Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 87. Memilikimu Sepanjang Malam


Jakarta


Pocut


Tama akhirnya mengungsi ke kamar Agam, karena Sasa terus-menerus meminta pria itu untuk keluar. Meski ia sudah memberi pengertian jika Tama boleh berada di kamarnya.


"Sasa ingat obrolan kita semalam tentang keluarga baru?"


Sasa mengkerut dan menggeleng. "Enggak."


Sasa bahkan memberi Tama tatapan penuh permusuhan. Padahal, Sasa adalah orang pertama yang menerima kehadiran Tama di saat ia sendiri masih merasa ragu. Selama ini, sikap Sasa terhadap Tama juga teramat manis. Namun begitu ia dan Tama resmi menikah, Sasa justru berubah menjadi palang pintu paling kokoh.


Sikap seorang anak benar-benar tak mudah ditebak.


Selain melarang Tama memasuki kamar, Sasa juga tak memberinya kesempatan untuk sekedar bicara berdua dengan Tama. Tiap kali Tama datang mendekat, Sasa langsung berdiri di antara mereka dengan kening mengerut dan alis saling bertaut.


"Sasa ...." Mamak akhirnya ikut turun tangan. "Sekarang om Tama sudah jadi ayah Sasa. Kita semua satu keluarga."


"Bukannya Sasa kemarin sudah janji sama Nenek?" Mamak mencoba mengingatkan. "Kalau malam ini mau tidur di kamar Nenek?"


"Ngng ... nggak jadi, ah." Sasa menggeleng. "Mau tidur sama mama aja."


Di malam hari, barulah ia menemukan ide yang mudah-mudahan bisa membuat Sasa mengerti.


"Sa," bisiknya di dalam kamar. Sementara dari arah ruang tamu terdengar suara Tama yang sedang memperkenalkan diri.


"Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk memperkenalkan diri sebagai warga baru di kampung Koneng ...."


"Sasa tahu ini apa?" Ia menunjuk Kartu Jakarta Cerdas yang baru diambilnya dari dalam lemari.


"Sekaligus memohon doa restu dan dukungan ...." Suara tegas Tama masih terdengar.


Acara syukuran malam ini memang terjadi atas keinginan Tama. Tak lebih sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan mereka. Dan perkenalan Tama dengan para tetangga juga tokoh masyarakat di sekitaran kampung Koneng secara resmi.


"Kartu sekolah punya Sasa?" Sasa balik bertanya.


Ia mengangguk. "Dengan kartu ini, Sasa bisa ngapain?"


Sasa terdiam sebentar. "Bisa sekolah."


Ia kembali mengangguk. "Bisa apalagi?"


"Bisa ...." Sasa menelengkan kepala ke kanan dan kiri tanda sedang berpikir. "Apa, ya? Bisa beli buku?"


"100 untuk Sasa." Ia mengacungkan jempol. "Kalau punya KTP?" Ia ganti menunjuk KTP yang sengaja diambil dari dalam dompet. "Bisa ngapain?"


Sasa mengambil KTP dari tangannya. "Kartu anak gede ya, Ma? Kalau punya Sasa kan warnanya pink, hihihi ..."


"Iya, bener." Ia tersenyum. "KTP bisa dimiliki kalau Sasa sudah besar. Sudah 17 tahun. Dengan KTP, kita bisa membuat surat izin untuk naik motor atau nyetir mobil. Seperti yahbit."


Sasa menggeleng. "Pusing ah, Mama, nggak ngerti."


Ia masih tersenyum. "Nah, kalau ini ...." Sambil menunjukkan dua buah buku berlambang Garuda. "Namanya buku nikah. Bukti kalau Mama dan om sudah resmi menikah."


Sasa mengkerut seraya mengambil buku berlambang Garuda dari tangannya.


"Dengan buku ini, Mama bisa ngapain sama om?" Tapi ia justru terperanjat dengan pertanyaan yang terucap. "Maksud Mama ...." Ralatnya cepat sebelum Sasa salah mengerti.


"Sama seperti kartu cerdas dan KTP tadi. Setelah punya buku Garuda, Mama dan om boleh melakukan hal yang sebelumnya dilarang," sambungnya sambil meringis berharap Sasa bisa mengerti.


Namun Sasa tak menjawab karena sedang membuka-buka buku berlambang Garuda dengan wajah serius.


"Ada foto Mama?" Seru Sasa riang seraya menunjuk lembar pertama.


"Iya." Ia mengangguk. "Ada foto om juga." Telunjuknya menyentuh foto Tama.


Sasa menoleh dengan wajah penuh tanya. Namun tak lama kemudian kembali membuka lembaran berikutnya.


"Ku ti pan ...." Sasa mulai membaca. "Ak ta ni kah."



Ia menunggu Sasa menuntaskan rasa ingin tahu.


