak Cipto." Ia bahkan masih ingat betul ucapan Tama.
"Saya tunggu dijemput saja," jawabnya yang hanya dibalas Grace dengan mengangkat bahu.
"Kalau gitu aku tinggal dulu. Mau evaluasi sama team."
Agus baru datang menjemput sebelum maghrib tiba. Dan mobil merapat di halaman rumah menjelang Isya. Langsung disambut oleh aroma harum masakan mamak untuk anak-anak.
Kedua anak lelakinya kompak menjawab. "Iya, Ma."
Sementara Reka hanya mengangguk tanpa suara.
Sebelum tidur, sama seperti hari-hari sebelumnya, Tama menelepon melalui video call.
"Belum makan seharian?" Menjadi pertanyaan pertama Tama saat mereka bersitatap melalui layar ponsel. "Pucat begitu."
"Apa gara-gara muntah-muntah terus?" Tama kembali bertanya sebelum ia sempat bereaksi. "Wah, harus segera ketemu dokter, nih."
Ia yang awalnya hendak protes karena Tama tak pernah mengucap salam saat menelepon justru tersenyum. Tadi ia sudah makan malam bersama anak-anak meski tanpa nasi. Karena sejak beberapa hari lalu entah mengapa tak suka menyantap nasi di malam hari.
"Aku boleh ikut live YouTube, Mas?"
Tama sempat membelalakkan mata sebelum tertawa. "Live YouTube apaan?"
Ia mulai menceritakan tentang Grace yang memiliki akun instagram centang biru, memiliki chanel YouTube dengan jutaan pengikut, sekaligus bintang tamu pembawa acara debat politik yang pernah ditonton Tama melalui layar televisi.
Sebelum ia menyelesaikan kisah tentang putra semata wayang Grace yang berkebutuhan khusus dan mantan suami yang kedapatan berselingkuh dengan sahabat sendiri, Tama sudah menjawab dengan suara lantang.
"Boleh sekali, istriku!" Mata Tama bahkan semakin berbinar tatkala menatapnya. "Next, ke depannya Pocut Halimatussadiah punya akun YouTube sendiri. Khusus memasak makanan khas dari Sabang sampai Merauke. Yakin!"
Ia pun membulatkan tekad mulai mempersiapkan diri untuk tampil dalam acara live YouTube bersama Grace. Namun keesokan hari prioritasnya tiba-tiba berubah. Saat tengah melakukan kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur untuk Sasa.
"Mama kemarin ke mana, sih? Kok pak Agus jemputnya telat?" Sasa mempermainkan kerah kaos Tama yang sekarang sedang dipakainya. "Sasa sampai ngantuk nungguinnya. Bang Umay malah ketiduran di warung mpok Leni."
Ia mengusap rambut Sasa perlahan. "Maaf ya, kemarin Mama ada perlu di rumah teman. Tapi terlambat ngasih tahu pak Agusnya. Keburu mobil pak Agus kena macet di jalan yang ada kecelakaan. Jadi telat deh, jemput Sasa sama Abang."
Sasa masih mempermainkan kerah kaos Tama dengan melipat tiga kali, lalu dilepaskan. Melipat lagi, dilepaskan. Begitu seterusnya. Perasaannya mengatakan, Sasa sedang gelisah. Tapi ia segera menepis prasangka buruk jauh-jauh.
"Sasa nggak mau dijemput telat lagi, Ma." Suara Sasa terdengar mulai merengek. "Kalau pak Agus mau telat jemput, mending Sasa main ke rumah Zhie seharian. Nggak mau nunggu di keude."
"Kenapa?" Ia tak lagi mengusap rambut Sasa sebab berdebar menunggu jawaban.
Sasa menatapnya dengan bola mata polos tanpa dosa. "Sasa nggak mau ketemu sama ...." Sambil menyebut nama anak lelaki seusia Umay yang merupakan keponakan dari salah satu pemilik kios rokok yang berada sederetan dengan keude.
