
Readers tersayang, mohon maaf atas kendala teknis hari Sabtu dan Minggu RSK tidak ada up bab baru 🙏.
Yang akhirnya saya setting terbit di hari Senin, jam 19.27.
Selamat membaca 😘 dan terima kasih untuk penantian dan dukungan terbaiknya 🙏🥰.
***
Jakarta
Bu Niar
Semenjak Anja lahir, ia merasakan perubahan luar biasa dalam diri mas Setyo. Sang suami seolah terlahir kembali menjadi seseorang yang baru terutama dalam hal ketaatan. Dan ini berpengaruh cukup besar terhadap roda kehidupan mereka.
“Setelah semua pengalaman Papa di masa lalu, Papa menyadari satu hal, anak-anak butuh doa dari kita, Ma.” Begitu kata mas Setyo ketika ia mempertanyakan. “Kalau kita sebagai orang tua menjalani kehidupan yang melenceng, anak-anak nggak punya modal lagi. Mudah-mudahan ketika kita taat, buah kebaikannya kembali pada anak-anak.”
Mas Setyo benar-benar melakukan dari hal terkecil. Ia sempat merasa kesulitan dalam mengimbangi. Namun mas Setyo senantiasa mendampingi. Perlahan-lahan, ia pun mulai menyesuaikan diri hingga lahirlah Selera Persada.
Saat itu Tama masih menyelesaian pendidikan di Akpol, Sada baru masuk Akpol, dan Anja masih balita. Jatuh bangun, pasang surut mereka hadapi bersama berbekal keyakinan bahwa apa yang sedang diupayakan membuahkan kebaikan di masa mendatang. Cikal bakal sumber penghidupan keluarga yang bisa diandalkan hingga saat ini.
Namun kehidupan tak hanya tentang kebahagiaan dan rencana-rencana yang terkabulkan. Kerumitan kondisi rumah tangga Tama, noda musibah yang menimpa Anja, menjadi pengingat terbaik bagi mereka agar lebih mawas diri sebagai orang tua. Senantiasa terus memperbaiki langkah yang mungkin melenceng, menginsyafi kekeliruan yang sempat dilakukan, dan menyudahi kesilapan agar tak semakin merugikan. Akan tetapi begitu musibah berlalu, mas Setyo justru berpulang.
Kini, ketika mara bertubi-tubi menghampiri putra sulungnya, ia tak lagi memiliki daya serupa seperti saat sang suami berada di sisi. Ia telah kehilangan separuh daya untuk mengusahakan kebaikan menghampiri sang putra.
“Pemirsa, Kupas Tuntas episode kali ini akan membahas kasus korupsi yang menyeret nama seseorang perwira menengah kepolisian penuh prestasi ….”
“Bareskrim telah mengungkap aliran dana yang masuk ke rekening Kombes Wiratama Yuda sebesar ….”
“Pencopotan Kombes Wiratama Yuda sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro telah dilakukan ….”
“Kasus ini mencuat bersamaan dengan pengungkapan kasus penyelewengan dana talangan Won Bank dan penculikan putra-putri sang Kombes ….”
“Hingga hari kesebelas, keberadaan putra putri Kombes Wiratama Yuda belum juga diketemukan. Kontak terakhir yang diterima polisi menyebutkan jika para penculik membawa korban menyeberang melalui Pelabuhan Merak ….”
“Polisi kini tengah mengejar jaringan sindikat penculikan anak lintas provinsi antar negara ….”
“Selama menjabat sebagai Dirreskrimum Polda Metro, harta kekayaan sang Kombes mengalami kenaikan signifikan hingga ….”
“Sang mantan Dirreskrimum belum lama ini melakukan pembelian sebidang tanah seluas ….”
“Sedang membangun rumah mewah dua lantai untuk istri barunya di daerah ….”
Ia meneguhkan diri menyaksikan semua pemberitaan buruk tentang sang putra. Berita mencengangkan di luar nalar yang membuat hatinya menangis sebab telah gagal menunaikan janji pada almarhum mas Setyo. Janji menjadi ibu yang bisa membuka jalan kebaikan bagi anak-anaknya.