"Wi ra ta ma yu da." Sasa kembali menoleh ke arahnya. "Ada nama om, Ma?"


Ia mengangguk. "Ada nama Mama juga," lanjutnya seraya menunjuk deretan huruf bertuliskan namanya.


"Kalau punya buku ini, berarti sudah resmi menjadi suami istri," terangnya dengan penuh kehati-hatian. "Sudah boleh ngobrol lama. Boleh berdua di dalam kamar." Namun ia tercekat saat mengucapkannya. Entah mengapa tiba-tiba pipinya terasa memanas.


Tapi rupanya Sasa lebih tertarik pada lembar berikut daripada mendengarkan penjelasannya. "E mas ti ga ra tus ma yam dan uang ...."



Sasa mendongak dengan kening berkerut. "Ini apa, Ma?"


Ia mengembuskan napas panjang sembari berpikir keras berusaha menemukan jawaban yang paling mudah dimengerti. "Hadiah dari om."


"Buat Mama?" Mata Sasa membola.


Ia mengangguk seraya menunjuk ke atas meja. Di mana terdapat kotak putih berukir berisi emas mayam dan bingkai berukuran besar dengan uang bersambung yang belum dipotong sebagai simbolisasi maharnya. "Yang itu."


"Kenapa Mama dikasih hadiah sama om?" Mata membola Sasa mendadak berubah curiga. "Sasa kok enggak?"


Ia tersenyum. "Sasa juga dapat hadiah, kan?"


Sasa menggeleng dengan raut kecewa. "Enggak. Kata siapa Sasa juga dapat hadiah?"


"Baju sama sepatu?" Ia coba mengingatkan. "Itu hadiah dari om untuk Sasa. Sparkle juga." Ia segera meraih boneka pony warna ungu dari ujung tempat tidur.


"Ih!" Sasa terkikik. "Itu hadiah lama, Mama."


"Tapi kan tetep hadiah namanya?" Ia masih tersenyum.


"Tapi nggak ada hadiah baru kayak Mama." Sasa memberengut.


Ia membelai rambut Sasa. Namun Sasa langsung beringsut turun dari tempat tidur.


"Eh," cegahnya cepat. "Mau ke mana?"


"Nanya ke om, hadiah buat Sasa mana?"


Ia menggeleng. "Nggak boleh minta hadiah meski ke om, Sa."


Sasa kembali duduk dengan wajah murung.


"Kita dapat hadiah, karena memang sudah rezeki kita untuk mendapatkannya. Bukan karena minta-minta apalagi memaksa," terangnya seraya kembali membelai rambut Sasa. "Nah, kalau Sasa bersikap baik ke om. Nggak dorong-dorong om keluar kamar seperti tadi. Nanti Sasa dapat hadiah dari Mama dan om."


Sasa menoleh dengan gerakan cepat. "Kok ... Mama sama om yang ngasih hadiah? Bukan om aja? Sejak kapan Mama suka ngasih hadiah? Biasanya juga enggak pernah."


Ia tertawa. "Karena, Mama dan om sekarang orangtua Sasa."


"Aduh, Mama!" Sasa menghentakkan kaki. "Pusing, ah, nggak ngerti."


"Tapi kalau om boleh bicara sama Mama, boleh masuk ke kamar ini, boleh tidur di sini. Sasa ngerti, kan?" Tanyanya perlahan. Khawatir malah semakin membingungkan.


Sasa meringis dengan wajah enggan. "Iya deh, om boleh masuk ke kamar."


Ia tersenyum lega. "Sasa nggak akan dorong-dorong om lagi seperti tadi?"


Sasa menggeleng. Lalu mengangguk. Namun sedetik kemudian malah beringsut turun dari tempat tidur.


"Eh, Sasa mau ke mana?" Cegahnya lagi.


"Manggil om biar ke sini."


"Nanti, kalau tamunya sudah pulang semua. Sekarang om masih bicara," ujarnya sambil meminta Sasa untuk mendengarkan suara di ruang tamu baik-baik. Di mana Tama masih berbicara di depan para tamu.


Sasa tertawa. "Iya, ya. Hihihi ... itu suara om." Sasa kembali duduk dengan manis di atas tempat tidur. Menunggu acara syukuran selesai sambil terus membolak-balik lembaran buku berlambang Garuda.


"Mama mau bantu beres-beres, Sa," bisiknya pelan. Tak ingin membiarkan cing Ella, mamak, dan beberapa tetangganya kerepotan membereskan sisa acara syukuran.


Tapi baru juga duduk, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan Tama muncul dari balik tirai. "Kok sepi? Sasa mana? Tidur?"


"Belum!" Jawab Sasa lantang dengan mata mendadak siaga padahal sebelumnya sudah hampir terlelap.


