Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 85. When Somebody Loved Me


When somebody loved me


(Ketika seseorang mencintaiku -diambil dari lirik lagu berjudul ‘When she loved me’ yang dinyanyikan oleh Sarah McLachlan)


 ***


Jakarta


 Sarip


Hari ini bisa dipastikan akan menjadi perhelatan terbesar warga kampung Koneng. Suasana meriah sudah terasa sejak jalan masuk Basmol dari arah Daan Mogot. Sepasang janur kuning melengkung bertuliskan Pocutama menjadi gerbang sambutan pertama bagi para tamu undangan. Pemandangan kian semarak dengan deretan karangan bunga ucapan selamat yang membentang di sepanjang jalan Pasar Kemiri.


 


...Selamat Berbahagia...


...atas pernikahan...


...Kombespol Wiratama Yuda & Pocut Halimatussadiah...


...dari...


...Kapolda Metro Jaya...


...Irjen Pol Pambudi Prakoso...


 


...Happy Wedding...


...Kombespol Wiratama Yuda & Pocut Halimatussadiah...


...DIKARA Corporation...


 


...Happy Wedding...


...Kombespol Wiratama Yuda & Pocut Halimatussadiah...


...Ikatan Alumni Akpol tahun xxxx...


Ia sempat berhenti dan menepikan motor di sisi jalan untuk mengabadikan deretan karangan bunga yang berasal dari sejumlah orang ternama, kalangan artis, maupun pejabat pemerintahan dan kepolisian. Beberapa pengguna jalan lainnya juga tertarik untuk melakukan hal yang sama. Alhasil lalu lintas menjadi macet karena banyak motor parkir di pinggir jalan sebab si empunya tengah asyik berselfie ria di depan deretan karangan bunga.


“Priiiit! Priiiit!” Lengkingan suara peluit memecah hiruk pikuk antusiasme warga.


“Bubar! Bubar!"


"Jalan! Macet! Macet!"


Dua pria berseragam hansip berusaha membubarkan kerumunan. Ia pun segera beranjak karena hari mulai siang. Matahari semakin merangkak naik. Dan Cakra pasti sudah menunggu.


Ya, di perhelatan besar kali ini, ia mendapat tugas khusus mengawal sejumlah tamu undangan penting dari parkiran kendaraan menuju tempat akad nikah berlangsung. Namun sebelum berbalik matanya sempat menangkap tulisan yang cukup mencolok. Lain daripada yang lain.


...Duda ganteng andalan manis manja group...


...Akhirnya kawin lagi...


...Congrats brotha...


...from...


...Pria paling tampan sejagat raya...


...Wisaksana Soerjaatmadja...


 


...Happy Wedding Mas Tama...


...Thanks atas kenangan indahnya...


...dari aku yang masih menyayangimu...


...Samara V Dewayani...


 


Ia tertawa membaca tulisan dalam karangan bunga. Kasihan bucin ngenes, batinnya sambil lalu. Kemudian bergegas melajukan motor menuju lapangan bola yang berjarak sekitar 100 meter dari gang H. Soleh. Sejumlah pria berseragam hansip terlihat sudah berkumpul di dalam tenda yang terpasang di pinggir lapangan. Ia lekas bergabung bersama mereka. Sambil celingak celinguk menghapalkan posisi tempat parkir para tamu yang menjadi tanggungjawabnya.


"Halo? Dengan pak Syarif? Saya Risa, sekretaris pak Wisak. Kami sudah on the way yah, sekitar sepuluh menit lagi sampai."


Ia pun bangkit. Merapikan kemeja batik lengan panjang yang agak kusut karena bekas diduduki. Lalu menyugar rambut belah tengah andalan. Bersiap menyambut tamu perdananya hari ini. Wisaksana Soerjaatmadja - Jakarta, tamu VVIP. Begitu yang tertulis di dalam daftar. Total ada lima orang tamu VVIP yang harus ia dampingi.


"Selamat pagi." Ia memamerkan senyum terbaik begitu pintu Mercedes Benz hitam metalik di depannya terbuka. Seorang wanita cantik, ramping semampai, turun dari dalam mobil dengan gerakan anggun.