“Tama minta maaf, Ma.” Namun sang putra lebih dulu memohon ampun sebelum ia bertanya.
“Cari cucu Mama sampai ketemu, Tam. Biar Mama dan bu Cut yang menemani istrimu. Selesaikan seluruh persoalan. Doa Mama menyertai.”
***
Tama
“Saya manggil kamu ke sini sebagai bentuk dukungan moril.”
“Siap, mengerti, Pak.”
Mantan komandan sewaktu ia bertugas di daerah bagian timur bukanlah orang sembarangan. Selain berasal dari garis keturunan orang berpengaruh negeri ini, beliau juga berintegritas tinggi dengan riwayat ‘bersih’. Sosok yang diidolakannya setelah papa.
“Bagaimanapun, kamu sudah paham konsekuensinya.”
“Sudah, Pak.”
“Dalam berbagai kesempatan, saya sering mengatakan, keadilan itu tidak bisa dicari apalagi dituntut. Keadilan itu harus diupayakan.”
Ia mengangguk mengerti.
“Untuk masalah kamu ini, berat, Tama.” Sang bapak menggeleng. “Mereka hidup untuk mencari perkara, sementara awake dhewe makaryo gawe tuku upo. Bukan lawan seimbang.”
Ia tahu keruwetan masalah ini telah melebihi benang kusut. Terlalu banyak konflik kepentingan dan pihak yang dimungkinkan turut mengambil bagian. Ia sudah tak lagi bisa membedakan mana kawan mana lawan. Mana bisa dipercaya, mana pembawa malapetaka.
Dendam SJW karena berhasil ditangkap. Sapta -antek SJW- yang kini telah bangkit dan memiliki kekuasaan, sekaligus ayah yang sakit hati sebab kehilangan seorang putra akibat penangkapan yang dilakukannya. Pemuda klimis yang merasa terancam oleh hasil temuan GB. Pejabat tinggi yang terseret mafia tanah akibat penyelidikannya. Dendam turunan para jenderal oposisi saat almarhum papa menjabat, di mana anak keturunan mereka satu letting dengannya di korps. Rajas dengan berbagai kasus oligarki. Wisak dan Armand terkait bailout. Semua memiliki motif kuat, kepentingan, dan celah.
“Sampai kapanpun, pertarungan para dewa bukanlah tandingan kita, Tama. Kita sendiri yang harus memahami kapasitas diri.”
“Sangat dimengerti, Pak.”
“Anak-anak kamu pasti selamat. Mereka hanya sedang menunggu sikap dan langkah yang kamu ambil.”
“Siap dengan segala konsekuensi, Pak.”
“Meskipun itu berarti kamu mengorbankan diri sendiri.”
“Keluarga yang utama, Pak.” Ia tetap teguh.
“Selama mereka berkuasa, selama mereka yang memegang kendali, sampai kapanpun kamu tidak akan menjadi siapa-siapa, Tama.”
“Siap, dimengerti, Pak. Rasa cinta terhadap pengabdian menjadi yang utama. Jabatan bukan segalanya.”
Sang bapak memandanginya dengan tatapan iba. “Kamu bahkan tidak akan pernah bisa menyamai bapak kamu sendiri.”
Kini ia mulai memahami, tentang apa niat dan tujuan utamanya menjadi abdi negara. Menegakkan keadilan dan menjadi keberuntungan bagi orang yang membutuhkan, sebab hukum tak bisa dicari apalagi dituntut. Namun diupayakan. Pun jika jalan yang harus ditempuh seterjal karang, tidak ada kata menyerah. Sebab rasa cintanya terhadap pengabdian jauh lebih besar dibanding jabatan yang mungkin bisa diraih.
Kadangkala, makna sesungguhnya bisa diperoleh setelah tak lagi memiliki harapan.