Tama tertawa. "Om boleh masuk nggak, nih?"


Sasa mengangguk sambil berusaha untuk duduk. "Boleh."


Dan ia harus bersusah payah menelan ludah ketika Tama mendudukkan diri di atas tempat tidur sambil melingkarkan lengan di sepanjang bahunya. Sentuhan ringan namun berhasil membuat keseluruhan tubuhnya meremang tanpa ampun.


"Kok nggak protes?" Bisik Tama keheranan. Hingga embusan napas pria itu terasa hangat membelai pipinya.


"Kan Sasa udah tahu ini!" Sasa menyahut sambil menunjukkan dua buah buku berlambang Garuda dan tersenyum lebar. "Jadi nggak protes lagi."


Tama tergelak sembari mengusap bahunya lembut dan berbisik. "Luar biasa istriku dalam menghandle anak." Lalu mengecup pipinya sekilas sebelum ia sempat menghindar.


"Ih! Om kok gituin mama, sih?" Sasa terbelalak. Namun sejurus kemudian terkikik. "Om nggak sopan ih, cium-cium orang sembarangan. Nggak boleh tahu, Om."


Tama makin tergelak.


Sementara ia tak berkomentar apapun karena tengah sibuk menata degup jantung yang tak beraturan. Tama ini benar-benar, batinnya antara malu dan kesal. Baru juga Sasa mau mengerti dan menerima status baru di antara mereka berdua. Tapi sudah mempertontonkan hal yang tidak semestinya. Tama bahkan semakin mengeratkan rengkuhan di sepanjang bahunya tanpa ia bisa mengelak.


"Oya, Om!" Untung saja Sasa tak melanjutkan pembahasan tentang sikap berlebih Tama. "Eh, tapi, nggak jadi, ah. Nanti dimarahin mama."


"Kenapa ... kenapa?"


"Mmm ...." Sasa melihat ke arahnya sambil meringis. "Mama kan dapat hadiah dari om. Tuh ...." Sasa menunjuk ke atas meja di mana maharnya tersimpan. "Tapi kok ...." Sasa kembali melihat ke arahnya. "Sasa nggak dapat?" Lalu Sasa menutup wajah dengan kedua tangan.


"Oh." Akhirnya Tama melepaskan rengkuhan di bahunya. "Memang Om belum ngasih?"


Sasa menggeleng sambil mengangkat bahu.


"Padahal udah disiapin, lho. Dibawa sama pak Agus tadi." Tama bangkit menuju koper miliknya berbahan kanvas berwarna hitam yang tersimpan di sudut kamar.


"Sebentar Om tanya ke pak Agus dulu," ujar Tama seraya mengambil ponsel dari dalam koper. Kemudian mulai menelepon seseorang. "Gos!"


Selama Tama berbicara di telepon, ia diam-diam beringsut dari tempat tidur. "Mama mau bantu nenek beberes dulu," pamitnya pada Sasa yang mengangguk.


Namun keburu Tama memanggil. "Ma? Ada orang yang bisa dimintai tolong nggak? Buat ambil barang di mobil."


Ia menelan ludah dan kesulitan untuk berkonsentrasi karena sebutan Ma yang membuat bulu kuduknya tiba-tiba meremang. "Mmm ...." Ia bergumam dengan suara tak jelas.


"Minta tolong bang Umay aja, Om," sahut Sasa riang. "Bang Umay paling rajin kalau disuruh. Apalagi kalau ada upahnya. Hihihi ...."


"Jangan," sergah Tama. "Tempat parkirnya jauh," imbuh Tama seraya menatapnya meminta solusi.


Ia lagi-lagi harus menelan ludah sebelum menjawab dengan gugup. "B-bisa minta tolong cing Anwar."


Rupanya Tama sudah mempersiapkan kado untuk ketiga anaknya. Buku sketsa dan seperangkat peralatan menggambar untuk Icad. Lego untuk Umay. Dan boneka beruang raksasa setinggi 1,5 meter untuk Sasa.


Semua orang yang berada di ruang tamu tak bisa untuk tak tersenyum melihat Sasa langsung menghambur ke pelukan Tama. Dan Umay yang berseru dengan penuh semangat, "Makasih, Pa." Hanya Icad yang mengucapkan terimakasih dengan suara lirih. Namun tak menolak ketika Tama merangkul bahu putra sulungnya itu.


"Kadonya pas nggak?" Tiba-tiba Tama sudah masuk ke dalam kamar ketika ia tengah menemani Sasa yang hampir terlelap. "Anja sama Cakra yang beli."


Ia mengangguk tanpa menoleh. "Pas. Terimakasih."


Ia tak tahu apa yang sedang Tama lakukan. Tapi suara tempat tidur yang diduduki, embusan angin di belakang punggungnya, dan lintasan aroma kayu campur buah-buahan yang mulai dikenalinya tiba-tiba terasa begitu dekat.


