
Jakarta
Pocut
Ia memandang pantulan wajah di dalam cermin lekat-lekat. Meski tak tergambar jelas karena pencahayaan kamar cukup temaram. Namun masih bisa mengenali iris berwarna cokelat yang terang-terangan menampakkan rasa gugup.
"Masih ingat kapan pertama kali ketemu Tama?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh bu Niar tempo hari usai mereka melakukan fitting baju untuk akad tiba-tiba berputar memenuhi kepala.
Ia bahkan harus menelan ludah sebelum menjawab. "Di ... pernikahan ulang Anjani dan Agam."
"Saya atau Sada?" Menjadi kalimat pertama yang paling diingat. Ketika ia meminta anggota keluarga Anjani untuk melakukan peusijuek pada kedua mempelai.
"Apa kesan pertama?" Bu Niar menatapnya.
Ia menggeleng. Sebab hampir melupakan sosok Tama jika pria itu tak mengajaknya bicara panjang lebar di meja makan.
"Nggak berkesan?" Bu Niar tersenyum.
Ia menunduk malu. "Waktu itu ... saya menganggap mas Tama sebagai kakak ipar Agam. Jadi ...." Lagi-lagi ia harus menelan ludah. "Biasa saja. Sama seperti yang lain."
Bu Niar tertawa. "Jawabannya beda jauh."
Ia tak mengerti.
"Tama bilang ... pertemuan pertama kalian sangat berkesan." Bu Niar tersenyum.
Ia tersipu. Orang itu.
Ia mengembuskan napas panjang sambil terus memandangi pantulan diri di dalam cermin.
"Alasan menerima Tama?" Suara bu Niar kembali menyambangi ingatan.
Entah sudah berapa kali ia melakukan salat istikharah. Termasuk meminta doa kepada mamak, obrolan dengan Agam, cerita panjang bersama Anjani, dan ... keceriaan Sasa tiap kali bertemu dengan Tama.
"Banyak."
"Alasan paling utama?"
Ia menunduk. "Karena ... anak-anak."
"Anak-anak?"
Ia mengangguk. "Ketiga anak saya jarang bisa dekat dengan pria selain almarhum ayah mereka dan Agam. Tapi dengan mas Tama ... anak-anak sepertinya nyaman dan cepat akrab."
Kecuali Icad, batinnya dalam hati. Sampai saat ini, Icad masih menjaga jarak meski tak lagi memasang wajah muram jika Tama mendekat atau bertanya.
"Mengapa mau menerima Tama yang pernah gagal? Bukankah itu artinya ... Tama memiliki kekurangan dan kesalahan di masa lalu yang mungkin saja belum diperbaiki. Bisa terulang meski sudah bersama orang yang berbeda."
Ia menghela napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. "Setiap orang memiliki masa lalu dan kekurangan. Termasuk saya."
"Itu bukan jawaban." Bu Niar menggeleng.
Ia menelan ludah. "Saya ... kurang bisa menjelaskan."
Bu Niar tersenyum. "Maaf ya, Pocut. Mama bertanya seperti ini bukan karena ikut campur atau kepo. Hanya ingin membiasakan supaya nanti tidak kaget."
"Obrolan seperti ini sangat biasa di lingkungan kami. Karena memang budayanya seperti ini. Bahkan ada pepatah mengatakan, lebih baik mundur daripada ragu-ragu. Lebih baik tidak sama sekali daripada was was."
"Tinggalkan hal yang meragukan," imbuhnya.
Bu Niar masih tersenyum. "Seperti itu."
"Nanti obrolan yang berkembang akan sangat jelas, detail, to the point. Nggak ada namanya basa basi. Bagi yang belum terbiasa akan merasa dicecar atau disudutkan. Padahal memang iklimnya seperti ini. Harus disiapkan dari sekarang."
"Jika orang bertanya ... jawab dengan lugas, jelas, tenang. Tak perlu takut salah. Karena memang nggak ada yang salah. Ini hanya soal pembiasaan."
"Harus percaya diri, belajar memilih padanan kalimat yang tepat, tak ragu sewaktu-waktu ditodong untuk berbicara di depan umum."
"Tidak perlu malu. Maju dulu. Lama-lama juga terbiasa."
"Anggap saja ... sekarang kita sedang latihan."
"Menjadi istri perwira seperti Tama harus siap lahir batin."
"Apalagi zaman sudah berubah. Di masa Mama dulu, ragam kejahatan belum seekstrim sekarang. Tingkat kenekatan orang juga semakin meningkat. Rasa welas asih sudah menjadi barang langka. Kita yang harus lebih waspada dan mawas diri."
"Sebagai pendamping, kita harus siap jika suatu saat berada di situasi paling tak diinginkan."
"Terus kembangkan diri. Tingkatkan kemampuan. Di bidang apapun. Tak harus akademik atau formal."