***
Suatu Tempat Di Luar Sana
Reka
Kapal nelayan yang mereka tumpangi sarat akan muatan. Dari dermaga, ia dan anak-anak meniti jembatan kayu lapuk menaiki kapal yang dipenuhi hasil panen. Beberapa kali ia harus mengingatkan dan meminggirkan Sasa agar tak menabrak bertandan-tandan pisang yang memenuhi lantai kapal. Seorang ABK berkulit legam berseru agar mereka berlekas sebab kapal akan segera berangkat. Para pria dewasa yang memanggul ransel berjalan cepat mendahului anak-anak. Mesin motor yang menggeram memekakkan telinga menjadi pertanda kapal mulai berlayar.
“Cepatlah, sikit!” bentak ABK berwajah sangar pada mereka, anak-anak. “Masok! Masok!”
Anak laki-laki berbadan besar yang diingatnya naik di Kabupaten Ogan Komering Hulu, didorong ABK berwajah sangar hingga tersungkur. Namun rupanya tak benar-benar tersungkur. Sebab lantai kapal di depan mereka ternyata mengarah ke suatu tempat di lambung kapal. Ruang sempit setinggi kurang dari satu meter yang telah dipenuhi pria dewasa. Mereka terlihat berbaring berhimpitan persis seperti ikan sarden kalengan. Kepala diganjal ransel sementara kaki dilipat menekuk, tak satupun mencoba duduk sebab tak muat.
Begitu anak terakhir turun ke bawah, ABK berwajah sangar langsung menutup lantai dengan papan dan menguncinya dari atas.
Mereka, anak-anak tanpa harapan dan pria dewasa yang berbaring dengan kaki menekuk, berhimpitan di palka kapal yang sempit dan pengap, entah menuju ke mana.
“Mas Reka, Sasa takut ….”
Ia menggenggam tangan mungil sang adik seraya berbisik lirih. “Mas Reka juga takut, Sa ….”
‘----------
Kapal berlabuh di dermaga lapuk yang sunyi. Para pria dewasa bertas ransel kembali menaiki kapal lain yang telah menunggu. Sedangkan anak-anak disuruh mengikuti seorang pemuda bertubuh gempal. Sambil menggendong Sasa yang terlelap, ia berjalan melewati perkampungan, menembus hutan, menyusuri ladang.
Setiba di perkebunan, pemuda bertubuh gempal menyuruh mereka masuk ke gubuk berisi anak-anak yang tengah tertidur pulas.
“Apa kita udah sampai, Mas?” bisik Sasa yang terbangun ketika ia mencoba membaringkan sang adik di atas tikar tipis, lusuh, dan sobek di sana-sini.
Ia mengangguk. “Udah, Sa.”
“Apa kita bisa ketemu sama mama sama papa?”
Ia menggeleng lemah.
Setiap pagi, mereka dibangunkan ketika langit masih gelap. Lalu seorang pria menerangkan pekerjaan hari itu dalam bahasa Melayu sambil membentak-bentak. Di antara puluhan anak di dalam gubuk, tak seorang pun berani membantah apalagi melawan. Meskipun pekerjaan yang harus dilakukan sangat melelahkan dan makanan yang diberikan tak pernah mengenyangkan.
Di antara mereka tak ada yang saling bicara, atau sekalipun mencoba bicara. Semua seolah bersepakat membisu dan bekerja layaknya robot. Terkadang, ia memergoki seorang anak sedang menangis tersedu-sedu di kebun, atau di pojok gubuk, atau di belakang kakus yang jorok dan bau. Tapi tak seorangpun berminat mendekat apalagi menghibur. Semua anak sibuk dengan pikiran dan nasibnya sendiri-sendiri.
Suatu hari, mereka tengah membantu memanen sawit. Anak-anak perempuan seusia Sasa mengumpulkan inti sawit yang berjatuhan di tanah. Sementara para anak lelaki mengangkut sawit menggunakan gerobak menuju dump truck yang terparkir di tengah kebun.
Di jam makan siang, seorang pekerja membagikan bakpao. Namun ia dan Sasa tak kebagian. Padahal perut keroncongan karena tadi pagi tak ada jatah sarapan. Ia juga kelelahan usai mendorong gerobak berisi buah sawit yang besar dan berat. Tiba-tiba sebuah tangan terulur. Ketika menoleh, dilihatnya bocah seusia Umay berkaos merah yang setiap saat terbatuk menawarkan sepotong bakpao.