"Bang ...." Ia menyebut nama anak itu. "Nakal sama Sasa?"
"Pokoknya Sasa nggak suka!" Sasa tiba-tiba menyembunyikan wajah ke dalam ketiaknya. "Sasa nggak mau disuruh pegang itunya bang ... lagi! Ih, jijik!"
Astaghfirullahal'adzim.
Dengan hati berdebar tak karuan ia kembali bertanya pada Sasa. Beruntung putrinya itu menjawab dengan jelas dan lugas.
Ia terkejut bahkan shock sebab tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini berkaitan dengan Sasa. Tapi paling tidak, ia memperoleh cerita yang cukup lengkap. Cerita paling mengejutkan bak petir di siang bolong baginya. Bahwa anak seusia Umay itu meminta Sasa untuk memegang alat vi talnya saat cing Ella sibuk melayani pembeli dan Umay tertidur lelap.
Beruntung Sasa menolak mentah-mentah dan langsung berlari mendekati cing Ella. Tak mau mendekat meski dipanggil-panggil dengan diimingi es krim dan cokelat.
"Aku cuma suka es krim sama cokelat yang dibeliin papa! Papaku punya banyak!" Sasa bahkan mempraktekkan bagaimana cara berteriak hingga anak laki-laki tersebut berlari menjauhi keude.
Ia memang selalu menanamkan kehati-hatian menyangkut keselamatan diri pada ketiga anaknya terutama Sasa. Bahwa tak ada orang lain yang boleh menyentuh tiga bagian tubuh penting (mulut, dada, alat ke la min) kecuali dirinya sebagai mama, lalu dokter untuk kepentingan pemeriksaan penyakit. Selain itu tak seorangpun boleh menyentuh, tanpa tapi. Berlaku juga sebaliknya. Tak boleh seenaknya memegang milik orang lain.
Sembari terus menata hati dan mengatur emosi, pagi ini ia sengaja berangkat lebih awal bersama anak-anak. Karena ingin menemui mpok Imeh di kios rokok.
"Astagpiloh. Astajim. Ampuuun dah tuh bocah!" Mpok Imeh langsung mengomel sendiri begitu mendengar penuturannya. "Bikin ulah mulu! Gue tabok tahu rasa! Berani-beraninya nakalin anak Kapolres. Dibeceng tahu rasa lu, Tong ... Tong! Mimpi apa semalem gue, Cut ..."
Menurut cerita mpok Imeh, keponakannya memang anak yang kurang perhatian. Kedua orangtuanya telah lama berpisah dan masing-masing sudah menikah lagi. Tapi keduanya tak ada yang merangkul. Sibuk dengan rumah tangga baru masing-masing. Hingga anak tersebut lebih memilih tinggal bersama mpok Imeh yang sehari-harinya berjualan rokok dan minuman ringan di kios semi permanen. Menggantikan sang suami yang terkena diabetes. Sudah berbulan-bulan terbaring lemah di atas tempat tidur sebab luka di kedua kaki yang selalu basah tak kunjung sembuh.
"Saban hari pegangannya hape mulu!" Mpok Imeh kembali mengomel.
"Gue tabok pake sapu lidi suruh ngaji di madrasah kagak mempan. Hape teroooooosss. Kagak tahu dah nonton apaan sama anak-anak gede. Pelem biru apa gitu dah kagak ngerti. Pusing gue! Tiap ari nongkrong di tetangga nyang punya wifai (WiFi) kagak balik-balik. Ampuuun, Tooong ... Tooong! Masih piyik udah begini mao jadi ape luuuu!"
Ia berusaha menenangkan mpok Imeh karena orang-orang mulai tertarik memperhatikan mereka. Beberapa bahkan sudah berkerumun di sekitar kios sambil berbisik-bisik.
"Lu kalo mao buat perhitungan gue jabanin. Gue anterin ke rumah mantan ipar gue! Mam pus mam pus dah tuh urusan sama keluarga polisi! Dasar orang tua kagak tahu diri punya anak kagak diurus! Hobinya kawin cere kagak bener nyusahin orang lain aje!"