"Pak Syarif?" Wanita itu melihat ke arahnya. "Saya Risa." 


Gile, men. Cakep banget.


"I-iya, betul." Ia mengangguk dengan gugup. "Panggil saja Sarip, Mba ... eh, Bu ...." Tiba-tiba tremor melanda. Keanehan bawaan apabila berjumpa dengan makhluk cantik memesona. Ia pun buru-buru menyingkir ke samping untuk memberi jalan pada Risa.


Namun sebelum Risa melangkah, seorang pria berwajah bintang film lebih dulu menyusul keluar dari dalam mobil. "Eh, Ca, bajuku udah bener belum?"


Wanita bernama Risa langsung berbalik patuh menghadap pria berwajah bintang film itu. Merapikan kerah kemeja putih bersih yang dikenakan. Lalu mengusap saputangan saku yang menjulur rapi dan menepuk kerah jas sambil tersenyum manis.


"Rapi, Pak."


Pria gagah mirip bintang film yang dipastikan bernama Wisaksana Soerjaatmadja itu balas tersenyum. Lalu mengangkat sedikit lengan kanan yang langsung disambar oleh Risa.


"Sarip, ayo." Risa melihat ke arahnya sebelum berlalu lebih dulu bersama pak Wisaksana.


Mereka bertiga berjalan menembus antrean panjang kendaraan para tamu undangan yang baru berdatangan. Juga orang-orang yang sengaja berhenti di pinggir jalan untuk selfie atau sekedar memotret deretan karangan bunga ucapan selamat.


Begitu memasuki gang H. Soleh, mereka disambut oleh gapura anyaman janur kuning yang dikombinasikan dengan bunga-bungaan. Suasana makin semarak dengan adanya hiasan bendera warna warni yang terpasang di sepanjang jalan menuju madrasah.


"Silakan ditunggu di tempat wanita." Ia menunjuk pintu masuk masjid yang diperuntukkan bagi jemaah wanita kepada Risa.


"Kalau Bapak bisa tunggu di sana." Ia memberitahu tempat duduk pak Wisaksana di barisan paling depan.


Tapi pak Wisaksana tak langsung masuk ke dalam masjid. "Jam berapa acara dimulai? Saya tunggu di luar."


"Baik." Ia mengerti dan langsung pamit undur diri. Karena tamu keduanya sekarang sedang mengantre masuk ke dalam lapangan untuk parkir. Riyadh Dotulong - Bandung, tamu VVIP.


Namun baru juga berbalik, matanya sudah tertumbuk pada sosok istimewa yang sejak detik pertama telah berhasil melenakan jiwa raga. Seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah teman istri Cakra. Gadis cantik yang membuat kehidupan hampanya menjadi lebih berwarna sejak tragedi kuah rendang beberapa waktu silam. Mengusik gairahnya untuk memiliki tujuan hidup yang hakiki. 


"Hai?" Gadis cantik bak bidadari berkebaya brokat warna peach itu melemparkan senyum memikat.


"H-hai ... k-kamu ... apakabar, cinta?" Ia membalas sapaan dengan suara bergetar saking merasa berbunga-bunga bak terbang ke atas awan di langit biru. Tersenyum lebar menanti bidadari datang mendekat.


Tapi … untung tak bisa diraih malang tak dapat ditolak. Karena sang bidadari impian ternyata melewatinya begitu saja. Terus berjalan lurus ke depan menghampiri seorang pria berseragam cokelat yang juga sedang tersenyum sumringah.


"Lho, kamu kok udah di sini, sayang? Dari jam berapa?"


Sayang?


Ia hanya bisa melongo melihat sang bidadari memanggil sayang pada pria lain. Dua insan itu bahkan saling berbagi senyum hangat sambil bercanda bak sepasang kekasih tanpa merasa risih pada sekitar. 


Definisi sempurna dari layu sebelum berkembang. Patah hati tanpa sempat saling memiliki. 


