
Just Beginning
(Baru dimulai)
***
Jakarta
Pocut
"Apa isinya, Cut?" Tanya Cing Ella yang sedang mencuci piring di belakang.
Ia terdiam tak menjawab. Sebab matanya masih menerawang di kejauhan. Meski bayangan punggung Tama sudah tak terlihat lagi.
Ia baru hendak membuka paper bag ketika Cing Ella tiba-tiba berseru dengan suara yang cukup keras, "Astaghfirullah!"
"Kenapa, Cing?" Tanyanya terkejut. Langsung beranjak menghampiri Cing Ella di dapur keude. "Ada apa?"
"Orang itu ... yang tadi duduk di situ ...." Cing Ella melotot. Sembari menunjuk tangan yang dipenuhi busa sabun cuci piring ke arah bangku keude.
"Baru ingat!" Cing Ella menepuk dahinya sendiri hingga busa sabun ikut menempel. "Itu anaknya pak Jenderal mertuanya Agam?"
"Yang nemuin ibu-ibu kampung Koneng waktu melayat ke rumah duka?" Cing Ella yang masih melotot buru-buru mencuci tangan di bawah keran air. Dengan gerakan tergesa berusaha menghilangkan busa sabun yang masih menempel.
"Pantesan mukanya kayak kenal ...." Cing Ella melewati dirinya yang masih bengong di pintu dapur.
"Apa isinya?" Cing Ella memanjangkan leher berusaha mengintip isi paper bag yang sedang dipegangnya. "Sini lihat."
Ia yang masih termangu tak kuasa mengelak saat Cing Ella mengambil alih paper bag dari tangannya.
"Wah?" Seru Cing Ella sembari mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam yang eksklusif. "Kotaknya aja sebagus ini, Cut. Gimana isinya?"
Ia mendesah tak percaya. Tak mampu menahan keingintahuan Cing Ella yang begitu besar. Dengan penuh semangat langsung berusaha membuka kotak berwarna hitam, yang bertuliskan sejumlah huruf di atasnya.
"MasyaAllah, Cut?" Bola mata Cing Ella seolah hendak keluar dari tempatnya. "Cantiknya ...."
Ia hanya bisa menelan ludah saat Cing Ella memperlihatkan isi kotak. Menampakkan sebuah bros berbentuk bunga yang sangat cantik juga berkilauan.
Cing Ella terus saja berdecak kagum. Memandangi kotak berisi bros yang berada dalam genggaman dengan mata berbinar.
Ia pun ikut terpesona. Mengamati bros bertabur kristal berkilau yang terlihat begitu indah. Hatinya langsung dipenuhi oleh rasa kagum yang meluap-luap. Sebab, baru kali ini menjumpai bros yang sebegitu menawan.
"Berlian kali Cut? Cantik begini. Habis berapa duit nih?"
Pertanyaan Cing Ella berhasil mengembalikan kesadarannya. Menguapkan rasa kagum menjadi kernyitan heran. Disusul suara seseorang yang masuk ke dalam keude.
"Makan sini, Mpok."
"Iya," jawab Cing Ella seraya menyerahkan kotak berisi bros ke tangannya.
Cing Ella bergegas melayani pembeli. Sementara ia masih terpaku di tempat. Memandangi bros di dalam kotak yang semakin lama kian menyilaukan mata. Memantulkan kekosongan hati yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan.
***
Tama
Ia sedang menghadapi sejumlah laporan yang diberikan oleh Dimas, Kabagren (kepala bagian perencanaan). Tentang realisasi anggaran periode pertama dan akuntabilitas kinerja satker (satuan kerja). Tapi jiwa dan pikirannya justru berada di tempat lain.
"Saya bisa membahagiakan kamu dan anak-anak, Cut," begitu kata pria berseragam warna khaki yang duduk tepat di sebelahnya.
"Saya bisa jamin masa depan mereka. Kamu nggak perlu susah-susah cari nafkah dengan jualan makanan seperti ini."
Ia menelan saliva sambil memeriksa sederet tulisan di dalam laporan. Berusaha memusatkan perhatian pada Dimas yang sedang menjelaskan isi laporan secara lisan. Namun konsentrasinya sedang tak bisa diajak bekerja sama. Kepalanya justru semakin dipenuhi oleh bayangan mengesalkan pria berseragam warna khaki dan wajah pias Pocut dibalik rak makanan.