Ia sempat ragu, tapi bocah itu memaksa sambil menunjuk ke arah Sasa. Ia lantas menerima dengan berat hati dan memberikan semuanya pada sang adik.
“Makasih,” ucapnya dengan suara tercekat.
Tapi bocah itu justru kembali memotong bakpao.
Namun bocah berkaos merah itu terus-menerus mengulurkan padanya.
“Nggak. Buat kamu aja.” Ia tetap menolak. Tak mengira bocah itu nekat menjejalkan bakpao ke mulutnya.
Baru kali ini ia merasa kelaparan sampai perut perih melilit. Dulu, ia pernah mogok makan sebagai bentuk amarah pada ayah bunda. Tapi rasanya tak semenyakitkan ini. Jadi, ketika seseorang yang juga sedang kelaparan rela memberikan jatah bakpao untuknya, air mata tak bisa tertahan.
Hati seperti diiris-iris.
‘---------------
Suatu malam ketika semua tengah terlelap, ia terbangun karena mendengar suara batuk yang sangat keras. Rupanya bersumber dari bocah seusia Umay. Ia langsung menyambar botol air mineral bekas yang diam-diam disimpan untuk persediaan minum Sasa. Lalu memberikannya pada bocah itu. Tapi setelah minum justru muntah-muntah.
Ia bermaksud mengambil kain usang di sudut gubuk untuk membantu membersihkan. Tapi terperangah begitu mendapati bekas muntahan berwarna merah segar.
Ia berteriak minta tolong, tapi yang didapati hanya amarah dan kesunyian.
‘---------------
Esok hari kondisi bocah seusia Umay semakin melemah. Wajahnya pucat, matanya sayu, bibirnya kering kerontang, dan tubuhnya panas tinggi. Tapi tak seorangpun menolong apalagi memberi obat. Bocah itu bahkan dibentak habis-habisan karena sakit.
“Mati saja kau daripada buat penyakit!”
Malamnya, ia mendekati bocah yang lemah lunglai itu. Badannya masih panas dan napasnya satu-satu. “Siapa nama kamu?”
Bocah itu tak menjawab. Ia bertanya sampai tiga kali, tapi bibir pucat itu hanya bergetar tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Ketika ia kembali ke samping Sasa dan bersiap untuk tidur, sayup-sayup terdengar bisikan lirih,
“R-ra w-wa t-te r-ra t-te … em-ma k … c-ca k-ku ng ….”
Ia mengulang kata yang disebutkan lalu bertanya. “Rumah kamu di Cakung?”
Saat itulah terdengar suara gaduh di luar. Disusul pintu gubuk yang ditendang hingga terpental. Membuat anak-anak yang terlelap menjerit ketakutan. Sebagian anak perempuan bahkan mulai menangis, termasuk Sasa. Namun pria bertubuh kekar berwajah bengis yang menendang pintu gubuk dan sejumlah pria lain yang menyusul masuk berusaha menenangkan meski dengan bahasa yang tak dimengerti.
“Polis! Polis!”
***
Jakarta
Kinanti
Sejak tiba di Jakarta, mas Pram bersikeras melarangnya menemui mas Tama maupun keluarga sang mantan suami. Berita kematian putra pertama mas Tama dengan istri barunya menjadi alasan utama. Ditambah gencarnya pemberitaan media tentang kasus korupsi yang menyeret nama sang mantan suami hingga dicopot dari jabatannya.
“Jangan egois, sayang. Mantan suami kamu sedang dalam keadaan hancur. Kita harus sedikit berempati.”
Mas Pram yang senantiasa berlemah lembut berhasil meluluhkannya. Ia lantas setuju untuk menunggu di hotel dan mengirim bunga sebagai tanda turut berduka cita. Melalui setiap detik penantian yang seperti siksaan. Memikirkan harapan yang mulai goyah dan membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa menimpa Rek,a sejak berada di parkiran City Gross hingga saat ini sangatlah melelahkan. Kondisi fisiknya turun drastis meski tak harus dirawat. Sebab ada mas Pram yang selalu mendampingi.