"Kemampuan memasak jelas modal bagus. Tinggal terus diasah dan semakin ditingkatkan. Bisa menjadi jalan masuk ke berbagai kalangan. Bisa membawa kita untuk ikut berperan."
Ia memandangi cermin sambil berkata pelan. "Nama saya Pocut Halimatussadiah, ibu tiga orang anak, hanya lulusan SMK."
Lalu mengembuskan napas panjang. "Perkenalkan, nama saya Pocut Halimatussadiah. Memiliki tiga anak."
Ia menggeleng. "Saya Pocut. Bisanya cuma memasak. Tak pernah berpengalaman apalagi bepergian jauh."
Ia memejamkan mata sambil menelan ludah dan bergumam. "Harus percaya diri ... harus percaya diri ...."
Perlahan ia mulai membuka mata seraya melempar senyum terbaik di depan cermin. "Nama saya Pocut. Ibu tiga orang anak. Hobinya memasak. Merasa beruntung bisa bertemu seseorang seperti mas Tama ...."
Namun sejurus kemudian senyumnya memudar. "Tapi juga khawatir karena sebentar lagi akan memasuki dunia baru yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya."
"Takut tidak bisa melakukan yang terbaik. Takut mengecewakan banyak orang terutama mas Tama. Takut ...."
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Harus bisa. Harus terus belajar. Harus nambah ilmu setiap hari. Harus banyak membaca. Harus ... harus ...."
Ia kembali menatap cermin. "Harus bisa. Bismillah."
Esok hari, ia bahkan sudah bersiap satu jam sebelum Tama datang menjemput.
"Mama ...." Sasa berkali-kali memandangimya sambil tersenyum-senyum. "Cantik bangeeet."
"Bajunya baguuus." Sasa mengusap-usap baju yang sedang dipakainya. "Kainnya haluuuuus ...."
"Sasa," keluhnya. "Jangan bikin Mama tambah grogi."
"Grogi itu apa sih, Ma?"
Ia mengembuskan napas panjang tak bisa menjawab pertanyaan Sasa.
Tepat satu jam sebelum jadwal pertemuan mereka di Polda Metro, Tama datang menjemput.
"Kenapa?" Tanyanya dengan mata lurus ke depan. Memandangi antrean kendaraan yang merayap di tengah kemacetan.
Tapi Tama tak menjawab. Hanya tersenyum-senyum simpul sambil terus menoleh ke arahnya.
"Tolong mata konsentrasi ke jalan saja," keluhnya semakin merasa jengah karena Tama masih saja tersenyum menatapnya.
"Bisa matanya lurus ke depan? Jangan ke samping." Ia menoleh tak percaya karena Tama tak juga berhenti memandanginya.
Tama justru tertawa. "Mata ke jalan. Hati ke samping."
Ish. Perilaku Tama akhir-akhir ini sering membuatnya tak habis pikir. Kerap kali mengucapkan hal remeh cenderung menggelikan yang membuat wajahnya memerah sekaligus memanas.
"Nggak usah grogi," ucap Tama begitu mereka sampai di gedung biro sumber daya manusia Polda Metro. "Santai aja."
Ia mengangguk namun sambil berkali-kali menelan ludah dengan gugup.
Tama mengajaknya naik ke lantai dua menuju ruang assessment. Kemudian seorang petugas memberinya map berisi sejumlah formulir yang harus diisi. Diantaranya terdapat daftar riwayat hidup, surat pernyataan bersedia mengikuti suami, surat kesediaan merawat anak tiri, dan lain-lain.
Tak lama kemudian, lima orang pria dan seorang wanita berpakaian warna pink memasuki ruangan. Kesemuanya menyalami Tama sambil berkelakar.
"Izin memberi arahan, Komandan."
"Wah, calon pengantinnya lebih senior dari pengarahnya. Cem mana pula ini?"
Tama hanya tertawa mendengar selorohan yang ditujukan pada mereka.
Dan ternyata, apa yang dikhawatirkan tak pernah terjadi. Sidang yang menurutnya terdengar kaku sekaligus menegangkan tak terbukti. Ia dan Tama hanya diminta mendengarkan sejumlah arahan dari pejabat terkait tentang tugas, hak dan kewajiban sebagai keluarga besar polri dan istri perwira menengah. Selebihnya seputar informasi tentang kegiatan di lingkungan kepolisian daerah dan resor yang harus diketahui. Termasuk bingkisan untuknya berupa kain seragam.
"Nggak susah, kan?" Ujar Tama begitu melajukan kemudi meninggalkan gedung biro SDM Polda Metro. Setelah sebelumnya mengganti seragam PDH (pakaian dinas harian) dengan kemeja warna abu dan celana jeans. "Nanti lama-lama juga terbiasa."