"Akhirnya ...." Bisikan samar dan belaian lembut Tama tak ayal berhasil memercikkan arus listrik ke sekujur tubuhnya. Menimbulkan gelenyar aneh yang memenuhi perutnya dengan ribuan kepakan sayap.


"Sasa sudah tidur?"


Ia tak bisa menjawab karena tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Embusan napas hangat di sepanjang ceruk lehernya jelas menjadi penyebab utama. Dan sikap diamnya justru memancing Tama untuk melongok Sasa. Sampai cuping hidung pria itu hampir menyentuh tulang selangkanya.


Ketika ia masih berpikir keras harus melakukan apa, Tama sudah membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.


Ia sempat memejamkan mata sambil menelan ludah berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Tama. Pria yang tertidur miring dengan berbantalkan sebelah lengan itu sedang tersenyum memandanginya.


1, 2, 3 .... Entah berapa lama mereka saling berpandangan dalam diam. Yang pasti wajah meronanya sudah merah padam tak karuan. Apalagi selama bersitatap, Tama terus menerus menyunggingkan senyum.


Dan sebelum ia bisa berpikir jernih, Tama telah mengusap pipinya lembut. "Terimakasih sudah mau menjadi istriku ...."


Ia sontak menghela napas panjang dan memejamkan mata. Merasakan sentuhan halus Tama di sepanjang wajahnya.


"Tadi, kami pulang dari jum'atan bertiga."


Bisikan Tama membuatnya membuka mata. Lalu menatap wajah kokoh di hadapan dengan hati berdebar.


"Aku, Icad, Umay." Tama tersenyum sambil membelai rambutnya.


Ia terus menatap Tama dalam diam.


"Umay bilang, Pa ... pa! Tiap kali ada yang menarik." Senyum Tama kian lebar. Lalu tertawa kecil. "Umay jadi orang pertama yang manggil aku Papa. Harus diapresiasi."


Mau tak mau ia ikut tersenyum. Di antara ketiga anaknya, Umay memang yang paling cair.


"Beberapa meter sebelum sampai rumah, Icad bilang ...."


Ia menunggu kelanjutan ucapan Tama sambil memandang manik hitam pria itu lekat-lekat.


"Tolong jaga mama, Om."


Matanya mendadak berkaca-kaca. Icad memang selalu berusaha menjadi pelindung terbaiknya.


"Bahagiain mama."


Air matanya hampir luruh demi membayangkan bagaimana Icad mengatakan itu semua pada Tama.


"Jangan bikin mama sedih."


Ia berusaha tersenyum agar air yang telah menggenang di pelupuk mata bisa tertahan.


Lalu tanpa diduga tiba-tiba saja Tama sudah mencium keningnya dalam-dalam.


"Siap, Icad," bisik Tama dengan bibir masih menempel di keningnya. "Om nggak akan bikin mama sedih. Om akan bahagiakan mama."


Ia sempat menyusut sudut mata dengan gerakan cepat sebelum Tama kembali menatapnya. Namun sedetik kemudian malah meraih kepalanya ke dalam rengkuhan.


Ketika ia hampir kehabisan napas karena Tama terus menerus memeluknya dalam-dalam. Sebuah pertanyaan yang cukup mengganggu sejak tadi pagi tiba-tiba terucap.


"Mas kenapa menambah maharnya?"


Tama menatapnya sambil tertawa. "Pertanyaan pertama yang antimainstream dari nyonya Wiratama Yuda."


Ia memandang Tama sungguh-sungguh. "Tiga ratus mayam sudah sangat banyak. Bahkan berlebihan."


"Seharusnya seratus mayam juga sudah cukup," tambahnya dengan hati berdebar karena jemari Tama kembali menelusuri wajahnya.


"Ini ditambah uang?" Ia memberi tatapan menyesalkan.


Tama malah tersenyum. "Bukan jumlah uangnya. Tapi maknanya."


Ia mengernyit tak mengerti.


"Nominal uang yang kujadikan mahar itu ...." Tama mengusap pipinya lembut. "Hasil dari penjumlahan tanggal lahir aku, kamu, dan anak-anak kita."


Ia menatap Tama tak percaya.


Namun Tama terlihat tak ingin membuang waktu. Dalam sekejap telah mendekatkan wajah memadukan mereka berdua dengan begitu tenang, perlahan, dalam, lama, sekaligus menyesatkan. Sebelum semua berubah menjadi cepat, menggebu, penuh hasrat, menuntut lebih.


Dan ia hanya bisa terpana dengan wajah memanas ketika Tama menyentuhkan cuping hidung mereka berdua. "Kamar sebelah kosong. Kita pindah ke sana."


***