“Apa Reka bisa pulang, Mas?”
“Bagaimana kalau aku nggak bisa ketemu Reka lagi?”
“Seharusnya dulu kami mengajak Reka ke Stockholm, bukan tinggal dengan keluarga baru Mas di Jakarta! Terbukti kan, sekarang begini?”
“Di Stockholm Reka akan merasa aman dan baik-baik saja. Tidak hidup penuh ketakutan karena resiko pekerjaan Mas di sini!”
Hingga suatu hari, kabar gembira yang ditunggu-tunggu akhirnya datang menghampiri. Satu telepon mengejutkan di tengah malam dari Sada sang mantan adik ipar menjadi berita paling membahagiakan tak terlupakan.
“Mba Kinan, Reka sudah ketemu. Sekarang masih dirawat di rumah sakit di Kuala Lumpur ….”
Esok hari, ia langsung terbang menuju Kuala Lumpur. Menemui putra tercinta yang hampir tak bisa ditemuinya lagi. Dan hanya menangis manakala melihat kondisi Reka yang mengenaskan. Putranya itu begitu kurus dan pucat, kedua matanya cekung, di sekujur tubuh terdapat banyak luka, dan tatapan yang terpancar terlalu asing dibanding kali terakhir mereka bertemu.
“Reka harus ikut denganku, Mas,” ujarnya saat bertemu sang mantan suami di ruang tunggu rumah sakit.
Semula ia terkejut mendapati penampilan pria itu yang jauh berbeda dari biasanya. Tak ada lagi pria gagah idaman para wanita. Yang ada hanyalah seorang berwajah kuyu, cekung, menyedihkan.
“Aku nggak mau nyawa anakku terancam selama dia tinggal sama kamu, Mas.”
Mas Pram telah memintanya dengan sangat agar tak menghakimi mas Tama. Tapi ia tak bisa untuk tidak menunjukkan tekad. Peristiwa penculikan ini sangat menakutkan. Ia tak bisa hidup dengan tenang selama Reka masih tinggal bersama sang mantan suami. Profesi yang dijalani mas Tama terlalu riskan jika tak berhati-hati dalam melangkah.
“Kita tanya pendapat Reka,” jawab mas Tama seperti yang sudah sudah. “Dia punya hak unt__”
“Aku lebih punya hak untuk menentukan masa depan terbaik untuk Reka!” potongnya emosional. “Dia harus ikut denganku, hidup denganku, dan tak lepas dari pandanganku.”
“Aku nggak rela Reka harus tinggal bersama kalian di daerah konflik!” geramnya tak sabar.
“Kami akan pindah ke kota Poso, buka__”
“Aku tetap nggak rela, Mas!” Ia terus menampik pilihan yang coba diketengahkan sang mantan suami. “Bagaimana dengan sekolah Reka, karier berenangnya, masa depannya? Kamu mikir ke sana nggak sih, Mas? Ini semua demi kebaikan dan kebahagiaan Reka. Kamu jangan egois, Mas!”
***
Jakarta
Pocut
Ia mengusap pipi Sasa sembari menggumamkan kalimah penuh kesyukuran. Seluruh pengharapannya yang nyaris sirna akhirnya terkabul dengan indah. Bisa berkumpul kembali dengan putri kecilnya setelah dua minggu terpisah. Empat belas hari yang rasanya seperti tak berkesudahan. Kegelisahan, ketakutan, ketidakpastian, penyesalan menghiasi hari demi hari seperti siksaan tiada akhir. Namun, kini telah berganti menjadi rasa syukur penuh kebahagiaan.
“Mama ….”
“Iya, sayang?”
“Sasa mau ketemu adik Asta ….”
“Iya, sayang. Besok kita ke tempat adik Asta, ya.”