It's just beginning (ini baru saja dimulai).
Saat hati retaknya sebab kekecewaan akan pengkhianatan Kinan semakin membaik. Pun kepercayaan diri yang terjun bebas perlahan mulai pulih. Ditambah kemantapan hati untuk kembali membuka lembaran baru. Semua itu tak lantas membawanya pada jalan lurus membentang.
Ia tetap harus berupaya. Menyiapkan diri menyusun strategi. Menyisihkan rasa ragu yang terkadang mengusik. Bahkan mengabaikan nasehat dari para sahabat.
Tapi rencana tinggallah rencana. Target untuk mengenal lebih dekat kini pupus sudah. Sejumlah poin penting yang ingin didiskusikan, sebagai pondasi mengambil keputusan langkah selanjutnya bubar di tengah jalan. Ditambah respon Pocut yang awalnya mulai terbuka, kini justru menutup pintu rapat-rapat bahkan berjalan menjauh. Benar-benar aral melintang yang menguras tenaga.
Apakah memang sesulit ini usaha dalam mendekati seseorang yang diinginkan? Atau karena dirinya yang tak becus membaca situasi dan memanfaatkan keadaan?
Atau justru, ini adalah pertanda jika Pocut memang terlarang untuknya? Seperti yang seringkali didengungkan oleh Armand dan Wisak. Bahwa dua dunia yang jauh berbeda mustahil untuk dipertemukan dalam satu garis takdir yang sama. Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan. Ada sejumlah hati yang harus dijaga. Ada harga yang harus dibayar.
Dan seluruh kegamangan ini dibalut rasa kekhawatiran tentang, apakah ia harus terus melangkah? Atau sama seperti Pocut. Cukup sampai di sini.
Kembali menjalani hidup yang seharusnya. Tak lagi berupaya merajut untaian takdir yang diinginkan. Dan berhenti mengusahakan Pocut memasuki kehidupannya.
Toh ia tak harus repot-repot. Bisa langsung memilih satu dari sekian wanita yang mengelilinginya. Tanpa harus menyusun strategi dengan resiko gagal. Bisa langsung tunjuk mana yang diinginkan. Tak perlu repot beradaptasi sebab dunia yang jauh berbeda.
Tapi ini artinya, ia harus mengkhianati diri sendiri. Menafikkan perasaan yang tiba-tiba muncul dan menetap tanpa perencanaan. Mengesampingkan hasrat meraih hal paling berharga yang baru pertama kali dijumpainya. Cinta.
Well the hell done (baiklah). Kini ia telah menjelma menjadi pria fakir cinta yang mengenaskan. Naif sekali. Sebo doh inikah rasanya jatuh cinta? Atau karena logika yang sudah aus, lekang dimakan usia. Hingga tak lagi bisa berfungsi dengan semestinya.
Oke, mungkin ia harus mulai mengevaluasi diri. Mundur ke belakang. Mengidentifikasi awal mula terjadinya kerumitan yang menggelisahkan ini.
Semua dimulai dari pertemuan antara dirinya dan Pocut yang sangat biasa. Namun harus diakui, first impression (kesan pertama) yang tertanam di benaknya adalah ... menarik. Istimewa. Seperti ada magnet tak kasat mata yang membuatnya enggan untuk berpaling.
Damned! Bahkan di poin pertama, logikanya sudah tak bisa berfungsi dengan normal.
Membuatnya kembali memusatkan perhatian pada sederet tulisan di dalam kertas laporan. Berusaha memperhatikan Dimas yang masih menerangkan detail poin tertentu. Namun tetap gagal. Penjelasan Dimas yang tertata rapi hanya lewat sekilas di telinganya. Tak berminat untuk mampir apalagi menetap. Konsentrasinya masih saja tertuju di tempat lain.
"Pak?"
"Pak Tama?"
Ia terkejut ketika Dimas berulangkali memanggil namanya. Jiwa yang sedang melayang seolah dihempas paksa ke dalam raga.
"Untuk kekurangan ma ...."