"Mungkin ... saya harus lebih sering bertemu dan berbicara dengan banyak orang," jawabnya sambil menunduk.
"Sekarang aja."
"Apanya?"
"Latihan bicaranya."
Ia mengernyit tak mengerti
"Kita ngobrol seperti ini. Anggap sebagai latihan. Semakin banyak yang diobrolkan semakin baik. Apalagi kalau kita cari tempat yang nyaman, ada makanan enak, musik yang menyenangkan."
Ia mendesah tak percaya karena tanpa bertanya terlebih dahulu, Tama sudah membelokkan kemudi memasuki kawasan Mall yang berada tak jauh dari Bundaran HI.
"Ini dating pertama kita setelah SIK (surat izin kawin) turun." Tama tersenyum simpul.
Ia hanya bisa menggeleng semakin tak percaya. "Pemaksaaan kehendak."
Tama mengajaknya memasuki mall yang beberapa waktu lalu sempat disambanginya bersama bu Niar dan Reka, saat ia hendak mengukur kebaya untuk akad.
"Kamu pasti suka." Tama membimbingnya menuju ke restoran ekslusif yang terletak di tengah-tengah atrium mall.
Namun ia tak setuju. "Tempat ini menakutkan," gumamnya gugup saat melangkahkan kaki menginjak ubin restoran yang berwarna abu.
Tama menggeleng. "Kamu harus mencoba semua makanan lezat. Karena aku yakin, kamu bisa memasaknya lagi di rumah dengan rasa yang lebih lezat."
Seorang pegawai restoran mengantar mereka menuju sofa setengah lingkaran berwarna hijau pupus. Dengan dekorasi hiasan dedaunan bergantungan di atasnya. Sungguh suasana yang membuat nyaman pengunjung. Tapi pasti tidak dengan harganya. Ia merasa gugup karena tempat ini terlalu mahal bagi orang seperti dirinya.
"Mau makan apa?"
Ia menatap Tama was-was. "Bisa tolong pilihkan ... yang paling murah." Kalimat terakhir diucapkan sambil berbisik malu.
Tama hanya tersenyum. Lalu memilihkan menu yang terdengar asing di telinga. "Roasted chicken, chocolate lava cake, fruit danish, delicious berry."
Hanya satu yang cukup familiar. "Sop buntut."
Sambil menunggu pesanan datang, ia mengedarkan pandangan. Suasana restoran yang berada di area terbuka ini ramai pengunjung. Hampir seluruh kursi yang tersedia telah terisi.
Sebuah panggung kecil di area depan restoran kini tengah menampilkan sajian musik. Sementara di belakang panggung bisa terlihat jelas eskalator dan balkon lantai atas mall.
Ia tersenyum melihat Tama yang sepertinya sedang lapar. Karena begitu pesanan datang, langsung melahapnya dengan gerakan cepat dan khusyu. Seolah tak rela jika ada waktu yang terbuang sia-sia.
Ia pun mengikuti Tama. Menyantap makanan dalam diam. Merasakan menu roasted chicken yang ternyata adalah ayam panggang. Dihidangkan dengan tampilan cantik bersama wortel, kentang, dan saus.
Mmm. Daging ayam tanpa tulang ini terasa empuk dan gurih di lidah. Bumbunya pas. Pasti karena proses marinasi yang baik. Semua itu berpadu dengan lezatnya saus campuran antara kaldu sapi, cream, dan taburan jamur. Kapan-kapan, ia akan mencoba memasaknya sendiri di rumah.
Oh. Tiba-tiba wajahnya memanas. Merasa malu karena apa yang baru saja dipikirkan persis seperti ucapan Tama. Dan untuk mengikis rasa malu, ia mencoba mengalihkan pandangan ke arah panggung.
"L is for the way you look at me
(L adalah untuk caramu melihatku)
O is for the only one i see
(O adalah untuk satu-satunya yang aku lihat)."
(Nat King Cole, L.O.V.E)
Namun langkahnya justru keliru. Karena kini jantungnya seakan berhenti berdetak. Tangannya mulai gemetaran. Dan matanya tak bisa berkedip memperhatikan pria yang berdiri di panggung sedang menyanyikan sebuah lagu.
Posturnya. Garis wajahnya. Suara dalam dan berat yang khas. Pria itu ....
"V is very, very extraordinary
(V adalah sangat, sangat luar biasa)
E is even more than anyone that you adore
(E bahkan lebih dari siapa pun yang kau suka)."
(Nat King Cole, L.O.V.E)
" ...., ya?" Tama menatapnya hangat.
Tapi ia tak mendengar apapun yang Tama ucapkan. Karena air mata sudah keburu jatuh berlinangan membasahi pipi.