“Kenapa adik Asta enggak tinggal sama-sama kita, Mama? Kasihan masih bayi harus tinggal sendiri.”
“Karena ….” Ia merapikan anak-anak rambut tak beraturan yang menutupi dahi putri kecilnya. “Adik Asta sudah ada di sisi Allah ….”
“Di sisi Allah itu di mana, Ma?”
Ia tersenyum seraya mencium pipi Sasa. “Jawabannya besok Sasa lihat sendiri, ya. Sekarang kita tidur, yuk. Apa Sasa belum mengantuk?”
Sasa menggeleng. “Sasa mau nunggu papa sama mas Reka pulang.”
“Papa masih sibuk ngurus penjahat yang nyulik Sasa. Mas Reka juga masih di rumah sakit ….” Umay yang menjawab dengan suara serak setengah tertidur. “Mereka nggak bakalan pulang malam ini ….”
“Sssttt.” Itu suara Icad. Sepertinya putra sulungnya itu masih terjaga. “Kalau Sasa belum ngantuk … nggak apa-apa, biar Abang temani begadang.”
Ia kembali tersenyum seraya membelai rambut Sasa. Mereka berempat tengah tidur berdampingan dalam satu tempat tidur. Ia, Sasa, Umay, Icad. Menikmati kebersamaan sederhana yang ternyata teramat mahal harganya. Terutama setelah masa hampir kehilangan yang menakutkan. Segala sesuatu terasa lebih berharga. Sebab kehilangan tak pernah memberi kabar. Datang tiba-tiba tanpa pesan tanpa menunggu kesiapan.
Sama seperti kehancuran. Bisa mengintai siapa saja tanpa pandang bulu. Karena setiap diri pasti akan diuji. Tinggal bagaimana menyikapinya, apakah ridho dan menerima lalu menyongsong kebaikan di baliknya. Atau senantiasa mempertanyakan dan tak terima hingga semakin binasa.
Ingatannya kembali melayang pada malam itu, hari ke sekian penantian dalam kegelisahan menunggu kabar ditemukannya Reka dan Sasa, malam-malam panjang penuh kesedihan setelah kehilangan calon putra mereka, Tama merengkuhnya seraya berbisik dalam penyesalan,
“Maafkan aku ….”
Tidak. Ia memang terkejut setengah mati mendengar berita paling menyudutkan tanpa kesempatan membuktikan. Namun ia tak pernah kehilangan kepercayaan terhadap sang suami. Tidak sedikitpun, tidak sekalipun.
Tama lantas menceritakan semua tanpa kecuali.
Sudah, cukup, ia memercayai sang suami sepenuh hati.
Intrik para pemegang tampuk kekayaan dan penguasa bukanlah ranahnya. Kesalahpahaman yang sengaja tercipta sudah menjadi ujian yang digariskan. Tidak lagi penting apa, siapa, mengapa. Tak perlu mempertanyakan lagi karena hanya akan menambah luka. Toh di mata manusia, sang suami telah hancur lebur. Ia hanya bisa memastikan bahwa sekacau apapun dunia mengombang-ambingkan Tama, sebesar apapun badai ujian yang datang menerpa, pria itu selalu mempunyai tempat untuk kembali.
Ia sebagai istri. Anak-anak mereka tercinta. Bu Niar yang tak kenal lelah mendoakan sepanjang waktu. Menjadi perisai terakhir tak tergoyahkan seorang Wiratama Yuda.
“Aku dipindahkan ke Poso.”
“Ke mana Mas pergi, kami ikut.”
“Di sana mungkin tak akan menjadi mudah. Bisa jadi lebih sulit.”
“Selama kita bersama-sama, selama kita mengusahakan taat, perlindungan dan jalan keluar akan selalu ada. Karena sudah menjadi janji Allah.”
Pria berwajah kuyu dengan sepasang mata sayu yang nampak terlalu lelah itu lekas kembali merengkuhnya. “Sekali lagi aku minta maaf. Telah menciptakan neraka di kehidupan kita. Terima kasih sudah menjadi istriku … terima kasih sudah mendampingiku ….”
***