Dengan diantarkan mpok Imeh, ia bertamu ke rumah ibu kandung anak tersebut. Sebab rumah adik lelaki mpok Imeh terletak jauh di Tangerang Selatan.
Sepanjang jalan ia berusaha keras menekan rasa kesal demi mengingat apa yang telah dilakukan terhadap Sasa. Untung Sasa berani menolak dan langsung berlari menjauh. Kalau tidak? Atau jika terjadi pada anak lain yang tak berani menolak? Siapa bisa menjamin apa yang akan terjadi. Tentu hal yang mengerikan. Sangat mengerikan.
Sebab tak semua anak perempuan seusia Sasa mendapatkan bekal hal prinsip (tiga hal terlarang yang tak boleh disentuh oleh orang lain) seperti yang ditanamkannya pada Sasa. Bagaimana jika keponakan mpok Imeh juga melancarkan aksinya pada orang lain? Bukankah ia harus memperingatkan orang tua anak laki-laki tersebut agar lebih memperhatikan anaknya supaya tak jatuh korban di kemudian hari? Naudzubillah.
Berbekal pengalamannya mempelajari public speaking bersama Ingrid, ia mulai mengucapkan kalimat demi kalimat yang dijaga betul tanpa tendensi apalagi memojokkan. Ia ingin membuka mata hati sang ibu, bukan menghakimi. Ia ingin kalimatnya didengar dan membuahkan hasil, bukan memancing emosi apalagi kemarahan.
Tapi isi kepala tiap orang berbeda, bukan? Dan ini jelas di luar kuasanya.
"Gue tahu siapa elo, dasar janda gatel!" Ibu anak laki-laki tersebut langsung menunjuk-nunjuk wajahnya begitu ia menyelesaikan kalimat terakhir. "Pakai sok tahu ngurusin anak gue! Urus noh, laki lu hasil ngelakor! Jan sampe digebet cewe laen!"
"EH! BAEK-BAEK TUH MULUT COMBERAN!" Mpok Imeh yang sedari tadi diam langsung naik pitam. "Bukannya terima kasih malah nyap-nyap! Somplak lu berani maki-maki istri pejabat! Didatengin polisi tahu rasa lu!"
Ia berusaha menjelaskan dengan kalimat singkat yang mudah dimengerti agar emosi sang ibu dan mpok Imeh berangsur mereda. Tapi yang ada justru munculnya seorang pria berperawakan kekar bertelanjang dada dari ruangan dalam sambil mengacung-acungkan pedang katana samurai.
"AN J ING! CARI MATI, HAH! PERGI LU PADE! GUA ABISIN SEMUA!"
Tanpa menunggu ia menarik tangan mpok Imeh agar menjauh dan keluar dari rumah mengerikan tersebut. Beberapa tetangga sekitar langsung berdatangan demi mendengar makian kebun binatang yang keluar dari mulut pria pembawa samurai. Ia yang gemetaran dan hampir menangis hanya bisa berpegangan tangan erat-erat pada mpok Imeh. Yang sepanjang jalan menuju ujung gang terus mengomel tak karuan.
"Laki bini gila! Punya anak ditelantarin, kena masalah tau rasa lu bedua!" Mpok Imeh terus saja menggerutu membuat semua orang yang mereka lewati menoleh penuh rasa ingin tahu.
"Gini aja, Cut. Lu mau gue anterin ke Tangsel ketemu babenya si .... Gue jabanin. Biar nyaho!"
Tapi ia menolak. Energinya sudah habis saat melihat samurai diacungkan di depan mata. Sekarang yang diinginkan hanya melalui sisa hari dengan sangat biasa seperti sebelumnya. Tanpa kemarahan, makian, keributan, apalagi ancaman senjata tajam.