Ia mengangguk, "Cukup. Saya pelajari dulu."
Dimas dengan patuh mengiyakan perintahnya. Segera berbalik pergi, keluar dari ruangan.
Dan begitu sepasang pintu kaca yang membatasi ruang kerjanya tertutup rapat. Ia langsung mengembuskan napas panjang. Melemparkan punggung ke sandaran kursi. Lalu memijit kening. Mencoba mengurai kegelisahan, yang perlahan mulai mengandaskan asa.
"Sudah cukup. Sampai di sini."
Menjadi kalimat paling tak diinginkan yang harus didengarnya.
"Tolong tidak usah datang ke rumah lagi. Tolong jauhi anak-anak saya."
Padahal anak-anak adalah kelemahan utamanya. Hubungan yang tak kunjung membaik dengan Reka, sedikit demi sedikit mulai terobati oleh sambutan hangat penuh antusiasme, dari seorang gadis cilik tiap kali mereka bertemu.
"Om ... ke sini nyari Sasa ya, Om?"
Menjadi kalimat paling ampuh yang mampu melambungkan egonya hingga menyentuh batas cakrawala. Menghangatkan hati yang selama ini dingin dan datar. Sebab terbiasa mendapat penghormatan dari banyak orang di luar sana. Namun justru diabaikan dan tak dianggap oleh istri dan buah hatinya sendiri. Miris.
"Kamu perlu waktu untuk sendiri?"
Ia terpaksa mengucapkan pertanyaan tak menyenangkan ini. Berusaha memahami situasi dengan memberi sedikit ruang pada Pocut.
"Saya janji nggak akan menghubungi atau menemui kamu selama sebulan ke depan. Tapi setelah itu ... saya minta kamu nggak menghindar."
Waktu satu bulan yang ditawarkan bukan tanpa perencanaan. Terhitung dua hari ke depan, mereka akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan mulia yang begitu dinantikan. Sekaligus bulan yang padat bagi pengayom seperti dirinya.
Sebab menurut data valid yang dipelajarinya selama ini, angka kejahatan dan kriminalitas di bulan Ramadhan justru semakin meningkat. Hampir sebagian besar dilatar belakangi oleh naiknya aktivitas perekonomian dan kebutuhan barang konsumsi masyarakat yang cukup tinggi. Memancing oknum untuk melakukan kejahatan. Mulai dari tindak pencurian, penipuan, sampai peredaran uang palsu.
Bisa dipastikan jadwal kesehariannya akan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Termasuk adanya sesi undangan berbuka puasa atau kunjungan resmi ke sejumlah instansi terkait. Membuatnya tak seleluasa sekarang. Sewaktu-waktu bisa datang berkunjung jika ingin bertemu.
Satu bulan waktu yang cukup, pikirnya seraya mengangguk. Ia bisa lebih berpikir jernih. Semakin menelaah, apakah memang kehidupan baru ini yang diinginkan dan dibutuhkannya di masa mendatang. Atau hanya lintasan sesaat yang menggebu namun justru menjerumuskan.
It's just beginning (ini baru saja dimulai).
Tapi ia selalu mempunyai cara yang lain.
"Van!" Ia memanggil Devano melalui nomor ekstensi. "Ada tugas negara."
***
Pocut
Ia segera menyembunyikan kotak hitam berisi bros ke lemari bagian terdalam. Tersembunyi di antara lipatan baju. Memastikan tak ada orang lain yang bisa menemukan kecuali dirinya.
"Dia pasti tertarik sama kamu," gumam Cing Ella lebih seperti tuduhan. Saat mereka berdua sedang membereskan loyang yang telah kosong usai menutup keude.
"Sampai kasih kado semahal itu," Cing Ella berdecak kagum.
"Dapat berapa duit itu, Cut?" Menjadi kalimat yang berulang kali digumamkan Cing Ella sejak tadi.
"Mamak tahu?" Selidik Cing Ella tak bisa berhenti bertanya.
Namun ia tetap diam tak bereaksi.
Tapi Cing Ella justru menepuk bahunya seraya tersenyum lebar, "Sekarang kutahu yang kumau."
Ia hanya mengernyit tak mengerti.