"And love is all that i can give to you
(dan cinta adalah semua yang dapat kuberikan untukmu)"
(Nat King Cole, L.O.V.E)
"Pocut?" Tama memberinya tatapan penuh kekhawatiran. "Kenapa?"
Tapi bibirnya bergetar tak kuasa menjawab. Sembari terus memandangi panggung dengan air mata berlinangan.
Orang itu .... Pria yang sedang berdiri di atas panggung itu ....
***
Tama
Ia meminta Pocut agar tak canggung. Bagaimanapun juga, mereka akan segera menikah. Tapi Pocut tak merespon. Dan ia terkejut bukan kepalang ketika melihat Pocut ternyata sedang menangis sambil menatap ke arah panggung.
"Ada apa?" Tanyanya cemas.
Dan ia semakin bingung ketika Pocut tiba-tiba berdiri lalu pergi meninggalkan meja begitu saja.
"Pocut?"
Ia beranjak menyusul Pocut yang setengah berlari mendekati panggung.
"Abang?" Panggil Pocut pada pria yang baru saja turun dari panggung.
Apa-apaan?
"Abang?" Ulang Pocut dengan suara bergetar.
"Hei." ia meraih bahu Pocut. "Ada apa?"
Namun keburu pria berjas hitam menoleh. "Ada yang bisa dibantu?"
***
Pocut
Pria itu. Suara itu.
Ia menggigit bibir menahan isakan. Bergegas bangkit dan menghambur ke arah panggung begitu lagu selesai dinyanyikan.
Tapi ia ternganga saat pria itu menoleh.
"Apa ibu mau request lagu?"
Ia menutup mulut dengan kedua tangan dan mundur selangkah ke belakang. Hingga punggungnya membentur dada seseorang. "M-ma'af."
Pria itu ... wajah itu ... jauh berbeda dengan ....
Ia menggeleng. Pria itu ternyata bukan bang Is. Padahal dari tempat duduknya tadi jelas terlihat jika sosok bang Is lah yang sedang menyanyi di atas panggung sembari tersenyum menatapnya.
"Sepertinya, istri saya salah orang." Sebuah suara dan rengkuhan lembut di bahu berhasil mengembalikan kesadarannya. "Silakan dilanjut."
Namun ia tetap tak bisa berpikir. Bahkan hingga Tama membimbingnya kembali ke meja lalu membantunya duduk di sofa.
"Minum dulu." Tama mengulurkan segelas air putih.
Ia menyesap air di dalam gelas dengan tangan gemetaran. Kemudian melemparkan pandangan ke arah samping panggung. Memperhatikan pria yang tadi menyanyi dan kini sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Bukan bang Is.
Bukan.
***
Bu Niar
Ia sudah mendengar selentingan berita mengejutkan ini dari Iren beberapa hari lalu. Namun menganggapnya sebagai emosi sesaat. Tak mengira jika sore ini Raka benar-benar menyambanginya di rumah.
"Saya minta maaf." Raka meletakkan amplop berwarna cokelat ke atas meja.
"Raka ... Tante sangat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya jika masalah ini menimbulkan kekecewaan." Ia mengembuskan napas panjang.
Raka mengatupkan rahang keras-keras. "Bukan kekecewaan lagi, Tante. Ini pengkhianatan. Dan saya paling tidak bisa menolerir seorang pengkhianat apapun bentuknya."
"Raka ...." Ia menghela napas yang terasa berat.
"Sudah saya pikirkan matang-matang." Raka bergeming. "Ini bukan tempat saya lagi. Sakitnya mama menjadi pengingat terbaik untuk saya agar lebih dekat dengan beliau."
Ia menggeleng. "Apa tak ada solusi lain? Kenapa harus mengambil jalan keluar yang seperti ini?"
Raka terlihat berusaha keras untuk tersenyum. "Saya akan menyelesaikan tugas dan pekerjaan sampai akhir bulan. Tante nggak usah khawatir. Iren bisa menghandle semuanya."
"Bukan masalah pekerjaan." Ia menggeleng. "Tolong maafkan Tama karena sudah berlaku mengecewakan. Tante sangat berharap kamu masih bisa memegang Selera Persada."
"Silakan merawat mba Harti." Ia menatap Raka penuh harap. "Kamu bisa sering pulang ke Malang. Atau mba Harti diajak tinggal di Jakarta. Atau me ...."
"Sudah cukup, Tante." Raka memotong ucapannya. "Keputusan saya sudah bulat. Saya menyerahkan jabatan direktur Selera Persada dan pindah ke Malang."
"Karena tugas saya di sini sudah selesai." Raka menatapnya datar. "Saya dan Shaina ingin melanjutkan hidup di tempat yang lebih baik, dekat dengan mama, dalam suasana baru."
***
Keterangan :
Peusijuek. : adalah tradisi (Aceh) yang dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan
***