"Lu laporin gih ke laki lu yang ganteng ntu." Mpok Imeh memang pernah bertemu dengan Tama saat acara akad nikah mereka di masjid Al-A'raf. "Gue ikhlas si ... dihajar biar tau rasa kagak maen hape terosss. Sekalian ngasih pelajaran mantan adek ipar songong sama laki gilanya!"
Ia memilih untuk mengirim pesan karena tahu pasti Tama selalu menonaktifkan ponsel sepanjang hari. Ia hanya tak ingin kehilangan momen dan mengecewakan Tama dengan pilihan sikap yang diambil. Sebab tak langsung menceritakan apa yang dialami Sasa ketika semalam mereka berbicara melalui video call.
Pocut : 'Aku dan Sasa baik-baik saja, Mas. Jangan terbawa emosi. Aku hanya khawatir anak tersebut memakan korban lain yang tak bisa menolak.'
Pocut : 'Semoga ada jalan keluar terbaik.'
Pocut : '😘 the one you love the most.'
Tanpa seorangpun tahu, folder catatan di dalam ponselnya telah dipenuhi oleh kalimat-kalimat penuh makna yang pernah Tama ucapkan. Kali ini ia sengaja menuliskannya satu, agar Tama tak terbawa emosi begitu membaca pesannya tentang apa yang dialami Sasa.
"Anak-anak udah silaturahim ke sana," ujar Tama di malam hari saat mereka melakukan video call. "Semua beres. Kalian aman. Tolong jangan terlambat memberi kabar untuk hal-hal seperti ini."
Lihatlah, Tama bahkan tak meminta pendapatnya terlebih dulu tentang apa yang harus dilakukan. Bayangkan jika ia memberi informasi penuh tendensi yang berapi-api menyulut emosi. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Tama. Tentu bukan hal yang menyenangkan.
Tetapi selalu ada pemikiran baru dari sebuah permasalahan, bukan? Dan untuk kali ini adalah, "Mas, aku boleh belajar nyetir?"
Tama hanya bengong menatapnya. "Ngidamnya belajar nyetir? Kamu istri siapa? Wiratama Yuda apa Lewis Hamilton?"
Ia mendesah mendengar jawaban konyol Tama. "Siapa Lewis Ha ... siapa tadi?" Ujarnya hampir menggerutu.
"Itu ... warga kampung Inggris sana." Tama tertawa.
Ia semakin mendesah. "Sasa mengalami kejadian seperti itu karena Agus terlambat menjemput. Gara-gara aku lupa meminta Agus langsung jalan ke keude. Mesti nunggu sampai sesi selesai padahal aku ikut mobil Grace."
Ia pun mulai menjelaskan alasan paling masuk akal mengapa harus belajar mengemudikan mobil sendiri. Tama terus mendengarkan ucapannya tanpa sekalipun membantah atau menyela.
Ketika ia dihinggapi rasa malu sebab terlalu bersemangat dalam mengemukakan segudang alasan. Sepasang mata bersorot tajam di layar ponsel itu mulai berbinar.
"Luar biasa. Apa benar sekarang aku sedang berbicara dengan Pocut Halimatussadiah atau orang lain?"
"Mas?" Ia tak suka karena Tama justru meledek.
"Coba tanya dokter, aman nggak lagi hamil muda belajar nyetir?" Tapi Tama langsung meralat ucapannya sendiri. "Ah, ya. Kita belum ke dokter."
"Besok aku tanya ke bidan Karunia."
Tama mengacungkan jempol dengan mata yang semakin berbinar. "Bagus. That's my wifey."
"Ini serius, Mas." Ia mulai kesal karena Tama terlihat bercanda. "Aku harus lebih mandiri."
"Lima rius." Tama mengacungkan lima jari dengan wajah sumringah. "Belajar nyetir lima rius sesuai jumlah anak kita. Atau enam rius, tujuh rius?" Tiba-tiba Tama mengangguk-angguk. "Tujuh rius kayaknya bagus. Tiga, satu, tiga," sambung Tama dengan wajah jenaka.
