Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 57. Aku Wanita Biasa


Aku Wanita Biasa


-diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Krisdayanti-


***


Jakarta


Pocut


"Biar, Teh," ucap Cucun berulangkali. Ketika memergokinya sedang merapikan meja makan di teras belakang. "Sudah ada petugas katering."


Empat petugas katering berseragam sedari tadi sibuk mengurus meja di bagian depan dan tengah. Pusat berkumpulnya para tamu, sejumlah kerabat dan handai taulan. Berbanding terbalik dengan keadaan meja di bagian belakang yang berantakan seperti kapal pecah.


"Nanti juga ada petugas CS panggilan," imbuh Cucun berusaha meyakinkannya. "Teteh duduk dengan tamu yang lain aja."


Ia tersenyum. "Saya di sini saja."


Saat baru datang tadi, ia sempat duduk bersama bu Niar dan mamak. Mengobrol panjang lebar tentang keseharian dan hal umum lainnya.


"Terimakasih sudah berkunjung," ucap bu Niar seraya tersenyum. "Harusnya saya yang datang ke rumah Bu Cut. Tapi tahun ini ... ketempatan kumpul keluarga besar. Mau nggak mau stand by di rumah."


Lambat laun tamu lain ikut bergabung. Bu Niar pun mulai memperkenalkannya pada setiap kerabat yang belum mengenal atau tak lagi mengingatnya.


"Ini Pocut, kakak ipar Anja," terang bu Niar di hadapan sejumlah tamu berpenampilan elegan. "Waktu syukuran almarhum mas Setyo pulang dirawat juga ada di sini. Masih ingat, kan?"


"Menantu paling jago masak." Bu Niar tersenyum. "Apapun masakannya pasti enak. Sudah ja ...."


"Menantu ipar, Ceu," ralat seseorang berphastan abu. "Kalau sebutannya menantu berarti istrinya Tama atau Sada."


"Oh ...." Bu Niar terkejut. Lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum. "Sama saja. Sama sama menantu."


Ia langsung menunduk. Tak berani membalas tatapan Bu Niar.


Lama kelamaan obrolan mulai berkelompok sesuai kenyamanan masing-masing. Mamak dan bu Niar terlihat duduk bersama dua wanita seusia. Salah seorang berada di kursi roda. Satu lagi mantan seorang guru besar, begitu informasi yang diberikan saat perkenalan tadi.


Sementara ia berada di tengah-tengah antara wanita cantik nan elegan dan para gadis remaja seusia Anjani.


Awalnya ia ikut mengobrol dan cukup menikmati. Bertemu dengan orang baru, saudara baru. Membahas hal umum mulai dari hidangan favorit lebaran dan cara memasaknya. Sampai menceritakan kelucuan khas anak-anak.


Namun sejurus kemudian mulai tahu diri. Ketika semua orang membicarakan hal yang berjarak sangat jauh dari kehidupannya selama ini.


"Rekomen anti aging, dong. Maklum udah kepala tiga mesti kenceng perawatan. Mending DNA salmon apa multipeptide?"


"Brand lokal ada yang bagus tuh. Sempat direview sama ...." Sambil menyebutkan nama seseorang. Terdengar cukup asing baginya. Bukan nama artis ternama yang sering wira wiri di layar televisi. "Gue pakai udah hampir sebulan. Hidrasi banget lumayan kenceng. Nggak semehong salmon."


"Cus biar disayang suami," lanjut orang tersebut sambil tertawa. "Awet muda plus dompet aman."


"Sebenarnya skincare nggak ngaruh banget," tukas yang lain. "Kalau mau kenceng awet muda mending botox apa filler sekalian. Jelas hasilnya."


"Keseringan botox sama filler bahaya, Jeng. Bisa bengep nggak karuan. Mending dikerjain (operasi plastik) sekalian."


"Kamu sulam alis sama eyelash di mana?" Seseorang tiba-tiba menoleh ke arahnya. "Alami banget."


Dalam sekejap ia menjadi pusat perhatian, karena menjawab tak pernah melakukan sulam alis ataupun eyelash. Mereka bahkan tak percaya, ketika ia mengaku hanya memakai perawatan wajah berupa pembersih, pelembap dan bedak. Tanpa toner, serum, atau skincare lainnya yang sebutannya baru kali ini ia dengar.