Kini Cing Ella menatapnya dengan sangat serius, "Pak Camat, babe tajir kampung sebelah, pengusaha dari Tangerang, semua lewat .... Nggak ada apa-apanya dibanding yang satu ini."
"Cing?" Ia mendesah tak percaya mendengar antusiasme Cing Ella.
"Cocok," Cing Ella tersenyum lebar seraya mengacungkan jempol. "Serasi."
"Ish," ia mendecak kesal karena kembali teringat obrolan dengan Cing Ella. Buru-buru menepis bayangan seseorang agar tak semakin dalam mengusik perasaannya. Segera beranjak ke dapur, berniat mencuci loyang kotor yang dibawanya dari keude.
Namun langkahnya tertahan oleh suara getaran ponsel yang tersimpan di atas meja.
+6281531595959 memanggil
Seperti biasa, ia tak langsung mengangkat panggilan. Berusaha mengingat kira-kira nomor siapa yang menghubunginya.
+6281531595959 memanggil
Panggilan kedua. Tak mungkin dari orang itu kan? batinnya curiga. Mengapa ia menjadi secemas ini?
+6281531595959 memanggil
Dengan berat hati ia mengangkat panggilan, "Halo?"
"Selamat sore," sapa suara di seberang sana. "Dengan Ibu Pocut?"
"Iya, betul," jawabnya semakin merasa was-was.
"Perkenalkan, saya Devano dari kantor Polres Metro .... Memberitahukan jadwal ibu menyiapkan makanan untuk berbuka di kantor kami pada tanggal ...."
"Sebentar," ia mengernyit heran. "Sepertinya ada yang salah. Saya tidak pernah mengajukan penawaran paket berbuka puasa ke siapapun."
"Betul," jawab Devano dengan suara yang begitu tenang. "Ibu memang tidak mengajukan penawaran kepada kami. Karena kami yang memilih katering ibu sebagai ...."
"E ... maaf," ia terpaksa memotong kalimat Devano. "Bagaimana bisa ... tidak mengajukan penawaran tapi mendapat jadwal?"
Devano berdehem sebentar, "Saya tahu informasinya, Bu."
"Dan masalahnya ... selama bulan puasa kami libur. Hanya melayani pesanan takjil. Itu juga sudah kami tutup pesanannya sejak seminggu yang lalu," ia masih mengernyit heran.
"Baik, ibu," suara Devano tetap terdengar tenang dan sopan. "Berarti selama bulan puasa katering ibu libur?"
"Iya," ia mengangguk.
"Bisa dibuat perkecualian nggak, Bu?"
"Maksudnya?"
"Khusus untuk memenuhi jadwal berbuka puasa di kantor kami? Ibu hanya mendapat jadwal empat kali selama bulan puasa. Semoga tidak memberatkan."
"Tidak banyak kok, Bu. Hanya menyediakan untuk sekitar tiga puluh orang."
"Khusus untuk disimpan di ruang rapat yang diperuntukkan bagi para tamu."
"Sebenarnya setiap hari kami menyediakan hidangan untuk berbuka. Tapi dibagi ke sejumlah katering yang berbeda. Biar nggak bosan dengan cita rasa dan menunya begitu, Bu ...." Seloroh Devano.
"Apa ibu bersedia? Tanggal yang terjadwal di sini adalah tanggal 3, 9, 15, dan 21 Ramadhan."
"Jika ibu bersedia, langsung saya masukkan ke dalam daftar. Agar kami tak perlu mencari katering yang lain."
Ia mendesah tak percaya mendengarkan penjelasan panjang lebar Devano.
"Ini untuk kantor yang di Slipi?" Tebaknya berusaha keras untuk tidak berprasangka buruk. Namun gagal.
"Betul sekali ibu," jawab Devano riang. Tapi bagi telinganya terdengar bagai berita tanpa pesan.
Sebulan nggak akan ketemu, batinnya hampir tertawa. Memang janji lidah tak bertulang.
"Jika ibu bersedia ... DP akan dikirim langsung ke nomor rekening Ibu sebesar 30 persen. Sisanya akan kami lunasi di tanggal terakhir ibu mengirim makanan."