***


Tama


Sejak Subuh, Reka telah berdiam di kamarnya. Memperhatikan bagaimana MUA merapikan penampilan dan memberi instruksi tentang cara mengenakan baju untuk akad.


“Nanti kain sarungnya diikatkan ke pinggang sampai sebatas lutut ya, Mas,” ucap Ben sang MUA sambil memakaian pelembab dan menyapukan lip balm ke seluruh permukaan bibirnya.


Selama seminggu terakhir, aktivitasnya di lapangan memang cukup padat. Sering lupa untuk mengonsumsi air putih sesuai anjuran kesehatan. Membuat wajahnya terlihat kuyu akibat kelelahan. Dan bibirnya kering sampai pecah-pecah.


Sejurus kemudian, Ben mengerling ke arahnya dengan ekspresi penuh kepuasan. "Ganteng maksimal, Mas. Stand out. Siap jadi raja sehari.”


Ia sontak tertawa melihat ekspresi Reka yang tertangkap oleh pantulan cermin. Reka yang duduk tepat di belakang punggungnya memutar bola mata melihat keekspresifan Ben.


“Harus, gitu?” Reka bahkan langsung menolak ketika Ben hendak merapikan penampilan putranya itu. “Nggak mau pakai lipstik.” Reka menunjuk ke arahnya dengan ekspresi geli. "Kayak cewek aja.” 


Ben terkekeh. “Ini tuh bukan lipstik, Dedek naga. Tapi pelembab bibir. Biar penampilan terlihat lebih segar dan berseri.”


“Naga?” Reka semakin mengerut dan tetap menolak. “Nggak mau.”


“Anak ganteng dong, ah. Persis banget wajahnya sama papa kamu, Dek.” Ben masih terkekeh. “Mas Kombes, kok bisa sih punya cetakan mini me plek ketiplek gini? Gemesin tahu nggak?”


Ia tergelak.


"Yuk naga yuk ... bisa pakai pelembab." Ben bersiap untuk mengoleskan pelembab. Tapi Reka lebih dulu menghindar.


Ben mengangkat bahu. “Okey. Lagian, sesuatu yang dipaksa tuh ... rasanya nggak bakalan enak, Mas."


Ia semakin tergelak. Sementara Reka yang bersungut-sungut mendengar celotehan absurd Ben memilih beranjak ke depan nakas. Tak memedulikannya lagi.


Kini, ia telah mengenakan jas berleher tertutup (baju meukasah) warna hitam dengan aksen sulaman benang emas di bagian leher, dada dan pergelangan tangan. Celana panjang hitam (celana sileuweu atau celana cekak musang). Lengkap dengan lilitan sarung kain songket di pinggang (ija krong) dan sebilah siwah (senjata tradisinal Aceh selain rencong).


Sedangkan Reka dan seluruh anggota keluarga lainnya memakai beskap jawa untuk para pria dan kebaya sunda bagi wanitanya. Kecuali Cakra yang sejak semalam sudah berada di rumah Pocut terlebih dulu. Terpisah dengan Anja dan Aran yang baru datang ke acara akad nikah bersama rombongan mempelai pria pagi ini.


“Sebentar lagi ... Ayah mau menikahi tante Pocut.” Ia memperhatikan Reka yang sedang kerepotan menyisipkan keris di pinggang belakang.


"Sini Dedek naga, biar dibantu sama Kakak." Ben dengan cekatan membantu Reka menyusupkan keris dan warangkanya di antara stagen dan jarik.


"Iya, tahu," jawab Reka begitu Ben selesai memasang keris dan pamit keluar kamar.


Ia mencoba tersenyum. "Makasih Reka, udah mau mengerti dan menerima pilihan ayah."


Tapi Reka terang-terangan menghindari kontak mata dengannya. "Udah nggak kupermasalahin. Yang penting ayah sama bunda bahagia."


Ia menghela napas sambil berjalan mendekat dan menepuk bahu Reka. "Ayo, orang-orang udah nunggu. Kita berangkat sekarang."


"Jangan terulang lagi." Namun seruan Reka berhasil mengurungkan langkahnya.


"Jangan sampai tante Pocut nangis tiap malam kayak bunda." Otot rahang Reka terlihat mengeras.