"Makanya kulit kamu kelihatan cape dan kusam. Nggak pernah facial pasti," tebak seseorang.


"Coba mulai dirawat, Mba Pocut," saran yang lain. "Pakai skincare yang ringan-ringan aja dulu. Sayang, udah punya modal bagus tapi nggak dirawat. Aset, lho."


Dan ia memutuskan untuk pamit ke belakang ketika obrolan beralih membahas tentang investasi keluarga, reksadana, saham, asuransi pendidikan, sekolah internasional, dan hal sejenis. Selain karena tak begitu paham, juga bagai kahyangan baginya. Dunia kelas atas yang tak pernah tersentuh.


Tawa Cucun membuyarkan lamunannya. "Bingung ya, Teh ... mau ngobrol apaan sama ibu-ibu sosialita."


Ia ikut tertawa. "Iya. Saya ngertinya cuma dapur."


Cucun memandanginya geli. "Sumur ... kasur ...."


Ia menggeleng sambil masih tertawa. "Sssttttt."


"Ya, Teh ... kalau nyaman di sini mah, mangga." Cucun kembali berkata serius. "Cuma jangan beberes. Biarin aja. Nanti sore CS panggilannya datang."


"Nggak apa-apa." Tapi ia tak sepakat. "Biar saya ada kerjaan. Daripada bengong." Sambil terus menumpuk piring dan mangkuk kotor.


"Kayaknya sekarang nggak akan bengong lagi, Teh." Cucun tersenyum penuh arti. Sembari menunjuk ke ruang tengah. Di mana seorang pria yang memakai kemeja dengan motif senada sedang saling menyapa sambil tertawa-tawa dengan Sasa dan Umay.


"Tos dongkap (sudah datang)," seloroh Cucun membuatnya mengernyit. "Eh ... maksud saya ... mas Tama sudah datang."


Dengan tergesa, ia buru-buru menyelesaikan menumpuk piring kotor yang masih tersisa. Ingin segera membawanya ke dapur belakang.


"Eits, Teh!" Belum sempat beranjak, Cucun sudah menghentikannya. "Biar sama saya." Sambil memaksa mengambil alih piring kotor dari tangannya.


Ia hendak mengikuti langkah Cucun pergi ke dapur. Tapi tawa kecil Sasa lebih dulu terdengar.


Detik itu juga semua berjalan melambat. Tamu yang sedang bercengkerama dan tertawa, petugas katering yang hilir mudik, canda riang anak-anak. Termasuk Sasa yang menarik tangan Tama dan berjalan mendekatinya.


"Ayo, Om. Itu mama ... ada di sana, tuh!" Sambil menunjuk ke arahnya. "Ayo, Om!"


Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Tangannya bahkan harus berpegangan erat pada ujung meja agar tak menggelosor. Memandangi Sasa yang berjalan menghampiri sambil melonjak-lonjak kegirangan. Dan menatap Tama yang tersenyum ke arahnya.


"Maaf, Pak, bukan bermaksud tidak sopan." Ucapnya kemarin sore. Urusan dengan Tama belum terselesaikan, tapi sudah muncul masalah baru.


"Saya tidak bisa. Karena sedang menunggu ...." Dengan menekan seluruh perasaan tak enak. Ia tentu harus berterus terang pada pak Raka.


Terlebih dua orang tersebut, mereka berdua, terikat hubungan kekerabatan. Tama dan pak Raka.


Mengapa semakin ke sini justru semakin memusingkan?


"Oh ...." Pak Raka tertawa mendengar kalimat terbatanya. "Baru bilang tertarik ingin dekat? Belum melamar, kan? Sama posisinya seperti saya."


"Orang itu ...." Ia ingin memberitahu satu nama.


"Selama belum akad, semua kemungkinan masih bisa terjadi. Yang tinggal lima menit ijab kabul aja bisa gagal." Pak Raka memotong ucapannya sambil tersenyum simpul. "Apalagi baru ngomong. Belum apa-apa menurut saya."


"Tapi orang itu ...." Ia benar-benar ingin memberitahu.


"Nggak penting siapa orang itu." Pak Raka menggeleng. "Yang penting kesempatan masih terbuka lebar."