"Sip!" Tama kembali menyahut sebelum ia sempat memberikan komentar. "Kita program tiga anak. Deal. Ketok palu."
Ia kembali mendesah tak percaya melihat Tama justru semakin bercanda bukannya membahas lebih lanjut tentang keinginannya belajar menyetir.
"Kita cari driving course paling bagus," ujar Tama ketika ia mulai memasang wajah kesal. "Biar Devano yang urus. Ibu komandan tahu beres."
Dan ia harus menunggu selama berhari-hari untuk hal ini. Jika di tengah malam ia bertanya saat Tama menelepon. Jawaban yang diterima adalah, "Devano lagi banyak tugas di kantor. Tunggu dia ada waktu."
"Mas?" Ia mengernyit keheranan. "Yang mau latihan nyetir kan aku, bukan Devano?"
"Dia wajib mendampingi kamu. Tugas negara dariku. Hahaha!" Tama tertawa dengan suara penuh kepuasan.
Maksudnya mendampingi?
"Dia harus memastikan keselamatan dan kenyamanan kamu selama mengikuti driving course. Sekaligus menjaga kamu dari instruktur ganjen."
"Mas?" Ia tak percaya Tama berpikir sejauh ini. "Aku akan memilih instruktur yang paling tua. Kakek-kakek kalau ada."
"Pocut." Tama menyeringai. "Kamu harus tahu, pria itu semakin tua semakin menjadi. Trust me."
"Yang sedang bicara buktinya?" Ini menjadi kali pertama ia menggerutu di depan Tama. Hhhh.
"You know me so well, ahahahaha!" Tapi Tama justru terbahak bukannya malu.
"Dia apakabar?" Ini menjadi ritual Tama sebelum menutup panggilan. "Baik-baik sampai papa datang ya, nak."
Namun jawaban dari bidan Karunia melalui sambungan telepon jauh dari yang diharapkannya.
"Aduh, Pocut, lagi hamil muda jangan nyetir dulu apalagi baru belajar."
"Janin di dalam perut masih belum kuat terhadap goncangan. Aman nyetir sendiri sekitar minggu ke 18 sampai ke 24, trisemester kedua. Selain itu jangan ya, lebih baik menjaga. Oya, sudah ke dokter belum? Jarak kehamilan sebelumnya lumayan jauh. Jangan dinanti-nanti ke dokternya."
Tama yang sudah berada di Papua manggut-manggut ketika ia memberitahu jawaban dari bidan Karunia. "Ya udah. Belajar nyetirnya habis lahiran. Sekarang terima diantar sama Agus."
"Gimana persiapan besok?" Suara Tama mendadak ceria. "Wah, bu oyes mau live YouTube, anak buah wajib nonton nih. Ngadain nobar di mana ibu-ibu Kemala?"
Ia sengaja memilih pakaian favorit pemberian Tama. Blouse tunik berwarna cream dengan aksen tali di bagian pinggang sebelah kiri. Simple sekaligus cantik.
"Perfect." Grace mengacungkan jempol melihat begitu melihat penampilannya. "Nggak perlu ganti kostum. Ini udah pas banget. Kayaknya materi di kelas bener-bener diterapin, nih."
Mereka pun tertawa bersama.
Seorang MUA membantunya memberi sentuhan akhir agar wajah pucatnya terlihat lebih bersinar.
"Jangan-jangan kamu lagi hamil, ya? Pucat gini." Grace sempat curiga.
Tapi ia memilih menghindar dengan tak menjawab. Ia berniat mengumumkan kehamilan setelah mengunjungi dokter bersama Tama dan usia kandungannya melampui masa 4 bulan. Seperti itu yang selalu dilakukannya di tiga kehamilan sebelumnya.
Acara live YouTube bersama Grace dengan sajian menu memasak ayam tangkap, pulut durian, serta bingkang pandan berjalan lancar selama satu jam penuh. Mereka dibantu oleh sejumlah kru termasuk dua orang wanita yang bertugas menjawab pertanyaan dari para pemirsa.