Ia menelan saliva mendengar permintaan tak terduga Reka.


"Aku tahu, bunda nangis bukan cuma karena ayah," sambung Reka cepat. "Ada alasan lain yang membuat bunda sering nangis."


Ia mengembuskan napas panjang. "Bunda udah cerita?"


Reka mengangguk.


"Ayah minta maaf karena nggak bisa bantu bunda." Ia berucap dengan lidah kelu. Sebab memang gagal mendampingi Kinan melalui masa sulit. Bahkan bisa jadi, sikap abainya menjadi salah satu pemicu semakin terpuruknya jiwa Kinan.


"Udah dimaafin," jawab Reka singkat.


Ia kembali menelan saliva.


"Bisa janji?" Reka menatapnya tajam.


"Apa?"


"Yang tadi aku bilang."


Ia mengembuskan napas panjang. Untuk saat ini, tak ada yang paling diinginkan selain kebahagiaan Pocut dan anak-anak. Kegagalan bersama Kinan telah mengajarinya banyak hal.


"Aku memang belum bisa suka sama tante Pocut." Reka mengangkat bahu. "Sama seperti ke pakde Pram. Rasanya aneh ada orang lain."


Ia mengangguk mengerti. Tak perlu memaksakan diri, Nak. Ayah yakin sebentar lagi hatimu luluh di hadapan tante Pocut. Sebagaimana ayah dalam waktu singkat bertekuk lutut tanpa syarat.


"Tapi aku tahu kalau tante Pocut ibu-ibu biasa yang baik dan nggak suka macam-macam." Reka menunduk.


Ia tersenyum. Well said. Tante Pocut memang ibu-ibu (cantik) biasa yang nggak suka macam-macam. Itulah mengapa ia bisa dengan mudah jatuh hati. She's rare.


Ia pun mengulurkan tangan kanan mengajak Reka mengadu kepalan. "I promise you (ayah janji)."


Reka menyambut kepalan tangannya. "Noted. Jangan sampai Icad tambah benci sama Ayah."


Ia tertawa. "Icad benci sama Ayah?" Lalu meraih bahu Reka untuk sama-sama keluar kamar.


Reka mengangguk. "Kami sama-sama benci Ayah."


"Wow?" Ia menoleh namun Reka justru menunduk. "Benci?"


"Dulu," ralat Reka cepat.


"Kalau sekarang?" Ia membuka pintu kamar dan menemui wajah Sada sudah berdiri di baliknya.


"Kita kemon." Sada menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri.


Ia mengangguk. Begitu Sada melangkah pergi sambil berseru pada semua orang, "Let's go ... CPP (calon pengantin pria) ready."


Ia kembali menoleh ke arah Reka. "Apa Ayah punya dua musuh dalam selimut?"


"Satu." Reka mengangkat jari telunjuk. "Aku setengah. Icad setengah. Total musuh dalam selimut cuma 1."


"Setengah benci?" Ia kembali bertanya sambil mengangguk ke arah mama yang memintanya untuk bersegera.


"Jangan sampai terlambat." Mama menggeleng sambil menunjukkan pergelangan tangan.


"Siap." Ia memberi hormat pada mama. "Setengahnya lagi?" Ia beralih ke sebelah.


Tapi Reka mengendikkan bahu berusaha melepaskan diri. Dan ia mengeratkan rangkulan sambil setengah mencekik leher Reka. Mencoba bercanda.


"Depends on you, Sir (tergantung padamu, pak)!" Seru Reka yang akhirnya berhasil melepaskan diri. Langsung berlari menjauh berusaha mengejar mama.


"Tunggu, Uti."


"Ehm!" Seseorang tiba-tiba menjajari langkahnya. "On target. Es mencair. Sukses menaklukkan hati putra mahkota?"


Ia menyeringai begitu mengetahui Sada yang bicara. Dengan gerakan tanpa bayangan langsung memiting batang leher adiknya itu.


"Aduh, Mas!" Tapi yang memekik justru orang lain. "Jangan banyak tingkah. Nanti bajunya kusut. Siwahnya jadi lepas, kan?"