Ia semakin mencengkeram ujung meja. Ketika Tama dan Sasa dalam sekejap sudah berdiri di hadapan.


"Ma, ada om." Sasa menghampirinya dengan senyuman paling lebar.


Ia mengusap kepala Sasa sembari tersenyum. Lalu beralih melihat Tama yang menatapnya dalam-dalam.


"Mohon maaf lahir batin." Tama tersenyum.


Ia balas tersenyum dan mengangguk. Belum sempat menjawab karena Sasa keburu meraih tangannya agar duduk di kursi yang baru saja ditarik. Sengaja disiapkan untuknya.


"Mama duduk sini, Ma."


Lalu dengan setengah berlari Sasa mengelilingi meja. Menarik kursi lain untuk diduduki Tama. "Kalau Om di si ...."


Tapi wanita yang tadi bertanya di mana ia melakukan sulam alis telah lebih dulu menepuk bahu Tama. "Wah, duren udah datang."


"Hei, pasukan. Duren kita, nih!" Seloroh yang lain.


Dalam waktu singkat sejumlah wanita yang sedang asyik mengobrol datang menghampiri. Mereka menyapa, tertawa, menepuk, berceloteh, lalu menarik Tama menjauh dari ruang belakang.


Tama menatapnya sambil mengisyaratkan, "Sebentar." Sebelum akhirnya menghilang di tengah kerumunan para tamu.


Ia masih terpana ketika satu tangan mungil menepuk-nepuk lengannya.


"Puk ... puk, Mama. Jangan sedih. Nanti Sasa bawa om ke sini lagi. Sabar ya, Ma."


***


Tama


"Definisi duren montong, nih." Seloroh sepupunya yang terkenal paling cablak. "Laki ganteng, gagah berumur, mapan."


"Tam, aku kenalin sama temen mau nggak? Jaminan mutu."


"Tam, cewek yang sempet kita ketemu dulu ... inget, nggak? Jadiin atuh. Aku dukung."


"Buruan cari gandengan baru."


"Iyaaa." Ia berseloroh.


"Wah, dari gelagat kayaknya udah ada calon, nih. Siapa ayo ngaku?"


"Gue kenal nggak?"


"Inisal. Depan R belakang A," ujarnya sambil memasang mimik serius.


"Siapa sih, Taaaam? Kepo deh gue."


"Tebak lah. Gitu aja nyerah. Payah." Ia pura-pura menggerutu.


"Siapa, Tam? Artis? Selebgram?"


"Depan R belakang A .... R a h a s i a ...." Ia tergelak penuh kepuasan. Karena berhasil mengerjai sepupu kepo.


"Eh, tunggu-tunggu ... sejak kapan coolkas mencair? Si Tama jadi benda cair?"


Sejak yang dijuluki kulkas merasakan bahagia. Terutama ketika melihat Pocut mengenakan bros dan baju pemberiannya. Apakah ini bisa diartikan 'ya'?


"Tolong jangan bicara di sini, tidak enak ada banyak kerabat," tolak Pocut ketika ia datang menghampiri.


Baginya tak menjadi masalah. Setelah baju senada yang dikenakan memancing keingintahuan sejumlah kerabat. Kebersamaan mereka berdua tentu akan menjadi momen tepat baginya, untuk memperkenalkan seseorang dan memproklamirkan hal penting di hadapan keluarga besar.


Tapi sepertinya, Pocut tak terlalu suka menjadi pusat perhatian.


"Kita bicara di dalam ... perpustakaan?" Tawarnya memberi pilihan tempat yang tak bisa diakses banyak mata.


Karena jika baju dan bros adalah perwujudan dari sebuah penerimaan. Akan ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. "Dengan mama saya? Saya ingin semua menjadi jelas."


Seperti yang diharapkan, Pocut mengiyakan ajakannya.


"Apa saya bisa tersenyum sekarang?"


Pocut menatapnya tak mengerti.


"Apa ini berarti ... 'ya'?"


Pocut menunduk. "S-saya minta maaf ... karena terlalu mengulur waktu ... saya ...."


Ia tersenyum. "Itu artinya, kamu benar-benar memikirkan semuanya. Saya, kita, anak-anak ...."


"Bolehkah saya tahu satu alasan?" Pocut menatapnya. "Mengapa saya?"


"Semua tahu, saya hanya wanita biasa ...."