"Dan nanti petugas kami yang akan mengambil makanan ke tempat ibu," lanjut Devano menjelaskan fasilitas tambahan, yaitu penjemputan.
"Jadi ibu tak perlu repot-repot mencari kendaraan untuk mengirim makanan."
"Bagaimana, Bu? Bisa saya masukkan sekarang ke dalam jadwal ...."
Sudah sejak tahun kemarin, ia dan mamak tak lagi berjualan makanan berat di bulan puasa. Setelah meneken kontrak pemakaian resep dengan Selera Persada. Ia dan mamak hanya menerima pesanan takjil. Itupun dibatasi jumlahnya.
Mamak ingin lebih khusyu dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Lagipula, pendapatan mereka telah tercukupi dari hasil kerja sama dengan Selera Persada.
Jadi, tak ada alasan untuk menerima penawaran aneh dari sebuah kantor, yang ditengarai karena campur tangan seseorang.
"Kalau saya beri waktu sampai besok untuk menjawab bagaimana, Bu?" Suara Devano terdengar tak seceria sebelumnya. Seperti ada beban berat yang terkandung dalam permintaan Devano.
Namun ia tetap menggeleng, "Maaf, Pak Devano ... kami tetap tidak bisa. Bukannya menolak rezeki. Tapi karena kami memang tidak membuat masakan berat di bulan puasa."
"Siapa menelepon?" Tanya mamak heran, ketika ia keluar kamar sambil setengah menggerutu.
Baru juga beberapa jam yang lalu berjanji memberinya waktu. Tapi sekarang malah mengerahkan orang lain untuk membujuknya. Ish. Mana boleh dipercaya orang seperti itu.
"Ada orang ingin pesan makanan untuk berbuka," jawabnya berharap mamak tak bertanya lagi. Tapi ia keliru. Mamak kembali bertanya dengan penuh selidik.
"Siapa?"
"Ada dari satu kantor ...." Jawabnya enggan menjelaskan lebih rinci.
"Ditolak?"
Ia mengangguk, "Kita memang tidak membuat masakan berat kan, Mak? Hanya takjil."
Mamak mengangguk. Dan ini membuatnya bisa bernapas lega.
Namun kelegaannya ternyata hanya bersifat sementara. Sebab saat ia tengah mencuci bekas loyang yang kotor, Umay berteriak-teriak memanggil namanya.
"Mama ... teleponnya bergetar terus!"
Ia buru-buru mencuci tangan guna menghilangkan busa sabun. Lalu menerima ponsel yang diulurkan oleh Umay.
+6281531595959 memanggil
Ia langsung mendecak begitu melihat nomor yang tertera di layar ponsel. Dan ini menarik perhatian mamak yang sedang menghangatkan kuah asam keu eung (asam pedas) di atas kompor.
"Ibu Pocut?" Begitu sapaan sopan terdengar dari seberang sana. "Ini dengan Devano lagi, Bu."
"Iya," jawabnya kaku.
"Ibu ... nggak apa-apa kalau memang ibu hanya menyediakan takjil," sahut Devano cepat. "Tolong catat tanggalnya ya, Bu ...."
"E ... sebentar ... sebentar ...." Ia buru-buru memutus kalimat Devano. "Tapi saya belum menyetujui ...."
"Siapa?" Tanya mamak dengan penuh selidik.
"Dari orang kantor yang tadi, Mak," jawabnya cemas.
"Mau pesan makanan berat?"
Ia menggeleng, "Jadinya takjil."
Mamak mengangguk, "Kalau dibawah lima puluh porsi ... terima saja. Tak baik menolak rezeki."
Ia mendesah sekaligus mengembuskan napas panjang. Tak percaya mendengar ucapan mamak.
"Tapi, Mak ...."
Mamak hanya tersenyum memandangnya, "Tak apa. Bisa mendapat pahala dengan menyediakan makanan untuk orang berbuka."
Ia sempat mendecak sebelum kembali berbicara melalui ponsel.
"Ibu? Halo, Bu? Bu Pocut?" Begitu suara panik Devano memanggil-manggil namanya.
Ia kembali mengembuskan napas panjang sebelum menjawab panggilan Devano meski dengan berat hati, "Kami dapat jadwal tanggal berapa, Pak?"
***