Ia dan Sada sama-sama tergelak melihat kepanikan Ben.


"Tolong banget, Mas. Jangan terlalu aktif." Ben memelototinya sambil membetulkan posisi siwah.


"Tenaganya disimpan saja untuk nanti." Ben tiba-tiba mengerling penuh arti. "Di tempat yang seharusnya dengan orang yang tepat untuk satu tujuan berarti."


"Buahahahaha!" Tawa keras Sada langsung meledak. Dan ia hanya bisa tersenyum kecut tanpa ada keinginan untuk ikut tertawa.


***


Cakra


Allahuma shali 'ala Muhammad


Ya Rabbi shali 'alaihi wasalim


Allahuma shali 'ala Muhammad


Ya Rabbi baalighul wasila


Lantunan shalawat dari grup nasyid acapella besutan Syafiq dan kawan-kawan menjadi penanda hadirnya rombongan keluarga mempelai pria.


Ia berdiri di halaman masjid bersama yahbit Hamdan, ustadz Arif, pak Hartadi, cang Romli, dan tetua kampung. Ia dan yahbit Hamdan sama-sama mengenakan baju ulee balang (pakaian adat Aceh, nama lain dari baju linto baro yang dikenakan oleh Tama) berwarna hitam beraksen sulaman di bagian leher. Sementara yang lain memakai kemeja batik dan jas resmi.


Allahuma shali wassallim 'ala


Sayidina wa Maulana Muhammad


Adadama bi'iImillahi shalatan


Da'imatan bidawami mulkilahi


Ya Allah curahkan rahmat dan keselamatan


Bagi Nabi junjungan kami Muhammad


Selamanya di dalam keabadian


Kekekalan kerajaanMu Ya Allah


(Snada, Neo Shalawat)


Yahbit Hamdan maju ke depan sebagai perwakilan dari pihak keluarga mempelai wanita. Setelah mengalungkan rangkaian bunga pada mempelai pria dan saling bersalaman, rombongan dipersilakan untuk masuk ke dalam masjid.


Ia sempat melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Aran yang memanggil-manggil namanya. Namun tak bisa langsung menghampiri karena harus bersiap di dekat meja akad nikah sebagai seksi sibuk.


Saat ini, seluruh rombongan keluarga mempelai pria dan para tamu undangan sudah berada di dalam masjid. Jemaah pria dan wanita terpisahkan oleh tirai pembatas hingga keberadaan mempelai wanita tak terlihat dari lantai utama masjid.


Semua pihak yang berkepentingan sudah bersiap di tempat masing-masing. Mas Tama duduk menghadap kiblat. Tepat di depan penghulu dan wali hakim. Karena yahbit Hamdan tak bisa menemukan keberadaan keluarga kak Pocut yang masih tersisa, maka wali nikah diwakilkan oleh pejabat yang ditunjuk. Yaitu kepala KUA kecamatan. Sementara yahbit Hamdan dan pak Puguh Koesdiharjo yang bertindak sebagai saksi duduk di sebelah kanan dan kiri.


Ia tersenyum melihat wajah pucat mas Tama. Pria yang menurut pengamatannya tak takut apapun itu terlihat grogi. Ini mengingatkannya pada setahun silam. Ketika ia menikahi Anja di conference room rumah sakit. Dan papa Anja tengah terbaring di ruang ICU. Mas Tama sempat terdiam lama saat hendak menikahkannya.


Tapi mas Tama tetaplah mas Tama. Pria penuh wibawa itu lambat laun terlihat bisa menguasai diri. Usai khotbah nikah yang disampaikan oleh ustadz Arif, mas Tama sudah bersiap dengan sorot penuh keyakinan.


“Saudara Wiratama Yuda bin almarhum Setyo Yuwono, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Pocut Halimatussadiah binti almarhum Teungku Imum dengan maskawin berupa emas 300 mayam dan uang 574.805.000 rupiah, tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Pocut Halimatussadiah binti almarhum Teungku Imum, dengan maskawin tersebut di atas tunai.”


***