"Thank you banget, Pocut." Grace tersenyum senang. "Live stream pertama kita sukses. 120k penonton." Grace bertepuk tangan dengan riangnya.
Sungguh pembawaan yang sangat jauh berbeda. Selama ini di setiap sesi yang mereka ikuti bersama, Grace hampir tak pernah membicarakan hal di luar materi, termasuk untuk sekedar tersenyum. Jack bahkan pernah berseloroh jika Grace seperti manekin yang tak bisa tertawa.
Tapi di rumah, Grace selalu menebar senyum penuh keceriaan.
"Kita obrolin lagi ya, program selanjutnya." Grace semakin bersemangat. "Kamu mau, kan?"
Ia mengangguk. Ia tentu harus banyak menimba pengalaman, bukan? Mungkin manfaatnya tak bisa langsung dirasakan. Tapi ia percaya jika bersungguh-sungguh melakukan sesuatu akan mendapatkan hasil terbaik.
Begitu Agus menepikan mobil jelang Isya, rumah dalam keadaan sepi meski besok adalah akhir pekan.
Icad, sejak hari kamis sudah meminta izin menginap di rumah salah seorang teman sesama peserta Olimpiade Sains tingkat DKI Jakarta.
"Kami mau latihan soal sampai malam." Icad memberi alasan. "Banyak yang belum paham materinya."
Mamak, Sasa, dan Umay sedang menginap di rumah kampung Koneng. Usai menghadiri acara syukuran khitanan putra bungsu ustadz Arif.
Yuni tengah pergi mengunjungi kerabat yang sakit di rumah sakit Koja. Dan baru akan dijemput oleh Agus menggunakan motor.
Praktis di rumah hanya tinggal Reka seorang. Sudah beberapa hari absen tak mengikuti latihan berenang dan panahan karena sedang flu berat.
"Sudah makan, Mas?" Ia memperhatikan hidangan di atas meja makan yang belum tersentuh.
"Males," jawab Reka yang sedang bermain PS di depan televisi.
"Makan sama Mama, ya?" Sebenarnya ia merasa sedikit lelah usai seharian berada di luar rumah. Namun tak sampai hati membiarkan perut Reka kosong padahal sedang flu berat.
"Mama hangatin dulu." Ia sempat mencuci tangan dan kaki di kamar mandi sebelum mengambil pinggan berisi sup daging sapi. Bermaksud menghangatkan di atas kompor.
Reka sedang flu berat, memakan sup berkuah kaldu diharapkan bisa menambah naf su makan. Tak lupa ia juga menghangatkan tahu tempe goreng dan pepes tahu menggunakan microwave.
Sambil menunggu, ia sempat mencuci mangkuk bekas sereal dan sejumlah gelas kotor. Tak pernah menyangka jika langkah tergesanya untuk mengambil makanan di dalam microwave harus terhenti tiba-tiba. Ketika kaki te lanjangnya menginjak bagian lantai yang terasa licin.
Ia bahkan tak sempat menggapai sesuatu untuk berpegangan. Dalam sekejap tubuhnya sudah jatuh meluncur menghantam lantai.
Ketika membuka mata, ia tak bisa merasakan apapun kecuali ruangan dapur yang tiba-tiba berputar dengan begitu cepat. Namun teriakan seseorang berhasil memulihkan kesadarannya. Melemparkan rasa nyeri di bahu yang menjadi tumpuannya ketika terjatuh.
***
Keterangan :
Salah satu poin dalam bab ini hasil insight dari Mama berinisial BA 🤗 matursuwun, Mam. Salam sayang untuk ananda.
Terus terang, saya kesulitan mencari nama untuk anak yang terpapar por no grafi dan memaksa Sasa melakukan hal tercela. Memang apalah arti sebuah nama. Tapi benar-benar have no idea. Mohon maaf jika saya kosongkan namanya, hanya diisi titik-titik. Semoga tidak mengurangi makna 🤗.
***