Ia menatap Pocut yang telah kembali menunduk. "Saya menemukan apa yang selama ini dicari."


Kalimat klise penuh roman pertama yang berhasil terucap. Tak bisa dipercaya ia bisa mengatakan hal serupa di masa lalu. Tapi inilah kenyataan. Baginya, Pocut ibarat hal paling dicari yang tiba-tiba muncul di depan mata. Tak boleh disia-siakan.


"Latar belakang keluarga saya ... jauh berbeda. Bisa jadi menyulitkan Mas di kemudian hari."


"Saya sudah tahu."


"Termasuk ... bang Umair?" Pocut menatapnya ragu.


"Semua tinggal sejarah." Ia telah mengetahui informasi tentang Abdurrahman Umair. "Tak perlu risau."


Pocut menunduk dalam-dalam. "Saya ... suami saya ... m-maksud saya ...."


"Mantan istri saya akan berada di antara kita seumur hidup." Jika Pocut takkan melupakan mendiang suami seperti yang mama ungkapkan. Di belakangnya juga ada Kinan. "Saya harap kamu bisa mengerti."


"Almarhum suami saya ...."


Ia melihat, Pocut ingin mengungkap sesuatu yang cukup berat. Namun tak kunjung terucap. Membuatnya mengatakan hal lain. "Saya pernah gagal. Nggak berani menjanjikan hal muluk."


"Tapi saya benar-benar belajar. Berusaha selesai dengan diri sendiri sebelum berjalan mendekat."


Pocut menghela napas panjang. "Saya hanya mengerti tentang dapur dan memasak. Saya pasti ... tak bisa mengimbangi ilmu dan pengetahuan yang Mas miliki."


"Saya mencari istri yang menenangkan ... bukan partner diskusi ilmiah," jawabnya seraya mengu lum senyum.


"Saya kurang pandai berbicara dengan orang lain ... sementara Mas ...."


"Obrolan kita selama ini cukup menyenangkan." Ia tersenyum. "Semoga kamu juga berpikiran sama."


Pocut menatapnya.


Ia balas menatap. "Iya?"


Pocut membisu.


"Sebelum mama datang." Tadi ia meminta Cakra untuk mengantar mama ke perpustakaan jika telah selesai berbincang dengan kerabat. "Dan saya meminta doa restu untuk kita berdua ...."


"Saya ...." Pocut kembali menatapnya ragu. "Kemarin ... ada yang datang ke rumah dan ...."


Ia menunggu.


"Saya sudah berterus terang ... kalau saya sedang ... kalau kita ... maksud saya ...."


"Ada yang datang melamar kamu?" Tebaknya.


Pocut menggeleng. "Belum. Hanya ...."


"Tak masalah," tukasnya cepat.


"Tapi ... orang itu ...."


"Bukan masalah untuk saya," ulangnya meyakinkan. "Saat ini orang bersaing. Tugas saya memastikan menjadi orang pertama yang berhasil."


"Orang itu ... saya ...."


Ia menangkap kegelisahan yang terpancar. "Fokus pada kita saja, Pocut. Hari ketiga saya akan pergi ke Surabaya untuk menemui Reka. Saya akan berterus terang tentang rencana kita."


"Sepulang dari Surabaya ... kita bisa membuat janji temu untuk membicarakan semuanya. Saya juga akan bicara dengan anak-anak. Terutama Icad."


Jawaban yang ditunggu-tunggu, Pocut mengangguk meski kemudian menunduk.


Ia tersenyum. Bermaksud meraih tangan Pocut, tapi si empunya keburu menghindar.


"Maaf," ujarnya sambil mengangkat tangan ke atas. Memberi isyarat tak akan berusaha menyentuh lagi. "Terbawa suasana."


***


Pocut


Ada begitu banyak pertanyaan yang mengganggu. Termasuk sejumlah keraguan dan ketakutan. Terutama tentang, apakah perbedaan mereka tak akan menimbulkan masalah di kemudian hari?


Tapi waktu terus berjalan tak pernah mau menunggu. Mengharuskannya segera membuat keputusan dan memberi jawaban. Sebelum keadaan semakin rumit. Dan jalan keluar sulit untuk diketemukan.


Sangat berharap ini adalah jalan yang terbaik.


***